Ekonom(Menurut Allan Wood) mereka adalah pula para pembela "kekuatan pasar", kekuatan irasional yang kini tel

ah memenjarakan jutaan orang ke dalam pengangguran. Mereka adalah juga para pengkotbah perekonomian "sisi suplai", yang didefinisikan secara cerdas oleh John Galbraith sebagai teori bahwa kaum miskin memiliki terlalu banyak uang dan kaum kaya memiliki terlalu sedikit. Maka, "moralitas" yang berlaku sekarang ini adalah moralitas pasar, yakni, moralitas rimba. Kemakmuran masyarakat semakin terkumpul di segelintir tangan, yang juga jumlahnya semakin menyusut, sekalipun kita terus mendengar propaganda tak masuk akal tentang "demokrasi kepemilikan" dan "yang kecil itu indah".
PolitisiPara pembela pasar berikutnya adalah politisi. Para politisi yang diuntungkan dengan diterapkannya pasar bebas, entah yang meyakini doktrin pasar dan berusaha minta legitimasi ilmiah ekonomi pa

sar maupun yang tak mengerti apa-apa, memanfaatkan posisi politiknya untuk mengikuti diktum pasar (neoliberal) dengan mendukung dan membuat kebijakan pro-pasar: memotong subsidi sektor rakyat (kesehatan, pertanian, pendidikan, dll) dan biasanya justru menambah anggaran tentara; melego dan menjual murah perusahaan-perusahaan negara; tidak membatasi modal asing dan perusahaan asing sehingga produk-produk luar disediakan pasar, yang merusak daya saing produk-produk dalam negeri (beras impor, pupuk impor, dan tetek mbengek impor); bahkan mengorbankan buruh, membuat buruh dibayar murah dan mudah diatur agar pemodal asing berbondong-bondong masuk dan mendominasi.
Ya, karena ditentukan oleh para politisi dan penyelenggara negara,

pada akhirnya yang mendominasi adalah pasar. Dan pasar bukanlah suatu hal yang abstrak, karena dia adalah Modal dan kekuatan yang hanya berkeinginan satu: menumpuk keuntungan, menambah modal.
Agamawan (Kiai, Ustadz, juru Dakwah)Para pembela pasar berikutnya adalah agamawan, yang kebanyakan kiai. Sebut saja AA. Gym, Ustadz Jef

rrey, dll. Mereka adalah pengkotbah moral-reliji yang dibesarkan media kapitalis, terutama TV. Mereka menjadi bintang iklan dan hanya mengumar ayat-ayat yang melanggengkan tatanan pasar bebas dan menjadikan ayat-ayat cinta palsunya sebagai katub pengaman moral kapitalisme dan kontradiksinya: agar rakyat yang tertindas tak menuntut sistem ekonomi pasar, dihiburlah mereka dengan surga agar mereka merelakan dirinya dimangsa didunia karena telah dijanjikan do akhirat, surga dengan kenikmatan tiada tara—”Sistem kolektifitas hanya ada di surga, di dunia tempatnya sistem pasar, dan saya adalah bintang Iklan”, seru salah seorang pengkhotbah.
Para agamawan pembela pasar melupakan salah satu ucapan penting orang suci Idan tokoh Islam ”Sebaik-baiknya tempat adalah masjid, dan seburuk-buruknya tempat adalam pasar!” Para agamawan itu juga lupa dengan ayat Kitab Suci Al Qur’an bahwa ”Allah akan memberikan karunia pada orang miskin-tertindas, dan akan menjadikan mereka pemimpin dan pewaris”. Dengan menjadi bintang iklan dan idola, para kiai itu lupa diri dan lupa bahwa seharusnya rakyat miskin harus bersuara dan media tak mau mengangkatnya.
Bahkan ketika rakyat miskin mencoba menyampaikan tuntutannya sendiri—entah dimuat media ataupun tidak—, para agamawan ini bahkan kebingungan dan menyuarakan hal yang bertentangan. Mereka dengan mudahnya menuduh kalangan yang menuntut keadilan sebagai ”komunis”, ”provokator”, ”perusuh” (dissident), ”anarkis”. Dan betapa butanya mata para agamawan ini, karena mereka tak mau—atau sengaja menyembunyikan—menyebut ayat-ayat yang jelas-jelas membolehkan orang tertindas menyampaikan kemarahannya; ayat yang berbunyi ”Dilarang kalian mengumpat dan berkata kasar, kecuali kalian adalah orang yang tertindas”. Dalam ayat ini jelas, orang (di)miskin(kan) dan tertindas boleh berkata kasar dan mengumpat, terurutama mengumpat pada para penguasa (mustakhbirin) dan pemerintah tiran (taqhut) demi al adhalah dan al musyawah, keadilan dan egalitarianisme!
Betapa jelas para pembela pasar yang terdiri dari para agamawan ini berpijak dan berpihak. Semua orangpun tahu, betapa bodohnya apa yang ditunjukkan AA. Gym: Ketika rakyat miskin tertindas ramia-ramai menolak kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintahan Yudoyono-Kalla, AA. Gym justru membelanya dan ia menghujat para demonstran. Ketika kebanyakan pemuda-pemudi takut untuk menikah karena mereka tidak siap (karena masih menganggur dan berada dalam miskin), para agamawan sibuk juga meneriakkan ”Ayo POLIGAMI!”
Anda
Dan apakah Anda ada di antara mereka, baik sadar maupun tidak sadar. Saya sering mendengar seorang yang berkata: ”Pasar itu satu-satunya yang harus mengatur kehidupan. Kalau diatur negara malah repot, nggak efisien, nanti malah dikorup!”. Ada lainnya yang berkata—seperti Francis Fukuyama: ”Pasar adalah akhir dari sejarah, tak mungkin ada yang menggantikkannya. Apa kita akan kembali menyerahkan urusan pada negara dan menjadi komunis? Tidak lah Yauuuuw!” Yang lain bilang: ”Enakan pasar, kan kita bisa bebas, dan karena orang bersaing akhirnya kompetisi membuat orang maju. Karena dorongan manusia untuk maju harus diciptakan melalui naluri... dan naluri itu akan tercipta jika ada persaingan dengan Pasar. Hidup pasar! Aku ke pasar dulu ya, belanja baju baru... Hehehe!”
Saya tak tahu apakah Anda pernah mengatakan itu, atau hampir sama dengan itu. Mungkin saya bisa ajukan perrtanyaan ke Anda?
1. Benarkah kemajuan hanya terjadi karena persaingan (kompetisi) individualistik? Tidak bisakah kemajuan justru akan cepat terjadi dengan kerjasama atau sistem kolektif? Kemajuan itu karena persaingan atau karena kerjasama? Anda bisa contoh...
Benarkah sejarah sudah berakhir dan ”pasar” adalah babak akhir dari drama kehidupan manusia? Tidakkah hidup ini berjalan terlalu panjang, jutaan tahun? Bukankah pasar masih berumur 300 tahunan, sebelumnya tatanan kolektif berlangsung ribuan tahun, lalu perbudakan dan feodalisme (kerajaan) beribu-ribu tahun? Apakah sosialisme adalah ”basi” dan bukannya syarat-syarat terjadinya tatanan material-ekonomis bagi sistem lain, selain pasar, memang belum siap?
2. Apakah dulu, tiga ratus tahun yang lalu, orang akan membayangkan kalau tatanan dan hubungan ekonomi akan sekarang? Dan benarkan seribu tahun lagi pasar masih akan bertahan, saat teknologi benar-benar maju, saat ilmu dan teknologi tak dimonopoli oleh sedikit orang (terutama perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan teknologi untuk dimassalkan dengan syarat harus dalam hukum jual beli/komersial) dan pendidikan dapat dinikmati semua orang?
3. Bukankah 350 tahun lalu tak terbayangkan bahwa orang bisa terbang dan sekarang itu bisa? Dan bukankah saat setiap akses terhadap pendidikan dan IPTEK maju dan adil, tak ada lagi yang bisa membodohi? Dan kalau anda percaya bahwa pasar akan tetap bertahan sama artinya anda berharap bahwa masih banyak orang yang bodoh?
Benarkah sejarah berakhir hanya karena anda merasa nyaman saat berbelanja atau mendapatkan kerja yang tak mengagumkan?
Wallahu’alam!
Ngawi, 9 Maret 2008: 22: 23
____________________
Michael R. LeGault, Sekarang Bukan Saatnya untuk “Blink” Tetapi Saatnya untuk THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata. Jakarta: PT. Transmedia, 2006
C. Wright Mills, The Power Elite, New York: Oxford University Press, 1956, hal. 311
Ibid., hal. 314
Michael R. LeGault, Sekarang Bukan Saatnya untuk “Blink” Tetapi Saatnya untuk THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata. Jakarta: PT. Transmedia, 2006, hal. 131