Minggu, 09 Maret 2008

:::::::::: Ekonomi-Politik ::::::::::

Para Pembela Pasar

—Oleh: Nurani Soyomukti—


Buruh?
Para pembela pasar bukanlah buruh-buruh yang bekerja di pabrik, yang menggerakkan tubuh dan anggota badannya menjalankan mesin-mesin dan mengubah bahan mentah menjadi suatu barang yang akhirnya dijual—meskipun dirinya sendiri tak mau membeli barang yang dihasilkannya sendiri. Sungguh, mereka hanyalah kebanyakan dikurung dalam kawasan industri yang membuat mereka tak mengerti bahwa hubungan kerja yang ada (kapitalisme) menyangkal keberadaan mereka sebagai manusia (yang butuh memenuhi kebutuhan lapar dan dahaga, dan kebutuhan lainnya yang membuat mereka layak menjadi makhluk yang bernama manusia.
Sarjana
Para pembela pasar—meskipun tidak semuanya—adalah lulusan kuliah yang dengan begitu bangganya dengan ijazah S1 berkompetisi berebut pasar kerja. Mereka masuk pasar kerja dan mereka menjual dirinya agar laku dalam bursa pasar kerja. Banyak dana yang dikeluarkan untuk mendandani tubuhnya dan mengolah kecerdasan teknis otaknya: mereka harus membaca mantra-mantra atau ayat-ayat jitu tentang efektifitas cara mencari kerja. Mereka adalah para laki-laki dan perempuan muda yang gandrung akan status eskekutif industri atau manajer pemasaran: Mereka adalah duta-duta atau deputi produk-produk industri yang juga menggunakan para perayu agar anak-anak yang mulai belajar berhitung juga begitu fasih menghafal nama-nama produk dan nama-nama bintang yang tampil dalam acara TV yang selalu berganti-ganti dengan penampilan citra produk.
Produk yang dicitrakan dan para artis-selebritis (mulai dari pelawak, pemain drama, penyanyi, presenter, juga sebagian pelacur yang terseleksi dalam industri seks yang berkesempatan tampil di TV).


Artis-Selebritis
Para pembela pasar utama dan yang paling kelihatan di hadapan mata kita memanglah mereka yang tampil di TV dan menyuguhkan berbagai penampilannya agar kita merasa bahwa budaya pasar begitu indah dan seakan melupakan keindahan sejati itu sendiri. ”Belilah produk ini, itu, ini itu, yang ini, yang itu! Tirulah artis ini artis itu! Tirulah rambut ini rambut itu! Belilah produk ini produk itu! Nikmatilah yang ini yang itu!”, begitulah doktrin utama yang dibombardirkan ke kita. Artis-artis alias seniman pendukung budaya pasar—yang lahir, tumbuh, dihidupi (digaji) oleh penguasa industrialis kapitalisme, dan yang mati demi dan atas nama pasar—memanglah para seniman/artis selebritis. Bahkan kadang merekalah yang secara agresif melontarkan gagasan-gagasan, wacana, dan ucapan gampangannya kepada penonton.

”Orang-orang barbar tak lagi mengempur gerbang kota kita, mereka sedang makan malam bersama kita. Nama mereka adalah J. Lo, Ja Rule, dan Paris Hilton”, kata Michael ReGault, seorang pengamat media AS.1 Mereka menjejali media-media hingga tak ada satupun media popular yang berisi keluhan dan tuntutan orang-orang miskin yang susah dan menggugat keadaan: yang ada hanyalah wajah cantik bergincu tebal dan bermake-up yang kadang keterlaluan mirip ’topeng monyet’ atau laki-laki yang kalau tak mancho pasti ’mbanci’.

Berharap pada media untuk membela rakyat miskin akan membuat Anda pesimis. Tak heran jika sosiolog ternama seperti C. Wright Mills mengajukan pandangan yang pesimistik terhadap fungsi media. Dalam bukunya “The Power Elite” (1956), Mills mengutuk fungsi media yang lebih berfungsi sebagai instrument yang memfasilitasi—apa yang ia sebut sebagai—“kebutahurufan psikologis”.2 Mills juga memandang media sebagai pemimpin “dunia palsu” (pseudo-world), yang menyajikan realitas ksternal dan pengalaman internal serta penghancuran privasi dengan cara menghancurkan “peluang untuk pertukaran opini yang masuk akal dan tidak terburu-buru serta manusiawi”.3

Bayangkan, bagaimana tidak tergesa-gesa jika TV, sebagai media, hanya menyuguhkan tayangan-tayangan/acara yang tidak berkualitas semacam sinetron-sinetron cengeng atau reality show. Acara ini dibuat tanpa kedalaman cerita dan estetika yang bermakna, tetapi justru didukung oleh iklan dengan tujuan semata-mata agar tercipta masyarakat—khususnya remaja dan kaum muda—yang hanya bisa membeli dan membeli.

Menurut Alan Middleton, asisten professor marketing dan direktur eksekutif di Schulich Exective Education Center, periklanan merupakan industri yang sangat konservatif. Iklan tidak membuat trend, tetapi hanya mengikutinya. Iklan tidak berusaha mengubah hal-hal yang sudah ada. Dia tidak berusaha meningkatkan tingkat melek huruf atau memperbaki pengetahuan kita terhadap sejarah atau meningkatkan apresiasi terhadap Shakespeare. Ungkapan itu diperkuat dengan argument Curtis White dalam bukunya “Middle Mind”, mengikuti trend bisa berarti memperkuat trend tersebut. White mengamati bagaimana tayangan televise “Antique Road Show” di Amerika telah mengubah seni dan benda-benda antik menjadi “Bentuk komoditas pemujaan yang murahan”. Dalam hal opera sabun dan drama televise, trend tersebut telah memiliki sejarah yang panjang yang dibangun atas tema keserakahan, seks, dan kekerasan.4

Mengerikan!

Ekonom
(Menurut Allan Wood) mereka adalah pula para pembela "kekuatan pasar", kekuatan irasional yang kini telah memenjarakan jutaan orang ke dalam pengangguran. Mereka adalah juga para pengkotbah perekonomian "sisi suplai", yang didefinisikan secara cerdas oleh John Galbraith sebagai teori bahwa kaum miskin memiliki terlalu banyak uang dan kaum kaya memiliki terlalu sedikit. Maka, "moralitas" yang berlaku sekarang ini adalah moralitas pasar, yakni, moralitas rimba. Kemakmuran masyarakat semakin terkumpul di segelintir tangan, yang juga jumlahnya semakin menyusut, sekalipun kita terus mendengar propaganda tak masuk akal tentang "demokrasi kepemilikan" dan "yang kecil itu indah".

Politisi
Para pembela pasar berikutnya adalah politisi. Para politisi yang diuntungkan dengan diterapkannya pasar bebas, entah yang meyakini doktrin pasar dan berusaha minta legitimasi ilmiah ekonomi pasar maupun yang tak mengerti apa-apa, memanfaatkan posisi politiknya untuk mengikuti diktum pasar (neoliberal) dengan mendukung dan membuat kebijakan pro-pasar: memotong subsidi sektor rakyat (kesehatan, pertanian, pendidikan, dll) dan biasanya justru menambah anggaran tentara; melego dan menjual murah perusahaan-perusahaan negara; tidak membatasi modal asing dan perusahaan asing sehingga produk-produk luar disediakan pasar, yang merusak daya saing produk-produk dalam negeri (beras impor, pupuk impor, dan tetek mbengek impor); bahkan mengorbankan buruh, membuat buruh dibayar murah dan mudah diatur agar pemodal asing berbondong-bondong masuk dan mendominasi.

Ya, karena ditentukan oleh para politisi dan penyelenggara negara, pada akhirnya yang mendominasi adalah pasar. Dan pasar bukanlah suatu hal yang abstrak, karena dia adalah Modal dan kekuatan yang hanya berkeinginan satu: menumpuk keuntungan, menambah modal.



Agamawan (Kiai, Ustadz, juru Dakwah)
Para pembela pasar berikutnya adalah agamawan, yang kebanyakan kiai. Sebut saja AA. Gym, Ustadz Jefrrey, dll. Mereka adalah pengkotbah moral-reliji yang dibesarkan media kapitalis, terutama TV. Mereka menjadi bintang iklan dan hanya mengumar ayat-ayat yang melanggengkan tatanan pasar bebas dan menjadikan ayat-ayat cinta palsunya sebagai katub pengaman moral kapitalisme dan kontradiksinya: agar rakyat yang tertindas tak menuntut sistem ekonomi pasar, dihiburlah mereka dengan surga agar mereka merelakan dirinya dimangsa didunia karena telah dijanjikan do akhirat, surga dengan kenikmatan tiada tara—”Sistem kolektifitas hanya ada di surga, di dunia tempatnya sistem pasar, dan saya adalah bintang Iklan”, seru salah seorang pengkhotbah.

Para agamawan pembela pasar melupakan salah satu ucapan penting orang suci Idan tokoh Islam ”Sebaik-baiknya tempat adalah masjid, dan seburuk-buruknya tempat adalam pasar!” Para agamawan itu juga lupa dengan ayat Kitab Suci Al Qur’an bahwa ”Allah akan memberikan karunia pada orang miskin-tertindas, dan akan menjadikan mereka pemimpin dan pewaris”. Dengan menjadi bintang iklan dan idola, para kiai itu lupa diri dan lupa bahwa seharusnya rakyat miskin harus bersuara dan media tak mau mengangkatnya.

Bahkan ketika rakyat miskin mencoba menyampaikan tuntutannya sendiri—entah dimuat media ataupun tidak—, para agamawan ini bahkan kebingungan dan menyuarakan hal yang bertentangan. Mereka dengan mudahnya menuduh kalangan yang menuntut keadilan sebagai ”komunis”, ”provokator”, ”perusuh” (dissident), ”anarkis”. Dan betapa butanya mata para agamawan ini, karena mereka tak mau—atau sengaja menyembunyikan—menyebut ayat-ayat yang jelas-jelas membolehkan orang tertindas menyampaikan kemarahannya; ayat yang berbunyi ”Dilarang kalian mengumpat dan berkata kasar, kecuali kalian adalah orang yang tertindas”. Dalam ayat ini jelas, orang (di)miskin(kan) dan tertindas boleh berkata kasar dan mengumpat, terurutama mengumpat pada para penguasa (mustakhbirin) dan pemerintah tiran (taqhut) demi al adhalah dan al musyawah, keadilan dan egalitarianisme!

Betapa jelas para pembela pasar yang terdiri dari para agamawan ini berpijak dan berpihak. Semua orangpun tahu, betapa bodohnya apa yang ditunjukkan AA. Gym: Ketika rakyat miskin tertindas ramia-ramai menolak kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintahan Yudoyono-Kalla, AA. Gym justru membelanya dan ia menghujat para demonstran. Ketika kebanyakan pemuda-pemudi takut untuk menikah karena mereka tidak siap (karena masih menganggur dan berada dalam miskin), para agamawan sibuk juga meneriakkan ”Ayo POLIGAMI!”

Anda
Dan apakah Anda ada di antara mereka, baik sadar maupun tidak sadar. Saya sering mendengar seorang yang berkata: ”Pasar itu satu-satunya yang harus mengatur kehidupan. Kalau diatur negara malah repot, nggak efisien, nanti malah dikorup!”. Ada lainnya yang berkata—seperti Francis Fukuyama: ”Pasar adalah akhir dari sejarah, tak mungkin ada yang menggantikkannya. Apa kita akan kembali menyerahkan urusan pada negara dan menjadi komunis? Tidak lah Yauuuuw!” Yang lain bilang: ”Enakan pasar, kan kita bisa bebas, dan karena orang bersaing akhirnya kompetisi membuat orang maju. Karena dorongan manusia untuk maju harus diciptakan melalui naluri... dan naluri itu akan tercipta jika ada persaingan dengan Pasar. Hidup pasar! Aku ke pasar dulu ya, belanja baju baru... Hehehe!”
Saya tak tahu apakah Anda pernah mengatakan itu, atau hampir sama dengan itu. Mungkin saya bisa ajukan perrtanyaan ke Anda?

1. Benarkah kemajuan hanya terjadi karena persaingan (kompetisi) individualistik? Tidak bisakah kemajuan justru akan cepat terjadi dengan kerjasama atau sistem kolektif? Kemajuan itu karena persaingan atau karena kerjasama? Anda bisa contoh...
Benarkah sejarah sudah berakhir dan ”pasar” adalah babak akhir dari drama kehidupan manusia? Tidakkah hidup ini berjalan terlalu panjang, jutaan tahun? Bukankah pasar masih berumur 300 tahunan, sebelumnya tatanan kolektif berlangsung ribuan tahun, lalu perbudakan dan feodalisme (kerajaan) beribu-ribu tahun? Apakah sosialisme adalah ”basi” dan bukannya syarat-syarat terjadinya tatanan material-ekonomis bagi sistem lain, selain pasar, memang belum siap?
2. Apakah dulu, tiga ratus tahun yang lalu, orang akan membayangkan kalau tatanan dan hubungan ekonomi akan sekarang? Dan benarkan seribu tahun lagi pasar masih akan bertahan, saat teknologi benar-benar maju, saat ilmu dan teknologi tak dimonopoli oleh sedikit orang (terutama perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan teknologi untuk dimassalkan dengan syarat harus dalam hukum jual beli/komersial) dan pendidikan dapat dinikmati semua orang?

3. Bukankah 350 tahun lalu tak terbayangkan bahwa orang bisa terbang dan sekarang itu bisa? Dan bukankah saat setiap akses terhadap pendidikan dan IPTEK maju dan adil, tak ada lagi yang bisa membodohi? Dan kalau anda percaya bahwa pasar akan tetap bertahan sama artinya anda berharap bahwa masih banyak orang yang bodoh?
Benarkah sejarah berakhir hanya karena anda merasa nyaman saat berbelanja atau mendapatkan kerja yang tak mengagumkan?
Wallahu’alam!

Ngawi, 9 Maret 2008: 22: 23

____________________
1 Michael R. LeGault, Sekarang Bukan Saatnya untuk “Blink” Tetapi Saatnya untuk THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata. Jakarta: PT. Transmedia, 2006
2 C. Wright Mills, The Power Elite, New York: Oxford University Press, 1956, hal. 311
3 Ibid., hal. 314
4 Michael R. LeGault, Sekarang Bukan Saatnya untuk “Blink” Tetapi Saatnya untuk THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata. Jakarta: PT. Transmedia, 2006, hal. 131

Kamis, 06 Maret 2008

Budaya Politik:

Politik Berbiaya Tinggi
(High-Cost Politics)

Oleh: Nurani Soyomukti*)


Politik berbiaya tinggi adalah fakta yang kita jumpai hari-hari ini. Dari hari ke hari biayanya kian meninggi. Bahkan lebih rendah dari harga diri. Dan ia menggambarkan budaya politik yang bukan lagi parokial, tetapi mendekati politik terkomodifikasi yang mencerminkan semakin canggihnya kapitalisme (pasar bebas) beroperasi.

Dulu politik adalah masalah partisipasi dan ideologi. Setiap kekuatan politik (partai dan organisasi masyarakat) menunjukkan eksistensinya dalam politik dengan tujuan ideologis yang tak diremehkan dengan tujuan pragmatis seperti ua
ng dan jabatan. Di jaman pergerakan, masing-masing tokoh yang mewakili berbagai kekuatan politik berdebat soal cita-cita dan ide-ide untuk menciptakan masyarakat yang dianggapnya baik. Debat dalam PPKI dan BPUPKI seputar kemerdekaan tahun 1945 menunjukkan bahwa masing-masing tokoh sama-sama merasionalisasi pemikiran dan ideologinya.

Demikian juga pada pemilu pertamakali pada tahun 1955. Masing-masing partai politik melibatkan massa bukan dengan sogokan kaos partai, uang, atau barang-barang yang menghalangi orang untuk berpikir dalam berpolitik lainnya. Pemilu 1955 adalah pemilu yang paling demokratis dalam sejarah politik di Indonesia. Partisipasinya benar-benar ’sehat’ dan bahkan bersih dari ’konflik’ yang membahayakan.

Masing-masing partai memiliki massa yang militan dan mereka memilih bukan karena sogokan-sogokan material. Artinya kesadaran yang tercipta bukanlah kesadaran ’cekak’ atau sempit. Terlalu mudah untuk mengajak orang untuk memilih atau nyoblos. Biaya yang dikeluarkan untuk politik juga tak banyak, artinya politik diselenggarakan secara irit.
Hal itu jauh berbeda dengan sekarang. Setiap ada pemilu, isu golput pasti muncul. Belakangan, nampaknya tokoh-tokoh politik dan partai politik juga akan kesulitan untuk mengajak orang untuk milih. Banyak yang apatis dengan politik.

”Politik? Ah, tai kucing!” Politik tak ada kaitannya dengan nasib rakyat. Politik hanyalah ajang bagi para elit untuk berebut kekuasaan dan, nyatanya, kekuasaan itu tak pernah nyambung dengan keinginan rakyat untuk melihat perubahan demi kesejahteraan dirinya.

Pada akhirnya, elit juga tahu bahwa rakyat juga kian malas untuk berpolitik karena politik dianggap tak ada kaitan dengan nasibnya. Apatisme dan keacuhan rakyat terhadap moment-moment politik tersebut tentunya akan merepotkan para elit yang menginginkan basa-basi ritualitas politik tiap lima tahun sekali—entah pemilihan umum tingkat nasional (pemilu) ataupun tingkat daerah (pilkadal). Kalau banyak rakyat tak milih, tak akan ada legitimasi bagi proses pemilihan, artinya tak ada legitimasi bagi proses berebut kekuasaan.

Ibaratnya rakyat sudah bosan dengan politik, mereka akan terus dilibatkan dengan berbagai cara dan upaya, agar rakyat berpartisipasi. Dan makna partisipasi, sayangnya, hanya berupa nyoblos ataupun berkerumun ketika ada kampanye dengan suguhan hiburan musik pop dan dangdut. Partisipasi politik di masa kampanye yang terjadi hanya karena ingin mendapatkan hiburan di depan panggung di mana artis terkenal didatangkan. Partisipasi hanya dengan mencoblos gambar partai atau calon presiden atau kepala daerah.

Dari sinilah asal-muasal terjadinya politik biaya tinggi (high-cost politics): yaitu ketika massa rakyat semakin apatis dan malas berpolitik, maka pada saat itulah para elit yang sedang berebut jabatan/kekuasaan harus mengeluarkan banyak biaya agar mereka mau ikut dalam proyek politik orang-orang elit. Jadi, biaya banyak dikeluarkan untuk membiayai mobilisasi dan partisipasi.

Ibaratnya, meskipun rakyat bersembunyi di lubang semut atau di dalam got-got, para elit akan tetap mencari-cari mereka. Partisipasi politik dirangsang dengan berbagai cara, yang paling efektif adalah dengan memberi imbalan agar mereka terlibat. Hal ini berlaku bukan hanya dalam kasus membayar massa Rp 10 ribu atau 20 ribu agar mau menghadiri calon A atau B, tetapi juga terjadi dalam menyiapkan struktur organisasi atau pembangunan partai.

Ada partai yang didirikan dengan memberikan uang pada siapa saja yang mau menjadi pengurus, dengan dibiayai pula biaya sewa atau beli rumah untuk kantor (sekretariat) partai di tingkat cabang hingga ranting. Ada yang lebih lucu lagi, ada partai politik yang didirikan dengan memberikan jaminan asuransi bagi siapa saja yang mau menjadi pengurusnya.

Membuat kaos partai dan kaos bergambar calon yang akan dipilih dengan jumlah yang besar adalh suatu hal yang sudah biasa. Semakin banyak biaya yang dikeluarkan, semakin banyak pula kaos yang diberikan dan dipakai orang-orang. Tak mungkin kaos itu ditolak oleh kalangan rakyat kecil, karena untuk membeli kaos atau baju mereka kesulitan atau harus mengurangi jatah makan sehari-hari. Makanya, memberi kaos partai atau kaos bergambar calon adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh kekuatan politik yang ingin menang. Semakin uang yang dikeluarkan untuk membeli kaos, bendera, banner dan atribut-atribut, maka partainya akan nampak di mana-mana.
Dalam situasi kesadaran politik Indonesia yang kosong, yang nampak banyaklah yang biasanya akan diikuti karena politik rakyat miskin yang (di)bodoh(i) adalah politik ”manut grubyuk”.

Mendekati pemilu 2009, nampaknya budaya politik yang sama telah, sedang, dan akan terjadi. Apakah Anda akan membiarkan kesadaran rakyat teracuni dengan politik komersialisasi para elit? Ataukah Anda akan mengeluarkan sikap golput dan menyerukannya ke orang lain satu demi satu atau mengorganisir kampanye golput seperti aksi demonstrasi tutup mulut dengan membawa poster bertuliskan ”Ayo Kita Golput!” atau dengan merangkul orang-orang membikin pers release mengajak golput?

Silahkan Anda mengambil tindakan dan taktik untuk merespon situasi politik palsu ini. Tapi saya yakin, Anda akan memilih yang terbaik. Jadi pikirkanlah secara serius tindakan dan kegiatan yang paling efektif, alangkah baik jika didiskusikan bersama untuk menghasilkan keputusan yang baik, bertanggungjawab, dan berguna bagi demokrasi yang berpihak bagi rakyat kita!***

Politik Sastra-Budaya:

Penulis Itu adalah Pengemis

Oleh: Nurani Soyomukti*)

Menulis itu adalah memulung. Jadi, penulis itu tak jauh beda dengan pemulung. Bahkan tak lebih dari pengemis. Itulah kesimpulan saya, dan saya kira pandangan tersebut tak berlebihan.
Bagaimana tidak, jika pemulung memungut sampah-sampah atau sisa-sisa, jika pengemis mendatangi orang dan menengadahkan tangan untuk mendapatkan sesuatu, penulis juga demikian. Pemulung ‘mengobrak-abrik’ tempat sampah untuk mencari barang-barang sisa (sampah) yang bisa diambil dan dijual dengan harga yang pantas untuk barang sisa—barang itu konon akan didaur-ulang menjadi suatu yang lebih berguna.


Pengemis juga berjalan dan berkeliling mendatangi orang dan rumah-rumah untuk meminta sesuatu. Ia tak punya alat produksi yang dapat digunakan untuk menghasilkan barang-barang, ia tak terikat dengan hubungan produksi seperti buruh—baik buruh kasar (blue collar) maupun buruh white collar (seperti sales, manajer pemasaran, staf perusahaan, dll)—yang dapat ditelisik berada di bawah kendali majikan dalam hubungan produksi kapitalistik. Pemulung dan pengemis tak mendapat uang karena diupah oleh pemilik modal, tetapi dari meminta dan memungut (lalu pungutannya dijual).

Jika dihubungkan dengan hubungan produksi kapitalis, penulis—bahkan dalam hal tertentu juga jurnalis—adalah pengemis dan pemulung kata-kata yang telah disediakan (tersedia) di alam kehidupan. Ada fakta, ada informasi, ada gejala, ada realitas konkrit. Dan dibalik fakta atau gejala itu adalah hubungan-hubungan material yang menyusun kehidupan. Sudah ada kata-kata dan nama-nama yang disediakan dalam kamus untuk mewakili benda-benda nyata itu. Hubungan-hubungan material, dalam kondisi tertentu, menghasilkan kualitas yang bisa dinilai dan dinamai (dimaknai).

Jadi jangan sombong jika penulis sebenarnya adalah pencuri atau pembajak dari yang sudah ada, atau garong dari apa yang telah tersedia. Tak mungkin realitas material tidak memiliki representasi dalam nama dan penjelasan, kalau tak ada bukannya tidak punya, tetapi belum.
Kesulitan yang seringkali dialami oleh setiap manusia yang hidup ini sebenarnya adalah meny
usun kata-kata secara terstruktur baik lisan maupun tulisan. Dan itu hanyalah soal latihan, latihan yang biasanya berkaitan dengan kebiasaan mengungkapkan atau mengekspresikan diri (keinginan, eksisitensi dan afirmasi diri, obsesi, kekecewaan, kekesalan, dll). Pada kenyataannya, yang terbiasa ekspresif adalah orang yang kebutuhan-kebutuhan dan keinginannya tak tertekan karena mampu memenuhi kebutuhan (yang diinginkan). Dan mereka adalah kalangan yang berpunya (the have).

Kaum Miskin Menulis dan Melawan
Sementara itu kaum miskin yang terbiasa menekan kebutuhannya karena (sejak kecil) jarang terpenuhi harus lahir sebagai makhluk yang tidak ekspresif akan kesulitan dalam menyampaikan gagasan secara terstruktur. Meminjam teori Sigmund Freud yang menggambarkan kejiwaan terdiri dari kejadian psikologis yang diwakili oleh prinsip kesenangan dan prinsip realitas, maka kita akan tahu bahwa betapa beratnya menyampaikan gagasan bagi kalangan yang terbiasa memfrustasikan keinginannya: orang miskin terbiasa minder ketika menghadapi suatu hal yang baru. Ketika mereka dipaksa mengatakan apa keinginannya, mereka tak tahu.

Mereka menanggung beban untuk mendefinisikan keberadaannya dan mengkomunikasikan dirinya dengan realitas—realitas yang menyangkal eksistensinya sebagai manusia sejak ia lahir. Sejak kecil anak-anak orang miskin pasti banyak dilarang oleh orangtuanya ketika menginginkan segala sesuatu yang tak bisa dipenuhi. ”Lebih baik tidak mengungkapkan keinginan daripada keinginan kita ditolak” merupakan prinsip umum yang banyak dijalankan oleh kebanyakan orang.

Dari situ dapat dipahami kenapa para penulis dan pengarang kebanyakan lahir dari kalangan menengah ke atas—meskipun tetap saja ada perkecualian dari tesis ini.
Intinya, menulis juga merupakan tindakan dan aktivitas yang berkaitan dengan adanya kesempatan. Menulis membutuhkan waktu luang dan waktu luang banyak dimiliki oleh orang yang tak menghabiskan banyak waktunya untuk kerja mencari uang, terutama kerja fisik (yang banyak dilakukan para buruh-tani) yang imbalannya juga tak mampu memenuhi kebutuhan akan penciptaan waktu luang dan kebutuhan hidup lainnya.

Tak mengherankan kalau menulis dianggap sebagai kegiatan orang pemalas dan tak suka bekerja fisik. Meskipun demikian, profesi penulis banyak dipuja-puja oleh media karena masyarakat kita masih belum menghormati kerja-kerja fisik. Terutama di Indonesia, kerja fisik masih dihargai begitu rendahnya dibanding dengan kerja intelektual seperti menulis dan meneliti, tidak seperti di negara-negara Barat.
Ketika buku ”Ayat-Ayat Cinta” sebagai karya tulis menghasilkan ratusan juta, kerja sebagai tukang kebun atau buruh pabrik tetap tak mampu membuat mereka menyekolahkan anak atau membiayai saat mereka sakit.

Begitu jahatnya kehidupan, hanya dengan bermain kata-kata orang dapat menciptakan kekayaan, sementara dengan kerja keras mempertaruhkan keringat, darah, dan air mata banyak orang yang tak dapat berbuat apa-apa bahkan merasa tertindas dan terlunta-lunta hidup anak dan cucunya.
Apalagi kata-kata itu tak pernah mewakili rintihan orang-orang miskin, menyuarakan tuntutan dan keperihan luka-lukanya dalam sejarah penindasan kelas. Kata-kata yang dikemas dalam buku-buku itu hanya mewakili ungkapan orang-orang kaya, dan menyuarakan sudut pandang dan ide(ologi) orang-orang kaya. Artinya, para penulis kebanyakan itu telah menyabotase kata-kata yang mewakili suara-suara orang miskin. Kalau masih banyak orang miskin, kenapa yang tertangkap oleh otak penulis adalah kata-kata yang merangkai kisah dan keinginan orang-orang kaya?

Seharusnya kalau mau adil, penulis harus mewakili realitas sejati atau kalau tidak tulisannya adalah keindahan palsu tentang realitas alias menyembunyikan realitas sejati. Dalam hal ini, penulis mengkorupsi kebenaran. Ia menulis untuk kepentingan pribadinya dan tak mau menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi.

Kita ingat novel Ayu Utami, ”Saman” dan ”Larung”, yang benar-benar mewakili kisah perempuan kelas menengah ke atas dengan kegemarannya berpetualang mengagumi dan mengejar cinta (seksualis) dengan para aktifis atau kalangan lainnya... Novel itu, saya akui, cukup sentimental dan estetik dalam mengangkat kisah-kisah yang ada, terutama saat mengestetisasi seks bebas dengan detail narasi indah akan alat-alat kelamin dan kata-kata romantis persetubuhan.
Tapi karya itu tetap tak mampu menguak akar kontradiksi nyata yang mendasari kehidupan yang dikisahkannya, tiada di sana kondisi rakyat miskin dan kaum papa yang menjalankan ”seks tidak bebas”. ”Seks tidak bebas” yang saya maksud adalah seks yang tertekan atau terpasung karena kondisi ekonomi yang tak memungkinkan.

Dalam ”Saman” dan ”Larung” kita bisa membaca kisah-kisah perempuan mapan yang terbang dari satu negara ke negara lain untuk menjumpai laki-lakinya dan mereka menemukan kebebasan seks (tanpa menikah). Tetapi tak pernah diangkat kisah jutaan kaum perempuan Indonesia yang berhubungan seks secara terpaksa karena kemiskinan, menikah tanpa rasa cinta, dan terpaksa mau karena miskin dan butuh laki-laki yang akan menafkahinya.
Kata-kata dalam buku Ayu Utami tersebut berbeda dengan Novel ”Ibunda” Maxim Gorky yang benar-benar menempatkan kaum miskin (Pavel dan ”Ibunda”—serta kaum buruh di Rusia) yang berbicara. Kata-kata yang digoreskan Gorky hampir semuanya mewakili cara pandang buruh (kelas pekerja) dalam menghadapi realitas. Atau baca karya Pramoedya Ananta Toer, yang menggambarkan sejarah kehidupan penindasan—dan pertentangan kelas—dan mengajak kita mengerti bagaimana ”bumi manusia” dengan ”berbagai macam persoalannya” muncul.

Pram menangkap kata-kata yang kemudian ditulisnya untuk menggambarkan masyarakat yang sedang dijajah dan transformasi psikologis bagi manusia-manusia yang hidup di dalamnya: digambarkannya tentang perlawanan orang-orang miskin, perubahan-perubahan cara berfikir feodal menjadi rasional dan dialektis; Minke yang melakukan ’bunuh diri kelas’, dari anak bangsawan menjadi aktifis gerakan yang memiliki kemampuan menulis dan kemampuannya digunakan untuk membela orang-orang tertindas, melawan penindasan/penjajahan Belanda.
Saya kira, supaya adil dan realitas asli dapat terwakili (tidak tersabotase), kita harus melahirkan para penulis seperti Minke sebagaimana dikisahkan Pram dalam tetralogi ”Bumi Manusia” itu. Penulis dari kalangan miskin seperti Widji Thukul memang sedikit alias jarang. Mengharapkan penulis borjuis mengangkat kisah dan cara pandang dan kehidupan rakyat miskin juga sulit karena—sebagaimana ditegaskan oleh Marx—semuanya akan terbatasi oleh cara pandang kelas.

Artinya kita harus bekerja keras untuk mendorong penulis mengangkat kisah rakyat miskin yang sedang berharap akan perubahan. Kita memiliki penulis (sastrawan), penyair besar yang beberapa waktu lalu mendapatkan gelar Doktor, WS Rendra yang berasal dari kalangan bangsawan. Dalam puisinya ia banyak mengangkat kisah-kisah rakyat miskin, dan ia juga selalu tampil untuk menggugat ketamakan kekuasaan. Ini artinya, kesempatan untuk mendorong penulis (dari kelas manapun) peka terhadap kontradiksi sejarah masih terbuka lebar. Kita tunggu, penulis yang tak sekedar mencuri dan membajak, tapi yang memberi dan menolong!***



Sabtu, 01 Maret 2008

Buku Nurani Soyomukti Diresensi di www.hidupdarihidupku.blogspot.com:

Risalah Mahasiswa Melawan Neo-Liberalisme

Oleh: Deny Ardiansyah, penyair asal Lampung, aktif di KAOS Sastra Jember, Mahasiswa Semester Akhir Sosiologi Unej.
Mahasiswa merupakan status sekaligus peran dalam masyarakat. Dalam belitan biaya pendidikan yang masih mahal di negara kita, jelaslah bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang mengisi kelas menengah. Layaklah jika mahasiswa menjadi salah satu ‘agen perubahan’ yang selalu meraung dari ruang tempatnya mendekam.

Peran yang seharusnya diambil oleh mahasiswa dalam masyarakat serupa dua sisi uang koin. Di satu sisi sering berbuah realita dalam pelbagai bentuknya. Namun, peran mahasiswa dalam masyarakat kerap pula dianggap mitos belaka. Nurani Soyomukti berusaha menelisik realita dan mitos Gerakan Mahasiswa (GM) melalui pengalaman sejarah dan pengamatan gaya hidup kontemporer dalam buku setebal 184 halaman ini.

Sebagai penghuni masyarakat yang mendekam di kelas menengah, mahasiswa memiliki potensi untuk memperoleh beragam akses ketimbang kelas bawah (masyarakat miskin). Hatta, tak aneh jika mahasiswa mudah disusupi pelbagai pengetahuan—yang kerap menjadi ideologi.

Mahasiswa yang diindoktrinasi oleh teori-teori ‘kepatuhan’ berbaju ilmu pengetahuan akademis hanya akan menjadi mahasiswa yang aktif di bangku kelas saja. Sementara mahasiswa yang dirasuki pengetahuan berbasis ‘kesenangan’ bisa dengan mudah menjelma makhluk hedonis yang individualistik. Kedua tipikal mahasiswa tersebut memiliki kesamaan ciri, yaitu mengurung diri dalam ruang yang mereka bangun sendiri tanpa pernah mau melongok bagian masyarakat yang lain.

Mahasiswa yang dipengaruhi oleh ajaran kritis dan filsafat yang mencerahkan hingga kerap melakukan proses reflektif adalah ciri mahasiswa ‘yang lain’. Tipikal mahasiswa seperti ini seolah tak kunjung lelah mencari makna hidup melalui buku-buku, aktif di organisasi dan berdekatan dengan persoalan masyarakat umum. Mereka tak hanya hidup dalam dunia yang digeluti sehari-hari.

Kelompok mahasiswa macam inilah yang kemudian menjadi motor penggerak dalam pelbagai GM. Merekalah yang bersedia membaktikan diri untuk membuktikan bahwa GM bukanlah mitos belaka. Hal tersebut, diurai dengan jelas melalui pendekatan sejarah (hal: 26-33) yang teliti oleh penulis buku ini.

Paska runtuhnya rezim orde baru, GM bagai memasuki masa surut. Padahal, ruang-ruang kebebasan berekspresi mulai terbuka luas. Demonstrasi tak lagi milik mahasiswa semata. Jika banyak buku yang membahas GM hanya memusatkan perhatian pada struktur interaksi-politis antar elemen demokratik di kalangan mahasiswa, maka buku ini melangkah ke jalan yang berbeda.

***
Tumpulnya mahasiswa sebagai kelompok pembaharu dalam masyarakat justru terjadi karena aktifitas mereka yang lebih disibukkan oleh memilah-pilih derajat ‘penting’ atau ‘tidak penting’ dari suatu tindakan. Jika kita melihat tindakan dengan perspektif Talcott Parsons maka analisa Nurani dalam buku ini menemukan ketepatannya. Menurut Parsons (dalam Poloma; 1984:172), tindakan individu dalam sistem sosial akan sesuai dengan norma atau aturan-aturan yang dibuat oleh sistem.
Dalam pandangan Nurani, ternyata sistem makro yang mengatur dunia mahasiswa tetaplah kapitalisme. Walau kampus dan dunia mahasiswa itu sendiri memiliki norma ideal, kapitalisme telah menundukkan dan mengatur semua itu. Jelmaan kapitalisme yang paling mutakhir adalah neo-liberalisme.

Secara tersirat, Nurani ingin mengemukakan bahwa segala kemajuan yang berlangsung di dunia pendidikan tinggi sebenarnya merupakan bentuk langsung dari kepatuhan pada neo-liberalisme (hal:80-82). Sistem belajar di pendidikan tinggi dirancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mampu kritis. Kampus tidak lagi dijadikan sebagai basis menemukan esensi hidup yang hakiki. Ruang kuliah hanyalah medium untuk mengadu nasib bagi para mahasiswa dalam menaikkan taraf hidup.

Sementara itu, diluar kampus, mahasiswa menemukan kehidupan serba berbalut kemewahan yang mewujud dalam mall, glamouritas selebritas dan segala bentuk ‘kesenangan’ lainnya. Mahasiswa dibentuk agar menganggap kampus sebagai ruang tersendiri yang tidak berdialektika dengan kehidupan diluarnya. Kalau saja Nurani memasukkan peristiwa tahun 2007, saat tiga orang mahasiswa ITS mendapat skorsing dari birokrat kampus karena ‘bersuara beda’ untuk menyikapi kasus lumpur Lapindo, tentulah analisa tentang ketertundukan kampus kepada neo-liberalisme dalam buku ini akan kian membumi-bukti.

***
Neo-liberalisme telah memalun mahasiswa dengan erat dan kuat. Inilah dampak nyata kreasi-konstruksi media massa tentang identitas mahasiswa. Dunia mahasiswa, sebagaimana dimunculkan oleh sinetron televisi misalnya, seolah sempit saja. Hanya seputar hubungan antar persona yang disebut pacaran, pertarungan gengsi antar kelompok dan bentuk ‘kehidupan gaul’ lainnya.
Neo-liberalisme yang bergerak lindap di tubuh mahasiswa saat ini seolah mendaraskan satu pesan singkat. Yaitu, mahasiswa hari ini haruslah mementingkan gaya hidup konsumtif ketimbang mencari hakikat paling dasar dari kehidupan sehari-hari melalui kerja produktif dan reflektif.

Bab III dalam buku ini mengupas dengan luas dan bernas tentang gaya hidup mahasiswa kini melalui psikoanalisis Freudian dan ‘kritik cinta’ Erich Fromm. Melalui penghayatan yang tinggi akan karya Khalil Gibran, Nurani turut pula menyerukan bahwa cinta yang etik, esetetik dan laik untuk dipertahankan adalah cinta tanpa kepura-puraan dan bersifat universal. Cinta bukanlah alat untuk memasung kreatifitas dan menggenjot konsumsi seperti galibnya kita temukan pada gaya pacaran mahasiswa masa kini. Cinta pada taraf yang sakral dan melampaui tubuh justru menjadikan manusia kian inovatif dalam melakukan perubahan dan berproduksi untuk kesejahteraan seisi alam.

Satu hal yang saya suka dari buku ini adalah optimisme yang diusung oleh penulisnya. Melalui optimisme ini, Nurani seolah belum percaya bahwa neo-liberalisme benar-benar menang dalam peradaban manusia kini. Neo-liberalisme, selain menciptakan individu yang patuh dan konsumtif, juga telah melahirkan sosok individu (atau kelompok) yang terus berteriak melawannya. Mereka adalah kaum yang dianggap ‘tidak penting’ oleh peradaban neo-liberal masa kini. Akhirnya, bagi siapa saja yang masih menginginkan kebudayaan berbasis nilai kemanusiaan, pendidikan yang membebaskan dan demokrasi yang menuju kesejahteraan, maka buku karya Nurani Soyomukti ini adalah risalah nan penting untuk dihayati.(*)

Senin, 25 Februari 2008

Politik Budaya Massa:



Kebutuhan(ku) dan Kebahagiaan(ku) Bukan Semu!

Oleh:Nurani Soyomukti*)

“Kebahagiaan adalah kesedihan yang terbuka kedoknya”.
(Kahlil Gibran)

Belakangan ini aku merasa bahagia. Bagaimana aku harus mendefinisikan kebahagiaan ini sebab aku perlu tahu kenapa aku bahagia dan bagaimanakah kualitas kebahagiaanku. Umumnya kebahagiaan dianggap sebagai kondisi perasaan atau pikiran yang disebabkan karena kebutuhan-kebutuhan yang tercapai atau terpenuhi. Bukankah dengan demikian, aku harus mendefinisikan kebutuhan-kebutuhanku?
“Terlampau banyak, bahkan tak bisa dihitung”—begitulah orang selalu menjawab ketika kita tanyakan “apa saja kebutuhanmu akhir-akhir ini?”
Bagiku, hidup sebenarnya begitu sederhana. Hidup harus melahirkan peran karena manusia—yang membedakannya dengan binatang—memiliki akal untuk menilai, mengukur, dan merubah: pada tingkat ini kita bicara soal universalitas kemanusiaan yang harus bisa diukur.
Hakekat manusia adalah makhluk yang sadar dan berkesadaran. Jika ia tak menyadari posisinya, termasuk kebutuhannya, ia hanya akan terombang-ambing oleh ketidaktahumenahuan yang didalamnya diisi oleh kehendak objek di luarnya yang mempermainkan dan membentuknya—yang dalam banyak hal demi kepentingan tertentu.
Lalu bagaimana kalau kebutuhan itu dibentuk? Artinya, bagaimana kalau manusia butuh sesuatu tetapi kebutuhan yang ada pada dirinya itu adalah bentukan oleh sesuatu yang berasal dari luarnya, misalnya melalui rayuan, godaan, bahkan terror (iklan)? Kata Herbert Marcuse, dalam “One-Dimensional Man”, inilah yang dinamakan ‘kebutuhan semu’ (false needs).
Maka kebutuhan inilah yang terus melingkar mirip legenda yang direkayasa oleh para penumpuk modal yang hanya menginginkan kita hanya untuk mengkonsumsi dan membeli. Ada hal lain yang sebenarnya kita butuhkan—atau bahkan dibutuhkan orang lain tetapi orang lain itu (terutama orang miskin) tak mampu memenuhinya (membelinya)—tetapi kita pada akhirnya hanya menginginkan suatu benda atau barang (atau juga gaya hidup) yang seakan mendesak karena iklan terus merayu kita, atau karena kita malu kalau tak punya karena kita malu kalau tak punya. Kita butuh sesuatu karena gengsi, atau malu kalau “nggak gaul” atau ‘ketinggalan jaman’.

Anda kenal System Of A Down, sebuah kelompok musik metal dari Amerika Serikat (AS) yang kerap menyuarakan lirik anti-globalisasi, lirik ekologis dan anti-budaya konsumeristik itu? Dalam lagunya “Chick And Stew” ia menggambarkan kebutuhan semu bentukan iklan yang datang “setiap detik” (every second) yang menyuruh kita hanya untuk “beli” (buy) karena “iklan membuat kita menuju pelarian” (when advertising got you on the run):

This ballgame's in the refrigerator,T
he door is closed,
The lights are out
And the butter's getting hard.

What a splendid pie,
Pizza-pizza pie,
Every minute,
every second,
Buy, buy, buy, buy, buy,
What a splendid pie,
Pizza-pizza pie,
Every minute,
every second,
Buy, buy, buy, buy, buy,
Pepperoni and green peppers
Mushrooms, olives, chives,
Pepperoni and green peppersMushrooms, olives, chives,
Need therapy, therapy,Advertising causes need,

Therapy, therapy,Advertising causes,
What a splendid pie,Pizza-pizza pie,
Every minute, every second,Buy, buy, buy, buy, buy,
What a splendid pie,Pizza-pizza pie,
Every minute, every second,Buy, buy, buy, buy, buy,
Pepperoni and green peppersMushrooms, olives, chives,

Pepperoni and green peppersMushrooms, olives, chives,
Need therapy, therapy,Advertising causes need,
Therapy, therapy,Advertising causes need,Therapy, therapy…


Jadi, betapa psikologisnya proses terciptanya kebutuhan. Bahkan dari mulut Serj Tankian (sang vokalis), SoaD nampak begitu percaya bahwa para ‘korban iklan’ adalah mereka yang layak untuk diterapi: “need teraphy, teraphy… advertising causes need” (butuh terapi… iklan menimbulkan kebutuhan). Dan kadang, para koban memang menciptakan remaja-remaja gila yang hanya menghabiskan waktu belanja (shoppaholic).

*
Dan untungnya aku bukanlah korban iklan karena aku paling sumpek ketika diajak belanja. Meskipun pernah suatu ketika (mantan) ‘pacar’-ku marah-marah dan ngambek karena aku malas diajak belanja, aku tetap tak mau kompromi karena mondar-mandir di toko swalayan membuatku pusing, seakan kaki juga cepat pegal.

“Kamu butuh hem bagus, agar layak dilihat orang. Nggak pantas untuk ukuran orang kayak kamu, nggembel terus, Mas”, katanya berkali-kali, “Bagaimana kamu bisa membuat orang yakin pada apa yang kamu sampaikan kalau kamu nggak menghargai dirimu sendiri?”
Aku tak pernah membeli apa yang ia inginkan. Kadang aku juga tak melihat keinginannya rasional. Dan dia, tanpa sepengetahuanku, membelikan sandal dan celana untukku. Pada hal aku tak menginginkannya. Secara psikologis, aku tak merasa malu atau resah hanya dengan pakai celana belel, sandal seadanya, kaos yang berisi tulisan propaganda dan berjaket.
“Sudahlah, lebih baik uang itu kita simpan untuk makan agar bisa bertahan hidup lebih lama. Apa sih yang kita butuhkan? Yang penting kita dapat berperan kan?”, jawabku selalu. Aku memang lebih suka wisata kuliner (berkeliling mencari makanan yang enak dan baru) daripada belanja beli baju. Atau mendingan membeli buku untuk koleksi “agar perpustakaan keluarga kita cepat besar dan meriah” [sic!].

Sejak awal (mantan) ‘pacar’-ku memang tak pernah paham aku, terutama ketika belakangan ia begitu pragmatisnya dan begitu mudah tergoda untuk mendandani tubuhnya dan menciptakan citra-citra dirinya. Aku bukan tak mau konformis dengan tuntutan-tuntutannya agar aku ‘merubah penampilan’. Tapi sejak awal, bahkan sebelum dia datang dalam hidupku, aku adalah orang yang tak begitu takut dan hirau pada pendapat kacangan orang-orang awam yang masih mempertimbangkan citra diri. Menurutku, orang tak harus dilihat dari caranya berpenampilan atau merekayasa diri agar kelihatan ‘alim’, ‘baik’, ‘manis’, ‘gak aneh-aneh’. Kalau dia membaca catatan-catatanku, dan dia mengerti diriku, tentu segalanya sudah tuntas sejak awal. Aku mencatat, yang kelak catatan ini juga terkodifikasikan dalam bukuku yang berjudul “Pendidikan Berperspektif Globalisasi” (lihat http://www.bukubukunurani.blogspot.com/):

“.... Tanpa celana, baju dan kebudayaan, tanpa koteka, tanpa jas almamater, tanpa mahkota dan tanpa pakaian resmi seperti para legeslatif dan majikan yang telah terlanjur jadi orang “kotor, misalnya koruptor”.
... Sejak kelahirannya manusia telah ditakdirkan miskin, tapi murni, tulus, tanpa tuntutan dan tak ternoda apalagi oportunis. Siapa dan apa yang disalahkan kemudian?: Setelah besar mereka berlagak secara vulgar di hadapan dirinya, menyangkal keabsahan dan keotentikannya, menempatkan diri sebagai makhluk hipokrit dan penipu—dan terparah lagi menciptakan jaring-jaring penindasan dan kemunafikan yang dilembagakan...”
[1]


Ah, mengingat-ngingat soal masa lalu yang mirip sampah memang tak ada gunanya.
(Mantan) ‘pacar’-ku sudah pergi dengan membawa keegoisan dan beban kebutuhan yang nampaknya begitu berat karena keinginannya harus segera dilampiaskan: kalau tidak ia akan stressed atau kepalanya meledak—seperti membentur-benturkan kepalanya saat kebutuhan libidinalnya memuncak dan tanpa pelampiasan, hingga ia begitu cepat mendapatkan laki-laki setelah meninggalkanku. Ia hanyalah sampah psikologis dalam otakku, dan kenyataannya ia sejak awal tak pernah paham ‘kesederhanaan’-ku. Ia takut pada pilihanku pada kemiskinan, keotentikan, ke-‘murni’-an.

Kepergiannya adalah anugerah terbesar karena berarti aku tak perlu memasang kata-kata dan tulisanku untuk diklaim miliknya. Belakangan ia terpaksa memungut kata-katanya sendiri, tetapi tetap tak bisa lepas dari model dan urutan kata-kataku, meskipun disampaikan secara berbata-bata dan diulang-ulang, tema-tema yang itu-itu juga. (Kami sama-sama sentimental, tapi kami tak ketemu dalam hal lain, terutama karena ia begitu tergesa-gesa dan takut kehilangan pelampiasan libidinalnya: Atau jangan perempuan identik dengan ketergesaan?).
Jadi, belakangan saya aku begitu bebasnya untuk mendefinisikan, mengkalkulasi, dan mendaftar kebutuhan-kebutuhanku. Karena aku telah memiliki otonomi diri, bebas dari represi hubungan yang menindas dan membebani atau yang nyatanya membuat aku ikut larut dalam ketergesa-gesaan. Bangga dan menyandarkan diri pada keinginan, obsesi, atau kebutuhan yang sederhana itu membuat jiwa tenang (safe, secure).

Aku tak tahu apakah kebutuhan-kebutuhan ini begitu borjuistik atau terlalu ‘rendahan’. Tapi aku telah mendaftar apa-apa yang aku inginkan dan kubutuhkan dalam waktu ke depan. Aku telah menulisnya di notebook-ku. Tapi alangkah baiknya aku cantumkan pula apa kebutuhan dan obsesiku saat ini—dan ini yang membuat aku bahagia.

Aku bahagia karena secara financial tak lagi kesulitan, artinya ada peningkatan, dan aku ingin bekerja keras agar siap memenuhi kebutuhan berikutnya. Misalnya, banyak orang yang selalu menanyakan kapan aku akan menikah. Dan aku selalu menjawab bahwa aku akan melakukannya setelah umurku 30 tahun atau minimal setelah pemilu 2009 usai. Aku punya alasan untuk itu. Pertama, umur 30 tahun secara medis dan biologis, bagi laki-laki (seperti aku), adalah masa di mana sperma kita sedang matang dan saat bersetubuh dengan calon ibu anakku akan menghasilkan anak yang terbaik. Bagi kaum perempuan (calon istriku) usia yang baik untuk melahirkan anak adalah usia 20-25 tahun. Artinya, kalau saat ini aku sedang menjalin hubungan kasih (‘pacaran’) dengan seorang perempuan cantik dan baik hati berumur 21 tahun, artinya itu harus kupertahankan—dan karena alasan ini pula aku merasa bahagia! Hehehe…

- Obsesi terbesarku akhir-akhir ini: (A) membeli 4 buku tetralogi Pramoedya Ananta Toer untuk menambah koleksi perpustakaanku karena buku-buku itu adalah karya terbaik milik bangsa ini. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca menjadi mata bacaan wajib bagi mata kuliah sastra di luar negeri (berbagai Negara), sementara aku belum menuntaskan bagian keempatnya (Rumah Kaca)—kata kawan-kawanku, yang keempat itulah yang terbaik; (B) Hingga akhir tahun 2009, aku telah berujar bahwa aku sudah menerbitkan sepuluh buku—sekarang sudah lima buku yang terbit dan kedepan akan ada beberapa buku yang menyusul dan aku sedang mempersiapkan naskah-naskah lainnya; (C) Merapikan kembali koleksi buku dan mengorganisir perpustakaan agar lebih memudahkan mencari buku, tak berantakan dan membuat kamarku mirip ‘kapal pecah’… buku-bukuku sudah aku sampuli semua, tinggal bagaimana meningkatkan kerapiannya pada level yang lebih tinggi.

-Aku harus tetap bisa berperan dalam mendukung (gerakan) demokrasi, entah apa alatnya dan dimana tempatnya: gabung dengan partai politik lagi? Gabung dengan NGO? Belum tahu pasti, yang jelas aku tak kan bisa meninggalkan peran ini. Artinya kulakukan semaksimal mungkin sesuai kondisi yang ada. Tapi,,,, bukankah menulis buku, puisi, esai, opini di media juga bagian dari membangun kesadaran demokratis? Tapi aku perlu organisasi, komunitas…
Apalagi ya? Itu dulu lah! Karena aku sering bingung kalau ditanya apa yang akan aku beli dalam waktu dekat. Mungkin TV, mungkin HP baru, …
Ah, ribet sekali. Pada hal kebutuhanku hanya sederhana: bisa bertahan hidup dan berperan!
Itu saja!

***
___________________________________
[1] Nurani Soyomukti, “Pendidikan Kapitalisme yang Licik”, dalam buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi”. Yogyakarta: Arruzzmedia, 2008, hal. 63

Sabtu, 23 Februari 2008

Politik Kebudayaan: Pragmatisme


The Story of Pragmatism!!

Oleh: Nurani Soyomukti


“Aku butuh seorang laki-laki tinggi besar, yang bisa melindungiku”, ujar seorang perempuan muda itu saat bercakap dengan teman kosnya.

“Kalau aku jujur saja, aku butuh laki-laki seperti itu untuk memuaskan seksku. Vaginaku sudah gak nyaman lagi dengan penis yang kecil”, ujar perempuan satunya lagi, “Aku ingin bercinta dengan banyak laki-laki yang gagah, tajir, karena belakangan aku sadar bahwa kepuasan seksual adalah yang paling kubutuhkan dalah hidupku”.

*
Moral materialis telah menyeruak dalam kehidupan kita, berkembangbiak dari rahim kapitalisme yang licik, yang menggerogoti jiwa manusia-manusia yang kian pragmatis dan resah jika pemenuhan kebutuhannya tak segera terlampiaskan. Materialisme moral ini memunculkan penilaian segala sesuatu berdasarkan ukuran, bentuk, warna, bau, besar-kecil, tinggi-rendah, cantik/tampan-jelek, kaya-miskin.

Ukuran besarlah yang dikejar karena yang besar identik dengan jumlah yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang banyak, kebutuhan yang tak terpuaskan. Kesederhanaan, ketulusan, kerelaan, kesantaian adalah sesuatu yang dibenci karena orang yang pikirannya digerogoti pragmatisme begitu takut kalau kebutuhannya tak segera terlampiaskan. Pragmatisme ingin memakan segalanya tanpa berpikir, keterburu-buruan, hanya memenuhi hingga tubuh gemuk dan pada akhirnya tak memungkinkan untuk berpikir lagi. Kata Marx Horkheimer, “pragmatisme merefleksikan suatu masyarakat yang tak punya waktu untuk mengenang dan merenung”.[1]

Mengenang, merenung/ber-refleksi, berpikir, akan menghasilkan nilai-nilai baik-buruk yang sejati, keindahan hakiki, sebuah situasi hidup yang keindahannya begitu ultimate, abadi, dan agung (The Greatness of Phylosophy).

“Aku dulu aktifis feminis, berjuang demi kesteraan, mengejar hakekat persamaan. Toh itu semua tak ada gunanya. Percayalah, tak ada yang lebih menggairahkan dalam hidup ini dari pada kesenangan badan dan ‘mencari penghidupan’ (mencari uang) agar kebutuhan-kebutuhan kita terpenuhi. Kita selalu bingung jika tak memenuhi kebutuhan kita, termasuk kebutuhan seks dan kepuasan badan… Itu yang mendesak!”, ujar seorang perempuan yang begitu pragmatis dan mulai mengacaukan antara mempertahankan prinsip dengan petualangan.
Pragmatisme adalah sejenis godaan besar.

“Untuk apa kita berfilsafat, toh ujung-ujungnya kita juga akan kesulitan untuk makan. Untuk apa kita menanggung resiko besar akan kesulitan material, untuk apa ndakik-ndakik bicara kemanusiaan, ternyata, sebagaimana pengalamanku, kita tak akan kuat untuk melampiaskan kepuasan tubuh”.

“Lebih baik kita kerja mencari uang agar tak kebingungan dan merepotkan orang lain. Toh nanti kalau kita dah mapan kita juga bisa berfilsafat”, begitu kata seseorang suatu waktu.

Tapia apa lacur, lagi-lagi, pragmatisme adalah godaan terbesar yang akan terus menghalau idealisme. Setelah merasa nyaman dengan kondisi material yang dicapai, apalagi terus bertambah diiringi dengan pengalaman cinta eksklusif yang penuh nafsu, filsafat kian jauh dari otak dan hatinya. Orang yang secara nyaman secara material memang tak bisa berfilsafat, sebab filsafat memang lahir dari kontradiksi.

Dalam bagian akhir buku “Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas”, saya telah uraikan bahwa kemampuan berfilsafat dimiliki oleh orang yang mampu merasakan kontradiksi. Dan tanpa terlibat lansung dalam kenyataan kontradiktif itu, orang tak akan mampu merasakan. Karena rasa itu lahir dari keterlibatan.

Tak heran jika menjauhkan dari hidup yang kontradiksi dilakukan oleh orang-orang yang ingin menikmati kemapanan dan situasi normal bagi pemenuhan-pemenuhan fisiologisnya. Dalam kasus kehidupan remaja gaul, tak nyaman dengan satu pasangan, pindah ke lain hati: tak memungkinkan untuk mendapatkan pasangan yang menjamin kebutuhan seks dan kegilaan akan belanja, pindah ke pasangan lain yang mapan dan siap menjamin kehidupannya (baca: “Parasite Eve”).

Seakan hidup hanyalah lingkaran kerja mesin nafsu dan kebutuhan mekanis. Manusia-manusia pragmatis yang mirip mesin biologis begitu takut pada kenyataan, begitu miris, dalam keadaan susah sedikit menangis, dalam keadaan lainnya yang lebih menyusahkan bisa ‘kalap’ dan membabi-buta bertindak. Pragmatisme dengan ketakutan-ketakutannya adalah produk masyarakat kapitalis. Dalam “Pendidikan Kapitalisme yang Licik” (dalam Buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi”) aku bertanya:

“Takut pada kemiskinan? Takut menanggung resiko? Takut akan masa depan? Takut, karena beban berat yang harus ditanggung sendiri… takut tak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Takut. Menyerah. Kalah… Melatih diri jadi pengecut dan pecundang”.[2]

Kelicikan, ya. Pragmatisme adalah kelicikan. (Pendidikan) kapitalisme yang licik telah memproduksi manusia-manusia bangkrut secara ide(ologi) dan eksistensi diri. Para pengecut itu berbaris sepanjang sejarah, mereka menghuni kantor-kantor, lembaga politik dan keagamaan, lembaga pendidikan, rumahtangga yang akan melahirkan anak-anak yang bangkrut pula. Mereka menutupi ketakutan, kepengecutan, dan kemunafikan dengan kepemilikan pribadi (yang begitu dibanggakan dan menjelaskan eksistensi), dengan baju-baju, dengan rumah, dengan topeng, kosmetik, dan atribut-atribut lainnya.

Hanya itu yang dibanggakan, selain kepuasan diri dan ketakutan kalau tidak memperolehnya dalam waktu cepat, adalah Kepemilikan Pribadi. Bagi yang sudah memiliki, potensianya akan dimaksimalkan dan berharap mendapatkan keuntungan dari apa yang dimiliki. Modal harus bertambah.

Yang dimiliki harus dimaksimalkan agar tercipta keuntungan. Wajah dibungkus baju agar kelihatan seksi dan menimbulkan sex appeal, dan wajah dipoles, goresan lipstick kian dipertebal, agar banyak yang tertarik dan segera dapat mendapatkan laki-laki yang akan memenuhi kebutuhan seks dan materialnya. Citra diri dibikin agar hakekat sebenarnya tak kelihatan, harus pandai-pandai menampilkan kitch. Semuanya untuk keuntungan pribadi, kemudahan hidup individual, serta kenikmatan tubuh yang dimiliki.

Sejak kelahirannya manusia telah ditakdirkan miskin, tapi murni, tulus, tanpa tuntutan dan tak ternoda apalagi oportunis. Siapa dan apa yang disalahkan kemudian?: Setelah besar mereka berlagak secara vulgar di hadapan dirinya, menyangkal keabsahan dan keotentikannya, menempatkan diri sebagai makhluk hipokrit dan penipu—dan terparah lagi menciptakan jaring-jaring penindasan dan kemunafikan yang dilembagakan: Perbudakan, Feodalisme, Kapitalisme yang membuat manusia dalam perkembangannya menjadi sakit, penakut, angkuh, hipokrit, peragu, dan pengecut.***









[1] Dikutip dalam Hanno Hardt, Critical Communication Studies: Sebuah Pengantar Comprehensif Sejarah Perjumpaan Tradisi Kritis Eropa dan Tradisi Pragmatis Amerika. Yogyakarta: Jalasutra, 2005, hal. 177
[2] Nurani Soyomukti. Pendidikan Berperspektif Globalisasi. Yogyakarta: Arruzzmedia, 2008, hal. 63

Kamis, 21 Februari 2008

Dari Pemilu Pakistan yang Tanpa Benazir Bhutto:

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Benazir Bhutto, Perempuan, dan Demokrasi

Oleh: Nurani Soyomukti

Pemilu Pakistan yang diadakan pada 18 Februari 2008 merupakan pemilu yang ditunda setelah Benazir Bhutto dibunuh pada 27 Desember 2008. Penundaan dilakukan akibat kemarahan massa pendukung Benazir yang memuncak pada kerusuhan di berbagai kota, yang mengakibatkan banyak kerusakan pada prasarana pemilihan umum, misalnya kantor-kantor “Komisi Pemilihan Umum” Pakistan.

Tetapi dalam sejarah Pakistan, kehadiran Benazir Bhutto dalam sejarah Pakistan dan bahkan sejarah politik dunia merupakan suat berkah sekaligus tanda. Berkah bagi rakyat Pakistan karena, bagaimanapun, apa yang dilakukan Benazir lebih baik ketimbang pemimpin lainnya yang kebanyakan mempraktekkan perilaku diktator, memasung demokrasi, dan menyebarkan ideologi kebencian berdasarkan sentiment agama dan suku di masyarakat yang seharusnya dididik untuk melihat persoalan secara objektif dan terbuka. Dunia modern membutuhkan para pemimpin seperti Bhutto, baik Benazir Bhutto maupun ayahnya Zulfikar Ali Bhutto. Mereka diidentifikasi sebagai pemimpin yang murni berasal dari kalangan sipil, nasionalis, dan karakter ideologi dan kebijakan politiknya bersifat kerakyatan alias membeka rakyat kecil.

Meskipun telah meninggal, warisan demokrasi Bhutto tentunya masih melekat dikalangan rakyat, terutama mereka yang masih percaya bahwa demokrasi, bagaimanapun, merupakan sistem yang lebih baik dari pada fasisme dan pandangan keagamaan ekstrim yang tak mengenal toleransi dan menghalalkan kekerasan. Warisan inilah yang harganya mahal, yang dapat digunakan untuk merubah negeri Pakistan, yang nampaknya akan benar-benar jatuh ke tangan kaum fasis jika kaum demokratnya tidak bekerja keras untuk membangun gerakan demokrasi yang strategis dan taktis.

Sementara kehadiran Benazir adalah tanda karena kemunculannya dalam arena politik dunia seiring dengan diterimanya keterbukaan politik demokrasi yang berhembus pada tahun 1980-an. Gelombang demokrasi yang menurut Samuel Huntington, mau tak mau, akan melanda Negara manapun karena syarat-syarat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyediakannya. Sejak Benazir hadir sebagai perempuan pertama yang menjadi presiden pertama di Negara Muslim, mungkin juga salah satu dari perempuan yang sangat sedikit mendapatkan posisi sebagai pemimpin di Negara-negara Ketiga, lalu masyarakat mulai terbuka pada hadirnya pemimpin perempuan.

Sebuah tanda kemajuan, tanda bahwa telah terjadi kesetaraan. Benazir telah memberikan inspirasi bagi Negara-negara Ketiga lainnya, termasuk Indonesia. Memasuki millennium baru, inspirasi Benazir kian meluas. Banyak Negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang dipimpin oleh kaum perempuan.

Berkah Globalisasi
Hembusan angin demokrasi memang memberikan kondisi politik baru di masyarakat dunia. Seiring dengan globalisasi yang membawa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama informasi dan komunikasi, akan mengakibatkan mustahilnya membatasi ide-ide dan kesadaran akan adanya persamaan hak antara laki-laki perempuan. Selain itu, kesetaraan dan kebebasan itu sendiri merupakan suatu tujuan yang juga diperoleh melalui gerakan social-politik.

Gerakan perempuan—entah itu di dunia politik, ekonomi, maupun sosial-budaya—menyodorkan bukti adanya masyarakat warga (civil society) di negara di mana gerakan itu lahir dan tumbuh berkembang. Selain itu, bersama dengan gerakan sosial lainnya, gerakan perempuan-juga di dunia politik-meningkatkan harapan bahwa demokrasi dapat mendorong pencepatan serta pengejaran agenda-agenda progresif tetapi tidak radikal.

Pada akhirnya, karena kesempatan terbuka lebar dan pembatasan-pembatasan ide dan materialnya semakin melenyap bagi terciptanya nilai kesamaan, tak begitu mengherankan jika semakin banyak perempuan yang mampu tampil menjadi kaum yang memiliki posisi dan peran yang besar—yang pada jaman dulu hanya dapat diperoleh laki-laki. Masyarakat yang pada awalnya dipenuhi dengan ide-ide kolot yang anti-persamaaan, yang kadang dijaga dengan kekuatan militer yang represif, pada akhirnya harus membuka diri pada perubahan menuju demokrasi yang menjunjung tinggi hak-hak individu (entah laki-laki ataupun perempuan) untuk tampil ke depan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Ruang keterbukaan sendiri juga menawarkan bagi setiap orang untuk meningkatkan kapasitasnya, kekuatannya (kemandiriannya, kecerdasannya, dan memampuannya mengolah realitas).

Ketika pada tahun 1988 Benazir Bhutto terpilih sebagai perdana menteri Pakistan, seluruh dunia mulai terbelalak, terutama masyarakat muslim yang dulunya mengharamkan perempuan untuk berkiprah di ranah public. Pada akhirnya mereka paham bahwa dunia telah berubah. Ketika Bhutto menjalankan pemerintahan secara lebih baik, orang juga semakin sadar bahwa pemimpin perempuan itu adalah hal yang wajar. Penolakan musuh-musuh Bhutto terhadap kepemimpinannya sendiri harus dipahami sebagai tindakan politis yang hanya didasari pada kecemburuan kekuasaan—dan nampaknya rakyat Pakistan tahu persis itu. Ketika Bhutto dipecat dan diasingkan ke luar negeri, Pakistan justru berada dalam kondisi lebih buruk, berada dalam cengkeraman militer dictator di bawah Jenderal Nawas Sharrif yang pro-Amerika Serikat dan membuat kesejahteraan rakyat semakin mundur.

Maka ketika Benazir Bhutto hendak kembali lagi ke Pakistan dengan janji untuk merubah keadaan, maka kerinduan rakyat Pakistan padanya bagaikan kerinduan anak-anak pada seorang ibu yang mengayomi dan memberikan kasih saying pada mereka—dan di sinilah kekuatan perempuan ketika memimpin. Sayangnya, orang yang tak menyukai Bhutto dan merasa terancam kekuasaannya harus menempuh segala cara, sehingga Bhutto harus dibunuh. Iapun meninggal dunia pada akhir tahun 2007 lalu, dengan harapan rakyat Pakistan yang pupus karena kerinduannya tak akan terbalas. Pakistan dipastikan akan menjadi Negara yang rakyatnya kian terombang-ambing dalam konflik berkepanjangan atau berada dalam cengkraman militer yang mencirikan negeri ini selama berpuluh-puluh tahun sejak berdirinya.
Munculnya para pemimpin perempuan, terutama di era akhir abad ke-20 dan di awal abad ke-21 sekarang ini tak lepas dari pengaruh ketenaran Bhutto yang muncul seiring berhembusnya angina demokrasi di awal tahun 1990-an. Tengok saja sejarah politik Indonesia, pada era itu gerakan demokratisasi benar-benar berhembus kuat. Demikian juga gerakan feminisme atau perjuangan menuntut kesetaraan gender.

Kepemimpinan Perempuan Indonesia
Sindroma kepemimpinan perempuan benar-benar muncul. Nama Megawati Soekarnoputri di awal tahun 1990-an mulai popular, bahkan menjadi calon ketua Partai Demokrasi Indonesia (PDI), yang kelak namanya dianggap berbahaya bagi kekuasaan Orde Baru (Soeharto). Beberapa kolumnis surat kabar waktu itu juga mengkait-kaitkan nama Megawati dengan Benazir Bhutto. Antara keduanya memang memilik banyak kesamaan. Benazir dan Mega sama-sama putra seorang ayah yang pernah menjadi orang nomer satu di negerinya masing-masing. Zulfikar Ali Bhutto (ayah Benazir) dan Soekarno (ayah Megawati) sama-sama pemimpin yang populis dan merakyat, anti-imperialis dan sekaligus sama-sama menjalankan program nasionalisasi.

Pada era awal 1990-an itu pula Benazir Bhutto kerapmuncul di televisi Indonesia (waktu itu masih TVRI) dan surat-surat kabar. Orang Indonesia cukup akrab dengan perempuan yang pada saat itu menjabat sebagai perdana menteri Pakistan. Kepemimpinan perempuan, secara tak sadar, dianggap suatu fakta yang wajar—dan alam bawah sadar ini cukup penting untuk membantu menciptakan bentukan psikis masyarakat agar kesadaran demokrasi muncul. Di Indonesia, sejak saat itu, tokoh-tokoh perempuan yang muncul mendapatkan banyak apresiasi.
Selain Megawati banyak menghiasi media, pada saat Marsinah diketahui dienyahkan nyawanya, ia mendapatkan tingkat publikasi yang luar biasa: Marsinah disebut sebagai perempuan pembela rakyat kecil yang berani melawan kesewenang-wenangan penguasa. Setelah itu nama Dita Indah Sari yang mengorganisir buruh dan aktif di gerakan politik kerakyatan juga begitu dikenal. Setiap perempuan yang hendak tampil untuk berperan di ranah public, terutama yang dianggap membela kekuatan arus bawah, segera mendapatkan tempat di hati rakyat. Salahkah jika ini terjadi karena adanya “Sindrom Benazir Bhutto”? Tidak ada yang salah dari kemajuan dan keadilan!***