Jumat, 21 Maret 2008

Resensi Bukuku di Koran Pak Oles, 16 Maret-31 Maret 2008:

Pudarnya Pamor Agen Perubahan

Oleh:
Edy Firmansyah, sastrawan dan pengelola Sanggar Bermain Kata Madura



Kaum muda (b
aca: mahasiswa) selalu diperhitungkan keberadaannya dalam lintas sejarah. Sebab mahasiswa merupakan variabel penting yang berperan dalam segala proses perubahan. Dalam babakan sejarah, gerakan kaum muda telah memainkan peranan penting menjadi barisan terdepan yang selalu meneriakkan tuntutan atas berbagai perubahan dan keadilan sosial.
Di Inonesia, hal ini bisa dilihat mulai dari berdirinya Boedi Oetomo, ikrar Sumpah Pemuda 1928, hingga yang masih mengemuka saat ini adalah gerakan mahasiswa menumbangkan rezim Orde Baru pada tahun 1998. Status mahasiswa menjadi kebanggaan tersendiri.


Namun yang terjadi saat ini justru kebalikannya. Mahasiswa Indonesia kini tak lagi bercitra sebagai kaum intelekual, pembela rakyat atau aktivis perubahan (agent of change). Yang ada justru mahasiswa yang berpikiran pragmatis-oportunistik. Dalam benak mereka menjadi mahasiswa berarti sebuah jalan lempang mendapatkan pekerjaan. Titik. Sehingga ketika ditanya tentang bagaimana nasib masyarakat yang diterus didera penderitaan, mulai dari melambungnya harga kebutuhan pokok, pendidikan mahal, kesehatan mahal, hingga fenomena gizi buruk, pengangguran hingga kemiskinan yang meluas? Jawabannya sungguh menyakitkan: “Persetan dengan mereka semua!”

Parahnya lagi, maraknya berita mengenai keterlibatan mahasiswa dengan narkoba, tawuran antar mahasiswa, hingga perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa menambah daftar panjang keburukan mahasiswa di negeri ini.

Adalah kekuatan kapitalis yang membuat mahasiswa kehilangan pamornya sebagai agen perubahan. Lewat kisah sinetron, opera sabun dan juga acara reality show, mahasiswa digambarkan tak lebih sebagai kaum muda yang hanya sibuk mengejar uruan cinta dan pergaulan saling berburu pasangan dengan dramaturgi yang berlebihan. Dalam kisah sinetron, misalnya, kampus hanya menjadi aktivitas kisah ‘cinta sempit’ yang bernama ‘pacaran’ dengan gaya hidup yang menonjolkan syahwat.

Dengan kata lain, tugas dan peran berat mahasiswa dalam pusaran sejarah sebuah bangsa mulai dikaburkan dan kemudian digantikan dengan citra sebagai segelintir kaum muda yang eksklusif dengan hidup yang penuh suka ria. Sedangkan kampus tak lebih sebagai menara gading kekuasaan pasar (modal) di mana aktivitas mahasiswa hanya berkutat pada kuliah, makan, belanja, kencan, dan seks.

Kondisi inilah yang menjadi bahasan utama buku karya Nurani Soyomukti ini. Sarjana sospol Universitas Jember ini menilai apa yang menerpa mahasiswa ini sebenarnya mengingkari sejara. Pasalnya sejarah gerakan mahasiswa adalah sejarah pembebasan rakyat, sejarah perubahan bagi terciptanya keadilan sosial (hlm. 24).

Dengan menggunakan analisa Marxian, Nurani mengurai mata rantai kapitalisme yang membuat mahasiswa kehilangan elan vital dan jati dirinya. Siapapun akan menjadi rombongan makhluk ideot. Nah jika hal ini dibiarkan, tentu akan menjadi preseden buruk bagi bangsa ini. Pasalnya mahasiswa masih menjadi ujung tombak bagi masa depan karena di tangan merekalah tongkat estafet bangsa ini disemaikan. [*]

Selasa, 18 Maret 2008

Negarawati Radikal:

Ibu Siti Fadilah Supari
—Bukan Perempuan Tanggung-Tanggung!


Oleh: Nurani Soyomukti*)


Dialah seorang “Ibu”. Dan saya memanggilnya ”Ibu” saat ’sowan’ ke rumah dinasnya beberapa kali. Saya pernah makan bakso bersama suami, anak, dan enam orang tamu yang juga sahabatnya. Dan hingga kini saya hampir tiap hari kontak dengan adhik beliau: Pak Burhan, seorang mantan aktivis tahun 1980-an dari kampus ITB yang pernah ditangkap.

Pak Burhanlah yang sebenarnya lebih banyak bicara di hadapanku karena pada waktu saya bertamu ke rumah dinas Ibu, beliaulah yang banyak ”mewancarai” dan ”menggurui”-ku banyak hal. ”Mewancarai” dalam arti, dialah yang, di ruang tamu itu, pada waktu itu, mengajak saya dan Iwan (kawan saya) bercakap dan berdiskusi. Dan saya akui, pengetahuannya memang lebih banyak dari kami. Dan kami hanya berlaku sebagai seorang murid yang sedang mendengarkan gurunya, sesekali juga disela oleh Bu Menteri yang pada waktu itu sedang menyelesaikan naskahnya di sofa depan ku duduk, di samping Pak Burhan.

Pada waktu itu Ibu sedang menyelesaikan naskah buku yang belakangan memang kontroverial karena harus menjadi buku yang mendapat perhatian pada level internasional. Sesekali Ibu ngomong dan bercerita dengan mulutnya yang ”menjeb-menjeb” (kalau belia ngomong). Kadang dia berhenti dan mengatakan: ”Ngobrol sama Pak Burhan ya, Ibu harus nyelesaikan naskah buku ini... ”.

Waktu itu, di ruang tamu tengah rumah dinas yang luas itu memang ada 6 orang yang duduk: saya dan Iwan yang sedang berhadapan dekat dengan Pak Burhan, ngobrol soal ”bangsa”, Ibu Menteri 3 meter duduk bersama labtop di pangkuannya; Mbak Lilik asiten Ibu yang juga memangku labtop, dan satu orang laki-laki umur sekitar 50-an (saya lupa namanya, yang jelas bukan ’orang dalam’), yang juga memangku benda yang sama—keduanya sedang mengejar editing dan Ibu sedang menambahi bagian kata pengantar. Kamipun cerita tentang buku, beliau memuji saya karena ”masih muda sudah menghasilkan banyak buku”.

Dan beliau menyampaikan alasan kenapa buku itu harus ditulis. Yang membuat saya heran dari apa yang dikatakan dan yang saya dengar dari adhiknya, Pak Burhan, kenapa masih ada pejabat (setingkat menteri lagi!) yang idealisme dan sentimentalitasnya begitu kuat. Apalagi di tengah usia beliau yang tua, dibanding anak-anak muda seperti ’kami’, tentu tak pernah terbayangkan ”hareeee geneeeee” masih ada orang semacam beliau.

Dan tentu saja saya menyimpulkan bahwa saya memang kurang begitu gaul selama ini. Sebagai pendatang baru di Jakarta yang sedikit mengenal orang-orang pemerintahan, tentu keheranan itu wajar. Saya berpikir Ibu bukan orang satu-satunya, tetapi saya juga bertanya: Siapa orang yang berani seperti Ibu, apalagi perempuan (dan berstatus Ibu)?
Suaminya adalah seorang (pensiunan) arsitektur. Dan sang Ibu adalah menteri yang ’radikal’. Meskipun ibu baru akan menerbitkan buku pertamanya, tentu saja buku itu akan lebih populer daripada buku yang saya tulis, karena ibu memiliki jaringan dan beliau adalah seorang menteri.
Waktu itu buku yang
akhirnya mencuat dan kontroversial itu belum dinamai—artinya belum ada judulnya. Belakangan judul buku itu adalah ”TANGAN TUHAN DI BALIK VIRUS FLU BURUNG”. Sudah saya duga, akhirnya buku mencuat. Bukan hanya mencuat, tetapi juga populer karena mengandung kontroversi. Saya sudah menduganya sejak awal karena apa yang dilakukan adalah suatu hal yang jarang, seingat saya tak pernah, dilakukan oleh orang lain, terutama dalam posisinya sebagai pejabat negara (menteri).

Dan, sejak Orde Baru, memang tak pernah muncul satupun seorang menteri—apalagi perempuan, seorang ibu—yang berani mengkritik Amerika Serikat (AS) dan kekuatan korporasi bisnis. Merasa mujurlah saya, meskipun pada akhirnya harus meninggalkan Jakarta (entah akan kembali lagi atau tidak), sempat bertemu beberapa kali dan bertatap muka di rumahnya, bahkan makan bersama keluarga dan orang-orang dekatnya. (Kebanggaan ini terkesan ’ndeso’ atau ’katrok’ memang! Tapi tak apalah, saya telah bertemu dengan tokoh radikal dalam tubuh pemerintahan Indonesia yang secara umum masih pro-imperialis).

Ibu adalah calon pemimpin radikal—kalau saja ia menjadi presiden, bisa jadi ia akan menandingi Hugo Chavez, Evo Morales, atau melebihi Christina Fernandez atau Michele Bachelet. Pengamat kesehatan masyarakat dan sekaligus penulis produktif, Kartono Muhammad, menyebutnya sebagai ”Menteri Kesehatan yang Berani” (Kompas, Sabtu 8/3.2008). Sebenarnya ketenaran Ibu Siti Fadilah Supari sudah mulai kelihatan dua tahun yang lalu. Saat itu, majalah The Economist London (Edisi 10 Agustus 2006) menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit pandemik. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The Econ
omist waktu itu.

Bahagia juga saya mendapatkan waktu di tengah kesibukan akhir-akhir ini, untuk menuliskan apresiasi saya terhadap beliau dan karyanya, bukunya. Saya sudah mendapatkan bukunya, tapi belum melihatnya. Karena saat paketan buku itu tiba di Jember, karena ditujukan ke rumah kontrakan saya, saya sedang berada di sini, lima jam perjalanan kalau naim bus kalau ke sana. Paketan itu datang kemarin.

Aku sms Deny Ardiansyah, seorang kawan penulis Jember: ”Mau meresensi buku ibu Menkes nggak? Aku baru tanggal 27 kesana. Kalau mau, ambil di kontrakanku. Kemungkinan besar dimuat kalau mau ngirim resensinya ke media...! ***

Cultura Letera:

Kangen (Setengah Mati pada) Internet

(Oleh: Nurani Soyomukti)


Sekarang aku sedang di Magetan, besok langsung ke Ponorogo, survey Pilgub Jatim. Dan hari ini di desa terpencil. Kalau ada tulisanku yang masuk, juga tulisanmu tolong kabari—aku rindu pacarku: Internet! Hehe...”.

Begitu saya sms yang kukirim ke seorang kawan beberapa waktu yang lalu. Saya minta pada kawan saya, yang berumur lebih muda dari saya tetapi sudah menjadi penulis yang cukup dipertimbangkan koran—dan punya blog bagus, itu yang penting!—karena ia memang termasuk seorang pemuda produktif. Maksudku adalah minta tolong padanya kalau besoknya ada tulisan kami, atau kawan kami lainya, yang dimuat, tolong dikabari. Karena biasanya kami suka mengoleksi, menginventarisasi, dan mendokumentasikan karya kami yang dimuat.

Kami memang sering berdiskusi soal tulisan, situasi masyarakat, dan masa depan dunia.
”Bagaimanapun ini karya kita, harus kita kliping. Nanti kita tunjukkan pada anak kita bahwa Bapaknya adalah penulis dan penggagas yang diakui redaksi”, kata seorang kawan itu saat kami ngumpul di sebuah warung kopi pada sore hari yang gerimis.
”Wah, narsis lagi, narsis lagi”.


”Bukannya narsis”, dia mengelak, ”Kalau kita dapat menunjukkan kalau kita diakui masyarakat pada anak kita, itu sama saja dengan memotivasi anak kita agar meniru kita”.
”Wah, jangan gitu”, tukasku padanya, ”Wong tahu jadi penulis itu susah kok malah ingin anaknya jadi penulis. Kita semua ingin anak-anak cucu kita jadi orang besar, tapi nggak harus jadi penulis dong. Aku malah menginginkan anakku nggak jadi penulis, tapi jadi ahli teknik—negara kita ketinggalan jauh gara-gara teknologinya, Bro! Kalau semua jadi penulis, apa kita ingin semua orang jadi pengkhayal dan pemalas kayak kita-kita?”


Semua kawanku dan orang yang mendengarkan suaraku di warung itu melongo. Mereka diam, seakan mengunyah apa yang baru kukatakan.
”Benar. Kawan k
ita yang satu ini benar... TENAGA PRODUKTIF, IPTEK. Gitu kan, Bro? Hehehe... kata-kata itu kan yang kau jejalkan dalam bukumu? Kamu makin ngeri saja.. Hehe”, ia memecah keheningan. Tetapi, pada akhirnya obrolanpun berlanjut.

***
Itu terjadi beberapa minggu yang lalu.
Dan Anda tahu kenapa saya mengirim sms tersebut di atas?
Saya ingin bertanya pada Anda: Apa yang Anda lakukan saat Anda kesulitan akses internet? Saya tidak tahu bagaimana yang anda rasakan pada saat seperti itu karena itu tergantung pada Anda. Kalau Anda terbiasa mengaksesnya, mungkin akan agak merasa kehilangan atau kesepian.

Tapi ijinkanlah saya bercerita tentang ’kesepian’ dan jenis kesepian saya pada saat berada di suatu tempat yang jauh dari akses internet. Bagi saya dan beberapa kawan saya yang selalu ingin mengirimkan karyanya, entah puisi, cerpen, esai, koran—atau mengup-date blog—, jauh dari internet kadang mirip siksaan.
Saya mau jujur pada Anda, saat saya masih belum ’broken’ sama kekasih saya, terus terang saya lebih tak bisa jauh dari akses internet daripada jauh daripada kekasih saya. Saya sendiri merasa bahwa saya naga-naganya menderita semacam ’cyber-addiction’—mudah-mudahan istilah ini benar. Saya tak tahu sebabnya dan selama ini juga kurang menyadari bahwa penyakit ini cukup akut.

Tapi sudahlah, lupakan tentang ’kelainan’ yang saya derita itu. Yang ingin saya ceritakan di sini adalah gejala umum yang dimiliki para penulis, saya dan kawan-kawan saya—bahkan sebagian juga kawan-kawan yang belum pernah komunikasi face to face, tetapi hanya lewat chating di yahoo messenger, shoutbox blog atau ”si kotak penyambung lidah rakyat”, email, atau seringnya kontak via cellular handphone (sms dan telfon).

Dan yang ingin saya ’curhat’-kan adalah kengerian saya beberapa waktu yang lalu saat berada di sebuah tempat terpencil, ndeso, katrok, di mana internet berada jauh di kota. Keliling-keliling kabupaten Jawa Timur membutuhkan energi tersendiri, dan yang paling besar adalah energi yang saya keluarkan untuk melawan kesepian karena saya jauh dari akses internet. Beberapa kawan saya—ada beberapa yang menyukai terjun ke desa-desa—tentunya tidak merasakan hal yang sama dengan saya: Apalagi mereka punya hobby merokok dan dengan menikmati nikotin yang dihisap, memuasi asap di depan wajahnya, dan merayakan pula asap di atas kepalanya, dia dapat menurunkan ketegangan dan mengurangi kesepian.

”Aku butuh internet, dimana ya di daerah ini ada internet?” tanyaku.
”Mana ada internet di daerah kayak gini?” jawab seorang temanku.
”Pastilah. Koran saja sulit didapat”, tukasku.
”Ya nulis aja dulu, biar banyak dulu. Nanti kalau dah sampai kota baru dikirim”.
”Kayak nabung aja”.

Kawanku benar. Sebenarnya lebih stressed lagi kalau aku bisa menulis. Seperti dulu, saat aku masih pakai komputer, tak mungkin teknologi sebesar itu bisa aku jinjing ke mana-mana: sehingga, setiap kali keluar kota (Jember) aku harus merelakan diriku menahan nafsu menulis. Buku tulislah yang jadi gantinya, seperti sekolah atau kuliah dulu, mencatat di atas kertas saat ide berseliweran lalu menuliskannya lagi di komputer.

Setelah berhasil mengupayakan sebuah note-book sederhana yang tak begitu canggih, kini kubisa menulis di mana saja. Tetapi untuk mendapatkan internet di mana saja?
Itulah masalahnya.

Mungkin kata kawanku benar. Yang penting menulis, apa saja, ”pasti berguna”—seperti kata Pram. Kalau tidak ada internet, ya menulislah apa saja, isi waktu dengan menulis. Gunakan waktu yang kau habiskan untuk ’ngenet’ dengan menulis.

Ya, ada ratusan judul opini/artikel dalam ’folder’ yang kunamai ”tabungan”. Hanya sebatas judul dan data dari koran yang biasanya sebaris atau dua paragraf. Judul itulah yang harus kulanjutkan agar menjadi satu gugusan gagasan yang layak muat di koran atau sekedar ’nabung’ opini untuk menulis buku.
....
Ya, begitulah ceritanya. Mungkin terlalu membosankan! Seperti bosan saat kesulitan menemukan internet! Bagaimana tak bosan karena kalau tidak mengirim tulisan di media artinya tak ada harapan akan ada tulisan kita yang dimuat. Bukankah, selain NARSIS, penulis itu juga GILA PUBLIKASI? Dua hal itulah syarat menjadi penulis: NARSIS dan GILA PUBLIKASI! Kalau nggak, ya tak akan menulis! Karena menulis itu bagian dari eksistensi diri, entah demi uang, popularitas, atau (menjalankan perang) ideologi! Yang terakhirlah yang harus diprioritaskan! Tapi bagaimana bisa berideologi kalau tidak mengeksis? Wallahu’alam!***

Minggu, 09 Maret 2008

:::::::::: Ekonomi-Politik ::::::::::

Para Pembela Pasar

—Oleh: Nurani Soyomukti—


Buruh?
Para pembela pasar bukanlah buruh-buruh yang bekerja di pabrik, yang menggerakkan tubuh dan anggota badannya menjalankan mesin-mesin dan mengubah bahan mentah menjadi suatu barang yang akhirnya dijual—meskipun dirinya sendiri tak mau membeli barang yang dihasilkannya sendiri. Sungguh, mereka hanyalah kebanyakan dikurung dalam kawasan industri yang membuat mereka tak mengerti bahwa hubungan kerja yang ada (kapitalisme) menyangkal keberadaan mereka sebagai manusia (yang butuh memenuhi kebutuhan lapar dan dahaga, dan kebutuhan lainnya yang membuat mereka layak menjadi makhluk yang bernama manusia.
Sarjana
Para pembela pasar—meskipun tidak semuanya—adalah lulusan kuliah yang dengan begitu bangganya dengan ijazah S1 berkompetisi berebut pasar kerja. Mereka masuk pasar kerja dan mereka menjual dirinya agar laku dalam bursa pasar kerja. Banyak dana yang dikeluarkan untuk mendandani tubuhnya dan mengolah kecerdasan teknis otaknya: mereka harus membaca mantra-mantra atau ayat-ayat jitu tentang efektifitas cara mencari kerja. Mereka adalah para laki-laki dan perempuan muda yang gandrung akan status eskekutif industri atau manajer pemasaran: Mereka adalah duta-duta atau deputi produk-produk industri yang juga menggunakan para perayu agar anak-anak yang mulai belajar berhitung juga begitu fasih menghafal nama-nama produk dan nama-nama bintang yang tampil dalam acara TV yang selalu berganti-ganti dengan penampilan citra produk.
Produk yang dicitrakan dan para artis-selebritis (mulai dari pelawak, pemain drama, penyanyi, presenter, juga sebagian pelacur yang terseleksi dalam industri seks yang berkesempatan tampil di TV).


Artis-Selebritis
Para pembela pasar utama dan yang paling kelihatan di hadapan mata kita memanglah mereka yang tampil di TV dan menyuguhkan berbagai penampilannya agar kita merasa bahwa budaya pasar begitu indah dan seakan melupakan keindahan sejati itu sendiri. ”Belilah produk ini, itu, ini itu, yang ini, yang itu! Tirulah artis ini artis itu! Tirulah rambut ini rambut itu! Belilah produk ini produk itu! Nikmatilah yang ini yang itu!”, begitulah doktrin utama yang dibombardirkan ke kita. Artis-artis alias seniman pendukung budaya pasar—yang lahir, tumbuh, dihidupi (digaji) oleh penguasa industrialis kapitalisme, dan yang mati demi dan atas nama pasar—memanglah para seniman/artis selebritis. Bahkan kadang merekalah yang secara agresif melontarkan gagasan-gagasan, wacana, dan ucapan gampangannya kepada penonton.

”Orang-orang barbar tak lagi mengempur gerbang kota kita, mereka sedang makan malam bersama kita. Nama mereka adalah J. Lo, Ja Rule, dan Paris Hilton”, kata Michael ReGault, seorang pengamat media AS.1 Mereka menjejali media-media hingga tak ada satupun media popular yang berisi keluhan dan tuntutan orang-orang miskin yang susah dan menggugat keadaan: yang ada hanyalah wajah cantik bergincu tebal dan bermake-up yang kadang keterlaluan mirip ’topeng monyet’ atau laki-laki yang kalau tak mancho pasti ’mbanci’.

Berharap pada media untuk membela rakyat miskin akan membuat Anda pesimis. Tak heran jika sosiolog ternama seperti C. Wright Mills mengajukan pandangan yang pesimistik terhadap fungsi media. Dalam bukunya “The Power Elite” (1956), Mills mengutuk fungsi media yang lebih berfungsi sebagai instrument yang memfasilitasi—apa yang ia sebut sebagai—“kebutahurufan psikologis”.2 Mills juga memandang media sebagai pemimpin “dunia palsu” (pseudo-world), yang menyajikan realitas ksternal dan pengalaman internal serta penghancuran privasi dengan cara menghancurkan “peluang untuk pertukaran opini yang masuk akal dan tidak terburu-buru serta manusiawi”.3

Bayangkan, bagaimana tidak tergesa-gesa jika TV, sebagai media, hanya menyuguhkan tayangan-tayangan/acara yang tidak berkualitas semacam sinetron-sinetron cengeng atau reality show. Acara ini dibuat tanpa kedalaman cerita dan estetika yang bermakna, tetapi justru didukung oleh iklan dengan tujuan semata-mata agar tercipta masyarakat—khususnya remaja dan kaum muda—yang hanya bisa membeli dan membeli.

Menurut Alan Middleton, asisten professor marketing dan direktur eksekutif di Schulich Exective Education Center, periklanan merupakan industri yang sangat konservatif. Iklan tidak membuat trend, tetapi hanya mengikutinya. Iklan tidak berusaha mengubah hal-hal yang sudah ada. Dia tidak berusaha meningkatkan tingkat melek huruf atau memperbaki pengetahuan kita terhadap sejarah atau meningkatkan apresiasi terhadap Shakespeare. Ungkapan itu diperkuat dengan argument Curtis White dalam bukunya “Middle Mind”, mengikuti trend bisa berarti memperkuat trend tersebut. White mengamati bagaimana tayangan televise “Antique Road Show” di Amerika telah mengubah seni dan benda-benda antik menjadi “Bentuk komoditas pemujaan yang murahan”. Dalam hal opera sabun dan drama televise, trend tersebut telah memiliki sejarah yang panjang yang dibangun atas tema keserakahan, seks, dan kekerasan.4

Mengerikan!

Ekonom
(Menurut Allan Wood) mereka adalah pula para pembela "kekuatan pasar", kekuatan irasional yang kini telah memenjarakan jutaan orang ke dalam pengangguran. Mereka adalah juga para pengkotbah perekonomian "sisi suplai", yang didefinisikan secara cerdas oleh John Galbraith sebagai teori bahwa kaum miskin memiliki terlalu banyak uang dan kaum kaya memiliki terlalu sedikit. Maka, "moralitas" yang berlaku sekarang ini adalah moralitas pasar, yakni, moralitas rimba. Kemakmuran masyarakat semakin terkumpul di segelintir tangan, yang juga jumlahnya semakin menyusut, sekalipun kita terus mendengar propaganda tak masuk akal tentang "demokrasi kepemilikan" dan "yang kecil itu indah".

Politisi
Para pembela pasar berikutnya adalah politisi. Para politisi yang diuntungkan dengan diterapkannya pasar bebas, entah yang meyakini doktrin pasar dan berusaha minta legitimasi ilmiah ekonomi pasar maupun yang tak mengerti apa-apa, memanfaatkan posisi politiknya untuk mengikuti diktum pasar (neoliberal) dengan mendukung dan membuat kebijakan pro-pasar: memotong subsidi sektor rakyat (kesehatan, pertanian, pendidikan, dll) dan biasanya justru menambah anggaran tentara; melego dan menjual murah perusahaan-perusahaan negara; tidak membatasi modal asing dan perusahaan asing sehingga produk-produk luar disediakan pasar, yang merusak daya saing produk-produk dalam negeri (beras impor, pupuk impor, dan tetek mbengek impor); bahkan mengorbankan buruh, membuat buruh dibayar murah dan mudah diatur agar pemodal asing berbondong-bondong masuk dan mendominasi.

Ya, karena ditentukan oleh para politisi dan penyelenggara negara, pada akhirnya yang mendominasi adalah pasar. Dan pasar bukanlah suatu hal yang abstrak, karena dia adalah Modal dan kekuatan yang hanya berkeinginan satu: menumpuk keuntungan, menambah modal.



Agamawan (Kiai, Ustadz, juru Dakwah)
Para pembela pasar berikutnya adalah agamawan, yang kebanyakan kiai. Sebut saja AA. Gym, Ustadz Jefrrey, dll. Mereka adalah pengkotbah moral-reliji yang dibesarkan media kapitalis, terutama TV. Mereka menjadi bintang iklan dan hanya mengumar ayat-ayat yang melanggengkan tatanan pasar bebas dan menjadikan ayat-ayat cinta palsunya sebagai katub pengaman moral kapitalisme dan kontradiksinya: agar rakyat yang tertindas tak menuntut sistem ekonomi pasar, dihiburlah mereka dengan surga agar mereka merelakan dirinya dimangsa didunia karena telah dijanjikan do akhirat, surga dengan kenikmatan tiada tara—”Sistem kolektifitas hanya ada di surga, di dunia tempatnya sistem pasar, dan saya adalah bintang Iklan”, seru salah seorang pengkhotbah.

Para agamawan pembela pasar melupakan salah satu ucapan penting orang suci Idan tokoh Islam ”Sebaik-baiknya tempat adalah masjid, dan seburuk-buruknya tempat adalam pasar!” Para agamawan itu juga lupa dengan ayat Kitab Suci Al Qur’an bahwa ”Allah akan memberikan karunia pada orang miskin-tertindas, dan akan menjadikan mereka pemimpin dan pewaris”. Dengan menjadi bintang iklan dan idola, para kiai itu lupa diri dan lupa bahwa seharusnya rakyat miskin harus bersuara dan media tak mau mengangkatnya.

Bahkan ketika rakyat miskin mencoba menyampaikan tuntutannya sendiri—entah dimuat media ataupun tidak—, para agamawan ini bahkan kebingungan dan menyuarakan hal yang bertentangan. Mereka dengan mudahnya menuduh kalangan yang menuntut keadilan sebagai ”komunis”, ”provokator”, ”perusuh” (dissident), ”anarkis”. Dan betapa butanya mata para agamawan ini, karena mereka tak mau—atau sengaja menyembunyikan—menyebut ayat-ayat yang jelas-jelas membolehkan orang tertindas menyampaikan kemarahannya; ayat yang berbunyi ”Dilarang kalian mengumpat dan berkata kasar, kecuali kalian adalah orang yang tertindas”. Dalam ayat ini jelas, orang (di)miskin(kan) dan tertindas boleh berkata kasar dan mengumpat, terurutama mengumpat pada para penguasa (mustakhbirin) dan pemerintah tiran (taqhut) demi al adhalah dan al musyawah, keadilan dan egalitarianisme!

Betapa jelas para pembela pasar yang terdiri dari para agamawan ini berpijak dan berpihak. Semua orangpun tahu, betapa bodohnya apa yang ditunjukkan AA. Gym: Ketika rakyat miskin tertindas ramia-ramai menolak kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintahan Yudoyono-Kalla, AA. Gym justru membelanya dan ia menghujat para demonstran. Ketika kebanyakan pemuda-pemudi takut untuk menikah karena mereka tidak siap (karena masih menganggur dan berada dalam miskin), para agamawan sibuk juga meneriakkan ”Ayo POLIGAMI!”

Anda
Dan apakah Anda ada di antara mereka, baik sadar maupun tidak sadar. Saya sering mendengar seorang yang berkata: ”Pasar itu satu-satunya yang harus mengatur kehidupan. Kalau diatur negara malah repot, nggak efisien, nanti malah dikorup!”. Ada lainnya yang berkata—seperti Francis Fukuyama: ”Pasar adalah akhir dari sejarah, tak mungkin ada yang menggantikkannya. Apa kita akan kembali menyerahkan urusan pada negara dan menjadi komunis? Tidak lah Yauuuuw!” Yang lain bilang: ”Enakan pasar, kan kita bisa bebas, dan karena orang bersaing akhirnya kompetisi membuat orang maju. Karena dorongan manusia untuk maju harus diciptakan melalui naluri... dan naluri itu akan tercipta jika ada persaingan dengan Pasar. Hidup pasar! Aku ke pasar dulu ya, belanja baju baru... Hehehe!”
Saya tak tahu apakah Anda pernah mengatakan itu, atau hampir sama dengan itu. Mungkin saya bisa ajukan perrtanyaan ke Anda?

1. Benarkah kemajuan hanya terjadi karena persaingan (kompetisi) individualistik? Tidak bisakah kemajuan justru akan cepat terjadi dengan kerjasama atau sistem kolektif? Kemajuan itu karena persaingan atau karena kerjasama? Anda bisa contoh...
Benarkah sejarah sudah berakhir dan ”pasar” adalah babak akhir dari drama kehidupan manusia? Tidakkah hidup ini berjalan terlalu panjang, jutaan tahun? Bukankah pasar masih berumur 300 tahunan, sebelumnya tatanan kolektif berlangsung ribuan tahun, lalu perbudakan dan feodalisme (kerajaan) beribu-ribu tahun? Apakah sosialisme adalah ”basi” dan bukannya syarat-syarat terjadinya tatanan material-ekonomis bagi sistem lain, selain pasar, memang belum siap?
2. Apakah dulu, tiga ratus tahun yang lalu, orang akan membayangkan kalau tatanan dan hubungan ekonomi akan sekarang? Dan benarkan seribu tahun lagi pasar masih akan bertahan, saat teknologi benar-benar maju, saat ilmu dan teknologi tak dimonopoli oleh sedikit orang (terutama perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan teknologi untuk dimassalkan dengan syarat harus dalam hukum jual beli/komersial) dan pendidikan dapat dinikmati semua orang?

3. Bukankah 350 tahun lalu tak terbayangkan bahwa orang bisa terbang dan sekarang itu bisa? Dan bukankah saat setiap akses terhadap pendidikan dan IPTEK maju dan adil, tak ada lagi yang bisa membodohi? Dan kalau anda percaya bahwa pasar akan tetap bertahan sama artinya anda berharap bahwa masih banyak orang yang bodoh?
Benarkah sejarah berakhir hanya karena anda merasa nyaman saat berbelanja atau mendapatkan kerja yang tak mengagumkan?
Wallahu’alam!

Ngawi, 9 Maret 2008: 22: 23

____________________
1 Michael R. LeGault, Sekarang Bukan Saatnya untuk “Blink” Tetapi Saatnya untuk THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata. Jakarta: PT. Transmedia, 2006
2 C. Wright Mills, The Power Elite, New York: Oxford University Press, 1956, hal. 311
3 Ibid., hal. 314
4 Michael R. LeGault, Sekarang Bukan Saatnya untuk “Blink” Tetapi Saatnya untuk THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata. Jakarta: PT. Transmedia, 2006, hal. 131

Kamis, 06 Maret 2008

Budaya Politik:

Politik Berbiaya Tinggi
(High-Cost Politics)

Oleh: Nurani Soyomukti*)


Politik berbiaya tinggi adalah fakta yang kita jumpai hari-hari ini. Dari hari ke hari biayanya kian meninggi. Bahkan lebih rendah dari harga diri. Dan ia menggambarkan budaya politik yang bukan lagi parokial, tetapi mendekati politik terkomodifikasi yang mencerminkan semakin canggihnya kapitalisme (pasar bebas) beroperasi.

Dulu politik adalah masalah partisipasi dan ideologi. Setiap kekuatan politik (partai dan organisasi masyarakat) menunjukkan eksistensinya dalam politik dengan tujuan ideologis yang tak diremehkan dengan tujuan pragmatis seperti ua
ng dan jabatan. Di jaman pergerakan, masing-masing tokoh yang mewakili berbagai kekuatan politik berdebat soal cita-cita dan ide-ide untuk menciptakan masyarakat yang dianggapnya baik. Debat dalam PPKI dan BPUPKI seputar kemerdekaan tahun 1945 menunjukkan bahwa masing-masing tokoh sama-sama merasionalisasi pemikiran dan ideologinya.

Demikian juga pada pemilu pertamakali pada tahun 1955. Masing-masing partai politik melibatkan massa bukan dengan sogokan kaos partai, uang, atau barang-barang yang menghalangi orang untuk berpikir dalam berpolitik lainnya. Pemilu 1955 adalah pemilu yang paling demokratis dalam sejarah politik di Indonesia. Partisipasinya benar-benar ’sehat’ dan bahkan bersih dari ’konflik’ yang membahayakan.

Masing-masing partai memiliki massa yang militan dan mereka memilih bukan karena sogokan-sogokan material. Artinya kesadaran yang tercipta bukanlah kesadaran ’cekak’ atau sempit. Terlalu mudah untuk mengajak orang untuk memilih atau nyoblos. Biaya yang dikeluarkan untuk politik juga tak banyak, artinya politik diselenggarakan secara irit.
Hal itu jauh berbeda dengan sekarang. Setiap ada pemilu, isu golput pasti muncul. Belakangan, nampaknya tokoh-tokoh politik dan partai politik juga akan kesulitan untuk mengajak orang untuk milih. Banyak yang apatis dengan politik.

”Politik? Ah, tai kucing!” Politik tak ada kaitannya dengan nasib rakyat. Politik hanyalah ajang bagi para elit untuk berebut kekuasaan dan, nyatanya, kekuasaan itu tak pernah nyambung dengan keinginan rakyat untuk melihat perubahan demi kesejahteraan dirinya.

Pada akhirnya, elit juga tahu bahwa rakyat juga kian malas untuk berpolitik karena politik dianggap tak ada kaitan dengan nasibnya. Apatisme dan keacuhan rakyat terhadap moment-moment politik tersebut tentunya akan merepotkan para elit yang menginginkan basa-basi ritualitas politik tiap lima tahun sekali—entah pemilihan umum tingkat nasional (pemilu) ataupun tingkat daerah (pilkadal). Kalau banyak rakyat tak milih, tak akan ada legitimasi bagi proses pemilihan, artinya tak ada legitimasi bagi proses berebut kekuasaan.

Ibaratnya rakyat sudah bosan dengan politik, mereka akan terus dilibatkan dengan berbagai cara dan upaya, agar rakyat berpartisipasi. Dan makna partisipasi, sayangnya, hanya berupa nyoblos ataupun berkerumun ketika ada kampanye dengan suguhan hiburan musik pop dan dangdut. Partisipasi politik di masa kampanye yang terjadi hanya karena ingin mendapatkan hiburan di depan panggung di mana artis terkenal didatangkan. Partisipasi hanya dengan mencoblos gambar partai atau calon presiden atau kepala daerah.

Dari sinilah asal-muasal terjadinya politik biaya tinggi (high-cost politics): yaitu ketika massa rakyat semakin apatis dan malas berpolitik, maka pada saat itulah para elit yang sedang berebut jabatan/kekuasaan harus mengeluarkan banyak biaya agar mereka mau ikut dalam proyek politik orang-orang elit. Jadi, biaya banyak dikeluarkan untuk membiayai mobilisasi dan partisipasi.

Ibaratnya, meskipun rakyat bersembunyi di lubang semut atau di dalam got-got, para elit akan tetap mencari-cari mereka. Partisipasi politik dirangsang dengan berbagai cara, yang paling efektif adalah dengan memberi imbalan agar mereka terlibat. Hal ini berlaku bukan hanya dalam kasus membayar massa Rp 10 ribu atau 20 ribu agar mau menghadiri calon A atau B, tetapi juga terjadi dalam menyiapkan struktur organisasi atau pembangunan partai.

Ada partai yang didirikan dengan memberikan uang pada siapa saja yang mau menjadi pengurus, dengan dibiayai pula biaya sewa atau beli rumah untuk kantor (sekretariat) partai di tingkat cabang hingga ranting. Ada yang lebih lucu lagi, ada partai politik yang didirikan dengan memberikan jaminan asuransi bagi siapa saja yang mau menjadi pengurusnya.

Membuat kaos partai dan kaos bergambar calon yang akan dipilih dengan jumlah yang besar adalh suatu hal yang sudah biasa. Semakin banyak biaya yang dikeluarkan, semakin banyak pula kaos yang diberikan dan dipakai orang-orang. Tak mungkin kaos itu ditolak oleh kalangan rakyat kecil, karena untuk membeli kaos atau baju mereka kesulitan atau harus mengurangi jatah makan sehari-hari. Makanya, memberi kaos partai atau kaos bergambar calon adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh kekuatan politik yang ingin menang. Semakin uang yang dikeluarkan untuk membeli kaos, bendera, banner dan atribut-atribut, maka partainya akan nampak di mana-mana.
Dalam situasi kesadaran politik Indonesia yang kosong, yang nampak banyaklah yang biasanya akan diikuti karena politik rakyat miskin yang (di)bodoh(i) adalah politik ”manut grubyuk”.

Mendekati pemilu 2009, nampaknya budaya politik yang sama telah, sedang, dan akan terjadi. Apakah Anda akan membiarkan kesadaran rakyat teracuni dengan politik komersialisasi para elit? Ataukah Anda akan mengeluarkan sikap golput dan menyerukannya ke orang lain satu demi satu atau mengorganisir kampanye golput seperti aksi demonstrasi tutup mulut dengan membawa poster bertuliskan ”Ayo Kita Golput!” atau dengan merangkul orang-orang membikin pers release mengajak golput?

Silahkan Anda mengambil tindakan dan taktik untuk merespon situasi politik palsu ini. Tapi saya yakin, Anda akan memilih yang terbaik. Jadi pikirkanlah secara serius tindakan dan kegiatan yang paling efektif, alangkah baik jika didiskusikan bersama untuk menghasilkan keputusan yang baik, bertanggungjawab, dan berguna bagi demokrasi yang berpihak bagi rakyat kita!***

Politik Sastra-Budaya:

Penulis Itu adalah Pengemis

Oleh: Nurani Soyomukti*)

Menulis itu adalah memulung. Jadi, penulis itu tak jauh beda dengan pemulung. Bahkan tak lebih dari pengemis. Itulah kesimpulan saya, dan saya kira pandangan tersebut tak berlebihan.
Bagaimana tidak, jika pemulung memungut sampah-sampah atau sisa-sisa, jika pengemis mendatangi orang dan menengadahkan tangan untuk mendapatkan sesuatu, penulis juga demikian. Pemulung ‘mengobrak-abrik’ tempat sampah untuk mencari barang-barang sisa (sampah) yang bisa diambil dan dijual dengan harga yang pantas untuk barang sisa—barang itu konon akan didaur-ulang menjadi suatu yang lebih berguna.


Pengemis juga berjalan dan berkeliling mendatangi orang dan rumah-rumah untuk meminta sesuatu. Ia tak punya alat produksi yang dapat digunakan untuk menghasilkan barang-barang, ia tak terikat dengan hubungan produksi seperti buruh—baik buruh kasar (blue collar) maupun buruh white collar (seperti sales, manajer pemasaran, staf perusahaan, dll)—yang dapat ditelisik berada di bawah kendali majikan dalam hubungan produksi kapitalistik. Pemulung dan pengemis tak mendapat uang karena diupah oleh pemilik modal, tetapi dari meminta dan memungut (lalu pungutannya dijual).

Jika dihubungkan dengan hubungan produksi kapitalis, penulis—bahkan dalam hal tertentu juga jurnalis—adalah pengemis dan pemulung kata-kata yang telah disediakan (tersedia) di alam kehidupan. Ada fakta, ada informasi, ada gejala, ada realitas konkrit. Dan dibalik fakta atau gejala itu adalah hubungan-hubungan material yang menyusun kehidupan. Sudah ada kata-kata dan nama-nama yang disediakan dalam kamus untuk mewakili benda-benda nyata itu. Hubungan-hubungan material, dalam kondisi tertentu, menghasilkan kualitas yang bisa dinilai dan dinamai (dimaknai).

Jadi jangan sombong jika penulis sebenarnya adalah pencuri atau pembajak dari yang sudah ada, atau garong dari apa yang telah tersedia. Tak mungkin realitas material tidak memiliki representasi dalam nama dan penjelasan, kalau tak ada bukannya tidak punya, tetapi belum.
Kesulitan yang seringkali dialami oleh setiap manusia yang hidup ini sebenarnya adalah meny
usun kata-kata secara terstruktur baik lisan maupun tulisan. Dan itu hanyalah soal latihan, latihan yang biasanya berkaitan dengan kebiasaan mengungkapkan atau mengekspresikan diri (keinginan, eksisitensi dan afirmasi diri, obsesi, kekecewaan, kekesalan, dll). Pada kenyataannya, yang terbiasa ekspresif adalah orang yang kebutuhan-kebutuhan dan keinginannya tak tertekan karena mampu memenuhi kebutuhan (yang diinginkan). Dan mereka adalah kalangan yang berpunya (the have).

Kaum Miskin Menulis dan Melawan
Sementara itu kaum miskin yang terbiasa menekan kebutuhannya karena (sejak kecil) jarang terpenuhi harus lahir sebagai makhluk yang tidak ekspresif akan kesulitan dalam menyampaikan gagasan secara terstruktur. Meminjam teori Sigmund Freud yang menggambarkan kejiwaan terdiri dari kejadian psikologis yang diwakili oleh prinsip kesenangan dan prinsip realitas, maka kita akan tahu bahwa betapa beratnya menyampaikan gagasan bagi kalangan yang terbiasa memfrustasikan keinginannya: orang miskin terbiasa minder ketika menghadapi suatu hal yang baru. Ketika mereka dipaksa mengatakan apa keinginannya, mereka tak tahu.

Mereka menanggung beban untuk mendefinisikan keberadaannya dan mengkomunikasikan dirinya dengan realitas—realitas yang menyangkal eksistensinya sebagai manusia sejak ia lahir. Sejak kecil anak-anak orang miskin pasti banyak dilarang oleh orangtuanya ketika menginginkan segala sesuatu yang tak bisa dipenuhi. ”Lebih baik tidak mengungkapkan keinginan daripada keinginan kita ditolak” merupakan prinsip umum yang banyak dijalankan oleh kebanyakan orang.

Dari situ dapat dipahami kenapa para penulis dan pengarang kebanyakan lahir dari kalangan menengah ke atas—meskipun tetap saja ada perkecualian dari tesis ini.
Intinya, menulis juga merupakan tindakan dan aktivitas yang berkaitan dengan adanya kesempatan. Menulis membutuhkan waktu luang dan waktu luang banyak dimiliki oleh orang yang tak menghabiskan banyak waktunya untuk kerja mencari uang, terutama kerja fisik (yang banyak dilakukan para buruh-tani) yang imbalannya juga tak mampu memenuhi kebutuhan akan penciptaan waktu luang dan kebutuhan hidup lainnya.

Tak mengherankan kalau menulis dianggap sebagai kegiatan orang pemalas dan tak suka bekerja fisik. Meskipun demikian, profesi penulis banyak dipuja-puja oleh media karena masyarakat kita masih belum menghormati kerja-kerja fisik. Terutama di Indonesia, kerja fisik masih dihargai begitu rendahnya dibanding dengan kerja intelektual seperti menulis dan meneliti, tidak seperti di negara-negara Barat.
Ketika buku ”Ayat-Ayat Cinta” sebagai karya tulis menghasilkan ratusan juta, kerja sebagai tukang kebun atau buruh pabrik tetap tak mampu membuat mereka menyekolahkan anak atau membiayai saat mereka sakit.

Begitu jahatnya kehidupan, hanya dengan bermain kata-kata orang dapat menciptakan kekayaan, sementara dengan kerja keras mempertaruhkan keringat, darah, dan air mata banyak orang yang tak dapat berbuat apa-apa bahkan merasa tertindas dan terlunta-lunta hidup anak dan cucunya.
Apalagi kata-kata itu tak pernah mewakili rintihan orang-orang miskin, menyuarakan tuntutan dan keperihan luka-lukanya dalam sejarah penindasan kelas. Kata-kata yang dikemas dalam buku-buku itu hanya mewakili ungkapan orang-orang kaya, dan menyuarakan sudut pandang dan ide(ologi) orang-orang kaya. Artinya, para penulis kebanyakan itu telah menyabotase kata-kata yang mewakili suara-suara orang miskin. Kalau masih banyak orang miskin, kenapa yang tertangkap oleh otak penulis adalah kata-kata yang merangkai kisah dan keinginan orang-orang kaya?

Seharusnya kalau mau adil, penulis harus mewakili realitas sejati atau kalau tidak tulisannya adalah keindahan palsu tentang realitas alias menyembunyikan realitas sejati. Dalam hal ini, penulis mengkorupsi kebenaran. Ia menulis untuk kepentingan pribadinya dan tak mau menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi.

Kita ingat novel Ayu Utami, ”Saman” dan ”Larung”, yang benar-benar mewakili kisah perempuan kelas menengah ke atas dengan kegemarannya berpetualang mengagumi dan mengejar cinta (seksualis) dengan para aktifis atau kalangan lainnya... Novel itu, saya akui, cukup sentimental dan estetik dalam mengangkat kisah-kisah yang ada, terutama saat mengestetisasi seks bebas dengan detail narasi indah akan alat-alat kelamin dan kata-kata romantis persetubuhan.
Tapi karya itu tetap tak mampu menguak akar kontradiksi nyata yang mendasari kehidupan yang dikisahkannya, tiada di sana kondisi rakyat miskin dan kaum papa yang menjalankan ”seks tidak bebas”. ”Seks tidak bebas” yang saya maksud adalah seks yang tertekan atau terpasung karena kondisi ekonomi yang tak memungkinkan.

Dalam ”Saman” dan ”Larung” kita bisa membaca kisah-kisah perempuan mapan yang terbang dari satu negara ke negara lain untuk menjumpai laki-lakinya dan mereka menemukan kebebasan seks (tanpa menikah). Tetapi tak pernah diangkat kisah jutaan kaum perempuan Indonesia yang berhubungan seks secara terpaksa karena kemiskinan, menikah tanpa rasa cinta, dan terpaksa mau karena miskin dan butuh laki-laki yang akan menafkahinya.
Kata-kata dalam buku Ayu Utami tersebut berbeda dengan Novel ”Ibunda” Maxim Gorky yang benar-benar menempatkan kaum miskin (Pavel dan ”Ibunda”—serta kaum buruh di Rusia) yang berbicara. Kata-kata yang digoreskan Gorky hampir semuanya mewakili cara pandang buruh (kelas pekerja) dalam menghadapi realitas. Atau baca karya Pramoedya Ananta Toer, yang menggambarkan sejarah kehidupan penindasan—dan pertentangan kelas—dan mengajak kita mengerti bagaimana ”bumi manusia” dengan ”berbagai macam persoalannya” muncul.

Pram menangkap kata-kata yang kemudian ditulisnya untuk menggambarkan masyarakat yang sedang dijajah dan transformasi psikologis bagi manusia-manusia yang hidup di dalamnya: digambarkannya tentang perlawanan orang-orang miskin, perubahan-perubahan cara berfikir feodal menjadi rasional dan dialektis; Minke yang melakukan ’bunuh diri kelas’, dari anak bangsawan menjadi aktifis gerakan yang memiliki kemampuan menulis dan kemampuannya digunakan untuk membela orang-orang tertindas, melawan penindasan/penjajahan Belanda.
Saya kira, supaya adil dan realitas asli dapat terwakili (tidak tersabotase), kita harus melahirkan para penulis seperti Minke sebagaimana dikisahkan Pram dalam tetralogi ”Bumi Manusia” itu. Penulis dari kalangan miskin seperti Widji Thukul memang sedikit alias jarang. Mengharapkan penulis borjuis mengangkat kisah dan cara pandang dan kehidupan rakyat miskin juga sulit karena—sebagaimana ditegaskan oleh Marx—semuanya akan terbatasi oleh cara pandang kelas.

Artinya kita harus bekerja keras untuk mendorong penulis mengangkat kisah rakyat miskin yang sedang berharap akan perubahan. Kita memiliki penulis (sastrawan), penyair besar yang beberapa waktu lalu mendapatkan gelar Doktor, WS Rendra yang berasal dari kalangan bangsawan. Dalam puisinya ia banyak mengangkat kisah-kisah rakyat miskin, dan ia juga selalu tampil untuk menggugat ketamakan kekuasaan. Ini artinya, kesempatan untuk mendorong penulis (dari kelas manapun) peka terhadap kontradiksi sejarah masih terbuka lebar. Kita tunggu, penulis yang tak sekedar mencuri dan membajak, tapi yang memberi dan menolong!***



Sabtu, 01 Maret 2008

Buku Nurani Soyomukti Diresensi di www.hidupdarihidupku.blogspot.com:

Risalah Mahasiswa Melawan Neo-Liberalisme

Oleh: Deny Ardiansyah, penyair asal Lampung, aktif di KAOS Sastra Jember, Mahasiswa Semester Akhir Sosiologi Unej.
Mahasiswa merupakan status sekaligus peran dalam masyarakat. Dalam belitan biaya pendidikan yang masih mahal di negara kita, jelaslah bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang mengisi kelas menengah. Layaklah jika mahasiswa menjadi salah satu ‘agen perubahan’ yang selalu meraung dari ruang tempatnya mendekam.

Peran yang seharusnya diambil oleh mahasiswa dalam masyarakat serupa dua sisi uang koin. Di satu sisi sering berbuah realita dalam pelbagai bentuknya. Namun, peran mahasiswa dalam masyarakat kerap pula dianggap mitos belaka. Nurani Soyomukti berusaha menelisik realita dan mitos Gerakan Mahasiswa (GM) melalui pengalaman sejarah dan pengamatan gaya hidup kontemporer dalam buku setebal 184 halaman ini.

Sebagai penghuni masyarakat yang mendekam di kelas menengah, mahasiswa memiliki potensi untuk memperoleh beragam akses ketimbang kelas bawah (masyarakat miskin). Hatta, tak aneh jika mahasiswa mudah disusupi pelbagai pengetahuan—yang kerap menjadi ideologi.

Mahasiswa yang diindoktrinasi oleh teori-teori ‘kepatuhan’ berbaju ilmu pengetahuan akademis hanya akan menjadi mahasiswa yang aktif di bangku kelas saja. Sementara mahasiswa yang dirasuki pengetahuan berbasis ‘kesenangan’ bisa dengan mudah menjelma makhluk hedonis yang individualistik. Kedua tipikal mahasiswa tersebut memiliki kesamaan ciri, yaitu mengurung diri dalam ruang yang mereka bangun sendiri tanpa pernah mau melongok bagian masyarakat yang lain.

Mahasiswa yang dipengaruhi oleh ajaran kritis dan filsafat yang mencerahkan hingga kerap melakukan proses reflektif adalah ciri mahasiswa ‘yang lain’. Tipikal mahasiswa seperti ini seolah tak kunjung lelah mencari makna hidup melalui buku-buku, aktif di organisasi dan berdekatan dengan persoalan masyarakat umum. Mereka tak hanya hidup dalam dunia yang digeluti sehari-hari.

Kelompok mahasiswa macam inilah yang kemudian menjadi motor penggerak dalam pelbagai GM. Merekalah yang bersedia membaktikan diri untuk membuktikan bahwa GM bukanlah mitos belaka. Hal tersebut, diurai dengan jelas melalui pendekatan sejarah (hal: 26-33) yang teliti oleh penulis buku ini.

Paska runtuhnya rezim orde baru, GM bagai memasuki masa surut. Padahal, ruang-ruang kebebasan berekspresi mulai terbuka luas. Demonstrasi tak lagi milik mahasiswa semata. Jika banyak buku yang membahas GM hanya memusatkan perhatian pada struktur interaksi-politis antar elemen demokratik di kalangan mahasiswa, maka buku ini melangkah ke jalan yang berbeda.

***
Tumpulnya mahasiswa sebagai kelompok pembaharu dalam masyarakat justru terjadi karena aktifitas mereka yang lebih disibukkan oleh memilah-pilih derajat ‘penting’ atau ‘tidak penting’ dari suatu tindakan. Jika kita melihat tindakan dengan perspektif Talcott Parsons maka analisa Nurani dalam buku ini menemukan ketepatannya. Menurut Parsons (dalam Poloma; 1984:172), tindakan individu dalam sistem sosial akan sesuai dengan norma atau aturan-aturan yang dibuat oleh sistem.
Dalam pandangan Nurani, ternyata sistem makro yang mengatur dunia mahasiswa tetaplah kapitalisme. Walau kampus dan dunia mahasiswa itu sendiri memiliki norma ideal, kapitalisme telah menundukkan dan mengatur semua itu. Jelmaan kapitalisme yang paling mutakhir adalah neo-liberalisme.

Secara tersirat, Nurani ingin mengemukakan bahwa segala kemajuan yang berlangsung di dunia pendidikan tinggi sebenarnya merupakan bentuk langsung dari kepatuhan pada neo-liberalisme (hal:80-82). Sistem belajar di pendidikan tinggi dirancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mampu kritis. Kampus tidak lagi dijadikan sebagai basis menemukan esensi hidup yang hakiki. Ruang kuliah hanyalah medium untuk mengadu nasib bagi para mahasiswa dalam menaikkan taraf hidup.

Sementara itu, diluar kampus, mahasiswa menemukan kehidupan serba berbalut kemewahan yang mewujud dalam mall, glamouritas selebritas dan segala bentuk ‘kesenangan’ lainnya. Mahasiswa dibentuk agar menganggap kampus sebagai ruang tersendiri yang tidak berdialektika dengan kehidupan diluarnya. Kalau saja Nurani memasukkan peristiwa tahun 2007, saat tiga orang mahasiswa ITS mendapat skorsing dari birokrat kampus karena ‘bersuara beda’ untuk menyikapi kasus lumpur Lapindo, tentulah analisa tentang ketertundukan kampus kepada neo-liberalisme dalam buku ini akan kian membumi-bukti.

***
Neo-liberalisme telah memalun mahasiswa dengan erat dan kuat. Inilah dampak nyata kreasi-konstruksi media massa tentang identitas mahasiswa. Dunia mahasiswa, sebagaimana dimunculkan oleh sinetron televisi misalnya, seolah sempit saja. Hanya seputar hubungan antar persona yang disebut pacaran, pertarungan gengsi antar kelompok dan bentuk ‘kehidupan gaul’ lainnya.
Neo-liberalisme yang bergerak lindap di tubuh mahasiswa saat ini seolah mendaraskan satu pesan singkat. Yaitu, mahasiswa hari ini haruslah mementingkan gaya hidup konsumtif ketimbang mencari hakikat paling dasar dari kehidupan sehari-hari melalui kerja produktif dan reflektif.

Bab III dalam buku ini mengupas dengan luas dan bernas tentang gaya hidup mahasiswa kini melalui psikoanalisis Freudian dan ‘kritik cinta’ Erich Fromm. Melalui penghayatan yang tinggi akan karya Khalil Gibran, Nurani turut pula menyerukan bahwa cinta yang etik, esetetik dan laik untuk dipertahankan adalah cinta tanpa kepura-puraan dan bersifat universal. Cinta bukanlah alat untuk memasung kreatifitas dan menggenjot konsumsi seperti galibnya kita temukan pada gaya pacaran mahasiswa masa kini. Cinta pada taraf yang sakral dan melampaui tubuh justru menjadikan manusia kian inovatif dalam melakukan perubahan dan berproduksi untuk kesejahteraan seisi alam.

Satu hal yang saya suka dari buku ini adalah optimisme yang diusung oleh penulisnya. Melalui optimisme ini, Nurani seolah belum percaya bahwa neo-liberalisme benar-benar menang dalam peradaban manusia kini. Neo-liberalisme, selain menciptakan individu yang patuh dan konsumtif, juga telah melahirkan sosok individu (atau kelompok) yang terus berteriak melawannya. Mereka adalah kaum yang dianggap ‘tidak penting’ oleh peradaban neo-liberal masa kini. Akhirnya, bagi siapa saja yang masih menginginkan kebudayaan berbasis nilai kemanusiaan, pendidikan yang membebaskan dan demokrasi yang menuju kesejahteraan, maka buku karya Nurani Soyomukti ini adalah risalah nan penting untuk dihayati.(*)