Rabu, 26 Desember 2007

Esai Nurani Soyomukti Di SEPUTAR INDNESIA, Minggu 24 Desember 2007:


Mengangkat Sosok Ibunda
dalam Karya Sastra

Oleh: Nurani Soyomukti



Dalam kesusastraan Indonesia, masih sedikit kaum perempuan yang berkecimpung di bidang sastra. Dunia sastra masih didominasi oleh laki-laki. Tak heran jika cara pandang bias jenderpun terjadi. Ideologi patriarki yang mendominasi masyarakat kita nampaknya juga turut mempengaruhi cara pengarang dalam menempatkan tokoh perempuan dalam karya-karyanya.
Kontradiksi pokok masyarakat Indonesia mulai dari feodalisme (yang masih tersisa dan belum hancur), kapitalisme-imperialistik, dan militerisme adalah tantangan terbesar bagi kemerdekaan perempuan. Struktur sosial tersebut menempatkan perempuan sebagai makhluk penuh dosa, dilemparkan secara nista dari wilayah produktifnya ke dalam domain domestik: pernikahan seperti pelacuran yang berpilar pada kebaikhatian dan kepasrahan perempuan. Dalam bukunya Gadis Pantai, Pramoedya Ananta toer menceritakan perempuan tidak lebih menjadi media pelatihan pria menuju kesejatiannya untuk menikahi perempuan lainnya yang lebih berderajat atau bangsawan, akan tetapi tetap dijadikan perhiasan dalam sangkar emas, tetap menjadi alat untuk memproduksi keturunan, tidak lebih dari itu. Meskipun tragis, melalui karya ini Pram menampilkan perempuan yang memberontak. Tokoh Srintil adalah gadis yang melawan kesewenangan-wenangan terhadap dirinya justru dengan kesadaran untuk melakoni hidup sebagai seorang ronggeng yang dianggapnya adalah pilihan untuk memberontak.
Humanisme realis Pram memang cukup kritis dalam melihat keberadaan struktur sosial yang membelenggu kaum perempuan. Dan karena itu pulalah, syarat-syarat munculnya kesadaran akan ketertindasan selalu dimiliki kaum perempuan. Dan Pram menemukan tokoh-tokoh perempuan yang tercerahkan dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Tradisi inilah yang sebenarnya harus dikembangkan dalam karya sastra agar berguna bagi kemanusiaan.

Tokoh Ibu yang Mencerahkan
Tokoh Nyai Ontosoroh dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) adalah gambaran lain dari perempuan yang mengalami pencerahan; sosok yang bersahaja. Ia mirip dengan seorang ibu dalam novel “Ibunda”-nya Maxim Gorky yang memahami dan mengerti kenapa anaknya, dan anak-anak muda lainnya, harus berjuang membebaskan belenggu ketertindasan. Bahkan sang Ibu tersebut bukan hanya merelakan anaknya dengan tangis keharuan atas jiwa kepahlawanan. Seorang Ibu dalam novel Gorky digambarkan sebagai orangtua yang bertindak: mengirimkan surat-surat ke penjara, membagi-bagikan selebaran secara sembunyi-sembunyi.
Secara tegas, Ibunda dalam karya Gorky digambarkan sebagai sosok perempuan yang hidup di masa Revolusi Demokratik berlangsung di Rusia, sekitar awal abad 20. Ia bersama rakyat miskin lainnya hidup di tengah peluit pabrik yang menjerit-jerit di atas perkampungan buruh yang kumuh. Ibunda menikah dengan Michail Wlassow, laki-laki peminum berat, yang memperlakukan istri secara amat kejam. Setelah suaminya meninggal banyak keadaan yang berubah. Ia masih punya anaknya yang bernama Pavel, yang kemudian menjadi aktivis buruh dan terlibat dalam gerakan politik pada waktu itu.
Keterlibatan Pavel dalam politik dimulai ketika ia memiliki kebiasaan baru, yaitu membaca buku dan interaksinya dengan para aktivis yang ditemuinya di tempat lain. Awalnya, ketika dilihatnya bahwa kepribadian, komitmen, dan (utamanya) tujuan hidup anak laki-laki itu berubah, Sang Ibunda cemas dan khawatir padanya. Tetapi akhirnya ia mulai dapat memahami hal-hal baru yang tak pernah terbayangkan dalam hidupnya setelah kawan-kawan Pavel menyusun sebuah gerakan kemanusiaan yang bahkan juga dibicarakan di rumahnya. Bahkan Sang Ibunda haru karena sekecil kumpulan pemuda tidak mabuk-mabukan ketika mengadakan pertemuan di antara mereka. Padahal, di daerah tempat ia tinggal, bila seorang pemuda telah usai kerjanya di pabrik dan berkumpul dengan teman-temannya, kegiatan yang normal adalah minum-minum sampai mabuk. Hal baru yang lainnya adalah bagaimana seorang gadis kawan Pavel mengorbankan dirinya, waktunya, hanya untuk sesuatu yang abstrak, yang disebut cita-cita.
Maka, dalam novel Gorky ini seorang ibu digambarkan sebagai sosok yang produktif dan aktif dalam sejarah untuk perubahan masyarakat. Bukan seorang ibu yang cengeng dan hanya menginginkan kesuksesan pribadi anaknya. Ibunda dalam novel Gorky ini adalah yang memiliki cinta kasih universal, menyinari perasaan-perasaan tersulit anak-anak selama menghadapi represi kekuasaan Tsar. Ketika Pawel dan anak-anak itu satu persatu ditangkap bahkan disiksa di depan matanya, Ibunda terjun ke kancah revolusi dengan peranannya sebagai pendistribusi pamflet ke kalangan buruh dan tani. Kemudian ia dituduh pencuri oleh seorang mata-mata, dan saat sedang ditangkap polisi militer dengan kekerasan, ia teriakkan “bahkan samudera pun tak kan mampu menenggelamkan kebenaran”.
Pengaruh Maxim Gorky dan sastra realisme sosialis di Indonesia memang melekat pada Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia yang telah meninggal dunia di tahun ini beberapa waktu lalu. Melalui karya terbesarnya, tetralogi Bumi Manusia, Pram juga mengangkat sosok perempuan sekaligus seorang ibu di masa penjajahan yang banyak melontarkan pemikiran yang maju dan mencerahkan.
Oleh Pram tokoh Nyai Ontosoroh yang dikonstruksi dan diidealisasi Pram juga seorang yang karena pengaruh pencerahan ikut mendukung pemikiran baru yang sedang bangkit waktu itu. Nyai Ontosoroh adalah seorang wanita bumi putera yang bernama asli Sanikem, perempuan pribumi sederhana yang awalnya tak berdaya untuk menolak menjadi gundik (nyai) seorang Belanda bernama Herman Mellema. Tetapi ia menemukan kebangkitan diri. Kekalahannya dalam bentuk ketakberdayaan menolak untuk menjadi gundik mendorong Nyai Ontosoroh untuk banyak menyerap berbagai arus pemikiran Belanda dan bahkan mengendalikan perusahaan milik Herman.
Nyai Ontosoroh tetaplah Sanikem wanita pribumi yang lagi-lagi tak berdaya ketika anaknya, Anellies, diambil paksa dari tangannya. Tetapi bagaimanapun juga Nyai Ontosoroh dalam novel tersebut telah berusaha keras melakukan perlawan mempertahankan anaknya meski kalah. Kekalahan adalah resiko dari pertarungan. Tetapi semangat untuk mengalahkan belenggu penindasan dan kemunafikan adalah sebuah harga yang mahal. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Nyai Ontosoroh berkata kepada tokoh Minke dengan kepala tegak: "Kita kalah. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya sehormat-hormatnya!"
Dalam novel tersebut, Nyai Ontosoroh adalah seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya, Annelis. Bahkan ia adalah sang ibu yang memberikan banyak gagasan maju yang mencerahkan anak angkatnya, Minke, seorang pemuda keturunan bangsawan Jawa yang tidak lagi mau tunduk patuh pada produk pikiran dan tindakan lama yang mencerminkan relasi ketidakadilan. Seorang ibu, Nyai Ontosoroh, telah mendorong seorang pemuda untuk berpartisipasi dalam mendukung perubahan di sebuah negeri yang memang hendak meninggalkan jaman kegelapan. Seorang ibu dalam masyarakat transisi memiliki peran yang kuat, tidak lemah dan hanya tunduk patuh serta jatuh ke dalam kubang posisi dan peran domestik, apa lagi sampai menjadi objek kekerasan suami.
Karya-karya semacam itulah yang sangat kita butuhkan sekarang ini. Perjuangan memperjuangkan hak-hak perempuan dan menuntut partisipasi aktif dan produktif bagi kaum perempuan adalah kebutuhan yang tak dapat ditawar. Para penulis dan pengarang (sastrawan) harus mengagendakan aktualisasi komitmen sosial kepengarangannya, terutama dari kaum perempuan sendiri yang seharusnya berada di garis depan dalam dunia kesusastraan untuk menuliskan posisi dan peran yang maju dan mendobrak budaya patriarki.
Akhir-akhir ini memang banyak karya sastra yang menjadi tempat bagi kaum perempuan untuk mendobrak kebudayaan lama Indonesia yang membelenggunya. Bukan lagi lelaki seperti Pram yang hadir,tetapi justru kaum perempuan sendiri yang telah menghasilkan karya sastra untuk melontarkan pemikirannya menamai relasi kesetaraan. Sebut saja Ayu Utami yang dengan Novel “Saman” dan “Larung”-nya berhasil merebut diskursus baru tentang perempuan yang memiliki hak atas tubuh dan pilihan ideologis atau keberpihakan. Nama lain seperti Jenar Mahesa Ayu, Dewi “Dee” Lestari, Rieke Dyah Pitaloka, dll turut membuka kembali kebekuan paham lama. Mereka melanjutkan upaya perlawanan yang dirintis oleh Kartini. Melalui sastra pencerahan dimulai dan paham lama ditinggalkan.
Karya-karya tersebut turut mengiringi gerakan sosial untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Capaian legal dan formal saja tidak cukup. Memang, dibutuhkan sebuah penempatan perempuan dalam perjuangan untuk menghadapi dan menghancurkan tatanan penindasan yang kini didominasi neoliberalisme dan sisa-sisa feodalisme. Perjuangan perempuan tidak boleh eksklusif, tetapi harus terlibat dalam perjuangan massa rakyat, mengarahkan serangan ideologis dan programatiknya untuk menyerang akar permasalahan. Sebagaimana kita rasakan, karya-karya sastra tersebut turut mewarnai dan memberikan nuansa estetis pada gerakan sosial dan (bahkan) politik untuk menghancurkan sumber-sumber sosial yang menyebabkan ketertindasan perempuan.***

Jumat, 21 Desember 2007

22 Desember Hari IBU:

Ibunda, Ibumu, dan Ibu Kita

Oleh: Nurani Soyomukti


Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember, untuk mengingat jasa para Ibu dan kaum perempuan yang melahirkan anak-anak peradaban. Ibu adalah sosok terpenting bagi kelahiran manusia baru. Oleh karenanya, dalam peringatan Hari Ibu, kaum perempuan ditempatkan sebagai sumber utama kehidupan, yang dilahirkannya mengucapkan terimakasih, memberi ucapan selamat dan bahkan diwujudkan dengan memberikan hadiah sebagai tanda kasih sayang pada Ibu.

Sosok Ibu di sini harus kita lihat benar-benar sebagai pusat peradaban umat manusia, yang dengan segala “doa”-nya, anak-anak itu telah menjalani kehidupan masing-masing, dengan peran yang berbeda-beda. Sosok Ibu yang terhormat adalah Ibu yang mampu mendorong agar anak-anaknya dapat berperan dalam membangun sejarah peradaban. Peradaban yang maju itu haruslah ditandai dengan capaian hubungan social yang menghidupi bagi semua umat manusia—bukan hanya segelintir saja—dan menunjukkan tingkat capaian kematangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memudahkan hidup dan melestarikan kehidupan itu sendiri.

Saat peradaban sedang timpang, kontradiktif, dan bahkan cenderung untuk mundur, maka Sang Ibunda juga harus mendorong anak-anaknya untuk terlibat aktif untuk mengatasi masalah itu. Sang Ibunda bukan hanya mendorong anak-anaknya untuk terlibat dalam perjuangan kemanusiaan yang mendalam, bukan sekedar mengejar kesuksesan pribadi dan kejayaan individu. Seorang Ibu bahkan akan berbahagia saat anaknya memiliki kerelaan dan mau menanggung resiko dari proses perjuangan hidup membela kebenaran dan melawan ketidakadilan. Bahkan seorang Ibu itu, kalau ia benar-benar memahami anak-anaknya, mau tak mau, ia juga mau terlibat dalam upaya melawan ketidakadilan tersebut.


Nyai Ontosoroh dan “Ibunda”: Ibu Sejati

Maka Sang Ibu sejati tersebut mirip dengan seorang ibu dalam novel “Ibunda”-nya Maxim Gorky yang memahami dan mengerti kenapa anaknya, dan anak-anak muda lainnya, harus berjuang membebaskan belenggu ketertindasan. Bahkan sang Ibu tersebut bukan hanya merelakan anaknya dengan tangis keharuan atas jiwa kepahlawanan. Seorang Ibu dalam novel Gorky digambarkan sebagai orangtua yang bertindak: mengirimkan surat-surat ke penjara, membagi-bagikan selebaran secara sembunyi-sembunyi.

Secara tegas, Ibunda dalam karya Gorky digambarkan sebagai sosok perempuan yang hidup di masa Revolusi Demokratik berlangsung di Rusia, sekitar awal abad 20. Ia bersama rakyat miskin lainnya hidup di tengah peluit pabrik yang menjerit-jerit di atas perkampungan buruh yang kumuh. Ibunda menikah dengan Michail Wlassow, laki-laki peminum berat, yang memperlakukan istri secara amat kejam. Setelah suaminya meninggal banyak keadaan yang berubah. Ia masih punya anaknya yang bernama Pavel, yang kemudian menjadi aktivis buruh dan terlibat dalam gerakan politik pada waktu itu.

Keterlibatan Pavel dalam politik dimulai ketika ia memiliki kebiasaan baru, yaitu membaca buku dan interaksinya dengan para aktivis yang ditemuinya di tempat lain. Awalnya, ketika dilihatnya bahwa kepribadian, komitmen, dan (utamanya) tujuan hidup anak laki-laki itu berubah, Sang Ibunda cemas dan khawatir padanya. Tetapi akhirnya ia mulai dapat memahami hal-hal baru yang tak pernah terbayangkan dalam hidupnya setelah kawan-kawan Pavel menyusun sebuah gerakan kemanusiaan yang bahkan juga dibicarakan di rumahnya. Bahkan Sang Ibunda haru karena sekecil kumpulan pemuda tidak mabuk-mabukan ketika mengadakan pertemuan di antara mereka. Padahal, di daerah tempat ia tinggal, bila seorang pemuda telah usai kerjanya di pabrik dan berkumpul dengan teman-temannya, kegiatan yang normal adalah minum-minum sampai mabuk. Hal baru yang lainnya adalah bagaimana seorang gadis kawan Pavel mengorbankan dirinya, waktunya, hanya untuk sesuatu yang abstrak, yang disebut cita-cita.

Maka, dalam novel Gorky ini seorang ibu digambarkan sebagai sosok yang produktif dan aktif dalam sejarah untuk perubahan masyarakat. Bukan seorang ibu yang cengeng dan hanya menginginkan kesuksesan pribadi anaknya. Ibunda dalam novel Gorky ini adalah yang memiliki cinta kasih universal, menyinari perasaan-perasaan tersulit anak-anak selama menghadapi represi kekuasaan Tsar. Ketika Pawel dan anak-anak itu satu persatu ditangkap bahkan disiksa di depan matanya, Ibunda terjun ke kancah revolusi dengan peranannya sebagai pendistribusi pamflet ke kalangan buruh dan tani. Kemudian ia dituduh pencuri oleh seorang mata-mata, dan saat sedang ditangkap polisi militer dengan kekerasan, ia teriakkan “bahkan samudera pun tak kan mampu menenggelamkan kebenaran”.

Pengaruh Maxim Gorky dan sastra realisme sosialis di Indonesia memang melekat pada Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia yang telah meninggal dunia di tahun ini beberapa waktu lalu. Melalui karya terbesarnya, tetralogi Bumi Manusia, Pram juga mengangkat sosok perempuan sekaligus seorang ibu di masa penjajahan yang banyak melontarkan pemikiran yang maju dan mencerahkan.

Oleh Pram tokoh Nyai Ontosoroh yang dikonstruksi dan diidealisasi Pram juga seorang yang karena pengaruh pencerahan ikut mendukung pemikiran baru yang sedang bangkit waktu itu. Nyai Ontosoroh adalah seorang wanita bumi putera yang bernama asli Sanikem, perempuan pribumi sederhana yang awalnya tak berdaya untuk menolak menjadi gundik (nyai) seorang Belanda bernama Herman Mellema. Tetapi ia menemukan kebangkitan diri. Kekalahannya dalam bentuk ketakberdayaan menolak untuk menjadi gundik mendorong Nyai Ontosoroh untuk banyak menyerap berbagai arus pemikiran Belanda dan bahkan mengendalikan perusahaan milik Herman.

Nyai Ontosoroh tetaplah Sanikem wanita pribumi yang lagi-lagi tak berdaya ketika anaknya, Anellies, diambil paksa dari tangannya. Tetapi bagaimanapun juga Nyai Ontosoroh dalam novel tersebut telah berusaha keras melakukan perlawan mempertahankan anaknya meski kalah. Kekalahan adalah resiko dari pertarungan. Tetapi semangat untuk mengalahkan belenggu penindasan dan kemunafikan adalah sebuah harga yang mahal. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Nyai Ontosoroh berkata kepada tokoh Minke dengan kepala tegak: "Kita kalah. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya sehormat-hormatnya!"

Dalam novel tersebut, Nyai Ontosoroh adalah seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya, Annelis. Bahkan ia adalah sang ibu yang memberikan banyak gagasan maju yang mencerahkan anak angkatnya, Minke, seorang pemuda keturunan bangsawan Jawa yang tidak lagi mau tunduk patuh pada produk pikiran dan tindakan lama yang mencerminkan relasi ketidakadilan. Seorang ibu, Nyai Ontosoroh, telah mendorong seorang pemuda untuk berpartisipasi dalam mendukung perubahan di sebuah negeri yang memang hendak meninggalkan jaman kegelapan. Seorang ibu dalam masyarakat transisi memiliki peran yang kuat, tidak lemah dan hanya tunduk patuh serta jatuh ke dalam kubang posisi dan peran domestik, apa lagi sampai menjadi objek kekerasan suami.

Karya-karya semacam itulah yang sangat kita butuhkan sekarang ini. Perjuangan memperjuangkan hak-hak perempuan dan menuntut partisipasi aktif dan produktif bagi kaum perempuan adalah kebutuhan yang tak dapat ditawar. Para penulis dan pengarang (sastrawan) harus mengagendakan aktualisasi komitmen sosial kepengarangannya, terutama dari kaum perempuan sendiri yang seharusnya berada di garis depan dalam dunia kesusastraan untuk menuliskan posisi dan peran yang maju dan mendobrak budaya patriarki.

Akhir-akhir ini memang banyak karya sastra yang menjadi tempat bagi kaum perempuan untuk mendobrak kebudayaan lama Indonesia yang membelenggunya. Bukan lagi lelaki seperti Pram yang hadir,tetapi justru kaum perempuan sendiri yang telah menghasilkan karya sastra untuk melontarkan pemikirannya menamai relasi kesetaraan. Sebut saja Ayu Utami yang dengan Novel “Saman” dan “Larung”-nya berhasil merebut diskursus baru tentang perempuan yang memiliki hak atas tubuh dan pilihan ideologis atau keberpihakan. Nama lain seperti Jenar Mahesa Ayu, Dewi “Dee” Lestari, Rieke Dyah Pitaloka, dll turut membuka kembali kebekuan paham lama. Mereka melanjutkan upaya perlawanan yang dirintis oleh Kartini. Melalui sastra pencerahan dimulai dan paham lama ditinggalkan.

Karya-karya tersebut turut mengiringi gerakan sosial untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Capaian legal dan formal saja tidak cukup. Memang, dibutuhkan sebuah penempatan perempuan dalam perjuangan untuk menghadapi dan menghancurkan tatanan penindasan yang kini didominasi neoliberalisme dan sisa-sisa feodalisme. Perjuangan perempuan tidak boleh eksklusif, tetapi harus terlibat dalam perjuangan massa rakyat, mengarahkan serangan ideologis dan programatiknya untuk menyerang akar permasalahan. Sebagaimana kita rasakan, karya-karya sastra tersebut turut mewarnai dan memberikan nuansa estetis pada gerakan sosial dan (bahkan) politik untuk menghancurkan sumber-sumber sosial yang menyebabkan ketertindasan perempuan.***



Jember, 22 Desember 2007




Jumat, 14 Desember 2007

CHATING

Chating Dengan Rudi Haryoko


Instant messages are being archived on this computer.
View Full Archive (Alt+Shift+V) Archiving Preferences (Ctrl+Shift+P)

…..

emo_n_punk_melody: pernah sepintas lihat di resist book
mukti dimas: buka: www.esaipolitiknurani.blogspot.com
mukti dimas: klik aja
mukti dimas: hai Rud
emo_n_punk_melody: oh ya mas
mukti dimas: kamu apaaja aktivitasnya slain kuliah?


emo_n_punk_melody: selain kuliah...
emo_n_punk_melody: bikin usaha
mukti dimas: usaha apa?


emo_n_punk_melody: pokoknya everything yang ngasilin duit
mukti dimas: kan itu abstrak, Kawan
emo_n_punk_melody: apa aja mas..
mukti dimas: maksudnya kerja apa
emo_n_punk_melody: ekspor sirip hiu
emo_n_punk_melody: Multilevel
mukti dimas: ooo
mukti dimas: bagus juga
mukti dimas: mbok ya mbantu aku bikin organisasi/kjaringan pemuda
emo_n_punk_melody: sebenarnya banyak proyek yang mau saya buat
mukti dimas: misalnya?
emo_n_punk_melody: nih lg nyari info
emo_n_punk_melody: oh ya...
emo_n_punk_melody: gimana caranya???
mukti dimas: cara apa?
emo_n_punk_melody: mas punya website atau forum yang membahas tentang pendidikan??
mukti dimas: gak ada
emo_n_punk_melody: emang saya uda nemu komunitas yang sesuai buat saya mass\
emo_n_punk_melody: coba buka www.yahooanswer.com
emo_n_punk_melody: saya pake nick RCA
mukti dimas: aku dah buka
mukti dimas: tapi gak ada apa apanya tuh
emo_n_punk_melody: soalnya, di sisi saya nemuin banyak temen yang nyambung buat diskusi, sekalian cari pelanggan, hehehee
emo_n_punk_melody: oh ya mas, mau cabut neh, ada janji
emo_n_punk_melody: caw
mukti dimas: ok
mukti dimas: no kamu kok
mukti dimas: gak bisa
mukti dimas: aku hubungi
mukti dimas: knapa?
emo_n_punk_melody: soalnya HPq udah kejual
emo_n_punk_melody: makanya sekarang lagi ngebet pengen cari duit
emo_n_punk_melody:
mukti dimas: ooo


emo_n_punk_melody: kalo cuma SMS ga masalah, coz bisa ngrampok punya temen


emo_n_punk_melody: oh ya mas, sebelum cabut, saya punya pertanyaan yang asik buat di bahas
mukti dimas: apa?


Hide Recent Messages (F3)

emo_n_punk_melody: seseorang yang menyukai musik keras semisal Harcore, metal, underground, cenderung mempunyai pemikiran yang lebih matang dibanding pecinta musik easy listening
mukti dimas: emang'
mukti dimas: kayak aku kali
mukti dimas: hehje
mukti dimas: aku suka SOAD
mukti dimas: AudioSlaves
mukti dimas: SoulFly
emo_n_punk_melody: hahaha
mukti dimas: Megadeath
emo_n_punk_melody: SOAD'
mukti dimas: knapa?
emo_n_punk_melody: saya juga suka soadsoalnya lyricnya dewasa dan kritis
mukti dimas: loh, dia musik perlawanan, melawan kapitalisme global
mukti dimas: tapi liriknya masuk lewat tuntutan ekologis
emo_n_punk_melody: "Yet you feed us lies from the tablecloth"
mukti dimas: ok
emo_n_punk_melody: lirik yang paling kurenungkan
mukti dimas: "eveytime u drops ur bomb, u killed the children that we ve born"
mukti dimas: "what s splendid pie pizza pizza pie... every minutes every second buy buy buy buy..."
emo_n_punk_melody: hahaha
emo_n_punk_melody: kelihatanya lyriknya lucu
emo_n_punk_melody: tapi penuh pemikiran
mukti dimas: iy
mukti dimas: iya
emo_n_punk_melody: oh ya ne mas, sama mau caw neh.... next time kita sambung....
mukti dimas: aku awal tahun k jember
mukti dimas: kita ktemuan ya
mukti dimas: sbenarnya akhir tahun, liburan natal ini dah di jber
mukti dimas: kamu pulang k Bwi gak?
emo_n_punk_melody: wah udah ga sabar buat diskusi
emo_n_punk_melody: ntar tak siapin bahan....
emo_n_punk_melody:
emo_n_punk_melody: ga
emo_n_punk_melody: sibuk nyelesain proyek
mukti dimas: proyek apalagi?
emo_n_punk_melody: ya.. ga bakal jauh jauh dari cari duit.....
emo_n_punk_melody: hehehehe
mukti dimas: yang tadi itu?
emo_n_punk_melody: ohh....
emo_n_punk_melody: bukan
mukti dimas: trus apa?
emo_n_punk_melody: sekarang lagi sibuk buat blog
mukti dimas: apa itu proyeknya yang mendatangkan duit?
emo_n_punk_melody: bangun jaringan pemasaran
emo_n_punk_melody: lewat internet
emo_n_punk_melody: bikin kontak sebanyak banyaknya
mukti dimas: ooo
mukti dimas: bagus kalau gitu
mukti dimas: tapi ngomong2...
mukti dimas: kamu banntu gerakan demokrasi donk
mukti dimas: kamu kan tau banyak hal..
mukti dimas: kalau diam aja, dosa lho
emo_n_punk_melody: hehehe
emo_n_punk_melody: soalnya dikepalaku isinya cuma,money, business, opportunity, rich
mukti dimas: orang yang tau tetapi hanya diam saja, namanya manusia palsu..
emo_n_punk_melody: heheehe
mukti dimas: .
emo_n_punk_melody: wah, di Yahoo! Answer aq udah bantu banyak kok
mukti dimas: kamu kayaknya gak percaya pada perubahan
mukti dimas: hanya mengandalkan omongan dan tulisan untuk merubah kehidupan
emo_n_punk_melody: bahkan sering ngasih pertanyaan yang super kritis
mukti dimas: maksudku: berkumpul, berjejaring, dan bikin gerakan bareng itu lah yang efektif
mukti dimas: ...
mukti dimas: tau Puisinya Widji Thukul gak?
emo_n_punk_melody: oh gitu
emo_n_punk_melody: ga
mukti dimas: "DUNIA TAK BERGERAK HANYA KARENA OMONGAN/PARA PEMBICARA SEMINAR/ATAU PENULIS SALON/YANG UCAPANNYA DIMUAT DI KORAN/LALU SETELAH ITU DIBACA DAN DIBUANG DI TEMPAT SAMPAH/DAN DUNIA TETAP TAK BERUBAH..."
mukti dimas: Kamu masih muda...
mukti dimas: kaum muda seharusnya progress
mukti dimas: bangun kekuatan
mukti dimas: bersama
emo_n_punk_melody: yap
emo_n_punk_melody: sekarang saya masih membangun pondasi diri pribadi
mukti dimas: ia
mukti dimas: maksudku gak bertentangan
mukti dimas: tapi kan masih ada waktu
emo_n_punk_melody: hmm...
mukti dimas: meski sedikit
mukti dimas: kita manfaatkan
mukti dimas: ntar ngobrol wes
emo_n_punk_melody: yap... kutunggu di jember
mukti dimas: mencari ekonomi pribadi bukan tujuan kan? tapi hanya menfasilitasi diri agar punya basis untuk berperan yang lebih luas
emo_n_punk_melody: ya
emo_n_punk_melody: untuk berwawasan juga butuh dukungan
mukti dimas: manusia bukan binatang yang hanya memenuhi kebutuhan makan minum seks rumah pakaian atau material (biologis-fisiologis)... tetapi punya cita cita dan memperjuangkannya
emo_n_punk_melody: oh ya
emo_n_punk_melody: saya mempunyai cita-cita
mukti dimas: apalagi sudah tau ada kebobrokan, diam saja
mukti dimas: itu namanya pengkhianat
mukti dimas: terhadap realitas
mukti dimas: kita sejenis manusia, mahkluk unik
mukti dimas: yang punya cita-cita maju
mukti dimas: 'melepaskan diri dari kontradiksi
mukti dimas: untuk kebersamaan kehidupan
mukti dimas: kita memang harus menjawab kebutuahn diri, itu penting
mukti dimas: tapi harus punya peran sosial
mukti dimas: bahkan politik kalau sumber bencana dan penyelesaiannya juga lewat jalur itu
mukti dimas: diam adalah bagian dari gerak, itu hukum (law of motion)
mukti dimas: posisi kita ada dalam hubungan produksi sejarah
mukti dimas: tak ada netral
mukti dimas: mau tak mau kita harus berpihak
mukti dimas: diam hanya akan memperpanjang barisan penindasan...
mukti dimas: ...
emo_n_punk_melody: tapi saya mempunyai jalan sendiri
emo_n_punk_melody: saya tidak dia
emo_n_punk_melody: saya tidak diam
emo_n_punk_melody: cita-cita saya kutujukan bagi perubahan
mukti dimas: setiap orang memang punya jalan sendiri... dan dengan jalan sendirio sendiri itulah kontradiksi umum dari penindasan tak dapat ditakhlukkan
mukti dimas: gerakan untuk perubahan butuh persatuan
mukti dimas: Bung Karno dulu tahu betul itu
mukti dimas: "jalan sendiri" identik dgn kepentingan sendiri
mukti dimas: abstrak
emo_n_punk_melody: namun jalan yang saya tempuh sesuai dengan apa yang pikiran bawah sadar saya inginkan
mukti dimas: dan obsesi terbesarnya ya kembali ke "kebutuhan diri'
mukti dimas: aku tau
mukti dimas: "pikiran bawah sadar" atau "pikiran sadar"?
mukti dimas: "bawah sadar" artinya tak sadar.
mukti dimas: "bawah sadar", hanya bergerak menuruti naluri (instink), kayak binatang...
emo_n_punk_melody: pikiran bawah sadar adalah pikiran yang 88% mengendalikan manusia
mukti dimas: tapi kalau berdasarkan pikiran, kita rengkuh realitas dan kita tahu, dan karena kita manusia yang punya moral dan belas kasihan maka kita membenci sistem yang tak adil
mukti dimas: dan kalau kita bergerak hanya atas alam bawah sadar, homo homoni lupus
emo_n_punk_melody: nah, sekarang saya ingin tahu pendapat mas nurani mengenai kebencian........
mukti dimas: Takut Mengetahui?
mukti dimas: Itulah perasaan yang ada pada orang yang berwatak subjektif dan sepihak, hal itu bisa menjadi benih-benih watak fasis seseorang yang anti-keadilan. Pada jaman dahulu ketika masyarakat masih terlena dalam kegelapan (di era Dark Ages), segalanya dianggap “buatan tuhan”, termasuk kaya dan miskin adalah “takdir tuhan”.
emo_n_punk_melody: maybe about "Fuck the system"
mukti dimas: Kabar yang disampaikan oleh para penindas feudal di abad Pertengahan, misalnya, adalah bahwa “Pusat tata surya adalah Bumi” (teori Geosentris). Ternyata setelah secara objektif diketaui melalui alat bantu teleskop orangpun yakin bahwa pusat tata surya adalah Matahari (teori Heliosentris). Pihak gereja dan kerajaan juga takut setengah mati dengan ketahumenahuan ini, makanya dia melakukan cara-cara memaksa dengan memancung Copernicus karena pengetahuan yang ditemukannya mengancam tatanan kekuasaan feodalisme (monarki absolut) yang menindas.
mukti dimas: Karena dasar di atas, maka ketakutan harus selalu dipelihara dalam masyarakat—agar sistem penindasan tetap berjalan. Tradisi kegelapan dipelihara, TV-TV, media-media cetak, prasangka-prasangka umum yang awam, semuanya memelihara ketakutan atau mempertahankan kegelapan, takhyul, dan pandangan tidak ilmiah. Ketakutan harus dipelihara agar tidak pernah muncul pemikiran dan perasaan pemberani (dan mau ambil resiko) agar budaya dan tatanan penindasan terdobrak. Ketakutan memang dapat memperpanjang daftar penindasan dan kebodohan.
emo_n_punk_melody: maka jangan heran jika akan muncul fanatisme yang benar benar menghambat ilmu pengaetahuan
mukti dimas: Dunia ini material, konkrit dan bukan sandiwara. Kaum idealis yang asketik selalu menekankan agar manusia menghibur diri sendiri, membohongi diri, mengalihkan kecenderungan (kebutuhan-kebutuhan konkrit). Akhirnya, mereka selalu begitu mudahnya—mungkin gara-gara kemiskinan filsafat (kebodohan) dan kelemahan psikologis—diarahkan untuk menerima jawaban-jawaban yang menghibur; misalnya begitu mudahnya orang-orang menerima anggapan bahwa “hidup ini di dunia sangat sementara; biarlah kita menderita, susah, dan kecewa… asalkan di dunia setelahnya bahagia.”
mukti dimas: Fanatisme dan komitmen berbeda lho!!!
emo_n_punk_melody: wah!! cocok dengan pemikiran saya
mukti dimas: ingin jalan sendiri dengan berbuat sesukanya juga beda kan?
mukti dimas: ]maksudku,
mukti dimas: pengetahuan harus seiring dengan tindakan
emo_n_punk_melody: sjelas beda
mukti dimas: hiburan yang memabukkan dan membodohi ya harus diserang
emo_n_punk_melody: ya.. setuju
mukti dimas: Memang manis dan menghibur, seperti perasaan yang harus menerima ketika dihadapkan pada fakta bahwa orang-orang yang tertindas harus menjalani kesusahan material dengan romantika tersendiri (melalui mekanisme psikologis).
Asketisme mengajarkan pada masyarakat miskin bahwa kondisi kontradiksi pahit dan tidak berbudaya yang menimpanya, dan yang membuatnnya (merasa atau tidak merasa) menderita, tidak sepadan dengan kenikmatan di “surga” nanti. Makanya dicekokkan juga janji “kehidupan setelahnya” (The Day After atau akhirat). Material tubuh manusia dan efek psikologisnya memang memiliki “Sensasi Keabadian”—dan inilah yang membuat kita begitu percaya bahwa kita ingin “hidup selamanya”, ungkapan irasional yang tentu saja tidak masuk akal.
mukti dimas: Dan kaum asketik dalam himbauan moralnya terus saja menekankan bahwa Tuhan dan malaikatnya terus mengawasi kita dan akan mengganti rugi di kehidupan mendatang atas frustasi dan kekecewaan yang kita derita sejak kecil di dunia.
mukti dimas: Kehidupan, terutama bagi orang miskin yang sering dijadikan kaum intelektual sebagai bahan mentah hanya untuk dibicarakan, ditulis, diseminarkan—yang dengan demikian dieksploitasi untuk menghibur diri dan untuk mendapatkan “dana”—terlalu banyak membawa penderitaan, kekecewaan, terasa sangat berat, serta tugas-tugas sulit yang hampir mustahil untuk mencipta kehidupan (sosial, seni, dan budayanya).
mukti dimas: Menurut Sigmund Freud dalam Civilization and Its Discontent, untuk memikul penderitaan-penderitaan itu, orang tidak bisa membuangnya melalui ukuran-ukuran standard yang bersifat meringankan. Tidak mungkin bagi orang untuk untuk membuang penderitaan dari pikiran dan perasaannya.
mukti dimas: Kondisi material yang membawa penderitaan yang menimpa dirinya pasti dirasakan, pasti mempengaruhi kesadaran dan kejiwaannya. Ia memang bisa disangkal dan dilupakan, tetapi tidak hilang dalam jalinan psikologis dan hal ikhwal emosinya, yaitu menguap dalam perasaan (bawah sadar) melalui mekanisme pengalihan yang membentuk watak, obsesi-obsesi dan kesimpulan baru, dendam-dendam dan “kegilaan”, atau ambisi dan keinginan lama dan baru yang biasa dianut manusia normal, yang obsesi-obsesinya memang tidak jauh dari kebutuhan-kebutuhan konkrit kehidupannya.
emo_n_punk_melody: yang hanya membuat kita berfikir untuk mengikuti arus sungai
mukti dimas: Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan sebagai sebab-sebab penderitaan biasanya bisa disangkal, dilupakan, atau ditekan dengan mekanisme kerja psikologis, yang menurut Freud, seperti ini: (1) pembelokannya sangat kuat, yang menyebabkan kita menganggap enteng penderitaan kita; (2) kepuasan pengganti, yang akan mengurangi penderitaan tersebut; (3) substansi-substansi yang memabukkan, yang membuat kita tidak mengindahkan penderitaan.
mukti dimas: Tetapi orang yang dalam hari-harinya memang tidak pernah bersentuhan dengan analisa psikologis dalam dirinya sendiri memang tidak merasa, dan biasanya mereka menghadapkan perasaannya terhadap realitas hidupnya berdasarkan subjektifitas mereka. Pada hal, faktanya justru kompleksitas psikologis itu yang justru mengendalikan kita dalam aktivitas sehari-hari.
mukti dimas: Sebenarnya budaya yang maju dibangun dari keberadaan individu-individu yang secara mental sehat dan produktif bagi budayanya. Dan kebudayaan yang lahir dari sistem sosial-ekonomi yang kontradiktif bagi tiap-tiap individu juga akan menghasilkan kebudayaan yang “miskin” atau tidak manusiawi. Setiap orang menghendaki dirinya menjadi manusia yang bermartabat, “kaya” dengan cara “menjadi”, atau—meminjam Nietzsche—menjadi “manusia unggul” (Ubermansch).
mukti dimas: kamu harus produktif bagi peradabanmu
mukti dimas: kalau kamu kerja, ya itu harus
mukti dimas: tapi kan kamu akan terlena dengan kejayaan individual
mukti dimas: kalau kamu
mukti dimas: gak bangun komitmen dan
mukti dimas: tindakan sejak muda
mukti dimas: apakah tujuan hidupmu hanya kuliah kerja lulus punya istri lahirkan anak?
mukti dimas: itu aja
mukti dimas: tak maukah kamu bergabung untuk merubah akar penindasan
mukti dimas: yang harus dijawab dgn
mukti dimas: tindakan
mukti dimas: yang meluas
mukti dimas: terstruktur
mukti dimas: dgn jaringan kuat
mukti dimas: ..
emo_n_punk_melody: namun sayangnya, rasa malas akan kemajuan bersama karena saya telah dibutakan oleh kemajuan pribadi......
mukti dimas: atau kita hanyalah jadi orang individualis dan anti-sosial?
emo_n_punk_melody: atau karena saya terlalu meremehkan orang lain
mukti dimas: iya
mukti dimas: jangan remehkan orang lain
mukti dimas: jangan serang orang lain
mukti dimas: sadarkan orang lain untuk bertanggung jawab pada peradaban manusia yang terancam oleh predatory capitalism--begitu kaya SOAD
emo_n_punk_melody: sebenarnya secara jujur, kapitalis benar-benar sukses meresap kedalamn pikiran saya
mukti dimas: ya
mukti dimas: ntar kita diskusikan
mukti dimas: bagaimana ideologi itu
mukti dimas: kapan hari kita cuman dangkal diskusinya
emo_n_punk_melody: oh ya.. ntar saya mau nambah referensi dan mas nurani...
emo_n_punk_melody: salam
mukti dimas: nambah referensi untuk apa?
mukti dimas: ngumpulin referensi trus untuk apa?
mukti dimas: biar pinter terus laku di pasar kerja?
mukti dimas: biar kaya raya?
mukti dimas: dan bikin "jalan sendiri"?
mukti dimas: ...
mukti dimas: terlalu banyak yang begitu
mukti dimas: terlalu banyak, Rud!
emo_n_punk_melody: so....
emo_n_punk_melody: apakah saya salah jika menempuh jalan sendiri...
emo_n_punk_melody: yang sesuai dengan cita2 saya??
mukti dimas: wacana hanya tinggal wacana, tulisan dan karya intelektual banyak tertumpuk di gudang, banyak orang yang katanya intelek, tapi penindasan semakin parah, kemiskinan dan dehumanisasi kian meluas
mukti dimas: ..
mukti dimas: saya tak mau menghakimi
mukti dimas: gak salah kok
mukti dimas: ya dah mudah mudahan kamu sukses
mukti dimas: yaa...
emo_n_punk_melody: saya tidak melihat vonis dari mas, saya hanya melihat dorongan dari mas untuk bertindak
emo_n_punk_melody: thankss
mukti dimas: thanks
emo_n_punk_melody: kita teruskan dengan tatap muka..
emo_n_punk_melody: salam
mukti dimas: tau sendiri, saya memang begitu gaya bicaranya
mukti dimas: kayak pas diskusi bedah bukuku di isip itu
mukti dimas: ..
mukti dimas: tapi
mukti dimas: ada ukuran
mukti dimas: dalam hidup ini
mukti dimas: tidak relatif
mukti dimas: tidak sesuka sendiri
emo_n_punk_melody: hmm tidak masalah, saya sudah belajar menjadi pendengar
emo_n_punk_melody has signed out. (12/14/2007 4:38 PM)

Minggu, 09 Desember 2007

Renungan Tahun Baru: "TITI KALA MANGSA"



W a k t u—
“T i t i K a l a M a n g sa!”




Oleh: Nurani Soyomukti*)




Wong takon wosing dur angkoro
Antarane riko aku iki
Sumebar ron ronaning koro
Janji sabar, sabar sak wetoro wektu
Kolo mangsane, ni mas
Titi kolo mongso

Pamujiku dibiso
Sinudo kurban jiwanggo
Pamungkase kang dur angkoro
Titi kolo mongso



(Orang orang bertanya kapan angkara murka berakhir
Diantara kau dan aku
Tersebar daun daun kara
Bersabarlah untuk sementara waktu
Suatu ketika, dinda
Pada suatu ketika

Doaku semoga
Semakin berkurang korban jiwa raga
Pengakhir angkara murka
Waktu)

(Sujiwo Tedjo)


Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2007, dan kita akan menuju tahun baru, tahun 2008. Dan sayangnya kebanyakan manusia masih banyak berdebat soal waktu, dan bukannya mengukur dan membentuk ruang yang memungkinkan terciptanya kehidupan yang lebih baik. Merayakan—dan sekaligus meresahkan—waktu, dengan melupakan ruang, akan membahayakan bagi peradaban manusia.
Waktu, harus kita akui, begitu meresahkan bagi banyak—mungkin semua—orang, lebih tepatnya bagi orang yang hidup di jaman modern yang penuh kontradiksi dan ukuran-ukuran kuantitatif.
Bagi orang Jawa yang memegang kearifan budaya, seperti lagu Sujiwo Tedjo di atas, waktu benar-benar hanyalah berupa hitungan pada saat nasib kemanusiaan berharap kapan akan datang suatu perbaikan. Dan memang, ketika orang berharap atau menunggu (suatu karakter mental masyarakat modern), ia akan berurusan dengan waktu. Masalahnya ia menghitung dan mempertimbangkan. Dan pada saat ada ukuran berupa waktu, kecemasan adalah ciri dari masyarakat modern.

Mendefinisikan Waktu


Di abad ke-5, Santo Agustinus mengatakan: "Lalu, apakah waktu itu? Jika tidak ada yang bertanya, saya tahu apa waktu itu. Jika saya ingin menjelaskannya pada seseorang yang bertanya kepada saya, saya tidak tahu."
Dari ungkapan itu, mendefinisikan waktu sangatlah sulit. Apa lagi kalau dikaitkan dengan perasaan (baik cemas maupun optimis), waktu hanya dipahami secara serampangan. Bahkan biasanya orang lupa pada waktu, sebagaimana mereka lupa pada kebaikan dan kemanusiaan. Membuka kamus untuk mencari tahu makna dari waktu ternyata juga tidak banyak memberikan penjelasan. Di dalamnya “Waktu” didefinisikan sebagai "satu periode", dan satu periode didefinisikan sebagai "waktu". Artinya, membuka kamus untuk mengetahui apa makna waktu tak akan membuat kita pintar. Pada kenyataannya, hakikat waktu dan ruang adalah sebuah masalah filsafat yang cukup kompleks.
Waktu adalah cara untuk menyatakan perubahan dalam keadaan dan pergerakan yang merupakan ciri tak terpisahkan dari materi dalam segala bentuknya. Dalam tata bahasa Inggris, kita memiliki tenses: past tense, future tense dan present tense. Penaklukan kolosal yang dilakukan akal manusia memungkinkannya untuk membebaskan dirinya sendiri dari perbudakan waktu, untuk mengatasi situasi kongkrit dan menjadi "hadir" ('present'), bukan hanya di sini dan sekarang, tapi juga di masa lalu dan di masa datang, setidaknya di dalam pikiran.
Menurut Allan Wood dalam bukunya “Reason and Revolt” (1999), waktu dan gerak adalah dua konsep yang tidak terpisahkan. Keduanya hakiki bagi semua kehidupan dan semua pengetahuan di dunia, termasuk tiap perwujudan yang diambil oleh pikiran dan khayalan. Pengukuran, batu penjuru dari semua ilmu pengetahuan, akan mustahil tanpa ruang dan waktu. Musik dan tari didasarkan atas waktu. Seni sendiri mencoba mencapai satu rasa tentang waktu dan gerak, yang hadir bukan hanya diwakilkan oleh enerji fisik tapi juga oleh disainnya. Warna, bentuk dan garis dari sebuah lukisan membimbing mata melintasi permukaan dalam irama dan tempo tertentu. Inilah yang menumbuhkan rasa, ide dan emosi tertentu pada kita setelah kita menikmati karya seni tersebut. Keabadian adalah kata yang sering digunakan untuk menggambarkan berbagai karya seni, tapi justru sebenarnya menyatakan persis kebalikan dari apa yang dimaksudkan. Kita tidak akan dapat merasakan ketiadaan waktu, karena waktu hadir dalam segala sesuatunya.
Ada satu perbedaan antara ruang dan waktu. Ruang dapat juga menyatakan perubahan, sebagaimana perubahan dalam posisi. Materi hadir dan bergerak melalui ruang. Tapi jumlah cara yang dapat dilalui oleh perubahan ini besar tak berhingga: maju, mundur, naik atau turun, dengan derajat apapun. Pergerakan dalam ruang juga dapat berlaku kebalikannya. Pergerakan dalam waktu tidak dapat diputar balik. Keduanya adalah dua cara yang berbeda (bahkan bertentangan) dalam menyatakan satu ciri yang hakiki dari materi—perubahan. Inilah satu-satunya Kemutlakan yang ada.
Ruang adalah "kembaran" materi, kalau kita pakai istilah Hegel, sementara ruang adalah proses di mana materi (dan energi, yang merupakan pernyataan lain materi) terus-menerus berubah menjadi hal yang lain daripada dirinya sendiri. Waktu – "api yang menelan kita semua"—biasanya dilihat sebagai suatu hal yang destruktif. Tapi sebenarnya waktu juga merupakan pernyataan dari proses permanen penciptaan diri sendiri (self-creation), di mana materi terus-menerus berubah menjadi bentuk-bentuk lain yang jenisnya tak berhingga. Proses ini dapat dilihat dengan cukup jelas dalam materi-materi yang anorganik, terutama di tingkat sub-atomik.

Tahun Lama, Tahun Baru


Ya, tahun baru akan segera tiba. Bisakah kondisi buruk masa lalu kita hindari bersamaan dengan pergantian tahun? Bisakah pergantian waktu mengantar kita pada kehidupan yang lebih baik? Ataukah—sebagaimana dikatakan Martin Heidegger—akan terjadi lagi “rahasia waktu”, yakni risalah yang menuju kematian (Zeit zum Tode)?
Pandangan tentang perubahan, seperti yang dinyatakan dalam berlalunya waktu, dengan dalam merasuki kesadaran manusia. Inilah basis dari semua unsur tragis dalam kesusastraan, perasaan sedih karena berlalunya kehidupan, yang mencapai bentuknya yang paling indah dalam soneta-soneta Shakespeare, seperti yang satu ini, yang dengan gemilang menggambarkan satu rasa akan pergerakan waktu yang penuh keresahan:

"Like as the waves make toward the pebbled shore,
So do our minute hasten to their end;
Each changing place with that which goes before,
In sequent toil all forward to contend."

("Laksana ombak yang melaju ke pantai berpasir,
demikianlah menit demi menit berpacu menuju kehancuran;
semuanya bertukar tempat dengan para pendahulu,
berturutan mereka menyeret diri ke dalam pertempuran")

Kemustahilan kita untuk membalik waktu tidak hanya berlaku untuk mahluk-mahluk hidup. Bukan hanya manusia, tapi bintang-bintang dan galaksi juga dilahirkan dan mengalami kematian. Perubahan berlaku untuk segala hal, tapi bukan hanya dalam makna yang negatif. Berdampingan dengan kematian, hadirlah kehidupan, dan keteraturan lahir secara spontan dari kekacauan. Tanpa kematian, kehidupan itu sendiri tidaklah akan dimungkinkan. Tiap orang bukan hanya sadar akan dirinya sendiri, tapi juga akan negasi dari diri mereka, dari batasan terhadap diri mereka sendiri. Kita berasal dari alam dan akan kembali ke alam. Kenapa takut dengan waktu? Seharusnya kita merencanakan ruang agar waktu tidak hanya meromantisir kejadian-kejadian, yang melupakan kita pada kenyataan yang sebenarnya. Wallahu’alam!***








_________
*)Nurani Soyomukti, aktif di JAMAN (Jaringan Kaum Muda untuk Kemandirian Nasional) Jawa Timur; penulis buku “Revolusi Bolivarian, Hugo Chavez, dan Politik Radikal” (RESIST BOOK, Yogyakarta); memperoleh penghargaan Juara I Lomba Esai Pemuda Tingkat Nasional MENPORA 2007; pendiri yayasan Komunitas Teman Katakata (KOTEKA) Jember Jawa Timur.




Puisi Nurani Soyomukti:




pergantian tahun



suasana malam, terutama bintang yang berbaris di angkasa
menghempas kejemuan dan melahirkan spaneng pikiran
lalu muncul kata-kata menari di antara bercak-bercak bayangan abad-abad yang lalu
yang dengan cepat dapat kutinggalkan
dan dengan cepat pula aku tenggelam memasuki keremangan
angin masih dapat menerpa pucuk pohon rambutan
dan kabar dari seorang kekasih masih belum dapat kupindahkan
pada hal jika aku bercakap-cakap dengan bulan,
sepi dapat dengan sopan
permisi dari sini.

cepat atau lambat
pergantian tahun hendak memberi kesan
atau kesanggupan.

(Lenteng Agung, Des 2007)

Puisi Nurani Soyomukti:


Hanya Pada Buku-buku

hanya pada bukubuku aku merasa
bahwa kamu ada di kamarku
biasanya kau gagas setumpuk ide
untuk dijalani esok pagi
--meski kita bangun terlambat daripada matahari.

tapi kau jauh dari sini
entah apa yang kau eja di sana

kini juga ada yang kukejar selalu, sayang.
malammalam siangsiang yang membebaniku

waktu yang memperpanjang baringku
dan jarak yang tak bisa dibaca
dengan alat pengukur suhu demamku

hanya bukubuku ini temanku
yang menggantikanmu
kubaca lembar demi lembar
dan kutandai kisahkisah yang penting

kututup kembali
saat aku harus memasuki mimpi
masih ada pagi yang terburuburu.
kerna aku hanya menduga
tentang kedatanganmu.





Lenteng Agung, Awal Desember 2007

Rabu, 05 Desember 2007

AYO MENONTON FILM MULTIKULTURALIS-KRITIS!




“The Kingdom”,
Satu Lagi Film Multikultural
setelah “Babel”

Oleh:
Nurani Soyomukti,
penikmat dan pemerhati film

Menghabiskan malam minggu dengan nonton di bioskop yang cukup elit di Jakarta sungguh menyenangkan. Maka pilihlah film-film yang terbaik, bukan film Indonesia yang biasa tetapi film Hollywood yang alur dan ucapan-ucapan pemainnya berbobot.

Sabtu, 1 Desember 2007, pukul 20.22.
Setelah meluncur naik taksi dari TIM (Taman Ismail Marzuki), kami berdua memang agak terburu-buru karena ingin mengejar jadwal film. Pada malam minggu sebelum-sebelumnyanya, kami datang cukup awal. Niatnya agar dapat memilih secara khidmat film mana yang hendak kami tonton. Waktu itu kami menonton “The Residence Evil II”, yang dibintangi oleh Mila Jovovich—seri kedua ini lebih bagus dari pada “Resident Evil yang pertama”.
Nonton film di bioskop harus khidmat, karena rugi kalau tidak fokus, biayanya mahal. HP bahkan harus kumatikan—tidak peduli apakah kekasihku yang di kejauhan, waktu itu, kirim sms atau menelfon. Duduk berdua nonton bersama di sebuah bioskop terkenal Jakarta, ‘Jakarta Teathre’, membuat kami lupa akan segala-galanya.
Kali ini film-nya bukan hanya bagus, tetapi juga berkaitan dengan suatu hal yang selama ini kujalani. Film yang dilatarbelakangi oleh masalah politik memang lebih menarik. Selain itu film ini sangat—aku bilang—“MULTIKULTURAL”. Judulnya adalah “THE KINGDOM”. Tak heran jika seat di bioskop penuh, hanya tersisa 5 kursi—tidak seperti biasanya.
Film Kingdom ini mengingatkan aku pada film yang, menurutku, sangat bagus, yaitu “BABEL”, karena sama-sama multilkulturalnya.

The Kingdom adalah film tahun 2007 yang disutradarai oleh Peter Berg dan dibintangi oleh Jamie Foxx, Chris Cooper, Jennifer Garner, Jason Bateman, Ashraf Barhom, dengan Kyle Chandler, dan Ali Suliman. Dan film ini disutradarai oleh Michael Mann, seorang yang dinominasikan dalam Academy Award.
Film ini memang bersifat fiktif, tetapi diilhami oleh peristiwa politik. Peristiwa tersebut adalah pengeboman di Riyadh yang terjadi pada 12 May 2003 dan di kompleks perumahan Khobar pada Juni 1996, di wilayah kerajaan Saudi Arabia. Kamp dan kompleks perumahan itu ditempati orang-orang Amerika (AS) yang dilindungi oleh kerajaan, dibentengi dan dijaga untuk keamanan, dan di dalamnya orang-orang AS (keluarga-keluarga yang bekerja di Arab Saudi) bisa hidup dengan budayanya sendiri (tidak berjilbab, misalnya, tidak mengikuti hukum Arab yang Islamik).
Serangan teroris di kompleks perumahan pekerja luar negeri (kebanyakan warga AS) di Riyadh, membunuh lebih dari ratusan orang, kebanyakan Ibu dan anak-anak, termasuk juga seorang agen khusus Francis Manner (Kyle Chandler)—dia adalah agen FBI yang ditugaskan di Arab Saudi. Atas kasus itu, pihak diplomatik nampak enggan untuk mengirimkan timnya ke negara yang menganut tatanan Monarki Absolut (kerajaan itu). Karena memiliki kepekaan yang kuat dan pengalaman pribadi terhadap kompleks perumahan tersebut, seorang agen khusus Fleury (diperankan Jamie Foxx) membentuk timnya sendiri dan memimpin sebuah investigasi. Bersama agen Janet Mayes (Jennifer Garner), Adam Leavitt (Jason Bateman), dan Grant Sykes (Chris Cooper) yang berada di pihaknya, ia berharap dapat menemukan siapa yang bertanggungjawab atas pengeboman tersebut.
Dalam kasus investigasi inilah film ini sungguh memberikan gambaran yang menarik mengenai ketegangan multikultural, dan film ini pulalah yang—menurut aku—juga memberi gambaran bagaimana ketegangan itu dapat diatasi dengan bekerja keras dan kerendahatian dalam menghadapi budaya komunitas masyarakat lainnya.
Diperlihatkan dalam film ini bahwa awalnya tim tersebut menghadapi birokrasi yang feudal dan memandang kehadiran orang Amerika secara hati-hati, bahkan ada yang penuh curiga. Dari berbagai macam percakapan, pertukaran pengalaman, penjelasan yang sabar dan menguatkan, tim ini melalui sang ketuanya akhirnya berhasil merebut hati dan memberi kepercayaan pada pejabat kepolisian Arab Saudi, Kolonel Faris Al Ghazi (Ashraf Barhom) dan koleganya Sgt Haytham (Ali Suliman). Dua tim dari “peradaban yang berbeda” akhirnya dapat menemukan pelaku kejahatan.
Yang dapat dipetik dari plot film ini, kemudian, adalah suatu hal yang sangar realistis: bahwa dua peradaban yang berbeda akan dapat menyatu jika memiliki musuh bersama yang harus diselesaikan dengan kerjasama, yaitu tindakan anti demokrasi dan kemanusiaan yang bernama Terorisme. Film ini juga menunjukkan kerendahatian peradaban Barat, yaitu bisa dilihat saat Janet Mayes (Jennifer Garner) sebagai satu-satunya perempuan dalam tim itu juga mau kompromis mengenakan kerudung saat pangeran Arab berkunjung ke pada tim FBI itu. Bahkan dia juga mau menerima ketika ia tidak boleh ikut saat sang Pangeran mengundang tim untuk datang ke kerajaannya karena acaranya adalah acara laki-laki.
Artinya, film ini nampaknya memang tidak begitu didasari oleh upaya menonjolkan kelebihan kebudayaan Barat. Kalau toh ada kontradiksi (baca: kelucuan) pada gambaran budaya Arab, cara penyajiannya benar-benar “intelek”, mulai menggambarkan kesalahpahaman dalam hal mengucapkan nama, nama makanan, hingga pemikiran yang berbeda. Toh kedua peradaban ternyata juga dipertemukan dengan pengalaman dan kepentingan universal. Fariz, misalnya, sebagai pimpinan kepolisian juga tidak membenci produk-produk Amerika. Ketika Fleury bertanya” “Mengapa kamu ingin menjadi polisi, Fariz?” Iapun menjawab bahwa semasa kecilnya ia sering menonton film-film Amerika, khususnya Hulk (The Incredible). Keduanya bahkan juga bercerita banyak hal yang akhirnya mengikat emosi antara keduanya, kedua peradaban.
Ikatan emosional yang kuat itulah yang menyebabkan Fleury bersedih saat Fariz Al Ghazi terbunuh, tertembak oleh teroris. Tetapi peristiwa terakhir yang menyebabkan Fariz terbunuh itulah yang menandai terbongkarnya jaringan teroris yang bertanggung jawab, kelompok Abu Hamzah.

Multikulturalisme “Babel” yang Kritis
Kalau untuk fim ini aku nonton di CD room labtop. Film yang mendapatkan banyak penghargaan memang film yang baik, tak seperti Indonesia yang memenangkan film yang buruk, tak berkualitas, dan merusak kesehatan mental masyarakat khususnya kaum muda. Lihatlah, film “Babel” ini memenangkan Golden Globe dan masuk nominasi Academy Award pada tahun 2006 (masuk 7 kategori, sebagai Best Picture, Best Director, dan dua nominasi untuk kategori Best Supporting Actress dan memenangkan Best Original Score).
Film ini memfokuskan empat bingkai situasi dan para pelakunya yang saling berkaitan, dan banyak kejadian ditampilkan dengan mengabaikan urutan. Tetapi jika diurutkan, setelah kita menonton penuh film ini, mungkin ceritanya akan seperti ini:
Di sebuah gurub pasir terpencil di wilayah selatan Maroko, Abdullah, seorang penggembala membeli senjata dan sekotak peluru dari Hassan Ibrahim yang hidup di desa tetangganya. Senjata itu akan digunakan untuk membunuh serigala yang seringkali menganggu kambing yang digembalakannya. Abdullah memberikan senjata itu pada dua anak laki-lakinya, Yussef dan Ahmed. Lalu dia menyuruh keduanya untuk mengawasi serigala dan menembaknya jika binatang pemangsa itu muncul. Karena keduanya masih belajar soal senjata, kedua anak ini ingin mengetes apakah senjata itu benar-benar bisa ditembakkan dengan jarak tembak yang jauh. Mereka ingin mengetesnya dengan menembak batu dan kemudian sebuah bus yang membawa penumpang para turis dari Barat yang sedang melintas di jalan di bawah bukit di mana kedua anak tersebut sedang menguji senjatanya. Yussef benar-benar menembak bus itu untuk menguji apakah senjata itu benar-benar bisa menembak jarak jauh sebagaimana dikatakan ayahnya. Peluru itu benar-benar mengenai salah satu penumpang bus itu, Susan Jones (diperankan Cate Blanchett), seorang warga AS dari San Diego yang sedang bepergian bersama suaminya Richard Jones (diperankan Brad Pitt).
Kedua anak itu tahu dan menyadari apa yang terjadi dan melarikan diri dari tempat itu, dan langsung menyembunyikan senjata itu di puncak bukit pada malamnya.
Ternyata kejadian itu dipersepsikan secara lain di negara AS. Yang mewarnai berita-berita koran dan TV adalah bahwa penembakan itu dilakukan oleh pihak teroris dan berita tersebut nampaknya sesuai dengan tujuan pemerintah AS untuk menekan pemerintahan Maroko agar menangkap pelaku kejahatan tersebut.
Setelah menelusuri kejadian tersebut dan mengetahui bahwa senjata itu milik Hasan, polisi Maroko langsung bergegas mendatangi rumahnya, menanyai secara kasar Hasan dan istrinya hingga mereka mengaku bahwa senjata itu awalnya adalah milik orang Jepang yang memberikan senjata itu padanya, lalu kemudian dijual ke Abdullah. Kejadian di rumah Hasan itu diketahui oleh Yussef dan Ahmed, mereka langsung lari ke rumah dan mengaku pada ayahnya tentang kejadian yang sebenarnya—termasuk mengaku yakin bahwa senjata itu telah menembak dan melukai perempuan Amerika itu.
Mereka bertiga melarikan diri dari rumah, dan mengambil kembali senjata itu kemudian berencana pergi agar lolos dari kejaran polisi. Akan tetapi polisi berhasil mengepung mereka di lereng bukit yang berbatu. Tembak-tembakan terbuka pun terjadi. Setelah kaki saudaranya tertembak, Yussef giliran menembaki polisi, tembakannya mengenai lengan salah seorang polisi. Polisipun semakin membabi buta, tembakannya mengenai saudara Yussef di bagian pinggangnya. Melihat ayahnya merasa marah bercampur sedih, Yussef akhirnya menyerah dan mengakui semua yang dilakukannya, sambil meminta ampunan bagi keluarganya dan bantuan perawatan bagi saudaranya Ahmed. Polisi menahan Yussef.
Plot film ini dimulai dengan memotret kehidupan Richard dan Susan. Mereka akan berwisata ke Maroko untuk melupakan kesedihan pernikahannya setelah anak ketiganya meninggal, yang menyebabkan hubungan keduanya kurang sehat dan seringkali saling menyalahkan. Ketika Susan tertembak di dalam bus itu, Richard memaksa sopir bus untuk mampir ke sebuah perkampungan untuk mencari dokter—nama desa yang digambarkan film ini adalah Tazarine. Susan mendapatkan perawatan seadanya, yang hanya cukup untuk menstabilkan keadaannya. Para turis lainnya marah-marah karena perjalanannya terganggu dan terhambat gara-gara mengurusi satu orang yang sakit. Mereka memaksa sopir untuk meninggalkan tempat itu segera juga karena takut kalau suatu waktu diserang oleh gerombolan teroris yang ada di daerah itu.
Karena Susan tidak mungkin meneruskan perjalanan naik bus, Richard meminta rombongan untuk menunggu sampai mendapatkan ambulans, yang ternyata tak pernah datang, dan akhirnya rombongan bus meninggalkannya pada saat Richard sedang menelfon minta bantuan. Anwar, seorang penduduk asli Maroko yang menjadi pemandu tour itu, menemani Richard dan Susan ditinggal oleh rombongan. Mereka berhasil mengontak Kedutaan Besar AS di Maroko, melalui telfon umum satu-satunya yang ada di desa itu. Isu politik antara AS dan Maroko menyulitkan mereka mendapatkan bantuan secara cepat, tetapi pada akhirnya sebuah helikopter datang. Dilaporkan bahwa, setelah 5 hari di rumah sakit, Susan sembuh dan dikirimkan ke rumahnya.
Pada seting lainnya dikisahkan tentang Chieko Wataya (diperankan Rinko Kikuchi), gadis remaja yang bisu-tulis tetapi punya jiwa pemberontak. Ia mengalami trauma akibat kematian ibunya yang bunuh diri. Ia sangat benci dengan ayahnya, Yasujiro Wataya (diperankan Kōji Yakusho).
Chieko akhirnya bertemu dengan dua detektif yang menanyakan mengenai ayahnya. Ia tertarik pada salah satu detektif, Kenji Mamiya (diperankan Satoshi Nikaido). Ia mengundang kembali Mamiya ke apartemennya dan ia bercerita banyak tentang ayahnya. Secara salah menganggap bahwa detektif tersebut sedang menyelidiki keterlibatan ayahnya dalah kasus bunuh diri ibunya, ia malah menutup-nutupi dengan menjelaskan bahwa ayahnya sedang tidur ketika ibunya menjatuhkan dirinya dari balkoni, dan dia menyaksikannya sendiri. Pada hal sebenarnya, sang detektif ingin menyelidiki keterlibatan ayahnya di Moroko. Yasujiro sebenarnya adalah orang yang sangat keranjingan berburu, dan itulah yang dilakukan saat berada di Maroko saat berlibur ke negara itu. Setelah selesai berburu ia menghadiahkan senjatanya pada Hasan yang berperan sebagai pemandunya—Hasan yang di awal film ini menual senjatanya kepada Abdullah.
Subplot lainnya terjadi di Amerika di mana pembantu Richard dan Susan yang berasal dari Meksiko, Amelia (diperankan Adriana Barraza) yang merawat kedua anaknya di rumahnya di California. Sebagaimana dikisahkan, ia terpaksa harus menjaga anak-anak tersebut lebih lama dari yang diharapkan karena orangtuanya yang sedang melakukan perjalanan tidak terlacak keberadaannya. Sementara dia harus pulang ke kampungnya di Meksiko karena harus menghadiri perayaan pernikahan anak laki-lakinya. Tanpa harus menunggu kedua orangtua dua anak pulang, karena tak mau melewatkan perayaan anaknya, ia membawa kedua anak majikannya ke kampungnya. Keponakannya, Santiago (diperankan Gael garcia Bernal), bahkan menjemputnya untuk memastikan agar Amelia datang. Mereka melewati perbatasan negara AS-Meksiko yang keras dan ‘jahat’.
Akhirnya mereka sampai. Kegembira-riaan pesta pernikahan anaknya yang gaduh berlangsung sampai malam, tetapi Amelia memutuskan untuk pulang malam itu juga membawa anak-anak ke Amerika bersama Santiago. Karena pada saat pesta Santiago mabuk berat, hal itulah yang membawa masalah saat petugas penjaga perbatasan mencurigai tingkahlakunya.
Apalagi ada masalah lain yang membuat petugas itu curiga. Amelia memang memiliki pasport untuk keempat orang di dalam mobil itu, tetapi tidak memiliki surat ijin dari orangtua dua anak yang dibawanya keluar dari wilayah AS. Karena mabuk, Santiago memaksa menerobos perbatasan dengan kecepatan mobil yang tinggi. Lalu ia menurunkan dan meninggalkan Amelia dan dua anak itu, mencoba untuk mengecoh polisi yang mengejarnya.
Terdampar di gurun daerah perbatasan tanpa makanan dan air, Amelia dan dua orang bocah itu terpaksa menghabiskan malam di daerah itu. Menyadari bahwa mereka bisa mati jika tidak mendapatlkan bantuan, Amelia meninggalkan kedua anak itu di sebuah tempat. Amelia menyuruh mereka untuk meninggalkan tempat itu dan ia mencari orang untuk minta bantuan. Akhirnya ia menemui petugas patroli perbatasan Amerika. Petugas itu menangkapnya dan ia akan menemukan anak-anak tetapi ternyata tidak dilakukan. Amelia menangis tersedu-sedu dan akhirnya petugas itu mengikutinya berjalan kembali ke tempat di mana ia meninggalkan kedua anak itu, tetapi ternyata tidak ditemukan. Amelia semakin sedih dan ia dibawa kembali ke pos penjagaan, di mana akhirnya dia mendapatkan informasi bahwa kedua anak tersebut telah ditemukan dan bahwa ayahnya, Richard. Bagaimanapun, Amelia akan dideportasi dari AS di mana ia bekerja secara ilegal.

“Babel” sebagai Kritik Sosial
Sisi kritis film “Babel” adalah gambaranya tentang rumitnya kehidupan gara-gara isu teroris yang dihembuskan oleh AS. Berawal dari senjata yang dibeli Abdullah dari Hasan yang tujuannya untuk kebutuhan ekonomi, mempertahankan hidup dengan cara melindungi kambingnya dari serigala gurun, agar ia bisa menghidupi anak-anak dan keluarganya dari hasil beternak domba/kambing.
Demikian juga Hasan yang mencari uang dengan cara menjadi pemandu seorang kaya dari Jepang. Bahkan untuk mendapatkan uang tambahan, senapan yang merupakan hadiah dari orang yang dipandunya juga dijual karena ia butuh uang, bukan senapan.
Isu teroris yang dihembuskan pemerintahan Amerika, terutama sejak peristiwa 9/11, ternyata telah menimbulkan kehidupan yang berjalan seperti biasa begitu merepotkan orang yang ingin mengembangkan hidupnya. Bahkan juga menambah masalah orang yang ingin berwisata.
Isu teroris juga membuat orang saling mencurigai dan AS harus memperketat penjagaan daerah perbatasan. Amelialah yang menderita kerugian, kedua orang anak itu juga menderita.
Film ini tentunya juga mengingatkan pada kita bahwa “war on teror” yang dilakukan AS membawa kecerobohan atau mirip tindakan yang membabi buta—yang menunjukkan arogansinya sebagai negara ‘people power’. Itulah yang ingin disampaikan. Film yang bagus adalah film yang mengritik kebohongan dan kepunahan, mengangkat kisah orang-orang yang dilemahkan dan membimbing penonton agar melek tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Luar biasa film ini, aku sampai menontonnya berkali-kali, dan selalu kusarankan kawan dan siapapun untuk menonton film ini!***

Depok, 2 Desember 2007

Selasa, 04 Desember 2007

ALIRAN SESAT ATAU GLOBALISASI SESAT?


Aliran Sesat di Era Globalisasi Sesat

Oleh: Nurani Soyomukti

Aliran sesat bukan hanya fenomena di negeri ini, tetapi merupakan gejala yang terjadi di mana-mana. Kemunculannya tidak dapat dipisahkan dari perkembangan globalisasi kapitalis (neoliberal) yang memiskinkan dan mengakibatkan ketimpangan dalam berpikir dan menafsirkan realitas.
Di negeri ini, tidak dapat kita bayangkan jika melihat perkembangan dan dinamika pemikiran masyarakat dipisahkan dari perkembangan material sejarah itu sendiri. Sejarah berjalan sesuai dialektika material yang konkrit, tidak abstrak. Pemikiran, baik yang objektif maupun yang sesat (tidak objektif), lahir dari tingkat kemampuan manusia dalam melihat dan merespon perkembangan sejarah yang konkrit tersebut.
Dalam menilai munculnya aliran sesat yang terjadi akhir-akhir ini, nampaknya debat yang ada masih melibatkan dua kutub pemikiran yang berbeda dalam kasanah pemikiran keagamaan di Indonesia. Yang pertama adalah aliran fundamental yang memaknai gejala “aliran sesat” secara absolut sebagai bentuk penyimpangan ajaran Islam. Dengan pendekatan kaku dalam melihat hubungan realitas dengan teks, mereka menganggap bahwa aliran sesat harus dimusnahkan dan dihancurkan karena bertentangan dengan ajaran Islam yang sejati.
Yang kedua adalah pandangan yang keluar dari pihak Islam liberal yang selalu bernada relativistik dengan jargon demokrasi liberal yang meniscayakan hadirnya ruang kontestasi bagi segala aliran keagamaan karena masing-masing kepercayaan adalah hasil dari pergumulan spiritual juga. Kelompok ini menolak cara-cara kekerasan dan penggunaan wewenang agama dan Negara dalam mengatasi masalah pemahaman keagamaan karena intervensi Negara dalam hal kepercayaan dan keyakinan keagamaan akan menyebabkan terciptanya benih-benih fasisme yang berkedok keagamaan.
Aliran sesat harus dipandang sebagai penyimpangan bukan hanya dari sudut pandang keagamaan, tetapi juga dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Hal ini untuk mengevaluasi peradaban kita dalam kaitannya dengan pertanyaan apakah kemajuan produksi masyarakat dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi telah dapat mengiringi kedewasaan berpikirnya?

Fenomena Globalisasi
Seharusnya memang tidak perlu ada perdebatan tanpa ujung sebagaimana memperdebatkan tafsir agama selama ini hanya menimbulkan pertentangan yang tiada gunanya. Yang mengherankan selalu tidak dilihat dari mana dan bagaimana suatu pemikiran manusia berkaitan dengan reaksi dan responnya terhadap realitas masyarakat yang belakangan ini secara material mengalami kontradiksi tajam. Agama adalah bagian dari realitas dan perdebatan pemikiran keagamaan tidak pernah menyentuh realitas. Agama selalu memperdebatkan hal yang bersifat abstrak, tidak mampu mengarahkan penganut dan pemikirnya untuk melihat sumber dari kontradiksi itu sendiri. Kontradiksi material yang melahirkan kontradiksi pemikiran dengan perdebatan tanpa ujung-pangkal itu adalah ketimpangan ekonomi dan sistem penindasan yang eksploitatif di negeri ini.
Kesesatan berpikir adalah bagian dari mekanisme kekuasaan yang menginginkan manusia-manusia tidak lagi memahami persoalan dengan landasan akal. Masalahnya, selalu akallah yang menjadi alat bagi manusia untuk menyadari terjadinya manipulasi pengetahuan di bawah tatanan penindasan yang terjadi. Entah disengaja atau tidak, aliran-aliran sesat di era globalisasi harus dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari fakta bahwa kemajuan teknologi yang ada belum dapat mencerahkan umat manusia karena teknologi hanya digunakan oleh sebagian kecil pemilik modal untuk mencari keuntungan. Ada reaksi atas hak-hak monopolistik itu, tetapi sebagian besar ketidakpuasan tersalurkan dalam bentuk eskapisme, yang terwujud dalam bentuk munculnya aliran-aliran kepercayaan dan gerakan-gerakan yang menyimpangkan antara realitas objektif dengan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mendukung keseimbangan capaian teknologis yang ada.
Tak heran jika gerakan-gerakan yang beraliran sesat muncul dalam berbagai macam bentuk. Dua tahun setelah William Rees-Moff (mantan editor dari harian Times di London dan seorang Konservatif tulen) mengatakan dalam bukunya The Great Reckoning, How the World Will Change in the Depression of the 1990s, bahwa Jepang merupakan Negara yang aman dari aliran sesat karena masyarakatnya yang maju dan tidak retak, serangan gas yang mengerikan di jalur kereta bawah tanah Tokyo menarik perhatian dunia. Kegiatan teroristik itu dilakukan oleh sebuah kelompok keagamaan fanatik yang cukup besar. Serangan itu menyadarkan bahwa di Jepang krisis ekonomi telah menamatkan masa-masa keemasan tanpa pengangguran dan ketidakstabilan sosial.
Di abad 21 ini, globalisasi kapitalisme menyeruak dengan daya dukung hubungan social di mana kelas kapitalis memihak pada cara pandang yang rasional atas dunia tinggallah kenangan. Industrialisasi kapitalis berjalan—tentu saja dengan menekan upah buruh dan mengabaikan kesejahteraan rakyat di era kapitalisme neoliberal—dengan mengabaikan hak-hak masyarakat luas akan ilmu pengetahuan. Sekolah-sekolah dikomersialisasi sehingga banyak anak-anak dan kaum muda yang tidak mampu mengakses informasi, pengetahuan, dan ketrampilan. Film-film dan propaganda takhayul ditebarkan melalui medianya. Tujuannya adalah menciptakan keuntungan di kalangan pemilik perusahaan-perusahaan transnasional. Mereka tidak peduli bagaimana kemajuan masyarakat banyak. Bahkan sebagaimana terjadi di Negara-negara Barat, mereka mulai mengadopsi pemikiran konservatif dalam melihat perkembangan masyarakat.
Seakan terjadi pembalikan cara pandang, karena kemunculan industrialisasi kapitalis di Barat dulu dilakukan dengan mengalahkan pandangan konservatif Abad Kegelapan yang didasarkan pada takhayul. Kaum kapitalis begitu menjunjung tinggi renaisans (pencerahan) dan mendorong penyelidikan ilmiah dengan demokrasi dan kesetaraan sebagai prinsip perjuangannya. Di Perancis, negeri yang menjadi klasik dalam kancah ekspresi politik dari revolusi borjuis, kaum borjuasi di tahun 1789-93 melancarkan revolusinya di bawah bendera Akal. Jauh sebelum mereka meruntuhkan tembok penjara Bastille, diruntuhkannya tembok-tembok kokoh takhayul dan mistik di dalam benak kaum laki-laki dan perempuan. Di masa mudanya yang revolusioner ini, kaum borjuasi Perancis berwatak rasional.

Pentingnya Kesejahteraan
Sekarang ternyata lain. Dalam epos pembusukan kapitalisme sekarang ini, proses yang semula dijalani kini dijalankan ke arah kebalikannya. Mengutip Hegel, istilahnya "Akal menjadi Anti-Akal". Benar bahwa di negeri-negeri industri maju, agama "resmi" telah membeku. Gereja-gereja tidak lagi didatangi orang yang bersembahyang, dan semakin jatuh ke dalam krisis. Sebagai gantinya, kita melihat satu "wabah Mesir", bertumbuhnya sekte-sekte keagamaan yang aneh-aneh, yang diiringi dengan berkembangnya berbagai jenis ajaran mistis dan segala macam takhayul. Wabah fundamentalisme agama yang mengerikan, baik Kristen, Yahudi, Islam, Hindu.
Fakta itu adalah satu perwujudan dari kemandegan yang dialami masyarakat. Sejalan dengan semakin mendekatnya abad baru, kita dapat mengamati kemunduran yang dahsyat dari masyarakat, kembali ke Abad Kegelapan. Rasa kehilangan arah dan pesimisme menemukan cerminannya dalam segala macam cara, tidak harus selalu dalam bidang politik. Irasionalitas yang mendominasi ini bukanlah satu kebetulan belaka. Semua itu adalah cerminan psikologis atas satu dunia di mana nasib umat manusia dikendalikan oleh satu kekuatan yang mengerikan dan nampaknya tak dapat terpecahkan.
Jadi nampak jelas bahwa aliran sesat hanya akan dapat diberantas jika kita memiliki tanggungjawab untuk bertindak dalam mengatasi kontradiksi pokoknya yang ada dalam hubungan ekonomi-politik kita. Aliran sesat bukan hanya urusan agama, tetapi lebih dari itu ia adalah masalah ekonomi. Krisis kesejahteraan di negeri ini harus diatasi dulu agar ketimpangan masyarakat yang ada tidak menimbulkan ketimpangan daalam menafsirkan suatu realitas dan ajaran yang juga tak bisa dipisahkan dari realitas.***

Nurani Soyomukti, aktif di JAMAN (Jaringan Kaum Muda untuk Kemandirian Nasional) Jawa Timur; pernah menjadi peneliti tamu di International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta; penulis buku “Revolusi Bolivarian, Hugo Chavez, dan Politik Radikal” (RESIST BOOK, Yogyakarta); memperoleh penghargaan Juara I Lomba Esai Pemuda Tingkat Nasional MENPORA 2007.

Satu Lagi PRESIDEN PEREMPUAN ANTI-NEOLIBERALISME


Fernandez, Chavez, dan Kita

Oleh: Nurani Soyomukti*)

Saat di Indonesia sedang ramai diperbincangkan isu kepemimpinan nasional, Argentina baru saja merampungkan proses pergantian kepemimpinan baru dengan Cristina Fernandez de Kirchner terpilih dalam pemilihan presiden. Fernandez adalah suami Neztor Kirchner yang sebelumnya adalah presiden yang dapat dikatakan sebagai seorang pemberani karena pada tahun 2005 ia menyatakan mengutuk keberadaan perdagangan bebas kawasan Amerika (FTAA) dan menyatakan diri menolak pembayaran utang luar negerinya.
Tidak sedikit pengamat yang melihat bahwa kemenangan Fernandez tidak lepas dari popularitas Kirchner selama ini. Sulit bagi Fernandez untuk berbeda dalam garis kebijakannya dengan suaminya, apalagi dua hati dan pikiran (Kirchner dan Fernandez sebagai suami-istri) telah terpaut sejak keduanya kuliah bidang Hukum dan menjadi aktivis. Tetapi bukan berarti bahwa Fernandez tidak mampu mengalahkan keberhasilan suaminya. Perempuan yang pada tahun 1970-an aktif di organisasi Tendensi Revolusioner Argentina ini menang karena pendukung utamanya adalah “kaum papa” di Argentina.

Peran Chavez
“Kemenangan presiden baru Argentina adalah kemenangan seluruh perempuan Amerika Latin,” kata Presiden Venezuela Hugo Chaves. Hugo Chavez termasuk salah satu tokoh presiden tetangga yang pertama kali mengucapkan selamat, selain Lula Da Silva presiden Brazil. Hugo Chavez selama ini memimpin perlawanan terhadap AS dan neoliberalisme di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Fernandez terpilih dan akan menggantikan suaminya yang telah menjadi presiden yang cukup berhasil, juga sama radikalnya dengan Chavez, Morales, Ortega, dan tokoh-tokoh lainnya di kawasan ini.
Terpilihnya Fearnandez tak lepas dari mood politik Amerika Latin yang kian populis-sosialis. Peran terbesar dari munculnya tendensi tersebut dimainkan oleh Hugo Chavez yang selama ini merupakan tokoh yang paling lantang menyerukan perlawanan terhadap pasar bebas dan AS. Sejak awal Chavez bersikeras untuk meluaskan Solidaritas Internasional melawan imperialisme, menggagas pembentukan ALBA—Alternativa Bolivariana para las Americas, sebagai boikot terhadap FTAA—Free Trade Area of the Americas—yang disponsori oleh Amerika Serikat. Berbeda dengan FTAA, ALBA dimaksudkan untuk mendorong blok perdagangan berorientasi sosial, egaliter dan keadilan bagi kemanusiaan daripada logika pro-pasar yang selama ini dipergunakan yaitu maksimalisasi deregulasi profit.
Kekuatan pemerintahan revolusioner terletak pada partisipasi demokratik rakyat secara langsung lewat Lingkaran Bolivarian yang isinya adalah, serikat buruh, kaum tani, mahasiswa, NGO dan koperasi-koperasi dan kelompok demokratik lainnya. Gerakan massa sebagai benih-benih sosialisme memang telah lama ditempa di Amerika Latin. Berbeda dengan negara-negara Ketiga di Asia dan Afrika, investasi kesadaran politik kerakyatan dan strategi taktik gerakannya telah lama dilakukan. Hal itu tentunya sebagai reaksi atas neo-liberalisme yang lebih dulu dan lama dari pada negara-negara Asia dan Afrika. Pemretelan peran negara, pencabutan subsidi rakyat, privatisasi yang berakibat pada pemiskinan telah lebih dulu terjadi di kawasan tersebut.
Lebih dari dua dekade Amerika Serikat (AS) memaksakan neo-liberalisme pada negara-negara Di Amerika Latin agar dunia menyediakan kondisi lebih baik bagi bisnis perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Bagi banyak kalangan, kekuasaan ekonomi AS yang meluas, didukung oleh senjata dan pinjaman hutang lelihatannya tanpa perlawanan sama sekali. Tapi akhir-akhir ini, tidak dapat mengalahkan para milisi-milisi Irak yang melakukan perlawanan tiap hari, dan juga terciptanya aliansi yang cepat di Latin Amerika, kekuasaan globalisasi neo-liberal di bawah arahan AS seakan kelihatan tidak memiliki daya kekuatan lagi.
Tanggal 1 Januari 2005 barangkali adalah saat yang signifikan untuk menandai gejala itu di Amerika Latin. Pada tanggal itu, Free Trade Area of the Americas (FTAA) dianggap sebagai isyarat. FTAA adalah salah satu proyek kesayangan Washington—lembaga tersebut adalah andalan utama dalam merubah hambatan yang memusuhi perusahaan-perusahaan AS yang menjarah Amerika Latin. Tapi pada akhir tahun 2004, negosiasi FTAA telah dibekukan oleh pemerintah-pemerintah Venezuela, Brazil, Argentina, Bolivia, dan Uruguay yang menolak menegosiasikan masa depan rakyatnya secara lebih jauh.

Kepemimpinan Alternatif
Di negeri kita, sentimen anti-neoliberalisme belum bisa dikatakan menguat. Bahkan konon para ekonom liberal selalu mendominasi pemerintahan kita sejak jaman Orde Baru. Sementara para ekonom dan politisi dengan perspektif anti-neoliberal tidak mampu mengorganisir kekuatan politik yang solid.
Sekarang ini tingkat ketidakpuasan rakyat terhadap nasibnya kian membesar karena kehidupan mereka memang kian memburuk akibat kebijakan-kebijakan neoliberalisme, bahkan rakyat kian muak dengan watak elit yang tetap saja korup, aji mumpung, dan mengurusi kepentingannya sendiri (dalam menumpuk kekayaan). Corak perlawanan yang salah juga kian banyak terjadi, misalnya adanya konflik dan kekerasan bernuansa agam dan suku. Tetapi intinya, entah reaksi rakyat benar atau salah (objektif atau subjektif), potensi bagi pembesaran dan kemajuannya tak diragukan lagi.
Sekarang tinggal bagaimana muncul tokoh yang menjadi sang pelopor dan mampu memimpin reaksi massa tersebut. Yang jelas saat ini rakyat butuh penjelasan tentang apa yang terjadi dan tentang bagaimana kemudian cara merubah nasib mereka—setelah tahu apa yang terjadi (tahu bahwa mereka ditindas dan butuh merubah nasibnya). Harus ada sarana untuk memungkinkan rakyat berkumpul dan mendiskusikan persoalan-persoalan itu dan menbicarakan perubahan. Yang lebih penting juga mendorong agar massa rakyat terlibat aktif dalam kegiatan politik semacam itu.
Singkatnya, saat ini rakyat butuh alat politik bagi mereka untuk memperjuangkan nasibnya. Alat politik modern bagi perubahan sosial tentunya adalah organisasi atau wadah tempat berkumpul yang terikat dalam satu tujuan yang maju, yaitu pembebasan diri dari penindasan dan mewujudkan tatanan yang adil. Sekian banyak organisasi perlawanan dan perjuangan rakyat, maka harus didorong semakin banyak pula keterlibatan mereka secara aktif. Organisasi tersebut haruslah maju secara ideologis (anti penindasan dan mencitakan tatanan baru), secara programatik (dengan program-program yang mampu menjawab masalah yang ada), dan strategi-taktik (suatu cara untuk menyusun kekuatan dan mewujudkan tujuan).***

Selasa, 30 Oktober 2007

Kaum Muda Sebagai Agen
Counter-Culture (Budaya Tanding)

(Dimuat di KOMPAS Jawa Timur, Senin 29 Oktober 2007)

Oleh:
Nurani Soyomukti,
Juara Umum I Lomba Esai Pemuda Menteri Pemuda dan Olahraga 2007; aktivis Jaringan Kaum Muda untuk Kemandirian Nasional (JAMAN); pendiri Yayasan KOMUNITAS TEMAN KATAKATA (KOTEKA).



Momentum Sumpah Pemuda 1928 adalah momentum budaya tanding karena pada waktu itu kaum muda menggulirkan garis kebudayaan secara tegas. Pertama, mereka berupaya menggarisbawahi budaya persatuan dan kesatuan di kalangan rakyat dengan maksud untuk membuat garis yang berbeda dari kaum tua yang feudal, yang kebanyakan mendukung hegemoni kolonialisme terhadap kalangan istana untuk melanggengkan penjajahan. Kedua, kaum muda menyatakan pandangan politiknya terhadap independensi suatu masyarakat bangsa dari penjajahan asing.

Semangat menggulirkan budaya tanding itulah yang kini harus kita warisi karena kaum muda memang dikenal sebagai kalangan yang kritis dan berani, yang kadang juga berani berbeda dari budaya mainstream yang digunakan oleh kekuasaan sebagai topeng menyembunyikan penindasan.

Tantangan Globalisasi
Dewasa ini kaum muda memang menghadapi sebuah kekuasaan global yang menginginkan kaum muda tidak bisa kritis. Dalam kapitalisme global, ada dua hal yang bertentangan dalam segi kebudayaan: antara kebutuhan rakyat dan kaum muda untuk mencari-cari kreatifitas kebudayaaan pada saat hakekat manusia adalah menyalurkan aktualisasi dirinya melalui budaya (seni, gaya hidup, sastra, dan lain-lain) dengan konsepsi dan praktek kebudayan kapitalis yang cenderung menuju proses homogenisasi—yang melanggengkan penindasan pada aras hubungan ekonomi.

Dari sinilah kemudian kita masih saja dapat menemukan kaum muda yang kritis dan tidak semata-mata menuruti apa yang diarahkan oleh kebudayaan kapitalis yang represif. Kalangan kaum muda ini menciptakan suatu kebudayaan yang bahkan mencoba mendefinsikan realitas untuk melawan kecenderungan umum yang berkembang dan dikembangkan untuk menyangga tatanan ekonomi kapitalis. Inilah yang dalam istilah kebudayaan dapat disebut counter-culture (budaya tanding).

Istilah “budaya tandingan” (counter-culture) itu sendiri berasal masyarakat Barat. Rozak, dalam bukunya yang amat berpengaruh The Making of Counter Culture, menenkankan aspek oposisi dari budaya tandingan terhadap susunan masyarakat teknokratis-kapitalis yang mendominasi kebudayaan Barat di era tahun 1960-an. Masyarakat kapitalis waktu itu dianggap koruptif karena menekankan rasionalitas yang represif; rasionalitas yang membuat manusia terasing, homeless mind, serta—sekali lagi, apa yang disebut Herbert Marcuse—one-dimensional. John Milton Yinger, dalam bukunya Counter Culture (1982), mendefinsikan istilah “budaya tandingan” sebagai “seperangkat norma dan nilai dari sebuah kelompok yang secara tajam bertentangan dengan norma dan nilai dominan dalam masyarakat di mana kelompok itu menjadi bagiannya”.

Di Barat, para agen budaya tanding adalah kaum muda yang mengalami keresahan terhadap krisis kapitalisme yang memiskinkan dan juga dilakukan tak manusiawi dengan jalan perang. Para kaum muda ini menciptakan gaya hidup dan menciptakan produk seni, sastra, dan budaya yang kritis terhadap perkembangan kebudayaan dominan yang dianggap mengasingkan (alienating). Mereka seringkali disebut sebagai “generasi bunga” (flower generation) yang memperjuangkan kesetaraan.

Kaum muda berani menyatakan pikiran dan orientasi gerakan yang berbeda. Pertanyaan tersebut diwakili oleh syair lagu The Police yang berjudul “Born in the 50’s”: “We are the class, they couldn’t teach, cause we know better!” (Kami adalah generasi yang tak dapat mereka didik, karena kami memahami lebih baik). Budaya dominan yang menyebar dianggap tidak mampu memberikan apa-apa karena hanya dangkal dan beku, sedangkan kaum muda yang mampu merasakan dan mengetahui lebih baik ini menginginkan gaya hidup yang berbeda.
Di Indonesia budaya tanding juga menjadi ciri khas dari gerakan kaum muda yang dimuali dengan kemampuan untuk merasakan kontradiksi yang muncul. Gerakan mahasiswa melawan Orde Baru merupakan fakta sejarah yang paling menonjol. Pengaruh budaya tanding tahun 1960-an di Barat juga berimbas pada kaum muda yang mampu mengakses informasi dan ilmu pengetahuan ini. Gerakan kaum muda pun harus selalu tampil dalam setiap sejarah di mana kebudayaan dijadikan topeng kekuasaan yang menindas.

Sekarang ini, banyak orang yang pesimis pada kaum muda. Mereka diarahkan oleh media dan idola semacam “artis-selebritis” yang hanya menegaskan peradaban gosip, peradaban lisan yang selama berabad-abad membuat rakyat nusantara dibodohi oleh kekuasaan (feodal) di istana. Idola itu menghambat kemajuan peradaban literer (baca-tulis) yang diwariskan oleh aktivis pergerakan melawan penjajah melalui pers dan kesusastraan.

Pahlawan masa lalu mengajarkan pentingnya pena dan organisasi dalam menjawab perubahan dalam masyarakat kita yang berada dalam cengkeraman penindasan. Kebesaran R.A.Kartini, Ki Hajar Dewantoro dan tokoh-tokoh pergerakan seperti Raden Mas Marco Kartodikromo, Tirto Adisuryo, Semaoen, Haji Misbach; lalu Sutan Takdir Ali Syahbana (STA), Chairil Anwar; lalu Pramoedya Ananta Toer, WS. Rendra, Umar Khayam, Widji Thukul, dan lain-lain; semua menegaskan cita-cita pencerahan dan pembebasan rakyat melalui tulisan-tulisan dan gerakan kebudayaan.

Pahlawan masa kini justru membodohi anak-anak, remaja, dan orang dewasa dan menggiring mereka pada kehidupan satu dimensi: Pasar. Sekarang ini, di tengah-tengah masyarakat yang masih menggunakan bahasa dan kata-kata sekedar untuk menghafal nama-nama pemain sinetron dan sepakbola, sekedar untuk melihat berapa persen diskon harga baju yang lagi “ngetrend”, para pahlawan sejati masa kini karus mendekatkan bahasa dan sastra pada dunia kemanusiaan.

Lalu di manakah celah bagi munculnya budaya tanding di era sekarang ini? Kita harus percaya bahwa sejarah berjalan dengan berbagai macam konjungturnya. Akan ada epos di mana kaum muda dapat tampil kembali saat sistem yang dijalankan oleh kaum tua dan konservatif mengalami kebuntuan. Mereka akan memainkan perannya, sebagaimana selalu terjadi dalam sejarah.***

ZAKAT DAN KEADILAN SOSIAL

Zakat dan Keadilan Sosial

Oleh: Nurani Soyomukti


Dimuat di BATAM POS/Senin, 01 Oktober 2007


Terlalu utopis sebenarnya mengharapkan terjadinya keadilan dalam dunia pendidikan dari kedermawanan semacam zakat. Apa lagi dalam corak masyarakat kapitalis yang bersandar pada ideologi individualisme dan liberalisme sekarang ini. Setiap kedermawanan pasti akan dipandang sebagai perbuatan baik yang membuat hati sang pemberi sombong; atau akan mendapat yang diberi derma terus saja bergantung, tetapi mereka tetap malas dan tidak terberdayakan.

Solusi mengatasi kemiskinan dengan pendidikan lebih akan mampu menjembatani antara realitas kehidupan terkini dengan kualitas subjektif individu-individu yang miskin. Pendidikan pada dasarnya adalah hak setiap warga negara. Sehingga, berteriak pada masyarakat agar mendermakan hartanya untuk pendidikan sama saja dengan mengingkari kewajiban negara yang termaktub dalam UUD kita.

Dalam pandangan Islam sendiri pendidikan juga merupakan prasyarat muthlak untuk mewujudkan masyarakat yang kondusif bagi umatnya untuk terselamatkan dari keangkaramurkaan, yaitu kebodohan, ketamakan, dan ketidakadilan. Bahkan pendidikan bagi kaum tertindas ala Frerian nampaknya secara tegas adalah misi kitab suci Islam. Al-Qur’an memiliki alasan yang kuat kenapa orang miskin harus diberdayakan. Kenapa orang-orang yang ditindas harus dibela? Dan kenapa penindasan harus dilenyapkan? Al-Qur’an Surat Al-Qashas, ayat 5 menyebutkan: “Kami ingin memberi karunia kepada mereka yang tertindas di atas bumi, menjadikan mereka pemimpin dan pewaris.”

Dari ayat ini jelas, bahwa orang tertindas ”dikaruniai” Allah, sementara para penindas “dikutuk” Allah. Membela orang yang tertindas, dengan demikian, juga lebih mulia dari pada berdiam diri ataupun membela para penindas dan ikut melanggengkan penindasan. Selanjutnya, orang tertindas nampaknya juga memiliki potensi yang baik untuk menjadi ”pewaris” buminya sendiri dan juga ”pemimpin” yang baik dan adil. Hal ini sangat tepat. Pada kenyataannya, pemimpin yang jujur, baik hati, dan adil justru lahir dari orang yang dulunya tertindas. Logikanya, orang akan dapat merasakan kepedihan orang lain kalau dia juga mengalami sendiri kepedihan itu. Makanya, para pemimpin yang sering ”turba” (turun ke bawah) dan mendengarkan serta merasakan penderitaan-penderitaan rakyatnya, maka ia akan melakukan kebijakan yang memihak rakyat.

Zakat dan ajaran kedermawanan lainnya dalam Islam harus dimajukan lebih jauh agar ia tidak hanya menjadikan orang kata atau si penderma merasa berjasa atau sombong gara-gara mampu memberikan apa yang dianggap sebagai miliknya. Atau jangan sampai zakat dan pemberian hanya akan menjadikan kaum miskin hanya bergantung dari kedermawanan tetapi mereka tetap malas dan tidak merubah kualitas dirinya agar mandiri, memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalani kehidupan.

Bagaimanapun bukan pemberian yang menunjukkan orang Islam sebagai kalangan yang lebih tinggi di hadapan Allah. Iman bukan hanya dibuktikan dengan memberikan (apa yang dianggap) miliknya dan tidak menganggap bahwa kepemilikan tersebut berkaitan dengan hubungan dialektis dalam struktur ekonomi-politik. Kualitas keberagamaan seorang muslim secara tegas dihasilkan dari dialektika iman, alam, praksis—nilai-nilai kemanusiaan universal. Artinya, fi ahsani taqwin lebih sebagai cita-cita dari pada realitas manusia yang pada kenyataannya (terutama karena bentukan sistem sosioal) lebih mengikuti dorongan instink dari pada kesadaran sebagai mahkluk Tuhan yang sempurna. Tanpa semangat perlindung-an dan penghargaan terhadap nilai-nilai iman dan praksis (perbuatan kebaikan secara sosial) itu manusia akan terlempar dari posisi tinggi dan mulia tadi, justru akan dikembalikan derajadnya serendah-rendahnya, menjadi ”binatang” dan ”benda”: ”Kemudian kami jatuhkan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Terkecuali orang-orang yang beriman dan orang-orang yang banyak berbuat kebajikan” (QS 95: 5-5).

Kenapa agama selalu dipercaya sebagai jawaban bagi persoalan-persoalan sosial di masyarakat? Kenapa agama Islam mencita-citakan manusia sebagai mahkluk yang sempurna (manusia= fi ahsani taqwim)?

Kalau manusia percaya pada Islam, kalau manusia benar-benar takut dosa dan memuja kebajikan spiritual, maka mereka harus percaya bahwa Islam adalah agama yang benar dalam artian bahwa ia mengidealkan sistem dan hubungan sosial yang kondusif dan memungkinkan kita ini benar-benar jadi mahkluk yang sempurna. Sehingga, jangan mengaku kita orang yang beriman kalau kita tidak mau menggagas perubahan demi sistem sosial yang menje-laskan eksistensi kita sebagai manusia.


Keadilan Sosial
Kalau kita mempelajari kandungan Al-Qur’an, maka akan jelas bahwa Islam diturunkan melalui nabi Muhammad untuk merombak sistem sosial yang pro-penindasan. Akan tetapi, sampai saat ini, terutama di masyarakat kita, agama justru menjadi bahan tertawaan dan permainan yang menjauhkan manusia dari penyucian diri dari keseimbang-an alamiah dan ilahiahnya. Kalau ngomong Islam, agama yang dikenal sekarang justru hadir menjadi wajah ritual rutin, yang jangkauannya pada wilayah spiritual-mitologik semata, bukan wajah agama Islam sebagai penyelamat, pembela dan penyelenggara keadilan. Selama berabad-abad, umat Islam dan peradaban seperti kehilangan spirit religius-nya yang asli, yakni spirit keadilan. Keadilan dan kebajikan (al-‘adl wa al’ahsan) adalah suatu hal yang tidak dipisahkan: ”Sungguh, Allah mencintai keadilan dan kebaikan” (QS 16: 91).

Hakikat manusia sempurna nampaknya hanya akan tercipta kalau dalam masyarakat tidak ada kesenjangan ekonomi-politik, tidak ada penindasan. Selama manusia masih sibuk dengan urusan ekonomi dengan kesenjangannya, fiah sani taqwim tetaplah sebuah konsep utopis, karena manusia masih sibuk dengan urusan perut dan nafsu; sementara agama justru akan menjadi alat dengan kondisi manusia sebagai ”binatang ekonomi” ini. Artinya, hanya dalam masyarakat yang adil dan berpendidikanlah, kesempurnaan manusia akan dapat terwujud.***



*)Nurani Soyomukti, Esais dan pendiri Yayasan Komunitas Teman Katakata (KOTEKA).