Kamis, 27 Maret 2008

Budaya:

Ayat-Ayat Cinta Biasa (AACB)!

Oleh: Nurani Soyomukti*)

Hmmm…, akhirnya saya (terpaksa) harus terlibat untuk mengapresiasi film “Ayat-Ayat Cinta” (AAC) yang baru saya tonton setelah seorang kawan saya men-download-nya dari internet. Sebenarnya awalnya saya sudah merasa malas untuk menonton film ini sejak awal, bahkan ketika seorang kawan di Surabaya mengajak saya menontonnya di sebuah bioskop, waktu itu saya menolak dengan alasan bahwa saya sibuk—dan memang saya benar-benar sibuk pada waktu itu (sebenarnya hingga saat ini).


Tapi ketika saya terpaksa meminta bantuan Dedi—seorang kawan mahasiswa sosiologi Universitas Jember (angkatan 2004)—untuk menghilangkan berlaksa virus yang menjangkiti notebook saya: saya harus menunggunya dengan menonton AAC di PC-nya pada saat Dedi asyik mengotak-atik note book saya itu. Maka, sebagaimana kawan-kawan saya (sebenarnya tidak semua) yang sudah menonton film itu, akhirnya saya merasa punya kapasitas untuk memberikan catatan sesuai pandangan yang selama ini saya pegang.

Banyak komentar yang begitu membesar-besarkan keindahan dan kebagusan AAC. Bahkan waktu kawan saya me
ngajak nonton film tersebut, dia mengatakan bahwa AAC adalah film yang sangat bagus—tentu saja dia memberi penilaian seperti itu karena dikasihtahu temannya yang sudah nonton, atau besar kemungkinan karena ‘iklan’ yang (kelewat) besar-besaran.

AAC memang telah menjadi ikon maha dahsyat, bahkan seorang penulis muda produktif, kawan saya Deny Ardiansyah, menggunakan judul esai dalam tulisannya ‘Ayat-Ayat Parpol’—artinya judul film tersebut benar-benar masuk dalam wilayah bawah sadar khalayak di Indonesia. Ketenaran film ini bahkan membuat perubahan budaya, dari budaya non-literer menjadi budaya literer (sic!): karena beberapa kawan perempuan yang saya jumpai, yang awalnya sama sekali tidak menyukai (membaca) buku akhirnya berbondong-bondong mencari buku AAC dan sebagian besar dari mereka membeli buku itu—pada hal biasanya mereka lebih suka mengeluarkan uangnya untuk membeli lipstick bermerk oriflamme daripada membeli aksesoris untuk mendandani bagian dari tubuhnya yang sebenarnya dapat menjadi organ tubuh paling seksi, yaitu OTAK!

Memecahkan Rekor
Menurut saya, fenomena film “Ayat-Ayat Cinta” (AAC) memang benar-benar membuka kebuntuan budaya Indonesia yang selama ini hanya didominasi oleh kisah percintaan hedonis. Keheningan hedonisme pun pecah, nilai-nilai budaya baru dalam produk kebudayaan berupa filmpun digulirkan oleh para sineas muda. Film AAC pun mengalahkan kelarisan novelnya yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Apabila buku novelnya terjual 400 ribu eksemplar maka ketika difilmkan mampu memecahkan rekor penonton dengan menembus angka 3 juta. Berarti AAC menjadi film terlaris dalam sejarah perfilman kita. Sebelumnya ada film Eiffel I'm in Love yang ditonton oleh 2,9 juta orang dan Ada Apa dengan Cinta (AADC) dengan jumlah penonton mencapai 2,7 juta orang. Hingga sekarang film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu masih dipadati pengunjung.

Animo masyarakat yang membesar dengan ditunjukkan dengan membludaknya jumlah penonton film ini memang tak sulit dilacak sebab-sebabnya. Kesuksesan film bukanlah misteri, tetapi sebab-sebabnya dapat diukur. Orang seringkali mengaitkan kesuksesan suatu produk estetik dengan beberapa hal seperti kualitas estetika, idealisme, dan kepekaan terhadap (tuntutan) pasar.

Kualitas estetika film AAC tak diragukan lagi karena dengan biaya yang besar film ini mendapatkan penggarapan yang serius dengan teknologi yang tidak karbitan. Kapitalis industri perfilman, Ram Punjabi pun ada di belakang pendanaan film ini. Dari sudut ini, upaya mencari keuntungan dalam industri film tentu saja juga berkaitan dengan salah satu kemampuan yang paling dibutuhkan dalam ‘penjualan’ film sebagai sebuah produk komersial, yaitu kemampuan membaca tuntutan pasar.

Karya sekaligus produk komersial sinematografis baik berupa film layar lebar maupun elektronik (film TV, sinetron, telenovela, dll) yang mengangkat tema-tema relijius dan mistik sudah dapat dibaca sesuai dengan kebutuhan psikologis bagi masyarakat Indonesia yang pola pikir ilmiahnya semakin kering. Mistik dan reliji menjadi semacam hiburan atau ekstase pada saat berbagai gejolak dan krisis sosial di ranah ekonomi budaya kian menyeruak.

Sebelumnya tayangan-tayangan dan film-film gaib, mistik, dan reliji yang ditayangkan, baik di layar lebar maupun TV, mendapatkan sambutan yang meriah di kalangan masyarakat. Film-film religius picisan tersebut dipertontonkan sebagai sarana pengusir hantu, jin, setan, dan sebagainya. Bahkan, tak jarang disuguhkan pencitraan Tuhan yang kejam dan tanpa rasa welas-asih terhadap pendosa. Pencitraan tersebut berdampak buruk pada persemaian konsep teologis anak-anak, generasi muda, dan mereka yang awam terhadap agama Islam.

Selain itu juga belajar dari fakta bahwa kisah cinta adalah kisah yang tak dapat ditinggalkan dalam dunia film dan sinetron. Memang sejarah fiksi baik karya sastra maupun sinematografi hingga saat ini tak dapat melepaskan diri dari kisah cinta, pada hal hidup di dunia tak hanya urusan cinta. Cinta hanya menjadi bagian kecil saja. Masih ada kisah riil yang terdiri dari hubungan-hubungan sosial yang berlandaskan pada upaya manusia dalam menjalankan kehidupannya, kisah gagalnya pemenuhan kebutuhan hidup sebagian rakyat yang disebabkan oleh kondisi penataan hubungan material-ekonomis yang timpang dan tak harmonis. Ada kesedihan, kegagalan, kenekatan dan amoralitas yang tidak semata-mata disebabkan oleh hilangnya cinta atau rasa, tetapi oleh hilangnya akal dan pengetahuan. Solusi cinta reliji dan cinta eksklusif romantis akan kontradiksi kapitalisme terbukti hanya menjadi ilusi dalam kehidupan sehari-hari rakyat jelata yang butuh tindakan konkrit dan berani untuk mentransformasikan ekonomi agar hidup mereka sejahtera.

Dan masih cinta eksklusiflah yang hingga saat ini mendominasi kisah sinetron dan film-film yang ada. Berseberangan dengan kisah vulgar film relijius, ada kisah cinta hedonis, yaitu kisah cinta yang melulu berkaitan dengan hawa nafsu dan pengumbaran aurat serta propaganda gaya hidup glamour-kapitalistik.

Polesan Cinta dengan Ayat-Ayat
Nuansa cinta yang hendak diangkat dalam AAC seakan ingin mengompromikan vulgarisme kisah relijius dengan hedonisme cinta sebagaimana selama ini terkisahkan dalam produksi film-film dan sinetron yang telah ada. Hasilnya adalah kisah film yang sangat romantis tetapi tidak menghilangkan pakem relijius yang ada.

Di sinilah kekuatan cinta dari film AAC yang menarik perhatian dan menyedot khalayak untuk menonton film yang d
apat dikatakan menandai sejarah film Indonesia ini, baik dari rekor penjualan tiket maupun genre baru dalam film Indonesia—terutama keberhasilan fiksi Islami ala Forum Lingkar Pena (FLP) dan gerakan Islam modernis yang mengajukan solusi hukum Islam di Indonesia untuk menggulirkan ideologinya melalui film.

Sepintas, film AAC sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film remaja dan kalangan dewasa pada umumnya. Tema-tema kemanusiaan, pluralisme, kesederhanaan, kesetiakawanan, serta romantisme percintaan disuguhkan dengan mendayu-dayu. Tujuan ideologisnya tercapai karena film AAC mampu menampilkan romantisme percintaan yang dipoles dengan nilai-nilai agama (Islam).

“Dalam agama saya tidak ada pacaran, yang ada adalah ta’aruf dan setelah itu menikah”, begitu penjelasan Fahri pada seorang perempuan muda yang berperan sebagai peneliti dari Amerika Serikat. Artinya, film ini hendak menegaskan bahwa cinta hanya dapat dilakukan dengan pernikahan dan harus dikaitkan dengan ajaran Islam. Dan banyak argumen teologis lainnya yang keluar dari dialog dalam film ini.

Solusi hati atau “manajemen kalbu” dari masalah kehidupan manusia disuguhkan, bersamaan dengan cinta yang mirip mu’jizat illahi dari mereka yang menyerahkan dirinya untuk berbuat baik, pasrah, berdo’a dan kesederhanaan serta kebaikhatian yang (seakan) konsisten ala Fahri akan menarik hati banyak manusia. Kebaikhatian (kedermawanan), kesederhanaan, dan relijiusitas Fahri membuat banyak perempuan jatuh-cinta. (Meskipun karena cinta inilah seorang perempuan begitu tega menjalankan fitnah, artinya perasaan yang dibangun oleh hati sekalipun tak terdiri dari satu sebagaimana kehidupan punya banyak dimensi).

Tetapi, secara ideologis film ini masih gagal—terutama jika kita menginginkan bahwa film adalah media pendidikan yang dimaksudkan untuk ikut membangun humanitas, spiritualitas, dan harmoni sejati dari kehidupan. Sebagaimana film-film romantis-eksklusif, film ini gagal menggambarkan konteks sejarah di mana kisah tokoh-tokoh di dalamnya berada dan bagaimanakan sejarah tersebut dibentuk dan membentuk umat manusia. Kesedihan dan kebahagiaan di dalamnya, sebagaimana kita jumpai di banyak sinetron, adalah milik segelintir kelompok elit. Kisahnya elitis dan eksklusif karena film ini adalah kisah kaum kelas menengah ke atas, kaum miskin dan tertindas tak diangkat.

Menurut saya, film “Mendadak Dangdut” dan “Mengejar Mas Mas” besutan Rudi Sujarwo lebih realis dan adil karena—meskipun mengangkat tokohnya yang berasal dari kalangan menengah ke atas—disajikan kesadaran bagi para tokohnya yang akhirnya melek pada kehidupan yang sebenarnya, yaitu realitas kemiskinan dan suara-suara kesedihan (tangisan dan rintihan) orang-orang miskin: bagaimana TKW yang dianiaya majikan, bagaimana dekadennya pikiran dan tindakan kalangan miskin, bagaimana menderitanya kalangan yang terpinggirkan seperti perempuan pelacur.

Dalam AAC, kisah cinta yang eksklusif di dalamnya juga berakibat pada konflik yang ada, yaitu hanya konflik seputar rebutan cinta dan antar-pasangan yang saling ingin “memiliki”. Tokoh-tokohnya pantas dicontoh
hanya karena kesederhanaannya, tetapi yang harus diingat adalah bahwa mereka adalah para pejuang cinta eksklusif yang sedang kuliah atau meniti karier pribadi dan kebetulan dituntut untuk menikah (memiliki pasangan dengan formalitas-legalitas agama).

Maka kita akan tiba pada kisah tentang legitimasi poligami dalam film ini, kata kunci dari film ini yang tujuan ideologisnya adalah menyangkal gerakan anti poligami yang masih kuat di kalangan gerakan demokrasi. Film ini ingin menampilkan bahwa poligami itu romantis dan lahir dari kesederhanaan, kebaikan, dan keelokan laki-laki—Fahri sebagai laki-laki yang diperebutkan. (Pada hal dalam kenyataannya poligami lahir dari laki-laki yang menginginkan perempuan lainnya lagi karena sudah bosan dengan perempuan pertama).

AAC telah mendapatkan sambutan yang meluas, bahkan para petinggi Negara juga banyak yang menontonnya. Kita harus menyambutnya sebagai sebuah film yang merupakan hasil dari proses kreatifitas para sineas muda, yang tentu saja masih mencari-cari keindahan estetis sebuah karya seni-budaya, serta mencari-cari dan meraba-raba muara ideologis dari pertarungan sejati kemanusiaan yang diangkat dalam sebuah film. Manusia-manusia dengan kisah cinta relijius itu disuguhkan dihadapan kita, kita harus menerimanya tetapi tetap melontarkan catatan-catatan kritis—bukan hanya tentang filmnya tetapi tentang efek sampingnya bagi perkembangan kebudayaan dan kemanusiaan. Wallahu’alam!

Rabu, 26 Maret 2008

Undangan Bedah Buku(ku) PENDIDIKAN BERPERSPEKTIF GLOBALISASI


























Undangan Terbuka:

Mohon Kehadiran Kawan-kawan dalam “Bedah Buku” Saya “PENDIDIKAN BERPERSPEKTIF GLOBALISASI”

Hari/Tanggal: Kamis/27 Maret 2008
Jam: 14.oo
Tempat: Gedung PKM Universitas Jember
Pembicara: Saya, Ahmad Sudiyono (Diknas Jember); Adzkiya (Mahasiswa S2 UGM)

Mohon Kehadirannya untuk memperkaya wacana dan dialektika pemikiran bagi tindakan selanjutnya…
Terimakasih.


Nurani Soyomukti

Minggu, 23 Maret 2008

Puisi Perjalanan:

Desa-desa yang Kulewati

Oleh: Nurani Soyomukti


Desadesa yang kulewati menyimpan lukaluka
Ada lima desa dengan lima luka.

Luka pertama:
Tepat di danaunya ada nanah berlumpur
Dan kumankuman peradaban menikmati malam tanpa bulan
Orang-orang yang dipinggirnya hanya duduk diam
Menahan marah pada kekuasaan.

Luka kedua:
Tepat di kawahnya ada genangan darah
Yang pernah muncrat
Sedikit yang selamat.




Luka ketiga:
Nanah bergetah tepat dilehernya
Pohon-pohon tumbang hilang kepalanya
Seorang laki-laki juga kehilangan kepalanya
Setelah ia lewat di suatu bulak pada suatu malam,
dengan tas berisi uang hasil curian.


Luka keempat:
Tepat di dadanya
Gunung-gunung kehilangan tumbuh-tumbuhan
Kulit-kulitnya sobek, dagingnya rontok menenggelamkan
Rumah-rumah yang di dalamnya penuh jelaga.


Desa kelima:
Desa itu tak kelihatan lukanya
karena air bah
entah kapan mengering.
Musim kemarau belum juga tiba.


*) Pandegiling Surabaya/ Maret 2008

Fiksi Tentang Dunia Masa Depan:

Angkasa Manusia

Oleh:
Nurani Soyomukti*)




DUNIA pernah merengek dalam otaknya.


Semua desa semua kota yang telah dilihatnya termakan usia kabel listrik yang mengikat satu-satunya peradaban yang ditinggalkan, tapi seakan masih berputar-putar di kepalanya. Dia telah meninggalkan satu ruang hampa di angkasa di mana ia telah melihat-lihat secara teliti bumi dan isinya dari kejauhan. Berarti cita-citanya untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang pernah diceritakan kakeknya telah terwujud. Sayapnya menjadi budak keinginnya, beberapa kepakan ia telah bisa meluncur melebihi kecepatan cahaya.

Tahun 9008.

Ia kini telah terbang lagi dan ingin mampir di suatu tempat. Dan ia juga pasti akan pergi ke tempat lain dan pindah ke tempat lain lagi sekedar untuk menuruti peran angina pada sayapnya, yang pada saat mendekati planet bumi udara itu hanya rebut di ketiak pelacur malam yang keringatnya berbau kemenyan.

Ia masih terbang dan bumi telah jauh ditinggalkan. Tapi ingatannya masih lekat pada planet itu karena nenek moyangnya lahir di sana. Di planet itu pula berbagai musim yang mengunyah nama-nama indah yang sekedar mengikuti tuntutan merk-merk celana dalam yang harganya memuncak pada depresi ekonomi manusia bumi pada tahun 3070-an. Kata-kata kakek moyangnya konon tak lagi laku karena manusia penghuni bumi tiba-tiba tak lagi menyukai puisi, setelah sebelumnya banyak telinga yang asyik mendengar jeritan wanita Cina yang diperkosa di Jakarta pada beberapa abad sebelumnya yang gaungnya masih terdengar beberapa abad kemudian.

Ia memang pernah mendekati planet itu pada suatu jarak tertentu. Planet itu memang seperti mati. Tapi ia sadar, barangkali ia tak memperhatikan seluruh permukaannya.
Ia sudah menempuh jarak yang jauh. Kini ia lambatkan kepak sayapnya, suatu anggota badan yang bisa membawanya terbang sesuai kecepatan yang ia inginkan. Anggota badan itu adalah hasil evolusi ribuan tahun, hingga makhluk sejenis ia mampu mewujudkan cita-citanya, menjelajahi jagat yang dulu oleh generasi nenek moyangnya dianggap sebagai utopia.
Pemuda itu jadi teringat cerita kakek buyutnya, bahwa evolusi jagat telah membuat umat manusia tidak hanya tersebar di atas bumi yang pada akhirnya menjadi planet paling membosankan. Bahkan belakangan akhirnya planet itu sepi penghuni. Evolusi itu adalah hasil dari kontradiksi alam, yang pada waktu-waktu panjang setelahnya menghasilkan kualitas baru pada keberadaan materi-materi di jagat ini.

Dan orang-orang sejenis kakek buyutnya harus menghadapi masalah besar. Beberapa ribu tahun setelahnya, orang-orang ditemukan bisa terbang, karena tak mungkin bisa hidup di dalam laut setelah cairan es di kutub utara meleleh akibat pemanasan global. Hanya ada beberapa pulau yang masih bisa ditinggali, tapi orang-orang berebutan untuk menempatinya. Entah masih ada atau tidak pulau itu sekarang.

*
Kini ia telah sampai di angkasa bebas. Planet bumi tak lagi kelihatan. Di sekelilingnya bertebaran batu-batu langit yang indah, dalam berbagai ukuran, beberapa di antaranya mirip dengan wajah manusia, juga ada yang mirip rumah.

“Mungkin para pengembara angkasa telah membentuknya”, gumamnya, “Inikah kemampuan artistic yang bisa dilakukan di mana saja oleh manusia-manusia angkasa. Apakah mereka selalu singgah di batu-batu indah yang mirip rumah untuk menulis puisi, lalu terbang ke lain tempat untuk memberikan puisi itu pada manusia angkasa lainnya?”

“Konon di jaman kakek moyangku puisi-puisi itu bisa dibaca setelah dicetak jadi buku lalu diperjual belikan. Bahkan tak banyak orang yang menulis puisi karena sebagian besar manusia hanya hidup untuk memenuhi perutnya. Hanya manusia-manusia yang tinggal di gedung-gedung mewah dan kalangan tertentu yang sering membuat puisi. Kini manusia-manusia bebas terbang dan bikin keindahan apa saja di mana-mana: mengukir bintang, menulis kata-kata pada kabut angkasa, dan memahat nama kekasihnya di batu-batu yang bertebaran”, gumamnya.

Gumamnya berhenti ketika ia harus memfokuskan pandangannya di sebelah benda berupa bebatuan yang agak jauh di sana. Ada sesuatu yang bergerak ke arahnya. Mendekat, memiliki sayap seperti dirinya. Itu juga pasti manusia, pikirnya. Dan dia juga pasti senang terbang mengembara.

Ia lambaikan sayapnya. Dan makhluk di kejauhan itu mendekat. Seorang gadis cantik berambut pirang, bersayap perak mengkilat, dengan bulu-bulu yang lebih pendek dari miliknya.

“Hai!”, sapanya.
“Hai”, jawab gadis yang bulu-bulunya kelihatan lembut itu.
“Dari mana saja engkau melampiaskan impianmu?”
“Aku sedang mencari sesuatu. Apakah kau memiliki alat pencatat waktu?”
“ Tahun 9008; hari ke 221; pukul 08.45… Oh ya, dari mana saja kau mampir? Dan tempat apa yang membuatmu begitu cantik?”

Gadis itu tersenyum tersipu. Begitu manis. Pemuda itu mendekat, dia menghampirkan hidungnya pada rambut yang terurai itu. Dan gadis itu juga mengenduskan hidunya ke sayap pemuda itu.






“Aku dari suatu bintang yang indah. Aku akan membawamu ke sana kalau kau menginginkannya. Kamu pasti baru mengembara mengitari planet bumi. Lihatlah, nafasmu juga berbau besi”.

“Mari kita bercerita dulu agar segala sesuatu bisa terjadi”.

Keduanya mengepakkan sayap, terbang menuju sebuah pulau batu bercahaya. Namanya adalah Bintang Kejora.

“Tentang pertanyaanmu mengenai bumi… aku tak hinggap di sana. Aku hanya melihat dari suatu jarak. Aku senang, karena dapat membuktikan apa yang sering dikisahkan kakek nenekku dulu. Aku meneliti. Dan hasilnya akan kusebarkan untuk manusia-manusia angkasa seperti kita”, ia memulai ceritanya.

“Kamu belajar sejarah?”

“Ya. Itu pesan kakekku dan aku ingin jadi orang yang pandai bercerita seperti dia. Di angkasa kita jarang berjumpa dengan manusia-manusia yang sama, bukan? Karena kita lebih senang berkeliling dan mengembara merayakan keberadaan galaksi yang begitu luas. Pertemuan yang singkat akan berguna bila menghasilkan banyak cerita, banyak kata-kata tentang riwayat kehidupan.

“Konon dulu bumi begitu penuh sesak. Dan karena itulah ia tak begitu mampu menampung kehidupan, selain karena ada beberapa manusia serakah yang ingin berkuasa sendiri dan mengusir manusia-manusia lain. Ada yang membuat senjata pemusnah massal agar ia berkuasa dengan mesin-mesin mematikan”.
“Oh, apa yang sebenarnya terjadi di bumi?”, Tanya gadis itu penasaran.

Lalu pemuda itu melanjutkan ceritanya:
... Di bumi, berbagai musim itu sebenarnya telah menghafal nama-nama orang besar di sana yang kadang diabadikan di museum, kadang nama-nama nabi dan bahkan para pengacau Negara yang paling terkenal, yang terpahat pada dinding-dindingnya yang pandai memilih ruang. Buyutku sempat mampir ke museum itu beberapa abad yang lalu: Manusia-manusia di sana yang berdesak-desakan tengah asyik melihat tubuh tuhan yang menjadi mumi terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Banyak yang merasa kehilangan atas kematiannya sepuluh abad sebelumnya—sebelum Tuhan sendiri tak sempat melihat wajah-Nya sendiri di layar TV untuk memberi kata sambutan dalam upacara rutin hari-hari manusia yang menerima beribu-ribu peran yang hampir sama tetapi sulit dijelaskan oleh para ilmuwan yang kebanyakan waktu itu hanya bisa menghasilkan obat sakit kepala, sikat gigi, sabun mandi; juga tak mampu dikonseptualisasikan oleh para ideolog-ideolog gila.

Tapi, seperti kakekku, ada sebagian kecil manusia-manusia bumi yang suka mengembara. Ia selalu membawa satu sisa peranan yang dipelajari dari pencarian akan keyakinan hidup saat dunia senantiasa merengek-rengek seperti bayi. Dan buyut perempuanku, bagai seorang ibu yang menciumi bulan kesayangannya pada hari yang telah tiba. Ia yang berparas cantik, mungkin sepertimu, meninggal dunia sebelum kakekku mengenal A-B-C. Ayahnya pergi lebih dahulu lima tahun setelah ibunya melahirkannya, terbunuh dalam perang sengit antara hutan belantara dan gedung bioskop.

Aku, yang baru melihat berjuta-juta perang di atas bumi, merasa bangga memiliki seorang buyut yang menyucikan dirinya dengan cara memasukkan tubuhnya ke layar lebar. Setelah itu, kata kakekku, beliau terbunuh dalam adegan film horor yang pertama pada abad duapuluh—konon sebagian penonton saling memeluk lawan jenisnya, dan mereka tiba-tiba menjadi monyet-monyet yang telah terseleksi sesuai dengan kemampuannya membeli tiket masuk.
Kakekku adalah tipe orang yang menuliskan riwayatnya sendiri, juga tentang dunianya yang dialami. Ia berikan catatan-catatannya pada ayahku, lalu ayahku mewariskannya padaku.
Dalam riwayat itu dikisahkan bahwa kakekku pernah masuk ke gedung bioskop—saat pula yang terlihat di layar lebar hanyalah peran-peran yang pernah ia jalani. Iapun merasa harus segera keluar dan menjalani perannya sendiri. Lalu berjalanlah ia dari waktu ke waktu, menyusuri hutan-hutan, pepohonan, besi dan kawat yang lebat. Setiap kali, yang bernama keinginan dalam aliran darahnya merambat seperti mobil-mobil yang meninggalkan kantor, hotel, dan restoran. Dia belum pernah tersesat dalam aliran darahnya sendiri, kecuali dalam bahasa dan argument-argumen.

“Tunggu dulu”, gadis cantik itu menyela, “Berapa umur kakekmu?”

“Kurang lebih empat ratus tahun”, jawab pemuda itu.

“Oh, ya ampun. Evolusi itu begitu sempurna. Berarti kita akan berumur lebih lama dari itu”.

“Ya, karena kita manusia angkasa. Harapan dan kenyataan kita selalu nyambung. Kita bisa terbang kemana saja, kita tak ada beban-beban psikologis. Zat-zat di angkasa juga membuat tubuh kita awet dan tetap muda”.

“Betapa nelangsanya manusia-manusia bumi”.

“Kakekku setelah masa transisi, awal hilangnya manusia-manusia bumi hingga beranak-pinaknya manusia angkasa seperti kita. Jadi kisahnya agak trajik”.
“Berbahagialah kita manusia angkasa. Tak seperti di sebuah planet yang bernama bumi”, gumam gadis itu. Sayapnya terlipat, dan kepala dengan rambutnya yang terurai disandarkan pada pundak pemuda itu. Lalu dia kembali berucap: “Apalagi yang ditulis oleh kakekmu yang, menurutku, legendaries itu?”

Kakekku bercerita dalam buku riwayat itu, kalau keyakinan yang dipegangnya bisa membimbingnya pada tempat mana saja yang bisa dituju, kebanggaan pada apa yang dijalaninya akan melantunkan lagu-lagu cinta yang mengalir bagai sungai-sungai yang belum tercemar oleh industri kemunafikan.
Ia menuliskan:

… aku menari-nari dan menyanyi saat keluar dari batas kota tempat menjalani ritualitas peran tubuh: melayani listrik, melayani obat sakit ginjal, memberi hormat pada kulkas, memberi makan anjing penjaga pabrik alamat kelamin, menyusuri jalan dalam kabel tilpun, sesekali menyembunyikan diriku yang lelah dalam flasdisk—ataupun menjalani kenyataan bahwa bumi yang merindukan hutan belantara sedang mengandung anak-anak gedung yang terbuat dari kaca.

Diagnosa keyakinanku mengatakan bahwa dugaanku pada masa depan itu telah melampau batas yang ditetapkan oleh malaikat-malaikat dan bidadari-bidadari cantik malam ini. Aku akan terus berjalan sepanjang imajinasiku dapat merealisasikan kebekuan-kebekuan cinta masa lalu. Dan ini adalah kemampuanku bercakap-cakap dengan hawa malam; hanya karena aku telah menyangkal hari-hari yang panjang, keinginan yang menghiburku tentang perjalanan esok hari.

Aku adalah penjual suara-suara melodi Cinta pada alam yang kulewati, musim yang memanggil-manggil sesuatu yang dipuja oleh segala ciptaan Tuhan—manusia yang datang dari lembah-lembah kerisauan.


Pada saat beliau tiba di situ, bukit cinta terletak di sebelah utara desa, tempat kakekku mampir minta belaskasihan pada orang yang menunggu musim hujan. Waktu itu mereka tak me,mberi apa-apa. Mereka sendiri juga kelaparan. Dan kakekku baru tersadar bahwa kemarau panjang telah mengeringkan sungai-sungai kerinduan, membuat kepercayaan pada takdir menjadi dangkal.

Dilanjutkannya perjalanannya melalui berbagai bukit dam lembah yang belum pernah diperkosa besi baja. Diterjangnya kemarau dan hujan. Lalu ia sampai pada sebuah malam. Ia bercakap-cakap dengan udaranya yang dingin—itulah salah satu kemampuannya dengan bagian dari alam.

Kakekku waktu itu bergumam:

Malam apa ini, Tuhanku? Lembah yang luas memiliki malam yang penuh kunang-kunang, meskipun bulan menyembunyikan wajahnya di punggung gunung yang terbaring, seperti menggeliat, bagai tubuh yang terangsang bara kasih cinta alam Tuhan, dan yang berkata: ‘Kemarilah kau bulan!’

Malam yang aneh, Tuhan. Mengapa malaikat yang cantik itu tak mau datang untuk menari-nari bersama melodi cintaku. Kenapa mereka sepertinya meninggalkan tempat ini, bahkan sebelum membuat batas-batas untuk mengukur berapa luas hutan ini? Siapakah yang menjamah hutan ini sebelum diriku datang kemari? Bukankah tiada seorangpun yang berani memasuki hutan kebesaran-Mu tengah malam begini selain aku? Kenapa tak ada yang menyambutku sebelum aku melanjutkan perjalanan, sebelum matahari beringsut membuka wajah paginya?


“Tahukah kau, itulah awal berbagai kejadian aneh di atas bumi sebelum kejadian yang dahsyat itu datang meluluhlantakkan peradaban bumi manusia kala itu!!??”, ungkap pemuda itu pada gadis manis berambut indah bersayap perak yang dari tadi terus menikmati kata-kata yang keluar dari mulut pemuda itu.

“Lalu, evolusi itu terjadi begitu panjang hingga manusia angkasa menjadi spesies yang bertahan hidup, dengan cara membuat sayap, dan dipenuhi dengan impian lebih tinggi… Tapi sayap ini seperti tumbuh begitu saja, seakan sudah ditakdirkan Tuhan”, kata gadis itu.
“Mungkin nenek moyangmu pernah bercinta dengan burung dan turunlah gennnya. Sebab dikau cantik seperti burung merpati”.

“Ah, engkau bisa saja. Kau juga mirip elang”.

“Yang jelas apa yang terjadi di dunia ini adalah sebuah kejadian yang luput di dalam hati. Kukira itulah yang menyebabkan segala sesuatu seakan telah ada tanpa sebabnya”, tukas pemuda itu. Ia diam sebentar, kemudian memandangi gadis itu dan berkata:
“Oya, di manakah tempat indah yang kau maksud tadi? Apakah kau masih punya ayah-ibu dan saudara yang tinggal di sana?”
“Tidak. Aku sendiri. Aku temukan tempat itu, dan aku menghiasnya. Aku namai sendiri bintang itu”.
“Kau hebat..”
“Dan aku ingin seorang menulis kisahnya”.
“Aku mau menulisnya, untukmu!”
“Kita akan kesana sekarang?”
“Kita juga akan bercinta, kan?”
“Membuat anak?”
…

Dua manusia muda-mudi itu terbang meninggalkan bintang itu. Mereka beriring-iringan. Kini bintang itu sepi. Tapi tidak mencekam seperti bumi.

***

Retype in Jember, 19 Maret 2008

Jumat, 21 Maret 2008

Resensi Bukuku di PenulisLepas.com:

Penantang Baru AS Pasca Castro

Judul : Hugo Chavez Vs Amerika Serikat

Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Garasi - Yogyakarta
Cetakan I : Februari - 2008
Tebal : 132 halaman

Oleh: Ahmad Makki Hasan, Mahasiswa PPs. UIN Malang & Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang.

“Jika imperialisme AS berhasil mengonsolidaikan dominasinya,maka umat manusia tidak mempunyai masa depan.Oleh karenya, kita harus menyelamatkan umat manusiadan mengakhiri imperialisme AS” (Hugo Chavez)


Pemimpin Venezuela itu kini gencar-gencarnya membangun kekuatan baru. Setelah Kim II-Sung, Deng Xiaoping, Peron, Nikita Khrushchev dan Broz Tito meninggal serta baru-baru ini pemimpin “diktator” Kuba, Fidel Castro, meletakkan jabatannya, kini dialah yang menjadi satu-satunya yang tengah eksis dan menjadi penentang kekuasaan hegemonik dalam konstelasi perpolitikan dunia. Seakan-akan pemimpin revolusioner itu merupakan penjelmaan Napoleon, Hitler dan Stalin pada abad ini.

Sentimen Hugo Chavez dan barisan pemimpin Amerika Latin lain saat ini tengah dipersatukan oleh mengguritanya tekanan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Dengan menganggap liberalisasi perdagangan dan sistem ekonomi kapitalistik bukannya menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan sebagaimana yang didalihkan AS selama ini. Namun, justru malah memperburuk dan memperparah kehidupan sosial-ekonomi.

Konsekuensi logis dari aksi-aksi hegemonik AS terhadap negara lain itu memantik terbitnya kebencian bersama yang mendalam. Simpati yang kemudian bergeser menjadi antipati. Itulah simpul yang menyatukan presiden Venezuela, Hugo Chavez, berserta sejumlah pemimpin Amerika Latin lainnya. Bahkan presiden Iran, Ahmadinejad, sekarang juga getol menentang keras terhadap segala dominasi negeri Paman Sam di dunia. Lebih-lebih isu nuklir di dalam negerinya dan Timur-Tengah seputar Palestina dan Israel.

Dalam beberapa dekade, hegemoni AS merupakan sekelindan ambisi untuk menjadi penentu politik dunia, polisi dunia dan sekaligus penguasa ekonomi, industri dan perdangan dunia. Hal ini diperkuat dengan rezim-rezim “populis” internasional yang dibentuknya. Sebut saja “rezim” moneter IMF, Bank Dunia, WTO dan lain sebagainya. Keberadannya memperburuk dan memperparah tatanan kehidupan sosial-ekonomi serta gagal menanggulangi disparitas antara si kaya dengan si miskin.

Untuk melawan imperialisme AS dan Barat, Pemimpin progresif itu memiliki beribu cara bahkan cukup unik dan berani. Setelah melakukan nasionalisme perusahaan asing, kini, Caracas membatasi penggunaan bahasa Inggris. ’’Berbahasa Spanyollah dan katakan dengan bangga’’, slogan ini menjadi senjata Presiden Chavez untuk melawan imperialisme AS yang telah merusak kehidupan sosialis, termasuk dalam hal bahasa yang disampaikan secara terbuka baru-baru ini.

Selain masalah bahasa, Chavez, juga memberikan solusi dalam mengatasi dampak buruk imperialisme. Dia berjanji akan membiayai produksi film yang ada di Venezuela untuk menghambat invasi dari film-film Hollywood. Dia juga memaksa stasiun radio untuk lebih banyak memutar lagulagu Venezuela. Presiden berhaluan “kiri” ini sangat membenci AS.
Di mata Chavez, AS merupakan kekuatan yang serakah dan ingin menguasai seluruh dunia secara absolut. Sebagai pemimpin yang setia terhadap sistem sosialis, Chavez merasa berkewajiban untuk melawan hegemoni Negeri Paman Sam. Bahkan, Chavez pernah menyebut Presiden AS George W Bush sebagai setan jahat saat berpidato di markas besar Persatuan Bangsa-Bangsa pada beberapa waktu yang lalu.

Buku yang berjudul “Hugo Chavez Vs Amerika Serikat” ini, memberikan informasi dan aksi yang teramat detail seputar Venezuela dan Amerika Latin. Sebuah semangat yang tidak kenal lelah mempertahankan “nurani bangsa”. Membawa negaranya terbebas dari setiap penindasan dan hegemoni negara asing. Selalu mencoba untuk keluar dari setiap cengkeraman imperalisme dan hegenomi AS berserta sekutunya dalam hal ekonomi, sosial dan politik.

Semangat Revolusi Bolivarian di Venezuela, mengantarkan Chavez untuk memperkenalkan demokrasi partisipatoris dan sosialisme abad 21. Meluncurkan serangkai program ekonomi dan sosial bagi rakyatnya. Mulai dari Mission Robinson (program untuk melakukan kampanye memberikan pelajaran aritmetika, membaca dan menulis kepada para remaja), Mission Guaicaipuro (program untuk memberikan perlindungan kehidupan, agama, tanah, budaya dan hak-hak orang pribumi) hingga Mission Sucre (program bebas pendidikan bagi remaja yang tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasar).

Nurani Soyomukti sebagai penulis buku ini, setidaknya telah memberikan khazanah dalam mengisi wawasan baru bagi kita tentang arti perjuangan melawan penindasan dan tirani hegemonik asing. Memberikan inspirasi bagi kita untuk melakukan perubahan. Terlebih di negara Indonesia yang kian terpuruk. Belajar bagaimana seharusnya kita berpegang dan menemukan teladan agar diri, citra dan bangsa ini tidak selalu dijajah bangsa lain. Baik itu secara ekonomis, ideologis bahkan dari segi humanitas kita sendiri. Semoga!***

Buku Ibu Menkes:


Buku Ibu Menkes Menggugat Neoliberalisme
di Bidang Kesehatan

Oleh:
Nurani Soyomukti,
perawat Komunitas Teman Katakata (KOTEKA) Jawa Timur


Judul Buku: Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung
Penulis: DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)
Penerbit: PT. Sulaksana Watinsa Indonesia Jakarta
Cetakan: I, 2008
Tebal: xii + 206 halaman

Beruntung dan berbahagia sekali mendapatkan buku ini setelah Ibu Menteri mengirim langsung melalui pos. Kebahagiaan saya muncul karena, pertama, buku ini kontroversial dan jarang diperoleh—bahkan ada isu buku ini ditarik dari pasaran karena ada isu Menteri Pertahanan Amerika Seerikat (AS) memaksa presiden Yudoyono untuk menarik peredaran buku ini. Tapi Pak Burhan, adhik Ibu Menteri yang sekaligus staf ahlinya beberapa waktu lalu kirim massage pada saya: “Menhankam AS membantah bahwa dirinya meminta buku Ibu ditarik dari peredaran”. Konon sulit mencari buku ini, meskipun sempat dibedah di beberapa empat—setahu saya yang terakhir di kampus ITB. Dan, yang jelas buku ini terlanjur beredar, bahkan dalam versi bahasa Inggrisnya juga beredar ke luar negeri.

Kedua, buku ini adalah buku berkualitas dengan kisah berani dari seorang Menteri, perempuan lagi! Isinya adalah pemikiran dan kisah tindakan berani yang seakan ikut mengeraskan gema anti-imperialisme yang saat ini tengah dibangun lagi di kawasan Amerika Latin oleh tokoh-tokoh seperti Hugo Chavez, Evo Morales, dll. Dalam konteks Indonesia, buku ini juga menggemakan kembali pemikiran Bung Karno yang anti-neokolim (neo-kolonialisme, anti-penjajahan dalam bentuk baru).

Dan saya harus mengapresiasinya. Saya harus mengabarkannya karena ini adalah peristiwa yang langka. Pejabat atau tokoh menulis (buku) bukan barang langka. Tetapi kalau yang ditulis adalah suatu kisah progresif dan berani, dan bernada perjuangan untuk membela universalisme kamanusiaan... kita harus membantu mengabarkannya, karena ini bukan hanya berita, tetapi soal masa depan!

Meskipun buku ini ingin menggambarkan bahwa berkah selalu muncul akibat bencana (flu burung), tapi membaca buku ini akan kita temukan bukan hanya kata-kata yang mensyukuri musibah flu burung (avian influenza) karena menyingkap adanya musibah yang diakibatkan oleh ketidakadilan dalam mengatur dan membuat prosedur dalam penanganan virus. Lebih jauh, tulisan dalam buku ini mencerminkan pemikiran yang berani (radikal) seorang pejabat negara Indonesia, negeri yang terkenal hanya tunduk patuh pada penindasan global dan selalu menengadahkan tangan untuk menerima bantuan dan meminta bantuan.
Ibu menteri bahkan menggagas kembali semangat anti-imperialisme pada saat, hingga saat ini, masih terjadi eksploitasi antara manusia satu dengan lainnya (exploitation de l’home par l’home). Bacalah pemikirannya berikut ini:

“Betapa tidak bergunanya saya di sini bila saya biarkan ketidakadilan ini mengoyak hak manusia untuk hidup bersama di dunia. Inilah yang isebut Bung Karno sebagai neo-kolonialisme atau exploitation d’l home par l’home. Ataukah neo-kapitalisme? Ataukah imperialisme? Apakah saya harus diamkan saja hal ini berlalu begitu saja? Ataukah saya harus berbuat sesuatu untuk melawannya?... Kita merdeka tapi tidak berdaulat, kita berdaulat tapi belum merdeka” (hlm. 12).

Bermula dari mewabahnya virus flu burung di Indonesia sejak 3 tahun lalu. Sebagai penyakit menular yang baru, virus yang dikenal sebagai H5N1 yang mematikan ini bukan hanya mengancam keselamatan rakyat Indonesia, tetapi juga seluruh umat manusia di dunia. Dalam perkembangannya ternyata virus tersebut juga bukan semata-mata berkaitan dengan masalah kesehatan, tetapi juga masuk dalam wilayah hubungan kepemilikan kapitalistik di mana vaksin virus dimonopoli oleh segelintir orang yang ingin mengomersialisasikannya—pada hal bahan dari vaksin itu seniri berasal dari virus yang berasal dari negara-negara miskin (dalam kasus H5N1 berasal dari Vietnam dan belakangan Indonesia dengan tingkat yang lebih ganas).

Faktanya, 90% perdagangan vaksin di dunia dikuasai oleh 10% penduduk yang tersebar di negara-negara kaya. Komersialisasi demi mengejar laba berkaitan dengan mekanisme yang tidak demokratis di WHO karena para kapitalis vaksin telah mencuri dan mengadakan penelitian yang lalu dijual dengan harga yang mahal pada negara-negara miskin. Negara Vietnam yang mengirim virus H5N1 ke WHO tidak pernah mengerti ke mana virus yang pernah dikirim itu sekarang dan diapakan virus itu kemudian. Tahu-tahu sudah beredar di dunia sebagai vaksin yang diperjualbelikan dengan harga yang tak terjangkau oleh negara-negara yang sedang berkembang. Sementara rakyat Vietnam meninggal akibat Flu Burung, di depan mata para kapitalis Barat itu menawarkan vaksin dengan Vietnam strain. “Alangkah idak adilnya dunia ini!”, kata Ibu Menteri Kesehatan, “bahkan bila rakyat Vietnam membutuhkan vaksin tersebut harus membelinya dengan harga mahal. Ironisnya lagi, kalau tidak mampu mmbeli ya hanya bisa menerima nasib saja” (hlm. 11).

Sebagai kisah tentang catatan perjuangan, baik melalui forum-forum dan sidang diplomasi, penelitian dan upaya kampanye melalui media massa, perjuangan keras seorang perempuan yang menjabat sebagai menteri ditunjukkan dalam buku ini. Ibu Menteri menuding pihak kapitalis AS sebagai biang dari semuanya. Ditemukan bahwa ternyata tidak semuanya dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan di WHO Collaborating Center (WHO CC). Data yang disimpan di WHO CC, entah bagaimana hal itu dilakukan, ternyata malah disimpan di Los Alamos atau Los Alamos National Laboratory di New Mexico Amerika Serikat (AS), dan hanya sedikit ilmuwan yang dapat mengakses ke sana (sekitar 15 grup peneliti di mana 4 dari jumlah ini mewakili WHO dan sisanya tidak jelas dari mana asalnya—keungkinan orang-orang korporasi bisnis). Laboratoratorium Los Alamos tentu saja berada di bawah Kementerian Luar Negeri AS. Di laboratorium inilah dulu dirancang Bom Atom untuk mengebom Hiroshima di tahun 1945, tentunya juga senjata biologis yang pernah digunakan AS dalam Perang Vietnam. Ibu menteri menyebutnya sebagai skandal (hlm. 17-19).

Secara kronologis, buku ini memang merupakan refleksi atau catatan perjalanan. Di hadapan sidang internasional World Health Prganization (WHO) dan WHA (World Health Assembly) tahun 2007, Indonesia di bawah pimpinan Ibu Menteri Kesehatan telah melakukan terobosan dan berhasil mengungkap kejahatan kapitalisme virus. Berlanjut pada pidato beliau di Genewa Swis dalam Inter-Govermental Meeting for Pandemic Influenza Preparedness, 20 November 2007 dan New Delhi International Ministerial Conference on Avian Pandemic Influenze 1-4 Desember 2007 lalu, terobosan pemikiran dan tindakan Ibu Siti Fadilah Supari telah membuka mata dan kesadaran negara-negara miskin dan berkembang lainnya untuk ikut menuntut perombakan sistem kesehatan dunia di bawah WHO agar menjadi adil, transparan dan setara. Bersama India, Kuba, Venezuela, Iran dan beberapa negara lainnya bahkan sempat muncul gagasan membentuk Poros Selatan-Selatan untuk perjuangan di bidang kesehatan ini.

Buku ini merupakan karya yang bersejarah karena menandai adanya keberanian untuk melaan ketidakadilan global. Selama ini jarang pejabat, apalagi seorang menteri, yang memiliki sentimentalitas dan idealisme untuk menyuarakan secara keras pembelaannya pada universalisme kemanusiaan. Buku ini, sekaligus penulisnya (Ibu Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari) adalah aset bangsa, aset masa depan!***


Resensi Bukuku di Koran Pak Oles, 16 Maret-31 Maret 2008:

Pudarnya Pamor Agen Perubahan

Oleh:
Edy Firmansyah, sastrawan dan pengelola Sanggar Bermain Kata Madura



Kaum muda (b
aca: mahasiswa) selalu diperhitungkan keberadaannya dalam lintas sejarah. Sebab mahasiswa merupakan variabel penting yang berperan dalam segala proses perubahan. Dalam babakan sejarah, gerakan kaum muda telah memainkan peranan penting menjadi barisan terdepan yang selalu meneriakkan tuntutan atas berbagai perubahan dan keadilan sosial.
Di Inonesia, hal ini bisa dilihat mulai dari berdirinya Boedi Oetomo, ikrar Sumpah Pemuda 1928, hingga yang masih mengemuka saat ini adalah gerakan mahasiswa menumbangkan rezim Orde Baru pada tahun 1998. Status mahasiswa menjadi kebanggaan tersendiri.


Namun yang terjadi saat ini justru kebalikannya. Mahasiswa Indonesia kini tak lagi bercitra sebagai kaum intelekual, pembela rakyat atau aktivis perubahan (agent of change). Yang ada justru mahasiswa yang berpikiran pragmatis-oportunistik. Dalam benak mereka menjadi mahasiswa berarti sebuah jalan lempang mendapatkan pekerjaan. Titik. Sehingga ketika ditanya tentang bagaimana nasib masyarakat yang diterus didera penderitaan, mulai dari melambungnya harga kebutuhan pokok, pendidikan mahal, kesehatan mahal, hingga fenomena gizi buruk, pengangguran hingga kemiskinan yang meluas? Jawabannya sungguh menyakitkan: “Persetan dengan mereka semua!”

Parahnya lagi, maraknya berita mengenai keterlibatan mahasiswa dengan narkoba, tawuran antar mahasiswa, hingga perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa menambah daftar panjang keburukan mahasiswa di negeri ini.

Adalah kekuatan kapitalis yang membuat mahasiswa kehilangan pamornya sebagai agen perubahan. Lewat kisah sinetron, opera sabun dan juga acara reality show, mahasiswa digambarkan tak lebih sebagai kaum muda yang hanya sibuk mengejar uruan cinta dan pergaulan saling berburu pasangan dengan dramaturgi yang berlebihan. Dalam kisah sinetron, misalnya, kampus hanya menjadi aktivitas kisah ‘cinta sempit’ yang bernama ‘pacaran’ dengan gaya hidup yang menonjolkan syahwat.

Dengan kata lain, tugas dan peran berat mahasiswa dalam pusaran sejarah sebuah bangsa mulai dikaburkan dan kemudian digantikan dengan citra sebagai segelintir kaum muda yang eksklusif dengan hidup yang penuh suka ria. Sedangkan kampus tak lebih sebagai menara gading kekuasaan pasar (modal) di mana aktivitas mahasiswa hanya berkutat pada kuliah, makan, belanja, kencan, dan seks.

Kondisi inilah yang menjadi bahasan utama buku karya Nurani Soyomukti ini. Sarjana sospol Universitas Jember ini menilai apa yang menerpa mahasiswa ini sebenarnya mengingkari sejara. Pasalnya sejarah gerakan mahasiswa adalah sejarah pembebasan rakyat, sejarah perubahan bagi terciptanya keadilan sosial (hlm. 24).

Dengan menggunakan analisa Marxian, Nurani mengurai mata rantai kapitalisme yang membuat mahasiswa kehilangan elan vital dan jati dirinya. Siapapun akan menjadi rombongan makhluk ideot. Nah jika hal ini dibiarkan, tentu akan menjadi preseden buruk bagi bangsa ini. Pasalnya mahasiswa masih menjadi ujung tombak bagi masa depan karena di tangan merekalah tongkat estafet bangsa ini disemaikan. [*]