<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577</id><updated>2011-09-10T04:19:05.633-07:00</updated><title type='text'>ESAI POLITIK NURANI</title><subtitle type='html'>"Nasibmu dalam hal ekonomi bersumber  dari kebijakan politik dan pemerintahan...

Jika kamu tak berpolitik, kamu akan diPolitiki oleh para politisi dan penipu rakyat!!!"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>116</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-7161799617673898261</id><published>2010-01-20T23:16:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T23:26:20.787-08:00</updated><title type='text'>PEMILIHAN BUPATI BUKAN UNTUK RAKYAT!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;[Oleh: Nurani Soyomukti]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah obrolan antara saya dengan dua orang kawan saat kami sedang ‘nyangkruk’ sambil ‘ngobrol’ sambil ‘nyruput’ susu jahe dan kopi di alun-alun Trenggalek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah ...kita bisa memilih Bupati yang terbaik dari semua calon yang bai baik...Amin”,  kata teman saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjawab: :Siapa saja berhak jadi bupati Trenggalek, dan sapa saja berhak MEMILIH atau TIDAK MEMILIH... Kalau memilih mudah-mudahan tak keliru agar tidak menyesal di kemudian hari, tetapi kalau bisa jangan hanya memilih, sebab suara sejati bukan dengan kertas, tetapi gerakan dan organisasi yang punya kekuatan utk mengontrol pemerintahan daerah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya kalau bisa, diusahakan haknya di pakai untuk memilih, memilih yang benar-benar ‘Pas’.. sesuai harapan kita. Masalah Organisasi dan Gerakan..perlu..tetapi nggak usah banyak-banyak...masalahnya&lt;/span&gt;   &lt;div style="font-family: georgia;font-family:times new roman;" &gt;&lt;wbr&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt; kalau DPRD sudah bekerja Maksimal sesuai fungsinya pengawasan cukup di DPRD...Insya Alloh kalau semua sudah bekerja Profesional sesuai fungsinya Trenggalek akan bisa bersaing dengan Kabupaten Lain. Amin”, katanya dengan nada yang relijius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya menimpalinya: “Waduh,.kalau pilihan, tidak memilih ya tidak apa-apa. Kan memilih maupun tidak itu Hak universal tuh... kita jangan hanya berharap, tetapi ayo berbuat... kebanyakan orang hanya berharap dan mengeluh, menurut saya, ya kita harus mengajari rakyat untuk aktif... biar demokrasi tumbuh... kalau ada kontrak politik kerakyatan dan itu terjadi antara kemauan rakyat yang butuh kesejahteraan dengan calon bupati kan ‘asyik’... jadi tidak ada CEK KOSONG. Dan itu terjadi secara benar dan terjaga jika rakyat tidak hanya bersandar pada NYOBLOS. Yang harus terjadi adalah adanya dinamika politik dengan kesadaran akan haknya dengan diiringi gerakan... jadi ini adalah demokrasi substansial, yaitu KETERLIBATAN (PARTISIPASI) dan KESADARAN... “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman lainnya menimpali: “Duh duh duh... Semua pakar politik ini.. wis aku seng penting memperjuangkan pilihanku wae, yg lain-lain aku kurang paham”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya orang picik yang tidak mau belajar dan pasrah pada KETIDAKPAHAMAN-nya.... Aneh! Kamu benar-benar aneh, kawan”, tukasku pada dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ya, demokrasi selama ini memang dimaknai sebagai keterlibatan. Tetapi partisipasi selama ini hanya dilihat dari coblos-menyoblos... dan itu hanya sebenarnya tak lebih dari politik "MANUT GRUBYUK".. dengan konsesi praktis, yaitu akan nyoblos hanya karena diberi kaos, supermi, beras, uang receh, dan janji palsu... keterlibatan itu hanya hanyalah semu, karena tak didukung kesadaran... tetapi sadar dan tahu tanpa bergerak dan terlibat juga hanya akan jadi intelektualitas, ONANI (MASTURBASI)... Teori tanpa aksi=masturbasi! Aksi tanpa teori= .....?... Apa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya tak usah bilang kalau kita pakar politik... kita semua belajar dan mengatakan sesuatu dengan alasan, bukti, dan gak hanya mengumbar kebohongan, keputusasaan, keraguan, ketakutan, dan watak-watak menjijikkan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua harus belajar dan harus mengatakan sesuatu dengan alasan, bukti, dan tidak hanya mengumbar kebohongan, keputusasaan, keraguan, ketakutan, dan watak-watak menjijikkan itu! Kita semua harus suka LEARNING SOCIETY, MASYARAKAT PEMBELAJAR! Jadi agak aneh kalau orang bangga dengan ketidakpahamannya dan memilih sesuatu tanpa alasan... masih banyak orang seperti itu di dunia ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus percaya: DUA HAL YANG SECARA MATERIAL BERBEDA, JELAS SECARA KUALITATIF BERBEDA... DUA HAL YANG SECARA MATERIAL DIBANDINGKAN, pasti ada yang berbeda kalau fakta materialnya berbeda...... DI ANTARA DUA HAL PASTI ADA YANG BENAR DAN YANG SALAH,,, jadi agak lucu kalau orang memilih tapi tidak ada alasannya... ada alasan tapi gak mau mengatakan ada dua pilihan: (1) takut kalau pilihannya salah dan malu kalau orang lain tahu; (2) tahu pilihannya salah dan malu kalau orang lain tahu serta ada agenda pribadi yang malu jika diungkapkan; (3) tahu pilihannya benar, tetapi ia tak mau mengabarkan kebenaran—jadi, ia egois dan akan memainkan kebenaran itu mungkin utk dirinya sendiri....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi, silahkan, kalau mau belajar dewasa dalam politik dan berdemokrasi, kita harus punya nyali dan tidak sekedar ikut-ikutan ('manut grubyuk')... banyak orang ngomong sesukanya, kadang malah bikin bingung, atau asal ngomong asal bisa tampil... dan tak pernah menuntaskan sesuatu atau tak serius.. Hingga, hidupnya cuma main-main.. Dalam praktik politik: jadinya ya hanya permainan politik, yang tentu menyimpan agenda picik anti-kerakyatan.. di atas ketololan inilah politik kita berjalan.. lalu, apakah kita mau terus-terusan berada dalam budaya kemunafikan seperti ini?&lt;br /&gt;Prototipe orang Jawa: mengalah, tunduk, lugu, dan terkesan diam atau takut pada kenyataan... ya kalau memang diapusi ya bilang “diapusi”, kalau salah ya harus kita katakan salah! Dalam hidup ini kita kan melihat kenyataan-kenyataan, pengalaman-pengalaman seharusnya membuat kita belajar dan sampai pada kesimpulan bahwa cara berpolitik kita sangat salah secara mendasar, termasuk cara berfikir pasrah-ngalah, yang merupakan mental INLANDER, warisan kompeni.. Kita memang dijajah 350 tahun dan perlawanan-perlawanan selalu kalah, mulai dari perang Diponegoro, dll... dan bahkan kita seakan dalam alam bawah sadar tertanam bahwa kita ini selalu jadi pengikut dan terjajah.... mental terjajah ini harus kita hancurkan, karena inilah yang membuat bangsa kita tak maju-maju... termasuk takut kebenaran, acuh pada kenyataan, hanya berharap dan tergantung (pada elit politik atau pemerintah)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang: “Serahkan semuanya pada yang punya kepentingan, kita berharap saja... Jadi tak bakalan ada yang kecewa karena di apusi”....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Ah, kok “nemen”.  Pada hal setahu saya: Penindasan/kebohongan/kemi&lt;/span&gt;          &lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;skinan yang membuat rakyat kecewa... Bagi yang mengatakan “siapa bilang rakyat kecewa?”, saya harap Mbok sekali-sekali jangan terus-terusan naik mobil, tetapi mbok ya sekali-sekalin naik angkot biar ngerti bagaimana kekecewaan rakyat akan harga-harga yang kian mahal dan hidup yang sulit...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lihatlah apa yang sedang terjadi, saat ini, KECEWA dengan penguasa tak hanya dilampiaskan dalam aksi dan gerakan massa, tetapi SALAHNYA (unfortunetely) dilampiaskan pada istrinya, hingga suami yang di-PHK melakukan kekerasan.. itu fakta psikologis akibat ketimpangan material pakde......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbok ya kita berangkat dari hal yang nyata, lalu bergerak....tak hanya berharap berharap dan berharap... yang cara ini terbukti memperlama masa ketertindasan.. budaya inlander harus dihancurkan, Indonesia (trenggalek) harus bangkit, rakyat harus berkesadaran...[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kedungsigit, 8 Januari 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-7161799617673898261?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/7161799617673898261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=7161799617673898261' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7161799617673898261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7161799617673898261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2010/01/pemilihan-bupati-bukan-untuk-rakyat.html' title='PEMILIHAN BUPATI BUKAN UNTUK RAKYAT!'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-5004000317815453813</id><published>2009-05-03T05:35:00.001-07:00</published><updated>2009-05-03T05:39:51.460-07:00</updated><title type='text'>Setelah Putus Cinta: Mulailah Berproduksi dan Berkreasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;oleh Nurani Soyomukti*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Seharusnya putus cinta menjadikan kamu tambah punya waktu untuk merenungkan kehidupanmu, terutama masa depan kamu. Lagian kamu  punya waktu untuk  berproduksi dan berkreasi. Bayangkan, jika kamu menghabiskan  waktu untuk berduaan, lupa segalanya. Semua kegiatan yang seharusnya kamu lakukan untuk  memperkaya pengetahuan dan berperan untuk membangun jati diri berkurang. Apalagi kalau pacar kamu ngekang, membatasi gerak dan ruang kamu, dan membawa kamu pada dunia semu dimana kamu lupa segalanya, maka kamu baik sadar atau tidak akan kehilangan banyak kesendirian dan ruang kebebasan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Karenanya, tanpa pacar justru dapat membuat ruangmu diwarnai otonomi diri dan dengannya kamu dapat mengekspresikan  bakat kamu, berkarya dan mencipta atau bekerja.&lt;br /&gt;Fakta bahwa putus cinta menambah produktifitas, dialami oleh banyak orang, terutama orang-orang terkenal.  Misalnya, yang baru-baru saja, adalah artis Taylor Swift yang justru kian produktif dalam berkarya setelah putus cinta. Pelantun lagu ‘Fifteen’ ini masih jomblo setelah putus asmara dengan Joe Jonas, personel Jonas Brothers. Meski jomblo, dia tidak pernah merasa kesepian. Bahkan, putus asmara justru melahirkan sebuah lagu, ‘Forever and Always’. Adakah patah hati membuatnya takut pacaran lagi? Kepada majalah Seventeen, perempuan kelahiran Reading, Pennsylvania, 13 Desember 1989, ini bercerita, jomblo dan kesepian itu adalah dua hal yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Inilah komentarnya: ”Kalau bertemu seseorang yang menarik, saya pasti berkencan lagi. Tetapi, saya bukan tipe perempuan yang tergantung pada pacar. Enggak punya pacar, kan, bukan berarti kesepian. Saya justru memanfaatkan kesendirian untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan hati”.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Swift juga merasa lebih produktif dalam mencipta lagu setelah putus cinta. Dia juga jadi punya waktu untuk melakukan hal-hal kecil yang disukainya, seperti menikmati nyala lilin beraroma dan membaca buku. ”Kalau pengin ngobrol ada para sahabat,” ucapnya sambil menyebut beberapa sahabatnya seperti Selena Gomez, Demi Lovato, Miley Cyrus, dan Emma Stone. Ia merasa tak perlu terburu-buru mencari pengganti Joe Jonas. ”Cinta itu tetaplah misteri, kita tak bisa memperkirakan kapan bakal jatuh cinta,” kata Swift enteng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga dialami oleh artis Indonesia yang menjadi DPR, Angelina Sondakh. Setelah hubungan cinta anggotanya  dengan Adjie Massaid (39) benar-benar kandas, ia tak merasakan kekecewaan yang mendalam karena ia punya banyak kegiatan untuk  melakukan hal-hal positif. Angie sibuk mengerjakan banyak hal. Salah satunya mengikuti workshop pembuatan patung. Pada workshop pembuatan patung tanah liat di Museum Nasional dalam rangka Pameran Tunggal V perupa Iriantine Karnaya, misalnya, Angie terlihat menikmati kegiatannya. Ini memang terjadi dua tahun lalu, tepatnya pada Juni 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita dapat memetik hikmah dari apa yang dialami oleh artis dan politisi ini. Angie mengaku kegiatan membuat patung  tak asing lagi baginya. Ketika bersekolah di Presbyterian Ladies College, Sydney, Australia tahun 1992-1994, ia pernah mendapatkan pelajaran ekstrakurikuler seni keramik pembuatan pot. Itu tak jauh berbeda dengan seni patung yang kini sedang digelutinya sekarang. “Hanya saja untuk pembuatan patung kita harus lebih teliti lagi agar patung yang kita buat punya nilai artistik,” kata gadis berkulit kuning langsat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan tersebut membawa banyak manfaat. Sebagai anggota DPR, ia dapat menyerap aspirasi langsung dari para seniman dalam berkarya sekaligus sebagai ajang relaksasi setelah satu minggu bekerja sebagai wakil rakyat. “Tapi ternyata membuat patung itu lebih mudah ketimbang membuat undang-undang ya," ucapnya sambil tersenyum. Kala itu, Angie sedang membuat patung tanah liat berbentuk aneka jamur. Ternyata patung-patung yang dibuat oleh Puteri Indonesia 2001 ini mempunyai filosofi tersendiri. Untuk patung berbentuk jamur berarti kita sebagai manusia harus menjamur atau membaur dengan sesama. Jamur banyak mempunyai manfaat, di antaranya untuk mengobati kanker," ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Berbeda dengan peserta lainnya, Angelina secara khusus membuat pula satu patung berbentuk hati. Dia kembali menerangkan filosofi di balik patung hati itu. "Kalau bercinta manusia jangan hanya dengan satu hati, tapi harus hati-hati. Dengan begitu kita tidak menyesal di belakang hari, yang hanya menimbulkan perasaan kecewa dan membuat hidup tidak bahagia," ungkapnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Workshop setiap Sabtu ini bermanfaat dengan bidang yang dipegangnya di DPR, yakni mengurus bidang budaya dan pariwisata. “Ketimbang tiap Sabtu pergi ke salon, lebih baik saya pergi ke tempat seperti ini, sehingga saya bisa mengekpresikan diri. Bahkan nanti saya akan ikut kursus merangkai bunga," katanya. Angie juga pernah membatik secara tradisional dengan menggunakan canting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iriantine Karnaya yang menjadi instruktur mengatakan bahwa Angelina Sondakh memiliki rasa seni yang luar biasa. Hanya saja Angie masih kaku, karena kurang banyak praktik. “Ternyata hari ini apa yang ada di dalam benakku keluar semua dan menjadi patung-patung yang kubuat ini, ha...ha...ha...," ujar Angie menjawab omongan Iriantine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu jangan ‘kayak’ artis-artis yang  cengeng yang seakan begitu menderita akibat putus cinta. Seperti yang dialami oleh artis Lindsay Lohan di mana putus cinta dari Samantha Ronson membuatnya ‘KO”. Bahkan artris cantik ini butuh bantuan psikiater untuk memulihkan kondisi kejiwaannya. Menurut sumber, kehilangan Samantha yang akrab disapa Sam, membuat kehidupan Lindsay berubah 180 derajat. Dia tak cuma menderita karena patah hati, tapi juga kehilangan kontrol atas hidupnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lindsay sekarang sedang sepi job. Hidupnya jadi semakin kosong. Dia benar-benar butuh bantuan psikiater. Teman-temannya ikut berduka karena sekarang Lindsay sendirian," tutur sumber yang dilansir Hollyscoop.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; Seakan Lindsay tidak benar-benar memiliki seorang teman sejati. Lindsay lebih suka menghabiskan waktu bersama ibunya, Dina, dan adiknya, Ali. Tak ingin melihat anaknya sendiri tanpa teman, Dina mencoba menghubungi beberapa orang yang pernah menjadi teman Lindsay.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Produktifitas, itulah kuncinya. Suatu penyembuh yang terbaik karena tanpa produktifitas, keterasingan berkembangbiak. Produktifitas dengan kegiatan yang positif dan menghasilkan, serta memperbanyak pengetahuan yang memperkaya cara pandang, adalah obat mujarab bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu masih punya dunia. Duniamu bukanlah dunia hubungan bersama cowok yang menjengkelkan, tidak perhatian, egois, atau bahkan suka selingkuh dan hanya menginginkan tubuh kamu. Kamu menolak diajak “ML”  (‘making love’), dan dia memutus kamu. Kamu hanya dijadikan perempuan penghias hidupnya daripada dia tak punya pacar, tapi begitu dia mendapatkan  cewek yang lebih baik dari kamu, diapun memutusmu atau mengkhianati kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakinlah bahwa dunia sangatlah luas, tidak seluas daun kelor. Waktu juga akan berjalan. Kamu tidak hanya berpijak di satu petak tanah. Kamu tak harus patah hati karena masih ada ruang bagi kamu untuk bergerak dan ada kemungkinan akan ada teman, kawan, atau kekasih lain yang setia, baik hati, jujur, dan bahkan dapat membimbing kamu agar kamu bersama dia menemukan peran yang tepat bagi kehidupan di masa muda. Syukur-syukur kalau dia akan menjadi suami kamu kelak, atau menjadi bapak dari anak-anakmu yang imut di masa kecil dan akan besar menjadi orang yang berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, kamu akan menjadi orang bodoh jika berpasangan dengan orang yang bodoh. Kamu akan rusak jika kamu menjalin hubungan dekat dengan orang yang rusak. Kamu akan suka berkhianat kalau kamu sering dikhianati atau kamu hanya menjalani cinta palsu yang penuh kepura-puraan dan kebohongan. Sekali kamu mendapatkan situasi untuk menjadi pembohong, maka kamu akan tumbuh jadi manusia palsu. Carilah kebenaran, raihlah cinta palsu—kamu harus percaya pada Cinta sejati! Tanpa ini, dunia akan tetap tercerai-berai dalam kebencian dan kemunafikan. Dua orang yang sama-sama bodoh dan berkualitas rendah menjalin cinta, menikah, dan membesarkan anak: maka ia akan mewariskan kebodohan pada anak cucunya, pada kehidupan yang terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, prinsipnya adalah bahwa cinta itu tidak buta. Putus bukanlah akhir dari segalanya. Kamu pasti akan menemukan dunia baru. Dan ciptakanlah dan carilah dunia yang kondusif bagi kemanusiaan dan cintamu. Tinggalkan laki-laki yang suka berkhianat, yang mengekang, dan yang dalam hubungan bahkan tak mendidik kemajuan otak dan mental kamu. Dunia ini tak terdiri dari satu, carilah ruang untuk menjalin cinta. Untuk apa menjalin hubungan jika kualitasnya buruk. Demikian juga, untuk apa menyesali putus cinta jika kamu masih  dapat menemukan cinta yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkanlah! Banyak waktu yang dapat kamu miliki karena tak terampas oleh kegiatan-kegiatan yang tujuannya hanya agar dapat pacaran saja, tetapi juga  untuk merebut waktu luang untuk berpikir, meneliti, belajar, menulis puisi, melakukan eksperimen dan tindakan-tindakan yang memungkinkan kamu  bebas berproduksi dan berkreasi… Indah bukan? Cinta dan hubungan memang terasa begitu indah jika tak mengasingkan atau sesuai dengan pilihan dan kemampuan kita sendiri untuk mencintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu  tidak punya cita-cita untuk melahirkan kenyataan baru, kebiasaan kamu  tetap meniru dan hasil dari reproduksi masyarakat penindasan, maka semangat mencintai kamu tumpul. Pencarian pada dunia baru, setelah kamu putus cinta,  sebagai bentuk ungkapan cinta universal didasari oleh semangat untuk merubah, menciptakan kenyataan baru. Sebagaimana diharapkan Minke dalam novel karya Pramoedya Ananta Toer, ‘Rumah Kaca”:&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;"Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia”.&lt;br /&gt; ==================&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; “Putus Cinta, Taylor Swift Malah Makin Produktif “,  Kompas, Sabtu 4 April 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; “Angelina Sondakh: Putus Cinta, Bikin Patung”, dalam &lt;/span&gt;&lt;a href="http://64.203.71.11/ver1/Hiburan/0706/24/063137.htm"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;http://64.203.71.11/ver1/Hiburan/0706/24/063137.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; “Putus Cinta, Lindsay Lohan Butuh Psikiater”, Okezone, Senin, 13 April 2009 - 10:30 wib atau &lt;/span&gt;&lt;a href="http://celebrity.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/04/13/33/209978/putus-cinta-lindsay-lohan-butuh-psikiater"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;http://celebrity.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/04/13/33/209978/putus-cinta-lindsay-lohan-butuh-psikiater&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; Pramoedya Ananta Toer. Rumah Kaca. Jakarta:  Lentera Dipantara, 2006, hal.  436&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-5004000317815453813?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/5004000317815453813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=5004000317815453813' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5004000317815453813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5004000317815453813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/05/setelah-putus-cinta-mulailah.html' title='Setelah Putus Cinta: Mulailah Berproduksi dan Berkreasi'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-5327554461244951447</id><published>2009-04-11T22:35:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T22:44:05.822-07:00</updated><title type='text'>Nurani</title><content type='html'>Nurani....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-5327554461244951447?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/5327554461244951447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=5327554461244951447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5327554461244951447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5327554461244951447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/04/nurani.html' title='Nurani'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-3045629808624861984</id><published>2009-02-24T05:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T05:32:03.941-08:00</updated><title type='text'>Dimuat di Koran PO, 16 Februari 2009:</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a name="1954534979067599944"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;a href="http://www.koranpakoles.co.cc/2009/02/di-balik-peningkatan-standar-unas.html"&gt;Di Balik Peningkatan Standar Unas&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Nurani Soyomukti*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Permendiknas No 78/2008 menetapkan standar kelulusan dalam ujian nasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SaP2OnDhmUI/AAAAAAAAA88/JEvqDFrAWqU/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 125px; height: 89px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SaP2OnDhmUI/AAAAAAAAA88/JEvqDFrAWqU/s400/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306355516834945346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;onal (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;unas) 5,50 dengan nilai minimal 4,0 paling banyak di dua mapel dan 4,25 di mapel lain. Angka ini naik 0,25 dibanding tahun lalu. Tampaknya tidak muncul reaksi yang cukup kuat mengenai kebijakan ini sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Pro-kontra tentang standardisasi angka kelulusan Unas kali ini &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;tampaknya hampir tidak terjadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ujian nasional adalah sarana untuk menentukan lulus atau tidaknya anak didik yang telah menempuh pendi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dikan tingkat tertentu. Proses pembelajaran harus dilihat dari berbagai aspek. Dan saya berani bertaruh bahwa aspek yang paling penting adalah kualitas-kualitas yang dapat diukur. Jadi, ketika masih banyak orang memperdebatkan UN tanpa melihat masalah yang paling penting dalam proses pembelajaran kita, saya melihat bahwa perdebatan tersebut tid&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;aklah berkualitas—mungkin hanya perdebatan politis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Standardisasi yang sekarang ramai diperdebatkan adalah standardisasi menurut logika kapitalisme karena ukuran kualitas pendidikan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dibuat berdasarkan para pengambil kebijakan kapitalistik. Pemerintah selalu berargumen bahwa standar UN dengan nilai yang ditetapkan untuk mengeksekusi anak didik lu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SaP1y-unI8I/AAAAAAAAA80/ybUyB6HD1yw/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 94px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SaP1y-unI8I/AAAAAAAAA80/ybUyB6HD1yw/s400/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306355042153341890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;lus atau tidak, didasarkan pada perbandingan kualitas pendidikan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dengan negara-negara lain. Ditingkatkannya nilai standard kelulusan disesuaikan dengan kepentingan kapitalisme global. Jadi, masalahnya bukanlah dipatoknya standard—bagaimanapun patokan untuk mengevaluasi segala sesuatu sangat penting. Yang masalah adalah dalam kepentingan apa standard itu dibuat dan bagaimana standard itu dibuat dengan dimulai dengan persiapan yang matang, demokratis, da&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;n serius dalam proses pembelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jadi ada semacam kelucuan kalau kita menelisik debat kusir standardisasi ujian nasional itu! Di satu sisi pemerintah, melalui Departemen Pendidikan, harus membuat patokan agar di mata kapitalis asing dan negara-negara Barat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; terkesan serius dalam membuat patokan arah pen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;didikannya—setidaknya dari caranya menaikkan standard kelulusan. Standard itulah yang ingin ditunjukkan oleh pemerintah: “Ini lho, negaraku punya standard lulusan pendidikan sebegini bagus, pasti layak bersaing dalam kapitalisme global!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sayangnya, dengan jelas diketahui bahwa peran pemerintah selalu memakai double standard: ketika berbicara mengenai standard kelulusan dan aturan pendidikan mereka bersuara lantang, tapi ketika berbicara alokasi anggaran pendidikan mereka diam seribu bahasa. Alokasi anggaran yang sudah terealisasikan hanya sekitar 8,5% dari anggaran yang seharusnya 20% dari APBN. Alokasi anggaran yang ada diturunkan menjadi BO&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;S (Bantuan Operasional Sekolah), dana ini lebih menitik beratkan pada proiritas perbaikan gedung dan penambahan alat praktek belajar-mengajar. Anggaran untuk memperbaiki kualitas guru dan kurikulum ternyata tidak disentuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b style=""&gt;Kepentingan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Para guru dan beberapa pekerja sekolah yang menyetujui kebijakan pemerintah, selain punya tujuan politis, memang telah memiliki sekolah yang maju—tentu saja sekolah favorit yang fasilitasnya bagus, yang dimasuki anak-anak yang lulus dari sekolah tingkat sebelumnya yang bernilai bagus—tentu saja sekolah ini sangat mahal. Mereka adalah sekolah yang memang terbukti selalu meluluskan siswa-siswanya meskipun standard UN yang titetapkan tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sedangkan para&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; guru yang menolak standard kelulusan punya kepentingan untuk melihat anak-anak didiknya lulus semua. Sayangnya, tujuannya adalah agar sekolahnya laku dan tidak punya citra buruk. Karena sekali ketahuan kalau banyak yang tidak lulus dari sekolah tersebut, citra sekolahnya akan buruk. Orangtua yang mengirimkan anaknya ke sekolah itu akan marah-marah dan kadang bernada provokasi agar para orangtua lain jangan menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut. Di tengah berjalannya era perdagangan sekolah, tentu pihak sekolah tidak ingin kalau sekolahnya “tidak laku”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Itulah yang menyebabkan para guru di sekolah tersebut memanipulasi dengan berbagai cara agar murid-muridnya lulus. Tak heran, jika kecurangan UN adalah gejala yang sem&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;arak. Mulai dari guru yang membocorkan jawaban pada siswa-siswanya. Bocornya soal yang masih menjadi rahasia negara sebelum siswa mengerjakannya pada saat hari H ujian. Hingga berbagai macam kecurangan yang selalu menjadi bahan berita media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketidaklulusan pun semakin besar. Berbagai mediapun memberitakan—kadang agak didramatisir—berbagai akibat dari UN, seperti adanya anak yang bunuh diri karena tidak lulus; anak yang rela dicabuli dukun yang dimintai tolong agar lulus mengerjakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;soal UN; aksi demonstrasi menolak UN dan gugatan hukum (class action) terhadap pemerintah yang sebagai pengambil kebijakan UN yang dianggap salah; dan berbagai macam “gonjang-ganjing” Ujian Nasional. Kritik terhadap kebijakan ini juga dimanfaatkan oleh faksi-faksi politik yang ingin mendeligitimasi pemerintah untuk tujuan politik tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jadi dari kasus semacam itu, yang ingin saya tegaskan adalah bahwa “gonjang-ganjin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SaP2UrkPrgI/AAAAAAAAA9E/NICjImix6Dc/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 127px; height: 95px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SaP2UrkPrgI/AAAAAAAAA9E/NICjImix6Dc/s400/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306355621125139970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;g” UN itu tidak mencerminkan tuntutan masyarakat akan sebuah model pendidikan baru yang mampu menjawab bukan hanya masalah pendidikan Indonesia itu sendiri, tetapi juga proses mencetak manusia-manusia Indonesia ke depan—lebih tegas lagi pendidikan yang mampu membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan yang membuatnya tak menjadi manusia yang sebenarnya (bodoh, tertindas, putus-asa, pasif, tanpa peran sejarah). &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;_____________&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*)Voluntary Educator (Pengajar Sukarelawan) dan Penulis Buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi” (Januari 2008) dan “Metode Pendidikan Marxis-Sosialis: Antara Teori dan Praktek” (Desember 2008). &lt;/em&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-3045629808624861984?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/3045629808624861984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=3045629808624861984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/3045629808624861984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/3045629808624861984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/02/dimuat-di-koran-po-16-februari-2009.html' title='Dimuat di Koran PO, 16 Februari 2009:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SaP2OnDhmUI/AAAAAAAAA88/JEvqDFrAWqU/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-734262704001862363</id><published>2009-02-18T23:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T23:07:18.775-08:00</updated><title type='text'>Ponari, Kembalilah Ke Sekolah!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 26pt;" lang="IN"&gt;PONARI, KEMBALILAH KE SEKOLAH!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="PT-BR"&gt;Oleh Nurani, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;" lang="PT-BR"&gt;Ketua Yayasan TABUR (Taman Belajar untuk Rakyat) Jawa Timur&lt;i style=""&gt;; Voluntary Educator&lt;/i&gt; (Pengajar Sukarelawan) dan Penulis Buku “&lt;i style=""&gt;Pendidikan Berperspektif Globalisasi&lt;/i&gt;” (Januari 2008) dan “&lt;i style=""&gt;Metode Pendidikan Marxis-Sosialis: Antara Teori dan Praktek&lt;/i&gt;” (Desember 2008)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ponari, kembalilah ke sekolah!&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sudah hampir satu bulan engkau tidak masuk sekolah. Bangku di sekolahmu kosong. Teman-temanmu mencarimu, mereka menunggumu, hingga mereka menempelkan nama “Ponari, Kelas III SD” di kursimu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ponari, aku tahu engkau adalah anak yang dipilih oleh alam dengan kekuatan rahasianya. Kekuatan yang tak dapat kau jelaskan, bahkan kekuatan alam yang juga tak mampu dijelaskan oleh orang-orang tua dan bahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;para pendidik di negeri ini. Mereka hanya tahu bahwa kamu beri kekuatan untuk menyembuhkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mereka yang berdatangan padamu untuk minta penyembuhan melalui ‘batu petir’-mu dengan berdesak-desakan itu... mungkin hanya memandang kamu sebagai dewa penolong. Mereka tidak perlu penyelidikan ilmiah tentang kemampuanmu. Mereka butuh obat mendesak untuk menyembuhkan sakitnya, juga sakit parah yang diderita saudara-saudaranya!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dan memang bukan salah mereka kalau mereka datang dari berbagai daerah.. untuk menemuimu, yang membuatmu harus menemui&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan mengharuskanmu mencelupkan batu ajaib itu ke dalam air yang akan diminumkan pada si sakit, selain juga dioleskan pada bagian tubuh yang sakit dengan harapan bahwa air dewa petir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menurut Mama Laurent mengandung kekuatan elektrik itu menyembuhkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tapi aku lihat,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meskipun dari layar kaca (TV), kelihatan bahwa tubuh dan wajahmu kelihatan capek memberikan pelayanan itu. Aku tahu, meskipun kamu tersenyum dan tertawa-tawa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saat berada dalam gendongan ketika menemui antrean orang itu, sesungguhnya aku tahu bahwa kamu sudah mulai bosan membawakan peranmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Serba sulit, Ponari! Aku juga tak tahu, siapakah yang diuntungkan oleh peranmu ini. Menurutku pemerintahlah yang tertawa-tawa karena bebas dari tuntutan rakyat untuk memberikan kesehatan murah bahkan kalau bisa gratis. Akhirnya engkau tahu, Ponari!—Bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;negerimu yang kaya ini adalah negara di mana orang sakit sangatlah besar jumlahnya. Dari penyakit yang ringan, hingga penyakit yang parah, semuanya membutuhkan pengobatan agar sembuh. Tetapi pelayanan kesehatan di negeri ini juga belum memadahi. Rakyat masih berbenturan dengan mahalnya harga berobat, sedangkan infrastruktur dan tenaga kesehatan juga masih belum memadahi. Bahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kebijakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelayanan kesehatan bukan hanya minim, tetapi juga melanggar hak-hak rakyat akan kesehatan. Dalam laporan WHO (2005) untuk setiap penduduk Indonesia, pemerintah hanya mengalokasikan US$ 4 (sekitar Rp 34.000) per tahun untuk sektor kesehatan. Bandingkan hal ini dengan Malaysia yang pemerintahnya mengalokasikan US$ 77 (Rp. 654.000) per tahun per kapita. Hal tersebut bukanlah diakibatkan terlalu banyaknya penduduk Indonesia. Secara umum, walau jumlah penduduknya terbanyak di Asia Tenggara, alokasi anggarannya (dihitung berdasarkan persen PDB dan APBN) masih terhitung paling rendah di wilayah yang sama. Selain itu, pengeluaran rakyat secara swadaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan masih sangat tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Betapa besar jasamu Ponari! Meskipun di sisi lain aku juga kasihan karena engkau tidak sekolah. Aku tahu, jika pemerinta bisa memberikan kesehatan gratis pada rakyat... tak terlalu banyak orang yang sakit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ya, inilah, Ponari! Inilah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;negara yang menerapkan sistem kapitalisme! Kapitalisme sebagai bentuk ekonomi yang menjajah dan menindas, di mana pemerintahan negara kita menikmatinya karena mendapatkan keuntungan besar di bawah penderitaan rakyat itu. Tahukah kamu, Ponari! Bahwa kapitalisme atau para pebisnis sebagai tuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kapitalis tidak menginginkan rakyat sehat, mereka menginginkan banyak orang menderita sakit. Taukah mengapa, Ponari? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Karena kapitalisme tak akan berjalan, tuan kapitalis tidak akan dapat hidup dan tak dapat mendapatkan keuntungan jika mereka tidak bisnis obat-obatan atau pelayanan kesehatan! Di sinilah jasamu untuk menarik biaya murah sekali dari air ajaibmu, merupakan anugerah bagi rakyat miskin yang berdesak-desakan itu. Sesungguhnya mereka memang selalu berdesak-desakan sepanjang sejarah, Ponari! Sejarah penindasan di mana mereka siap berkumpul dan menunggu dimasukkan dalam lubang pembantaian sejarah. Lalu orang-orang berkuasa dan tuan-tuan kapitalis akan tertawa kegirangan...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Taukah Kau, Ponari? Orang-orang elit juga sering sakit, terutama sakit perut karena terlalu banyak makan keuntungan dari orang lain yang dihisapnya. Dan ketika sakitnya kambuh mereka tak akan mau datang padamu. Mana mungkin mereka mau datang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berdesak-desakan di tempat yang kotor dan dekil... Mereka lebih suka berobat ke Singapura.. bukan di tempatmu, apalagi sebuah tempat yang terpencil di sebelah utara Kabupaten Jombang yang berdekatan dengan Mojokerto tempatmu berada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tapi aku melihat wajahmu sudah mulai bosan mendatangi kerumunan orang-orang yang berdesakan itu. Jujurlah, Ponari! Engkau ingin bersekolah lagi, engkau ingin bermain lagi, dan engaku ingin mendapatkan ruang yang lapang untuk berekspresi...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kembalilah ke Sekolah, Ponari! Bukankah engkau ingin jadi tentara? Karenanya engkau harus belajar... Karena negeri kita butuh tentara yang pintar dan cerdas, yang berpengetahuan luas... Bukan tentara yang kerjaannya menembaki mahasiswa dan menculiki pejuang demokrasi....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ayolah, Ponari! Engkau jangan hanya mau dijadikan mesin pencari uang yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;efektif bagi orang-orang sekelilingmu. . Meskipun menarik biaya yang murah, datangnya puluhan ribu orang yang datang jelas mendatangkan uang yang banyak sebagai imbalan dari&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;pemberian air yang telah kau &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dicelupi ‘batu ajaib’! &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bukankah, banyak uang yang terkumpul dan terus mengalir juga menimbulkan masalah tersendiri. Sebagaimana diberitakan berbagai media, Kau &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;telah menjadi rebutan orang-orang dekat dan anggota keluargamu!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kau bukan mesin pencari uang, Ponari! Kembalilah ke Sekolah!***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-734262704001862363?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/734262704001862363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=734262704001862363' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/734262704001862363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/734262704001862363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/02/ponari-kembalilah-ke-sekolah.html' title='Ponari, Kembalilah Ke Sekolah!'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-3777434934421301435</id><published>2009-02-18T05:53:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T05:59:38.873-08:00</updated><title type='text'>Bedah Buku "MEMAHAMI FILSAFAT CINTA" (Aula STKIP PGRI Trenggalek, Minggu 15 Februari 2009):</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwUAF_BrmI/AAAAAAAAA8s/p88zEKkFu3g/s1600-h/BASAR+BUKU_IMG_0027.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwUAF_BrmI/AAAAAAAAA8s/p88zEKkFu3g/s400/BASAR+BUKU_IMG_0027.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304136452974685794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.radartulungagung.co.id/radartulungagung/features/174-nurani-soyomukti-pemuda-trenggalek-yang-terbitkan-dua-belas-buku.html"&gt;klik: http://www.radartulungagung.co.id/radartulungagung/features/174-nurani-soyomukti-pemuda-trenggalek-yang-terbitkan-dua-belas-buku.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-3777434934421301435?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/3777434934421301435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=3777434934421301435' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/3777434934421301435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/3777434934421301435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/02/bedah-buku-memahami-filsafat-cinta-aula_18.html' title='Bedah Buku &quot;MEMAHAMI FILSAFAT CINTA&quot; (Aula STKIP PGRI Trenggalek, Minggu 15 Februari 2009):'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwUAF_BrmI/AAAAAAAAA8s/p88zEKkFu3g/s72-c/BASAR+BUKU_IMG_0027.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-2143212977147539580</id><published>2009-02-18T05:45:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T05:46:56.935-08:00</updated><title type='text'>Bedah Buku "MEMAHAMI FILSAFAT CINTA" (Aula STKIP PGRI Trenggalek, Minggu 15 Februari 2009):</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwRFyIemDI/AAAAAAAAA8c/jxJc-S1OJxA/s1600-h/Bedah+buku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 350px; height: 233px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwRFyIemDI/AAAAAAAAA8c/jxJc-S1OJxA/s400/Bedah+buku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304133252189952050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.radartulungagung.co.id/radartulungagung/features/174-nurani-soyomukti-pemuda-trenggalek-yang-terbitkan-dua-belas-buku.html"&gt;http://www.radartulungagung.co.id/radartulungagung/features/174-nurani-soyomukti-pemuda-trenggalek-yang-terbitkan-dua-belas-buku.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-2143212977147539580?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/2143212977147539580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=2143212977147539580' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2143212977147539580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2143212977147539580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/02/bedah-buku-memahami-filsafat-cinta-aula.html' title='Bedah Buku &quot;MEMAHAMI FILSAFAT CINTA&quot; (Aula STKIP PGRI Trenggalek, Minggu 15 Februari 2009):'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwRFyIemDI/AAAAAAAAA8c/jxJc-S1OJxA/s72-c/Bedah+buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-1342966923920572393</id><published>2009-02-18T05:40:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T05:44:37.077-08:00</updated><title type='text'>Bedah Buku "MEMAHAMI FILSAFAT CINTA":</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwQr-lIk9I/AAAAAAAAA8U/q_SQvMVTUlQ/s1600-h/BASAR+BUKU_-_IMG_0085.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwQr-lIk9I/AAAAAAAAA8U/q_SQvMVTUlQ/s400/BASAR+BUKU_-_IMG_0085.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304132808854770642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.radartulungagung.co.id/radartulungagung/features/174-nurani-soyomukti-pemuda-trenggalek-yang-terbitkan-dua-belas-buku.html"&gt;http://www.radartulungagung.co.id/radartulungagung/features/174-nurani-soyomukti-pemuda-trenggalek-yang-terbitkan-dua-belas-buku.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/CLIEN3%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-1342966923920572393?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/1342966923920572393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=1342966923920572393' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/1342966923920572393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/1342966923920572393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/02/bedah-buku-memahami-filsafat-cinta_18.html' title='Bedah Buku &quot;MEMAHAMI FILSAFAT CINTA&quot;:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwQr-lIk9I/AAAAAAAAA8U/q_SQvMVTUlQ/s72-c/BASAR+BUKU_-_IMG_0085.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-2969781655020148388</id><published>2009-02-18T05:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T05:40:19.022-08:00</updated><title type='text'>Bedah Buku "MEMAHAMI FILSAFAT CINTA"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwOz3iryiI/AAAAAAAAA8M/l034xhOLc-o/s1600-h/BASAR+BUKU_BEDAH+BUKU_IMG_0061.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 429px; height: 236px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwOz3iryiI/AAAAAAAAA8M/l034xhOLc-o/s400/BASAR+BUKU_BEDAH+BUKU_IMG_0061.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304130745381145122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-2969781655020148388?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/2969781655020148388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=2969781655020148388' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2969781655020148388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2969781655020148388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/02/bedah-buku-memahami-filsafat-cinta.html' title='Bedah Buku &quot;MEMAHAMI FILSAFAT CINTA&quot;'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZwOz3iryiI/AAAAAAAAA8M/l034xhOLc-o/s72-c/BASAR+BUKU_BEDAH+BUKU_IMG_0061.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-1121753457569987858</id><published>2009-02-15T18:40:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T18:51:24.479-08:00</updated><title type='text'>Resensi Buku "METODE PENDIDIKAN MARXIS-SOSIALIS":</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bedah Buku &lt;/span&gt;&lt;i  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedaulatan Rakyat&lt;/span&gt;,&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Minggu Wage, 15 Februari 2009 (19 Sapar 1942)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Metode Pendidikan Marxis Sosialis, Antara Teori dan Praktik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nurani Soyomukti&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penerbit: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ar-Ruzz Media, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:place style="font-weight: bold; font-style: italic;" st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terbit : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Desember, 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tebal : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;316 halaman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesi telah disahkan Desember 2008, UU badan hukum pendidikan (BHP) tetap mengundang protes dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah gerakan mahasiswa. Mereka menyatakan bahwa, UU BHP hanya akan semakin menyuburkan praktik kapitalisme dalam dunia pendidikan. Anak-anak orang miskin akan tersingkirkan dari sistem pendidikan di negeri ini. Hanya anak-anak orang kaya saja yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Otonomi perguruan tinggi yang pada ujungnya “menghalalkan” segala cara guna menutupi kekurangan biaya pendidikan hanya akan semakin mengerdilkan peran pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Otonomi perguruan tinggi yang dilegalkan melalui UU BHP pada dasarnya hanya akan menghasilkan robot-robot intelektual yang siap dipekerjakan di berbagai sektor dunia usaha.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pendidikan yang bercorak kapitalisme ini selain menggusur kemandirian seseorang (orang miskin), pada dasarnya merupakan cerminan ketidakmampuan pemerintah dalam mewujudkan pendidikan untuk s&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZjTGwmb4hI/AAAAAAAAA8E/6vfo-fhmkWE/s1600-h/cover_METODE+PENDIDIKAN+MARXIS-SOSIALIS.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZjTGwmb4hI/AAAAAAAAA8E/6vfo-fhmkWE/s400/cover_METODE+PENDIDIKAN+MARXIS-SOSIALIS.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303220674307547666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;emua (education for everyone)—meminjam istilah John Comenius (1592-1670). Karena pendidikan merupakan hak setiap manusia. Lebih dari itu, mendapat pendidikan yang layak merupakan salah satu hak asasi manusia (HAM), sebagaimana tertuang dalam Declaration of Human Right yang disahkan pada tanggal 10 Desember 1948.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Buku yang ditulis oleh Nurani Soyomukti ini, ingin menggugat pendidikan yang bercorak kapitalis. Menurut aktivis dari Trenggalek, Jawa Timur ini, pendidikan kapitalisme tak ubahnya sebuah lembaga untuk melancarkan hegemoni kelas penguasa terhadap kelas tertindas (hlm. 91). Pendiri komunitas ’Taman Katakata’ (TK) di Jember, melalui buku ini, mengancang sebuah metode pendidikan yang lebih memanusiakan manusia tanpa harus mengebiri hak-hak orang miskin. Penulis mencontohkan praktik pendidikan di Kuba. Dengan falsafah “study, work, rifle” atau “bekerja, berkarya, dan senjata”, dipakai dalam pendidikan untuk mempertahankan revolusi (hlm. 236).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Nurani ingin membuka alam bawah sadar masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, bahwa masih ada jalan lain atau sistem pendidikan lain yang dapat dipraktikan di Nusantara. Karena sistem atau metode pendidikan tidaklah tunggal. Oleh karena itu, untuk menciptakan keadilan dalam pendidikan dibutuhkan model pendidikan lain. Buku ini mengajak kepada seluruh masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang masih peduli dengan masa depan pendidikan dan bangsanya untuk merenung, bahwa pendidikan di tanah air telah kehilangan arah atau ruhnya. Pendidikan di Indonesia, sudah saatnya tidak berkiblat ke Amerika Serikat, sebagai mbahnya kapitalis, namun perlu melirik sistem pendidikan yang telah di jalankan di Amerika Latin, sebagai counterpart terhadap kebuntuan sistem pendidikan yang tidak memanusiakan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;*)Benni Setiawan, Penulis Buku Agenda Pendidikan Nasional (2008).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-1121753457569987858?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/1121753457569987858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=1121753457569987858' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/1121753457569987858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/1121753457569987858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/02/resensi-buku-metode-pendidikan-marxis.html' title='Resensi Buku &quot;METODE PENDIDIKAN MARXIS-SOSIALIS&quot;:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SZjTGwmb4hI/AAAAAAAAA8E/6vfo-fhmkWE/s72-c/cover_METODE+PENDIDIKAN+MARXIS-SOSIALIS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-4980009179724009243</id><published>2009-02-04T23:07:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T23:27:36.523-08:00</updated><title type='text'>Dari Naskah Bukuku:</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;em&gt;Ketika Istri Ingin Cerai&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Belajar dari Sekelumit Kisah Nawal El Sadawi dan Alexandra Kollontai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;em&gt;Nurani, pendidik dan penulis buku&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Pernah mendengar istri ‘menceraikan’ suami kan? Tentu dari kacamata agama, perempuan tidak bisa menceraikan laki-laki dalam sebuah perkawinan. Maksudnya, ingin cerai tetapi si suami tidak mau atau tak mau menandatangani keputusan cerai, maka dalam kaca mata agama memang tidak bisa cerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hak ‘Cerai’ untuk Perempuan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tetapi di era modern, perempuan bukanlah pihak yang lemah dan tunduk-patuh dan menuruti apapun yang terjadi dan bagaimanapun pernikahan menyebabkan nasib mereka. Jaman dulu, jika istri tidak suka pada suami, maka ia tak bisa memilih. Bahkan jika sua&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqRisuFXKI/AAAAAAAAA7E/kX3cr3eM1bw/s1600-h/nawal+kekerasan.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299207936860839074" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 154px; CURSOR: hand; HEIGHT: 168px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqRisuFXKI/AAAAAAAAA7E/kX3cr3eM1bw/s400/nawal+kekerasan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;mi tak suka pada istri, ia bisa saja mencari istri lain dan si istri tetap jadi istrinya meskipun secara de fakto tak lagi berhubungan sebagaimana layaknya orang yang menginginkan hubungan. Tak heran jika laki-laki yang memiliki kedudukan di masyarakat, seperti raja-raja, bisa memiliki ribuan istri atau selir—seperti raja-raja Cina. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Situasi keterbukaan seperti sekarang ini tentu lebih memberi peluang pada perempuan untuk menyatakan kesukaan atau ketidaksukaan, kecocokan dan ketidakcocokan, pada pasangannya. Istri punya ruang untuk memutuskan atau minimal mengungkapkan jika ia ingin memutuskan hubungannya karena ia merasa tak cocok lagi dengan laki-laki yang dianggap oleh orang lain sebagai suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang keputusan semacam itu diambil karena si istri merasa memiliki kecocokan dengan suaminya, dan kadang juga ada pemicu dari luar misalnya dia juga telah tertarik dengan orang lain pada saat ia sudah menikah. Ada juga yang memilih cerai atau berpisah karena ia dikekang di dalam rumah dan tidak boleh berperan di luar atau bahkan karena bentuk-bentuk penindasan lainnya. Perempuan yang mendapatkan perlakuakn kekerasan itu memilih lari dari rumah. Juga ingin lari karena ia tak mau dikekang dan ingin berperan luas di luar rumah karena ia merasa bahwa kondisis kehidupan di luar rumah mengundang perannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang single parent, bagaimanapun, adalah suatu status yang tak diinginkan karena pada dasarnya segala sesuatu akan mudah dihadapi bersama orang lain. Tetapi yang harus dipahami adalah bahwa: kesendirian dan tanpa bantuan orang lain kadang kita juga bisa menghadapi hidup dengan penuh makna, lebih produktif-kreatif, bahkan lebih dibanding pada saat kita bersama-sama dengan pasangan Anda. Lebih baik sendiri daripada bersama tetapi ditindas karena penindasan itu membuat kita menjadi kerdil dan hanya patuh-tunduk tanpa punya otonomi dan kreatifitas.&lt;br /&gt;Muncul berbagai macam pertanyaan dalam benak perempuan, misalnya:&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Apakah hidup kalau bukan aktifitas? Kenapa aku justru terpasung seperti ini dalam rumahtangga. Iya kalau suamiku menyayangi aku sepenuhnya, kenyataannya dia hanya peduli pada dirinya sendiri. Dia sibuk di luar dan mungkin juga bertemu dengan banyak orang, termasuk perempuan-perempuan yang pasti membuatnya tergoda—pasti tergoda, aku tahu persis watak suamiku. Jadi kenapa aku dibohongi seperti ini. Aku kan juga punya kemampuan untuk berperan di luar rumah? Aku tidak suka pada suamiku yang keluar rumah untuk urusan dirinya sendiri. Aku ingin keluar rumah untuk berperan agar lebih berguna di masyarakat!&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Istri Tak Taat?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apakah istri harus taat pada laki-laki dan budaya jika apa yang dimaui oleh laki-laki dan budaya tidak sesuai dengan kemauannya yang sesuai dengan ukuran-ukuran kemanusiaan? Apakah ketika istri ingin cerai atau putus hubungan dengan suami karena tidak cocok, ia disebut perempuan menyimpang? Memangnya, apakah pernikahan adalah tempat istri harus taat pada suatu hal yang mungkin bertentangan dengan perasaannya akan keadilan hubungan dan nilai-nilai kemanusiaan?&lt;br /&gt;Jangan-jangan di balik selubung budaya ketaatan tersimpan wajah buruk penindasan atau penipuan. Sebagaimana dikatakan oleh &lt;strong&gt;Nawal El Sadawi&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Seorang yang sedang dipimpin oleh orang lain dan terlihat taat sebenarnya orang yang munafik. Ketaatan adalah wajah lain dari rasa takut, sedang ketakutan itu akan membawa pada sebuah kemunafikan. Akan tetapi, kita tidak akan sampai pada akar segala sesuatu, karena rasa takut itu. Karena, kita takut untuk menentang sesuatu yang telah jelas atau hal yang masih semu pada nilai-nilai dan kebiasaan yang kita hadapi. Pada akhirnya, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kemunafikan dan ketaatan itu dua sisi dari satu keping mata uang yang sama&lt;/em&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi,&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqS5oqX9jI/AAAAAAAAA7c/813kQ5rxbMY/s1600-h/nawall.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299209430420158002" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 100px; CURSOR: hand; HEIGHT: 121px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqS5oqX9jI/AAAAAAAAA7c/813kQ5rxbMY/s400/nawall.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; bukan seks dan bukan kekayaan material yang mengikat dan menjadikan hubungan langgeng, tetapi nilai yang lahir dari pemaknaan terhadap materi itu dan ikatan/hubungan yang didukung oleh materi itulah yang penting. Nilai-nilai manusia kadang juga bersifat universal, seperti seorang perempuan yang justru lari dari suaminya karena begitu terpesona dengan nilai universal yang bernama keadilan dan kesetaraan antara manusia, prinsip yang membuatnya menyukai kegiatan yang dilarang dan tidak disukai oleh suaminya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Dialah seorang perempuan yang bernama Alexandra Kollontai, lahir dari keluarga Finno-Rusia. Namanya akan terus dikenang dalam sejarah, terutama dalam sejarah gerakan perempuan. Alexandra berparas cantik, cerdas, tegas dan mandiri. Dia menikah saat usia muda—melawan kemauan keluarga—dengan sepupunya yang bernama Vladimir Kollontai. Titik balik dalam kehidupan Alexandra datang pada tahun 1896 ketika ia mendampingin Vladimir, seorang inspektur pabrik, dalam salah satu kunjungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pabrik-pabrik tempat suaminya bekerja itu sangat kotor, bising, dan berbahaya. “Dan buruh-buruh yang kelaparan ini diperbudak hingga di luar batas kemampuan manusia”, katanya.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; Vladimir tak memped&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqRUg2hTiI/AAAAAAAAA68/SNbDs23IoeI/s1600-h/nawal+cerai.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299207693156830754" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 77px; CURSOR: hand; HEIGHT: 114px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqRUg2hTiI/AAAAAAAAA68/SNbDs23IoeI/s400/nawal+cerai.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;ulikan keresahan manusiawi istrinya. Alexandra marah dan akhirnya bergabung dengan sekelompok Marxis dalam mendukung pemogokan buruh tekstil di St. Petersburg tahun 1896. Vladimir berusaha mencegahnya, Alexandra menangis kecewa dan memutuskan meninggalkan Vladimir, dan untuk sementara waktu meninggalkan anak laki-lakinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya hal itu merupakan sebuah tindakan melanggar batas yang dilakukan laki-laki terhadap individualitas kaum perempuan. Artinya sebuah perjuangan berlangsung di seputar persoalan: kerja atau menikah atau cinta. Demi nilai-nilai kemanusiaan yang berbeda dengan pasangannya (suaminya), hubungan dihentikan karena memang tak ada harapan lagi menjalani hubungan yang tiada nilai. Kebutuhan seorang perempuan agung seperti Kollontai bukanlah semata-mata kemewahan dan seksualitas atau sanjungan dari masyarakat bahwa dia berstatus bangsawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan demi cita-cita kemanusiaan bukan saja ia menceraikan istri di luar prosedur resmi. Tetapi ia juga berani bertaruh pada hidupnya: Aktivitas-aktivitas Alexandra dalam kelo&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqR0NUUhYI/AAAAAAAAA7U/IP_xlNMtpXs/s1600-h/nawal+Kollontai.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299208237668926850" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 96px; CURSOR: hand; HEIGHT: 124px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqR0NUUhYI/AAAAAAAAA7U/IP_xlNMtpXs/s400/nawal+Kollontai.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;mpok perempuan sosialis menarik perhatian polisi Tsar dan dia harus keluar dari Rusia. Diasingkan di Eropa dan AS, dia berjuang penuh semangat melawan pecahnya PD I. Pada tahun 1914, dia bergabung dengan Partai Bolsyewik pimpinan Lenin, yang merupakan penentang Perang Dunia I yang paling kuat. Saat terjadi Revolusi Februari 1917, Alexandra kembali ke Rusia. Tujuh bulan kemudian, setelah kemenangan Revolusi Oktober-nya Bolsyewik, Lenin mengajaknya duduk dalam pemerintahan sebagai Komisaris Kesejahteraan Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexandra bekerja dengan perempuan-perempuan pemimpin Bolsyewik lainnya (Innesia Armand, Krupskaia, Ludmilla Stael, Zinaida Lilina untuk menerapkan suatu program sosialis bagi perempuan, meskipun berlangsung krisis kelaparan dan perang saudara. Program-program yang dilakukan antara lain:&lt;br /&gt;· Hak pilih bagi perempuan;&lt;br /&gt;· Kesetaraan Hukum laki-laki dan perempuan;&lt;br /&gt;· Kebebasan untuk bercerai;&lt;br /&gt;· Cuti melahirkan 2 bulan dengan tetap digaji;&lt;br /&gt;· Tempat pengasuhan anak di tempat kerja dan di lingkungan perumahan;&lt;br /&gt;· Memukul istri dianggap illegal;&lt;br /&gt;· Kampanye pendidikan dan propaganda menentang pemingitan dan pemakaian jilbab untuk perempuan di daerah-daerah Muslim yang luas di Uni Soviet;&lt;br /&gt;· Klinik-klinik, tempat penitipan anak dan rumah-rumah perawatan ibu-ibu melahirkan;&lt;br /&gt;· ‘Cuti sakit’ tetap digaji untuk ibu-ibu yang masih menyusui bayi;&lt;br /&gt;· Didirikan komune-komune perumahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolontai menjadi contoh perempuan sadar yang ingin memilih, yaitu memilih memperjuangkan nilai daripada mempertahankan hubungan yang tidak bemakna. Sebagai seorang yang tersadarkan, tentu ia tak melihat bahwa kekayaan material mampu menjelaskan eksistensi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya selalu berharap tidak terjadi citra buruk bagi perempuan yang memilih keinginannya untuk putus hubungan dengan laki-laki. Bahkan argument mendasar dari ungkapan saya itu adalah: hubungan tidak bias dipaksakan, perempuan, sebagaimana laki-laki, juga harus diberi hak untuk memilih pasangan yang diinginkan—atau memilih untuk tidak berpasangan. Artinya, bahkan kalau toh perempuan melakukan perselingkuhan atau ‘pindah ke lain hati’ (ke laki-laki lain), kita juga jangan melihat sebelah mata. Karena saya yakin bahwa perempuan yang selingkuh biasanya disebabkan oleh suami yang menindas, mengasingkan, mengekang, dan egois—berbeda dengan laki-laki yang tetap saja selingkuh pada saat istrinya mengabdikan diri sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selingkuh?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak riset mutakhir yang menunjukkan bahwa perempuan yang berselingkuh cenderung dimotivasi untuk mencari cinta dan kedekatan, sedangkan laki-laki seringkali hanya karena dorongan seks. Umumnya, perempuan percaya bahwa ketidaksetiaan mereka dibenarkan demi cinta; sedangkan laki-laki cenderung percaya bahwa perselingkuhan mereka dibenarkan jika tidak dilandasi rasa cinta. Perempuan mungkin juga merasakan kesedihan yang mendalam atas perselingkuhannya jika dibandingkan dengan laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Memang ada perkembangan baru di jaman yang terus berubah ini di mana dalam penelitian ditemukan generasi perempuan yang mencari selingkuhan untuk kepuasan seksual dan melakukannya tanpa perasaan bersalah, yang disebut Carol Botwin sebagai para ‘groundbreaker’.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; Tetapi saya kira, hanya sedikit perempuan yang masuk dalam kalangan seperti itu, terutama kaum minoritas dari kalangan elit yang memang secara psikologis mengalami suatu tahap yang berbeda dengan pengalaman perempuan rata-rata. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi diskusi kita adalah tentang di bagian ini adalah adanya kemungkinan bahwa setelah perempuan minta cerai atau lari dari hubungan bukanlah karena ia mencari laki-laki lain. Tetapi karena ia tidak betah terkungkung di dalam rumah bersama suami. Maka ia dalam hal ini kita mengharapkan bahwa sang istri bisa menuntut cerai dan sang suami juga diharapkan mau memenuhi tuntutannya. Dan pada kenyataannya situasi atau peristiwa semacam itu tidak jarang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami yang&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqQ0xA7FdI/AAAAAAAAA60/DfWvZLkO-NM/s1600-h/nawal.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299207147739616722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 110px; CURSOR: hand; HEIGHT: 110px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqQ0xA7FdI/AAAAAAAAA60/DfWvZLkO-NM/s400/nawal.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; memenuhi tuntutan semacam itu biasanya juga mengajukan syarat-syarat, misalnya dengan ungkapan seperti ini: “&lt;em&gt;OK, aku penuhi tuntutanmu! Aku mau cerai tetapi anak kita ikut kamu dan urusan perkembangan dan biaya hidupnya kamu yang menanggung. Aku lepas dari seluruh tanggung jawab&lt;/em&gt;!”&lt;br /&gt;Maka si perempuan pun menjadi orangtua tunggal dari anak yang lahir dari pernikahannya dengan mantan suaminya, suami yang telah ditinggalkannya. Ia selamat dari pernikahan dengan laki-laki yang tidak diinginkan, tetapi ia memiliki tanggungjawab merawat anak yang lahir dari rahimnya.***&lt;br /&gt;_______________&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; Nawal El Sadawi. “Pergolakan Pemikiran dan Politik Perempuan (Esai-Esai Nawal El Sadaawi). Jakarta: Kalyanamitra, 2004&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; Lihat Marisa Rueda, Marta Rodriguez, Susan Allice Watkins. Feminisme untuk Pemula. Yogyakarta: Resist Book, 2007, hal. 88-91&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; Shirley P. Glass dan Thomas L. Wright. Clinical Implications of Research on Extra-Marital Involvement: In the Treatment of Sexual Problem in Indivudual and Couple Therapy. New York: PMA, 1988, hal. 318&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt; Lihat Carol Botwin. Tempted Women: The Passions, Perils, and Agonies of Female Infidelity. New York: William Morrow, 1994&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-4980009179724009243?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/4980009179724009243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=4980009179724009243' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4980009179724009243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4980009179724009243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/02/dari-naskah-bukuku.html' title='Dari Naskah Bukuku:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYqRisuFXKI/AAAAAAAAA7E/kX3cr3eM1bw/s72-c/nawal+kekerasan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-4628872547482940510</id><published>2009-01-30T21:25:00.001-08:00</published><updated>2009-01-30T21:41:14.976-08:00</updated><title type='text'>REFLEKSI BUDAYA, FILSAFAT:</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:red;"  lang="NL"&gt;(Hanya) Menjual &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:red;"  lang="NL"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Kecantikan!!!&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="NL"&gt;Oleh Nurani &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 12pt; font-family: georgia;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="EN-GB" &gt;“Aku baru bangun tidur. Tadi mimpi meludahi muka Julia Perex, Dewi Bersisik, Dewi Tersandra, Asmirondho,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Titi Kumal, Naysila Murtad, Maiyat Estianti, Marsandal, Mulan Jamahlah, dan Agnes Mounikah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 12pt; font-family: georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="EN-GB"&gt;(Sms dari Teman saya, Bejo)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 12pt; font-family: georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 12pt; font-family: georgia;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="EN-GB" &gt;“Wanita anggun jarang membuat sejarah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 12pt; font-family: georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="EN-GB"&gt;(Anita Borg)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 12pt; font-family: georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 12pt; font-family: georgia;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;“Cantik Itu Luka”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 12pt; font-family: georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="NL"&gt;(Eka Kurniawan, Sastrawan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;Esai ini bukan hanya riak-riak kecil dari bukuku yang akan terbit, “&lt;i style=""&gt;BEHIND THE SCENES&lt;/i&gt;” (Jakarta—Prestasi Pu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;staka, 2009), kisah tentang posisi selebritis dalam kapitalisme hiburan—(sebenarnya) juga dalam pertarungan kelas antara rakyat yang dimiskinkan dengan selebritis yang semakin pamer kemewahan dalam tatanan kapitalisme yang kian timpang!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPjxFua7uI/AAAAAAAAA6s/EQYgtmtyHFs/s1600-h/dewi+cinta+laura.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 104px; height: 149px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPjxFua7uI/AAAAAAAAA6s/EQYgtmtyHFs/s400/dewi+cinta+laura.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297328019207810786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="EN-GB" &gt;Esai ini hanyala&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="EN-GB" &gt;h ungkapan sentimentil. Barangkali! Intinya, kita dituntut untuk berpikir secara filsafati untuk melihat berbagai ekspresi budaya dan mencari makna dari dialektika material yang sebenarnya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="EN-GB"&gt;Julia &lt;i style=""&gt;Perex&lt;/i&gt; dan Dewi Bersisik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="EN-GB" &gt;Seperti te&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="EN-GB" &gt;manku Bejo, terus terang aku juga semakin muak dengan sederetan artis seperti Julia Perex, Dewi Bersisik, Luya Mana, Cinta Lora, dll, yang hanya mirip boneka bodoh yang menjual kecentilan. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;Maafkan aku dengan perasaan ini! Bagi kamu &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;yang gak sependapat denganku, tidak apa-apa tak sepakat. Tapi aku punya pendapatku sendiri tentang nilai dan ukuran... ukuran tentang peran dan posisi seseorang yang hidup dalam pergulatan hidup di era kapitalisme ini. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;Aku terpaksa menilai mereka. Ya... karena mereka yang tiap hari ‘nongol’ di depan kita, berusaha menularkan nilai mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;Jadi sebut &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;saja tulisan ini adalah perang nilai dan perang ideologi. Perang antara tulisan-tulisanku yang mendeligitimasi peran para enterteiner yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;parasit dalam budaya borjuis-kapitalis, dengan mereka yang ingin menanamkan ideologi kapitalis melalui nilai-nilai secara terus-menerus. Media mereka TV, majalah gaul, cabul, dan yang agak cabul...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;Nilai yang akan kudiskusikan adalah soal NILAI KECANTIKAN!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="NL"&gt;Model=Domba Tolol&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;Dewasa ini, keca&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;ntikan adalah nilai yang paling dipuja. Kontes kecantikan adalah salah satu con&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  &gt;toh menyesatkan. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  &gt;Kontes ini membuat perempuan berpikir bahwa hal terpenting&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang harus dikejar dala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPi5yrJ_uI/AAAAAAAAA6c/xpsfXmTuwtQ/s1600-h/dewi+persik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 84px; height: 127px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPi5yrJ_uI/AAAAAAAAA6c/xpsfXmTuwtQ/s400/dewi+persik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297327069201039074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  &gt;m hidup adalah menguasai tips kecantikan dan keahlian mencari jodoh. Lalu mereka menawarkan hadiah berupa beasiswa yang justru membuat keadaan sangat ironis karena para lelaki penonton acara kontes kecantikan itu rata-rata adalah penyuka perempuan yang bodoh. Menurut &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;seorang pengamat relasi laki-laki-perempuan di Amerika,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  &gt;Serry Argov, kalau kita kritis sebenarnya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kita akan perhatikan bahwa:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: 3pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12pt; text-align: center; text-indent: 3pt; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="NL"&gt;“&lt;i style=""&gt;kontes k&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="NL"&gt;&lt;i style=""&gt;ecantikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu mirip banget sama pameran hewan ternak. Para peternak itu memamerkan sapi-sapi mereka dengan cara yang sama dengan para kontestan kecantikan. Mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menggiring sapi…juara mereka ke tengah panggung di depan penonton dan para juri, dan mungkin bahkan meme&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="NL"&gt;&lt;i style=""&gt;rintahkan sapi mereka beraksi sedikit di tengah panggung menunjukkan kebolehannya. Lalu, sapi-sapi yang menang akan diberi pita satin dengan nama gelar yang diperoleh berikut tahunnya&lt;/i&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="NL" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Banyak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang t&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;entunya sepakat bahwa kemunduran perempuan salah satunya adalah karena kapitali&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;sme-komersialisme yang membentuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cara berpikir kaum perempuan bahwa mereka hanya dapat menyandarkan eksistensi dirinya pada penampilan fisik. Sherry Argov melontarkan nasehat pada kaum perempuan ketika mereka ingin mendapatkan calon suami yang sejati:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12pt; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12pt; text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i style=""&gt;Ketika laki-laki melihat kamu memakai pakaian yang terbuka, biasan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;i style=""&gt;ya ia [laki-laki] akan berasumsi bahwa kamu nggak punya hal lain yang menarik dalam diri kamu... Ketika dia [laki-laki] melihat kamu berpakaian sangat minim, dia nggak akana mengingat betapa rendahnya tubuh kamu yang telanjang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;i style=""&gt; itu. Tapi dia akan segera berpikir tentang berapa banyak laki-laki yang pernah berhubungan sama kamu&lt;/i&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Dalam hubungan kapitalistik, kepercayaan antara satu manusia satu dengan lainnya, termasuk antara laki-laki dan perempuan, semakin luntur karena kebanyakan orang frustasi akibat penind&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPjV7kUOMI/AAAAAAAAA6k/nxb-7ONjb2Q/s1600-h/dewi_-_.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 85px; height: 179px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPjV7kUOMI/AAAAAAAAA6k/nxb-7ONjb2Q/s400/dewi_-_.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297327552624605378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;asan dan tekanan hidup hingga mereka semakin diracuni oleh pikiran bahwa satu-satunya hal yang dapat mewakili mereka dalam interaksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanyalah modal dan ‘sesuatu’ yang dapat ditaw&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;arkan sebagaimana halnya transaksi dalam pasar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Ketika bertem&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;u dengan perempuan bodoh yang hanya mengandalkan penampilan fisiknya, seorang laki-laki yang kaya mungkin akan berpikir: “Alah, apa arti kecantikanmu... dengan mudah aku dapat membelinya”—dengan membungkusnya dengan basa-basi perkawinan sang laki-laki pun bisa memiliki dan menguasai si perempuan cantik (bisa jadi perempuan ‘baik-baik’) di dalam rumah. Si perempuan sejak awal memang merasa mampu mendapatkan perlindungan dan keamanan finansial ketika mereka bisa menarik hati pria kaya. Pria kaya dan punya pengalaman kebebasan yang lumayan, mungkin sudah dapat menakhlukkan para perempuan lainnya tanpa harus menikah, dan dia tentu butuh seorang istri yang bisa diandalkan dirumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Sementara itu,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt; tak sedikit kaum perempuan yang memang mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan pria kaya dengan cara memelihara dan meningkatkan modal kecantikan fisiknya. Tak sedikit di antara mereka yang juga sadar bahwa mereka tak melibatkan perasaan cinta saat menikah, tetapi memang semata-mata mencari keamanan finansial dan menjadi ‘&lt;i style=""&gt;social climber&lt;/i&gt;’—pere&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;mpuan yang ingin naik kelas dengan bermodalkan kecantikan tubuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Perempuan harus mempersiapkan kemampuan seolah ia ingin memiliki kapasitas yang dibutuhkan pria yang memang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membutuhkan kepuasan seksual ketika berhubungan dengan perempuan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seringkali perempuan dikasihtahu oleh majalah-majalah dan media bahwa untuk memenangkan hat&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;i laki-laki adalah lewat seks. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jual Keliaran, Seperti (Julia) Pereks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Bacalah majalah-majalah atau buku-buku, misalnya artikel yang berjudul “&lt;i style=""&gt;100 Tips Seks yang Akan Membuatnya Liar&lt;/i&gt;”. Kebanyakan tulisan semacam itu sangatlah tolol dan benar-benar membuat perempuan tolol setelah membacanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Para penulis artikel kacangan itu akan memberikan anjuran, misalnya:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perempuan bisa membuat hubungan seks yang penuh petualangan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt; yang membuatnya memberi kesan pada laki-laki sebagai ahli di ranjang. Contoh nasehat detail terhadap perempuan dari artikel semacam itu misalnya: Kamu selalu muncul dengan ‘lingerie’ yang bisa dimakan, goyangan seksual yang spektakuler, barang-barang berbahan lateks, akrobat di ranjang dengan borgol bulu-bulu, dan kamu juga bisa memasang lampu bola di&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;sko disamping ranjang agar kegiatan seksual romantis. Terus kamu mengikat tangan laki-laki, menyumpal mulut mereka dengan &lt;i style=""&gt;stocking&lt;/i&gt;-mu agar gairah seksual liar, dan memberi suara-suara atau lenguhan yang seksi seperti—misalnya—anjing menggonggong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Hanya perempuan yang menyadari bahwa seks dan kecantikan bukanlah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;satu-satunya modal, yang akan menyadari potensi lain dari keberadaannya. Potensi itu adalah seluruh tubuhnya, terutama pikiran maju dan penuh wawasan yang akan mengendalikan tindakannya untuk menunjukkan bahwa dirinya bisa lepas dari kebiasaan-kebiasaan baru. Perempuan semacam ini sadar bahwa dia juga harus mendapatkan ruang yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lapang untuk terus belajar dan berperan dalam masyarakanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Hidupn&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPhjoXvlLI/AAAAAAAAA6M/w5CwMnNYN4M/s1600-h/dewi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 107px; height: 136px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPhjoXvlLI/AAAAAAAAA6M/w5CwMnNYN4M/s400/dewi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297325588966511794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;ya buka&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;n hanya untuk mengurusi dirinya sendiri, misalnya hanya sibuk merekayasa penampilan agar banyak orang lain yang kagum terhadap dirinya hanya karena ia menonjol di bidang itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kita seringkali menjumpai perempuan yang bergelimang popularitas seperti&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;perempuan artis-selebritis yang dikagumi banyak orang dan mendapatkan kepuasan individual dalam kehidupan hari-harinya, bahakn selalu mampu memenuhi kebutuhan individualnya dengan mudah dan hidup mewah. Kita bisa mengatakan bahwa perempuan semacam itu memiliki posisi di ruang publik karena ketenarannya, tetapi kebanyakan perempuan semacam itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sesungguhnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sama sekali&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tak dapat diandalkan dalam urusan publik yang serius, dengan kemampuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;day&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;a pikirnya yang terbatas dan dangkal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Lihatlah, tiap hari kita disuguhi lontaran-lontaran gampangan, dangkal, dan kacangan dari para perempuan penghibur semacam itu di acara infoteinmen (gosip) yang ditayangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hampir setiap jam. Bahkan kalau mau jujur ungkapan-ungkapan mereka juga ikut mempelopori kemunduran cara pandang dan kesadaran kaum perempuan di maasyarakat—karena bagaimanapun mereka adalah tokoh publik. Apa yang diberikan bagi kesadaran perempuan untuk lepas dari penindasan dari mulut selebritis seperti Julia Perez, Dewi Persik, Agnes Monica, Cinta Laura dan lain-lainnya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hubungan Palsu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Oh, &lt;i style=""&gt;kayaknya&lt;/i&gt; saya terlalu menggambarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perempuan-perempuan murahan yang berusaha direproduksi kapitalisme. Laki-laki yang membangun hubungan secara serius dengan perempuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memang tak suka ketika seorang perempuan bersikap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terlalu artifisial, laki-laki bahkan resah dan kawatir tentang siapa dirinya sebenarnya dan apa motivasi serta tujuan perempuan itu. Biasanya, laki-laki akan berpikir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa semua yang dikenakan perempuan itu adalah untuk menjebaknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Tentu kita juga &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;akan mengatakan bahwa laki-laki yang hanya memanfaatkan kelemahan perempuan adalah laki-laki yang tidak memiliki nilai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dipegang dalam membangun hubungan. Karena dia hanya main-main, karena tak percaya pada nilai. Atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tak berusaha memperjuangkannya. Laki-laki kaya juga akan cenderung mewakili hubungannya dengan kekayaannya, artinya di situlah dia telah memanipulasi dirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Kepemilikanlah yang menjadi wakil dari eksistensi dirinya. Ketika kualitasnya jelek, ia mengandalkan materi dan kepemilikannya untuk menarik orang lain agar mau berhubungan dengannya, terutama perempuan-perempuan yang begitu mudah tergoda dengan mater—pere&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;mpuan-perempuan parasit yang tidak mandiri dan hanya mengandalkan perlindungan laki-laki dan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Kecantikan yang dijual adalah seba-sebab retaknya hubungan rumahtangga. Suami-suami tanpa sepengetahuan istri, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, sangat tertarik dengan perempuan-perempuan yang lebih muda. Dan cara pandang laki-laki semacam itu tampaknya dipenuhi oleh kebutuhan pasar: dari acara yang paling ‘gaul’ hingga yang paling ilmiah sepert&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPh7VbTMJI/AAAAAAAAA6U/1BsLOSWER5Q/s1600-h/dewi+beauty+myth.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 104px; height: 139px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPh7VbTMJI/AAAAAAAAA6U/1BsLOSWER5Q/s400/dewi+beauty+myth.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297325996198015122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;i s&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;eminar seakan harus menyediakan perempuan muda yang cantik dan seksi. Yang menginginkan bukan perempuan, tetapi jelas untuk memenuhi kebutuhan laki-laki yang ingin sekedar ‘cuci mata’ hingga mengajak perempuan-perempuan SPG&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mau diajak kencan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Inilah masyarakat yang tidak adil dan bias gender. Kebutuhan laki-laki untuk selingkuh dan serong—baik dengan perempuan pelacur kelas bawah maupun kelas atas—difasilitasi. Untuk perempuan tidak difasilitasi, karena hanya laki-lakilah yang seakan wajar jika &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“berzina”—sementara perempuan yang ingin cerai karena memang tidak betah dengan hubungan ya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;ng menindas dan tak berkualitas dalam pernikahannya, ia tak boleh cerai tanpa persetujuan si suami. Dan ketika se perempuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketahuan lebih memilih laki-laki lain yang memang dicint&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;ainya, maka ia disebut perempuan “gatal” atau tidak pantas melakukan hal itu. Seakan mendua bagi laki-laki dianggap wajar, sementara perempuan yang tak pernah mendua dan lebih memilih dianggap terkutuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Kebutuhan laki-laki untuk selingkuh dengan kilat dapat difasilitasi di hotel-hotel, massage/panti&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt; pijat, bar-bar, night club, barber shop, salon-salon, billiard center, dan lokasi-likasi lain. Langganannya adalah pria&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan bukan wanita. Hotel-hotel juga memfasilitasi laki-laki yang selingkuh dengan perempuan non-pelacur dengan tidak menanyakan surat nikah ketika sepasang laki-laki perempuan check-in. Dan memang kebanyakan bisnis hotel memang mengandalkan pa&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;da konsumen yang berupa pasangan tidak sah menurut agama ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 12pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:130%;"&gt;Maka dar&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:130%;"&gt;i kisah di atas saya sebenarnya ingin menegaskan tesis yang tak terbantahkan bahwa lebih banyak laki-laki yang curang, serong, dan selingkuh daripada perempuan. Kenapa? Karena kondisi masyarakat yang bias-gender memfasilitasi dan mendukung laki-laki untuk serong, baik dari sudut pandang agama (poligami) maupun budaya, hingga dilihat dari aspek sosio-ekonomi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" lang="IN" &gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 14.2pt; line-height: normal; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: georgia;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="font-family: georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;   &lt;hr style="height: 4px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sherry Argov. &lt;i style=""&gt;Why Men Marry Bitches?: Panduan Bagi Perempuan untuk Memenangkan Hati Pria&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, GagasMedia, 2008, hal. 11-12&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sherry Argov. &lt;i style=""&gt;Why Men Mar&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;ry Bitches?: Panduan Bagi Perempuan untuk Memenangkan Hati Pria&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, GagasMedia, 2008, hal. 20-24&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-4628872547482940510?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/4628872547482940510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=4628872547482940510' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4628872547482940510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4628872547482940510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/01/refleksi-budaya-filsafat.html' title='REFLEKSI BUDAYA, FILSAFAT:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SYPjxFua7uI/AAAAAAAAA6s/EQYgtmtyHFs/s72-c/dewi+cinta+laura.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-548675449771007439</id><published>2009-01-24T21:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T21:39:48.547-08:00</updated><title type='text'>Resensi Buku "PENDIDIKAN MARXIS-SOSIALIS":</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Menggagas Pendidikan ala Marx&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Seputar Indonesia&lt;/em&gt;/Minggu 25 Januari 2009&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMA ini,Karl Marx lebih dikenal sebagai pemikir ekonomi- politik dari pada pemikir pendidikan. Buktinya,sampai saat ini, jarang dijumpai diskursus yang menyandingkan Marx dengan dunia pendidikan. Padahal, sebagaimana diungkap dalam buku Metode Pendidikan Marxis- Sosialis ini, Marx bukan hanya pemikir ekonomi-politik, tapi juga seorang pemi&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SXv57O3SgDI/AAAAAAAAA5w/Kj05Gx3jGtU/s1600-h/sekolah.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295100582901743666" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 95px; CURSOR: hand; HEIGHT: 135px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SXv57O3SgDI/AAAAAAAAA5w/Kj05Gx3jGtU/s400/sekolah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;kir pendidikan terkemuka.Bahkan,menurut Nurani Soyomukti, penulis buku ini,Marx adalah pelopor dan peletak dasar teori pendidikan kritis dan pembebasan, bukan Paulo Freire sebagaimana diyakini banyak kalangan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pendidikan, Marx menyingkapkan bahwa basis dari gerak sejarah sistem pendidikan dunia ditentukan oleh kapital (ekonomi). Teori ini disebut dengan determinisme ekonomi. Tampaknya,ramalan Marx itu benar, khususnya di Indonesia. Buktinya, regulasi kebijakan pendidikan pemerintah, dalam hal ini Undang- Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP), tidak lain me-rupakan penjelmaan perselingkuhan antara dunia pendidikan dengan kepentingan kapital.&lt;br /&gt;UU BHP membuka akses bagi praktek kapitalisme di bidang pendidikan. Lembaga pendidikan saat ini tidak lagi menjadi media transformasi nilai dan instrumen memanusiakan manusia, melainkan menjadi lahan basah bagi para pengelola pendidikan untuk mengeruk keuntungan finansial. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Status birokrat kampus -Rektor dan para stafnya- tidak ubahnya investor yang hanya memikirkan bagaimana kampus bias mendapatkan laba sebesarbesarnya dari peserta didik. Institusi pendidikan saat ini tidak jauh beda dengan pasar. Bedanya,kalau pasar menjual bahan sembako domestik dan kebutuhan rumah tangga yang lain, maka perguruan tinggi menjual jasa pendidikan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari tenaga pengajar (dosen), mata kuliah (SKS), sampai fasilitas-fasilitas kampus yang seper canggih.Dalam kondisi seperti ini, lembaga pendidikan layaknya korporasi yang hanya memikirkan profit. Tidak heran,kalau makin hari biaya lembagapendidikankian melonjak.&lt;br /&gt;Di era modern, mustahil menemukan biaya pendidikan yang bisa dijangkau orang menengah ke bawah. Semakin canggih dan lengkap fasilitas kampus, semakin besar uang yang mesti dikeluarkan peserta didik. Secara historis, bibit kapitalisme dan pragmatisme pendidikan di Indonesia sudah menyeruak pada zaman Soeharto. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, yang menjadi panglima adalah pembangunan.Pertumbuhan ekonomi pada rezim Orde Baru dikejar habis-habisan tanpa memedulikan aspek kemanusiaan. Tak pelak, lembaga pendidikan sebagai media memanusiakan manusia dan penjaga gawang terakhir atas munculnya kaum-kaum terdidik dan bermoral terpasung. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Munculnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), baik yang berkonsentrasi di dunia mesin, listrik, arsitektur, administrasi perkantoran,akuntansi, kesekretariatan maupun berbagai bidang lain,merupakan pemenuhan atas nafsu kapitalisme. Kehadiran SMK diharapkan meluluskan peserta didik yang siap pakai dan sesuai dengan kebutuhan praktis di bidang kerja infrastruktur pembangunan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sekolah kejuruan menjadi idaman dan pilihan para orangtua yang ingin yang ingin melihat anaknya cepat mendapat kerja. Penekanan keterampilan teknis seperti ini menyebabkan pendidikan terjer&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SXv6PigsRoI/AAAAAAAAA54/graiQn33-SI/s1600-h/sekolahh.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295100931773056642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 127px; CURSOR: hand; HEIGHT: 87px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SXv6PigsRoI/AAAAAAAAA54/graiQn33-SI/s400/sekolahh.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;umus dalam pragmatisme. Pragmatisme pendidikan adalah malapetaka besar bagi masa depan kemanusiaan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebab, pragmatisme pendidikan akan melahirkan manusiamanusia yang tidak peka terhadapbobroknya realitaskebangsaan. Pragmatisme pendidikan hanya mencetak generasi yang ingin cepat mendapatkan gelar sarjanadanmemperolehprofesi yang bergengsi. Buku ini berusaha menggagas dan menjabarkan metode pendidikan berbasis Marxis- Sosialis yang menjadi counterpart atas pendidikan kapitalisme yang selama ini menjadi ideologi sistem pendidikan internasional. Ideologi pendidikan yang digagas Marx adalah bentuk gugatan atas merasuknya budaya kapitalisme dan pragmatisme dalam tubuh pendidikan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendidikan berbasis Marxis-Sosialis, tujuan (ideologi) pendidikan adalah membangun karakter (character building) manusia yang tercerahkan; suatu kondisi mental yang dibutuhkan untuk membangun suatu masyarakat yang berkarakter progresif, egaliter, demokratis, berkeadilan dan berpihak terhadap kaum-kaum tertindas (the oppressed).&lt;br /&gt;Menurut Marx,pendidikan bukan lahan basah untuk merenggut keuntungan, melainkan sebagai instrumen membebaskan manusia dari belenggu dehumanisasi serta menempatkan manusia dalam esensi dan martabat kemanusiaannya yang sejati. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Marx mengidealkan terciptanya pendidikan kritis (critical pedagogy), pendidikan radikal(radical education) dan pendidikan revolusioner (revolutionary education) yang pada gilirannya mampumencetakmanusia yang betul-betul mau memperjuangkan kaum-kaum miskin. Pendidikan yan&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SXv6ZRHO3wI/AAAAAAAAA6A/ouEv6mHrofE/s1600-h/sekolahhhhh.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295101098901561090" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 124px; CURSOR: hand; HEIGHT: 93px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SXv6ZRHO3wI/AAAAAAAAA6A/ouEv6mHrofE/s400/sekolahhhhh.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;g terjebak pada pragmatisme untuk kepentingan kapitalisme merupakan eksploitasi atas esensi terbentuknya lembaga pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bagi Marx, pendidikan bertujuan menciptakan kesadaran kritis,bukan pengetahuan dan keterampilan teknis yang mendukung proyek kapitalisme. Apa yang diidealkan Marx itu sangat kontras dengan karakter objektif para pelajar bangsa ini.Tidak bisa dibantah, 75 % orientasi pelajar menuntut ilmu adalah untuk mendapatkan kerja bergengsi (profesi),menjadi tokoh populer, menjadi orang kaya, dan untuk mengangkat status sosialnya. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Oleh Abdul Khalid Boyan, Peneliti pada Center for Social and Democracy &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Studies (CSDS) Jakarta&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;--------------------------------------&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-548675449771007439?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/548675449771007439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=548675449771007439' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/548675449771007439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/548675449771007439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/01/resensi-buku-pendidikan-marxis-sosialis.html' title='Resensi Buku &quot;PENDIDIKAN MARXIS-SOSIALIS&quot;:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SXv57O3SgDI/AAAAAAAAA5w/Kj05Gx3jGtU/s72-c/sekolah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-7858123950599349326</id><published>2009-01-18T22:00:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T22:08:29.216-08:00</updated><title type='text'>Resensi Buku Nurani Soyomukti di KORAN PAK OLES, 16 Januari 2009:</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;a style="font-family: times new roman;" href="http://www.koranpakoles.co.cc/2009/01/dehumanisasi-model-pendidikan-kapitalis.html"&gt;Dehumanisasi Model Pendidikan Kapitalis&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Judul: Metode Pendidikan Marxis Sosialis: Antara Teori dan Praktik&lt;/em&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penulis: Nurani Soyomukti&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penerbit: Ar-Ruzz Media, &lt;/em&gt;&lt;/i&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;em&gt;Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cetakan: Pertama, Desember 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tebal: 316 Halaman&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Peresensi: Khoridatul Anisah*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pendidikan, umumnya dipahami sebagai kegiatan mulia yang selalu mengandung kebajikan dan berwatak netral atau bebas nilai. Pandangan ini masih dominan hingga saat ini meskipun tiga dasawarsa yang lalu telah dibongkar oleh Paulo Freire dan Ivan Tillich. Keduanya memandang bahwa penindasan dan selubung nilai yang halus senantiasa berusaha ditanamkan dalam kesadaran semua yang terlibat dalam aktivitas pendidikan. Pendidikan bukan merupakan konsep yang bebas nilai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Nilai-nilai ini sangat dipengaruhi oleh keyakinan, ideologi, dan kepentingan dari pemangku kepentingan pendidikan tersebut. Pendidikan ibarat perahu kecil yang terjepit di antara dua karang besar yakni, a&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;pakah pendidikan akan memberikan dan mengukuhkan dominasi atas selubung dan ilusi penindasan tersebut, ataukah pendidikan menjadi sarana pembebasan atas dominasi dan penindasan yang telah mapan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Nurani Soyomukti berusaha untuk melanjutkan tradisi kritik atas dominasi dan penindasan model pendidikan kapitalis yang telah mapan. Sebelum membongkar borok model pendidikan kapitalis, penulis menancapkan dasar berpikir yang sangat dipengaruhi oleh teori-teori Karl Marx seperti filsafat materialisme dialektika dan konsep-konsep ekonomi Marxis. Laiknya pengikut tradisi Marxis yang setia, penulis menempatkan ekonomi sebagai faktor determinan yang berfungsi menjadi basis penyangga, dan pendidikan sebagai bangunan atas atau supra struktur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Corak produksi masyarakat yang kapitalis, menentukan bangunan pendidikan di atasnya akan seperti apa. Pendidikan berfungsi untuk melayani dan menstabilkan corak produksi tersebut. Secara sukarela dan tanpa sadar banyak dari kita yang menjadi pelayan bagi kepentingan kapitalis yang masuk lewat penidikan. Ketundukan sukarela untuk melayani kepentingan kapital inilah yang oleh Gramsci diistilahkan sebagai hegemoni.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Termanifestasi dalam pendidikan, hegemoni mengambil bentuk melalui kurikulum sebagai media yang sangat penting untuk mereproduksi cara pandang yang sesuai dengan kapitalisme. Semua sekolah kapitalis memiliki “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum) untuk tujuan memaksakan ideologi kapitalis masuk kelas. Kurikulum tersembunyi di sekolah merujuk pada norma-norma, nilai-&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;nilai, dan sikap di bawah sadar yang seringkali ditransmisikan secara halus lewat relasi-relasi sosial di sekolah dan kelas. Dengan menekankan pada aturan konformitas, pasifitas, dan ketertundukan, hidden curriculum menjadi salah satu media sosialisasi yang kuat dan dapat berguna untuk memproduksi model-model pribadi yang siap menerima hubungan sosial dan sruktur kekuasaan yang sedang bekerja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Kurikulum menentukan pelajaran apa yang harus diberikan pada murid dan apa yang harus diajarkan guru. Hal itu juga akan menentukan apa yang dimasukkan pada pikiran anak didik dan guru, akhirnya juga pengetahuan apa dan macam apa (di mana keberpihakannya) yang harus diajarkan di sekolah. Kurikulum dalam pengertian modern dipahami sebagai himpunan pengalaman peserta didik yang menjadi objek pembahasan dan praktek belajar mengajar. Subjek materi dan proses belajar mengajar dalam kurikulum seharusnya bersumber dari dari realitas konkrit keseharian peserta didik sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Kurikulum tersembunyi bukan satu-satunya pangkal dehumanisasi model pendidikan kapitalis. Komersialisasi pendidikan yang bermuara pada elitisme pendidikan juga menjadi biang keladi bahwa pendidikan telah berubah fungsinya karena tidak lagi mampu melayani kebutuhan dasar nan pokok masayara&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;kat secara luas tanpa diskriminasi dan diakses dengan keluaran biaya yang rendah. Sekolah telah mengimitasi model organisasi perusahaan. Elemen-lemen pendidikan di sekolah tidak jauh berbeda dengan tata kelola perusahaan yang tujuan akhirnya adalah untuk berproduksi.Guru dipersonifikasikan sebagai manajer yang mempunyai otoritas dalam menentukan tujuan dan aktivitas apa yang dilakukan bagi anak didiknya, seperti manajer perusahaan yang mempunyai kewenangan menentukan tujuan produksi buruhnya. Murid yang mirip dengan buruh hanyalah obyek yang tunduk pada majikan. Upah buruh adalah gaji, sedangkan upah murid adalah nilai yang tertera dalam raport. Sama seperti buruh dalam kapitalisme, para murid juga mengalami alienasi dan ketertindasan dari hasil dan proses belajar yang ada (hal. 187).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Seolah tidak ingin terjebak dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;gaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt; koboi yang segera setelah menuntaskan kejahatan meninggalkan locus-nya, dan tidak memberikan alternatif jawaban yang konkrit, penulis tidak hanya saja melancarkan kritik terhadap model pendidikan kapitalis, namun juga menawarkan alternatif jawaban atas kritikannya tersebut. Sosialisme menjadi jawaban atas kritik yang dilancarkannya. Pendidikan sosialisme bertujuan untuk membongkar ilusi-ilusi kemapanan dan selubung penindasan supaya manusia bisa menemuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SXQYT1amacI/AAAAAAAAA5E/uo1w8HiLszA/s1600-h/cover_METODE+PENDIDIKAN+MARXIS-SOSIALIS.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 167px; height: 239px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SXQYT1amacI/AAAAAAAAA5E/uo1w8HiLszA/s400/cover_METODE+PENDIDIKAN+MARXIS-SOSIALIS.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292882191102405058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;an kembali kemanusiaannya yang telah tercerabut akibat proses pendidikan yang tidak humanis. Ini berarti tugas utama pendidikan sosialis adalah melakukan refleksi kritis terhadap ideologi dominan menuju ke arah transformasi sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt; Membangun ruang kesadaran agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur keadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem pendidikan dan sosial yang lebih adil. Dengan lain perkataan, tugas pendidikan adalah “memanusiakan” kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Supaya tidak hanya menjadi angan kosong model ideal yang dicitakan, penulis melengkapi dengan capaian-capaian beberapa model pendidikan di negera-negara yang menganut atau pernah menganut paham sosialis ( hal. 203-240) seperti di Uni Soviet (sekarang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Russia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt; ), Cina , Kuba, dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Venezuela&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;. Sejumlah data-data keberhasilan dan capaian yang cukup signifikan berhasil digapai oleh negara-negara yang menganut model pendidikan sosialis tersebut. Di semua negara-negara tersebut, dari sisi anggaran pendidikan misalnya, mengalami lonjakan yang cukup fantastis. Sebutlah misalnya di Uni Soviet yang mengalami peningkatan anggaran sampai 10 kali lipat sejak rejim Bolshevik berkuasa. Demikian pula dengan capaian sumber daya manusia yang bisa diukur dari kuantitas maupun kualitas keluaran dari model lembaga pendidikan sosialis tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Buku yang disajikan dengan menggunakan paradigma kritis ini, secara jitu berhasil menelanjangi bangunan pendidikan kapitalis yang banyak mengandung ilusi-ilusi di dalamnya. Sebuah karya yang cukup provokatif mengenai pendidikan di tengah praktik pendidikan yang paradoksal di negeri kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;*)Guru pada Madrasah Aliyah Persiapan Negeri Cimahi.&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009&lt;/em&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-7858123950599349326?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/7858123950599349326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=7858123950599349326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7858123950599349326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7858123950599349326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/01/resensi-buku-nurani-soyomukti-di-koran.html' title='Resensi Buku Nurani Soyomukti di KORAN PAK OLES, 16 Januari 2009:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SXQYT1amacI/AAAAAAAAA5E/uo1w8HiLszA/s72-c/cover_METODE+PENDIDIKAN+MARXIS-SOSIALIS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-8891338170573163361</id><published>2009-01-11T19:22:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T19:39:21.737-08:00</updated><title type='text'>OPINI Dimuat di SUARA KARYA (Senin/12 Januari 2009):</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt; &lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="NL"&gt;(Oleh Nurani Soyomukti)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;"  lang="NL"&gt;Anak-Anak, Perang, dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terorisme&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;Serangan Israel ke Jalur Gaza dan wilayah-wilayah lain di Palestina benar-benar menimbulkan dampak kemanusiaan yang luar biasa. Yang paling disayangkan adalah ketika serangan&lt;/span&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu juga memangsa anak-anak yang tak berdosa, yang seharusnya mendapatkan suasana yang damai dan sejahtera bagi perkembangannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;Sekitar 50 persen penduduk Jalur Gaza adalah anak-anak. Dari korban tewas, 220 di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 17 tahun. Ana&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SWq62lE4XFI/AAAAAAAAA4s/8YWlXasi-CI/s1600-h/gaza1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 132px; height: 106px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SWq62lE4XFI/AAAAAAAAA4s/8YWlXasi-CI/s400/gaza1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290246159128353874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;k-anak yang selamat pun akan menghadapi masalah. Mereka terkejut, menangis, untuk sebuah alasan yang tidak mereka tahu karena ada yang berusia di bawah lima tahun. Masalah yang dihadapi anak-an&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;ak akan meningkat karena keluarga mereka terpaksa melarikan diri menghindari serangan dan sebagian rumah mereka telah rata dengan tanah. Pada hal sebelum serangan Israel, sekitar 50.000 anak Palestina sudah kekurangan gizi akibat blokade Israel selama 18 bulan terakhir di Jalur Gaza&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;i style=""&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 08/01/2009).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;Selain itu, jika tuduhan Israel benar bahwa Hamas melibatkan pasukan ‘jihad’ yang terdiri dari anak-anak, kita juga menyayangkan keberadaan anak-anak yang dilibatkan dalam Perang. Masalahnya, di dalam konflik dan perang yang ada hanyalah kebencian dan dendam. Anak-anak Palestina telah lama kehilangan bapak dan ibunya, juga tanahnya, dan mereka telah ditanamkan kebencian yang mendalam pada Israel. tak sedikit anak-anak yang telah didoktrin untuk menjadi pasukan jihad dan rela mati m&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;elakukan peledakan bom bunuh diri demi menunjukkan perlawanannya pada Israel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Fenomena Global&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;Yang seharusnya dipahami oleh kita semua adalah bahwa gejala itu ternyata bukan hanya terjadi di Gaza. Anak-anak di kawasan dunia lainnya juga masih mengalami nasib yang sama akibat kejahatan politik, perang, dan konflik. Di tahun 2008 lalu, misalnya, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Junta militer Myanmar ternyata juga merekrut anak-anak untuk dipaksa menjadi tentara gara-gara junta kehabisan tentara setelah tindakan keras terhadap protes-protes pr&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;o-demokrasi yang terjadi di negeri itu. Anak-anak berusia 10 tahun telah direkrut menjadi barisan tentara. Bahkan konon cara perekrutannya adalah dengan cara membeli anak-anak tersebut dan anak-anak juga ditahan dan dipukuli pada saat melakukan perlawanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;Menurut Badan Pengawas HAM, seorang anak yang direkrut pada usia 11 tahun mengatakan kepada lembaga ini bahwa dia gagal tes fisik rekrutmen karena tinggi badannya hanya 1,3 meter dan beratnya 31 kilogram. Namun perekrutnya menyuap pejabat medis un&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;tuk menjamin dia lolos rekrutmen. Pada 2005, rekrutmen baru diperjual-belikan seharga 25.000 sampai 50.000 kyat, atau kurang dari Rp 180 ribu sampai Rp 360 ribu dan jumlah itu merupakan satu setengah atau lebih dari tiga kali lipat gaji bulanan seorang tentara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;Dalam sejarah kekerasan terhadap anak di berbagai negara, berita itu bukanlah pertama kali. Anak-anak di Amerika Latin pada jaman kediktatoran menjadi korban pembantaian pemerintah militeristik, dan juga direkrut secara paksa dalam wajib militer untuk menghadapi gerilyawan yang berupaya melawan penindasan rejim—seperti terjadi di Ekua&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;dor. Anak-anak di Irak dan Afghanistan   terbunuh oleh bombardir bom Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, bangunan-bangunan sekolah mereka juga hancur, bapak-ibunya juga mati. Yang tersisa di kepala dan hati anak-anak ini adalah dendam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;Merekapun bergabung pada gerombolan gerilyawan anti-Amerika Serikat yang sayangnya  didoktrin dengan pandangan-pandangan teroristik, anti-universalisme, dan sentimen k&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;elompok yang keras. Anak-anak inipun menjadi pasukan bom bunuh diri (seperti di Irak dan Timur Tengah). Dan cara pandang merekapun tertutup dari kebenaran universal, mereka menjadi bagian dari mesin-mesin kekerasan yang ikut meramaikan politik kekerasan global era ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;Berbagai macam &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;kantong-kantong kekerasan dan perang global di beberapa belahan dunia juga menyeret anak-anak kita terlibat dalam doktrinasi kekerasan. Cara &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pandang  menghalalkan kekerasan telah disuntikkan pada benak dan perasaan anak-anak itu. Perang dan imperialism telah menjauhkan anak-anak dari perhatian orangtua atau orang dekat yang dapat mengasihinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;  Seperti di gambarkan dalam film “&lt;i&gt;Blood Diamond&lt;/i&gt;” yang dibintangi oleh Leonardo Decaprio, seorang anak bernama Dia telah terpisahkan dari ayah dan ibunya karena diculik oleh kelompok bersenjata. Dia awalnya adalah seorang anak yang bercita-cita menjadi dokter s&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;ebagaimana diinginkan oleh ayahnya juga. Di kamp para penculik anak ini, bersama anak-anak lainnya, dilatih untuk membunuh dan otaknya didoktrin dengan kekerasan dan kekejaman. Latihan membunuh pertama adalah menembak orang yang masih dalam  keadaan hidup, tanpa diberitahu siapakah orang itu. Seiring dengan perjalanan waktu, Dia pun menjadi remaja yang telah terlatih untuk membunuh dengan doktrin untuk merebut kekuasaan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tugas pertama adalah merebut suatu daerah penambangan  emas di daerah Siera Lion, Afrika. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Gambaran kekejaman orang tua yang mengajari anak-anak untuk membenci dan memusuhi kelompok lain semacam itu adalah racun bagi anak-anak. Bagaimanapun anak-anak adalah milik dunia dan mereka harus tumbuh menjadi sosok yang punya kesadaran universal tentang manusia dan hubungan-hubungannya. Anak-anak harus kita&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;cega&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;h untuk membenci tetapi harus kita ajari untuk mencintai dan terlibat dalam peran yang produktif bagi pembangunan peradaban.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pertama-tama yang harus kita cegah adalah perang dan konflik, serta penyebab dari konflik itu harus kita pahami dan kita atasi bersama. Ki&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h1  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SWq3v6YFL6I/AAAAAAAAA4k/9FqSJUU1ZFI/s1600-h/gaza.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 82px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SWq3v6YFL6I/AAAAAAAAA4k/9FqSJUU1ZFI/s400/gaza.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290242746052063138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ta menyerang penjajahan dan perampasan hak, tetapi kita juga harus mencegah reaksi yang bermakna dendam bagi anak-anak. Setiap tindakan yang merampas hak-hak anak dan melukai anak harus kita kutuk. Dan yang lebih penting kita harus membukakan mata hati anak tentang apa yang sebenarnya terjadi dan tidak boleh hanya dari cara pandang satu pihak yang penuh doktrin untuk mendukung kepentingan yang sempit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;Konflik dan perang di Gaza bukanlah perang agama, itulah yang tetap harus kita ajarkan pada anak-anak. Konflik di sana adalah konflik yang didorong oleh kepentingan ekonomi dan imperialisme. Karenanya anak-anak tidak perlu mati atas nama agama dengan cara melakukan bom bunuh diri hanya atas nama agama dan dendam karena orangtuanya telah dibantai oleh Israel. Tetapi anak-anak harus kita selamatkan pada saat kita semua juga harus bergabung dengan gerakan demokrasi dan HAM untuk mengutuk serangan aanti-HAM yang dilakukan oleh imperialis Israel. Gerakan menyelamatkan anak-anak Gaza harus jadi bagian dari gerakan demokrasi dan HAM.***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 9pt; text-align: left;font-family:georgia;"&gt;-----------------------------------&lt;br /&gt;&lt;span  lang="NL" style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-8891338170573163361?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/8891338170573163361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=8891338170573163361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/8891338170573163361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/8891338170573163361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/01/opini-dimuat-di-suara-karya-senin12.html' title='OPINI Dimuat di SUARA KARYA (Senin/12 Januari 2009):'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SWq62lE4XFI/AAAAAAAAA4s/8YWlXasi-CI/s72-c/gaza1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-5730551792040421654</id><published>2009-01-04T19:59:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T20:18:55.199-08:00</updated><title type='text'>Resensi Buku "INTIMACY", Koran PKO (1 Januari 2009)</title><content type='html'>&lt;strong  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:26;"&gt;Mengatur Ritme Erotika &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;i  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:26;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;pre  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh: Ahmad Zaenurrofik, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peneliti di CSSR (Center  for Social&lt;br /&gt;Science and Religion) Surabaya;&lt;br /&gt;sedang menyusun tesis di  Program Master&lt;br /&gt;Hukum di Universitas Negeri &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jember&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Buku: “INTIMA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;CY: Menjadikan Kebersamaan dalam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;Pacaran, Pernikahan, dan Merawat Anak sebagai &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                           &lt;/span&gt;Surga Kehidupan”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penulis: Nurani Soyomukti&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penerbit: Prestasi Pustaka, Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Cetakan: I, Oktober&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2008&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tebal: xx+128 halaman&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Peresensi: A. Zaenurrofik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"  style="text-indent: 0in; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Sadar atau tidak, manusia adalah makhluk yang erotis. Kita dapat melihat bagaimana yang awalnya yang berasal dari penyatuan itu merasa ingin selalu menyatu lagi, kesepian saat terpisah dan selalu rindu akan kembali. Kebiasaan kita intim dengan seseorang akan membuat kita sepi dan rindu saat terpisah darinya, terpisah seakan membuat kita tercerabut dari (akar) keberadaan kita sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seorang suami selalu ingin kembali saat pergi jauh dari istri, misalnya karena merantau untuk mencari uang guna menghidupi sa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SWGGv0Sh2LI/AAAAAAAAA3k/sFDS8nlnkpk/s1600-h/COVER_INTIMACY.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 188px; height: 277px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SWGGv0Sh2LI/AAAAAAAAA3k/sFDS8nlnkpk/s400/COVER_INTIMACY.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287655593558005938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;ng istri da anak-anaknya. Tentu saja karena ia telah terbiasa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melakukan hubungan intim, menyatukan tubuhnya dengan istrinya, dalam sebuah rumah yang membuat ia nyaman dan menjadi tempat bernaung—seperti burung yang juga selalu kembali ke sarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;Lihatlah betapa perkembangan anak tergantung pada kenyamanan fisikal dan psik&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;ologis (rasa aman dan nyaman) yang didapatkan dari Ibu pada awal-wal perkembangannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keluar dari rahim dan hubungan badan itu dipisahkan setelah daging penghubung itu dipotong, bayi tetap saja mencari-cari tubuh ibu. Pertama-tama untuk menghubungkan fisiknya dengan fisik Ibu adalah dengan cara mencari-cari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;puting susu ibu untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;Dan siapapun ia, laki-laki atau perempuan, sepanjang umurnya instink untuk menyatukan diri ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetap abadi. Inilah yang membuat saya begitu yakin bahwa kita ini adalah makhluk erotis, yang dikuasai instink untuk menyalurkan energy Eros dengan cara menyatukan diri dengan orang lain. Manifestasi Eros adalah pada kehendak untuk menyatukan diri melalui hubungan seksual (bersetubuh) dan yang berujung pada orgasme. Eros adalah instink&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;positif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mendasari rasa solidaritas dan pengalaman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kebersamaan dengan sesame manusia. Kita seakan merasa sakit saat oang lain, terutama orang yang dekat dengan kita, disakiti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;Dasar itulah yang digunakan oleh Nurani Soyomukti untuk menguraikan pandangannya tentang hubungan intim dalam bukunya yang berjudul ”&lt;i style=""&gt;Intimacy&lt;/i&gt;” ini. Nuansa psikoanalisis (psikologi mendalam) ala Freud dan Erich Fromm nampaknya masih mendominasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pandangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penulis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagaimana buku-bukunya yang lain. Misalnya penulis menggunakan teori tentang ’prinsip kesenangan’ dan ’prinsip realitas’ untuk memahami bagaimana dalam banyak hal hilangnya semangat keintiman banyak terjadi akibat sejak kecil manusia terbiasa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk menyangkal kebutuhan-kebutuhannya, serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjauhkan diri dari penyatuan akibat ketertekanan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasarnya. Kemiskinan akibat kapitalisme didakwa sebagai penyebab hilangnya potensi keintiman dan kasih sayang dalam berbagai lembaga sosial, terutama keluarga. Akibat kemiskinan, misalnya, keluarga tercerai berai, istri tidak menghormati suami dan suami juga tertekan lalu melakukan kekerasan, anak-anakpun tak lagi diperhatikan (hlm. 12).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;Nurani berangkat dari berbagai fakta yang kontradiktif di era modern, di mana di jaman di mana keterbukaan sudah terjadi akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;teknologi, fragmentasi sosial masih terjadi bahk&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;an dalam ranah hubungan ’eksklusif’ seperti pacaran dan pernikahan. Dalam pacaran misalnya, dikisahkan dalam buku ini, masih saja ada mahasiswa yang gaya pacarannya—menurut penulis—sangat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;’menjijikkan’. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="color:black;"&gt;Bayangkan, kuliah duduk bareng, pulang bareng, makan bareng, lalu pulang menuju kos (tak jarang yang melakukan aktivitas seksual seperti layaknya suami istri). Baru setelah libido tersalurkan, bosan lalu berpisah dan baru berinteraksi dengan yang lain atau mengurusi urusan seperti main game dan cangkrukan di pinggir jalan. Kuliah seakan hanya sampingan, yang penting adalah bagaimana menghabiskan waktu hanya pacaran dan ngesek. Libidonya hanya untuk tubuh pasangannya dan bukan pada pengetahuan (misteri dunia yang merangsang). Nafsunya tumpul pada gadis cantik yang bernama misteri kehidupan, yang sebenarnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat dijadikan sebagai kekasihnya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="color:black;"&gt;Pada hal, kita tentu paham, interaksi dengan orang yang itu-itu saja (pacar) tidak akan membuat otak kita berkembang—tak akan menambah pengetahuan dan pengalaman kita bertambah. Kemandegan pengetahuan dilembagakan dalam interaksi dua orang yang cuek pada pengetahuan baru gara-gara keduanya hanya sibuk mengurusi hal-hal untuk melampiaskan kebutuhan-kebutuhan sempitnya. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="IT" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="color:black;"&gt;Bayangkan, kedua orang yang tanpa pengetahuan dan wawasan bisa jadi sepakat untuk menikah dan membangun rumahtangga. Maka dapat dipastikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anak-anak dan cucu-cucunya (keturunannya) juga akan mewarisi kebodohan, mengingat sosialisasi pengetahuan itu juga didapat dari keluarga. Keluarga yang berkualitas akan melahirkan generasi yang berkualitas.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IT" style="color:black;"&gt; Itulah yang oleh penulis disebut keintiman yang tidak produktif. Pada hal &lt;/span&gt;&lt;span  lang="IT" style="color:black;"&gt;cinta itu produktif dan bukan destruktif &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(hlm. 28).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;Menguraikan berbagai bentuk keintiman yang hilang dan keintiman yang membodohkan (melenakan), penulis kemudian juga memberikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wawasan serta kiat-kiat dalam menciptakan bentuk keintiman yang humanis dan membuat masing-masing pihak menjadi produktif. Karena syarat-syarat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hilangnya penindasan adalah hilangnya ketergantungan dan munculnya independensi, yang keduanya hanya mungkin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SWGIu24JLgI/AAAAAAAAA3s/fLx8Vwycwug/s1600-h/cover_MANUSIA+TANPA+BATAS.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 137px; height: 245px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SWGIu24JLgI/AAAAAAAAA3s/fLx8Vwycwug/s400/cover_MANUSIA+TANPA+BATAS.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287657776096030210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt; jika masing-masing pihak sama-sama produktif. Produktifitas itulah kata kunci dari hubungan yang sehat dan intim dalam makna yang sebenarnya. Keintiman bukan&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt; suatu hal yang melemahkan dan melenakan, tetapi yang menguatkan. Karena organ tubuh manusia dalam berhubungan intim bukan hanya alat kelamin, tetapi juga suatu organ tubuh yang paling seksi, yaitu: OTAK!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Jadi pada tingkat tertentu, meskipun buku ini tipis, penulis telah berhasil &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;menyuguhkan pandangannya bahwa mencintai itu membutuhkan kecerdasan. Kita akan mampu mencintai selama kita tahu, memahami, dan mengerti. Buku ini membawa kita pada pandangan yang lebih dalam tentang keintiman dan cinta, menolak anggapan awam bahwa “cinta itu buta”. Dan akhirnya mengajak kita untuk mengobati destruksi hubungan sosial dengan memulai dari hubungan yang lingkupnya kecil (pacaran, pernikahan, dan keluarga). Sebelum berkoar-koar untuk merubah tatanan makro sosial, ada baiknya kita memulai keindahan dan hubungan anti-penindasan dalam lingkup kecil kita.[]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;--------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-5730551792040421654?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/5730551792040421654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=5730551792040421654' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5730551792040421654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5730551792040421654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2009/01/resensi-buku-intimacy-koran-pko-1.html' title='Resensi Buku &quot;INTIMACY&quot;, Koran PKO (1 Januari 2009)'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SWGGv0Sh2LI/AAAAAAAAA3k/sFDS8nlnkpk/s72-c/COVER_INTIMACY.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-3556510668384225311</id><published>2008-12-27T23:23:00.001-08:00</published><updated>2009-01-02T20:23:23.014-08:00</updated><title type='text'>METODE PENDIDIKAN MARXIS-SOSIALIS:</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: georgia;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Menggugat Bangunan&lt;br /&gt;Pendidikan Kapitalis&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Jangan Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tidak mengenal prinsip. Apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;—Pramoedya Anantra Toer, Novel ”&lt;em&gt;JEJAK LANGKAH&lt;/em&gt;”, hal. 291—&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah buku berjudul ”&lt;em&gt;Pendidikan Berperspektif Globalisasi&lt;/em&gt;” (Arruzzmedia Yogyakarta—Januari 2008), buku ini merupakan tindak lanjut dari risalah yang saya tulis tentang pendidikan. Ada asumsi ideologis yang berkembang dalam dunia pendidikan kita, ide-ide dan paham lama yang mengendalikan dibuatnya kebijakan dan proses pendidikan. Intervensi ideologi kapitalis dalam dunia pendidikan, misalnya, dapat kita lihat lewat kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum, misalnya, adalah salah satu media yang sangat penting untuk mereproduksi cara pandang yang sesuai dengan kapitalisme. Semua sekolah kapitalis memiliki “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum) untuk tujuan memaksakan ideologi kapitalis masuk kelas—sebagaimana dikatakan Henry Giroux:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Kurikulum tersembunyi di sekolah merujuk pada norma-norma, nilai-nilai, dan sikap di bawah sadar yang seringkali ditransmisikan secara halus lewat relasi-relasi social di sekolah dan kelas. Dengan menekankan pada aturan konformitas, pasifitas,dan ketertundukan, hidden curriculum mnjadi salah satu media sosialisasi yang kuat yang dapat berguna untuk memproduksi model-model pribadi yang siap menerima hubungan social dan sruktur kekuasaan yang sedang bekerja&lt;/em&gt;”.&lt;a title="" style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tak dapat kita sangkal betapa pentingnya kurukulum. Kurikulum adalah yang menentukan pelajaran apa yang harus diberikan pada murid dan apa yang harus diajarkan guru. Hal itu juga akan menentukan apa yang dimasukkan pada pikiran anak didik dan guru, akhirnya juga pengetahuan apa dan macam apa (dimana keberpihakannya) yang harus diajarkan di sekolah. Menurut Paulo Freire dalam bukunya “Education for Critical Consciousness”,&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt; kurikulum dalam pengertian modern dipahami sebagai himpunan pengalaman peserta didik yang menjadi objek pe&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SVcpht3gvoI/AAAAAAAAA3U/YsuGJ3NBLXU/s1600-h/cover_PENDIDIKAN+BERPERSPEKTIF+GLOBALISASI.JPG"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284738346967416450" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 149px; height: 206px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SVcpht3gvoI/AAAAAAAAA3U/YsuGJ3NBLXU/s400/cover_PENDIDIKAN+BERPERSPEKTIF+GLOBALISASI.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;mbahasan dan praktek belajar mengajar. Subjek materi dan proses belajar mengajar dalam kurikulum seharusnya bersumber dari dari realitas konkrit keseharian peserta didik sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum yang baik adalah yang berpusat pada “problematisasi” situasi konkrit. Peserta didik bersama para pendidiknya memaknai berbagai macam persoalan seputar pengalaman hidupnya dan berusaha memecahkan persoalan yang dihadapinya. Sebagai mediator pendidik seharusnya berfungsi meyakinkan akan realitas yang diketahui oleh peserta didiknya, lantas secara bersama menganalisisnya sehingga peserta didik mampu membangun pengetahuannya seiri secara kritis dan berakar dari pengalaman konkrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya hal itu tak terjadi, dan kurikulum semacam iti benar-benar dijauhi oleh penidikan kapitalis. Pada hal kita tahu dari Freire kita mengetahui bahwa yang terjadi dalam masyarakat kapitalis sekarang adalah bahwa kurikulum yang ada “terputus dari kehidupan, berpusat pada kata-kata yang mewakili realitas yang ingin disampaikan, miskin aktivitas konkrit, tidak pernah mengembangkan kesadaran kritis”.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kalau mau kita analisa secara jauh memakai pendekatan kelas Marxian, kurikulum kapitalis secara jelas berspektif kelas. Lebih dari tidak berdasarkan pengalaman konkrit peserta didik, kurikulum dalam sekolah kapitalis telah membaca cara pandang dan cara berpikir berdasarkan kelas penguasa. Para peserta didik, yang berlatarbelakang macam, dipaksa untuk berpikiran satu dimensi atau bahkan dipaksa menjadi kelas kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terbantahkan lagi bahwa remaja-remaja kita yang belajar ilmu ekonomi, dipaksa seolah ia seorang kapitalis (pemilik modal). Saya selalu bercerita tentang pengalaman saya waktu menempuh pelajaran “Ekonomi Kperasi” yang saya dapatkan sejak sekolah di SMP (Sekolah Menengah Pertama). Waktu itu, sebagaimana metode pelajaran mengkondisikan kita untuk menghafal dan bukan untuk mengerti da memahami, maka sebelum ujian harian (“ulangan”—begitu kami dulu menyebutnya) saya harus menghafal doktrin-doktrin ekonomi kapitalis. Saya mendapatkan nilai muthlak (100) dalam suatu “ulangan” yang yang salah satu soalnya adalah “Bagaimanakah prinsip ekonomi?”. Saya harus menjawab, yang sebelumnya harus saya hafalkan berulang-ulangkali mirip merapal mantra: “Dengan modal sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu apakah soal ujian seperti itu masih diajarkan di sekolah-sekolah kita. Tapi kalau menengok semakin nyatanya doktrin kapitalisme dalam praktek-praktek yang dijalankan oleh pemimpin kita, saya merasa apa yang saya hafal sekitar 15 tahun yang lalu lebih menyebar di otak anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan seperti itu tentunya adalah doktrin yang kuat. Bayangkan, seperti saya, tiap anak-harus hafal rumus ekonomi capitalis. Suatu prinsip yang digunakan untuk berhubungan dengan orang lain, ketika anak-anak besar dan dewasa, bahkan ketika banyak anak-anak itu yang kini memegang kebijakan penting Negara/pemerintahan. Buktinya memang para pengambil kebijakan itu benar-benar mempraktekkan prinsip ekonomi yang diajarkan ketika mereka mulai sekolah—belum lagi kotbah-kotbah di luar sekolah. Para pngambil kebijakan etu benar-benar mengutamakan prinsip untuk “mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau modal yang mereka keluarkan untuk menjadi pejabat sangat besar, tentu akan semakin besar pula keuntungan yang ingin didapatkan. Sekarang, untuk menjadi pejabat tingkat rendah (PNS), lulusan perguruan tinggi harus mengeluarkan uang rata-rata 150 juta. Itu dianggap mereka sebagai modal. Yang tentunya diharapkan akan kembali saat menjabat. Dengan berbagai tindakan koruptif dan kolutif, mereka akan mengembalikan modalnya—tu target minimal. Tetapi tentu saja, rata-rata orang akan beharap akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Itu sudah cukup menjelaskan kenapa pendidikan kapitalistik akan menghasilkan produk-produk sekolah yang korup. Bukankah watak korup memang tak mungkin terjadi dengan sendirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan warisan sejarah masyarakat Indonesia. Kolonialisme yang berkelindan dengan penguasa feudal pribumi mewariskan banyak kerusakan, salah satunya mentalitas korup di birokrasi. Feudalisme dan sistem upeti diperkuat oleh masuknya admisnistrasi Belanda yang menyeruak dalam seluruh kehidupan sosial dan politik. Korupsi bisa dianggap nama lain dari upeti, di jaman Orde Baru hingga sekarang namanya diperhalus menjadi hibah. Tentang budaya yang merusak ini tak pernah ada penilaian dan jalan keluar yang serius dari para elit hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi adalah kelanjutan sejarah kaum priyayi yang harus terus menyogok atasannya dan menginjak lapisan bawahnya, menjilat, demi mengamankan posisi dan kemakmurannya, seperti Sastrokassier menyogok Asisten Residen dengan menjual Sanikem (yang kemudian dikenal dengan Nyai Ontosoroh), anaknya sendiri—dalam Novel “Bumi Manusia” karya Pramodya Ananta Toer. Lebih dari soal mentalitas, korupsi berkaitan dengan rendahnya produktivitas bangsa. Korupsi adalah tentang pemimpin, birokrasi, dan rakyat yang (tidak difasilitasi) kapasitasnya untuk semakin produktif, yang nihil semangat untuk menghargai kerja, yang minim etos kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu soal bagaimana mntal pejabat yang dibentu oleh pendidkan. Belum lagi soal cara pandang kelas (kapitalis) yang secara riil dipaksakan dalam detail-detail praktek pendidikan kita. Tesis cara pandang kelas itu akan lebih nyata lagi saat menjadi mahasiswa ilmu ekonomi (administrasi, manajemen, dan akuntansi, dll). Materi-materi yang diajarkan dari buku-buku dan dari kotbah dosen adalah cara berpikir kapitalis. Teorinya adalah teori memacu produktifitas (membuat produk) agar laku dijual dan banyak mendatangkan keuntungan. Manajemen pemasarannya adalah manajemen supaya produk laku dan mncari pasar secara kreatif. Bukankah itu semua adalah tindakan-tindakan yang bertujuan membantu kapitalis untung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saat menuliskan skripsi sebagai tugas akhirpun, juga kembali pada bagaimana supaya mendapatkan keuntungan, misalnya bagaiman agar etos kerja bawahan (buruh atau manajer di bawah kapitalis/pemilik modal) punya etos kerja yang produktif, karena keuntungan akan semakin besar jika banyak produk yang dihasilkan buruh si kapitalis. Dengan meminjam ilmu-ilmu psikologi, mahasiswa manajemen juga dipaksa menuliskan skripsi bagaimana mempengaruhi remaja agar membeli dan membeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aneh di sini adalah, mahasiswa itu belum tentu anak kapitalis. Kebanyakan dari mereka adalah anak pegawai atau pejabat rendahan. Bahkan tidak jarang yang anak petani. Lalu mengapa mereka dipaksa &lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SVcqI3_yzQI/AAAAAAAAA3c/qORz0caNBys/s1600-h/cover_METODE+PENDIDIKAN+MARXIS-SOSIALIS.JPG"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284739019701406978" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 164px; height: 249px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SVcqI3_yzQI/AAAAAAAAA3c/qORz0caNBys/s400/cover_METODE+PENDIDIKAN+MARXIS-SOSIALIS.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;berlaku seakan mereka adalah kapitalis yang tujuan hidupnya, atau yang kuliah-kuliahnya memaksa mereka jadi kapitalis? Tentulah tak terbantahkan bahwa kapitalisme kejam. Yang tidak seharusnya terjadi tetap dipaksakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itulah yang dimaksud Karl Marx dengan dominasi ideologi kelas. Kelas penguasa akan berusaha memaksakan cara pandangnya pada semua anggota masyarakat, terutama agar cara pandangnya diterima kelas yang berbeda. Tentu tujuannya sudah jelas: agar sistem yang dijalankannya bertahan kokoh. Agar ia tetap menjadi penguasa yang hidupnya enak sendiri, dengan mengorbakan mayoritas massa rakyat yang sengsara dan menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu ekonomi kapitalis dan seluruh kurikulum pendidikan telah menjadi bagian dari operasi kapitalisme itu. Operasi ekonomis konkritnya adalah doktrin bahwa membuat produk (produksi) dilakukan untuk mencari keuntungan; bukan produksi untuk dipakai secara bersama (seperti dalam sistem sosialisme). Ajaran mencari keuntungan diajarkan pada tiap-tiap individu, agar menjadi tujuan hidup individu, untuk merongrong kepercayaan bahwa antara manusia satu dan manusia lainnya mampu bekerjasama.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt; Henry Giroux. Pedagogy and the Politics of Hope: Theory, Culture, and Schooling. Boulder, Colo: Westview Press, 1997, hal. 198&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt; Paulo Freire. Education for Critical Consciousness. London: Sheed and Ward, 1979, hal. 28&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt; Ibid., hal. 37&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" &gt;------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-3556510668384225311?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/3556510668384225311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=3556510668384225311' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/3556510668384225311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/3556510668384225311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/12/metode-pendidikan-marxis-sosialis.html' title='METODE PENDIDIKAN MARXIS-SOSIALIS:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SVcpht3gvoI/AAAAAAAAA3U/YsuGJ3NBLXU/s72-c/cover_PENDIDIKAN+BERPERSPEKTIF+GLOBALISASI.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-6326705625262710706</id><published>2008-12-10T20:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T20:58:06.116-08:00</updated><title type='text'>MANUSIA TANPA BATAS</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;em&gt;Heaven knows, no frontiers… and I’ve seen  heaven in your eyes…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;(The Corrs, lirik ‘No Frontiers’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;OLEH Nurani soyomukti&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Puji syukur kepada Tuhan, akhirnya gawe penulisan karya ini terselesaikan. Puji syukur pada kebesaran alam yang telah menyediakan ruang dan waktunya, memberikan udara yang membuat saya masih bisa bernafas, yang menyuguhkan tanaman, hewan, dan berbagai kemajuan teknik bagi saya agar dapat mempertahankan hidup dan mendapatkan kemudahan-kemudahan. Bagian alam yang modern, komputer, labtop (notebook), mesin cetak, alat transportasi, dll memungkinkan karya (buku) ini dapat diproses dan disajikan di hadapan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa yang paling utama tentu saja pada para buruh-tani dan rakyat pekerja yang tanpa kerja mereka buku ini tak dapat tersaji. Dari hutan, ada kayu yang dipotong, diproses dalam industri menjadi kertas; ada mesin yang berjalan, dan ada produk-produk yang memungkinkan karya ini tersaji jadi buku—semua perubahan dari bahan mentah menjadi produk jadi itu tak mungkin terjadi tanpa tangan-tangan, kaki-kaki, dan tenaga para butuh dan tani. Bahkan ide-ide/gagasan, dan dinamika ideologis dan pemikiran yang terdapat dalam otak dan hati saya, tak mungkin  tercipta tanpa kerja mereka. Kehidupan saya, segala perkembangan material  di dunia ini, terjadi karena kerja-kerja buruh. Ada bahan tak akan tercipta produk dan produksi; ada mesin tanpa perlakukan kerja buruh, tak akan berjalan mesin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karya yang berbicara tentang ‘kebebasan’ ini memang saya maksudkan untuk memunculkan filsafat tentang kebebasan yang ada dalam kehidupan. Betapa banyak “kebebasan” diucapkan dan dicita-citakan, tetapi manusia modern justru—entah sadar atau tidak—telah “lari dari kebebasan” (escape from freedom), begitulah Erich Fromm mengatakan yang sekaligus menjadi judul dari karya psikologi-sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan saya dengan teori spikologi-kritis seperti (psikoanalisa) Sigmund  Freud, Erich Fromm bersama analisa sosial Karl Marx telah menjadi landasan teoritis-filosofis dari seluruh karya-karya saya—tak heran pula dalam semua buku-buku saya nama-nama mereka selalu hadir dan kata-katanya selalu saya kutip. Mereka berbicara tentang manusia, membongkar alam bawah sadar dan mendekonstruksi tatanan material di luar diri manusia yang menjadi belenggu kebebasan sebagai patokan hidup manusia. Sungguh “kebebasan” adalah cita-cita manusia-manusia modern. Dan sayangnya kebebasan sejati, kebebasan yang bermakna, atau minimal hilangnya belenggu penindasan, belumlah hadir dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, dalam karya ini, saya memang  tak lagi berbicara para level makro yang mengharuskan saya  berbicara masalah ekonomi-politik pada tingkat negara atau global. Belakangan saya tertarik untuk menyelediki berbagai (sumber) kontradiksi yang terjadi dalam hubungan yang lebih sempit seperti keluarga atau hubungan dalam pernikahan atau pacaran. Tentu saja saya menariknya dari kontradiksi pokok makro-sosial (dan ekonomi-politiknya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya belenggu-belenggu penindasan itu juga terjadi di level yang paling kecil sekalipun, antara dua orang yang pacaran atau membangun hubungan pernikahan, juga dalam keluarga sebagai institusi (lembaga) yang masih mencirikan masyarakat kini.  Di dalam keluarga, dalam pacaran, pernikahan, dalam lembaga pendidikan kebebasan dan kesetaraan telah hilang. Sumber-sumber hilangnya kebebasan dalam lembaga-lembaga dan hubungan-hubungan itulah yang saya uraikan dalam buku berjudul “Manusia Tanpa Batas” ini. Saya juga membuat konsep-konsep dan rekomendasi-rekomendasi bagi mereka yang mendambakan pembangunan hubungan dan lembaga yang tidak menghilangkan makna kebebasan di dalamnya.  Termasuk kiat-kiat ‘kebebasan’ untuk menumbuhkan jiwa-jiwa yang produktif dan kreatif dari keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang lahir dari kekangan-kekangan akan tumbuh menjadi anak-anak yang fasis dan cacat secara psikologis, anak-anak yang tidak ekspresif dan pertumbuhannya juga tak sehat. Artinya, prinsip kebebasan dapat digunakan untuk menumbuhkan mental-spiritual. Ruang kebebasan yang sehat juga akan menumbuhkan pribadi-pribadi yang sehat dan cerdas. Tetapi kebebasan yang tidak sehat dan tidak bermakna hanya akan melahirkan centang-perenang di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, buku ini saya persembahkan untuk mereka yang ingin menjadi manusia bebas, orang-orang yang ingin berperan secara luas dalam masyarakat untuk membangun demokrasi dan kesetaraan di masyarakat; untuk mereka yang ingin terbang mengelilingi bumi hingga perannya lebih luas. Mereka bukanlah orang-orang yang ingin bebas melakukan apa saja terutama kebebasan yang justru merugikan kebebasan orang lain. Kebebasan yang menghasilkan tindakan yang membuat orang lain sengsara bukanlah kebebasan, tapi destruksi. Mereka yang  telah banyak kehilangan waktunya untuk mengejar kepentingan sempit pribadi dan menghabiskan banyak waktu untuk kerja-kerja produktif untuk anak-anak, untuk kekasih, dan yang masih mau mendampingi  rakyat untuk melepaskan diri dari penindasan ekonomi, sosial, politik, dan budaya… para aktifis yang berjuang untuk penyadaran, kesetaraan, keadilan, dan demokrasi—kepada merekalah buku ini saya haturkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada  para suami yang  tidak menghormati istrinya dan memberinya peran yang layak sebagai manusia seperti dirinya (sang suami); kepada seorang istri yang memahami bahwa posisinya adalah untuk anak-anak dan masyarakatnya, yang  merelakan dirinya dalam keadaan sakit melahirkan anak-anak yang diharapkan akan menjadi manusia yang berperan luas di dunia, dan bukan sekedar mencekokinya dengan gelimangan materi dan uang atau kekayaan;  kepada para ibu dan bapak yang telah berniat merawat anak-anak dengan kebebasan yang bermakna; kepada para pecinta (para pasangan) yang  menjalin hubungan (‘pacaran’) bukan hanya untuk ‘gaul-gaulan’ atau untuk memenuhi tujuan-tujuan sempit (seks bebas); kepada dua orang terkasih yang memahami apa makna hidup dan bagaimana harus berperan untuk perubahan—kepada merekalah buku ini saya persembahkan.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;-----------------------------------------------------&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-6326705625262710706?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/6326705625262710706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=6326705625262710706' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/6326705625262710706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/6326705625262710706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/12/manusia-tanpa-batas.html' title='MANUSIA TANPA BATAS'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-6374099822816109849</id><published>2008-12-05T01:18:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T01:25:40.477-08:00</updated><title type='text'>Buku Terbaru NURANI SOYOMUKTI:</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/STjzfD1d1GI/AAAAAAAAAsE/x18xcjx2qtw/s1600-h/cover+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 278px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/STjzfD1d1GI/AAAAAAAAAsE/x18xcjx2qtw/s400/cover+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276234678395589730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-6374099822816109849?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/6374099822816109849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=6374099822816109849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/6374099822816109849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/6374099822816109849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/12/buku-terbaru-nurani-soyomukti.html' title='Buku Terbaru NURANI SOYOMUKTI:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/STjzfD1d1GI/AAAAAAAAAsE/x18xcjx2qtw/s72-c/cover+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-4829682835467349853</id><published>2008-11-23T15:55:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T16:03:34.229-08:00</updated><title type='text'>Parenting:</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Sesat Pikir Merawat Anak ala Kapitalisme&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Nurani Soyomuti, penulis buku “INTIMACY—Menjadikan Kebersamaan dalam Pacaran, Pernikahan, dan Merawat Anak sebagai Surga Keintiman”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua yang gagal mendidik anak biasanya tak memiliki pemahaman terhadap perkembangan masyarakat. Pada hal pemahaman tentang situasi lingkungan dan kehidupan yang sedang kita hidupi sangatlah penting, karena dari sanalah semua ide(ologi) d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSntpi6kCFI/AAAAAAAAArU/c1v_C_IlQ_A/s1600-h/anak.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272006136816732242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 110px; CURSOR: hand; HEIGHT: 130px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSntpi6kCFI/AAAAAAAAArU/c1v_C_IlQ_A/s400/anak.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;ominan menyebar ke masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda yang baru tumbuh. Orangtua yang tak memiliki pemahaman terhadap situasi sosial dan lingkungan biasanya akan mendidik anak berdasarkan petunjuk dan pengetahuan dari kekuatan yang dominan dan yang ingin berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak tahu bahwa mereka adalah perantara antara materi baru (anak) yang lahir dalam kehidupan yang akan menjadikan anak untuk menghadapi kehidupan dan mentransformasikannya dalam mentalitas dan melalui gerakan. Anak- anak adalah barisan dari mereka yang bergerak mengatasi kehidupan yang timpang, dan bukannya semata harus tumbuh sebagaimana kehidupan itu membentuknya. Kehidupan tidak netral, tetapi penuh kekuatan-kekuatan material produktif yang bertarung, dan kekuatan yang mendominasi akan membentuk generasi yang baru tumbuh agar nantinya akan sesuai dengan kekuatan yang dominan itu. Intinya, kekuatan dominan telah berusaha membentuk anak-anak kita secara mental, kognitif, afektif, dan psikomotorik (psikologis) terhadap anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita ingin&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSnt7OxcdyI/AAAAAAAAArk/vZfmlPxoYbw/s1600-h/anak2.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272006440647423778" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 141px; CURSOR: hand; HEIGHT: 106px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSnt7OxcdyI/AAAAAAAAArk/vZfmlPxoYbw/s400/anak2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; menanamkan perasaan peduli pada anak, ternyata landasan mental bagi tumbuhnya kepedulian berusaha dihancurkan oleh kekuatan luar itu (kapitalisme, yang dikendalikan pemilik modal). Karenanya jalan menuju pembangunan karakter anak yang penuh kepedulian juga harus keluar dari rel di mana kapitalisme berusaha mengarahkan orangtua membentuk anak sesuai cara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah jalan yang ditonjolkan ideologi kapitalis bagi orangtua dalam mendidik anak: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ø Kebahagiaan yang dipeoleh dengan pemenuhan material (konsumerisme)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Orangtua seringkali beranggapan bahwa pemenuhan materi bagi anak-anak hanyalah salah satu yang paling menjelaskan kebutuhannya. Anak-anak diajari untuk memakai barang-barang mewah, dibelikan semua mainan yang diinginkan, yang kadang juga tak lepas dari gengsi yang muncul: pada saat anak tetangga atau orang lain memiliki, maka anaknya juga harus memiliki, kalau bisa yang lebih bagus. Merasa tak memenuhi kebutuhan dan atribut bagi anak akan merasa malu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Orangtua semacam itu tak sedikit yang saya jumpai. Anak seakan diperalat untuk meningkatkan narsisme dan kebanggaan diri. Ketika anak-anaknya memiliki berbagai macam mainan mewah, pakaian bagus, dan lain-lain orangtua merasa puas. Kadang setiap rengekan dan keinginan anak juga akan dipenuhi. Orangtua yang suka pamer semacam ini sebeanrnya adalah korban narsisme diri yang telah dibentuk oleh sistem kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ø Kesuksesan pribadi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan pribadi adalah ajaran individualisme ala kapitalis yang membuat orang harus mati-matian mengejar kesuksesannya (dengan berbagai ukurannya sendiri) yang akhirnya membentuk watak egois dan filsafati yang buta pada realitas kebersamaan dan hubungan sesama manusia. Bahwa ukuran segala sesuatu adalah pribadi, tujuan hidup manusia dianggap hanya bisa diperoleh dengan memaksimalkan potensi pribadi untuk kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;Cara pandang individualis-kapitalis itu sangat menyesatkan. Menyesatkan karena ia memang cara pandang yang bias kepentingan kelas, yaitu segelintir kelas kapitalis (pemilik modal) yang tujuannya mencari keuntungan pribadi dan perusahannya. Cara pandang semacam itu hendak dipaksakan pada orangtua yang diharapkan akan mendidik anak-anaknya dengan prinsip itu. Pada hal kapitalis menggapai keuntungan pribadi itu dengan mengingkari hak-hak orang lain: kita melihat bagaimana untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, mereka menindas buruh (memberikan upah yang tak layak, memenjarakannya dalam kondisi kerja yang buruk, dan tak jarang juga memperlakukan buruh anak-anak pada saat anak-anak harus belajar dan bermain demi mem&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSnufPsilgI/AAAAAAAAAr8/nWwJID0In3Y/s1600-h/anak5.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272007059370579458" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 85px; CURSOR: hand; HEIGHT: 123px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSnufPsilgI/AAAAAAAAAr8/nWwJID0In3Y/s400/anak5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;bentuk karakter kemanusiaannya). Lihat pula ulah kapitalis besar yang tak malu membunuh dan membombardir bom ibu-ibu dan anak-anak hanya demi keuntungan dan modal. Modal, kesuksesan pribadi, adalah nabi-nabinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Kita butuh pemikiran kritis dan tak hanya menekankan ukuran kesuksesan individu anak hanya sebagai keberhasilan mereka agar mendapatkan kerja yang bagus dan menang dalam bersaing dengan orang lain. Paham kompetisi yang duagung-agungkan oleh kapitalisme menganggap bahwa satu-satunya merubah nasib dan kemajuan masyarakat akan terjadi dengan persaingan antar individu, tanpa memedulikan bagaimana kondisi tiap-tiap individu itu. Inilah yang menyebabkan terjadinya kondisi “manusia memakan manusia” (homo homini lupus). Karena Anda memikirkan bagaimana Anda sukses demi dan dengan cara menggunakan apapun yang anda bisa, karena orang lain juga demikian, maka Anda akan menggunakan cara-cara apapun (tanpa menggunakan ukuran atau nilai kolektif) agar tak kalah bersaing—agar kalau perlu menang.&lt;br /&gt;Jadi ajaran individualisme dan kompetisi membuat pribadi-pribadi yang kalah bersaing dengan cara normal atau bermoral akan meninggalkan cara-cara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda punya anak perempuan yang mulai menginjak dewasa, ia harus bersaing agar sukses dalam hidupnya. Sayangnya Anda tak mampu membekali dengan pengetahuan dan ketrampilan kerja, bahkan negara juga tak mau memberikan pendidikan dan pelatihan (subsidi pendidikan dicabut dan sekolah semakin mahal). Apa yang terjadi pada anak perempuan Anda? Dia kalah bersaing dengan modal dan potensi individu yang tumpul. Maka apa yang bisa ia lakukan dan apa yang dapat Anda lakukan sebagai orangtua agar ia mampu bertahan hidup atau tentunya diharapkan bisa hidup layak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan menikahkannya dengan laki-laki kaya agar anak Anda bisa berlindung dengan kekayaan dan mendapatkan kenyamanan finansial karena menjadi bagian dari laki-laki kaya? Iya kalau laki-laki itu baik hati dan mencintainya dengan tulus. Bagaimana kalau laki-laki itu hanya menginginkan kecantikan fisik anak Anda atau hanya ingin agar anak perempuan Anda menjadi pelayannya yang memenuhi kebutuhan seks laki-laki itu, memasakkan, mencucikan pakaiannya, hingga merawat anak-anaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi kesuksesan pribadi dalam masyarakat di mana semua modal dan sumber ekonomi dikuasai oleh segelintir orang (kapitalis) tampaknya adalah ajaran palsu yang membodohi. Ajaran itulah yang membuat anak-anak kita tak mampu melihat hubungan universal dalam kehidupan dan hubungan antar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran kesuksesan pribadi dan individualisme yang membabi-buta semacam itu biasanya akan membuat orangtua mendidik dan mengatur anak secara ketat dan mengontrol cara-cara agar tujuan itu terpenuhi. Anak harus begini-begitu karena ia harus jadi seperti ini atau itu. Potensi anak termatikan karena orangtua begitu mengatur anak agar anak menjadi A atau B, sesuai keinginannya. Pada hal mau jadi apa anak tidak harus ditetapkan oleh orangtua, tetapi lahir dari bakat yang ditentukan oleh perkembangan potensi-potensi yang lahir dari pengetahuan dan keinginan di masa pencarian anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ukuran kesuksesan bukan hanya materi dan kekayaan. Kekayaan material bahkan dalam banyak hal membuat potensi mental dan pengetahuan menjadi rusak, sebagaimana kemiskinan juga merusak potensi yang sama. Mengejar kekayaan material dengan cara yang obsesif, atau k&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSnuShc56zI/AAAAAAAAAr0/_szwiMV-Q_Y/s1600-h/anak4.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272006840798538546" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 110px; CURSOR: hand; HEIGHT: 116px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSnuShc56zI/AAAAAAAAAr0/_szwiMV-Q_Y/s400/anak4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;ondisi kekayaan yang berlebihan, sebagai mana kondisi kemiskinan yang berlebihan, menyebabkan jiwa manusia rusak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang berada dalam kondisi kekayaan yang berlebihan dan segala kebutuhannya terpenuhi, hidupnya tak akan diliputi dengan pencarian-pencarian akan hakekat kehidupan. Orang yang berada dalam keadaan senang secara terus-terusan, tanpa mendapati kondisi kontradiksi dalam diri, pikirannya tak akan terlatih untuk memikirkan realitas—karena ia terbiasa untuk tidak berpikir, tak terbiasa menggunakan otaknya, terbiasa bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya anak-anak yang hanya dicekoki dengan materi, yang terbiasa kita penuhi segala kebutuhannya, akan menjadi anak-anak yang otaknya tumpul. Kecerdasan universal dan sosialnya tak terbangun. Anak-anak itu tak dididik bahwa untuk memperoleh segala sesuatu butuh proses atau kerja, karenanya ia akan tumbuh sebagai orang yang pragmatis, oportunis, dan korup—itulah anak-anak Indonesia selama ini. Korupsi adalah budaya yang awalnya lahir dari ketidakmauan/ketidakmampuan individu-individu (anak-anak keturunan priyayi) untuk berproduksi dan berpikir, mereka tak menghasilkan kecuali menghisap rakyat dari upeti dan pajak, pada saat godaan dunia dan kekuasaan semakin besar. Korupsi dalam Indonesia modern lahir dari birokrasi yang juga tak produktif, tetapi godaan konsumtif akibat globalisasi kapitalis membuat para pejabat untuk membeli lebih dan lebih (bermewah-mewahan), sehingga mereka mencuri uang negara untuk tujuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ø Mengejar popularitas dan mengidolakan penghibur (artis-selebritis)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Orangtua yang tak punya prinsip tentang bagaimana membentuk anak—bahkan mungkin tak paham memb&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSnuDVmRFwI/AAAAAAAAArs/YOikk_cLrc4/s1600-h/anak3.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272006579918542594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 135px; CURSOR: hand; HEIGHT: 101px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSnuDVmRFwI/AAAAAAAAArs/YOikk_cLrc4/s400/anak3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;entuk dirinya sendiri di masa mudanya—tampaknya juga akan mudah tergoda untuk membentuk anak-anaknya sesuai dengan kesemarakan kebudayaan pasar. Mereka menempuh jalur pragmatis agar anaknya sukses sesuai dengan cara berpikirnya yang hendak dipaksakan pada anaknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Ambisi orang tua (terutama ibu-ibu) untuk menjadikan anaknya sebagai ikon TV kini semakin meluas sejak dunia enterteinmen juga membuka partisipasi yang lebih longgar dengan munculnya acara-acara seperti AFI versi anak, pemilihan mubaligh anak, pemilihan presenter anak, dll. Di tengah-tengah godaan globalisasi pasar yang membutuhkan biaya besar untuk melakukan ritualitas konsumsi material dan komsumsi budaya, menjejalkan anak ke dalam dunia TV menjadi cara mudah untuk menegaskan status, kekayaan, popularitas, kekuasaan dalam masyarakat pasar. Sebagian orangtua bahkan juga memanajeri anaknya sendiri untuk mempertahankan dan meningkatkan popularitasnya. Seperti terjadi pada artis remaja Marshanda yang dimanajeri sendiri oleh ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia selebritis memang menjadi corong corong dari kebudayaan dan gaya hidup. Kiblat bertata bahasa, mendefinisikan diri (tubuh, perasaan, pikiran), dan cara memaknai relasi sosial memang selalu bersumber dari bagaimana artis-selebritis melakukannya. TV adalah media paling dekat dalam komunitas keluarga di mana anak-anak tumbuh. Sedangkan ucapan dan ide-ide artis-selebritis muncul paling banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon setelah kesuksesan Joshua, banyak ibu-ibu yang memasukkan anaknya ke lembaga-lembaga pelatihan model dan akting. Mereka juga begitu getolnya berusaha agar anaknya dapat menjadi bintang terkenal. Karena memulai karier sebagai artis mulai anak-anak berarti merebut popularitas sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengertian tersebut, Agnes Monica juga tidak bisa dilupakan sebagai icon sejarah artis-selebritis yang secara tak terhindarkan selalu dijadikan contoh bagi ibu-ibu yang menginginkan anaknya sering muncul di TV ini. Bagaimana tidak, Agnes Monica, yang sekarang menjadi artis yang berpenghasilan paling mahal dan sekaligus terkenal sangat produktif dan kreatif (serba bisa) memainkan perannya sebagai artis (penyanyi, pemain sinetron, presenter, bintang iklan, koregrafer, dll), telah memulai kariernya sejak dia menjadi “bintang cilik” ketika bergabung di “Trio Kwek-Kwek”. Selain berbakat, konon profesionalitasnya memang didukung oleh kedesiplinan dalam mengikuti kursus-kursus kepribadian dan pelatihan-pelatihan serta dilakukan dengan manajemen yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hal artis-selebritis sendiri bukanlah manusia yang dianggap sebagai acuan. Bahkan tak jarang para pengamat budaya mengatakan bahwa kalangan tersebut memberikan dampak yang buruk bagi perkembangan generasi.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; Salah satu pengamat budaya itu, Michael ReGault, bahkan mengatakan bahwa para artis selebritis tak lebih dari ”orang barbar”: ”Orang-orang barbar tak lagi mengempur gerbang kota kita, mereka sedang makan malam bersama kita. Nama mereka adalah J. Lo, Ja Rule, dan Paris Hilton”.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ReGault patut kita pertimbangkan pada saat serangan budaya selebritis Barat memang t&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSntwtOFiKI/AAAAAAAAArc/zWgkTA44uxg/s1600-h/anak1.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272006259842058402" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 114px; CURSOR: hand; HEIGHT: 126px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSntwtOFiKI/AAAAAAAAArc/zWgkTA44uxg/s400/anak1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;elah berhasil membuat anak-anak kita ingin menirunya. Lihatlah penampilan Agnes Monica atau (belakangan) Cinta Laura yang lagu, video klip, dan tampilan panggungnya menjiplak hampir seratus persen gaya Britney Spears, yang sensua dan menggoda—dengan suara atau kemampuan vokal yang tidak istimewa sama sekali. Jadinya, anak-anak kita kita masukkan pada ruangan budaya di mana mereka hanya bisa meniru para artis. Mental meniru ini telah menghancurkan mental kreatifitas dan mental yang menuntut anak-anak menciptakan sesuatu untuk diri mereka sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak perempuan harus dibiasakan untuk mengumbar tubuh demi popularitas, harus menghafal lagu-lagu agar dianggap tidak gaul sehingga mereka lupa belajar untuk mencari ilmu pengetahuan. Mereka harus hidup untuk merayakan narsisme diri, dan bukan untuk peduli sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; Lihat Nurani Soyomukti. Selebritis Gitu Lho(h): Menguak Realitas di Balik Dunia Gemerlap Selebritis. Surabaya: Prestasi Pustakaraya, 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; Michael R. LeGault, Sekarang Bukan Saatnya untuk “Blink” Tetapi Saatnya untuk THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata. Jakarta: PT. Transmedia, 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;-----------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-4829682835467349853?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/4829682835467349853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=4829682835467349853' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4829682835467349853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4829682835467349853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/parenting.html' title='Parenting:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSntpi6kCFI/AAAAAAAAArU/c1v_C_IlQ_A/s72-c/anak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-8813709336076366543</id><published>2008-11-17T08:43:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T08:54:11.479-08:00</updated><title type='text'>ANAK-ANAK KORBAN KAPITALISME</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Anak-anak yang peduli seakan adalah milik sejarah dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGgMSs2EtI/AAAAAAAAArM/hyrlOZRCgzo/s1600-h/anak+anak+anak.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269669172038996690" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 99px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGgMSs2EtI/AAAAAAAAArM/hyrlOZRCgzo/s400/anak+anak+anak.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;mereka seakan hendak belajar untuk merubah sejarah hubungan kemanusiaan yang timpang. Hingga sekarang dunia masihlah diwarnai berbagai kontradiksi baik lingkungan alam maupun pada hubungan antara manusia (secara ekonomi, politik, hingga kebudayaan). Sebagai orangtua yang ingin bertanggungjawab, kita tentu ingin menumbuhkan anak yang bisa menjadi makhluk yang peduli. Mereka harus kita ajari berbagi dengan sesama, dan mereka kita cegah untuk tidak menjadi makhluk yang egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menumbuhkembangkan rasa kepedulian, solidaritas, dan kebersamaan sejak kecil merupakan suatu keputusan yang tepat. Naluri kepedulian itu sendiri adalah basis dari mental positif yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak-anak yang sangat berbanding lurus dengan potensi pertumbuhan yang sehat dan cerdas. Kenapa rasa kepedulian dan kebersamaan adalah dasar psikologis yang penting? Tentu saja karena eksistensi psikologis manusia berakar pada dunianya yang diikat dengan hubungan-hubungan antara manusia dengan orang lain dan alam. (Pertumbuhan) manusia yang tercerabut dari alam dan sesamanya adalah (sumber dari) manusia yang sakit (egois, terbelakang secara sosial dan cacat secara pengetahuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ANAK KORBAN IMPERIALISME&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika kita percaya—dan harus percaya—bahwa sejarah bergerak maju menuju muara harmonisasi alam dan kemanusiaan, maka kita yakin bahwa anak-anak kita adalah benih-benih bagi peradaban masa depan. Jika sekarang ini kita masih menghadapi berbagai macam kesulitan dan gejolak dalam kehidupan, yang mencerminkan bahwa peradaban (kehidupan) kita semakin mundur, maka tidak ada orang tua—kecuali orangtua egois—yang menginginkan kondisi buruk ini akan menimpa anak-cucu kita nantinya. Semua orangtua tak ada yang berharap agar kehidupan anak-anaknya lebih terbelakang darinya. Pasti semua orangtua menginginkan anaknya lebih beradab, dengan hidup di dunia yang lebih indah dan bermakna, dibanding hidup para orangtua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya ha&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGfyItLI7I/AAAAAAAAAq0/sSZsESu-ZIo/s1600-h/anak7.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269668722679423922" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 138px; CURSOR: hand; HEIGHT: 126px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGfyItLI7I/AAAAAAAAAq0/sSZsESu-ZIo/s400/anak7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;rus dipahami bahwa anak bukan hanya akan membentuk dirinya dan membentuk dunianya, tetapi juga dibentuk oleh dunia kehidupannya. Karenanya sebagai orangtua kita harus mengenali dunia tempat kita tinggal. Memiliki anak maju adalah dambaan setiap orang. Tetapi tentu saja masih banyak hambatan dan tantangan yang akan kita hadapi. Hambatannya adalah dunia saat ini yang penuh kontradiksi. Karenanya ada baiknya saya di bagian ini akan membawa Anda pada dunia yang tengah mengancam anak-anak kita, yang juga mengancam kemanusiaan. Dengan memahami kontradiski dan perkembangan jaman sekarang ini kita akan memahami bagaimana dunia di mana anak-anak kita tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin menyelamatkan anak-anak kita, kita harus mengenali segala lingkungan dimana anak kita berada. Keresahan akan perkembangan ekonomi dan kebudayaan saat ini terhadap nasib anak-anak kita dirasakan oleh mereka yang telah mengamati perkembangan dunia. Tak sedikit pengamat (budayawan, spikolog, pemerhati anak-anak, politisi, aktivis) yang melihat bahwa ancaman perkembangan kehidupan sekarang ini sungguh-sungguh nyata bagi anak-anak. Mereka melihat adanya kemunduruan perkembangan anak bukan hanya dari para orangtua yang konservatif di dalam rumah, tetapi yang lebih parah adalah ancaman kapitalisme global.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGf7gsmNgI/AAAAAAAAArE/z8e9bA64OBk/s1600-h/anak2.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269668883738277378" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 127px; CURSOR: hand; HEIGHT: 92px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGf7gsmNgI/AAAAAAAAArE/z8e9bA64OBk/s400/anak2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Indonesia, sebagai negara yang berada dalam mata rantai kapitalisme global yang lemah dan terbelakang, seringkali hanya menjadi sasaran modal asing (kapitalis) yang ingin mencari keuntungan di negeri kita yang kaya raya. Kapitalisme pasar bebas (neoliberalisme) global adalah penjajahan bentuk baru (neokolonialisme-neoimperialisme—Nekolim) yang telah terbukti melakukan eksploitasi hingga kita tetap miskin dan terbelakang. Pertama, perusahaan-perusahaan asing (kapitalis) mengeruk kekayaan alam kita dengan membabi-buta, mulai dari pertambangan dan mineral (emas, batu bara, tembaga, minyak, dll) hingga hutan-hutan kita. Hal itu terjadi sejak diberlakukannya UUPMA (Undang-undang Penanaman Modal Asing) di awal pemerintahan Orde Baru dan diperkuat lagi dengan UUMA (Undang-undang Modal Asing) pada tahun 2007 oleh elit-elit anti-rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipastikan anak-cucu kita tak dapat lagi menikmati kekayaan alam karena para politisi anti-rakyat hingga sekarang menyerahkan modal asing mengeruk kekayaan dan merusak alam kita. Mereka tak memikirkan nasib anak-anak dan generasi masa depan. Mereka adalah politisi yang ingin bermewah-mewahan, yang hanya menginginkan memberikan kemewahan pada anak-anaknya dengan uang yang didapat dari korupsi, anak-anak yang dibentuk dengan kekayaan dan membuat mereka terlena dengan gelimangan harta-benda, pada saat anak-anak dari kalangan rakyat miskin bahkan tak mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang sangat mendasar dan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penjajahan asing (kapitalisme-neoliberalisme) dikendalikan oleh pemilik modal yang menginginkan negara-negara Ketiga seperti Indonesia sebagai pasar. Dalam hal ini, kita diharapkan menjadi sasaran produk dan diciptakan untuk menjadi para pembeli—diciptakanlah budaya konsumtif di kalangan remaja dan anak-anak kita. Tujuannya aga keuntungan dari penjualan produk didapatkan dengan jumlah besar oleh penumpuk modal yang tujuannya memang mencari keuntungan. Untuk menciptakan budaya konsumtif, mereka mencetak kebiasaan yang melemahkan karakter produktif dan independensinya. Iklan dan promosi produk perusahaan-perusahaan melalui media menjadi kekuatan brutal yang melihat anak hanya sebagai sasaran produk atau pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau jujur, b&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGf21CO6YI/AAAAAAAAAq8/ZqNNAvkFPlU/s1600-h/anak3.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269668803298388354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 122px; CURSOR: hand; HEIGHT: 124px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGf21CO6YI/AAAAAAAAAq8/ZqNNAvkFPlU/s400/anak3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;ukan hanya di dunia Ketiga saja para pengamat meresahkan efek budaya massa kapitalis dan media terhadap perkembangan mental anak. Anak-anak dimanapun akan dimanfaatkan untuk menumpuk keuntungan. Merekalah pasar yang paling potensial. Kalau sejak kecil anak-anak sudah dididik menjadi kapitalistik, maka hingga tua kebiasaan itu akan terjaga—dan kapitalisme bisa langgeng. Sehingga anak-anak dan para remaja tak lagi memikirkan bagaimana membangun karakter pribadi yang produktif seperti berkarya, mencipta, dan berperan untuk melawan kontradiksi yang ada di masyarat. Mereka malah sibuk untuk menguras uang orangtuanya agar dapat membeli. Dan sayangnya, budaya konsumtif juga telah menjangkiti para orangtua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;(Nurani Soyomukti)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;--------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-8813709336076366543?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/8813709336076366543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=8813709336076366543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/8813709336076366543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/8813709336076366543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/anak-anak-korban-kapitalisme.html' title='ANAK-ANAK KORBAN KAPITALISME'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGgMSs2EtI/AAAAAAAAArM/hyrlOZRCgzo/s72-c/anak+anak+anak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-4796301405496237251</id><published>2008-11-17T08:38:00.001-08:00</published><updated>2008-11-17T08:52:05.257-08:00</updated><title type='text'>ANAK KORBAN IKLAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Allisa Quart melapork&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGeMGShyyI/AAAAAAAAAqk/n8B4-p43qXE/s1600-h/anak11.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269666969684134690" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 117px; CURSOR: hand; HEIGHT: 121px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGeMGShyyI/AAAAAAAAAqk/n8B4-p43qXE/s400/anak11.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;an bahwa “selama tahun 2000, “pengeluaran sekunder” 21% remaja Amerika sebesar 155 milyar dolar AS untuk membeli baju, CD, dan kosmetik. Pada tahun 2002, korporasi bisnis tidak saja berusaha merayu remaja dan ABG untuk membelanjakan uangnya. Mereka juga berusaha menjerat remaja dengan lingkaran setan kerja dan belanja selama masih muda”. Tak heran jika kemudian banyak remaja yang “berusaha melekatkan diri dengan merk dan pecaya bahwa ituaalah satu-satunya cara agar apa menjadi bagian dari dunia ini. Para remaja yang seharusnya belajar untuk menjadi manusia yang produktif dan kreatif, serta penuh wawasan, pada akhirnya dididik untuk menjadi mata-mata korporasi bisnis untuk mempromosikan produk kepada anak-anak lainnya’”.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi benar bahwa karakter anak-anak dibentuk, sebuah proses pendidikan konsumeristik yang massif dan efektif melalui media-media kapitalisme. Pada akhirnya, anak-anak dan remaja justru menjadi para calon pembela setia sistem penindasan kapitalisme. Mereka dilahirkan dengan pikiran indivdualis, hidup hanya untuk mengurusi keuntungan da kesenangan diri sendiri. Naluri solidaritas dan kritisisme mereka ditumpulkan. Pendidikan kapitalisme di luat sekolah inilah yang mempersulit para guru yang masih punya hati nurani kesulitan membangun karakter anak-anak didiknya menjadi generasi yang bermartabat. Jadi, dapat dikatakan bahwa kapitalisme menghalangi para guru-guru untuk menjalankan perannya dengan baik di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-guru memang tak mungkin memberikan pertanyaan yang remeh pada anak-anak, seperti: “apa judul &lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGeTefI69I/AAAAAAAAAqs/jc95OSK2e7w/s1600-h/anak6.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269667096438565842" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 96px; CURSOR: hand; HEIGHT: 126px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGeTefI69I/AAAAAAAAAqs/jc95OSK2e7w/s400/anak6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;album terbaru Britney Spears dan Agnes Monica?”—yang akan segera dijawab dengan mudah oleh anak-anak. Tapi pikiran anak-anak bukan lagi terfokus pada bagaimana mereka bisa tahu gejala-gejala alam, gejala-gejala sosial. Para anak didik lebih menyukai membaca buku-buku lirik lagu daripada buku-buku pelajaran atau wawasan. Perpustakaan sepi, sementara play station, mall, dan tempat-tempat belanja serta hiburan lain kian ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi pasar-bebas saat ini menyemburkan kebiasaan/budaya oral melalui semaraknya budaya menonton setelah TV mendominasi ruang-waktu masyarakat. Di negeri ini, budaya oral juga dimassifkan lagi dengan dominannya tayangan infoteinmen yang berpilar pada budaya gosip. Gosip berpilar pada tular menular wacana/informasi antar individu tentang suatu peristiwa. Sayangnya, gosip tentang artis-selebritis tidak akan pernah berisi tentang wacana pencerahan, kecuali hanya merangsang gaya hidup dan mengumbar kemewahan orang-orang kaya yang bekerja di dunia hiburan (entertainment) tersebut. Wicara dan argumen—yang dangkal, tidak ilmiah, sekenanya, kacau, kadang emosional—berusaha menjejali pikiran dan perasaan penonton. Tentunya ini bukan pendidikan atau penyadaran, tetapi doktrin dan pembodohan. Budaya curhat dan bergosip ini menjauhkan masyarakat dari kebiasaan baca dan tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan mental anak banyak dirusak oleh TV, terutama potensi kreatif dan imajinatifnya. Memang kebanyakan orangtua bangga jika anaknya bisa menirukan para artis. Kadang ketika anak-anak kecil kita pandai menyanyikan lagu yang sering dilihat dan didengarnya melalui TV atau media lainnya, perasaan bangga muncul. Anak-anak dianggap pintar pada saat hafal nama-nama bintang sinetron, groups band dan artis-selebritis laiinya. Pada hal dibalik ketrampilan menghafal dan meniru itu ada suatu bahaya besar, yaitu bahwa kita telah menyerahkan potensi anak-anak kita dibentuk oleh iklan dan para perayu ulung agar anak-anak kita hanya bisa membeli dan meniru—dan bukannya berkreasi dan berimajinasi dengan bantuan pengetahuan dan nalar kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara kapitalis induk seperti Amerika Serikat (AS), hubungan antara TV, prestasi belajar, kecerdasan, dan kemampuan baca tulis telah dipelajari sejak tahun 1960-an. Menurut Kolumnis Washington Post ternama, Michael R. LeGault: “&lt;em&gt;Televisi telah menjadi biang kerok resmi dan tumpuan kesal&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGeFYR4nqI/AAAAAAAAAqc/3f7ERAjxIuI/s1600-h/anak+5.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269666854254190242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 135px; CURSOR: hand; HEIGHT: 90px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGeFYR4nqI/AAAAAAAAAqc/3f7ERAjxIuI/s400/anak+5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;ahan dari beberapa generasi pendidik dan orangtua yang mengkhawatirkan pengaruh buruk dari si “kotak bodoh” pada anak-anak muda yang mudah terpengaruh. Reputasi TV tenggelam, sepantasnya begitu, semakin rendah dalam tahun-tahun terakhir, sampai-sampai TV dianggap buruk untuk otak… sebuah studi yang dilakukan oleh The National Opinion Research Center dari tahun 1974 sampai 1990 menemukan bahwa “menonton televisi memperburuk kosakata” sedangkan membaca koran memperbaikinya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpulnya nalar produktif semacam itu di kalangan anak-anak negeri ini sungguh menjelaskan kenapa bangsa ini semakin terbelakang dan tertinffal jauh. Bayangkan, dibanding negara-negara tetangga, kita semakin juah di belakang. Negara lain di kawasan yang sama dengan negeri kita (Asia) bahkan telah meluncur dengan tingkat kemajuannya yang cepat. India dan Cina, misalnya, telah mengalami suatu pertumbuhan yang mencengangkan dan akan menjadi penantang bangsa-bangsa di luar Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan suatu masyarakat itu juga berkaitan dengan anak-anak dan remajanya. Konon, ketika seorang anak di Cina ditanya “ingin jadi apa kamu, nak?”, mereka menjawab: “Aku ingin menguasai so&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGeA7biE7I/AAAAAAAAAqU/tMrz5kvLiyk/s1600-h/abak1.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269666777790550962" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 134px; CURSOR: hand; HEIGHT: 100px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGeA7biE7I/AAAAAAAAAqU/tMrz5kvLiyk/s400/abak1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;ftware [baca ’sofwee’]”. Ketika anak-anak di India ditanya dengan pertanyaan yang sama, mereka menjawab: “Aku ingin menguasai hardware [baca: ‘hadwee’]”. Akan tetapi, ketika kita bertanya pada anak di Indonesia tentang ingin jadi apa mereka kelak. Kebanyakan anak-anak akan menjawab: “Nowhere” [baca: ‘nowee’]—Mereka tak akan tahu kemana. Sebagian besar juga membayangkan bahwa dirinya akan jadi artis yang bisa tampil di TV, bergaya dan berpenampilan menarik. Tak heran jika ketika dibuka acara audisi “Idola Cilik”, ribuan anak-anak berdesak-desakan untuk mengikutinya. (Hal yang sama juga bisa kita gunakan untuk melihat audiusi-audisi remaja dan pemuda yang akan direkrut jadi penyanyi, model, artis, hingga pelawak—hal ini mencerminkan hilangnya gairah anak-anak dan remaja kita pada ilmu pengetahuan dan wawasan kritis untuk mengatasi dunianya). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;End-note:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; Allisa Quart. Belanja Sampai Mati. Yogyakarta: Resist Book, 2008, hal. xxii&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; Michael R. LeGault. Sekarang Bukan Saatnya untuk ‘Blink’ Tetapi Saatnya untuk THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata. Jakarta: TransMedia, 2006, hal. 42-43&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(Nurani Soyomukti)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;--------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-4796301405496237251?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/4796301405496237251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=4796301405496237251' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4796301405496237251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4796301405496237251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/anak-korban-iklan.html' title='ANAK KORBAN IKLAN'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGeMGShyyI/AAAAAAAAAqk/n8B4-p43qXE/s72-c/anak11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-5105193145785910614</id><published>2008-11-17T08:31:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T08:53:15.165-08:00</updated><title type='text'>ANAK KORBAN PETERPEN, KANGEN BAND, UNGU, DAN ST12</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dalam masyarakat yang serba terbelakang dan kekurangan, ilusi-ilusi un&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGc2cpko-I/AAAAAAAAAp8/zmsuyQY8hIk/s1600-h/anak22.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269665498217620450" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 140px; CURSOR: hand; HEIGHT: 107px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGc2cpko-I/AAAAAAAAAp8/zmsuyQY8hIk/s400/anak22.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;tuk “naik kelas sosial” secara pragmatis merupakan gejala psikologis yang akut. Godaan akan gaya hidup mewah begitu mudah menjangkiti masyarakat yang serba terbelakang secara mental dan pengetahuan. Kebanyakan orangtua begitu tergoda untuk menjadikan anak menjadi melejit dan terkenal seperti menjadi artis, yang diharapkan akan menjadi mesin pencari uang. Anak-anak akan bekerja sebagai penghibur dan dari situ akan mendapatkan banyak uang, orangtua pasti ikut kecipratan dan mendapatkan kebangaan serta popularitas. Tetapi tidak sadarkan mereka bahwa membuat anak bekerja sebagai mesin pencari uang akan membuat mereka akan kehilangan banyak waktu untuk mencari pengetahuan dan meningkatkan rasa kepeduliannya dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGdatE96II/AAAAAAAAAqM/i5MwGcPXs40/s1600-h/anak+st12.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269666121102780546" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 117px; CURSOR: hand; HEIGHT: 118px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGdatE96II/AAAAAAAAAqM/i5MwGcPXs40/s400/anak+st12.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kita tahu dunia selebritis adalah dunia dimana gemerlap hidup membuat kalangan ini lupa diri, terlena, dan tersingkirkan dari kedalaman makna hidup. Dunia pesta, dunia pamer, dunia narkoba, seks bebas, liberalisme-individualisme melekat pada mereka. Sebagian kecil orang telah menjadi terkenal dengan menjadi artis-selebritis dan mereka disokong secara besar-besaran oleh pemilik modal secara finansial karena mereka bekerja untuk membuat para anak-anak dan remaja di masyarakat menjadi konsumtif—karenanya merekalah bintang iklan yang sama halnya sebagai pekerja pemilik modal agar produk-produknya laku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah yang membuat anak-anak rusak moralnya. Gara-gara terlena dengan lagu-lagu kacangan dengan lirik-lirik cinta-cinta palsu yang &lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGdWsLB-bI/AAAAAAAAAqE/skZVs_vXOKQ/s1600-h/anak+peterpann.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269666052140300722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 93px; CURSOR: hand; HEIGHT: 124px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGdWsLB-bI/AAAAAAAAAqE/skZVs_vXOKQ/s400/anak+peterpann.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;melemahkan, anak-anak kita telah malas untuk membaca buku dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk memupuk perkembangan kognitif dan nalar kritisnya. Anak-anak yang mulai menginjak sekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) sekarang ini lebih suka menghafal lagu-lagu Ungu, Kangen Band, ST12, atau Cinta Laura daripada belajar berhitung. Saat mereka sedang kita dampingin belajar, di ruang tamu, kemudian di TV ditayangkan lagu-lagu semacam itu, mereka segera lari melonjak dan menghambur di depan TV sambil menyanyikan lagu-lagu yang sedang menampilkan klips-nya yang kadang vulgar (sensual). Lirik-lirik lagu-lagu pop itu sendiri, kalau mau jujur, bukanlah lirik yang sesuai dengan dunia anak-anak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;(NURANI SOYMUKTI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;---------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-5105193145785910614?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/5105193145785910614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=5105193145785910614' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5105193145785910614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5105193145785910614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/anak-korban-peterpen-kangen-band-ungu.html' title='ANAK KORBAN PETERPEN, KANGEN BAND, UNGU, DAN ST12'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SSGc2cpko-I/AAAAAAAAAp8/zmsuyQY8hIk/s72-c/anak22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-7521556780676191866</id><published>2008-11-12T19:58:00.000-08:00</published><updated>2008-11-12T20:05:05.043-08:00</updated><title type='text'>Kesejahteraan Guru:</title><content type='html'>&lt;a href="http://bennisetiawan.blogspot.com/2008/10/guru-swasta-juga-manusia.html"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Guru Swasta Juga Manusia&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Oleh: Beny Setyawan*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;KABAR duka datang dari nasib guru swasta Indonesia. Kenaikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APB&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumgDRllfI/AAAAAAAAApU/1MNF00KaaO8/s1600-h/ajar--.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267987258705024498" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 116px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumgDRllfI/AAAAAAAAApU/1MNF00KaaO8/s400/ajar--.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;N) di bidang pendidikan hingga 20 persen (Rp 248 miliar) ternyata tidak membuat guru swasta sejahtera. Mereka harus menunggu sampai menjadi guru negeri atau berstatus pegawai negeri sipil (PNS).Hal ini dikarenakan, guru dengan status PNS akan mendapatkan gaji minimal Rp 2 juta per bulan mulai tahun 2009. Sedangkan guru swasta, sebagaimana biasanya, hanya mendapatkan gaji sesuai dengan jumlah murid yang diajar dan seberapa banyak jam mengampu mata pelajaran.Kenaikan gaji guru berstatus PNS ini sungguh timpang. Guru PNS sepertinya dimanjakan oleh pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sedangkan guru swasta dianggap bukan guru, sehingga tidak perlu disejahterakan. Hal ini tampak pada sistem pengajian. Belum lagi masalah kuota sertifikasi guru yang diskriminatif (75 persen untuk guru PNS dan 25 persen untuk guru swasta). Padahal, di negeri ini masih banyak guru berstatus honorer, bahkan tanpa digaji, yang mendidik anak bangsa agar dapat mandiri.Guru swasta juga merupakan cikal bakal adanya guru negeri. Di masa awal kebangkita&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumvwcPsBI/AAAAAAAAAps/fZTFFQJeo2U/s1600-h/ajarrrr.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267987528527360018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 121px; CURSOR: hand; HEIGHT: 114px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumvwcPsBI/AAAAAAAAAps/fZTFFQJeo2U/s400/ajarrrr.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;n nasional (1908), KH Ahmad Dahlan adalah seorang guru swasta yang mendidik masyarakatnya, tanpa digaji pemerintah. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah dengan sistem modern yang meniru kaum kolonial, ini merupakan bukti ketangguhan guru swasta. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Guru swasta adalah pahlawan sejak ada sekolah di republik ini.Namun, apakah nasib guru swasta hanya sebagai pahlawan saja, padahal mereka juga butuh hidup, menghidupi keluarganya, dan membayar pajak kepada pemerintah, di tengah gaji yang minim? Tidak adilnya sistem penggajian yang dilakukan pemerintah hanya akan makin mengerdilkan fungsi dan peran guru swasta dalam mendidik bangsa Indonesia. Guru swasta dianggap sebagai orang biasa yang tidak membutuhkan gaji, dan cukup dihibur dengan gelar pahlawan.Gelar pahlawan tanpa tanda jasa bagi guru swasta hanyalah hiburan di tengah ketidakberdayaan. Sebutan ini juga sepertinya digunakan (alat) oleh pemerintah agar guru tidak banyak bersuara dan melakukan protes. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sebutan ini sepertinya dikonstruksi sedemikian rupa agar tugas guru adalah mendidik tanpa mendapatkan gaji yang layak. Dan yang patut mendapatkan kenaikan gaji hanyalah guru yang mengabdikan diri sebagai ‘’hamba negara’’ (PNS).Kampanye GratisGuru PNS dianggap sebagai orang yang patut dikasihi dan digaji secara layak. Hal ini dikarenakan dengan penggajian yang layak suara mereka akan dengan mudah dimobilisasi untuk kepentingan Pemilu 2009. Lebih dari itu, dengan sistem komando sebagaimana Or&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumkdtdFqI/AAAAAAAAApc/ZOGqYr1ceBY/s1600-h/ajar----.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267987334520706722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 119px; CURSOR: hand; HEIGHT: 140px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumkdtdFqI/AAAAAAAAApc/ZOGqYr1ceBY/s400/ajar----.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;de Baru ketika gaji guru dinaikkan, maka akan makin banyak guru yang simpati dengan pemerintahan. Pada akhirnya mereka akan dipilih kembali karena telah membawa aspirasi guru (PNS).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;‘’Kampanye gratis’’ menggunakan uang negara, dengan kedok kenaikan gaji guru, untuk Pemilu 2009 sangatlah kentara. Salah satu indikatornya adalah pemerintah berusaha menaikkan anggaran pendidikan 20 persen menjelang akhir massa jabatan.Sebelumnya pemerintah selalu berkelit ketika dimintai keterangan mengenai anggaran pendidikan minimal 20 persen. Anggaran 20 persen akhirnya dipenuhi pemerintahan SBY-JK menjelang Pemilu 2009, walaupun pemerintah harus kembali berutang kepada lembaga donor atau memangkas anggaran bidang lain.Hal lain yang menjadi indikatornya adalah kenaikan anggaran pendidikan 20 persen tidak serta merta menjadikan sekolah gratis. Pemerintah berkelit tidak akan menggratiskan sekolah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Pemerintah hanya akan ingin meningkatkan mutu pendidikan. Pendidikan tetap saja harus bayar. Tidak ada yang gratis di negeri ini (no free lunch).Maka tidak aneh jika sekarang marak demonstrasi yang dilakukan oleh guru swasta agar hak-hak mereka disamakan. Mereka menuntut kenaikan gaji. Mereka juga me&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumre4brEI/AAAAAAAAApk/H8kX6vUuYhI/s1600-h/ajar_-_.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267987455094271042" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 141px; CURSOR: hand; HEIGHT: 105px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumre4brEI/AAAAAAAAApk/H8kX6vUuYhI/s400/ajar_-_.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;nuntut segera di-PNS-kan, jika pemerintah tetap tidak mau menyejahterakan guru swasta. Guru swasta memang harus tetap bersabar dan terus menunggu kehadirian ’’Semar’’: pemimpin bijaksana yang mau melihat realitas dengan nyata.Guru swasta juga harus terus berpuasa dan menahan keinginan (kebutuhan) hidup yang mendesak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kemiskinan akan terus menghantui setiap tidur mereka. Anak-anak mereka akan tetap menangis karena kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi. Guru swasta j&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumbEo97kI/AAAAAAAAApM/od8P4WFyIf8/s1600-h/ajar.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267987173172178498" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 129px; CURSOR: hand; HEIGHT: 131px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumbEo97kI/AAAAAAAAApM/od8P4WFyIf8/s400/ajar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;uga manusia. Mereka butuh kesejahteraan dengan gaji yang layak. Hal ini dikarenakan mereka juga pendidik bangsa. Bahkan keberadaan mereka lebih tua daripada usia negeri ini.Pemerintah harus berperilaku adil terhadap guru. Tidak membedakan guru swasta dan guru negeri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Jika pemerintah masih saja berpegang teguh pada pendiriannya, bahwa guru PNS harus sejahtera dan guru swasta dimiskinkan, maka kehancuan negeri ini akan semakin dekat. Hal ini dikarenakan pemimpin negeri ini lalim dan menyia-nyiakan guru swasta yang notabene adalah pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia. Wallahu aílam. (32)—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;*)Benni Setiawan, pemerhati pendidikan, penulis buku ’’Manifesto Pendidikan Indonesia’’ dan ’’Agenda Pendidikan Nasional’’.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-7521556780676191866?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/7521556780676191866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=7521556780676191866' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7521556780676191866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7521556780676191866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/kesejahteraan-guru.html' title='Kesejahteraan Guru:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRumgDRllfI/AAAAAAAAApU/1MNF00KaaO8/s72-c/ajar--.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-273894084316382804</id><published>2008-11-12T19:43:00.000-08:00</published><updated>2008-11-12T19:54:03.642-08:00</updated><title type='text'>Kenaikan Gaji Guru:</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt; Tanggapan Para Guru&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRukD_3oIcI/AAAAAAAAAo0/leu0rlyeBuQ/s1600-h/teacher-.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267984577731240386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 125px; CURSOR: hand; HEIGHT: 135px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRukD_3oIcI/AAAAAAAAAo0/leu0rlyeBuQ/s400/teacher-.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;Beberapa waktu lalu saya sempat menanyakan tanggapan para guru terhadap kenaikan gaji guru PNS minimal 2 juta yang akan dijanjikan tahun 2009 oleh presiden SBY... Pertanyaan saya lakukan secara langsung maupun tidak langsung seperti via sms maupun telfon. Saya sengaja mengacak antara guru negeri maupun guru swasta yang sebagian besar adalah guru-guru muda yang bersemangat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRukL2RJolI/AAAAAAAAApE/6chio0k6CiA/s1600-h/teacher-_-.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267984712592892498" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 116px; CURSOR: hand; HEIGHT: 116px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRukL2RJolI/AAAAAAAAApE/6chio0k6CiA/s400/teacher-_-.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;Pertanyaan yang saya ajukan adalah seperti ini: "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Apakah penambahan gaji guru PNS minimal 2 juta yang akan diberlakukan mulai tahun 2009 akan meningkatkan kualitas guru, anak, dan pendidikan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;Inilah jawaban dan komentar dari para guru tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pak Sunardi (Kepala Sekolah Negeri):&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;“Insyaallah demikian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Umi (Bu Guru SD Negeri):&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Itu masih tahap penggodokan, belum pasti kalau belum tahun 2009. Tapi jika itu bener tentu saja hal terse&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRukIC0JG2I/AAAAAAAAAo8/C_3EDM15I-E/s1600-h/teacher---.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267984647241407330" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 100px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRukIC0JG2I/AAAAAAAAAo8/C_3EDM15I-E/s400/teacher---.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;but akan semakin menambah motivasi guru untuk masuk sekolah, soalnya dia tak repot cari kerjaan sambilan. Dan hal itu dapat berpengaruh positif terhadap pembelajaran kepada murid, soalnya guru akan fokus pada proses pendidikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yessi Erlina Wati (Bu Guru Sejolah Swasta):&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;“Kalau menurut pendapatku, iya. Dengan dinaikkannya gaji, guru akan tambah semangat menjalankan kewajibannya, apalagi di dukung prasarananya lengkap”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Eko Prasetyo (Pengamat Pendidikan, Pengelola Rumah Pengetahuan Amartya, penulis buku “GURU—MENDIDIK ITU MELAWAN!”):&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Nggak ada, yang salah bukan gajinya, tetapi cara pemerintah memperlakukan pendidikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Shobibatur (Guru Sekolah Swasta, Mahasiswa):&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada jaminan. Semua tergantung pada sistem pendidikan (kurikulum, KBM, intruksi antara guru dan murid). Last but not least, bagaimana individu itu sendiri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yuyun Ernawati (Bu Guru Sekolah Swasta):&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Saya berpendapat ia karena dengan bertambahnya kesejahteraan guru, motivasi mengajar dan tanggungjawab terhadap pekerjaannya semakin meningkat. Tidak malas, terutama penambahan kesejahteraan pada guru swasta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nuriani (Pak Guru Sekolah Swasta):&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Sangat tidak ada peningkatan dalam pengajaran, mestinya pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru yang tidak tetap”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yuyun (Guru Sekolah Swasta):&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Masalah gaj&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuj_u20DII/AAAAAAAAAos/6MEwEwVIoh4/s1600-h/teacher.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267984504444947586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 126px; CURSOR: hand; HEIGHT: 132px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuj_u20DII/AAAAAAAAAos/6MEwEwVIoh4/s400/teacher.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;i kalau ditambah ok-ok saja. Tapi yang ngenes bagaimana dengan guru GTT [guru tak tetap]. Pada hal sekarang jadi PNS kalau gak masuk negeri gak boleh, sedangkan mau masuk aja harus punya uang dan harus punya joki. Malahan kalau ntar PNS gajinya naik, jangan-jangan atasan juga minta dinaikkan? Kalau menurutku mendingan memikirkan penyaringan GTT yang kompeten terus dinegerikan...”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;----------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-273894084316382804?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/273894084316382804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=273894084316382804' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/273894084316382804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/273894084316382804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/kenaikan-gaji-guru_12.html' title='Kenaikan Gaji Guru:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRukD_3oIcI/AAAAAAAAAo0/leu0rlyeBuQ/s72-c/teacher-.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-7061188926323647076</id><published>2008-11-12T19:35:00.000-08:00</published><updated>2008-11-12T19:42:27.446-08:00</updated><title type='text'>Kenaikan Gaji Guru:</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Setelah Guru Sejahtera, &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Anak Bodoh, dan Rakyat Miskin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Nurani Soyomukti&lt;/strong&gt;,&lt;br /&gt;penulis buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi” (Arruzzmedia, Yogyakarta—2008); pengelola Yayasan TABUR (Taman Belajar untuk Rakyat) Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ADA asumsi yang hingga saat ini masih dipercaya oleh kebanyakan orang bahwa jika pendidikan maju maka rakyat suatu negara juga akan maju. Kata ‘maju’ di sini barangkali dapat diuraikan menjadi lebih jelas, misalnya mengacu &lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuhOdW0y7I/AAAAAAAAAoc/rVIp5aeaMFc/s1600-h/guru----.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267981458910530482" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 115px; CURSOR: hand; HEIGHT: 124px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuhOdW0y7I/AAAAAAAAAoc/rVIp5aeaMFc/s400/guru----.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;pada kondisi rakyat yang sejahtera (serba berkecukupan), pengetahuan dan teknologi berkembang cepat, budaya dan kepribadiannya bermartabat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari kondisi ‘kemajuan’ itu tentu saja negara kita menunjukkan yang sebaliknya. Dilihat dari kesejahteraan, angka kemiskinan kian naik dan tingkat ketertekanan akibat kemiskinan juga menunjukkan bahwa angka kriminalitas, kekerasan, dan amoralitas semakin merajala. Kemiskinan adalah sebab dari kerusakan moral dan mental. Bukan moral yang menyebabkan mereka miskin, tapi kemiskinanlah yang menyebabkan mereka tertekan dan tak lagi bersikap manusiawi. Bukan karena kurangnya moral atau agama yang menyebabkan kejahatan, tetapi karena mereka miskin dan tidak diberi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari pengetahuan, rakyat kita juga tak lagi mempercayai kebenaran yang didapat dari pengetahuan atau aktifitas berpikir ilmiah. Sekarang ini, dalam konteks itu, kebanyakan sekolah bahkan telah gagal membentuk cara berpikir ilmiah. Anak-anak (mulai dari SD hingga perguruan tinggi), misalnya, ketika di kelas diajarkan tentang peristiwa alam yang dialektis dengan hokum sebab-akibatnya, misalnya kenapa terjadi gempa bumi, tsunami, gerhana, dan lain-lain. Di kelas mereka sangat menerima logika ilmu pengetahuan alam tentang kejadian-kejadian semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika mereka keluar dari kelas atau sekolah, pola pikir semacam itu kembali menghilang. Buktinya, ketika terjadi peristiwa alam seperti tsunami, gempa, dan gerhana, mereka masih banyak yang kembali pada penjelasan-penjelasan tak ilmiah (mistis, gaib, dll). Celakanya, sekolah justru semakin kalah dengan propaganda mistik yang datang dari berbagai penjuru, mulai dari pola pikir guru di kelas yang feodal, juga dari media (terutama televisi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan anti-ilmiah dan irasional kembali menggerogoti ilmu pengetahuan yang telah tertanam di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuhFBUQyHI/AAAAAAAAAoM/t4f0s68-Mq0/s1600-h/guru--.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267981296764766322" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 123px; CURSOR: hand; HEIGHT: 139px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuhFBUQyHI/AAAAAAAAAoM/t4f0s68-Mq0/s400/guru--.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;benak pelajar pada saat mereka menghadapi ketegangan dan kesulitan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dalam kasus Unas yang dianggap berat karena kurangnya kesiapan dalam menjawab soal-soal yang harus dijawab dan nilai rata-rata yang ditetapkan pemerintah untuk dicapai para peserta Unas meningkat, maka tidak sedikit yang menempuh jalan pintas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Berita menggembirakan tentang kesejahteraan guru sudah diumumkan pemerintah. Para guru dijanjikan gaji minimal Rp 2 juta mulai tahun 2009 nanti. Sebuah janji kesejahteraan bagi guru yang pertama kali diutarakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pidato kenegaraan sebelum peringatan 63 tahun usia kemerdekaan Indonesia itu tentunya membuat wajah para guru sumringah. Mendiknas Bambang Sudibyo menyampaikan bahwa gaji Rp 2 juta itu merupakan uang pangkal bagi guru dengan pangkat terendah meski yang bersangkutan belum mempunyai sertifikat ataupun belum memiliki ijazah S-1. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Para guru tak sabar menunggu datangnya tahun baru 2009 karena mulai waktu itulah gaji minimal guru khusus PNS dengan jumlah gaji minimal Rp 2 juta mulai berlaku. Pertanyaan yang kemudian muncul cukuplah klasik: benarkah kesejahteraan guru akan meningkatkan kualitas para pendidik sekaligus kualitas pendidikan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hak Universal Guru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diingat bahwa kesejahteraan gaji guru—sebagai mana gaji-gaji pekerja lainnya—adalah hak-hak universal yang memang harus dilakukan. Jadi, jangan di&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRug1elX5nI/AAAAAAAAAoE/tQBihQBDrzI/s1600-h/guru-.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267981029743257202" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 120px; CURSOR: hand; HEIGHT: 124px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRug1elX5nI/AAAAAAAAAoE/tQBihQBDrzI/s400/guru-.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;lihat bahwa kenaikan guru adalah hasil dari ‘kebaikhatian’ dari pemerintah Yudoyono. Memang sudah sepatutnya hak-hak guru untuk hidup layak dan sejahtera harus diberikan. Seharusnya hak itu tidak diberikan sekarang atau nanti, apalagi diberikan menjelang pemilihan umum 2009 di mana terkesan bahwa presiden Yudoyono ingin menarik simpati dari para guru dan PNS agar ia terpilih lagi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Penjaminan hak-hak guru akan kesejahteraan telah jauh-jauh hari menjadi tuntutan universal masyarakat di seluruh dunia. Bahkan untuk menghormati hak-hak guru, PBB telah merekomendan pemberian kesejahteraan itu dalam Recommendation concerning the Status of Teachers oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (Unesco), dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam sebuah konferensi khusus antarpemerintah, tepatnya pada tahun 1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalamnya, pasal 60 memaksimalkan jaminan kesejahteraan bagi guru. Guru tetap/penuh waktu dengan guru tidak tetap/paruh waktu/honorer mempunyai hak memperoleh pengupahan yang sama secara proporsional, hak yang sama untuk menikmati kondisi-kondisi dasar kerja, hak liburan, libur sakit, libur melahirkan, termasuk jaminan sosial dan pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan guru juga mendapat perhatian. Pasal 53 rekomendasinya menyebutkan, guru-guru hendaklah disyaratkan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala yang harus disediakan secara cuma- cuma. Bahkan, ketika sakit guru berhak mendapatkan izin dengan tetap memperole&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuhJ5i7LpI/AAAAAAAAAoU/kgCuTAodZqQ/s1600-h/guru---.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267981380578127506" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 123px; CURSOR: hand; HEIGHT: 127px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuhJ5i7LpI/AAAAAAAAAoU/kgCuTAodZqQ/s400/guru---.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;h bayaran penuh (Pasal 101 ayat 1). Tidak hanya izin sakit, guru pun berhak izin untuk alasan-alasan pribadi yang memadai dengan tetap memperoleh bayaran penuh (Pasal 100). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Pasal 126 Ayat 1 menyebutkan, Para guru hendaklah dilindungi oleh aturan-aturan jaminan sosial mengenai semua kemungkinan yang termasuk di dalam Konvensi Jaminan Sosial (standar-standar minimum) ILO tahun 1952, yaitu perawatan medis, tunjangan kesehatan, tunjangan manula (manusia usia lanjut), jaminan kecelakaan pekerjaan, tunjangan keluarga, tunjangan kehamilan, tunjangan kecelakaan, tunjangan kecacatan, dan tunjangan bagi mereka yang tidak terkena bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah janji Yudoyono untuk memberi gaji guru PNS minimal 2 juta mulai tahun depan akan menjamin kualitas guru kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah terlalu naif jika satu-satunya cara yang dianggap meningkatkan kualitas guru tak lain hanyalah dengan meningkatkan bayaran atau gaji guru. Anggapan seperti itu tidak melihat guru tidak bisa kreatif dan berkembang karena diawasi oleh petugas yang menyebut dirinya pengawas guru dan penddikan. Yang dirisaukan bukan guru itu mengajarkan pengetahuan yang tidak diperkenankan tetapi lembaga pengawasan telah mematikan fungsi pendidikan yakni mendidik siswa tentang makna kemerdekaan dan bagaimana mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan bahwa cara meningkatkan kualitas guru dengan cara ditingkatkannya jenjang pendidikan calon guru dan intensifikasi program pelatihan. Kemudian solusi yang didasarkan pada keyakinan bahwa proses pendidikan adalah aktivitas yang sifatnya teknis, bukan penanaman ideologi juga ditolak dalam buku ini. Dari pemahaman ini, guru bukan hanya ujung dalam soal pendidikan, melainkan juga akar dari masalah-masalah pendidikan dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Las but not least, sudah terlalu lama guru berdiam diri terhadap apa yang dialaminya. Walau UU Guru telah hadir sejak tahun 2005 lalu, itu bukan jaminan kebebasan dan kesejahteraan bagi pahlawan tanpa tanda jasa ini. Profesi guru bukan hanya kurang dihargai tetapi juga kerapkali dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi-politik kekuatan tertentu. Buktinya kini semakin banyak perkumpulan guru di luar PGRI warisan Orde Baru. Selain itu, metode aksi massa yang dipilih untuk memper&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuhUezHKmI/AAAAAAAAAok/BBmCXXk08e0/s1600-h/guru-----.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267981562376825442" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 74px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuhUezHKmI/AAAAAAAAAok/BBmCXXk08e0/s400/guru-----.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;juangkan hak-haknya bukan lagi cara yang asing. Ada potensi bagi para pendidik ini untuk mengajarkan semangat juang bagi anak didiknya ketika mereka kembali ke kelas dan mengajak serta mmandu murid-murid untuk melihat apa yang sebenarnya di lingkungan alam dan lingkungan sosial. Sehingga, ada tujuan dalam dunia pendidikan untuk membebaskan diri dari kungkungan penindasan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Diharapkan nantinya mengajar tidak sekedar menyuruh murid menghafal, juga bukan hanya memindahkan ‘pengetahuan’, tetapi juga mengenalkan realitas sejati, bukan sekedar melatih menipu.*** &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-7061188926323647076?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/7061188926323647076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=7061188926323647076' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7061188926323647076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7061188926323647076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/kenaikan-gaji-guru.html' title='Kenaikan Gaji Guru:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRuhOdW0y7I/AAAAAAAAAoc/rVIp5aeaMFc/s72-c/guru----.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-7413163398725212095</id><published>2008-11-11T01:29:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T01:57:51.648-08:00</updated><title type='text'>Dimuat di "SUARA KARYA" Edisi Selasa (11 Nopember 2008):</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Konstruksi Baru Karakter Pahlawan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Nurani Soyomukti *)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Betapa suli&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRlTZ6eKwwI/AAAAAAAAAms/Tacd4qLV5Bc/s1600-h/pahlawan+bung+tomo.jpeg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267332943844131586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 80px; CURSOR: hand; HEIGHT: 139px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRlTZ6eKwwI/AAAAAAAAAms/Tacd4qLV5Bc/s400/pahlawan+bung+tomo.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;tnya mencari pahlawan di tengah-tengah kebuntuan ekonomi-politik yang dialami oleh bangsa Indonesia. Kita butuh pahlawan-pahlawan yang berani memperjuangkan nasib rakyat, berani mengambil risiko, dan berani mengatakan realita secara benar dan memperjuangkan kebenaran itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ada hambatan sejarah yang menyebabkan masyarakat kita (terutama para elitenya) tidak berani mengatakan kebenaran secara tegas, peragu, plintat-plintut, dan pengecut. Hal ini lahir dari sisa-sisa feodalisme yang belum tuntas. Karena, ketika industrialisasi dan kapitalisme masuk melalui kolonialisme, sesungguhnya tatanan feodal kerajaan tidak pernah dihancurkan oleh penjajah, tetapi justru diperalat untuk memaksimalkan keuntungan. Industrialisasi dan modernisme diterima, tapi unsur enlightment-nya tidak dilakukan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Memang ada pahlawan yang berani melawan penjajah sejak kedatangannya di Indonesia, tetapi sedikit. Hal ini juga merupakan kesalahan sejarah peradaban kita. Kapitalisme dan industrialisasi seharusnya dapat dilalui oleh masyarakat kita sendiri, bukan dicangkokkan oleh penjajah asing. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Politik-ekonomi Kerajaan Majapahit, misalnya, sebenarnya telah mengarah pada corak produksi merkantilistik yang merupakan awal-awal masyarakat industrialisasi. Hal itu ditandai dengan membesar dan meluasnya bandar-bandar yang merupakan tempat perdagangan dari berbagai belahan dunia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kehancuran Majapahit dan tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak mendorong pusat-pusat ekonomi bergeser ke daerah pedalaman, kembali ke corak produksi tanah. Hal inilah yang menyebabkan feodalisme justru makin kental hingga akhirnya ketika penjajah asing masuk, ia tidak dihancurkan tapi dimanfaatkan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pada zama&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRlS9rl-skI/AAAAAAAAAmk/SWy2fllTsAw/s1600-h/pahlawan+ibu+tua.jpeg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267332458814026306" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 101px; CURSOR: hand; HEIGHT: 121px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRlS9rl-skI/AAAAAAAAAmk/SWy2fllTsAw/s400/pahlawan+ibu+tua.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;n penjajahan Belanda, para bangsawan dan priayi dididik pendidikan Barat, khususnya tentang industrialisasi dan modernisme dalam rangka mempercepat infrastruktur ekonomi-politik di Indonesia. Tetapi, kebangsawanan ini tetap dijaga untuk mempertahankan ketertundukan rakyat jelata. Para turunan priayi yang menjadi pegawai-pegawai Hindia Belanda adalah kelas sosial istimewa meski pada dasarnya mereka adalah kelas yang berfungsi sebagai alat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Fenomena elite sebagai alat kaum modal ini pada dasarnya masih berlanjut hingga sekarang, ketika rezim yang berdiri di Indonesia (mulai Orde Baru hingga menjelang pilpres putaran kedua ini) akan menjadi tatanan politik-ekonomi yang tidak lepas dari cengkeraman ekonomi kapitalis yang sudah sampai tahap neoliberal. Jelas bahwa kapitalisme dan modernisasi (industrialisasi) Indonesia tidak menghancurkan tatanan feodal. Dengan demikian, kekuatan produktifnya tak berkembang, borjuisnya bangkrut, parasit, korup, para elitenya hanya jadi antek dan penjilat pada borjuasi (pemodal) Barat yang lebih serius iman borjuisnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Inilah penjelasan material-historis watak bangsa kita berkaitan dengan kegagalan national and character building-nya. Dan, pemimpinnya selalu tidak memiliki prinsip politik yang tegas. Tindakan politiknya tidak bisa dipegang. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Feodalisme adalah corak produksi dan tatanan masyarakat yang bertumpu pada tanah sebagai alat produksi utama, sehingga merupakan fase masyarakat di mana perdagangan dan pasar bukanlah aktivitas utama. Struktur sosial feodal membagi dua kelas utama yang berhadap-hadapan secara ekonomi. Yaitu, kelas tuan tanah (raja-raja, bangwasan) yang menguasai alat produksi (tanah) dengan petani hamba, dan rakyat jelata yang tidak bertanah dan harus membayar pajak (upeti) kepada raja atas apa yang telah dihasilkannya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, akumulasi hasil kerja (produksi) dimiliki oleh tuan-tuan tanah yang akhirnya bisa hidup mewah dengan membangun istana. Istananya dipagari dengan benteng dan di dalamnya ada taman bermain sendiri, tempat selir-selir sendiri, dan berbagai kesenangan yang lain. Sementara itu, tenaga produktif rakyat tidak bisa dinikmatinya sehingga mereka hidup menderita. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Feodalisme Indonesia berbeda dengan di Barat. Di Barat dan bahkan kawasan Amerika Latin, feodalisme melahirkan hubungan kepemilikan yang tegas, di mana tanah-tanah benar-benar dimiliki oleh tuan-tuan (baron-baron di Eropa, hacienda di Amerika Latin). Sedangkan rakyat jelata berfungsi sebagai petani hamba yang tidak memiliki tanah sama sekali. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang menyebabkan pertentangan kelasnya sangat besar. Dan, ketika pada masa selanjutnya terjadi perubahan, tatanan feodal benar-benar dihancurkan, mulai dari corak produksinya hingga hasil-hasil budaya dan pemikirannya. Ketika liberalisme hadir, ia lahir secara tegas, tidak setengah-setengah dan tidak berpijak di dua kaki, konsisten dan tidak peragu, karena kondisi material ekonominya memang mendukung watak itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat karakter masyarakat kita saat ini. Corak produksi kapitalisme pasar bebas telah menyeruak dengan budaya dan gaya hidup yang ditawarkannya. Tetapi, karena elite borjuis Indonesia tidak kuat dan tidak kreatif, maka secara nyata selalu kalah dengan borjuis-kapitalis asing yang kuat dan konsisten ide-ide liberalnya.&lt;br /&gt;Sementara itu, masyarakat semirenaisans Indonesia mendorong untuk berpikir setengah feodal dan setengah liberal. Atau, pada kenyataannya, Indonesia telah terjerat pada sistem ekonomi liberal, tetapi karakter, semangat, dan budayanya masih feodal. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Karakter ter&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRlVjU_iHaI/AAAAAAAAAm0/5_MR1pQ2A1s/s1600-h/pahlawan+tan+malaka.jpeg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267335304605474210" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 100px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRlVjU_iHaI/AAAAAAAAAm0/5_MR1pQ2A1s/s400/pahlawan+tan+malaka.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;sebut tampaknya juga masih terwariskan di pemerintahan sekarang ini. Kita mungkin masih bisa berharap atas sikap moral pemimpin yang, misalnya, antikorupsi. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada langkah politik yang direncanakan dan dibuat untuk menghukum para koruptor dan pelanggar HAM. Kemungkinan besar juga masih memakai cara-cara kompromi dan mempertimbangkan watak-watak feodal yang berupa rasa kasihan, persekongkolan berdasarkan perasaan masa lalu, atau bahkan kompromi dalam makna pertukaran bargaining politik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Pemilu 2009 dapat kita bayangkan kadar pragmatisme elite kita yang makin parah. Demi mencapai kemenangan, mereka tak lagi akan berpikir tentang pengorbanan, tetapi hanya berpikir bagaimana caranya menang dengan jalan apa saja. Wallahu'alam!***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;-----------------------------------------&lt;br /&gt;*)Penulis adalah perawat pustaka di Yayasan Tabur(Taman Belajar untuk Rakyat) Jawa Timur &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-7413163398725212095?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/7413163398725212095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=7413163398725212095' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7413163398725212095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7413163398725212095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/dimuat-di-suara-karya-edisi-selasa-11.html' title='Dimuat di &quot;SUARA KARYA&quot; Edisi Selasa (11 Nopember 2008):'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRlTZ6eKwwI/AAAAAAAAAms/Tacd4qLV5Bc/s72-c/pahlawan+bung+tomo.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-4779956435223524291</id><published>2008-11-08T00:30:00.000-08:00</published><updated>2008-11-08T00:51:25.452-08:00</updated><title type='text'>Pengantar Penulis, dari buku BUNG KARNO DAN NASAKOM:</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Melanjutkan Ajaran NASAKOM Bung Karno&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: “BUNG KARNO dan NASAKOM”&lt;br /&gt;Penulis: Nurani Soyomukti&lt;br /&gt;Penerbit: Garasi Book, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, September 2008&lt;br /&gt;Tebal: xii+287 halaman&lt;br /&gt;Harga: Rp 38.000,-&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVQ6SRcYRI/AAAAAAAAAlk/1wwhsNz9fwk/s1600-h/bung+1.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266204301547299090" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 90px; CURSOR: hand; HEIGHT: 110px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVQ6SRcYRI/AAAAAAAAAlk/1wwhsNz9fwk/s400/bung+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita royal sekali dengan perkataan ‘kafir’. Pengetahuan Barat—kafir; radio dan kedokteran—kafir; pantolan dan dasi dan topi—kafir; sendok dan garpu dan kursi—kafir; tulisan Latin—kafir; ya bergaulan dengan bangsa yang bukan Islam-pun—kafir! Padahal apa yang kita namakan Islam? Bukan roh Islam yang berkobar-kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan amal Islam yang mengagumkan, tetapi... dupa dan kurma dan jubah dan celak-mata! Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa matanya dicelak dan jubahnya panjang dan mengenggam tasbih yang selalu berputar—dia, dialah yang kita namakan Islam. Astagafirullah! Inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, mengkafirkan radio dan listrik, mengkafirkan komoderenan dan ke-up-to-date-an? Yang mau tinggal mesum saja, tinggal kuno saja, yang terbelakang saja, tinggal ‘naik onta’ dan ‘makan zonder sendok’ saja ‘seperti di jaman Nabi dan Chalifahnya’? Yang menjadi marah dan murka kalau mendengar kabar tentang aturan-aturan baru di Turki atau di Iran atau di Mesir atau di lain-lain negeri Islam di tanah Barat?”&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;(Ir. Soekarno. Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid I. (Cetakan Ketiga). Jakarta: Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi, 1964, hal. 340)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Islam harus berani mengejar jaman… bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan jaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat ‘mengejar’ seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan kembali pada ‘zaman chalifah’, tetapi lari ke muka, lari mengejar jaman—itulah satu-satunya jalan buat menjadi gilang-gemilang kembali. Kenapa toch kita selamanya dapat aja&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVRcVLJWyI/AAAAAAAAAls/RIOSrA9ETrY/s1600-h/bung+Masyumi.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266204886441745186" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 79px; CURSOR: hand; HEIGHT: 104px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVRcVLJWyI/AAAAAAAAAls/RIOSrA9ETrY/s400/bung+Masyumi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;ran, bahwa kita harus mengkopi ‘zaman chalifah’ yang dulu-dulu? Sekarang toch tahun 1936, dan bukan tahun 700 atau 800 atau 900?&lt;br /&gt;… Mengapa kita musti kembali ke zaman ‘kebesaran Islam’ yang dulu-dulu? Hukum Syari’at? Lupakah kita, bahwa hukum Syari’at itu bukan hanya haram, makruh, sunnah, dan fardlu saja? Lupakah kita, bahwa masih ada juga barang ‘mubah’ atau ‘jaiz’? Alangkah baiknya, kalau umat Islam lebih ingat pula kepada apa yang mubah atau jaiz ini! Alangkah baiknya, kalau ia ingat, bahwa ia di dalam urusan dunia, di dalam urusan statemanship, ‘boleh berqias, boleh berbid’ah, boleh membuang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara baru, boleh berradio, boleh berkapal udara, boleh berlistrik, boleh bermodern, boleh berhyper-hyper modern’, asal tidak nyata di hukum haram atau makruh oleh Allah dan Rasul! Adalah suatu perjuangan yang paling berfaedah bagi ummat Islam, yakni berjuang menentang kekolotan. Kalau Islam sudah bisa berjuang mengalahkan kekolotan itu, barulah ia bisa lari secepat-kilat mengejar zaman yang seribu tahun jaraknya ke muka itu. Perjuangan menghantam orthodoxie ke belakang, mengejar jaman ke muka—perjuangan inilah yang Kemal Ataturk maksudkan, tatkala ia berkata, bahwa ‘Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam mesjid memutarkan tasbih, tetapi Islam adalah perjuangan’. Islam is progress: Islam itu kemajuan!”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(Ir. Soekarno. Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid I. (Cetakan Ketiga).&lt;br /&gt;Jakarta: Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi, 1964, hal. 334)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Nasionalis yang sejati, yang cintanya pada tanah air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi-dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka—nasionalis yang bukan chauvinis, tidak boleh tidak, haruslah menolak segala paham pengecualian yang sempit budi itu. Nasionalis yang sejati yang nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVSPgHTE7I/AAAAAAAAAl8/VxT4xnFPC4k/s1600-h/bung+PNI.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266205765551723442" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 89px; CURSOR: hand; HEIGHT: 85px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVSPgHTE7I/AAAAAAAAAl8/VxT4xnFPC4k/s400/bung+PNI.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;nasionalisme Barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan—nasionalis yang menerima rasa nasionalismenya itu sebagai suatu wahyu dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bakti… Baginya, maka rasa cinta bangsa itu adalah lebar dan luas, dengan memberi tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup”.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(Ir. Soekarno. Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid I. (Cetakan Ketiga). Jakarta: Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi, 1964, hal. 5-6)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Teori sosialismelah yang membawa kita pada pengertian tentang keadaan-keadaan objektif di dalam masyarakat Indonesia di masa sekarang dan masyarakat dunia. Teori sosialismelah yang memberi pengetahuan pada kita bahwa tingkatan Revolusi kita sekarang tak mungkin lain daripada tingkatan Nasional. Teori sosialismelah, dan bukan teori borjuis, yang menunjukkan, bahwa bagi kita sekarang belum datang kemungkinan untuk melaksanakan sosialisme”.&lt;br /&gt;(Bung Karno, “Sarinah”, hal. 298)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Siapa—kalau ia benar-benar Manusia, dan bukan makhluk tanpa arah—yang membantah kebenarannya benang merah dalam ‘Manifesto Komunis”, bahwa sebagian besar ummat manusia ini ditindas, di-“onderdrukt” dan di-uitgebuit” oleh sebagian yang lain, sehingga akhirnya ‘kaum proletar tak akan kehilangan barang lain daripada rantai belenggunya sendiri. Mereka sebaliknya akan memperoleh satu dunia baru. Hai Proletar di dunia, bersatulah!’?...&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(Ir. Soekarno. Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid II.&lt;br /&gt;Jakarta: Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi, 1965, hal. 362)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“... kusebut Pak A&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVR3uWH4fI/AAAAAAAAAl0/FOC3Wvij7-k/s1600-h/bung+PKI.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266205357055140338" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 104px; CURSOR: hand; HEIGHT: 104px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVR3uWH4fI/AAAAAAAAAl0/FOC3Wvij7-k/s400/bung+PKI.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;limin dan Pak Muso. Kedua-duanya sering bertindak sebagai guruku dalam politik ketika aku tinggal di rumah Pak Cokro... Orang Jawa mempunyai suatu peribahasa, ‘Gurumu harus dihormati, bahkan lebih dari orangtuamu sendiri...&lt;br /&gt;... dia adalah salah-seorang guruku di masa mudaku. Aku berterimakasih kepadanya atas segala yang baik yang telah diberikannya kepadaku. Aku berhutang budi kepadanya.&lt;br /&gt;Yang sama beratnya untuk dilupakan ialah kenyataan, bahwa dia adalah salah seorang perintis kemerdekaan. Seseorang yang berjuang untuk pembebasan tanah-airnya, berhak mendapatkan penghargaan dari rakyatnya...”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(Bung Karno. “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”,&lt;br /&gt;Jakarta: Gunung Agung, 1966, hal. 99-100)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Fakta bahwa kita masih dijajah belum banyak dipahami oleh rakyat atau para pimpinan negeri ini, tetapi hanya sedikit para politisi dan aktivis politik dan segelintir ekonomi. Dan upaya untuk menyembunyikan fakta adanya penjajahan ini juga dilakukan terus-menerus, baik melalui pelajaran sejarah di sekolah maupun dalam berbagai wacana yang berkembang. Bahkan tak jarang para ekonom yang ada, terutama para ekonomi Liberal, yang mengakui bahwa babagan imperialisme adalah bagian dari sejarah ekonomi di Indonesia. Boediono, menteri keuangan di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK), saat memaparkan paper dan pidato pengukuhan guru besarnya di UGM pada tahun 2007, misalnya, sama sekali menghapus fakta imperialisme dalam sejarah ekonomi Indonesia dalam tuliasnnya yang sangat panjang. Ini adalah contoh kecil bagaimana kemunafikan elit kita, entah sengaja menutupi atau memang karena kebodohan”.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(Nurani Soyomukti, “Bung Karno dan Nasakom”, hal. 15)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sejarah perlawanan sengaja hendak dihapus oleh kekuasaan Indonesia yang curang. Sejarah tokoh juga disederhanakan sebagai sejarah kesuksesan dan keagungan pribadi, dan bukan sejarah bangsa yang di dalamnya ada sejarah rakyat (yang melawan) karena penindasan. Karenanya menghapus fakta sejarah perlawanan juga dilakukan dengan menghapus sejarah penindasan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sejarah penindasan itu salah satunya adalah sejarah penjajahan, kolonialisme dan imperialisme—yang untuk konteks saat ini masih terjadi dan berlangsung. Fakta itu disembunyikan agar rakyat tidak mengetahui bahwa kesengsaraan mereka disebabkan oleh sesuatu yang sebenarnya bisa dikenali. Imperialisme begitu nyata: pengurasan dan perampasan aset-aset rakyat mulai kekayaan tambang dan mineral, perusahaan-perusahaan komunikasi dan perbankan, hingga berbagai sumber ekonomi yang menguasai hidup orang banyak. Penjajahan itu juga dapat bertahan, memiliki kaki dan tangan, punya anteknya di pemerintahan, lembaga legislatif, partai politik, hingga lembaga swadaya masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dan salah satu cara menyembunyikan fakta penjajahan era sekarang (penjajahan baru)—yang disebut Bung Karno dengan istilah NEKOLIM (N&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVQbVqNDlI/AAAAAAAAAlc/p1ewcht09b8/s1600-h/evana0010.JPG"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266203769880514130" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 297px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVQbVqNDlI/AAAAAAAAAlc/p1ewcht09b8/s400/evana0010.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;eo-kolonialisme dan Neo-imperialisme)—adalah dengan menghilangkan memori rakyat (khususnya anak-anak muda) pada sejarah perlawanan terhadap imperialisme yang dilakukan oleh para pejuang di masa lalu. Melupakan sejarah berarti melupakan jati diri kita yang sebenarnya. Kehilangan jati diri membuat kita bimbang dan ragu akan keberadaan diri sendiri, yang membuat kita dipermainkan oleh sesuatu kekuatan dari luar—yang menjajah kita dengan wacana-wacana dan ide-ide kebudayaannya. Anak-anak muda begitu fasih menyebut nama-nama artis dan menghafal lirik lagu-lagu, tetapi untuk memahami dan membaca sejarah (perlawanan) bangsanya mereka sulit. Dan memang ada upaya untuk menghilangkan sejarah dari anak-anak itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jika buku ini dimaksudkan untuk melontarkan fakta sejarah, yang jarang dilontarkan, mungkin tujuannya adalah untuk memberikan inspirasi atau semacam gambaran tentang apa yang dilakukan oleh para pejuang bangsa ini di masa lalu. Kita yang telah menikmati hasil dari perjuangan itu, memang masih menghadapi kontradiksi yang sama: penjajahan yang mungkin modelnya berbeda, tetapi tetap saja membuat bangsa kita kian mundur dan tertinggal dibanding bangsa-bangsa lain yang mulai bangkit. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jika buku ini adalah buku sejarah, maka pertama-tama saya terbebani oleh ketakutan kalau-kalau saya tidak mampu menggambarkan sejarah secara objektif. Karena itulah saya berusaha untuk memilih ’enjel’ berupa sejarah perlawanan Bung Karno dan sejarah perlawanan rakyat, terutama sisi radikalnya. Bisa jadi cara ini beresiko bahwa saya akan memaafkan kisah-kisah individual dari tokoh yang merugikan bangsa. Tidak! Saya tidak mau masuk ke wilayah-wilayah individual yang kadang memberikan citra negatif bagi tokoh itu. Saya mendengar berbagai macam tuduhan dan cerita tentang sisi negatif Bung Karno dari orang lain. Misalnya, Bung Karno itu ”ngacengan” dan tak tahan jika melihat perempuan, Bung Karno pengecut dan antek penjajah Jepang, Bung Karno narsis, Bung Karno itu Jawa kuno yang suka mistik dan seperti raja-raja yang suka mengagung-agungkan diri, dan lain-lain, dan seterusnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya punya pandangan bahwa, jika kita ingin memberikan inspirasi pada kaum muda dari kisah perjuangan tokoh-tokoh bangsa ini. Ada baiknya kita menonjolkan berbagai kisah yang membuat mereka percaya diri dan menirunya. Fakta bahwa Bung Karno adalah tokoh radikal, Kiri, idealis dan romantis harus kita ketahui dan harus diketahui pula oleh anak-anak bangsa kita. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno tetaplah seorang yang radikal hingga menjelang akhir hayatnya. Ia tetap melihat ancaman imperialisme terhadap Indonesia—dan kemampuan itu tak dimiliki oleh para pimpinan negeri ini sekarang. Bung Karno adalah orang yang demokratis karena tidak hitam-putih dalam melihat persoalan. Cita-cita NASAKOM (Nasionalisme, Islamisme, dan Komunisme) adalah warisannya, wasiatnya, yang harus kita terima sebagai senjata pemersatu dan alat membangun negeri. Ketiga ide(ologi) itu adalah produk sejarah (perlawanan) bangsa ini sepanjang bangsa ini lahir dan terus saja berhadapan dengan penjajahan. Selama penjajahan ada, maka NASAKOM akan tetap menjangkiti kita—entah sadar atau tidak! &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Memahami dan mempraktekkan nasionalisme secara benar, Islam secara benar, dan komunisme secara benar, serta tidak mempertentangkan antara ketiganya, akan menghasilkan energi atau kekuatan anti-penjajahan yang luar biasa. Tetapi, mempraktekkan ketiganya secara tidak benar, atau hanya memanipulasi ketiganya untuk kepentingan politik sempit, justru akan mempercepat bangsa ini menuju lubang pembantaiannya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kita menghadapi nasionalisme palsu dan sempit, nasionalisme untuk membohongi rakyat! Saat ini kita menghadapi Islam palsu dan sempit, yang hanya kelihatan wajah teroristiknya, formalitas kosongnya, hingga Islam politik yang berwajah memalukan! Sata ini kita berhadapan dengan orang-orang yang sok komunis dan menggunakan komunisme untuk menakut-nakuti di satu sisi, atau anak-anak muda yang sok komunis! &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan memahami pikiran Bung Karno kita akan mengetahui siapakah nasionalis sejati, Islamis sejati, dan komunis sejati—yaitu mereka yang memiliki semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari tangan imperialis, yang menghormati perbedaan kepercayaan dan suku, yang tidak memaksakan cara-cara kekerasan yang tidak efektif, yang terlalu jauh meninggalkan kesadaran massa! &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, saya akan mengajak pembaca untuk memahami kontradiksi sejarah bagaimana perkembangan masyarakat Indonesia sebelum Bung Karno muncul dan saat Bung Karno hidup—alam penindasan dan penjajahan. Kedua, saya akan menggambarkan bagaimana riwayat hidup Bung Karno, dari masa kecil hingga tua. Ketiga, saya akan membawa pembaca pada inti dari apa yang ingin saya sampaikan dalam buku ini, yaitu konsep NASAKOM menurut Bung Karno. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian itu, saya berharap akan muncul uraian mengenai apa yang dipahami oleh Bung Karno tentang nasionalisme, Islam, dan Komunisme. Lalu penting pula untuk mengetahui latarbelakang, baik objektif maupun subjektif, kenapa Bung Karno menawarkan konsep NASAKOM. Tesis saya adalah: karena Bung Karno anti-imperialis, atau setiadaknya Bung Karno adalah orang yang mendefinisikan atau menyandarkan eksistensinya dengan cara menempatkan diri sebagai orang besar—dan untuk menjadi besar ia harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat (rakyat), kebutuhan rakyat adalah melawan imperialisme. Makanya, Bung Karno akan tetap dikenang rakyat karena kebesarannya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tabik! Dan selamat membaca!&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;-------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-4779956435223524291?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/4779956435223524291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=4779956435223524291' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4779956435223524291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4779956435223524291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/pengantar-penulis-dari-buku-bung-karno.html' title='Pengantar Penulis, dari buku BUNG KARNO DAN NASAKOM:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRVQ6SRcYRI/AAAAAAAAAlk/1wwhsNz9fwk/s72-c/bung+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-2823075991747046457</id><published>2008-11-07T19:34:00.000-08:00</published><updated>2008-11-07T19:49:20.740-08:00</updated><title type='text'>Catatan:</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;em&gt;Coretan Tentang Hujan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari kau berjumpa dengan hujan.&lt;br /&gt;Engkau m&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRUK2KIiepI/AAAAAAAAAkM/83_FPPUqnAE/s1600-h/hujan-.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266127264829045394" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 113px; CURSOR: hand; HEIGHT: 117px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRUK2KIiepI/AAAAAAAAAkM/83_FPPUqnAE/s400/hujan-.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;engembara dan mengembara lagi. Lalu kau mampir ke kota itu dan setelah berencana tinggal selama sebulan untuk menuntaskan sebuah gundah, maka kau jumpai lagi hujan lebat selalu turun di suatu sore. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Engkau tinggal di sebuah kamar lantai dua di mana di depan kamarmu terdapat pohon mangga yang waktu itu berbuah lebat. Saat hujan angin suatu sore, beberapa di antaranya rontok. Engkau mendengarnya dari dalam kamar, karena kaupun tak bisa keluar menembus hujan lebat, untuk sekedar membeli makanan atau menjumpai sahabat-sahabatmu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;“Ini memang musim hujan, dan kita tampaknya akan menerima cuaca ini hingga bulan Desember atau Januari tahun depan”, begitulah kau katakan padaku suatu malam saat hujan telah tuntas tetapi jalanan basah. Waktu itu kita sedang berbincang di tepi jalan, di sebuah warung kecil di mana ibu penjualnya memberimu kopi terbaik di kota itu.&lt;br /&gt;“Iya, tadi aku hanya bisa berdehem di kamar. Hujan lebat. Beberapa buah mangga jatuh di depan kamarku. Entah siapa yang memungutnya kemudian... “. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Menerima hujan yang lebat, kadang aku memang merasa nyaman. Karena seperti ada yang mencurahkan air dari atas, jadi seakan ada yang melindungi kita di atas sana, yang seakan selalu memberi. Menerima air hujan juga mengingat kembali musim yang lalu. Aku dibawa masuk menuju kenangan dalam lorong kamarku yang bolong bagian atapnya&lt;br /&gt;Kupandang senja dari balik jendela, bingkai rindu yang seperti membatasi cuaca. Kemarin lusa kuterima massage dari seorang kawan di Jakarta: “Sini juga hujan lebat Kawan… bahkan aku takut banjir akan dating lagi”. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku harus kembali mengingat kenangan itu dari jendela kamarku, saat hujan. Kamarku terletak di lantai dua berhadapan dengan jalan, di depannya ada dua pohon mangga yang berbuah. Aku tidak memetiknya karena musim hujan membuat kita malas untuk makan buah-buahan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kamar ini memudahkan aku memungut kenangan, dari jendela. Di luar seakan terlihat Bundaran Hotel Indo&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRUL5CERFdI/AAAAAAAAAkc/Sn0qnjtzKos/s1600-h/hujannn.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266128413714879954" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 99px; CURSOR: hand; HEIGHT: 122px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRUL5CERFdI/AAAAAAAAAkc/Sn0qnjtzKos/s400/hujannn.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;nesia, yang pernah bergelantung di pintu bus bersama kepala berkeringat. Hari ini seperti terlempar ke luar dari pintu jendela kamar. Seakan masih ada poster di dindingnya memuat seruan “Bentuk Pemerintahan Sementara!” Jalanan sana mengingatkan kembali:&lt;br /&gt;Dalam keadaan tubuhmu yang berkeringat, kau boleh terjun di air kolam yang dicintai pancuran dengan terpaksa. Setelah lelah mengitari jalan bulat,&lt;br /&gt;Seperti dapat mengelilingi dunia dengan cara yang cepat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Air adalah bagian kehidupan yang paling kucintai, katamu suatu senja.&lt;br /&gt;Lalu kau menceritakan bahwa lebih baik banjir dari pada kebakaran hutan.&lt;br /&gt;Dan aku memilih bukan kedua-duanya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kadang hidup ini dapat kita sentuh bila kita menikmati salah satu bagiannya, balasmu.&lt;br /&gt;Aku setuju, seperti senja sore itu, ketika dunia dihimpit oleh siang dan malam, jalan-jalan Jakarta berada dalam dunia kecilnya yang paling molek.&lt;br /&gt;Malamnya batas hidup dan mati begitu tipis,&lt;br /&gt;dunia begitu sesak seperti uang receh yang jatuh dalam seguci tuak.&lt;br /&gt;Karena mereka membakar dirinya sendiri, balasmu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jadi kau lupa&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRULx0IAtCI/AAAAAAAAAkU/GFuMo0Ijbt8/s1600-h/hujan--.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266128289713402914" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 127px; CURSOR: hand; HEIGHT: 95px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRULx0IAtCI/AAAAAAAAAkU/GFuMo0Ijbt8/s400/hujan--.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; bahwa airpun juga bisa membakar tubuh dan jiwa manusia, seperti di banyak diskotik dan pub kota ini. Banyak momen yang membuat air membuat tubuh dan hati manusia perih.&lt;br /&gt;Bukankah kita juga pernah terkena gas air mata, tukasku.&lt;br /&gt;Lalu mulai hari itu, 22 Mei 1998, kau mencatat aristoteles.&lt;br /&gt;Dunia bukan hanya terbuat dari air, tetapi juga tanah, udara, dan api. Dunia juga terbuat dari benci dan cinta, spanduk milik demonstran dan tank-tank baja milik tentara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Juga bukan hanya api yang membakar bisa menghanguskan gedung-gedung kota kita, tapi sebuah misteri yang hingga saat ini masih kita cari.&lt;br /&gt;Lalu kita mengakhiri diskusi menjelang maghrib, meninggalkan sisa-sisa nasi bungkus berlebih dan berceceran di taman-taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sore ini hujan turun lagi, begitu lebat.&lt;br /&gt;Memang ini baru awal musim.&lt;br /&gt;Kau ingat 2&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRUKrlx5iJI/AAAAAAAAAkE/rxWjTVIzfW8/s1600-h/hujan.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266127083271719058" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 99px; CURSOR: hand; HEIGHT: 124px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRUKrlx5iJI/AAAAAAAAAkE/rxWjTVIzfW8/s400/hujan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;7 Juni 2004, waktu hujan belum juga tiba?&lt;br /&gt;Kali ini engkau benar, Kawan. Bagian kehidupan yang paling layak dicintai adalah air, yang dapat menyegarkan perasaanku hari ini. Karena aku juga membayangkan seorang perempuan cantik di kejauhan sana sedang berbaring, baru saja ia berkata padaku melalui telfon: “Sayang, hujan-hujan kayak gini enaknya tidur. Dan kapan kau kembali? Tak perlu menunggu pergantian musim, bukan?”… &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;----------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-2823075991747046457?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/2823075991747046457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=2823075991747046457' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2823075991747046457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2823075991747046457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/catatan.html' title='Catatan:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRUK2KIiepI/AAAAAAAAAkM/83_FPPUqnAE/s72-c/hujan-.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-1976370297203657908</id><published>2008-11-06T20:48:00.000-08:00</published><updated>2008-11-06T20:59:37.608-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPJCeHXwYI/AAAAAAAAAj8/gltvk4B_pts/s1600-h/cover_NEO-IMPERIALISME+AS.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265773433607143810" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 356px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPJCeHXwYI/AAAAAAAAAj8/gltvk4B_pts/s400/cover_NEO-IMPERIALISME+AS.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-1976370297203657908?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/1976370297203657908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=1976370297203657908' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/1976370297203657908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/1976370297203657908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/blog-post.html' title=''/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPJCeHXwYI/AAAAAAAAAj8/gltvk4B_pts/s72-c/cover_NEO-IMPERIALISME+AS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-2597606593557954735</id><published>2008-11-06T20:39:00.000-08:00</published><updated>2008-11-06T20:48:23.884-08:00</updated><title type='text'>::Resensi Buku Noam Chomsky::</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Merekayasa Sejarah (’Historical Engineering’) &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;untuk Membangun Imperialisme AS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Oleh: Nurani Soyomukti, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;sarjana Ilmu Hubungan Internasional; pekerja buku dan perawat TABUR (Taman Belajar untuk Rakyat) di sebuah daerah pinggiran Jawa Timur; penulis buku ”Bung Karno dan NASAKOM” (Garasi Book, Yogyakarta—September 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku: &lt;em&gt;Neo-Imperialisme Amerika Serikat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Noam Chomsky&lt;br /&gt;Penerbit: Resist Book, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan: Pertama, November 2008&lt;br /&gt;Tebal: xxiii + 238 halaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seo&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPHkRPcWyI/AAAAAAAAAj0/L8cxlGN48hE/s1600-h/chomsky_chavez.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265771815243635490" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 131px; CURSOR: hand; HEIGHT: 93px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPHkRPcWyI/AAAAAAAAAj0/L8cxlGN48hE/s400/chomsky_chavez.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;rang intelektual yang kritis terhadap pemerintahannya (Amerika Serikat/AS), nama Noam Chomsky tak mungkin dapat dilupakan oleh banyak pihak. Bahkan di milenium baru ini namanya semakin melejit dan kontroversial ketika suatu kali dalam sidang di PBB, Presiden Venezuela Hugo Chavez mengangkat salah satu karya Chomsky dan menganjurkan pada hadirin di sidang itu untuk membaca karya Chomsky. Apalagi maksud Chavez kalau bukan untuk menunjukkan bahwa berbagai tindakan AS di dunia layak untuk menyebut negara besar ini sebagai negara imperialis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku Noam Chomsky berjudul ”&lt;em&gt;Neo-Imperialisme Amerika Serikat&lt;/em&gt;” ini kita mmang dibawa untuk memahami bagaimana AS melakukan dominasi imperialistiknya ke berbagai belahan dunia, yang dalam banyak hal dilakukan dengan berbagai bentuk operasi berdarah, manipulasi media, hingga melakukan hegemoni terhadap dunia intelektual-akademik.&lt;br /&gt;Ketika suatu rejim tidak mendukung kepentingan korporasi bisnis Amerika Serikat (AS), maka rejim tersebut harus dihalangi untuk membangun negara sesuai jalan yang tidak sejalan dengan kepen&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPHQfL6aRI/AAAAAAAAAjU/Oz1cUU8rMJA/s1600-h/chomsky.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265771475389540626" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 112px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPHQfL6aRI/AAAAAAAAAjU/Oz1cUU8rMJA/s400/chomsky.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;tingan AS. Pemerintah di negara tersebut harus dihambat agar upayanya untuk menyenangkan rakyatnya gagal, agar citranya di hadapan rakyatnya menurun. Tujuan akhirnya adalah agar rejim tersebut kalah dalam bercaturan politik. Tetapi dalam banyak hal, CIA harus lebih menggunakan strategi dan taktik yang komprehensif dan detail agar pemerintahan tersebut dapat disingkirkan, yang dalam fakta sejarahnya lebih banyak dilakukan melalui operasi kudeta daripada melalui aksi pemilihan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Upaya menyingkirkan rejim melalui kudeta militer, yang biasanya dimulai dengan mengkondisikan konstelasi politik suatu Negara, terjadi di berbagai Negara seperti misalnya Indonesia (penggulingan Soekarno) tahun 1966, dan Chile (penggulingan Salvador Allende) yang bersandi “Operasi Jakarta” tahun 1971, Venezuela yang menggulingkan Hugo Chavez tahun 2001 (yang akhirnya gagal), dan lain sebagainya. CIA juga mengorganisir dan membiayai pasukan paramiliter yang dipersenjatai seperti di kelompok pemberontak Contra di Nikaragua untuk melawan pemerintah Sandinista di Nikaragua—yang meskipun pemberontakan ini tak mampu merebut kekuasaan tetapi membawa efek untuk mendeligitimasi pembangunan ekonomi karena serangan Contra dan embargo AS, yang berujung pada kalahnya Sandinista dalam pemilihan umum tahun 1990. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dari tahun 1945 sampai akhir abad ke-20, Amerika Serikat mencoba menggulingkan lebih dari 40 pemerintahan asing, dan menghancurkan lebih dari 30 gerakan populis nasionalis yang berjuang melawan rezim yang tak tertahankan. Dalam prosesnya, AS telah menyebabkan kematian beberapa juta orang, dan menghukum berjuta orang lagi dengan kehidupan yang penuh penderitaan dan keputusasaan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;William Blum mendaftar sejumlah campur tangan AS berupa teror dan tindakan ilegal CIA di luar negeri, antara lain: Cina (1945-1951); Perancis (1947); Kepulauan Marshall (1946-1958); Italia (1947-1949); Yunani (1947-1949), Filipina (1945-1953); Korea ( (1945-1953); Albania (1949-1953); Eropa Timur (1948-1956); Jerman (1950-an); Iran (1953); Guatemala (1953-1990-an) Kosta-Rika (pertengahan 1950-an dan 1970-1971); Timur Tengah (1956-1958); Indonesia (1957-1958); Haiti (1959); Eropa Barat (1950-an-1960-an); Guyana (1953-1964); Irak (1959-1963); Uni Soviet (1940-an-1960-an); Vietnam (1945-1973); Kamboja (1955-173); Laos (1957-1973); Thailand (1965-1973); Ekuador (1960-1963); Kongo (1960-1965, 1977-1978); Aljazair (1960-an): Brasilia (1961-1964); Peru (1965); Republik Domini&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPHVOsiLTI/AAAAAAAAAjc/4_qd0OjkedE/s1600-h/chomsky+bendera.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265771556862307634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 137px; CURSOR: hand; HEIGHT: 95px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPHVOsiLTI/AAAAAAAAAjc/4_qd0OjkedE/s400/chomsky+bendera.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;ka (1963-1965); Kuba (1959-2001); Indonesia (1965); Ghana (1966); Uruguay (1969-1972); Chili (1964-1973); Yunani (1964-1974); Afrika Selatan (1960-an-1980-an); Bolivia (1964-1975); Australia (1972-1975); Irak (1972-1975); Portugal (1974-1976); Timor-Timur (1975-1999); Angola (1975-1980-an); Jamaika (1976); Honduras (1980-an); Filipina (1970-an-1990-an); Seychelles (1979-1981); Yaman Selatan (1979-1984); Korea Selatan (1980); Chad (1981-1982); Grenada (1979-1983); Suriname (1982-1984); Libya (1981-1989); Fiji (1987); Panama (1989); Afghanistan (1979-1992); El Salvador (1980-1992); Haiti (19987-1994); Bulgaria (1990-1991); Albania (1991-1992); Somalia (1993); Irak (1990-an hingga 2001); Peru (1990-an hingga 2001); Meksiko (1990-an hingga 2001); Kolumbia (1990-an hingga 2001); Yugoslavia (1995-hingga sekarang). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada sebagian kecil alasan operasi CIA lebih banyak didasari kepentingan bisnis orang-orang yang punya jalur dalam lembaga intelijen ini, dapat ditarik pesan bahwa kepentingan ekonomi sebagai penggerak proyek “imperialisme yang menyebarkan mata-mata” (spying imperialism) tak dapat disangkal lagi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita tak dapat mengabaikan analisa Chomsky terhadap media sebagai bagian dari upaya AS mencapai tujuannya—atau apa yang disebut Chomsky sebagai upaya “merekayasa sejarah” (historical engineering). &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Teori media Chomsky membawanya pada upaya menyibat peran-peran tersembunyi CIA di Negara-negara Ketiga yang diiringi berbagai tindakan kejam tetapi membuat media menutup-nutupinya. Apalagi sebabnya jika CIA dengan agen-agennya bertujuan menutup-nutupi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah fasis Negara-negara “client” AS, yang operasi kekera&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPG3dE1gyI/AAAAAAAAAjM/PJb0a0pFveE/s1600-h/chomnsky+washington+post.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265771045326258978" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 126px; CURSOR: hand; HEIGHT: 96px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPG3dE1gyI/AAAAAAAAAjM/PJb0a0pFveE/s400/chomnsky+washington+post.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;sannya juga tak jarang melibarkan CIA. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Chomsky mengamati media terlibat dalam “merekayasa sejarah” (historical engineering) ketika ia melihat bagaim&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;ana CIA dengan orang-orangnya mengendalikan media AS dalam kasus kekerasan dan konflik di Amerika Tengah (yang melibarkan Nikaragua, Honduras, El Salvador, dan Costa Rica). Media yang dikontrol CIA telah secara intensif terlibat dalam proyek CIA yang berfokus untuk melakukan tinakan untuk melakukan “pengiblisan kaum Sandinista” (demonizing Sandinista) serta untuk membela Negara-negara terror ciptaan Washington (hlm. 77-87). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Secara gambling Chomsky menguraikan bahwa, media telah melakukan serangan yang massif untuk menyerang—kadang memfitnah—kekuatan Sandinista yang telah memenangkan pemilu demokratis. Sedangkan kejahatan-kejahatan kelompok gerilyawan Contra bentukan CIA yang telah banyak melakukan sabotase dan pembunuhan sama sekali tak diberitakan media.&lt;br /&gt;Pada saat Duta Besar Nikaragua untuk PBB Nora Astorga melaporkan ada 275 penerbangan suplai dan pengintaian sejak 7 Agustus 1987 sampai dengan 3 November, di mana AS secara nyata-nyata melanggar kesepakatan PBB tentang konflik di Nikaragua dalam kaitannya dengan kelompok Kontra yang berbasis di Honduras, tak ada media AS yang memuat dugaan yang kebenarannya tak terbantahkan itu. “Dengan cara-cara seperti itu, media berhasil melayani tujuan Washington” yang bertujuan untuk melanggar kesepakatan Esquipalas yang berisi “penghentian bantuan terhadap kekuatan-kekuatan pengacau atau gerakan-gerakan pemberontak” dan “tak boleh menggunakan wilayah itu untuk menyerang Negara-negara lain”.&lt;br /&gt;Media juga menutup-nutupi Negara-negara antek AS yang melakukan tindakan keji seperti pembunuhan massal terhadap tokoh-tokoh Katolik dan aktivis rakyat di El Salvador. Kelompok-kelompok dan lembaga HAM yang melaporkan kekejaman pemerintahan fasis-kapitalis agar menjadi berita yang dapat mempengaruhi opini dunia tentang apa yang sebenarnya terjadi, justru tak ditanggapi oleh media AS dan media di Negara fasis tersebut.&lt;br /&gt;Demikian juga di Guatemala. Atas nama untuk memberangus gerakan rakyat Kiri, AS telah lama mendukung apapun yang dilakukan oleh pemerintah militer fasis yang menjadi kliennya. Rejim anti-demokrasi yang dilindungi AS benar-benar membabi buta, sejalan dengan perang As melawan kelompok yang menentang rejim itu yang dianggap komunis. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada bulan September 1987, Komisi Inter-Amerika OAS (Organization of American States/Organisasi Negara-negara Amerika) untuk Hak Asasi Manusia mengeluarkan suatu laporan yang mencatat sebuah “kemerosotan yang nyata dalam capaian-capaian hak asasi manusia” di Guatemala, dan mengungkap suatu keprihatinan terhadap “dimulainya lagi metode-metode dan sistem-sistem pelenyapan individu secara massif dan munculnya kembali pasukan-pasukan pembunuh yang mematikan”. Komisi untuk Pembelaan Hak-hak Asasi Manusia di Amerika Tengah yang bermarkas di Kosta Rika melaporkan kepada PBB pada bulan November mengenai terus berlanjutnya terror yang dilakukan oleh dinas-dinas keamanan dan pasukan-pasukan pembunuh Guatemala [yang didekingi—atau berhubungan dengan—CIA], serta didokumentasikan sekitar 75 kasus penculikan, penghilangan dan pembunuhan sejak dari 8 Agustus sampai dengan 17 November 1987, selain juga serangan granat, pelemparan bom ke gereja, dan lain-lain. Komisi Hak-hak Asasi Manusia Guatemala telah mencatat 334 eksekusi tanpa pengadilan dan tujuhpuluh tiga penghilangan orang dalam sembilan bulan pertama tahun 1987. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi karena media telah dikendalikan oleh CIA, jadinya hanya kecil sekali fakta-fakta tersebut yang dinikmati oleh pembaca-pembaca AS dan masyarakat dunia. Analisa terhadap media-media AS tentang pelanggaran HAM oleh Negara-negara klien AS yang membantai rakyatnya itu didapatkan hasil seperti ini: “Selama enam bulan pertama setelah penandatanganan kesepakatan, tak satupun artikel mengenai kasus Guatemala yang dimuat di New York Time [media andalan CIA!], dan nyaris tak ada satupun dimuat dalam media utama AS lainnya”, demikian hasil penemuan yang disampaikan oleh seorang perempuan ahli Amerika Latin Susannhe Jonas. Dalam sebuah ulasan mengenai media yang terdiri dari Times, Christian Science Monitor, Miami Herald, dan Wall Street Journal sejak dari Oktober 1987 sampai dengan Maret 1988, Alexander Cockburn menemukan sedikit komentar mengenai Guatemala dan tak ada satupun yang menyebutkan semakin meningkatnya keker&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPHfc5_oHI/AAAAAAAAAjs/lBrlLRwmJqM/s1600-h/chomsky+irak.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265771732475551858" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 104px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPHfc5_oHI/AAAAAAAAAjs/lBrlLRwmJqM/s400/chomsky+irak.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;asan politik sepanjang bulan November (hlm. 99). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ketika kekejaman-kejaman pemerintah klien-AS kian meningkat pada bulan Desember hingga Januari, ada dua berita mengenai Guatemala dalam suratkabar-suratkabar yang diulas itu, keduanya sama-sama dimuat di Monitor dan sama-sama memperbincangkan pelanggaran hak-asasi manusia. Ketika menggabungkan catatan-catatan berita dari semua surat kabar yang diulas sepanjang periode tersebut, kata Cockburn, “hanya ada dua berita kritis untuk setiap 154 hari kejadian di Guatemala di Koran-koran paling berpengaruh di AS” (hlm. 100). &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itulah yang dinamakan Chomsky sebagai aksi “penyaringan” berita di mana kepentingan kekuasaan selalu yang lolos. Apalagi jika kerja penyaringan untuk menghasilkan media yang berpihak pada kekuasaan itu dikendalikan oleh kekuatan rahasia yang cara kerja(kotor)nya tak diketahui public, bertahanlah anggapan bahwa media adalah kekuatan demokrasi yang bertugas memberikan informasi pada masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada kasus lagi yang lebih menyakitkan bagi mereka yang menginginkan kebenaran dan kebebasan informasi. Pada tahun 2007 lalu tersebar berita bahwa CIA telah mengubah sejumlah informasi di situs eksiklopedi online terbesar dan cuma-cuma, Wikipedia. Selain CIA, Vatikan, dan BBC juga dituding menjalankan praktik yang sama. Wikipedia Scanner juga mengindentifikasi Departemen Pertahanan Australia 5.000 kali lebih mengubah materi dalam situs Wikipedia. Wikipedia Scnanner dapat dengan mudah mengenali setiap pengubah informasi. Perangkat pelacakan ini memperlihatkan CIA mengubah data tentang Iran.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Entah apalagi yang akan dilakukan CIA terhadap media untuk melancarkan kegiatan mata-matanya. Cara-cara kotor semacam itu tentu tak diinginkan oleh masyarakat dimanapun. Pemerintah AS juga perlu malu karena operasi-operasinya yang kejam dan karbitan telah banyak diketahui oleh berbagai pihak. [] &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;-------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; “Intelijen Getol Ubah Data Wikipedia”, dalam &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita,Intelijen-Getol-Ubah-Data-Wikipedia-682.html"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita,Intelijen-Getol-Ubah-Data-Wikipedia-682.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-2597606593557954735?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/2597606593557954735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=2597606593557954735' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2597606593557954735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2597606593557954735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/11/resensi-buku-noam-chomsky.html' title='::Resensi Buku Noam Chomsky::'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SRPHkRPcWyI/AAAAAAAAAj0/L8cxlGN48hE/s72-c/chomsky_chavez.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-5298739558409179075</id><published>2008-10-22T22:36:00.000-07:00</published><updated>2008-10-22T22:41:10.848-07:00</updated><title type='text'>Dimuat di RADAR SURABAYA, Kamis 23 Oktober 2008:</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Warisan Multikulturalisme untuk Kaum Muda&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Nurani Soyomukti, &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Juara Umum I Lomba Esai Pemuda Menteri Pemuda dan Olahraga 2007&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan tonggak sejarah yang penting bagi bangsa kita. Identitas kebangsaan telah didefinisikan dengan semangat untuk menyatukan masyarakat yang terdiri dari berbagai macam kultur ke dalam suatu identitas kebangsaan baru. Penyatuan ini membawa dampak politik bagi penguatan perjuangan melawan penjajahan. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SQAN-sZdfEI/AAAAAAAAAg0/cTP7OlMtDdU/s1600-h/kaum_.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260219735489739842" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 143px; CURSOR: hand; HEIGHT: 107px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SQAN-sZdfEI/AAAAAAAAAg0/cTP7OlMtDdU/s400/kaum_.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Nasionalisme ditegakkan pada saat itu, menjadi suatu kekuatan yang menggerakkan seluruh rakyat untuk menggapai Indonesia baru yang berdaulat, adil, dan makmur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sejak 61 tahun merdeka, wajah kehidupan multikultural kita masih carut-marut. Selalu ada saja isu yang menyebabkan berbagai kelompok sosial merespon situasi dengan cara memaksakan pandangannya yang kadang tidak objektif. Pemaksaan cara pandang juga dilakukan dengan gerakan massa dan militeristik. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sudah amat nyata bahwa ketika isu terorisme dan kenyataan merebaknya konflik kekerasan atas nama agama telah menjadi keresahan sejak lama di masyarakat, banyak catatan tambahan yang bias digunakan untuk mengatakan bahwa tahun ini kehidupan keberagamaan juga belum juga membaik. Berbagai gejolak sosial seperti aksi-aksi rasial sebagian kelompok masyarakat menunjukkan bahwa perjalanan kebudayaan Indonesia tidak sedang maju ke arah perbaikan. Terbukannya ruang demokrasi sejak tahun 1998 seharusnya dapat memajukan proses pembudayaan bangsa kita, tetapi pada kenyataannya ketimpangan ideologis senantiasa lahir, konflik pun seakan menjadi sahabat erat kita. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Khususnya bagi Negara kita Indonesia, multikulturalisme bukan hanya statemen tentang fakta, tetapi ia juga merupakan nilai. Fakta adalah realitas yang kita terima dengan cara mengobjektifkan apa yang ada. Nilai lahir dari interaksi antar individu dan antar komunitas, memiliki sejarah materialnya. Multikulturalisme mengakui keberadaan komunitas yang berbeda, tetapi yang paling penting adalah menggali nilai-nilai positif bagi identitas kolektif yang hidup berdampingan. Setiap komunitas budaya, etnik (suku), agama, dan bentuk komunitas apapun dapat menegaskan keberadaannya, tetapi dapat berpartisipasi secara adil dan memenuhi kebutuhan hidup secara bersama-sana. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pada hal, keniscayaan perbedaan itu sebenarnya dimaksudkan agar manusia saling mengenal, mengetahui satu sama lain. Adalah suatu hal yang natural bahwa kegiatan mencari tahu pertama-tama disebabkan oleh adanya rasa penasaran (anxious) ketika seseorang menghadapi kontradiksi, permasalahan, atau perbedaan. Sehingga, dalam kondisi kestabilan, kesamaan, dan tiadanya keu&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SQAN66STF9I/AAAAAAAAAgs/UcOhFKrzEHc/s1600-h/kaum+mu.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260219670498318290" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 84px; CURSOR: hand; HEIGHT: 127px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SQAN66STF9I/AAAAAAAAAgs/UcOhFKrzEHc/s400/kaum+mu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;nikan manusia tidak mungkin ingin mengetahui. Dan karena perbedaan dan kontradiksi, yang dijawab dengan kegiatan mencari tahu tersebut sejarah peradaban menjadi maju, bahkan progresif dalam epos sejarah tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Perubahanpun adalah sunatullah. Artinya, perbedaan dan kemajuan adalah suatu hal yang tak pernah dapat dipisahkan. Dan karena perbedaan tersebutlah sejarah kemajuan dapat dijawab bersama-sama oleh perbedaan. Kemajuan yang dilandasi keadilan dan penghargaan adalah kata kunci bagi terciptanya masyarakat multikultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ancaman Keragaman dan Kesejahteraan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang apatis, dan mereka mulai berpikir relativistik. Pada hal ketika budaya dan makna keberagamaan adalah proses yang dinamis yang tidak independen dari perkembangan material sejarah, seharusnya relativisme tidak sanggup berbicara karena di antara keberagaman itu masing-masing dapat bertemu dalam penguniversalan yaitu dalam menjawab permasalahan-permasalahan pokok yang dihadapi secara bersama dalam kehidupan ini. Letaknya ternyata ada di ranah material, kenyataan sehari-hari, kesulitan-kesulitan hidup yang jawabannya juga berupa tindakan konkrit. Semua budaya dan agama, dewasa ini, berhadapan dengan suatu kontradiksi pokok yang sifatnya tidak lagi relatif, tetapi universal karena berkaitan dengan bagaimana globalisasi kapitalis (sebagai kontradiksi besar) telah membagi-bagi dan mendisintegrasi masyarakat dalam ketimpangan ekonomi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dan masalah kesejahteraan ini sangat penting karena kenyamanan utama dalam hidup disediakan oleh syarat-syarat material-ekonomis yang harus dipenuhi oleh pemerintah sebagaimana dijamin UUD 1945 kita. Inilah pekerjaan berat yang harus dijawab bersama-sama. Abdulaziz Sachedina dalam bukunya &lt;em&gt;The Islamic Roots of Democratic Pluralism&lt;/em&gt; (2001), juga menyatakan, bahwa pengakuan terhadap pluralisme agama dalam sebuah komunitas sosial menjanjikan dikedepankannya prinsip inklusivitas (keterbukaan), suatu prinsip yang mengutamakan akomodasi dan bukan konflik di antara mereka. Sebab, pada dasarnya masing-masing agama mempunyai berbagai klaim kebenaran yang ingin ditegakkan terus, sedangkan realitas masyarakat yang ada terbukti heterogen secara kultural dan religius.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Oleh karena itu, inklusivitas menjadi penting sebagai jalan menuju tumbuhnya kepekaan terhadap berbagai kemungkinan unik yang bisa memperkaya usaha manusia dalam mencari kesejahteraan spiritual dan moral. Dalam ajaran Islam, misalnya, realitas pluralitas yang bisa mendorong ke arah kerja sama dan keterbukaan itu, secara jelas telah diserukan oleh Allah Swt dalam QS. Al-Hujurat ayat 14. Dalam ayat itu, tercermin bahwa pluralitas adalah sebuah kebijakan Tuhan agar manusia saling mengenal dan membuka diri untuk bekerja sama. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas nampak, bahwa pluralisme sangatlah jauh dari relativisme dan sinkretisme. Justru dengan spirit pluralisme itu, kerjasama kemanusiaan dan komitmen untuk menolong saudara ki&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SQAN3RuMoyI/AAAAAAAAAgk/J6occYwbByU/s1600-h/kaum.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260219608069874466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 117px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SQAN3RuMoyI/AAAAAAAAAgk/J6occYwbByU/s400/kaum.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;ta yang papa lebih mudah untuk diwujudkan. Terlebih lagi, umat beragama sekarang hidup dalam sebuah universal citizenships yang melampaui batas-batas wilayah, suku, agama, dan warna kulit. Oleh karenanya, jika ada sebuah agama yang menjadi mayoritas di sebuah negara, bisa jadi ia menjadi minoritas di negara lainnya. Tetapi masalah kesejahteraan adalah yang harus dijawab. Penghormatan akan keberagamaan tidak akan memiliki landasan sejarahnya jika tidak dibangun berdasarkan keadilan dalam memenuhi penghidupan yang layak, apalagi pendidikan sebagai aktivitas pencerahan akan memperluas wawasan manusia sehingga batas-batas semu kelompok dapat dihilangkan.*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-5298739558409179075?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/5298739558409179075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=5298739558409179075' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5298739558409179075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5298739558409179075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/10/dimuat-di-radar-surabaya-kamis-23.html' title='Dimuat di RADAR SURABAYA, Kamis 23 Oktober 2008:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SQAN-sZdfEI/AAAAAAAAAg0/cTP7OlMtDdU/s72-c/kaum_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-1903560067711749663</id><published>2008-09-29T18:48:00.001-07:00</published><updated>2008-09-29T18:54:40.316-07:00</updated><title type='text'>Renungan Hari Lebaran:</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:28;"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;Menjadi  Manusia &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:28;"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;Fitri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"  style="font-size:130%;"&gt;Oleh: Nurani Soyomukti&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h1 class="western" style="margin-top: 0cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt; &lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt; Di tengah-tengah berbagai macam kejadian sosial dan kemiskinan, banyak manusia yang telah terjerumus ke dalam kubang kekotoran Jiwa. Bulan puasa dimaksudkan untuk menempa semangat kemanusiaan agar manusia (muslim) dapat mengembalikan watak kebinatangannnya, makhluk  yang tak hanya mengejar suatu untuk memuaskan tubuhnya. Dengan puasa kita diharapkan menjadi insan yang peduli dan yang berbuat untuk menciptakan tatanan yang adil dan makmur, menghilangkan kemiskinan dan ketimpangan yang ada. Karena, kemiskinan dan ketimpangan adalah sumber dari terciptanya jiwa-jiwa dan mental yang rusak. Orang mencuri, menjadi pelacur, membunuh karena tertekan secara ekonomi dan bukan karena  mereka ingin (atau bercita-cita)  menjadi orang-orang yang seringkali disebut “sampah masyarakat” itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;Maka, setelah dalam bulan puasa kita ditempa, kini kita akan memasuki bulan yang suci dan fitri di mana kita akan menemukan kembali jiwa kita yang bersih. Bersih dalam arti bebas dari semangat dan bawaan watak jahat, korup, dan menjadi peduli dengan dunia kita, bersikap solider terhadap sesama, dan yang lebih penting menjadi insan yang siap berbuat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SOGFwYE_PEI/AAAAAAAAAgU/351dLfhJpKA/s1600-h/kupatt.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SOGFwYE_PEI/AAAAAAAAAgU/351dLfhJpKA/s400/kupatt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251625706634296386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt; untuk kebaikan. Di h&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;ari Idul Fitri kita diharapkan menjadi ‘manusia dalam sebaik-baiknya bentuk” (fiaahsani taqwim). Dalam  Al Qur’an ditegaskan: &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Manusia itu telah Kami jadikan dalam bentuk yang sebaik-baiknya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;”  &lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;(Q.S. 95: 4).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;Tentu saja, kondisi “sebaik-baiknya bentuk” itu bukanlah suatu hasil yang telah ditetapkan atau dibawa sejak lahir, tetapi merupakan suatu proses dan kualitas untuk melihat bagaimanakah sikap dan tindakan kita di tengah-tengah hubungan antar manusia. Kondisi kualitatif tersebut dihasilkan dari dialektika iman, alam, praksis—nilai-nilai kemanusiaan universal. Artinya, ‘fi ahsani taqwin’ lebih sebagai cita-cita dari pada realitas manusia yang pada kenyataannya (terutama karena bentukan sistem sosioal) lebih mengikuti dorongan instink dari pada kesadaran seba&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;gai mahkluk Tuhan yang sempurna. Tanpa semangat perlindung-an dan penghargaan terhadap nilai-nilai  iman dan praksis (perbuatan kebaikan secara sosial) itu manusia akan terl&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;empar dari posisi tinggi dan mulia tadi, justru akan dikembalikan derajadnya serendah-rendahnya, menjadi “binatang” dan “benda”: “&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Kemudian kami jatuhkan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Terkecuali orang-orang yang beriman dan orang-orang yang banyak berbuat kebajikan&lt;/i&gt;” (Q.S. 95: 5-5).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kenapa agama Islam  dipercaya sebagai jawaban bagi persoalan-persoalan sosial di masyarakat? &lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;Kenapa agama Islam mencita-citakan  manusia sebagai mahkluk yang sempurna (manusia= &lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;‘fi ahsani taqwim’&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;)?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;" lang="pt-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Kalau manusia percaya pada Islam, kalau manusia benar-benar takut dosa dan memuja kebajikan spiritual, maka mereka harus percaya bahwa Islam adalah agama yang benar dalam artian bahwa ia mengidealkan sistem dan hubungan sosial yang kondusif dan memungkinkan spesies seperti kita ini benar-benar jadi mahkluk yang sempurna. Sehingga, jangan mengaku kita orang yang beriman kalau kita tidak mau menggagas perubahan demi sistem sosial yang menje-laskan eksistensi kita sebagai manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;Kalau kita mempelajari kandungan Al-Qur’an, maka akan jelas bahwa Islam diturunkan melalui nabi Muhammad untuk merombak sistem sosial yang pro-penindasan.  Akan tetapi, sampai saat ini, terutama di masyarakat kita, agama justru menjadi bahan tertawaan dan permainan yang menjauhkan manusia dari penyucian diri dari keseimbang-an alamiah dan ilahiahnya. Kalau ngomong Islam, agama yang d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SOGF2yH4y0I/AAAAAAAAAgc/3rgu-v-lwLw/s1600-h/kupattt.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SOGF2yH4y0I/AAAAAAAAAgc/3rgu-v-lwLw/s400/kupattt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251625816704994114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;ikenal sekarang justru hadir menjadi wajah ritual rutin, yang jangkauannya pada wilayah spiritual-mitologik semata, bukan wajah agama Islam sebagai penyelamat, pembela dan penyelenggara keadilan. Selama berabad-abad, umat Islam dan peradaban seperti kehilangan spirit religius-nya yang asli, yakni spirit keadilan. Keadilan dan kebajikan (“al-‘adl wa al’ahsan”): “&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Sungguh, Allah mencintai keadilan dan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;kebaikan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;” (Q.S. 16:91).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;" lang="pt-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Kelahiran, Kefitrian, dan Keadilan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;" lang="pt-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Setiap kelahiran sebenarnya adalah potensi bagi kebajikan. Ketika seorang bayi lahir, ia bersih suci, murni, karena belum dibentuk oleh struktur sosial yang ada. Keburukan situasi sosial akan mencemari perkembangan bayi tersebut. Jadi, perjuangan untuk menciptakan situasi sosial yang kondusif bagi kemanusiaan adalah tugas sejarah yang diakui dan dianjurkan sebagai kewajiban ajaran semua agama, termasuk Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;" lang="pt-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Sesungguhnya  yang dimaksud dengan “manusia” adalah suatu konsep yang belum final kalau hanya ditinjau dari kondisi materinya. Kalau dipahami dari kenyataan bahwa ia memiliki logika biologis, memiliki kebutuhan-kebutuhan, pada dasarnya karakteristik itu juga dimiliki oleh binatang, bahkan tumbuhan. Sepanjang diamati berdasarkan bagaimana ia makan-minum, kegiatan seksual, adanya kebutuhan-kebutuhan dan kesenangan-kesenangan, maka watak ini juga dimiliki oleh binatang. Hakekat manusia adalah makhluk yang  sadar akan lingkungannya. Ini bisa ditempuh dengan menggunakan kapasitas hati dan pikiran untuk berpengetahuan. Dunia adalah taman firdaus dengan hati dan pikiran sebagai pintu gerbangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;Ketika masyarakat baru  lahir, masyarakat lama ditinggalkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bayi baru telah lahir, mungkin mengorbankan banyak hal. Ibu bisa berdarah-darah (dan bahkan dijemput kematian), tetapi Ibu bisa sehat dan selamat atas kelahiran anaknya. Kelahiran adalah hasil dari pemberontakan. Darah lahir karena bertabrakan antara cita-cita baru dengan keinginan lama. Pengetahuan lama yang konservatif menginginkan kebodohan, pengetahuan baru menginginkan cita-cita mulia yang menaungi masa depan umat manusia. Pengetahuan baru yang objektif membawa pencerahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ketika lahir di dunia manusia berada dalam keadaan bersih, tak ternoda, tak berdosa, putih kosong tanpa tulisan serta tiada coretan: Fitri. Ketika muncul suara yang keras dan merengek-menangis,  telah ditandai munculnya sebuah kehidupan baru. Berlumur darah dan ketuban dari Ibu, telanjang tanpa  selembar kainpun. Tanpa celana, baju dan kebudayaan… tanpa koteka tanpa jas almamater tanpa mahkota dan tanpa pakaian resmi seperti para legeslatif dan majikan yang telah terlanjur jadi orang kotor.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sejak kelahirannya manusia telah ditakdirkan miskin, tapi  murni, tulus, tanpa tuntutan dan tak ternoda apalagi oportunis. Siapa dan apa yang disalahkan kemudian?: Setelah besar mereka berlagak secara vulgar di hadapan dirinya, menyangkal keabsahan dan keotentikannya, menempatkan diri sebagai makhluk hipokrit dan penipu—dan terparah lagi menciptakan jaring-jaring penindasan dan kemunafikan yang dilembagakan: Perbudakan, Feodalisme, Kapitalisme yang membuat manusia dalam perkembangannya menjadi sakit, penakut, angkuh, hipokrit, peragu, dan pengecut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;" lang="pt-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Sekarang ini, dari  watak manusia sebagai makhluk berpikir, rasio manusia dalam corak produksi yang tidak setara dan menindas pada kenyataannya hanya lebih banyak digunakan untuk “memintari” orang lain. Hubungan ekonomi penindasan akan melahirkan pola pikir, kesadaran,&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SOGFi1k4AOI/AAAAAAAAAgM/McoS1oh1wYk/s1600-h/kupat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SOGFi1k4AOI/AAAAAAAAAgM/McoS1oh1wYk/s400/kupat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251625474034499810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; dan ideologi yang melanggengkan penindasan itu.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;Pada hal datangnya Islam adalah untuk mengganti  struktur feodal di mana kaum rakyat jelata harus menghamba—bayar upeti, membudak, dan lain-lain—pada kekuasaan   yang muthlak dengan hak yang istimewa. Sementara saat ini masyarakat berkelas tersebut tergantikan oleh sistem kapitalisme yang dewasa ini mengalami tingkatnya yang lanjut. Dengan demikian pandangan Islam untuk menghapus kelas bertujuan untuk menghalangi  penumpukan harta “&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;agar kekayaan itu tidak beredar di tangan orang-orang kaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt; (Q.S. al-Hasyr : 7)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;, meskipun hak kepemilikan juga diakui berdasarkan kebaikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;Sebagai manusia yang juga berada dalam hukum dialektika dengan alam, maka pencarian-pencarian bagi proses evolusi batin menuju makhluk yang berkualitas akan diikuti dengan tantangan-tantangan baru. Dan tentunya sebagai mahkluk yang dinamis terhadap alam, manusia akan selalau bergerak menghadapi perlakuan-perlakuan yang berkontradiksi dengan dirinya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Wallahu’alam&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"  style="font-size:130%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;..........................................................................&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-1903560067711749663?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/1903560067711749663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=1903560067711749663' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/1903560067711749663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/1903560067711749663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/09/renungan-hari-lebaran.html' title='Renungan Hari Lebaran:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SOGFwYE_PEI/AAAAAAAAAgU/351dLfhJpKA/s72-c/kupatt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-7934828194785669502</id><published>2008-09-29T18:39:00.000-07:00</published><updated>2008-09-29T18:45:35.090-07:00</updated><title type='text'>Resensi Buku "DDHSB":</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a style="font-family: times new roman;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SOGD7OeOcEI/AAAAAAAAAgE/jYa4Na579uI/s1600-h/Cover_DARI+DEMONSTRASI+HINGGA+SEKS+BEBAS.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 93px; height: 158px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SOGD7OeOcEI/AAAAAAAAAgE/jYa4Na579uI/s400/Cover_DARI+DEMONSTRASI+HINGGA+SEKS+BEBAS.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251623694011101250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-family: times new roman;" href="http://djoharmanik.wordpress.com/2008/08/14/refleksi-peran-mahasiswa/" rel="bookmark" title="Tautan Tetap ke Refleksi Peran Mahasiswa"&gt;Refleksi Peran Mahasiswa&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;          &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} --&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--&gt;&lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} --&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Jauhar Mubarok&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;http://djoharmanik.wordpress.com/2008/08/14/refleksi-peran-mahasiswa/&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Judul&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;: Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas: Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;: Nurani Soyomukti&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Kata Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; : Airlangga Pribadi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Penerbit &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;: Garasi, Yogyakarta, 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Tebal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; : 182 hal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sejarah telah mencatat keterlibatan mahasiswa dalam berbagai peristiwa sosial-politik yang pernah terjadi di negeri ini. Gerakan reformasi 1998, gerakan mahasiswa 1974 yang dikemudian waktu lebih dikenal Malapetaka Januari (Malari) 1974 adalah sedikit contoh kecilnya. Mahasiswa bersama masyarakat membangun gerakan guna melakukan kritik sosial-politik kepada pemerintah. Gerakan moral sosial-politik tersebut dibangun sebagai respon atas kebijakan pemerintah yang dinilai telah jauh menyimpang dari cita-cita luhur dibentuknya negara ini; menciptakan masyarakat adil dan sejahtera. Pun ketika melihat para pejabat pemerintah telah terjebak dalam moralitas bejat; korupsi, kolusi, nepotisme, dan tidak bertindak tegas pada konglomerat jahat. Dengan berbagai aktivitas sosial, budaya, serta politik mahasiswa mencoba membenahi realitas tersebut, setidaknya memberitahukan bahwa ada yang menyeleweng dari asa negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Keterlibatan mahasiswa dalam ranah sosial-politik tidak hanya tejadi di Indonesia. Di Perancis, China, Amerika, dan negara-negara lainnya. Keterlibatan tersebut sebagai wujud, meminjam istilah Kuntowijoyo, altruisme sosial. Bukan hanya berdiri dan melihat di pinggir jalan tanpa acuh. Terlebih dalam struktur sosial mahasiswa menempati posisi cukup strategis; kelas sosial menengah. Memang tidak semua mahasiswa berangkat dari keluarga mapan, setidaknya dengan menjadi mahasiswa seseorang telah merengkuh status sosial yang tidak semua orang dapat mencapainya. Dan menjadi mahasiswa seseorang menjadi bagian dari “kaum terpelajar” yang punya peran dan tanggungjawab mengarahkan realitas, tidak hanya mengikuti arus realitas. Di sini muncul peran mahasiswa sebagai agen perubahan, &lt;em&gt;agent of change&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Potret Mahasiswa Hari Ini&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Namun seiring waktu peran sosial-politik tersebut “tidak lagi diminati”. Gambaran mahasiswa hari ini adalah agen-agen budaya populer-massa di mana kapitalisme global bersenyawa dalam membentuk budayanya. Mahasiswa hanya sibuk mengurusi pernak-pernik gaya hidup yang ditimba dari televisi dan majalah-majalah gaya hidup. Hari-hari mereka disibukkan dengan aktivitas berburu pakaian, &lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt;, sepatu, tas, serta aksesoris-aksesoris gaya hidup seri terbaru. Mereka lebih betah berada di mall-mall dan tempat-tempat belanja lainnya. Mereka lebih kerap membicarakan gosip seputar selebritis, pacar baru, produk-produk gaya hidup paling trend yang mengarah pada sikap hedonisme &lt;em&gt;tinimbang&lt;/em&gt; bercakap&lt;em&gt; &lt;/em&gt;mata kuliah atau fenomena sosial-politik yang perlu dikritik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mahasiswa sebagai &lt;em&gt;agent of change&lt;/em&gt; menjadi buah mitos masa lalu. Mahasiswa hari ini disibukkan dengan aktivitas konsumtivisme. Mall telah jadi kampus. Majalah gaya hidup menjadi diktat dan anjuran ideologi. Ada apa dengan mahasiswa hari ini?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Setidaknya demikian inti wacana yang dipaparkan penulis buku ini, Nurani Soyomukti. Meskipun menyayangkan perilaku mahasiswa yang telah kehilangan nurani altruisme sosial akibat terdistorsi oleh banalitas realitas, Soyomukti tidak berminat pada penilaian hitam-putih dengan hanya menyalahkan mahasiswa. Mahasiswa hari ini telah jadi korban dari laju kapitalisme global. Dalam buku ini Soyomukti coba menggunakan perspektif pertentangan kelasnya Marx dengan mengagungkan Psikoanalisisnya Freud dan juga mengumandangkan Cinta Universalnya Kahlil Gibran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Soyomukti melihat bahwa realitas hari ini akibat kuatnya pengaruh ruh kapitalisme global dalam melingkupi tabir kehidupan. Kapitalisme telah menjauhkan mahasiswa dari kesadaran atas realitas yang perlu dibenahi. Lewat iklan-iklan yang ditebarkan di mana-mana dan kapan saja, kapitalisme secara runut dan sistematis meneror siapa saja. Iklan-iklan tersebut mengajak manusia menjadi makhluk konsumtif yang hanya sibuk berburu gaya hidup. Kapitalisme mengiming-imingi, dengan konsumtivisme mahasiswa seolah dapat meraih eksistensi diri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sehingga tidak mengherankan bila mahasiswa asyik-masyuk dengan dunianya sendiri. Cinta universal yang seharusnya dikumandangkan dan menggerakkan harus terkalahkan oleh perasaan cinta eksklusif libidinal yang sifatnya insting bawah sadar. Hal tersebut menyebabkan tumbuhnya sikap tidak acuh dengan realitas yang semakin cadas dan beringas. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kapitalisme telah menciptakan ketimpangan sosial yang tidak sehat dan penuh kecurangan. Ketika kondisi sudah demikian, di sini mahasiswa diharapkan berjalan sesuai kerangka obyektif. Obyektif dalam artian berpikir kritis dan berpihak! Dengan berpihak pada yang tertindas dan kalah, mahasiswa bukannya berat sebelah justru mengembalikan tiang penyangga keseimbangan yang telah diambil-paksa kaum kapitalis lewat modal dan kuasa yang dimilikinya. Dengan modal dan kuasanya tersebut kapitalisme juga telah mampu menguasai pola berpikir pejabat pemerintah sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah cenderung menguntungkan kaum pemodal. Akhirnya yang terjadi masyarakat tersisihkan dan tertindas oleh sistem yang dibuat oleh “perkawinan penguasa dan pengusaha”. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Selain berbicara tentang perilaku mahasiswa hari ini yang sibuk dengan dirinya sendiri, Soyomukti juga menyayangkan perilaku mantan aktivis mahasiswa yang telah menanggalkan idealismenya karena godaan kemewahan. Hal tersebut terlihat ketika kran liberalisasi politik terjadi, para mantan aktivis itu berlomba meraih kursi kekuasaan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; dengan masuk partai politik. Mantan aktivis 98 ini melihat, bahwa partai-partai politik menjadi sarang orang-orang pragmatis dan sama sekali tidak dapat diharapkan untuk memperjuangkan rakyat. Mereka terlalu kerap jualan kecap: membohongi masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pembaca berhak menganggap tulisan Soyomukti aneh, &lt;em&gt;nyleneh, &lt;/em&gt;tidak realistis-terlalu mengawang, dan propagandis. Namun tidak ada salahnya bila pembaca curiga terhadap dirinya: jangan-jangan pola pikirnya sudah terhegemoni oleh narasi kapitalisme itu sendiri.[]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;...................................................................................... &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt; font-family: times new roman;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-7934828194785669502?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/7934828194785669502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=7934828194785669502' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7934828194785669502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7934828194785669502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/09/resensi-buku-ddhsb.html' title='Resensi Buku &quot;DDHSB&quot;:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SOGD7OeOcEI/AAAAAAAAAgE/jYa4Na579uI/s72-c/Cover_DARI+DEMONSTRASI+HINGGA+SEKS+BEBAS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-8703476862234851598</id><published>2008-09-14T20:14:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T20:28:28.361-07:00</updated><title type='text'>Suatu Petang di Taman Bungkul Surabaya, Jumat 12 Sepetember 2008:</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SM3Vfnwj3dI/AAAAAAAAAf8/1THZv1AOJ_s/s1600-h/Foto_di+Taman+Bungkul.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SM3Vfnwj3dI/AAAAAAAAAf8/1THZv1AOJ_s/s400/Foto_di+Taman+Bungkul.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246083880181816786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-8703476862234851598?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/8703476862234851598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=8703476862234851598' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/8703476862234851598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/8703476862234851598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/09/suatu-petang-di-taman-bungkul-surabaya.html' title='Suatu Petang di Taman Bungkul Surabaya, Jumat 12 Sepetember 2008:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SM3Vfnwj3dI/AAAAAAAAAf8/1THZv1AOJ_s/s72-c/Foto_di+Taman+Bungkul.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-6577284417909752472</id><published>2008-09-14T19:00:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T20:10:02.801-07:00</updated><title type='text'>Seminar di FISIP UNAIR: PEMUDA, POLITIK, DAN PEMILU (Jumat/12 September 13.00 Lantai 3 Gedung C FISIP UNAIR)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;Politisi Tua?...&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;Capek Dech!"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" lang="en-US" &gt;Oleh:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" lang="en-US" &gt;&lt;i&gt; Nurani Soyomukti&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote1sym" sdfixed=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="center" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kalau  pemuda su&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;dah berumur 21, 22 sama sekali tidak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah air dan bangsa…  pemuda yang begini lebih baik digunduli kepalanya”.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;(Pesan Bung Karno)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote2sym" sdfixed=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;Industrialisasi  kapita&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;lis tel&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;ah membuat kaum muda terilusi  dan berbondong-bondong memasuki dunia dengan aktivitas-aktivitas  (re)produktif yang mendukung kapitalisme: sejak industrialisasi yang  dicangkokkan Belanda (kapitalisme-kolonial) hingga industrialisasi  neoliberalisme yang berpilar pada kerja sector reproduktif  (kapitalisme postmodern), kaum muda selalu bangga dengan status &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;‘administratur”, “manajer”, “eksekutif muda”, “&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;event  organizer&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;”, “entertainer”, dan  lain-lain sebagainya. Mereka, yang bekerja dan menikmati  posisi/status sebagai onderdil-onderdil dari mesin kapitalisme itu  memang rata-rata berasal dari kalangan menengah ke atas.&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="center" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SM3KtNh5LYI/AAAAAAAAAf0/nQDXeojYfi4/s1600-h/Foto+Seminar+UNAIR,+Pemuda,+Politik+dan+Pemilu.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 174px; height: 183px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SM3KtNh5LYI/AAAAAAAAAf0/nQDXeojYfi4/s400/Foto+Seminar+UNAIR,+Pemuda,+Politik+dan+Pemilu.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246072019031240066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" lang="en-US" &gt;Tetapi  juga tidak sedikit—meskipun tetap kalah banyak—kaum muda yang  mau terjun di bidang politik, terutama politik kerakyatan. Semaun  memimpin organisasi rakyat (Sarekat Islam/SI Semarang) di usia 18  tahun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" lang="en-US" &gt;, para aktivis politik kerakyatan  lainnya juga masih tergolong sangat muda belia—dan ketika mereka  memimpin dan menjadi politisi atau negarawan usia mereka masihlah  sangat muda.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote3sym" sdfixed=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote3sym" sdfixed=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote3sym" sdfixed=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" lang="en-US" &gt;  Hal itu berbeda dengan kepemimpinan sekarang yang dipenuhi dengan  para kaum tua yang umurnya sudah uzur, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" lang="en-US" &gt;wajahnya memuakka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" lang="en-US" &gt;n, gairahnya  sudah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" lang="en-US" &gt; loyo, analisanya tak jelas atau istilahnya  feudal-konservatif-reaksioner.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote4sym" sdfixed=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" lang="en-US" &gt;   Tak heran jika Pramoedya Ananta Toer begitu yakin menguraikan  pandangannya melalui mulut seorang tokoh dalam novel ‘Anak Semua  Bangsa”, bahwa: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;“&lt;i&gt;Telah bersumpah kami menjadi gerakan  Angakatan muda... sebab semua percuma  toh harus diperintah oleh  angkatan tua yang bodoh dan korup tapi berkuasa,  dan harus ikut  jadi bodoh dan korup demi mempertahankan kekuasaan...  sepandai-pandainya ahli yang berada dalam kekuasaan bodoh akan ikut  jadi bodoh&lt;/i&gt;”.&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote5sym" sdfixed=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran, obsesi, keinginan, orang-orang tua itu sangat remeh…  tanggungjawabnya banyak: butuh waktu luang untuk mencari istri baru  (simpanan) lagi, butuh uang untuk membiayai istri pertama dan dan  anak-anaknya yang mulai banyak tuntutan karena kosumtif. Itulah yang  menyebabkan  politisi usia tua tak memiliki prinsip ideologis atau  program perjuangan yang maju (alternatif)—mereka korup, menawarkan  ilusi-ilusi, jual-beli suara/kursi, atau membangun budaya politik  komersial yang memang sesuai dengan tuntutan ekonomi liberal.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;Sejarah  masa lalu adalah sejarah  politik kaum muda untuk membantu kelahiran  bayi bangsa. Bung Karno, misalnya, di usianya yang muda telah berani  mengambil konsekuensi dan menyuk&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;ai jalan anti-kompromi terhadap  penjajah asing dan jijik pada elit-elit yang menjadi antek penjajah  asing. Dalam artikelnya berjudul “Sekali Lagi Tentang  Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi” dalam ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;Fikiran  Ra’jat&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;’, 1932, Bung Karno  mengatakan: &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;“’Non-kooperasi  berarti “&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;tidak mau bekerja bersama-sama”. Bagaimanakah jelasnya  hal ini?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non-kooperasi kita adalah salah satu azas-perjuangan (strijdbeginsel) kita untuk mencapai Indonesia merdeka. Di dalam perjuangan mengejar Indonesia-Merdeka itu kita harus senantiasa ingat, bahwa adalah pertentangan kebutuhan antara sana dan sini, antara kaum penjajah dan kaum yang terjajah. Memang pertentangan kebutuhan  inilah yang memberikan keyakinan pada kita, bahwa Indonesia-Merdeka tidaklah bisa dicapai, jikalau kita tak menjalankan politik non-cooperation. Memang per&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;tentangan kebutuhan inilah yang buat sebagian besar menetapkan kita punya azas-azas perjuangan yang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt; lain-lain—misalnya machtsvorming, massa-aksi, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;... maka non-kooperasi bukanlah hanya suatu azas-perjuangan ‘tidak duduk di dalam raad-raad-pertuanan’ saja. Non-kooperasi adalah suatu prinsip yang hidup, tidak mau bekerja bersama-sama di atas segala lapangan politik dengan kaum pertuanan, melainkan mengadakan suatu perjuangan yang tak kenal damai, dengan kaum pertuanan itu. Non-kooperasi tidak berhenti di luar dinding-dinding raad-raad saja, tetapi non-kooperasi adalah meliputi semua bagian-bagian daripada kita punya perjuangan &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;politik. Itulah sebabnya, maka non-kooperasi adalah berisi radikalisme—radikalisme hati, radikalisme pikiran, radikalisme sepak-terjang,  &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;Radikalisme dalam segala sikap lahir dan batin. Non-kooperasi meminta kegiatan”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote6sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SM3Em62NigI/AAAAAAAAAfk/MF-IvOy4ICw/s1600-h/Foto+SEminar+di+UNAIR_PEMUDA,+POLITIK,+DAN+PEMILU.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 162px; height: 219px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SM3Em62NigI/AAAAAAAAAfk/MF-IvOy4ICw/s400/Foto+SEminar+di+UNAIR_PEMUDA,+POLITIK,+DAN+PEMILU.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246065313867205122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;Taktik radikal ini seakan me&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;warisi semangat perlawanan para pendahulunya, seperti Sarekat Islam yang pernah &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;mencatat berbagai bentuk perjuangan radikal melalui berbagai pengorganisasian massa rakyat. Taktik yang paling penting dan membed&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;akan taktik radikal&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt; non-kooperasi dengan  taktik kerjasama (ko-operasi) adalah  bahwa prinsip non-kooperasi melihat  pentingnya kekuatan massa dalam menekan pihak penindas dalam hal ini penjajah Belanda. Taktik ini tidak percaya bahwa sikap penjajah akan berubah hanya &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;dengan mengadakan permintaan melalui seruan tertulis, permohonan,  atau dialog. Dipercaya bahwa hanya dengan membangun kekuatan massa sebagai kekuatan material sebagai kekuatan penekan, maka kaum non-koperasi harus tampil dan terjun ke massa untuk mengajak mereka aktif bergera&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;k mengadakan kumpulan massa dengan menuntut. Massa harus diorganisir karena mereka percaya bahwa massa-lah yang sebenarnya memiliki kepentingan untuk perubahan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;Maka salah satu aktivitas yang sangat penting dari taktik non-kerjasama adalah aksi massa (&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;vergadering&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;), &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;Machtsvorming&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;, hingga menumbuhkan cara pandang pada massa rakyat bahwa mereka harus merebut  kekuasaan. Dalam  artikelnya di ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;Pikiran Rakyat&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;’ yang berjudul  “Non-Cooperation Tidak Bisa Mendatangkan  Massa Aksi dan Machtsvorming?” ia menegaskan bahwa jalan non-kooperasi dilakukan dengan cara menekankan pada gerakan yang dilakukan melalui aksi-aksi massa dan rapat-rapat akbar.  Metode perjuangan ini tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi di India yang berprinsip pada ‘Ahimsa’ yang membuat sifat gerakannya kurang menyerang terhadap penjajahan, pasif, dan hanya menekankan pada &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;‘perdamaian’. Bung Karno menunjukkan bahwa jalan “passive-civil-disobedience” telah menjadi gerakan yang besar ketika Jawaharlal Nehru meminta Gandhi untuk mempelopori gerakan rakyat yang lebih bersifat “&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;militant-civil-disobedience’&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;. Kata Bung Karno: &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;“Non-cooperation kita tidak bersandar pada kepercayaan ahimsa... tetapi non-cooperation kita adalah, sebagaimana saya terangkan  dalam karangan saya yang lalu, kita sandarkan pada keyakinan dan kenyataan, bahwa antara sana dan sini adalah suatu pertentangan kebutuhan yang tak dapat ditutup atau di-“jembatani”. Non-cooperation kita... berisi aktivitas dan radikalisme... Radikalisme inilah yang menolak segala sikap yang pasif... yang tak mau tahu akan sikap “diam saja jangan menyerang”, radikalisme inilah yang menuntut sikap militan. Kita tidak boleh bersikap “diam saja jangan menyerang”, kita harus “keluar dari rumah-rumah kita”—keluar menjalankan penyerangan atas segala pusat-pusat musuh”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote7sym"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;“massa aksi” oleh Bung Karno? Simaklah tulisannya berikut ini:  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;“Massa aksi adalah aksinya massa... Dan oleh karena aksi berarti perbuatan, pergerakan, perjuangan, maka massa-aksi adalah dus berarti: perbuatannya, pergerakannya,  perjuangannya rakyat Marhaen yang bermilyun-milyun itu. Dan  perbuatan itu, pergerakan itu, perjuangan itu bukanlah suatu hal yang hanya nanti akan terjadi; perbuatan, pergerakan, perjuangan itu adalah hal yang sudah berjalan sekarang.  Apa yang kita kerjakan sekarang, apa yang kita sekarang perbuat,  apa saja kita punya tindakan ini hari yang berupa menyusun-nyusun perhimpunan, menulis artikel-artikel dan surat-kabar, mengadakan kursus-kursus, mengadakan rapat-rapat umum, mengadakan demonstrasi-demonstrasi—itu semua sudahlah termasuk dalam perbuatan, pergerakan, perjuangan rakyat Marhaen yang bermilyun-milyun itu,  itu sudahlah termasuk dalam massa-aksi itu adanya”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote8sym"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Bukan tiap-tiap pergerakan dari orang yang ratusan, ribuan, jutaan, adalah suatu massa-aksi. Massa-aksi adalah pergerakan rakyat-murba yang berjuta-juta secara radikal dan revolusioner. Pergerakan rakyat-murba  yang tidak secara radikal dan revolusioner, pergerakan rakyat-murba yang tidak bersemangat perlawanan, pergerakan rakyat-murba yang “tidak sengit” dan tidak bersemangat “banteng”—pergerakan  rakyat-murba yang demikian itu, walaupun milyun-milyunan orang yang bergerak, bukanlah massa-aksi, tetapi hanyalah suatu “Massale actie”, aksi Massal, belaka”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote9sym"&gt;&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno memberikan contoh bagaimana massa aksi memiliki arti yang sangat penting dalam sejarah menuju perubahan. Ia mencontohkan berbagai perubahan dan revolusi seperti revolusi Perancis, revolusi&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt; Rusia, dan berbagai perubahan dimana dimulai dengan peran massa  yang aktif dan radikal.  Lalu apakah yang dimaksud Machtsvorming menurut Bung Karno?: &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;“Machtsvorming adalah berarti: pembikinan kuasa. Machtsvorming adalah penyusunan tenaga, penyusunan macht. Machtsvorming  adalah jalan satu-satunya untuk memaksa kaum sana menuruti kehendak kita. Paksaan ini adalah perlu, paksaan ini adalah syarat yang pertama”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:130%;" &gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote10anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote10sym"&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Taktik radikal yang dipilihnya membuat ia yakin bahwa taktik kerjasama dengan Belanda tak akan mencapai tujuan  Indonesia yang m&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:130%;" &gt;erdeka. Kemerdekaan adalah ilusi jika kita hanya  berkompromi dengan pihak yang membuat kita tak merdeka atau yang menjajah kita. Bung Karno di era ini rajin mengkritik kaum kompromis, kaum yang disebutnya hanya berteori dan berbicara, tetapi tak mau bekerja dan terjun langsung ke massa rakyat untuk meningkatkan (meradikalisasi) perlawanan. Di tahun 1933, di dalam ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;Pikiran Rakyat&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;’ lagi-lagi ia menulis artikel yang judulnya adalah mirip seruan: “Bukan ‘Jangan Banyak Bicara, Bekerjalah!’, Tetapi ‘Banyak Bicara, Banyak Bekerja!”. Pengaruh pernyataan Lenin, “teori yang revolusioner mensyaratkan kerja revolusioner”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;Sekarang?  … &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;Wajah-wajah politisi tua yang “nggak  keren” dan membosankan, bersamaan dengan mental kacangan mereka  yang selalu tunduk pada tuan-tuan imperialisnya di Barat dan para  konglomerat yang juga berpolitik (Yosef Colla, Abu Rizik Brekele,  dll) yang menghasilkan output-output politik y&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;ang menindas dan  menyengsarakan rakyat, membuat rakyat kian apatis terhadap proyek  politik; rakyat semakin tak percaya bahwa politik adalah jalan  merubah keadaan. Mereka semakin percaya pada mistik atau membiarkan  diri larut dalam khayalan-khayalan. Bahkan khayalanpun pada akhirnya  juga tuntutan dari tubuh yang butuh terpenuhi secara material:  ketika pemenuhan kebutuhan semakin mendesak, dan tak dapat  terpenuhi, mereka  memilih bunuh diri atau menolak jalan-jalan yang  dianggap bermoral: mencuri, melacur, dll. Atau—untuk menyangkal  kebenaran bahwa mereka ditindas dan ditipu oleh politisi-politisi  tua—mereka memilih lari pada sentiment rasial (agama, suku, dll).  Pelarian ini dimanfaatkan oleh politisi-politisi dan partai politik  penjual moral-agama untuk menyusun proyek-proyek ilusi selanjutnya.&lt;br /&gt;Berharap  pada kaum muda ad&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;alah harapan yang berlebihan? Dilihat dari mana  dulu! Secara fisik (usia) dan  obsesi psikologis, tak dapat  terbantahkan bahwa kaum tua cenderung konservatif-reaksioner  sedangkan kaum muda punya potensi yang besar untuk menjadi  progresif-revolusioner. Ada yang beranggapan bahwa istilah ‘muda’  harus dipandang dari sisi semangat dan bukannya usia, dengan  mengatakan bahwa “kaum muda yang konservatif adalah kaum tua,  sedang kaum tua yang progresif juga layak dikatakan muda”. Ah,  bisa-bisa aja, bukankah analisa itu tidak material?  Berapa jumlah  kaum tua di negeri ini yang progresif-radikal-revolusioner atau yang  sok revolusioner seperti ikut-ikutan terjun menolak kenaikan BBM  menjelang pemilu agar mendapatkan  popularitas atau simpati dari  kaum muda yang diajaknya—atau di-&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;hire&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;-nya!  Kita harus hati-hati dengan gejala-gejala, gejala (fenomena)  bukanlah hakekat! Begitulah hokum dialektis sejarah mengajar&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;kan…&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;Saya  berani bertaruh, untuk konteks Indonesia, tidak ada kaum tua yang  bisa diharapkan! Tetapi kaum muda sendiri juga masih belum siap  untuk merebut kekuasaan,&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt; malah kebanyakan  buru-buru untuk memenuhi hasrat politik demi kursi dan posisi (yang  ujung-ujungnya demi u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SM3HKg0-kOI/AAAAAAAAAfs/CYIm47laVIA/s1600-h/Foto+Seminar+Pemuda+Politik+Pemilu+Unair.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 149px; height: 125px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SM3HKg0-kOI/AAAAAAAAAfs/CYIm47laVIA/s400/Foto+Seminar+Pemuda+Politik+Pemilu+Unair.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246068124381253858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;ang dan kekuasaan pribadi).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;Tentu  ada syarat-syara&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;t y&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;ang harus ki&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;ta persiapkan agar politik kaum muda  tetaplah menjadi politik gerakan progresif yang bervisi  anti-imperialisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt; Hambatan-Hambatan psikologis masihlah terjadi  dalam gerakan kaum muda sendiri, bahkan di kalangan yang mengaku  sebagai gerakan radikal: INTRIK, EKSISTENSI DIRI, KEKIRI-KIRIAN,  SOMBONG (CONGKAK), KASAR, KAKU, DEKIL, TIDAK DEWASA, DLL!!! Ideologi  tak menjadi watak, tak disebarkan, tetapi untuk eksistensi diri yang  tak membumi…. Maka, saat godaan-godaan kapitalisme dan kekuasaan  semakin massif, ada di antara mereka yang mulai sibuk bicara tentang  “kursi”. &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Wallahu’alam!!!!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;_______________&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0cm; font-family: times new roman;font-family:times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;CATATAN KAKI:&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" id="sdfootnote1" &gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote1anc"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;Penulis buku Revolusi Bolivarian, Hugo Chavez,  dan Politik Radikal. Yogyakarta: Resist Book, 2007; buku &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;DARI  DEMONSTRASI HINGGA SEKS BEBAS: Mahasiswa di Era Kapitalisme dan  Hedonisme&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;. Yogyakarta: Garasi Book,  2008; kini mengelola  TAMAN BELAJAR UNTUK RAKYAT (T.A.B.U.R)  di  sebuah lembah  sekitar Pantai Prigi di Kab. Trenggalek, Jawa Timur.  Nurani Soyomukti bisa dikunjungi di  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);font-size:130%;" &gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.esaipolitiknurani.blogspot.com/"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;www.esaipolitiknurani.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" id="sdfootnote2" &gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote2anc"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;Dikutip dalam Eko Prasetyo. &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;MINGGIR:  Saatnya Gerakan Kaum Muda Memimpin!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;”.  Yogyakarta: Resist Book, 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" id="sdfootnote3" &gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote3anc"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;M Fadjroel Rachman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;dalam  opininya di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;,  misalnya, menyebutkan tokoh-tokoh itu, seperti: Presiden Soekarno  (44), Wapres Mohammad Hatta (43), dan 10 perdana menteri, yaitu  Sutan Sjahrir (36), Amir Sjarifoeddin (40), Mohammad Hatta (46),  Abdul Halim (39), Muhammad Natsir (42), Sukiman Wirjosandjojo (53),  Wilopo (44), Ali Sastroamidjojo (50), Burhanuddin Harahap (38), dan  Djuanda Kartawidjaja (46). Mereka lebih muda daripada Komite Bangkit  Indonesia (KBI) seperti Rizal Ramli (54) dan Taufik Kiemas (65).  Jadi KBI tidaklah lain the sunset generation juga. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" id="sdfootnote4" &gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote4anc"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Masih menurut catatan Fadjroel Rachman, di bidang  politik nasional dan lokal, kita mengenal Susilo Bambang Yudhoyono  (58), Jusuf Kalla (65), BJ Habibie (71), Megawati Soekarnoputri  (60), Abdurrahman Wahid (67), Amien Rais (63), Akbar Tandjung (62),  Wiranto (60), Sutiyoso (63), Sri Sultan Hamengku Buwono X (61), dan  pemimpin segenerasinya.  Artinya, pada Pemilu 2009 the sunset  generation sudah berusia 60 tahun atau lebih, usia sosial dan  politik yang pantas untuk mengundurkan diri, seperti Perdana Menteri  Inggris Tony Blair, Tony Blair menjabat pada usia 44 tahun (1997)  dan mundur pada usia 54 tahun (2007). Presiden AS Bill Clinton  menjabat pada usia 47 tahun (1993) dan berakhir pada usia 55 tahun  (2001). &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" id="sdfootnote5" &gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote5anc"&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;Pramoedya Ananta Toer. &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Anak  Semua Bangsa&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;. Jakarta: Lentera  Dipantara, 2006&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" id="sdfootnote6" &gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote6anc"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  Dalam Ir. Soekarno. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Di Bawah Bendera  Revolusi, Jilid I&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. (Cetakan Ketiga).  Jakarta: Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi, 1964, hal.  189-190&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" id="sdfootnote7" &gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote7anc"&gt;2&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  Dalam Ir. Soekarno. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Di Bawah Bendera  Revolusi, Jilid I&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. (Cetakan Ketiga).  Jakarta: Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi, 1964, hal. 194&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" id="sdfootnote8" &gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote8anc"&gt;3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;  Ibid., hal. 196&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" id="sdfootnote9" &gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote9anc"&gt;4&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;  Ibid., 197&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" id="sdfootnote10" &gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote10sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=640809186959586577#sdfootnote10anc"&gt;5&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;  Ibid., 202&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-6577284417909752472?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/6577284417909752472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=6577284417909752472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/6577284417909752472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/6577284417909752472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/09/seminar-di-fisip-unair-pemuda-politik.html' title='Seminar di FISIP UNAIR: PEMUDA, POLITIK, DAN PEMILU (Jumat/12 September 13.00 Lantai 3 Gedung C FISIP UNAIR)'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SM3KtNh5LYI/AAAAAAAAAf0/nQDXeojYfi4/s72-c/Foto+Seminar+UNAIR,+Pemuda,+Politik+dan+Pemilu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-7259584740977662808</id><published>2008-08-29T20:02:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T19:38:01.821-07:00</updated><title type='text'>Undangan Seminar "PEMUDA, POLITIK, DAN PEMILU":</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: center;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;UNDANGAN TERBUKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Seminar "Pemuda Politik &amp;amp; Pemilu"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBICARA:&lt;br /&gt;Nurani Soyomukti&lt;br /&gt;(Penulis buku RESIST--Revolusi Bolivarian, Hugo Chavez)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajhrul Rachman&lt;br /&gt;(Calon Presiden Independen dari Kaum Muda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didik Prasetyo&lt;br /&gt;(KPUD Jatim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu dan Tempat:&lt;br /&gt;Jumat, 12 September 2008/13.00-15.00 WIB&lt;br /&gt;Ruang Adisukadana Lt 2  Gedung A&lt;br /&gt;Fisip Unair&lt;br /&gt;Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-7259584740977662808?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/7259584740977662808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=7259584740977662808' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7259584740977662808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/7259584740977662808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/08/undangan-seminar-pemuda-politik-dan.html' title='Undangan Seminar &quot;PEMUDA, POLITIK, DAN PEMILU&quot;:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-4508506010215070914</id><published>2008-08-29T19:49:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T20:00:57.907-07:00</updated><title type='text'>Resensi Bukuku di KOMPAS YOGYA ::</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a style="font-family: times new roman;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SLi2PFVGuPI/AAAAAAAAAfc/Rpx9cpBOb3g/s1600-h/Cover_DARI+DEMONSTRASI+HINGGA+SEKS+BEBAS.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 123px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SLi2PFVGuPI/AAAAAAAAAfc/Rpx9cpBOb3g/s400/Cover_DARI+DEMONSTRASI+HINGGA+SEKS+BEBAS.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240138536690563314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman;font-size:180%;"  &gt;Paradoks Kehidupan Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;ul style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;KOMPAS YOGYA/Rabu, 13 Agustus 2008 | 11:01 WIB  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku:&lt;/strong&gt; Dari Demonstrasi hingga Seks  Bebas: Mahasiswa di Era&lt;br /&gt;                    Kapitalisme dan Hedonisme&lt;br /&gt;Penulis: Nurani Soyomukti&lt;br /&gt;Penerbit: Garasi - Cetakan: 2008&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tebal:&lt;/strong&gt; 184 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan mahasiswa hampir selalu diidentikkan dengan kebebasan  dan selalu asyik untuk dijadikan sorotan. Di tengah idealisme tinggi  yang dijunjung oleh sebagian mahasiwa, paradoks kehidupan pun  terjadi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ketika mereka harus berjuang mendewasakan pikiran, mahasiswa juga dihadapkan pada berbagai godaan yang menarik dan menggiurkan sehingga bisa menyimpang dari idealisme hakiki manusia. Melalui buku bertajuk Dari Demonstrasi hingga Seks Bebas: Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme, Nurani Soyomukti menggambarkan kehidupan dari mahasiswa dengan melihat gaya hidup mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Nurani mencoba merangkai kata dalam buku ini dari catatan-catatan yang dibuat sejak kuliah di sebuah kampus negeri di Jawa Timur yang menurutnya merupakan catatan sentimental. Nurani mengawali buku dengan menyisipkan pandangan beberapa tokoh pendidikan tentang mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Staf Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Airlangga Pribadi, menuliskan pemikirannya tentang kaum muda dalam labirin neoliberalisme. Tokoh pemuda dan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia, Daniel Johan, juga menyisipkan buah pikiran tentang gugatan nurani terhadap budaya bisu mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menggunakan gaya penulisan yang cenderung resmi seperti layaknya penulisan skripsi, Nurani menilai bahwa mahasiswa cenderung memasuki perguruan tinggi dengan berbagai macam obsesi. Mereka, antara lain, ingin memperoleh pembekalan untuk mencari pekerjaan. Dengan menjadi mahasiswa, mereka setidaknya juga bisa mengalami perubahan gaya hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Gaya hidup mahasiswa adalah gaya hidup kelas menengah ke atas yang dicirikan dengan kemampuan mengonsumsi produk dan gaya hidup modern, ungkap Nurani dalam bukunya. Citra negatif cenderung melekat pada mahasiswa karena pencitraan yang buruk melalui media. Mahasiswa sering kali digambarkan sibuk mengejar urusan cinta dengan gaya hidup yang menonjolkan tampilan fisik. Masyarakat pun semakin lupa bahwa mahasiswa punya potensi besar untuk menjadi kekuatan penting dalam mengubah tatanan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Negara, menurut Nurani, tidak cukup serius dalam memperbaiki sejarah mahasiswa Indonesia. Meskipun penulisan kerap kali meluas ke topik lain yang tak berhubungan dengan tema tulisan, Nurani mencoba menulis ulang tragedi unjuk rasa di Universitas Trisakti pada Mei tahun 2008.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dia menambahkan buah-buah pemikirannya maupun pemikiran tokoh-tokoh dunia seperti Karl Marx dan Johan Galtung. Dalam buku tersebut, sistem kapitalisme-neoliberalisme dinilai oleh Nurani sebagai sistem yang jahat dan destruktif bagi kemanusiaan. Buku setebal 182 halaman tersebut juga dilengkapi data tentang kemunduran kampus. Mengutip survei dari harian The Times Inggris, dari 520 universitas terkemuka, perguruan tinggi di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan negara lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tidak satu pun dari perguruan tinggi Indonesia masuk ke dalam 10 besar universitas terbaik dunia. Berdasarkan data-data yang diungkapkan, Nurani menyatakan bahwa kualitas pendidikan semakin menurun dan berdampak pada kemunduran kemanusiaan. Pada bab ke-3, Nurani baru menyinggung tentang kehidupan pribadi mahasiswa terutama seputar kisah percintaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Contoh tentang kisah cinta mahasiswa dimulai dengan mengungkap kembali video cabul dua mahasiswa di Bandung. Kasus tersebut hendaknya tidak dipahami sebagai kebrobokan mental mahasiswa. Kebrobokan, menurutnya, harus dipahami sebagai kebobrokan masyarakat kapitalis yang gagal menata hubungan antarmanusia. (WKM)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;--------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-4508506010215070914?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/4508506010215070914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=4508506010215070914' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4508506010215070914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/4508506010215070914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/08/resensi-bukuku-di-kompas-yogya.html' title='Resensi Bukuku di KOMPAS YOGYA ::'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SLi2PFVGuPI/AAAAAAAAAfc/Rpx9cpBOb3g/s72-c/Cover_DARI+DEMONSTRASI+HINGGA+SEKS+BEBAS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-2590547260719248894</id><published>2008-08-07T20:44:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T01:24:08.280-07:00</updated><title type='text'>Dimuat di SUARA KARYA/Jumat, 8 Agustus 2008:</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:180%;"  &gt;&lt;strong&gt;Dari Keintiman hingga Pembunuhan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;Oleh Nurani Soyomukti*) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJvCvgRLJXI/AAAAAAAAAdA/8_WztKz_R4Q/s1600-h/ryannnnn.jpg"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231989513492571506" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJvCvgRLJXI/AAAAAAAAAdA/8_WztKz_R4Q/s400/ryannnnn.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;Dalam buku "&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Civilization and Discontents&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (Peradaban dan Kekecewaan-kekecewaannya)", Sigmund Freud mengatakan, "peradaban adalah suatu proses melayani Eros, yang tujuannya adalah untuk menggabungkan individu-individu manusia tunggal, selanjutnya keluarga-keluarga, kemudian ras-ras, masyarakat-masyarakat dan negara-negara, ke dalam suatu kesatuan besar, kesatuan umat manusia". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika cinta membuat kecewa, orang pun mendendam dan kemudian juga tak ragu untuk membunuh secara kejam. Perasaan ingin mencintai dan ketakutan ditolak menghinggapi. Sedangkan penolakan dan kekecewaan akibat (merasa) tersakiti, juga tak jarang membuat orang yang awalnya penuh rasa cinta menjadi orang yang penuh kebencian dan melampiaskan perasaannya itu dengan cara menyakiti, salah satunya membunuh. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dan peradaban juga menunjukkan adanya tragedi berupa pembunuhan berantai sebagaimana terjadi akhir-akhir ini. Ryan, seorang pemuda yang diduga mengalami penyimpangan psiko-seksual, (didakwa) telah melakukan pembunuhan berantai. Pembunuhan dengan cara memutilasi ini telah menimbulkan rasa sedih bagi mereka yang anak-anak atau saudaranya dibunuh secara tak berperikemanusiaan, juga menghenyak kita semua karena peristiwa semacam ini tak seharusnya terjadi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Orang awam barangkali mengira bahwa pembunuhan semacam itu mustahil terjadi. Tetapi, bagi mereka yang memahami bagaimana dinamika psikologis merupakan suatu wilayah yang sangat ditentukan oleh pengalaman-pengalaman hidupnya sejak kecil, tentunya sudah tak mengherankan lagi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita kembali pada teori psikoanalisis (psikologi mendalam) Sigmund Freud, tentunya kita akan banyak melihat bahwa kekecewaan-kekecewaan (discontents) sering kali muncul dalam jiwa orang, terutama karena realitas (kondisi yang ada) tidak memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kebutuhan yang ada dalam diri manusia sering kali tak memungkinkan untuk dipenuhi, terutama dalam kondisi material yang diskriminatif bagi pemenuhan kebutuhan itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kasus Ryan menunjukkan bahwa si pelaku korban tersebut mengalami obsesi penyatuan seksual dengan orang-orang yang merupakan sesama jenis. Di balik penampilan sehari-hari di lingkungan tetangganya yang masih tabu dengan percintaan sesama jenis, ternyata dunia Ryan dalam h&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJvCyb3neGI/AAAAAAAAAdI/u08UBU8rFFM/s1600-h/ryann_.jpg"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231989563851241570" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJvCyb3neGI/AAAAAAAAAdI/u08UBU8rFFM/s400/ryann_.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;ubungannya dengan teman-temannya adalah dunia percintaan yang juga diwarnai dengan obsesi-obsesi dan kekecewaan-kekecewaannya. Kekecewaan yang mendalam itulah yang konon membuat Ryan merasa dendam dengan orang-orang yang kemudian dibunuhnya secara kejam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tiap individu dikuasai oleh dua insting sekaligus, yaitu insting (naluri) yang disebut Eros dan Tanatos. Insting Eros adalah insting ingin menyatukan diri yang manifestasinya adalah cinta dan kasih sayang yang secara material dan konkret adalah tindakan persetubuhan. Sedangkan insting Tanatos adalah insting menyerang atau merusak, yang manifestasinya adalah tindakan kekerasan dan bahkan membunuh. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kedua insting ini sama-sama ingin mendendalikan makhluk hidup dan manusia. Kadang sulit membedakan di antara keduanya. Tarik-menarik kedua insting inilah yang membuat manusia resah, gundah, dan kadang lebih banyak dikuasai oleh ketidaksadaran (tidak rasional), sehingga dalam melakukan hal-hal jarang dipikirkan, spontan, dan baru menyesal setelah dipikirkan secara keras dengan rasio yang ada. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi, saya punya pandangan bahwa untuk melihat bagaimana Eros dan Tanatos dapat dilihat manifestasinya secara mudah dalam waktu yang bersamaan adalah pada saat orang melakukan persetubuhan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jadi persetubuhan seakan bukan didorong oleh insting Eros, tetapi juga Tanatos. Jadi cinta sebetulnya tak hanya layak dipahami sebagai suatu hal yang melekat pada Eros. Untuk memahami cinta, kita harus melihat seluruh eksistensi yang ada pada diri manusia. Cinta adalah dorongan untuk menyatukan diri, berarti kita mengenal bagaimana ada suatu dorongan material dalam tubuh manusia. Dorongan ini ternyata sungguh-sungguh riil keberadaa&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJvCdeWt7PI/AAAAAAAAAc4/TrMunGzDaA8/s1600-h/ryan.jpg"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231989203741306098" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJvCdeWt7PI/AAAAAAAAAc4/TrMunGzDaA8/s400/ryan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;nnya, dengan diekspresikan dengan pola-pola yang membentuk kebiasaan dalam kebudayaan universal umat manusia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kasus Ryan harus kita kembalikan pada analisis psikologi mendalam (psikoanalisis), kemudian kita kaitkan dengan bagaimana basis material sejarah (situasi sosial) membentuk perkembangan individu-individu dalam masyarakat kita. Ajaran psikologi sosial menghendaki adanya terapi individu dalam kaitannya dengan kondisi yang membentuk pengalaman-pengalaman individu yang ada.*** &lt;/div&gt;&lt;div&gt;--------------------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-2590547260719248894?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/2590547260719248894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=2590547260719248894' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2590547260719248894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2590547260719248894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/08/dimuat-di-suara-karyajumat-8-agustus.html' title='Dimuat di SUARA KARYA/Jumat, 8 Agustus 2008:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJvCvgRLJXI/AAAAAAAAAdA/8_WztKz_R4Q/s72-c/ryannnnn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-2071935165688534543</id><published>2008-08-07T05:24:00.000-07:00</published><updated>2008-08-07T05:37:31.781-07:00</updated><title type='text'>KEMERDEKAAN BUKAN 'KEBEBASAN' ALA LIBERALISME-KAPITALISME!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Pentingnya Aturan, Kerjasama, dan Solidaritas!&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh: &lt;em&gt;Nurani Soyomukti&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat penting bagi kita untuk mengidentifikasi hidup kita, sebelum kita memahami apa makna kebebasan bagi kita. Kebebasan tidak identik dengan orang yang malas berbuat sesuatu. Orang yang malas dan orang yang tidak melakukan apa-apa bukanlah orang bebas. Orang yang tak melakukan ap&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrCdxnnrI/AAAAAAAAAcI/yX8qeEuPvsk/s1600-h/kebebasan1.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231752344729263794" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrCdxnnrI/AAAAAAAAAcI/yX8qeEuPvsk/s400/kebebasan1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;a-apa aalah orang yang keberadaan dirinya mundur. Orang bebas yang sejati adalah orang yang menikmati pekerjaannya dan merasa bahwa pekerjaan itu benar-benar sesuai dengan hakekat dirinya, keinginan dan kemampuan (kapasitas dirinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang diam yang menghabiskan banyak waktu untuk berkhayal dan melamun memang merasakan kebebasan dalam ilusinya, tetapi tetap saja ia tampak sebagai orang yang tidak berguna. Apalagi dengan diam, tidak melakukan apa-apa dan tidak menghasilkan itu ia menggantungkan keberadaannya pada orang lain, artinya merugikan orang lain, maka sesungguhnya ia bukan hanya tidak bebas, tetapi sekaligus eksploitatif. Orang yang menikmati waktu luang tetapi biaya dari waktu yang dihabiskan untuk menggunakan waktu luang itu dilimpahkan pada orang lain adalah parasit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dalam hal ini, tampaknya kebebasan yang dimiliki oleh orang yang tak produktif hanyalah sejenis kebebasan yang merugikan. Mungkin orang-orang yang bebas karena mengggur itu, karena bebas dari kerja justru karena tak dapat pekerjaan (tidak berproduksi), boleh jadi begitu tersiksa. Bebas dari pekerjaan yang justru membuat pikirannya tertekan dan otaknya terus berkhayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sangat mengherankan kalau ada orang yang yang memahami kebebasan dengan melupakan adanya fakta bahwa hidup ini diatur oleh ikatan dan oleh pola-pola yang ada dalam hubungan. Bahkan alam itu sendiri tampaknya juga menunjukkan keteraturan dan pola-pola. Tiap hari matahari terbit dari Timur ke Barat, hal ini berlaku bagi semua orang di Indonesia. Bahkan aturan itu tampaknya menjadi kodrat di mana alam telah menetapkan pola-polanya yang telah ada: kita memasukkan makanan untuk menghindari kelaparan melalui mulut, kita berak dengan mengeluarkan “tai” dari dubur. Kita belum dapat berbuat sesuka kita, kita blum mampu memenuhi apa saja yang kita kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya kita masih menghadapi pola-pola alam, baik yang gejalanya sederhana maupun yang rumit (untuk dijelaskan). Justru dengan kondisi itu kita harus menuruti aturan dan bekerjasama, menggalang &lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrriZL35FI/AAAAAAAAAcw/WqGId-yj4So/s1600-h/kebebasan______________.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231752893253018706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrriZL35FI/AAAAAAAAAcw/WqGId-yj4So/s400/kebebasan______________.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;solidaritas antar sesame dan tak boleh hidup sendiri-sendiri tanpa aturan. Menghadapi gejala-gejala (atau kontradiksi) alam, bahkan kita harus bekerja-bersama-sama mencurahkan kemampuan kita agar kita selamat. Karena kita, manusia ini, hanyalah segolongan kecil dibanding kekuatan alam. Kita belum dapat menghadapi (bencana) alam seperti banjir, angin topan, gempa bumi, tanah longsor, Tsunami. Kita tiada berdaya menghadapi alam itu, apalagi masing-masing manusia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tak mau saling membantu serta berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar pura-pura mau berbagi setelah bencana benar-benar datang. Saat bencana kelaparan diberitakan, mereka pura-pura membantu. Mereka juga tak begitu hirau: banyak bahan pangan yang mereka simpan, yang berlebih dan tak terpakai, tetapi masih banyak orang yang kekurangan makan. Para penguasa, minoritas di tengah-tengah mayoritas rakyat yang menderita itu, cuek pada nasib orang lain; mereka mau mencari selamatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketidakmampuan manusia dalam menghadapi kontradiksi alam salah satunya karena mereka tak mau membuat rakyat produktif, berpengetahuan dan menguasai IPTEK. Mereka menginginkan pendidikan hanya untuk anak-anaknya, sedangkan hak-hak anak-anak rakyat mayoritas terhadap pendidikan dilanggar. Pada hal, rakyat akan mampu menemukan tenaga produktif, pengetahuan dan teknologi baru untuk mengatasi kesulitan-kesulitan menghadapi alam, jika hak-hak mereka akan ekonomi diberikan. Mereka bahkan ada yang justru membodohi: mereka mengatakan bahwa kemiskinan dan bencana alam disebabkan oleh takdir Tuhan dan sudah diatur. Pada hal kemiskinan adalah karena eksploitasi mereka, bencana alam juga karena peristiwa alam yang biasa terjadi—dan seringkali terjadi karena rakyat tak berdaya akibat ditindas dan dihisap dan tidak dikondisikan untuk produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yang dapat berpikir rasional tentu tahu bahwa kebebasan mungkin saja diraih jika kita diberikan syara&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrT71PjRI/AAAAAAAAAcY/HrGOltd7Jzo/s1600-h/kebebasann.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231752644855303442" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrT71PjRI/AAAAAAAAAcY/HrGOltd7Jzo/s400/kebebasann.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;t-syarat materialnya. Kita masih mirip binatang karena, dengan dijauhkannya kita dari pengetahuan dan teknologi serta ditindas, kita masih tertekan. Bagaimana kita bebas dari perasaan takut dan was-was jika kita masih harus mati-matian untuk memikirkan urusan yang sebenarnya dapat saja kita penuhi dengan mudah jika mereka tidak menguasai sumber-sumber ekonomi dan alat-alat produksi dan hasil-hasilnya untuk mereka sendiri. Bagaimana kita bebas dari rasa takut, rasa sakit fisik dan mental, kalau segala hasil dari alam kita dan hasil kerja kita dirampas oleh mereka yang ingin terus saja mencuri untuk kekayaan dan kemewahan dirinya sendiri, keluarga, dan orang-orang dekatnya. Mereka bebas, termasuk bebas mengeksploitasi dan menindas kita, tetapi kita rakyat mayoritas ini tak memiliki kebebebasan. Dengarkan kata-kata buruh dan tani itu saat kita bertanya “Apakah kalian menikmati kebebasan saat para artis-selebritis begitu bebasnya bergaya dan begitu cerianya wajahnya dengan tubuhnya yang menari dengan ucapan-uapannya yang lepas meskipun kacangan?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang merupakan rakyat mayoritas itu akan menjawab: “Kami tak punya waktu luang untuk rekreasi, tak punya rumah dan tempat indah untuk tinggal dan ditempati atau sekedar dikunjungi, karena kami harus kerja dari subuh hingga senja hari tetapi kerja kami tak dihargai. Sebagai buruh, upah kami semakin rendah dan kenyamanan kerja kami juga terancam karena sekarang sistemnya buruh kontrak dan outsorcing. Gabah kami juga harganya sedikit sementara biaya bertan&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrYQ9lBwI/AAAAAAAAAcg/CTayGkXeNZI/s1600-h/Kbebasan____.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231752719246886658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrYQ9lBwI/AAAAAAAAAcg/CTayGkXeNZI/s400/Kbebasan____.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;am an merawat tanaman juga naik… Kami tak bebas karena pendapatan kami minim, sementara kami butuh makan cukup dan bergizi; sedangkan anak-anak kami harus sekolah. Kami tak punya kebebasan karena kami tertekan secara psikis, dihantui oleh kelangsungan hidup kamu dan anak-anak cucu kami. Kami tak bebas karena mau bergerak bebas rumah kami sempit dan kotor, kami tak punya vila dan bepergian ke tempat-tempat indah seperti kaum borjuis itu! Para pengusaha dan para politisi, jenderal, intelektual dan seniman yang dibiayainya itu bebas keluar negeri, bebas ganti-ganti pasangan, seks bebas, waktu luangnya banyak… tanah dan ruangnya luas, dapat pergi kemana saja… sedang kami tidak. Kebebasan hanyalah ilusi bagi kami”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, rakyat miskin itu harus hidup dengan saling membantu seadanya, kerjasama antara orang miskin. Se&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrcD8dZOI/AAAAAAAAAco/KUmoZwscs1k/s1600-h/kebebasan_.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231752784472007906" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrcD8dZOI/AAAAAAAAAco/KUmoZwscs1k/s400/kebebasan_.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;dangkan para borjuis, pengusaha (pemodal) besar atau konglomerat, jenderal, seniman-artis selebritis, dan intelektual yang diuntungkan oleh tatanan kapitalisme-liberal hidupnya cenderung individualis, liberal, dan mereka mencita-citakan kebebasan karena mereka memungkinkan untuk berbuat semaunya. Pada hal semua harus diatur, secara adil, setara, agar semua bebas. Tapi mereka tidak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, betapa pengecut dan jahatnya mereka yang ingin enaknya sendiri dan mencari selamat sendiri. Jangan percaya pada slogan kebebasan itu (yang sebenarnya mirip ilusi untuk saat ini)!. Mereka para penyanjung kebebasan radikal ala borjuis tampaknya tidak memahami itu. Mereka tidak boleh berbuat semaunya. Mereka terikat dengan hukum-hukum material dan dengan memahami hukum-hukum material itulah seharusnya hubungan diatur secara adil. Kaum liberal yang mewakili kepentingan borjuis-kapitalis (pemodal) sebagai penguasa di bidang ekonomi (kapitalis-liberal) tidak menginginkan aturan jika itu menghalanginya untuk data hidup seenaknya sendiri. Lihatlah, mereka membuat negara tak boleh mengatur ekonomi rakyat—mereka men&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrJaA74PI/AAAAAAAAAcQ/8n9ZP3pTgMg/s1600-h/kebebasan2.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231752463978848498" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrJaA74PI/AAAAAAAAAcQ/8n9ZP3pTgMg/s400/kebebasan2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;ginginkan semuanya diserahkan ke (mekanisme) pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari situasi itu, perlu saya tegaskan bahwa kebebasan bukanlah suatu hal yang abstrak. Kebebasan bukanlah situasi tanpa aturan atau “anarki”. Kebebasan semacam itu akan dapat dirasakan kalau kita mati atau gila, karena tak sadar kalau ingin melakukan apa saja!*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;-------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-2071935165688534543?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/2071935165688534543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=2071935165688534543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2071935165688534543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/2071935165688534543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/08/kemerdekaan-bukan-kebebasan-ala.html' title='KEMERDEKAAN BUKAN &apos;KEBEBASAN&apos; ALA LIBERALISME-KAPITALISME!'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJrrCdxnnrI/AAAAAAAAAcI/yX8qeEuPvsk/s72-c/kebebasan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-950382889557738225</id><published>2008-08-04T15:47:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T09:35:14.396-08:00</updated><title type='text'>Diomuat di KOMPAS Jatim, Jumat 1 Agustus 2008:</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Mutilasi Jombang, Kekerasan,&lt;br /&gt;dan Tragedi Eros&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh: Nurani Soyomukti,&lt;br /&gt;penulis buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi” (Aruzzmedia, Yogyakarta 2008); kini sebagai kordinator Taman Bacaan untuk Rakyat (TABuR) Jawa Timur&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi pembunuhan berantai di Jombang Jawa Timur dengan terdakwa Ryan merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang mengenaskan. Pembunuhan dengan motif penyimpangan seksualitas da&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJeIrqzPVcI/AAAAAAAAAcA/cmkJu_sNi-0/s1600-h/ryannnn.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230799776019076546" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJeIrqzPVcI/AAAAAAAAAcA/cmkJu_sNi-0/s400/ryannnn.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;n secara psikologis dikendalikan oleh penyakit kejiwaan itu patut mendapatkan perhatian kita semua. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Tentunya peristiwa kekerasan berupa pembunuhan itu harus kita sikapi secara arif dan bijaksana. Lebih jauh yang patut kita renungkan adalah sebuah pertanyaan mengapa kondisi kejiwaan seperti dialami Ryan muncul. Tidak mungkin segala sesuatu terjadi tanpa sebab-sebab yang jelas. Sebuah kondisi kejiwaan pasti diakibatkan oleh pengalaman kehidupan yang dibentuknya sejak kecil. Artinya, mental, watak, dan situasi kejiwaan individu dibentuk dari lingkungan tempat ia tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita akan menuduh keluarga sebagai penyebab dari cacatnya pertumbuhan sang anak. Ryan sebagai seorang anak dari keluarganya memiliki kejiwaan yang secara tidak disadari membahayakan orang-orang dekatnya. Tetapi menyalahkan keluarga saja tidak cukup karena keluarga bukanlah lembaga yang independen dari hubungan-hubungan ekonomi-sosial dalam masyarakat yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Instinktual &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kasus Ryan harus kita kembalikan pada analisa psikologi mendalam (psikoanalisis), kemudian kita kaitkan dengan bagaimana basis material sejarah (situasi sosial) membentuk perkembangan individu-individu dalam masyarakat kita. Ajaran psikologi sosial menghendaki adanya terapi individu dalam kaitannya dengan kondisi yang membentuk pengalaman-pengalaman indindividu yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tiap-tia&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJeIVuekfnI/AAAAAAAAAbo/ouS84DeN7rY/s1600-h/ryan.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230799399049002610" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJeIVuekfnI/AAAAAAAAAbo/ouS84DeN7rY/s400/ryan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;p individu adalah makhluk hidup, ada dua instink yang sebenarnya ada dalam diri manusia, yaitu Eros dan Tanatos. Eros adalah instink (naluri) untuk menyatukan diri karena ada dasarnya keberadaan kita ini adalah materi,tubuh dengan hubungan materi-materi (dari sel hingga organ yang saling berhubungan membentuk kerja tubuh yang hidup), dan materi selalu terdiri materi-materi yang lebih kecil yang saling menyatu atau cenderung mengarah pada penyatuan. Kita berasal dari materi itu, yaitu berasl dari satu dan akan kembali ke satu itu—makanya kita ingin selalu menyatu. Kecenderungan menyatukan tubuh atau merasakan suatu kebersamaan dalam satu inilah yang membuat kita ingin membangun suatu kelompok umat manusia yang juga melekat (memenuhi dengan dan dipenuhi dari) alam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Manifestasi konkrit dari instink Eros itu adalah kecenderungan untuk menyatukan diri dan melekat dengan tubuh orang lain. Saya benar-benar curiga bahwa jangan-jangan, sebelum terjadi ledakan besar (big-bank) yang oleh para pengamat alam disebut sebagai awal terjadinya jagat raya, asal materi itu adalah satu bentuk materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala yang hampir sama adalah kecenderungan kasih sayang yang kuat (&lt;em&gt;attachment&lt;/em&gt;) antara seorang ibu dan anak. Kenapa itu terjadi tentu tidak sulit ditebak. Awalnya ibu dan anak adalah satu, menjadi satu, satu darah. Dari darah, menjadi janin, hingga wujud manusia, anak melekat menjadi satu dalam tubuh (kandungan) ibu selama 9 bulan. Inilah yang membuat saya berani mengatakan bahwa tiada kasih sayang yang paling besar sebanding dengan kasih sayang ibu terhadap seorang anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah betapa perkembangan anak tergantung pada kenyamanan fisikal dan psikologis (rasa aman dan nyaman) yang didapatkan dari Ibu pada awal-awal perkembangannya. Setelah keluar dari rahim dan hubungan badan itu dipisahkan setelah daging penghubung itu dipotong, bayi tetap saja mencari-cari tubuh ibu. Pertama-tama untuk menghubungkan fisiknya dengan fisik Ibu adalah dengan cara mencari-cari puting susu ibu untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan siapapun ia, laki-laki atau perempuan, sepanjang umurnya instink untuk menyatukan diri ini tetap abadi. Inilah yang membuat saya begitu yakin bahwa kita ini adalah makhluk erotis, yang dikuasai instink untuk menyalurkan energy Eros dengan cara menyatukan diri dengan orang lain. Manifestasi Eros adalah pada kehendak untuk menyatukan diri melalui hubungan seksual (bersetubuh) dan yang berujung pada orgasme. Eros adalah instink positif yang mendasari rasa solidaritas dan pengalaman kebersamaan dengan sesame manusia. Kita seakan merasa sakit saat oang lain, terutama orang yang dekat dengan kita, disakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi konon ada satu lagi instink yang dimiliki, yang bertarung dengan instink Eros, yaitu instink Tanatos. Kalau Eros disebut sebagai instink kehidupan, yang ini adalah instink kematian. Kalau Eros adalah instink menyatukan diri, ini adalah instink penghancuran, memisahkan diri, atau instink agresi (menyerang). Kita tentu dapat mengenali instink ini pada manusia saat material mereka akan cenderung rusak, sel-sel tubuhnya hancur, dan menua menuju pada kematian. Manifestasi sikapnya adalah kecenderungan orang untuk menyerang secara fisik dengan apa yang ada di sekiranya, bahkan juga orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Frustasi Sosial&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan psikologis dalam tiap-tiap anggota masyarakat selalu berkaitan dengan situasi material masyarakat yang juga tak sehat. Erich Fromm, dalam bukunya “Masyarakat Yang Sehat” (1995) menunjukkan bahwa penyimpangan psikologis dan ketimpangan pemanknaan hidup orang sangat berkaitan dengan perkembangan masyarakat kapitalis mutakhir yang semakin menunjukkan wajah ganasnya. Meskipun studi Erich Fromm dilakukan di Negara Barat yang maju (Amerika Serikat/AS), tentu kita dapat menarik kesimpulan yang sama untuk melihat berbagai macam perkembangan masyarakat di dunia Ketiga seperti Ind&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJeIk8nwLaI/AAAAAAAAAbw/cK6v9-qtNfc/s1600-h/ryan_.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230799660543651234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJeIk8nwLaI/AAAAAAAAAbw/cK6v9-qtNfc/s400/ryan_.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;onesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Data membuktikan bahwa frustasi merupakan gejala yang meningkat pada saat kapitalisme dengan penindasannya juga merajalela. Pada tahun 2010, sebagaimana ditulis Strategic Plan for Health Development, rasio gangguan kesehatan mental dalam jumlah penduduk nasional diperkirakan 140:1000 bagi orang yang berumur lebih dari 15 tahun. Artinya, dalam setiap 1000 penduduk Indonesia, terdapat 140 orang yang mentalnya tidak sehat. Jumlah ini jauh lebih besar dari pada rasio penyakit fisik, seperti diabetes (16:1000), penyakit kardiak pulmonaris (4,8:1000) atau stokes (5,2:1000). Bagaimanapun, menteri kesehatan memperkirakan bahwa pasien gangguan mental hanya berjumlah 1,5 persen yang saat ini dirawat di rumah-rumah sakit (Jakarta Post, Sabtu 22 Oktober 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah masyarakat tidak sehat secara fisik seperti pertumbuhannya terganggu, cacat, menderita sakit, di Indonesia sangat besar. Setiap orang di Indonesia dihinggapi rasa takut kalau sewaktu-&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJeIoPntNHI/AAAAAAAAAb4/CBxthbs0dr4/s1600-h/ryann.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230799717183337586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJeIoPntNHI/AAAAAAAAAb4/CBxthbs0dr4/s400/ryann.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;waktu menderita sakit. Hal ini dihadapkan pada fakta bahwa biaya kesehatan sangat tinggi. Kesehatan fisik masih sangat sulit diakses ketika harga-harga mahal akan membuat orangtua miskin mengurangi anggaran konsumsi nutrisi berkualitas (bergizi) bagi anak-anaknya. Sedangkan kesehatan mental juga jelas-jelas tergantung pada kesehatan fisik. Pertumbuhan tubuh yang jelek akan menghasilkan kualitas pemikiran dan kreatifitas yang jelek. Adagium mensana in korporesano (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat) masih tidak dapat terbantahkan.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;-------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-950382889557738225?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/950382889557738225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=950382889557738225' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/950382889557738225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/950382889557738225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/08/diomuat-di-kompas-jatim-jumat-1-agustus.html' title='Diomuat di KOMPAS Jatim, Jumat 1 Agustus 2008:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SJeIrqzPVcI/AAAAAAAAAcA/cmkJu_sNi-0/s72-c/ryannnn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-5351773752844533215</id><published>2008-07-24T06:01:00.001-07:00</published><updated>2008-12-09T09:35:15.408-08:00</updated><title type='text'>Renungan Hari Anak Nasional (HAN):</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MEMBUAT ANAK INTIM DENGAN DUNIANYA:&lt;br /&gt;MENAMAI ANAK, MENAMAI POSISI&lt;br /&gt;DAN  PERANNYA KELAK&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Oleh: Nurani Soyomukti,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penulis buku ”Pendidikan Berperspektif Globalisasi (2008)”&lt;br /&gt;dan sekarang aktif di TAMAN BACAAN UNTUK RAKYAT (T.A.B.U.R) Jawa Timur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas orang&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh9sC4RITI/AAAAAAAAAa0/sIrrKfb4mPU/s1600-h/anakanak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 153px; height: 174px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh9sC4RITI/AAAAAAAAAa0/sIrrKfb4mPU/s400/anakanak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226565563204051250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tua adalah  mengawal produktifitas dan kreatifitas anak agar ia mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan yang cukup dan digunakan untuk mengabdikan diri pada masyarakat.&lt;br /&gt;Yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak kita tanggap terhadap kehidupan yang sedang berkembang. Mereka juga harus memiliki identitas ketika berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Maka, anak-anak kita yang baru lahir harus kita namai sebagus dan sebaik mungkin, nama-nama yang bermakna agar kelahirannya di dunia juga membawa kemandirian identitas baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak nama-nama  dan kata-kata di dunia ini untuk menjelaskan benda-benda yang ada, juga menjelaskan suatu situasi dan gejala yang ada. Nama-nama itu tentu memiliki sejarahnya, yang menjelaskan asal-usul  sesuatu itu.&lt;br /&gt;Demikian juga dalam memberikan nama-nama pada anak-anak kita. Setelah mereka lahir, ketika dia baru muncul di suatu tempta di mana orang-orang baru melihatnya, oang bertanya: siapakah dia? Pertama-tamana namalah yang biasanya ditanyakan. Karenanya nama begitu dekat dengan setiap orang, kebangaan seorang pada namanya merupakan suatu bentuk identifikasi diri yang cukup  penting yang dalam banyak hal berpengaruh pada psikologisnya,  yang tak jarang pula berkaitan dengan pertanyaan: siapakah diriku dilihat dari namaku? Apakah arti namaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya nama ini juga berkaitan dengan fakta adanya interaksi antar anak-anak yang kadang juga mengolok-olok  dengan memakai nama. Tak jarang kita jumpai anak-anak kecil yang mengolok-olok nama-nama yang dianggap jelek. Kadang anak kita tak tahu arti namanya pada saat anak-anak orang lain mengetahui dan membanggakannya—karena saat berkumpul dan bermain, anak-anak kecil selalu saling memamerkan  dan menunjukkan siapa dirinya.&lt;br /&gt;Kadang betapa anak itu malu gara-gara ia beranggapan bahwa namanya jelek, pada hal yang penting bukan jelek atau tidak kalau dia tahu apa arti &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh97o2xU2I/AAAAAAAAAbE/Y_ZXZ567_SE/s1600-h/anakkk.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh97o2xU2I/AAAAAAAAAbE/Y_ZXZ567_SE/s400/anakkk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226565831096357730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;namanya. Jadi tugas kita sebagai orangtua adalah menggunakan “politik penamaan” ini untuk mebuat dia merasa termotivasi dan terdorong untuk melakukan hal-hal yang positif. Kita harus membuat anak bangga pada namanya dan membuat mereka tahu bahwa nama mereka berarti baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tiba waktunya kita menganalisis mana nama yang baik dan yang tidak. Soal ini, ada perubahan dari sudut jaman dan ada perbedaan pula dari sudut tempat (kebudayaan). Hal itulah yang membuat orang dulu dengan orang sekarang berbeda dalam memberikan nama. Juga, ada perbedaan antara suatu komunitas masyarakat dengan masyarakat lainnya. Ada komunitas budaya yang memberi nama dengan keharusan untuk mencantumkan nama marga (klan)-nya seperti di Batak dan beberapa tempat lainnya. Ada nama-nama yang dalam suatu masyarakat relative hampir sama. Tetapi juga ada masyarakat yang relative terbuka soal memberikan nama pada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat  Jawa tempo dulu dipandang terlalu “pelit” dalam memberikan nama pada anaknya. Misalnya, anak selalu (seringkali) dikasih nama dengan satu kata, seperti Sukarno, Suharto, Marzuki, Poniyem, Katimah, dll.&lt;br /&gt;Seiring dengan keterbukaan akibat globalisasi, terjadi interaksi antara satu kebudayaan satu dengan lainnya, yang nampaknya budaya dari luar lebih mendominasi, bukan hanya model nama-nama Barat tapi juga dari Timur Tengah. Nama-nama berbahasa Jawa/Sansakerta nampaknya relative tersingkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya kit&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh9zBUwuyI/AAAAAAAAAa8/eUkuoGF9K9I/s1600-h/anakk.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 153px; height: 132px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh9zBUwuyI/AAAAAAAAAa8/eUkuoGF9K9I/s400/anakk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226565683045776162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;a sebagai orangtua yang hidup di era modern seperti sekarang  tak perlu menyesali hilangnya nama-nama Jawa atau terlalu berlebihan mengadopsi nama-nama dari luar.  Memang nama ini seakan menjadi otoritas bukan dari si anak yang masih bayi yang bahkan tak  dapat berucap apa-apa selai menangis, karenanya cukup pnting agar nama itu juga memuaskan si anak saat mereka dewasa nanti. Karena juga ada orang yang tak puas dengan nama yang diberikan padanya sejak bayi.&lt;br /&gt;Mungkin ada criteria cara memilih nama yang baik, yang menurut saya bias kita gunakan untuk menamai anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, memberi nama dengan meniru nama-nama orang besar, orang berguna, dan orang yang dikenang sejarah—bisa jadi karena keberaniannya, karena pemikiran dan penemuannya, atau karena keperkasaannya, atau karena lain-lainnya. Nama-nama seperti yang sudah umum selalu dipakai untuk mengacu pada orang-orang besar: Muhhamad (kadang dipendekkan Ahmad) yang biasanya  nama depan, Jusuf (nabi), Iqbal (pemikir Islam), dan lain-lain bagi yang beragama Islam—atau Robert, Joni, dan lain-lain. Tapi juga nama-nama orang besar seperti Soekarno, Gandhi, Fidel, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi nama dengan merujuk pada orang besar dan tokoh sejarah tentu saja agar anak kita menjadi seperti mereka. Jangan segan-segan menegur anak dengan mengingatkan dengan nama mereka adalah nama orang besar. Misalnya pada saat anak kita malas belajar, maka kita akan berkata pada mereka: “Bagaimana ini, Soekarno kok malas belajar?! Bagaimana nanti dapat mmimpin massa dan pidato di hadapan banyak orang kalau  mengerjakan tugas saja tidak mau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang orangtua sama sekali tak memanfaatkan cara seperti itu. Pada hal secara psikologis hal  semacam itu masuk dalam perasaan mereka, baik sadar maupun tidak. Orangtua lebih suka menegur atau menyuruh anak dengan cara pragmatis, misalnya mengatakan: “Hayoo, kalau nggak belajar nanti nggak saya ajak nonton sirkus!” atau “Wah, gimana papa mau beliin kamu mobil baru kalau kamu malas-malasan dan tak membahagiakan papa kayak gitu!”&lt;br /&gt;Kadang juga hanya dimarahi agar menurut. Jelas hal itu tidak menunjukkan keintiman dalam mendorong anak agar berbuat baik. Cara semacam itu merupakan sesat pikir dalam mendidik anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, nama tidak harus dari  nama orang, tetapi juga dari kata yang mengandung makna tertentu yang tentu saja artinya harus kita jelaskan pada anak. Bisa kata sifat seperti Rahim (penyayang), Rahmat, dan lain-lain. Atau bias nama-nama benda baik binatang (Mahesa, Lembu, dll), tumbuhan (Bunga, Melati, Fatmosari, dll), atau bagian dari alam (Bintang, Siti [bumi], Wulan&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh-EhBj2jI/AAAAAAAAAbM/tTn981hf-D4/s1600-h/anakkkk.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 148px; height: 115px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh-EhBj2jI/AAAAAAAAAbM/tTn981hf-D4/s400/anakkkk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226565983612951090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;), gelar atau sebutan (Dewi, Putri, dll).&lt;br /&gt;Tak jarang pula nama-nama seperti Eka, Dwi, Tri, Panca, dll digunakan untuk menunjuk anak keberapakah anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dalam pandangan saya sebaiknya untuk ukura jaman sekarang kita jangan memberikan  nama yang terdiri dari satu huruf seperti orang Jawa dulu. Alasannya adalah bahwa mereka akan malu pada teman-temannya karena jujur saja hamper tak ada orangtua yang memberikan nama seperti itu. Kalau kita masih memberikan anak-anak kita akan malu kalau diolok-olok teman lainya.&lt;br /&gt;Keempat, akan lebih baik jika menggunakan 3 kata yang masing masing kata menyusun makna yang berarti atau tiap-tiap kata mengacu pada makna-makna yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, tetap tergantung pada Anda dalam memandang anak, mau jadi apa mereka. Saya boleh ingatkan bahwa  pemberian nama ini dapat Anda “politisir” untuk tujuan kebaikan bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi punya pndapat bahwa anak-anak kita harus kita bentuk jadi orang yang cakap dan kreatif untuk hidup secara ekonomi, tetapi yang lebih penting adalah agar anak saya kelak menjadi orang yang  berguna bagi masyarakat, menjawab apa kontradiksi (masalah) yang ada di masyarakat dengan kepandaian dan keberaniannya. Anak saya harus berpikir maju, demokratis, dan bebas dari pandangan subjektif misalnya yang dijangkiti prasangka keagamaan, kesukuan, dan lain-lain. Anak saya harus mampu memeluk dan memiliki dunianya, pertama-tama ia&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh9fz7F2_I/AAAAAAAAAas/cPVmuLvBkmU/s1600-h/anak_.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh9fz7F2_I/AAAAAAAAAas/cPVmuLvBkmU/s400/anak_.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226565353030933490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; harus mampu menjelaskan dunianya yang luas dan kedua mengarahkan dunia itu secara bersama dengan anak-anak lainnya yang pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, misalnya, saya memilih nama-nama seperti Hugo Karno Adisuryo. Apa maknanya? Sesuai kepentingan subjektif saya akan jadi apa dan akan berperan apa anak itu, 3 kata dari nama itu merupakan nama-nama tokoh sejarah baik di masa lalu maupun masa kini. Hugo adalah bagian nama dari Hugo Chavez, presiden Venezuela yang memiliki keberanian luar biasa dalam melawan  dominasi Amerika Serikat (AS) di dunia dan presiden yang memberikan kesejahteraan pada rakyatnya melalui kebijaksanaannya. Lalu, Karno saya ambil dari nama Bung Karno yang kita semua tentu telah tahu. Adisuryo adalah nama tokoh pergerakan melawan penjajahan Belanda pada saat Indonesia belum merdeka. Saya suka sealo tokoh Adisuryo ini dalam kisah yang digambarkan  Pramoedya Ananta Toer dalam Novelnya tetralogi Bumi Manusia, yang dalam novel itu namanya “Minke”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertahan hidup dan berperan di masyarakat dengan menulis, dan saya melihat peran ini bagus untuk merubah kesadaran dan menawarkan cara pandang saya pada pembaca, maka saya sangat mengidolakan Adisuryo karena beliau adalah tokoh pers pertama di Indonesia yang dengan kata-kata dan tulisan-tulisannya mampu membangkitkan kesadaran rakyat bumi putera. Karenanya saya ingin anak saya juga mewarisi kemampuan menulis seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah contoh rasionalisasi atas nama yang kita pilih, seperti yang saya contohkan secara pribadi. Kalau anak Anda  perempuan, misalnya, cobaah  berpikir untuk memberinya 3 kata untuk menamainya, yang masing-masing kata mewakili 3 peradaban yang berbeda—tentunya dipilih pilih 3 peradaban yang besar (Jawa, Barat, Arab). Untuk rasionalisasi semacam itu misanya namailah anak itu: Saienta Dewi Zahroh, misalnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa makna dari nama  yang terdiri dari tiga kata yang mewakili 3 peradaban yang berbeda itu? Kalau Anda mengambil nama itu, saya cenderung akan berkesimpulan: pertama, Anda tipe orang yang (multkulturalis), yang tidak terkungkung pada satu agama/budaya tetapi terbuka pada semua peradaban karena tiap-tiap peradaban masing-masing punya kearifannya; kedua, kata “Saienta”, misalnya, berarti ilmu pengetahuan. Dugaan saya Anda menginginkan anak perempuan yang cerdas dan banyak ilmunya: Anda le&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh9UdULs6I/AAAAAAAAAak/7O_Qe0b36Aw/s1600-h/anak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh9UdULs6I/AAAAAAAAAak/7O_Qe0b36Aw/s400/anak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226565157983597474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;bih suka  anak Anda jadi ilmuwan daripada terobsesi jadi artis dan penghibur. Saya mengacungi jempol pada Anda, karena Anda punya perspektif yang modern dan demokratis di tengah-tengah banyak orangtua yang tak mengerti artinya hidup dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya menawarkan beberapa hal yang  dapat dipakai sebagai acuan agar Anda menghasilkan anak-anak yang tumbuh dan berkembang dengan baik bagi masa depannya dan masa depan kehidupannya.***&lt;br /&gt;:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-5351773752844533215?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/5351773752844533215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=5351773752844533215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5351773752844533215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/5351773752844533215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/07/renungan-hari-anak-nasional-han.html' title='Renungan Hari Anak Nasional (HAN):'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh9sC4RITI/AAAAAAAAAa0/sIrrKfb4mPU/s72-c/anakanak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-671030331369385815</id><published>2008-07-24T05:39:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T09:35:16.050-08:00</updated><title type='text'>Tanggapan untuk  Santi Ratana:</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 20pt;font-size:180%;" &gt;&lt;b&gt;Tanggapan untuk  &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center"&gt; &lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;font-size:180%;" &gt;&lt;b&gt;Santi Ratana&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000080;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://santiratana.multiply.com/reviews/item/1"&gt;http://santiratana.multiply.com/reviews/item/1&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;font-size:180%;" &gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;(Tentang Buku Tibet Saya)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh6z500ACI/AAAAAAAAAac/5047--dQRkc/s1600-h/cover_REVOLUSI+TIBET.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 177px; height: 311px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh6z500ACI/AAAAAAAAAac/5047--dQRkc/s400/cover_REVOLUSI+TIBET.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226562399677710370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya sampaikan terimakasih pada para pembaca  buku karya saya, dan terimakasih yang lebih besar saya ucapkan pada mereka yang mau memberikan komentar, catatan, kritik, atau pandangan terhadap karya saya. Dunia gagasan memiliki wilayahnya sendiri untuk bertarung, meskipun saya tak percaya  bahwa dunia gagasan adalah ruang hampa yang terbebas dari keterkaitannya dalam ranah  material yang kadang bersifat politis, atau yang paling nyata bersifat ekonomis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Prinsip tersebut saya pegang sejak awal, jauh-jauh hari sebelum saya menerjunkan diri menjadi penulis dan jauh-jauh hari sebelum karya-karya saya—baik buku maupun esai-esai—lahir dan diapresiasi oleh redaksi koran atau redaksi penerbit buku. Jika secara khusus dikaitkan dengan kasus kutipan-kutipan kata-kata dalam buku Tibet, maka saya yakin bahwa pandangan yang saya akan berkontradiksi dengan pandangan dan kenyataan yang sedang berlangsung. Terlalu riskan memang berbicara tentang  agama dan tokoh agamawan seperti Dalai Lama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Resiko itu harus saya tanggung ketika saya dipandang terlalu “tendensius”  dalam melihat keberadaan Dalai Lama di Tibet, yang merupakan seorang tokoh yang memiliki banyak pengikut di berbagai belahan dunia. Saya minta maaf, dengan tulus dan ikhlas, jika kata-kata saya menyinggung Beliau (Dalai Lama) dan para pengikutnya, termasuk Saudara/i Santi Ratana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tetapi, dalam tulisan ini, saya hendak meluruskan beberapa hal yang menjadi kesalahpahaman Beliau (Mas/Mbak Santi) yang menurut saya juga tampak begitu tak objektif dan emosional, entah dalam memandang katya saya, terutama proses kreatifnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ada baiknya saya kutipkan “kecurigaan-kecurigaan” beliau terhadap buku Tibet dan proses kreatif saya, sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;li&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tulisan saya terlalu instan dan memenuhi “kejar Tayang ala  sinetron”;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Isi tak sesuai dengan judul yang terlalu “Bombastik”;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Fitnah” terhadap sosok Dalai Lama;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Soal “komodifikasi pengetahuan”;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya akan menjelaskan “kecurigaan-kecurigaan” itu sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Soal karya instan dan terkesan “kejar tayang”.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kejar tayang ala Sinetron?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oh, buku saya bukan buku yang mengajari anak-anak muda dan remaja untuk cengeng dan hanya mengejar “cinta cinta cinta dan cinta” seperti sinetron. Buku saya meamng diterbitkan untuk mencari keuntungan—atau mungkin bisa jadi untuk sekedar bertahan hidup—penerbitnya&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh5VHlCpJI/AAAAAAAAAaM/mbDXbKDD6lE/s1600-h/tibet+lama.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 169px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh5VHlCpJI/AAAAAAAAAaM/mbDXbKDD6lE/s400/tibet+lama.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226560771282085010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;! Buku saya mengajak pembaca merenung dan mengetahui informasi alternatif, serta mengusung gagasan perlawanan terhadap manipulasi atas keadaan. “Buku yang isinya terlalu banyak anti-Amerika”, begitu banyak orang berkomentar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Entah darimana informasi bahwa karya saya itu dilakukan dengan instan. Seakan Saudara/i Ratna adalah orang dekat saya yang tahu bagaimana saya berproses kreasi. Sebagai sarjana Hubungan Internasional yang seharusnya tahu banyak hal tentang politik dunia, saya memang mengakui bahwa saya tidak menghabiskan banyak waktu untuk  mempelajari kawasan Asia, meskipun secara geografis saya berada di wilayah ini. Saya lebih merasa enjoi untuk membaca buku-buku filsafat dan juga lebih asyik menghabiskan karya tulis untuk melakukan serangan terhadap asumsi-asumsi filsafat dan kebudayaan kapitalis. Skripsi saya untuk lulus kuliah adalah tentang Neoliberalisme dipandang dari kacamata materialisme-historis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tetapi bukan berarti saya tak punya hak untuk menulis apapun. Untuk menyebut suatu karya instan atau tidak, tidak tergantung pada lamanya waktu, tidak tergantung pada tebal tipisnya buku, juga bahkan tak tergantung pada apapun. Menulis bukanlah suatu kegiatan yang bisa dipaksakan atau didefinisikan secara sederhana.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Buku TIBET yang saya tulis adalah satu-satunya buku tentang konflik Tibet yang belakangan berlangsung. Dan saya tidak akan pernah berubah, saya ingin menunjukkan bahwa Tibet tidak semata seperti apa yang digambarkan oleh media massa Indonesia, meskipun tidak berarti bahwa semua berita tentang Tibet manipulatif 100%.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya sudah memenuhi prosedur yang benar, tidak ada yang melarang  kita untuk mengutip koran-koran, apalagi koran sekaliber Kompas. Karena saya memang tak sanggup pergi secara langsung ke Tibet, tak cukup uang bagi saya untuk mengadakan survey langsung ke Himalaya. Makanya, saya juga mencari sumber yang sekiranya dapat mengimbangi berita-berita dalam negeri (Indonesia). Sumber internet yang saya kutip  adalah situs koran/media yang kebanyakan adalah koran resmi dan besar—yang bahkan adalah koran kapitalis, mereka lebih kapitalis daripada penerbit buku yang menerbitkan karya saya [sic!].&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dengan mengutip koran, tentu saja kita bertanggungjawab karena pembaca buku akan tahu siapakah sumbernya—dan ini merupakan standard penulisan ilmiah yang sangat disarankan oleh dosen-dosen dan akademisi sejak saya kuliah dulu. Dan kebiasaan menggunakan footnote itu memang selalu saya pakai dalam setiap tulisan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menggunakan 4 buku sebagai sumber, menurut saya, tak menggunakan bahwa karya saya instan. Saya suka sekali menulis mengalir tanpa sumber apapun, itu sudah seringkali saya lakukan. Tapi untuk soal kejadian semacam Tibet, saya ingin menulis karya yang ilmiah, meskipun tak tebal tak apa-apa, yang penting saya mampu melontarkan gagasan dan info untuk meng-counter info-info yang bertujuan untuk memanipulasi keadaan demi kekuasaan tertentu. Saya curiga pada Amerika Serikat (AS) dalam berbagai kejadian global, karena pada kenyataannya keterlibatan AS atas setiap kejadian global sudah tak terbantahkan lagi.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh6OjngM0I/AAAAAAAAAaU/0ySonB-TKiU/s1600-h/tibeti.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh6OjngM0I/AAAAAAAAAaU/0ySonB-TKiU/s400/tibeti.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226561758061146946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;am kasus Tibet, saya memang begitu tendensius terhadap AS terutama pada seruan Boikotnya pada Olimpiade Beijing. Oh, saya suka sekali aktor Hollywood Richard Gere, tapi saya tak setuju sikapnya melakukan boikot Olimpiade Beijing. Dan saya bukan antek Cina—meski saya berwajah Cina atau keturunan Cina [Hehe..!].&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jujur saja, fakta bahwa buku  Tibet dianggap tipis dan kerempeng sebagaimana dituduhkan Ratna, tak akan berpengaruh apa-apa buat saya, juga buat penulis yang lain. Bahkan akan membantu mereka yang haus informasi dan kutu buku. Dengan buku tipis, harga akan terjangkau. Menulis buku tipis dan padat juga menyenangkan sekali, ini saya alami dalam proses menulis buku Tibet.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;2. Soal Isi tak sesuai judul, judul terlalu bombastis&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Judul tak terlalu bombastis. Ada berbagai kepentingan yang saya angkat. Ada bab I yang cerita bagaimana isu Tibet naik dan ada peran media di situ. Lalu bab-bab selanjutnya ada kisah tentang pihak Cina, lalu ada pihak Dalai Lama, dan terakhir ada pihak Amerika Serikat (AS): Jadi, wah, cukup nyambung dan sesuai dengan judulnya. Karena memang ketiga kepentingan itulah yang tarik-menarik, judulnya juga ada kata Tibet, Cina, dan Amerika—yang menuliskan judul untuk karya ini cukup pintar, saya salut pada penerbit Garasi Book yang begitu kreatif!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Intinya memang ada di bab akhir, yaitu keterlibatan AS. Poin inilah yang menjadi fokus karya-karya “Hubungan Internasional” saya—mulai dari Venezuela-Nikaragua dan Amerika Latin, hingga berbagai kajian politik dunia yang saya kerjakan. Jadi Tibet bukannya karya instan, tetapi justru menunjukkan eksistensi saya yang konsisten [sic!].&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="font-family: times new roman;" start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Soal Komodifikasi pengetahuan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Komodifikasi pengetahuan bukan urusan saya, tetapi urusan penerbit, tetapi bukan penerbit buku Tibet (Garasi Book) yang merupakan penerbit “haus uang”. Saya memilih penerbit ini karena ia mencetak buku-buku yang kritis dan dalam hal tertentu juga mengangkat topik-topik yang radikal. Ia menerbitkan kisah Fidel Castro, Hugo Chavez, Ahmadinejaad, Sandinista, dan tentunya secara subjektif  ia mau menerbitkan tulisan-tulisan saya yang juga radikal. Tak banyak penerbit yang berani mengambil pilihan untuk mengangkat “topik minor” yang tak disukai penguasa yang hanya mau mendukung buku-buku neoliberalistik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kok?  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kalau untuk membaca buku harus mengeluarkan uang (beli), ya itu komodifikasi pengetahuan! Kita hidup di jaman jual-beli, dan bahkan gagasan apapun bisa didapat dengan beli?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya menolak komodifikasi pengetahuan, tapi saya juga harus bertahan hidup, demikian juga penerbit itu. Bukan berarti saya tidak mengerjakan sesuatu untuk memperjuangkan perlawanan terhadap monopoli kapitalis terhadap ilmu pengetahuan. Esai-esai saya di blog ini, juga kata-kata dalam buku-buku saya jelas sekali menolak kapitalisme apapun. Hingga sekarang saya juga masih punya aktivitas untuk mengaktualisasikan kebencian saya terhadap sistem ekonomi komersil ini. Dan ketika penerbit mau menerbitkan kata-kata yang mencerminkan kebencian saya terhadap kapitalisme... wah, saya bersyukur dan berteriak seperti anak kecil: &lt;i&gt;Horeeeeeeeeeeeeeeee&lt;/i&gt;..!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mungkin Anda perlu bertanya pada orang-orang yang bekerja di penerbitan, terutama di kota Yogyakarta, tentang apakah mereka menerbitkan buku semata-mata  untuk mencari keuntungan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="font-family: times new roman;" start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Soal memfitnah Dalai Lama&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tidak ada maksud untuk memfitnah. Sungguh, saya mohon maaf kalau “terlanjur” bernada seperti itu. Ini karena saya adalah anak muda yang terlalu emosional....  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Maksud s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh4VReDs5I/AAAAAAAAAaE/jgUiNjn_o44/s1600-h/tibet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh4VReDs5I/AAAAAAAAAaE/jgUiNjn_o44/s400/tibet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226559674425521042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;aya bukannya menghakimi, tetapi melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang memang berdasarkan pada kenyataan yang bisa kita lihat. Ketika saya mengatakan bahwa Dalai Lama “bersembunyi di balik jubah kerahiban”, juga kata-kata saya bahwa Dalai Lama adalah “tokoh yang menikmati konflik ini”, mungkin ini  gara-gara saya terlalu subjektif! Saya minta maaf sebesar-besarnya pada Dalai Lama dan para pengikutnya, termasuk saudara/i Ratna. Saya berjanji tak akan mengulanginya lagi, tak akan menggunakan kata-kata seronok seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya berangkat dari fakta objektif: Dalai Lama adalah elit agamawan yang sekaligus elit ekonomi politik, karena  beliaulah yang memiliki sumber daya ekonomi-politik di Tibet, rakyat seakan kehilangan perannya. Tetapi saya membayangkan nasib rakyat yang membangun istana Polata yang tetap saja  kembali pada Dalai Lama yang dikenal sebagai penghuni istana.. saya hany menginginkan pembaca tahu di manakah keringat rakyat pekerja Tibet mengalir saat secara fisik harus bekerja keras membangun istananya, tetapi mereka tetap dalam keadaan miskin dan tak diingat sama sekali dalam sejarah. Keterasingan rakyat Tibet yang bekerja keras untuk peradaban para Lama tergantikan oleh perasaan akan keagungan lokalitas budaya dan tradisi Tibet yang dalam sejarahnya tak menyebut sedikitpun peran (rakyat pe)kerja sebagai awal mula kebudayaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oh, saya selalu benci pada feodalisme!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dan dengan ini saya minta maaf. Mungkin saya hanya perlu merangkaikan kata-kata dengan baik dan menjauhi penjelasan yang langsung menunjuk pada subjektifitas yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-indent: 0.32cm; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya bangga kok dengan karya itu, karena poinnya adalah perjuangan demokrasi dan melawan kesewenang-wenangan penjajahan Amerika Serikat. Jika Tibet merdeka dari Cina, saya tak akan menyesal pula. Tetapi untuk jatuh ke tangan Amerika Serikat yang akan mengeruk kekayaan minyak dan gas di punggung Himalaya? Oh, kasihan sekali rakyat Tibet!!!***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/640809186959586577-671030331369385815?l=esaipolitiknurani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/feeds/671030331369385815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=640809186959586577&amp;postID=671030331369385815' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/671030331369385815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/640809186959586577/posts/default/671030331369385815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaipolitiknurani.blogspot.com/2008/07/tanggapan-untuk-santi-ratana.html' title='Tanggapan untuk  Santi Ratana:'/><author><name>Profil Penulis:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01808144683288253094</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIh6z500ACI/AAAAAAAAAac/5047--dQRkc/s72-c/cover_REVOLUSI+TIBET.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-640809186959586577.post-78306199655122897</id><published>2008-07-21T22:47:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T09:35:16.274-08:00</updated><title type='text'>Kritik untuk Buku Saya: Mohon Tanggapannya!!!</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a style="font-family: times new roman;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIV1GtIkqcI/AAAAAAAAAZ8/5mi3lceWKfI/s1600-h/cover_REVOLUSI+TIBET.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 346px; height: 450px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c_NwoS5hcTg/SIV1GtIkqcI/AAAAAAAAAZ8/5mi3lceWKfI/s400/cover_REVOLUSI+TIBET.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225711700688546242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;(TULISAN INI PERLU KITA TANGGAPI, PERLU KITA RENUNGKAN!!!, MOHON TANGGAPANNYA...)!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;a style="font-family: times new roman;" href="http://santiratana.multiply.com/reviews/item/1"&gt;Revolusi  Tibet: Fakta, Intrik, &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-family: times new roman;" href="http://santiratana.multiply.com/reviews/item/1"&gt;dan Politik Kepentingan Tibet - China -  Amerika Serikat&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div style="font-family: times new roman;" id="item_body" dir="ltr"&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://santiratana.multiply.com/reviews/item/1"&gt;Oleh:  Santi Ratana&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://santiratana.multiply.com/reviews/item/1"&gt;http://santiratana.multiply.com/reviews/item/1&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Apa jadinya bila sebuah studi dikerjakan dengan semangat “kejar  tayang” a la sinetron? Nurani Soyomukti tentu tahu jawabannya.  Sebab deng
