Minggu, 03 Mei 2009

Setelah Putus Cinta: Mulailah Berproduksi dan Berkreasi

oleh Nurani Soyomukti*)

Seharusnya putus cinta menjadikan kamu tambah punya waktu untuk merenungkan kehidupanmu, terutama masa depan kamu. Lagian kamu punya waktu untuk berproduksi dan berkreasi. Bayangkan, jika kamu menghabiskan waktu untuk berduaan, lupa segalanya. Semua kegiatan yang seharusnya kamu lakukan untuk memperkaya pengetahuan dan berperan untuk membangun jati diri berkurang. Apalagi kalau pacar kamu ngekang, membatasi gerak dan ruang kamu, dan membawa kamu pada dunia semu dimana kamu lupa segalanya, maka kamu baik sadar atau tidak akan kehilangan banyak kesendirian dan ruang kebebasan.

Karenanya, tanpa pacar justru dapat membuat ruangmu diwarnai otonomi diri dan dengannya kamu dapat mengekspresikan bakat kamu, berkarya dan mencipta atau bekerja.
Fakta bahwa putus cinta menambah produktifitas, dialami oleh banyak orang, terutama orang-orang terkenal. Misalnya, yang baru-baru saja, adalah artis Taylor Swift yang justru kian produktif dalam berkarya setelah putus cinta. Pelantun lagu ‘Fifteen’ ini masih jomblo setelah putus asmara dengan Joe Jonas, personel Jonas Brothers. Meski jomblo, dia tidak pernah merasa kesepian. Bahkan, putus asmara justru melahirkan sebuah lagu, ‘Forever and Always’. Adakah patah hati membuatnya takut pacaran lagi? Kepada majalah Seventeen, perempuan kelahiran Reading, Pennsylvania, 13 Desember 1989, ini bercerita, jomblo dan kesepian itu adalah dua hal yang berbeda.


Inilah komentarnya: ”Kalau bertemu seseorang yang menarik, saya pasti berkencan lagi. Tetapi, saya bukan tipe perempuan yang tergantung pada pacar. Enggak punya pacar, kan, bukan berarti kesepian. Saya justru memanfaatkan kesendirian untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan hati”.
[1]

Swift juga merasa lebih produktif dalam mencipta lagu setelah putus cinta. Dia juga jadi punya waktu untuk melakukan hal-hal kecil yang disukainya, seperti menikmati nyala lilin beraroma dan membaca buku. ”Kalau pengin ngobrol ada para sahabat,” ucapnya sambil menyebut beberapa sahabatnya seperti Selena Gomez, Demi Lovato, Miley Cyrus, dan Emma Stone. Ia merasa tak perlu terburu-buru mencari pengganti Joe Jonas. ”Cinta itu tetaplah misteri, kita tak bisa memperkirakan kapan bakal jatuh cinta,” kata Swift enteng.

Hal yang sama juga dialami oleh artis Indonesia yang menjadi DPR, Angelina Sondakh. Setelah hubungan cinta anggotanya dengan Adjie Massaid (39) benar-benar kandas, ia tak merasakan kekecewaan yang mendalam karena ia punya banyak kegiatan untuk melakukan hal-hal positif. Angie sibuk mengerjakan banyak hal. Salah satunya mengikuti workshop pembuatan patung. Pada workshop pembuatan patung tanah liat di Museum Nasional dalam rangka Pameran Tunggal V perupa Iriantine Karnaya, misalnya, Angie terlihat menikmati kegiatannya. Ini memang terjadi dua tahun lalu, tepatnya pada Juni 2007.

Tapi kita dapat memetik hikmah dari apa yang dialami oleh artis dan politisi ini. Angie mengaku kegiatan membuat patung tak asing lagi baginya. Ketika bersekolah di Presbyterian Ladies College, Sydney, Australia tahun 1992-1994, ia pernah mendapatkan pelajaran ekstrakurikuler seni keramik pembuatan pot. Itu tak jauh berbeda dengan seni patung yang kini sedang digelutinya sekarang. “Hanya saja untuk pembuatan patung kita harus lebih teliti lagi agar patung yang kita buat punya nilai artistik,” kata gadis berkulit kuning langsat ini.

Kegiatan tersebut membawa banyak manfaat. Sebagai anggota DPR, ia dapat menyerap aspirasi langsung dari para seniman dalam berkarya sekaligus sebagai ajang relaksasi setelah satu minggu bekerja sebagai wakil rakyat. “Tapi ternyata membuat patung itu lebih mudah ketimbang membuat undang-undang ya," ucapnya sambil tersenyum. Kala itu, Angie sedang membuat patung tanah liat berbentuk aneka jamur. Ternyata patung-patung yang dibuat oleh Puteri Indonesia 2001 ini mempunyai filosofi tersendiri. Untuk patung berbentuk jamur berarti kita sebagai manusia harus menjamur atau membaur dengan sesama. Jamur banyak mempunyai manfaat, di antaranya untuk mengobati kanker," ujarnya.
[2]

Berbeda dengan peserta lainnya, Angelina secara khusus membuat pula satu patung berbentuk hati. Dia kembali menerangkan filosofi di balik patung hati itu. "Kalau bercinta manusia jangan hanya dengan satu hati, tapi harus hati-hati. Dengan begitu kita tidak menyesal di belakang hari, yang hanya menimbulkan perasaan kecewa dan membuat hidup tidak bahagia," ungkapnya.

Workshop setiap Sabtu ini bermanfaat dengan bidang yang dipegangnya di DPR, yakni mengurus bidang budaya dan pariwisata. “Ketimbang tiap Sabtu pergi ke salon, lebih baik saya pergi ke tempat seperti ini, sehingga saya bisa mengekpresikan diri. Bahkan nanti saya akan ikut kursus merangkai bunga," katanya. Angie juga pernah membatik secara tradisional dengan menggunakan canting.

Iriantine Karnaya yang menjadi instruktur mengatakan bahwa Angelina Sondakh memiliki rasa seni yang luar biasa. Hanya saja Angie masih kaku, karena kurang banyak praktik. “Ternyata hari ini apa yang ada di dalam benakku keluar semua dan menjadi patung-patung yang kubuat ini, ha...ha...ha...," ujar Angie menjawab omongan Iriantine.

Kamu jangan ‘kayak’ artis-artis yang cengeng yang seakan begitu menderita akibat putus cinta. Seperti yang dialami oleh artis Lindsay Lohan di mana putus cinta dari Samantha Ronson membuatnya ‘KO”. Bahkan artris cantik ini butuh bantuan psikiater untuk memulihkan kondisi kejiwaannya. Menurut sumber, kehilangan Samantha yang akrab disapa Sam, membuat kehidupan Lindsay berubah 180 derajat. Dia tak cuma menderita karena patah hati, tapi juga kehilangan kontrol atas hidupnya sendiri.

"Lindsay sekarang sedang sepi job. Hidupnya jadi semakin kosong. Dia benar-benar butuh bantuan psikiater. Teman-temannya ikut berduka karena sekarang Lindsay sendirian," tutur sumber yang dilansir Hollyscoop.
[3] Seakan Lindsay tidak benar-benar memiliki seorang teman sejati. Lindsay lebih suka menghabiskan waktu bersama ibunya, Dina, dan adiknya, Ali. Tak ingin melihat anaknya sendiri tanpa teman, Dina mencoba menghubungi beberapa orang yang pernah menjadi teman Lindsay.

Produktifitas, itulah kuncinya. Suatu penyembuh yang terbaik karena tanpa produktifitas, keterasingan berkembangbiak. Produktifitas dengan kegiatan yang positif dan menghasilkan, serta memperbanyak pengetahuan yang memperkaya cara pandang, adalah obat mujarab bagi kita semua.

Kamu masih punya dunia. Duniamu bukanlah dunia hubungan bersama cowok yang menjengkelkan, tidak perhatian, egois, atau bahkan suka selingkuh dan hanya menginginkan tubuh kamu. Kamu menolak diajak “ML” (‘making love’), dan dia memutus kamu. Kamu hanya dijadikan perempuan penghias hidupnya daripada dia tak punya pacar, tapi begitu dia mendapatkan cewek yang lebih baik dari kamu, diapun memutusmu atau mengkhianati kamu.

Yakinlah bahwa dunia sangatlah luas, tidak seluas daun kelor. Waktu juga akan berjalan. Kamu tidak hanya berpijak di satu petak tanah. Kamu tak harus patah hati karena masih ada ruang bagi kamu untuk bergerak dan ada kemungkinan akan ada teman, kawan, atau kekasih lain yang setia, baik hati, jujur, dan bahkan dapat membimbing kamu agar kamu bersama dia menemukan peran yang tepat bagi kehidupan di masa muda. Syukur-syukur kalau dia akan menjadi suami kamu kelak, atau menjadi bapak dari anak-anakmu yang imut di masa kecil dan akan besar menjadi orang yang berguna.

Ingat, kamu akan menjadi orang bodoh jika berpasangan dengan orang yang bodoh. Kamu akan rusak jika kamu menjalin hubungan dekat dengan orang yang rusak. Kamu akan suka berkhianat kalau kamu sering dikhianati atau kamu hanya menjalani cinta palsu yang penuh kepura-puraan dan kebohongan. Sekali kamu mendapatkan situasi untuk menjadi pembohong, maka kamu akan tumbuh jadi manusia palsu. Carilah kebenaran, raihlah cinta palsu—kamu harus percaya pada Cinta sejati! Tanpa ini, dunia akan tetap tercerai-berai dalam kebencian dan kemunafikan. Dua orang yang sama-sama bodoh dan berkualitas rendah menjalin cinta, menikah, dan membesarkan anak: maka ia akan mewariskan kebodohan pada anak cucunya, pada kehidupan yang terus berjalan.

Jadi, prinsipnya adalah bahwa cinta itu tidak buta. Putus bukanlah akhir dari segalanya. Kamu pasti akan menemukan dunia baru. Dan ciptakanlah dan carilah dunia yang kondusif bagi kemanusiaan dan cintamu. Tinggalkan laki-laki yang suka berkhianat, yang mengekang, dan yang dalam hubungan bahkan tak mendidik kemajuan otak dan mental kamu. Dunia ini tak terdiri dari satu, carilah ruang untuk menjalin cinta. Untuk apa menjalin hubungan jika kualitasnya buruk. Demikian juga, untuk apa menyesali putus cinta jika kamu masih dapat menemukan cinta yang lain?

Renungkanlah! Banyak waktu yang dapat kamu miliki karena tak terampas oleh kegiatan-kegiatan yang tujuannya hanya agar dapat pacaran saja, tetapi juga untuk merebut waktu luang untuk berpikir, meneliti, belajar, menulis puisi, melakukan eksperimen dan tindakan-tindakan yang memungkinkan kamu bebas berproduksi dan berkreasi… Indah bukan? Cinta dan hubungan memang terasa begitu indah jika tak mengasingkan atau sesuai dengan pilihan dan kemampuan kita sendiri untuk mencintai.

Jika kamu tidak punya cita-cita untuk melahirkan kenyataan baru, kebiasaan kamu tetap meniru dan hasil dari reproduksi masyarakat penindasan, maka semangat mencintai kamu tumpul. Pencarian pada dunia baru, setelah kamu putus cinta, sebagai bentuk ungkapan cinta universal didasari oleh semangat untuk merubah, menciptakan kenyataan baru. Sebagaimana diharapkan Minke dalam novel karya Pramoedya Ananta Toer, ‘Rumah Kaca”:
[4]

"Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia”.
==================
[1] “Putus Cinta, Taylor Swift Malah Makin Produktif “, Kompas, Sabtu 4 April 2009
[2] “Angelina Sondakh: Putus Cinta, Bikin Patung”, dalam http://64.203.71.11/ver1/Hiburan/0706/24/063137.htm
[3] “Putus Cinta, Lindsay Lohan Butuh Psikiater”, Okezone, Senin, 13 April 2009 - 10:30 wib atau http://celebrity.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/04/13/33/209978/putus-cinta-lindsay-lohan-butuh-psikiater

[4] Pramoedya Ananta Toer. Rumah Kaca. Jakarta: Lentera Dipantara, 2006, hal. 436

Sabtu, 11 April 2009

Selasa, 24 Februari 2009

Dimuat di Koran PO, 16 Februari 2009:

Di Balik Peningkatan Standar Unas

Oleh: Nurani Soyomukti*

Permendiknas No 78/2008 menetapkan standar kelulusan dalam ujian nasional (unas) 5,50 dengan nilai minimal 4,0 paling banyak di dua mapel dan 4,25 di mapel lain. Angka ini naik 0,25 dibanding tahun lalu. Tampaknya tidak muncul reaksi yang cukup kuat mengenai kebijakan ini sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Pro-kontra tentang standardisasi angka kelulusan Unas kali ini tampaknya hampir tidak terjadi.

Ujian nasional adalah sarana untuk menentukan lulus atau tidaknya anak didik yang telah menempuh pendidikan tingkat tertentu. Proses pembelajaran harus dilihat dari berbagai aspek. Dan saya berani bertaruh bahwa aspek yang paling penting adalah kualitas-kualitas yang dapat diukur. Jadi, ketika masih banyak orang memperdebatkan UN tanpa melihat masalah yang paling penting dalam proses pembelajaran kita, saya melihat bahwa perdebatan tersebut tidaklah berkualitas—mungkin hanya perdebatan politis.

Standardisasi yang sekarang ramai diperdebatkan adalah standardisasi menurut logika kapitalisme karena ukuran kualitas pendidikan Indonesia dibuat berdasarkan para pengambil kebijakan kapitalistik. Pemerintah selalu berargumen bahwa standar UN dengan nilai yang ditetapkan untuk mengeksekusi anak didik lulus atau tidak, didasarkan pada perbandingan kualitas pendidikan Indonesia dengan negara-negara lain. Ditingkatkannya nilai standard kelulusan disesuaikan dengan kepentingan kapitalisme global. Jadi, masalahnya bukanlah dipatoknya standard—bagaimanapun patokan untuk mengevaluasi segala sesuatu sangat penting. Yang masalah adalah dalam kepentingan apa standard itu dibuat dan bagaimana standard itu dibuat dengan dimulai dengan persiapan yang matang, demokratis, dan serius dalam proses pembelajaran.

Jadi ada semacam kelucuan kalau kita menelisik debat kusir standardisasi ujian nasional itu! Di satu sisi pemerintah, melalui Departemen Pendidikan, harus membuat patokan agar di mata kapitalis asing dan negara-negara Barat Indonesia terkesan serius dalam membuat patokan arah pendidikannya—setidaknya dari caranya menaikkan standard kelulusan. Standard itulah yang ingin ditunjukkan oleh pemerintah: “Ini lho, negaraku punya standard lulusan pendidikan sebegini bagus, pasti layak bersaing dalam kapitalisme global!”

Sayangnya, dengan jelas diketahui bahwa peran pemerintah selalu memakai double standard: ketika berbicara mengenai standard kelulusan dan aturan pendidikan mereka bersuara lantang, tapi ketika berbicara alokasi anggaran pendidikan mereka diam seribu bahasa. Alokasi anggaran yang sudah terealisasikan hanya sekitar 8,5% dari anggaran yang seharusnya 20% dari APBN. Alokasi anggaran yang ada diturunkan menjadi BOS (Bantuan Operasional Sekolah), dana ini lebih menitik beratkan pada proiritas perbaikan gedung dan penambahan alat praktek belajar-mengajar. Anggaran untuk memperbaiki kualitas guru dan kurikulum ternyata tidak disentuh.

Kepentingan
Para guru dan beberapa pekerja sekolah yang menyetujui kebijakan pemerintah, selain punya tujuan politis, memang telah memiliki sekolah yang maju—tentu saja sekolah favorit yang fasilitasnya bagus, yang dimasuki anak-anak yang lulus dari sekolah tingkat sebelumnya yang bernilai bagus—tentu saja sekolah ini sangat mahal. Mereka adalah sekolah yang memang terbukti selalu meluluskan siswa-siswanya meskipun standard UN yang titetapkan tinggi.

Sedangkan para guru yang menolak standard kelulusan punya kepentingan untuk melihat anak-anak didiknya lulus semua. Sayangnya, tujuannya adalah agar sekolahnya laku dan tidak punya citra buruk. Karena sekali ketahuan kalau banyak yang tidak lulus dari sekolah tersebut, citra sekolahnya akan buruk. Orangtua yang mengirimkan anaknya ke sekolah itu akan marah-marah dan kadang bernada provokasi agar para orangtua lain jangan menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut. Di tengah berjalannya era perdagangan sekolah, tentu pihak sekolah tidak ingin kalau sekolahnya “tidak laku”.

Itulah yang menyebabkan para guru di sekolah tersebut memanipulasi dengan berbagai cara agar murid-muridnya lulus. Tak heran, jika kecurangan UN adalah gejala yang semarak. Mulai dari guru yang membocorkan jawaban pada siswa-siswanya. Bocornya soal yang masih menjadi rahasia negara sebelum siswa mengerjakannya pada saat hari H ujian. Hingga berbagai macam kecurangan yang selalu menjadi bahan berita media.

Ketidaklulusan pun semakin besar. Berbagai mediapun memberitakan—kadang agak didramatisir—berbagai akibat dari UN, seperti adanya anak yang bunuh diri karena tidak lulus; anak yang rela dicabuli dukun yang dimintai tolong agar lulus mengerjakan soal UN; aksi demonstrasi menolak UN dan gugatan hukum (class action) terhadap pemerintah yang sebagai pengambil kebijakan UN yang dianggap salah; dan berbagai macam “gonjang-ganjing” Ujian Nasional. Kritik terhadap kebijakan ini juga dimanfaatkan oleh faksi-faksi politik yang ingin mendeligitimasi pemerintah untuk tujuan politik tertentu.

Jadi dari kasus semacam itu, yang ingin saya tegaskan adalah bahwa “gonjang-ganjing” UN itu tidak mencerminkan tuntutan masyarakat akan sebuah model pendidikan baru yang mampu menjawab bukan hanya masalah pendidikan Indonesia itu sendiri, tetapi juga proses mencetak manusia-manusia Indonesia ke depan—lebih tegas lagi pendidikan yang mampu membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan yang membuatnya tak menjadi manusia yang sebenarnya (bodoh, tertindas, putus-asa, pasif, tanpa peran sejarah).

_____________
*)Voluntary Educator (Pengajar Sukarelawan) dan Penulis Buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi” (Januari 2008) dan “Metode Pendidikan Marxis-Sosialis: Antara Teori dan Praktek” (Desember 2008).

Rabu, 18 Februari 2009

Ponari, Kembalilah Ke Sekolah!

PONARI, KEMBALILAH KE SEKOLAH!

Oleh Nurani, Ketua Yayasan TABUR (Taman Belajar untuk Rakyat) Jawa Timur; Voluntary Educator (Pengajar Sukarelawan) dan Penulis Buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi” (Januari 2008) dan “Metode Pendidikan Marxis-Sosialis: Antara Teori dan Praktek” (Desember 2008)


Ponari, kembalilah ke sekolah!

Sudah hampir satu bulan engkau tidak masuk sekolah. Bangku di sekolahmu kosong. Teman-temanmu mencarimu, mereka menunggumu, hingga mereka menempelkan nama “Ponari, Kelas III SD” di kursimu.

Ponari, aku tahu engkau adalah anak yang dipilih oleh alam dengan kekuatan rahasianya. Kekuatan yang tak dapat kau jelaskan, bahkan kekuatan alam yang juga tak mampu dijelaskan oleh orang-orang tua dan bahkan para pendidik di negeri ini. Mereka hanya tahu bahwa kamu beri kekuatan untuk menyembuhkan.

Mereka yang berdatangan padamu untuk minta penyembuhan melalui ‘batu petir’-mu dengan berdesak-desakan itu... mungkin hanya memandang kamu sebagai dewa penolong. Mereka tidak perlu penyelidikan ilmiah tentang kemampuanmu. Mereka butuh obat mendesak untuk menyembuhkan sakitnya, juga sakit parah yang diderita saudara-saudaranya!

Dan memang bukan salah mereka kalau mereka datang dari berbagai daerah.. untuk menemuimu, yang membuatmu harus menemui dan mengharuskanmu mencelupkan batu ajaib itu ke dalam air yang akan diminumkan pada si sakit, selain juga dioleskan pada bagian tubuh yang sakit dengan harapan bahwa air dewa petir yang menurut Mama Laurent mengandung kekuatan elektrik itu menyembuhkannya.

Tapi aku lihat, meskipun dari layar kaca (TV), kelihatan bahwa tubuh dan wajahmu kelihatan capek memberikan pelayanan itu. Aku tahu, meskipun kamu tersenyum dan tertawa-tawa saat berada dalam gendongan ketika menemui antrean orang itu, sesungguhnya aku tahu bahwa kamu sudah mulai bosan membawakan peranmu.

Serba sulit, Ponari! Aku juga tak tahu, siapakah yang diuntungkan oleh peranmu ini. Menurutku pemerintahlah yang tertawa-tawa karena bebas dari tuntutan rakyat untuk memberikan kesehatan murah bahkan kalau bisa gratis. Akhirnya engkau tahu, Ponari!—Bahwa negerimu yang kaya ini adalah negara di mana orang sakit sangatlah besar jumlahnya. Dari penyakit yang ringan, hingga penyakit yang parah, semuanya membutuhkan pengobatan agar sembuh. Tetapi pelayanan kesehatan di negeri ini juga belum memadahi. Rakyat masih berbenturan dengan mahalnya harga berobat, sedangkan infrastruktur dan tenaga kesehatan juga masih belum memadahi. Bahkan kebijakan pelayanan kesehatan bukan hanya minim, tetapi juga melanggar hak-hak rakyat akan kesehatan. Dalam laporan WHO (2005) untuk setiap penduduk Indonesia, pemerintah hanya mengalokasikan US$ 4 (sekitar Rp 34.000) per tahun untuk sektor kesehatan. Bandingkan hal ini dengan Malaysia yang pemerintahnya mengalokasikan US$ 77 (Rp. 654.000) per tahun per kapita. Hal tersebut bukanlah diakibatkan terlalu banyaknya penduduk Indonesia. Secara umum, walau jumlah penduduknya terbanyak di Asia Tenggara, alokasi anggarannya (dihitung berdasarkan persen PDB dan APBN) masih terhitung paling rendah di wilayah yang sama. Selain itu, pengeluaran rakyat secara swadaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan masih sangat tinggi.

Betapa besar jasamu Ponari! Meskipun di sisi lain aku juga kasihan karena engkau tidak sekolah. Aku tahu, jika pemerinta bisa memberikan kesehatan gratis pada rakyat... tak terlalu banyak orang yang sakit.

Ya, inilah, Ponari! Inilah negara yang menerapkan sistem kapitalisme! Kapitalisme sebagai bentuk ekonomi yang menjajah dan menindas, di mana pemerintahan negara kita menikmatinya karena mendapatkan keuntungan besar di bawah penderitaan rakyat itu. Tahukah kamu, Ponari! Bahwa kapitalisme atau para pebisnis sebagai tuan kapitalis tidak menginginkan rakyat sehat, mereka menginginkan banyak orang menderita sakit. Taukah mengapa, Ponari?

Karena kapitalisme tak akan berjalan, tuan kapitalis tidak akan dapat hidup dan tak dapat mendapatkan keuntungan jika mereka tidak bisnis obat-obatan atau pelayanan kesehatan! Di sinilah jasamu untuk menarik biaya murah sekali dari air ajaibmu, merupakan anugerah bagi rakyat miskin yang berdesak-desakan itu. Sesungguhnya mereka memang selalu berdesak-desakan sepanjang sejarah, Ponari! Sejarah penindasan di mana mereka siap berkumpul dan menunggu dimasukkan dalam lubang pembantaian sejarah. Lalu orang-orang berkuasa dan tuan-tuan kapitalis akan tertawa kegirangan...

Taukah Kau, Ponari? Orang-orang elit juga sering sakit, terutama sakit perut karena terlalu banyak makan keuntungan dari orang lain yang dihisapnya. Dan ketika sakitnya kambuh mereka tak akan mau datang padamu. Mana mungkin mereka mau datang berdesak-desakan di tempat yang kotor dan dekil... Mereka lebih suka berobat ke Singapura.. bukan di tempatmu, apalagi sebuah tempat yang terpencil di sebelah utara Kabupaten Jombang yang berdekatan dengan Mojokerto tempatmu berada.

Tapi aku melihat wajahmu sudah mulai bosan mendatangi kerumunan orang-orang yang berdesakan itu. Jujurlah, Ponari! Engkau ingin bersekolah lagi, engkau ingin bermain lagi, dan engaku ingin mendapatkan ruang yang lapang untuk berekspresi...

Kembalilah ke Sekolah, Ponari! Bukankah engkau ingin jadi tentara? Karenanya engkau harus belajar... Karena negeri kita butuh tentara yang pintar dan cerdas, yang berpengetahuan luas... Bukan tentara yang kerjaannya menembaki mahasiswa dan menculiki pejuang demokrasi....

Ayolah, Ponari! Engkau jangan hanya mau dijadikan mesin pencari uang yang efektif bagi orang-orang sekelilingmu. . Meskipun menarik biaya yang murah, datangnya puluhan ribu orang yang datang jelas mendatangkan uang yang banyak sebagai imbalan dari pemberian air yang telah kau dicelupi ‘batu ajaib’! Bukankah, banyak uang yang terkumpul dan terus mengalir juga menimbulkan masalah tersendiri. Sebagaimana diberitakan berbagai media, Kau telah menjadi rebutan orang-orang dekat dan anggota keluargamu!

Kau bukan mesin pencari uang, Ponari! Kembalilah ke Sekolah!***

Bedah Buku "MEMAHAMI FILSAFAT CINTA" (Aula STKIP PGRI Trenggalek, Minggu 15 Februari 2009):


klik: http://www.radartulungagung.co.id/radartulungagung/features/174-nurani-soyomukti-pemuda-trenggalek-yang-terbitkan-dua-belas-buku.html

Bedah Buku "MEMAHAMI FILSAFAT CINTA" (Aula STKIP PGRI Trenggalek, Minggu 15 Februari 2009):


http://www.radartulungagung.co.id/radartulungagung/features/174-nurani-soyomukti-pemuda-trenggalek-yang-terbitkan-dua-belas-buku.html

Bedah Buku "MEMAHAMI FILSAFAT CINTA":


http://www.radartulungagung.co.id/radartulungagung/features/174-nurani-soyomukti-pemuda-trenggalek-yang-terbitkan-dua-belas-buku.html

Bedah Buku "MEMAHAMI FILSAFAT CINTA"

Minggu, 15 Februari 2009

Resensi Buku "METODE PENDIDIKAN MARXIS-SOSIALIS":

Bedah Buku Kedaulatan Rakyat,
Minggu Wage, 15 Februari 2009 (19 Sapar 1942)

Judul : Metode Pendidikan Marxis Sosialis, Antara Teori dan Praktik
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit: Ar-Ruzz Media, Yogyakarta
Terbit : Desember, 2008
Tebal : 316 halaman

Mesi telah disahkan Desember 2008, UU badan hukum pendidikan (BHP) tetap mengundang protes dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah gerakan mahasiswa. Mereka menyatakan bahwa, UU BHP hanya akan semakin menyuburkan praktik kapitalisme dalam dunia pendidikan. Anak-anak orang miskin akan tersingkirkan dari sistem pendidikan di negeri ini. Hanya anak-anak orang kaya saja yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Otonomi perguruan tinggi yang pada ujungnya “menghalalkan” segala cara guna menutupi kekurangan biaya pendidikan hanya akan semakin mengerdilkan peran pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Otonomi perguruan tinggi yang dilegalkan melalui UU BHP pada dasarnya hanya akan menghasilkan robot-robot intelektual yang siap dipekerjakan di berbagai sektor dunia usaha.

Pendidikan yang bercorak kapitalisme ini selain menggusur kemandirian seseorang (orang miskin), pada dasarnya merupakan cerminan ketidakmampuan pemerintah dalam mewujudkan pendidikan untuk semua (education for everyone)—meminjam istilah John Comenius (1592-1670). Karena pendidikan merupakan hak setiap manusia. Lebih dari itu, mendapat pendidikan yang layak merupakan salah satu hak asasi manusia (HAM), sebagaimana tertuang dalam Declaration of Human Right yang disahkan pada tanggal 10 Desember 1948.

Buku yang ditulis oleh Nurani Soyomukti ini, ingin menggugat pendidikan yang bercorak kapitalis. Menurut aktivis dari Trenggalek, Jawa Timur ini, pendidikan kapitalisme tak ubahnya sebuah lembaga untuk melancarkan hegemoni kelas penguasa terhadap kelas tertindas (hlm. 91). Pendiri komunitas ’Taman Katakata’ (TK) di Jember, melalui buku ini, mengancang sebuah metode pendidikan yang lebih memanusiakan manusia tanpa harus mengebiri hak-hak orang miskin. Penulis mencontohkan praktik pendidikan di Kuba. Dengan falsafah “study, work, rifle” atau “bekerja, berkarya, dan senjata”, dipakai dalam pendidikan untuk mempertahankan revolusi (hlm. 236).

Nurani ingin membuka alam bawah sadar masyarakat Indonesia, bahwa masih ada jalan lain atau sistem pendidikan lain yang dapat dipraktikan di Nusantara. Karena sistem atau metode pendidikan tidaklah tunggal. Oleh karena itu, untuk menciptakan keadilan dalam pendidikan dibutuhkan model pendidikan lain. Buku ini mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia yang masih peduli dengan masa depan pendidikan dan bangsanya untuk merenung, bahwa pendidikan di tanah air telah kehilangan arah atau ruhnya. Pendidikan di Indonesia, sudah saatnya tidak berkiblat ke Amerika Serikat, sebagai mbahnya kapitalis, namun perlu melirik sistem pendidikan yang telah di jalankan di Amerika Latin, sebagai counterpart terhadap kebuntuan sistem pendidikan yang tidak memanusiakan manusia.

*)Benni Setiawan, Penulis Buku Agenda Pendidikan Nasional (2008).

Rabu, 04 Februari 2009

Dari Naskah Bukuku:

Ketika Istri Ingin Cerai
(Belajar dari Sekelumit Kisah Nawal El Sadawi dan Alexandra Kollontai)

Oleh Nurani, pendidik dan penulis buku


Pernah mendengar istri ‘menceraikan’ suami kan? Tentu dari kacamata agama, perempuan tidak bisa menceraikan laki-laki dalam sebuah perkawinan. Maksudnya, ingin cerai tetapi si suami tidak mau atau tak mau menandatangani keputusan cerai, maka dalam kaca mata agama memang tidak bisa cerai.

Hak ‘Cerai’ untuk Perempuan
Tetapi di era modern, perempuan bukanlah pihak yang lemah dan tunduk-patuh dan menuruti apapun yang terjadi dan bagaimanapun pernikahan menyebabkan nasib mereka. Jaman dulu, jika istri tidak suka pada suami, maka ia tak bisa memilih. Bahkan jika suami tak suka pada istri, ia bisa saja mencari istri lain dan si istri tetap jadi istrinya meskipun secara de fakto tak lagi berhubungan sebagaimana layaknya orang yang menginginkan hubungan. Tak heran jika laki-laki yang memiliki kedudukan di masyarakat, seperti raja-raja, bisa memiliki ribuan istri atau selir—seperti raja-raja Cina.


Situasi keterbukaan seperti sekarang ini tentu lebih memberi peluang pada perempuan untuk menyatakan kesukaan atau ketidaksukaan, kecocokan dan ketidakcocokan, pada pasangannya. Istri punya ruang untuk memutuskan atau minimal mengungkapkan jika ia ingin memutuskan hubungannya karena ia merasa tak cocok lagi dengan laki-laki yang dianggap oleh orang lain sebagai suaminya.

Tidak jarang keputusan semacam itu diambil karena si istri merasa memiliki kecocokan dengan suaminya, dan kadang juga ada pemicu dari luar misalnya dia juga telah tertarik dengan orang lain pada saat ia sudah menikah. Ada juga yang memilih cerai atau berpisah karena ia dikekang di dalam rumah dan tidak boleh berperan di luar atau bahkan karena bentuk-bentuk penindasan lainnya. Perempuan yang mendapatkan perlakuakn kekerasan itu memilih lari dari rumah. Juga ingin lari karena ia tak mau dikekang dan ingin berperan luas di luar rumah karena ia merasa bahwa kondisis kehidupan di luar rumah mengundang perannya.

Seorang single parent, bagaimanapun, adalah suatu status yang tak diinginkan karena pada dasarnya segala sesuatu akan mudah dihadapi bersama orang lain. Tetapi yang harus dipahami adalah bahwa: kesendirian dan tanpa bantuan orang lain kadang kita juga bisa menghadapi hidup dengan penuh makna, lebih produktif-kreatif, bahkan lebih dibanding pada saat kita bersama-sama dengan pasangan Anda. Lebih baik sendiri daripada bersama tetapi ditindas karena penindasan itu membuat kita menjadi kerdil dan hanya patuh-tunduk tanpa punya otonomi dan kreatifitas.
Muncul berbagai macam pertanyaan dalam benak perempuan, misalnya:
Apakah hidup kalau bukan aktifitas? Kenapa aku justru terpasung seperti ini dalam rumahtangga. Iya kalau suamiku menyayangi aku sepenuhnya, kenyataannya dia hanya peduli pada dirinya sendiri. Dia sibuk di luar dan mungkin juga bertemu dengan banyak orang, termasuk perempuan-perempuan yang pasti membuatnya tergoda—pasti tergoda, aku tahu persis watak suamiku. Jadi kenapa aku dibohongi seperti ini. Aku kan juga punya kemampuan untuk berperan di luar rumah? Aku tidak suka pada suamiku yang keluar rumah untuk urusan dirinya sendiri. Aku ingin keluar rumah untuk berperan agar lebih berguna di masyarakat!

Istri Tak Taat?
Apakah istri harus taat pada laki-laki dan budaya jika apa yang dimaui oleh laki-laki dan budaya tidak sesuai dengan kemauannya yang sesuai dengan ukuran-ukuran kemanusiaan? Apakah ketika istri ingin cerai atau putus hubungan dengan suami karena tidak cocok, ia disebut perempuan menyimpang? Memangnya, apakah pernikahan adalah tempat istri harus taat pada suatu hal yang mungkin bertentangan dengan perasaannya akan keadilan hubungan dan nilai-nilai kemanusiaan?
Jangan-jangan di balik selubung budaya ketaatan tersimpan wajah buruk penindasan atau penipuan. Sebagaimana dikatakan oleh Nawal El Sadawi:

Seorang yang sedang dipimpin oleh orang lain dan terlihat taat sebenarnya orang yang munafik. Ketaatan adalah wajah lain dari rasa takut, sedang ketakutan itu akan membawa pada sebuah kemunafikan. Akan tetapi, kita tidak akan sampai pada akar segala sesuatu, karena rasa takut itu. Karena, kita takut untuk menentang sesuatu yang telah jelas atau hal yang masih semu pada nilai-nilai dan kebiasaan yang kita hadapi. Pada akhirnya, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kemunafikan dan ketaatan itu dua sisi dari satu keping mata uang yang sama.”
[1]

Sekali lagi, bukan seks dan bukan kekayaan material yang mengikat dan menjadikan hubungan langgeng, tetapi nilai yang lahir dari pemaknaan terhadap materi itu dan ikatan/hubungan yang didukung oleh materi itulah yang penting. Nilai-nilai manusia kadang juga bersifat universal, seperti seorang perempuan yang justru lari dari suaminya karena begitu terpesona dengan nilai universal yang bernama keadilan dan kesetaraan antara manusia, prinsip yang membuatnya menyukai kegiatan yang dilarang dan tidak disukai oleh suaminya.


Dialah seorang perempuan yang bernama Alexandra Kollontai, lahir dari keluarga Finno-Rusia. Namanya akan terus dikenang dalam sejarah, terutama dalam sejarah gerakan perempuan. Alexandra berparas cantik, cerdas, tegas dan mandiri. Dia menikah saat usia muda—melawan kemauan keluarga—dengan sepupunya yang bernama Vladimir Kollontai. Titik balik dalam kehidupan Alexandra datang pada tahun 1896 ketika ia mendampingin Vladimir, seorang inspektur pabrik, dalam salah satu kunjungannya.

Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pabrik-pabrik tempat suaminya bekerja itu sangat kotor, bising, dan berbahaya. “Dan buruh-buruh yang kelaparan ini diperbudak hingga di luar batas kemampuan manusia”, katanya.
[2] Vladimir tak mempedulikan keresahan manusiawi istrinya. Alexandra marah dan akhirnya bergabung dengan sekelompok Marxis dalam mendukung pemogokan buruh tekstil di St. Petersburg tahun 1896. Vladimir berusaha mencegahnya, Alexandra menangis kecewa dan memutuskan meninggalkan Vladimir, dan untuk sementara waktu meninggalkan anak laki-lakinya.

Sepertinya hal itu merupakan sebuah tindakan melanggar batas yang dilakukan laki-laki terhadap individualitas kaum perempuan. Artinya sebuah perjuangan berlangsung di seputar persoalan: kerja atau menikah atau cinta. Demi nilai-nilai kemanusiaan yang berbeda dengan pasangannya (suaminya), hubungan dihentikan karena memang tak ada harapan lagi menjalani hubungan yang tiada nilai. Kebutuhan seorang perempuan agung seperti Kollontai bukanlah semata-mata kemewahan dan seksualitas atau sanjungan dari masyarakat bahwa dia berstatus bangsawan.

Bahkan demi cita-cita kemanusiaan bukan saja ia menceraikan istri di luar prosedur resmi. Tetapi ia juga berani bertaruh pada hidupnya: Aktivitas-aktivitas Alexandra dalam kelompok perempuan sosialis menarik perhatian polisi Tsar dan dia harus keluar dari Rusia. Diasingkan di Eropa dan AS, dia berjuang penuh semangat melawan pecahnya PD I. Pada tahun 1914, dia bergabung dengan Partai Bolsyewik pimpinan Lenin, yang merupakan penentang Perang Dunia I yang paling kuat. Saat terjadi Revolusi Februari 1917, Alexandra kembali ke Rusia. Tujuh bulan kemudian, setelah kemenangan Revolusi Oktober-nya Bolsyewik, Lenin mengajaknya duduk dalam pemerintahan sebagai Komisaris Kesejahteraan Sosial.

Alexandra bekerja dengan perempuan-perempuan pemimpin Bolsyewik lainnya (Innesia Armand, Krupskaia, Ludmilla Stael, Zinaida Lilina untuk menerapkan suatu program sosialis bagi perempuan, meskipun berlangsung krisis kelaparan dan perang saudara. Program-program yang dilakukan antara lain:
· Hak pilih bagi perempuan;
· Kesetaraan Hukum laki-laki dan perempuan;
· Kebebasan untuk bercerai;
· Cuti melahirkan 2 bulan dengan tetap digaji;
· Tempat pengasuhan anak di tempat kerja dan di lingkungan perumahan;
· Memukul istri dianggap illegal;
· Kampanye pendidikan dan propaganda menentang pemingitan dan pemakaian jilbab untuk perempuan di daerah-daerah Muslim yang luas di Uni Soviet;
· Klinik-klinik, tempat penitipan anak dan rumah-rumah perawatan ibu-ibu melahirkan;
· ‘Cuti sakit’ tetap digaji untuk ibu-ibu yang masih menyusui bayi;
· Didirikan komune-komune perumahan.

Kolontai menjadi contoh perempuan sadar yang ingin memilih, yaitu memilih memperjuangkan nilai daripada mempertahankan hubungan yang tidak bemakna. Sebagai seorang yang tersadarkan, tentu ia tak melihat bahwa kekayaan material mampu menjelaskan eksistensi dirinya.

Dan saya selalu berharap tidak terjadi citra buruk bagi perempuan yang memilih keinginannya untuk putus hubungan dengan laki-laki. Bahkan argument mendasar dari ungkapan saya itu adalah: hubungan tidak bias dipaksakan, perempuan, sebagaimana laki-laki, juga harus diberi hak untuk memilih pasangan yang diinginkan—atau memilih untuk tidak berpasangan. Artinya, bahkan kalau toh perempuan melakukan perselingkuhan atau ‘pindah ke lain hati’ (ke laki-laki lain), kita juga jangan melihat sebelah mata. Karena saya yakin bahwa perempuan yang selingkuh biasanya disebabkan oleh suami yang menindas, mengasingkan, mengekang, dan egois—berbeda dengan laki-laki yang tetap saja selingkuh pada saat istrinya mengabdikan diri sepenuhnya.

Selingkuh?
Banyak riset mutakhir yang menunjukkan bahwa perempuan yang berselingkuh cenderung dimotivasi untuk mencari cinta dan kedekatan, sedangkan laki-laki seringkali hanya karena dorongan seks. Umumnya, perempuan percaya bahwa ketidaksetiaan mereka dibenarkan demi cinta; sedangkan laki-laki cenderung percaya bahwa perselingkuhan mereka dibenarkan jika tidak dilandasi rasa cinta. Perempuan mungkin juga merasakan kesedihan yang mendalam atas perselingkuhannya jika dibandingkan dengan laki-laki.
[3]

Memang ada perkembangan baru di jaman yang terus berubah ini di mana dalam penelitian ditemukan generasi perempuan yang mencari selingkuhan untuk kepuasan seksual dan melakukannya tanpa perasaan bersalah, yang disebut Carol Botwin sebagai para ‘groundbreaker’.
[4] Tetapi saya kira, hanya sedikit perempuan yang masuk dalam kalangan seperti itu, terutama kaum minoritas dari kalangan elit yang memang secara psikologis mengalami suatu tahap yang berbeda dengan pengalaman perempuan rata-rata.

Tetapi diskusi kita adalah tentang di bagian ini adalah adanya kemungkinan bahwa setelah perempuan minta cerai atau lari dari hubungan bukanlah karena ia mencari laki-laki lain. Tetapi karena ia tidak betah terkungkung di dalam rumah bersama suami. Maka ia dalam hal ini kita mengharapkan bahwa sang istri bisa menuntut cerai dan sang suami juga diharapkan mau memenuhi tuntutannya. Dan pada kenyataannya situasi atau peristiwa semacam itu tidak jarang terjadi.

Suami yang memenuhi tuntutan semacam itu biasanya juga mengajukan syarat-syarat, misalnya dengan ungkapan seperti ini: “OK, aku penuhi tuntutanmu! Aku mau cerai tetapi anak kita ikut kamu dan urusan perkembangan dan biaya hidupnya kamu yang menanggung. Aku lepas dari seluruh tanggung jawab!”
Maka si perempuan pun menjadi orangtua tunggal dari anak yang lahir dari pernikahannya dengan mantan suaminya, suami yang telah ditinggalkannya. Ia selamat dari pernikahan dengan laki-laki yang tidak diinginkan, tetapi ia memiliki tanggungjawab merawat anak yang lahir dari rahimnya.***
_______________
[1] Nawal El Sadawi. “Pergolakan Pemikiran dan Politik Perempuan (Esai-Esai Nawal El Sadaawi). Jakarta: Kalyanamitra, 2004
[2] Lihat Marisa Rueda, Marta Rodriguez, Susan Allice Watkins. Feminisme untuk Pemula. Yogyakarta: Resist Book, 2007, hal. 88-91

[3] Shirley P. Glass dan Thomas L. Wright. Clinical Implications of Research on Extra-Marital Involvement: In the Treatment of Sexual Problem in Indivudual and Couple Therapy. New York: PMA, 1988, hal. 318
[4] Lihat Carol Botwin. Tempted Women: The Passions, Perils, and Agonies of Female Infidelity. New York: William Morrow, 1994

Jumat, 30 Januari 2009

REFLEKSI BUDAYA, FILSAFAT:

(Hanya) Menjual Kecantikan!!!

Oleh Nurani

“Aku baru bangun tidur. Tadi mimpi meludahi muka Julia Perex, Dewi Bersisik, Dewi Tersandra, Asmirondho, Titi Kumal, Naysila Murtad, Maiyat Estianti, Marsandal, Mulan Jamahlah, dan Agnes Mounikah”.

(Sms dari Teman saya, Bejo)

“Wanita anggun jarang membuat sejarah”.

(Anita Borg)

“Cantik Itu Luka”.

(Eka Kurniawan, Sastrawan)

Esai ini bukan hanya riak-riak kecil dari bukuku yang akan terbit, “BEHIND THE SCENES” (Jakarta—Prestasi Pustaka, 2009), kisah tentang posisi selebritis dalam kapitalisme hiburan—(sebenarnya) juga dalam pertarungan kelas antara rakyat yang dimiskinkan dengan selebritis yang semakin pamer kemewahan dalam tatanan kapitalisme yang kian timpang!

Esai ini hanyalah ungkapan sentimentil. Barangkali! Intinya, kita dituntut untuk berpikir secara filsafati untuk melihat berbagai ekspresi budaya dan mencari makna dari dialektika material yang sebenarnya…

Julia Perex dan Dewi Bersisik

Seperti temanku Bejo, terus terang aku juga semakin muak dengan sederetan artis seperti Julia Perex, Dewi Bersisik, Luya Mana, Cinta Lora, dll, yang hanya mirip boneka bodoh yang menjual kecentilan. Maafkan aku dengan perasaan ini! Bagi kamu yang gak sependapat denganku, tidak apa-apa tak sepakat. Tapi aku punya pendapatku sendiri tentang nilai dan ukuran... ukuran tentang peran dan posisi seseorang yang hidup dalam pergulatan hidup di era kapitalisme ini. Aku terpaksa menilai mereka. Ya... karena mereka yang tiap hari ‘nongol’ di depan kita, berusaha menularkan nilai mereka.

Jadi sebut saja tulisan ini adalah perang nilai dan perang ideologi. Perang antara tulisan-tulisanku yang mendeligitimasi peran para enterteiner yang parasit dalam budaya borjuis-kapitalis, dengan mereka yang ingin menanamkan ideologi kapitalis melalui nilai-nilai secara terus-menerus. Media mereka TV, majalah gaul, cabul, dan yang agak cabul...

Nilai yang akan kudiskusikan adalah soal NILAI KECANTIKAN!

Model=Domba Tolol

Dewasa ini, kecantikan adalah nilai yang paling dipuja. Kontes kecantikan adalah salah satu contoh menyesatkan. Kontes ini membuat perempuan berpikir bahwa hal terpenting yang harus dikejar dalam hidup adalah menguasai tips kecantikan dan keahlian mencari jodoh. Lalu mereka menawarkan hadiah berupa beasiswa yang justru membuat keadaan sangat ironis karena para lelaki penonton acara kontes kecantikan itu rata-rata adalah penyuka perempuan yang bodoh. Menurut seorang pengamat relasi laki-laki-perempuan di Amerika, Serry Argov, kalau kita kritis sebenarnya kita akan perhatikan bahwa:

kontes kecantikan itu mirip banget sama pameran hewan ternak. Para peternak itu memamerkan sapi-sapi mereka dengan cara yang sama dengan para kontestan kecantikan. Mereka menggiring sapi…juara mereka ke tengah panggung di depan penonton dan para juri, dan mungkin bahkan memerintahkan sapi mereka beraksi sedikit di tengah panggung menunjukkan kebolehannya. Lalu, sapi-sapi yang menang akan diberi pita satin dengan nama gelar yang diperoleh berikut tahunnya”.[1]

Banyak yang tentunya sepakat bahwa kemunduran perempuan salah satunya adalah karena kapitalisme-komersialisme yang membentuk cara berpikir kaum perempuan bahwa mereka hanya dapat menyandarkan eksistensi dirinya pada penampilan fisik. Sherry Argov melontarkan nasehat pada kaum perempuan ketika mereka ingin mendapatkan calon suami yang sejati:

Ketika laki-laki melihat kamu memakai pakaian yang terbuka, biasanya ia [laki-laki] akan berasumsi bahwa kamu nggak punya hal lain yang menarik dalam diri kamu... Ketika dia [laki-laki] melihat kamu berpakaian sangat minim, dia nggak akana mengingat betapa rendahnya tubuh kamu yang telanjang itu. Tapi dia akan segera berpikir tentang berapa banyak laki-laki yang pernah berhubungan sama kamu”.[2]

Dalam hubungan kapitalistik, kepercayaan antara satu manusia satu dengan lainnya, termasuk antara laki-laki dan perempuan, semakin luntur karena kebanyakan orang frustasi akibat penindasan dan tekanan hidup hingga mereka semakin diracuni oleh pikiran bahwa satu-satunya hal yang dapat mewakili mereka dalam interaksi hanyalah modal dan ‘sesuatu’ yang dapat ditawarkan sebagaimana halnya transaksi dalam pasar.

Ketika bertemu dengan perempuan bodoh yang hanya mengandalkan penampilan fisiknya, seorang laki-laki yang kaya mungkin akan berpikir: “Alah, apa arti kecantikanmu... dengan mudah aku dapat membelinya”—dengan membungkusnya dengan basa-basi perkawinan sang laki-laki pun bisa memiliki dan menguasai si perempuan cantik (bisa jadi perempuan ‘baik-baik’) di dalam rumah. Si perempuan sejak awal memang merasa mampu mendapatkan perlindungan dan keamanan finansial ketika mereka bisa menarik hati pria kaya. Pria kaya dan punya pengalaman kebebasan yang lumayan, mungkin sudah dapat menakhlukkan para perempuan lainnya tanpa harus menikah, dan dia tentu butuh seorang istri yang bisa diandalkan dirumah.

Sementara itu, tak sedikit kaum perempuan yang memang mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan pria kaya dengan cara memelihara dan meningkatkan modal kecantikan fisiknya. Tak sedikit di antara mereka yang juga sadar bahwa mereka tak melibatkan perasaan cinta saat menikah, tetapi memang semata-mata mencari keamanan finansial dan menjadi ‘social climber’—perempuan yang ingin naik kelas dengan bermodalkan kecantikan tubuh.

Perempuan harus mempersiapkan kemampuan seolah ia ingin memiliki kapasitas yang dibutuhkan pria yang memang membutuhkan kepuasan seksual ketika berhubungan dengan perempuan. Seringkali perempuan dikasihtahu oleh majalah-majalah dan media bahwa untuk memenangkan hati laki-laki adalah lewat seks.

Jual Keliaran, Seperti (Julia) Pereks

Bacalah majalah-majalah atau buku-buku, misalnya artikel yang berjudul “100 Tips Seks yang Akan Membuatnya Liar”. Kebanyakan tulisan semacam itu sangatlah tolol dan benar-benar membuat perempuan tolol setelah membacanya. Para penulis artikel kacangan itu akan memberikan anjuran, misalnya: perempuan bisa membuat hubungan seks yang penuh petualangan yang membuatnya memberi kesan pada laki-laki sebagai ahli di ranjang. Contoh nasehat detail terhadap perempuan dari artikel semacam itu misalnya: Kamu selalu muncul dengan ‘lingerie’ yang bisa dimakan, goyangan seksual yang spektakuler, barang-barang berbahan lateks, akrobat di ranjang dengan borgol bulu-bulu, dan kamu juga bisa memasang lampu bola disko disamping ranjang agar kegiatan seksual romantis. Terus kamu mengikat tangan laki-laki, menyumpal mulut mereka dengan stocking-mu agar gairah seksual liar, dan memberi suara-suara atau lenguhan yang seksi seperti—misalnya—anjing menggonggong.

Hanya perempuan yang menyadari bahwa seks dan kecantikan bukanlah satu-satunya modal, yang akan menyadari potensi lain dari keberadaannya. Potensi itu adalah seluruh tubuhnya, terutama pikiran maju dan penuh wawasan yang akan mengendalikan tindakannya untuk menunjukkan bahwa dirinya bisa lepas dari kebiasaan-kebiasaan baru. Perempuan semacam ini sadar bahwa dia juga harus mendapatkan ruang yang lapang untuk terus belajar dan berperan dalam masyarakanya.

Hidupnya bukan hanya untuk mengurusi dirinya sendiri, misalnya hanya sibuk merekayasa penampilan agar banyak orang lain yang kagum terhadap dirinya hanya karena ia menonjol di bidang itu. Kita seringkali menjumpai perempuan yang bergelimang popularitas seperti perempuan artis-selebritis yang dikagumi banyak orang dan mendapatkan kepuasan individual dalam kehidupan hari-harinya, bahakn selalu mampu memenuhi kebutuhan individualnya dengan mudah dan hidup mewah. Kita bisa mengatakan bahwa perempuan semacam itu memiliki posisi di ruang publik karena ketenarannya, tetapi kebanyakan perempuan semacam itu sesungguhnya sama sekali tak dapat diandalkan dalam urusan publik yang serius, dengan kemampuan daya pikirnya yang terbatas dan dangkal.

Lihatlah, tiap hari kita disuguhi lontaran-lontaran gampangan, dangkal, dan kacangan dari para perempuan penghibur semacam itu di acara infoteinmen (gosip) yang ditayangkan hampir setiap jam. Bahkan kalau mau jujur ungkapan-ungkapan mereka juga ikut mempelopori kemunduran cara pandang dan kesadaran kaum perempuan di maasyarakat—karena bagaimanapun mereka adalah tokoh publik. Apa yang diberikan bagi kesadaran perempuan untuk lepas dari penindasan dari mulut selebritis seperti Julia Perez, Dewi Persik, Agnes Monica, Cinta Laura dan lain-lainnya?

Hubungan Palsu

Oh, kayaknya saya terlalu menggambarkan perempuan-perempuan murahan yang berusaha direproduksi kapitalisme. Laki-laki yang membangun hubungan secara serius dengan perempuan memang tak suka ketika seorang perempuan bersikap terlalu artifisial, laki-laki bahkan resah dan kawatir tentang siapa dirinya sebenarnya dan apa motivasi serta tujuan perempuan itu. Biasanya, laki-laki akan berpikir bahwa semua yang dikenakan perempuan itu adalah untuk menjebaknya.

Tentu kita juga akan mengatakan bahwa laki-laki yang hanya memanfaatkan kelemahan perempuan adalah laki-laki yang tidak memiliki nilai yang dipegang dalam membangun hubungan. Karena dia hanya main-main, karena tak percaya pada nilai. Atau tak berusaha memperjuangkannya. Laki-laki kaya juga akan cenderung mewakili hubungannya dengan kekayaannya, artinya di situlah dia telah memanipulasi dirinya.

Kepemilikanlah yang menjadi wakil dari eksistensi dirinya. Ketika kualitasnya jelek, ia mengandalkan materi dan kepemilikannya untuk menarik orang lain agar mau berhubungan dengannya, terutama perempuan-perempuan yang begitu mudah tergoda dengan mater—perempuan-perempuan parasit yang tidak mandiri dan hanya mengandalkan perlindungan laki-laki dan orang lain.

Kecantikan yang dijual adalah seba-sebab retaknya hubungan rumahtangga. Suami-suami tanpa sepengetahuan istri, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, sangat tertarik dengan perempuan-perempuan yang lebih muda. Dan cara pandang laki-laki semacam itu tampaknya dipenuhi oleh kebutuhan pasar: dari acara yang paling ‘gaul’ hingga yang paling ilmiah seperti seminar seakan harus menyediakan perempuan muda yang cantik dan seksi. Yang menginginkan bukan perempuan, tetapi jelas untuk memenuhi kebutuhan laki-laki yang ingin sekedar ‘cuci mata’ hingga mengajak perempuan-perempuan SPG yang mau diajak kencan itu.

Inilah masyarakat yang tidak adil dan bias gender. Kebutuhan laki-laki untuk selingkuh dan serong—baik dengan perempuan pelacur kelas bawah maupun kelas atas—difasilitasi. Untuk perempuan tidak difasilitasi, karena hanya laki-lakilah yang seakan wajar jika “berzina”—sementara perempuan yang ingin cerai karena memang tidak betah dengan hubungan yang menindas dan tak berkualitas dalam pernikahannya, ia tak boleh cerai tanpa persetujuan si suami. Dan ketika se perempuan ketahuan lebih memilih laki-laki lain yang memang dicintainya, maka ia disebut perempuan “gatal” atau tidak pantas melakukan hal itu. Seakan mendua bagi laki-laki dianggap wajar, sementara perempuan yang tak pernah mendua dan lebih memilih dianggap terkutuk.

Kebutuhan laki-laki untuk selingkuh dengan kilat dapat difasilitasi di hotel-hotel, massage/panti pijat, bar-bar, night club, barber shop, salon-salon, billiard center, dan lokasi-likasi lain. Langganannya adalah pria dan bukan wanita. Hotel-hotel juga memfasilitasi laki-laki yang selingkuh dengan perempuan non-pelacur dengan tidak menanyakan surat nikah ketika sepasang laki-laki perempuan check-in. Dan memang kebanyakan bisnis hotel memang mengandalkan pada konsumen yang berupa pasangan tidak sah menurut agama ini.

Maka dari kisah di atas saya sebenarnya ingin menegaskan tesis yang tak terbantahkan bahwa lebih banyak laki-laki yang curang, serong, dan selingkuh daripada perempuan. Kenapa? Karena kondisi masyarakat yang bias-gender memfasilitasi dan mendukung laki-laki untuk serong, baik dari sudut pandang agama (poligami) maupun budaya, hingga dilihat dari aspek sosio-ekonomi.

***


[1] Sherry Argov. Why Men Marry Bitches?: Panduan Bagi Perempuan untuk Memenangkan Hati Pria. Jakarta, GagasMedia, 2008, hal. 11-12

[2] Sherry Argov. Why Men Marry Bitches?: Panduan Bagi Perempuan untuk Memenangkan Hati Pria. Jakarta, GagasMedia, 2008, hal. 20-24




Sabtu, 24 Januari 2009

Resensi Buku "PENDIDIKAN MARXIS-SOSIALIS":

Menggagas Pendidikan ala Marx

Seputar Indonesia/Minggu 25 Januari 2009

SELAMA ini,Karl Marx lebih dikenal sebagai pemikir ekonomi- politik dari pada pemikir pendidikan. Buktinya,sampai saat ini, jarang dijumpai diskursus yang menyandingkan Marx dengan dunia pendidikan. Padahal, sebagaimana diungkap dalam buku Metode Pendidikan Marxis- Sosialis ini, Marx bukan hanya pemikir ekonomi-politik, tapi juga seorang pemi
kir pendidikan terkemuka.Bahkan,menurut Nurani Soyomukti, penulis buku ini,Marx adalah pelopor dan peletak dasar teori pendidikan kritis dan pembebasan, bukan Paulo Freire sebagaimana diyakini banyak kalangan.

Dalam konteks pendidikan, Marx menyingkapkan bahwa basis dari gerak sejarah sistem pendidikan dunia ditentukan oleh kapital (ekonomi). Teori ini disebut dengan determinisme ekonomi. Tampaknya,ramalan Marx itu benar, khususnya di Indonesia. Buktinya, regulasi kebijakan pendidikan pemerintah, dalam hal ini Undang- Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP), tidak lain me-rupakan penjelmaan perselingkuhan antara dunia pendidikan dengan kepentingan kapital.
UU BHP membuka akses bagi praktek kapitalisme di bidang pendidikan. Lembaga pendidikan saat ini tidak lagi menjadi media transformasi nilai dan instrumen memanusiakan manusia, melainkan menjadi lahan basah bagi para pengelola pendidikan untuk mengeruk keuntungan finansial.

Status birokrat kampus -Rektor dan para stafnya- tidak ubahnya investor yang hanya memikirkan bagaimana kampus bias mendapatkan laba sebesarbesarnya dari peserta didik. Institusi pendidikan saat ini tidak jauh beda dengan pasar. Bedanya,kalau pasar menjual bahan sembako domestik dan kebutuhan rumah tangga yang lain, maka perguruan tinggi menjual jasa pendidikan.

Mulai dari tenaga pengajar (dosen), mata kuliah (SKS), sampai fasilitas-fasilitas kampus yang seper canggih.Dalam kondisi seperti ini, lembaga pendidikan layaknya korporasi yang hanya memikirkan profit. Tidak heran,kalau makin hari biaya lembagapendidikankian melonjak.
Di era modern, mustahil menemukan biaya pendidikan yang bisa dijangkau orang menengah ke bawah. Semakin canggih dan lengkap fasilitas kampus, semakin besar uang yang mesti dikeluarkan peserta didik. Secara historis, bibit kapitalisme dan pragmatisme pendidikan di Indonesia sudah menyeruak pada zaman Soeharto.

Ketika itu, yang menjadi panglima adalah pembangunan.Pertumbuhan ekonomi pada rezim Orde Baru dikejar habis-habisan tanpa memedulikan aspek kemanusiaan. Tak pelak, lembaga pendidikan sebagai media memanusiakan manusia dan penjaga gawang terakhir atas munculnya kaum-kaum terdidik dan bermoral terpasung.

Munculnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), baik yang berkonsentrasi di dunia mesin, listrik, arsitektur, administrasi perkantoran,akuntansi, kesekretariatan maupun berbagai bidang lain,merupakan pemenuhan atas nafsu kapitalisme. Kehadiran SMK diharapkan meluluskan peserta didik yang siap pakai dan sesuai dengan kebutuhan praktis di bidang kerja infrastruktur pembangunan.

Sekolah kejuruan menjadi idaman dan pilihan para orangtua yang ingin yang ingin melihat anaknya cepat mendapat kerja. Penekanan keterampilan teknis seperti ini menyebabkan pendidikan terjerumus dalam pragmatisme. Pragmatisme pendidikan adalah malapetaka besar bagi masa depan kemanusiaan.

Sebab, pragmatisme pendidikan akan melahirkan manusiamanusia yang tidak peka terhadapbobroknya realitaskebangsaan. Pragmatisme pendidikan hanya mencetak generasi yang ingin cepat mendapatkan gelar sarjanadanmemperolehprofesi yang bergengsi. Buku ini berusaha menggagas dan menjabarkan metode pendidikan berbasis Marxis- Sosialis yang menjadi counterpart atas pendidikan kapitalisme yang selama ini menjadi ideologi sistem pendidikan internasional. Ideologi pendidikan yang digagas Marx adalah bentuk gugatan atas merasuknya budaya kapitalisme dan pragmatisme dalam tubuh pendidikan.

Dalam pendidikan berbasis Marxis-Sosialis, tujuan (ideologi) pendidikan adalah membangun karakter (character building) manusia yang tercerahkan; suatu kondisi mental yang dibutuhkan untuk membangun suatu masyarakat yang berkarakter progresif, egaliter, demokratis, berkeadilan dan berpihak terhadap kaum-kaum tertindas (the oppressed).
Menurut Marx,pendidikan bukan lahan basah untuk merenggut keuntungan, melainkan sebagai instrumen membebaskan manusia dari belenggu dehumanisasi serta menempatkan manusia dalam esensi dan martabat kemanusiaannya yang sejati.

Marx mengidealkan terciptanya pendidikan kritis (critical pedagogy), pendidikan radikal(radical education) dan pendidikan revolusioner (revolutionary education) yang pada gilirannya mampumencetakmanusia yang betul-betul mau memperjuangkan kaum-kaum miskin. Pendidikan yang terjebak pada pragmatisme untuk kepentingan kapitalisme merupakan eksploitasi atas esensi terbentuknya lembaga pendidikan.

Bagi Marx, pendidikan bertujuan menciptakan kesadaran kritis,bukan pengetahuan dan keterampilan teknis yang mendukung proyek kapitalisme. Apa yang diidealkan Marx itu sangat kontras dengan karakter objektif para pelajar bangsa ini.Tidak bisa dibantah, 75 % orientasi pelajar menuntut ilmu adalah untuk mendapatkan kerja bergengsi (profesi),menjadi tokoh populer, menjadi orang kaya, dan untuk mengangkat status sosialnya. (*)

Oleh Abdul Khalid Boyan, Peneliti pada Center for Social and Democracy
Studies (CSDS) Jakarta
--------------------------------------

Minggu, 18 Januari 2009

Resensi Buku Nurani Soyomukti di KORAN PAK OLES, 16 Januari 2009:

Dehumanisasi Model Pendidikan Kapitalis

Judul: Metode Pendidikan Marxis Sosialis: Antara Teori dan Praktik
Penulis: Nurani Soyomukti
Penerbit: Ar-Ruzz Media,
Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2008
Tebal: 316 Halaman
Peresensi: Khoridatul Anisah*

Pendidikan, umumnya dipahami sebagai kegiatan mulia yang selalu mengandung kebajikan dan berwatak netral atau bebas nilai. Pandangan ini masih dominan hingga saat ini meskipun tiga dasawarsa yang lalu telah dibongkar oleh Paulo Freire dan Ivan Tillich. Keduanya memandang bahwa penindasan dan selubung nilai yang halus senantiasa berusaha ditanamkan dalam kesadaran semua yang terlibat dalam aktivitas pendidikan. Pendidikan bukan merupakan konsep yang bebas nilai.

Nilai-nilai ini sangat dipengaruhi oleh keyakinan, ideologi, dan kepentingan dari pemangku kepentingan pendidikan tersebut. Pendidikan ibarat perahu kecil yang terjepit di antara dua karang besar yakni, apakah pendidikan akan memberikan dan mengukuhkan dominasi atas selubung dan ilusi penindasan tersebut, ataukah pendidikan menjadi sarana pembebasan atas dominasi dan penindasan yang telah mapan.

Nurani Soyomukti berusaha untuk melanjutkan tradisi kritik atas dominasi dan penindasan model pendidikan kapitalis yang telah mapan. Sebelum membongkar borok model pendidikan kapitalis, penulis menancapkan dasar berpikir yang sangat dipengaruhi oleh teori-teori Karl Marx seperti filsafat materialisme dialektika dan konsep-konsep ekonomi Marxis. Laiknya pengikut tradisi Marxis yang setia, penulis menempatkan ekonomi sebagai faktor determinan yang berfungsi menjadi basis penyangga, dan pendidikan sebagai bangunan atas atau supra struktur.

Corak produksi masyarakat yang kapitalis, menentukan bangunan pendidikan di atasnya akan seperti apa. Pendidikan berfungsi untuk melayani dan menstabilkan corak produksi tersebut. Secara sukarela dan tanpa sadar banyak dari kita yang menjadi pelayan bagi kepentingan kapitalis yang masuk lewat penidikan. Ketundukan sukarela untuk melayani kepentingan kapital inilah yang oleh Gramsci diistilahkan sebagai hegemoni.

Termanifestasi dalam pendidikan, hegemoni mengambil bentuk melalui kurikulum sebagai media yang sangat penting untuk mereproduksi cara pandang yang sesuai dengan kapitalisme. Semua sekolah kapitalis memiliki “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum) untuk tujuan memaksakan ideologi kapitalis masuk kelas. Kurikulum tersembunyi di sekolah merujuk pada norma-norma, nilai-nilai, dan sikap di bawah sadar yang seringkali ditransmisikan secara halus lewat relasi-relasi sosial di sekolah dan kelas. Dengan menekankan pada aturan konformitas, pasifitas, dan ketertundukan, hidden curriculum menjadi salah satu media sosialisasi yang kuat dan dapat berguna untuk memproduksi model-model pribadi yang siap menerima hubungan sosial dan sruktur kekuasaan yang sedang bekerja.

Kurikulum menentukan pelajaran apa yang harus diberikan pada murid dan apa yang harus diajarkan guru. Hal itu juga akan menentukan apa yang dimasukkan pada pikiran anak didik dan guru, akhirnya juga pengetahuan apa dan macam apa (di mana keberpihakannya) yang harus diajarkan di sekolah. Kurikulum dalam pengertian modern dipahami sebagai himpunan pengalaman peserta didik yang menjadi objek pembahasan dan praktek belajar mengajar. Subjek materi dan proses belajar mengajar dalam kurikulum seharusnya bersumber dari dari realitas konkrit keseharian peserta didik sendiri.

Kurikulum tersembunyi bukan satu-satunya pangkal dehumanisasi model pendidikan kapitalis. Komersialisasi pendidikan yang bermuara pada elitisme pendidikan juga menjadi biang keladi bahwa pendidikan telah berubah fungsinya karena tidak lagi mampu melayani kebutuhan dasar nan pokok masayarakat secara luas tanpa diskriminasi dan diakses dengan keluaran biaya yang rendah. Sekolah telah mengimitasi model organisasi perusahaan. Elemen-lemen pendidikan di sekolah tidak jauh berbeda dengan tata kelola perusahaan yang tujuan akhirnya adalah untuk berproduksi.Guru dipersonifikasikan sebagai manajer yang mempunyai otoritas dalam menentukan tujuan dan aktivitas apa yang dilakukan bagi anak didiknya, seperti manajer perusahaan yang mempunyai kewenangan menentukan tujuan produksi buruhnya. Murid yang mirip dengan buruh hanyalah obyek yang tunduk pada majikan. Upah buruh adalah gaji, sedangkan upah murid adalah nilai yang tertera dalam raport. Sama seperti buruh dalam kapitalisme, para murid juga mengalami alienasi dan ketertindasan dari hasil dan proses belajar yang ada (hal. 187).

Seolah tidak ingin terjebak dalam gaya koboi yang segera setelah menuntaskan kejahatan meninggalkan locus-nya, dan tidak memberikan alternatif jawaban yang konkrit, penulis tidak hanya saja melancarkan kritik terhadap model pendidikan kapitalis, namun juga menawarkan alternatif jawaban atas kritikannya tersebut. Sosialisme menjadi jawaban atas kritik yang dilancarkannya. Pendidikan sosialisme bertujuan untuk membongkar ilusi-ilusi kemapanan dan selubung penindasan supaya manusia bisa menemukan kembali kemanusiaannya yang telah tercerabut akibat proses pendidikan yang tidak humanis. Ini berarti tugas utama pendidikan sosialis adalah melakukan refleksi kritis terhadap ideologi dominan menuju ke arah transformasi sosial.

Membangun ruang kesadaran agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur keadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem pendidikan dan sosial yang lebih adil. Dengan lain perkataan, tugas pendidikan adalah “memanusiakan” kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.

Supaya tidak hanya menjadi angan kosong model ideal yang dicitakan, penulis melengkapi dengan capaian-capaian beberapa model pendidikan di negera-negara yang menganut atau pernah menganut paham sosialis ( hal. 203-240) seperti di Uni Soviet (sekarang Russia ), Cina , Kuba, dan Venezuela. Sejumlah data-data keberhasilan dan capaian yang cukup signifikan berhasil digapai oleh negara-negara yang menganut model pendidikan sosialis tersebut. Di semua negara-negara tersebut, dari sisi anggaran pendidikan misalnya, mengalami lonjakan yang cukup fantastis. Sebutlah misalnya di Uni Soviet yang mengalami peningkatan anggaran sampai 10 kali lipat sejak rejim Bolshevik berkuasa. Demikian pula dengan capaian sumber daya manusia yang bisa diukur dari kuantitas maupun kualitas keluaran dari model lembaga pendidikan sosialis tersebut.

Buku yang disajikan dengan menggunakan paradigma kritis ini, secara jitu berhasil menelanjangi bangunan pendidikan kapitalis yang banyak mengandung ilusi-ilusi di dalamnya. Sebuah karya yang cukup provokatif mengenai pendidikan di tengah praktik pendidikan yang paradoksal di negeri kita.


*)Guru pada Madrasah Aliyah Persiapan Negeri Cimahi.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009