Kamis, 27 Maret 2008

Budaya:

Ayat-Ayat Cinta Biasa (AACB)!

Oleh: Nurani Soyomukti*)

Hmmm…, akhirnya saya (terpaksa) harus terlibat untuk mengapresiasi film “Ayat-Ayat Cinta” (AAC) yang baru saya tonton setelah seorang kawan saya men-download-nya dari internet. Sebenarnya awalnya saya sudah merasa malas untuk menonton film ini sejak awal, bahkan ketika seorang kawan di Surabaya mengajak saya menontonnya di sebuah bioskop, waktu itu saya menolak dengan alasan bahwa saya sibuk—dan memang saya benar-benar sibuk pada waktu itu (sebenarnya hingga saat ini).


Tapi ketika saya terpaksa meminta bantuan Dedi—seorang kawan mahasiswa sosiologi Universitas Jember (angkatan 2004)—untuk menghilangkan berlaksa virus yang menjangkiti notebook saya: saya harus menunggunya dengan menonton AAC di PC-nya pada saat Dedi asyik mengotak-atik note book saya itu. Maka, sebagaimana kawan-kawan saya (sebenarnya tidak semua) yang sudah menonton film itu, akhirnya saya merasa punya kapasitas untuk memberikan catatan sesuai pandangan yang selama ini saya pegang.

Banyak komentar yang begitu membesar-besarkan keindahan dan kebagusan AAC. Bahkan waktu kawan saya me
ngajak nonton film tersebut, dia mengatakan bahwa AAC adalah film yang sangat bagus—tentu saja dia memberi penilaian seperti itu karena dikasihtahu temannya yang sudah nonton, atau besar kemungkinan karena ‘iklan’ yang (kelewat) besar-besaran.

AAC memang telah menjadi ikon maha dahsyat, bahkan seorang penulis muda produktif, kawan saya Deny Ardiansyah, menggunakan judul esai dalam tulisannya ‘Ayat-Ayat Parpol’—artinya judul film tersebut benar-benar masuk dalam wilayah bawah sadar khalayak di Indonesia. Ketenaran film ini bahkan membuat perubahan budaya, dari budaya non-literer menjadi budaya literer (sic!): karena beberapa kawan perempuan yang saya jumpai, yang awalnya sama sekali tidak menyukai (membaca) buku akhirnya berbondong-bondong mencari buku AAC dan sebagian besar dari mereka membeli buku itu—pada hal biasanya mereka lebih suka mengeluarkan uangnya untuk membeli lipstick bermerk oriflamme daripada membeli aksesoris untuk mendandani bagian dari tubuhnya yang sebenarnya dapat menjadi organ tubuh paling seksi, yaitu OTAK!

Memecahkan Rekor
Menurut saya, fenomena film “Ayat-Ayat Cinta” (AAC) memang benar-benar membuka kebuntuan budaya Indonesia yang selama ini hanya didominasi oleh kisah percintaan hedonis. Keheningan hedonisme pun pecah, nilai-nilai budaya baru dalam produk kebudayaan berupa filmpun digulirkan oleh para sineas muda. Film AAC pun mengalahkan kelarisan novelnya yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Apabila buku novelnya terjual 400 ribu eksemplar maka ketika difilmkan mampu memecahkan rekor penonton dengan menembus angka 3 juta. Berarti AAC menjadi film terlaris dalam sejarah perfilman kita. Sebelumnya ada film Eiffel I'm in Love yang ditonton oleh 2,9 juta orang dan Ada Apa dengan Cinta (AADC) dengan jumlah penonton mencapai 2,7 juta orang. Hingga sekarang film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu masih dipadati pengunjung.

Animo masyarakat yang membesar dengan ditunjukkan dengan membludaknya jumlah penonton film ini memang tak sulit dilacak sebab-sebabnya. Kesuksesan film bukanlah misteri, tetapi sebab-sebabnya dapat diukur. Orang seringkali mengaitkan kesuksesan suatu produk estetik dengan beberapa hal seperti kualitas estetika, idealisme, dan kepekaan terhadap (tuntutan) pasar.

Kualitas estetika film AAC tak diragukan lagi karena dengan biaya yang besar film ini mendapatkan penggarapan yang serius dengan teknologi yang tidak karbitan. Kapitalis industri perfilman, Ram Punjabi pun ada di belakang pendanaan film ini. Dari sudut ini, upaya mencari keuntungan dalam industri film tentu saja juga berkaitan dengan salah satu kemampuan yang paling dibutuhkan dalam ‘penjualan’ film sebagai sebuah produk komersial, yaitu kemampuan membaca tuntutan pasar.

Karya sekaligus produk komersial sinematografis baik berupa film layar lebar maupun elektronik (film TV, sinetron, telenovela, dll) yang mengangkat tema-tema relijius dan mistik sudah dapat dibaca sesuai dengan kebutuhan psikologis bagi masyarakat Indonesia yang pola pikir ilmiahnya semakin kering. Mistik dan reliji menjadi semacam hiburan atau ekstase pada saat berbagai gejolak dan krisis sosial di ranah ekonomi budaya kian menyeruak.

Sebelumnya tayangan-tayangan dan film-film gaib, mistik, dan reliji yang ditayangkan, baik di layar lebar maupun TV, mendapatkan sambutan yang meriah di kalangan masyarakat. Film-film religius picisan tersebut dipertontonkan sebagai sarana pengusir hantu, jin, setan, dan sebagainya. Bahkan, tak jarang disuguhkan pencitraan Tuhan yang kejam dan tanpa rasa welas-asih terhadap pendosa. Pencitraan tersebut berdampak buruk pada persemaian konsep teologis anak-anak, generasi muda, dan mereka yang awam terhadap agama Islam.

Selain itu juga belajar dari fakta bahwa kisah cinta adalah kisah yang tak dapat ditinggalkan dalam dunia film dan sinetron. Memang sejarah fiksi baik karya sastra maupun sinematografi hingga saat ini tak dapat melepaskan diri dari kisah cinta, pada hal hidup di dunia tak hanya urusan cinta. Cinta hanya menjadi bagian kecil saja. Masih ada kisah riil yang terdiri dari hubungan-hubungan sosial yang berlandaskan pada upaya manusia dalam menjalankan kehidupannya, kisah gagalnya pemenuhan kebutuhan hidup sebagian rakyat yang disebabkan oleh kondisi penataan hubungan material-ekonomis yang timpang dan tak harmonis. Ada kesedihan, kegagalan, kenekatan dan amoralitas yang tidak semata-mata disebabkan oleh hilangnya cinta atau rasa, tetapi oleh hilangnya akal dan pengetahuan. Solusi cinta reliji dan cinta eksklusif romantis akan kontradiksi kapitalisme terbukti hanya menjadi ilusi dalam kehidupan sehari-hari rakyat jelata yang butuh tindakan konkrit dan berani untuk mentransformasikan ekonomi agar hidup mereka sejahtera.

Dan masih cinta eksklusiflah yang hingga saat ini mendominasi kisah sinetron dan film-film yang ada. Berseberangan dengan kisah vulgar film relijius, ada kisah cinta hedonis, yaitu kisah cinta yang melulu berkaitan dengan hawa nafsu dan pengumbaran aurat serta propaganda gaya hidup glamour-kapitalistik.

Polesan Cinta dengan Ayat-Ayat
Nuansa cinta yang hendak diangkat dalam AAC seakan ingin mengompromikan vulgarisme kisah relijius dengan hedonisme cinta sebagaimana selama ini terkisahkan dalam produksi film-film dan sinetron yang telah ada. Hasilnya adalah kisah film yang sangat romantis tetapi tidak menghilangkan pakem relijius yang ada.

Di sinilah kekuatan cinta dari film AAC yang menarik perhatian dan menyedot khalayak untuk menonton film yang d
apat dikatakan menandai sejarah film Indonesia ini, baik dari rekor penjualan tiket maupun genre baru dalam film Indonesia—terutama keberhasilan fiksi Islami ala Forum Lingkar Pena (FLP) dan gerakan Islam modernis yang mengajukan solusi hukum Islam di Indonesia untuk menggulirkan ideologinya melalui film.

Sepintas, film AAC sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film remaja dan kalangan dewasa pada umumnya. Tema-tema kemanusiaan, pluralisme, kesederhanaan, kesetiakawanan, serta romantisme percintaan disuguhkan dengan mendayu-dayu. Tujuan ideologisnya tercapai karena film AAC mampu menampilkan romantisme percintaan yang dipoles dengan nilai-nilai agama (Islam).

“Dalam agama saya tidak ada pacaran, yang ada adalah ta’aruf dan setelah itu menikah”, begitu penjelasan Fahri pada seorang perempuan muda yang berperan sebagai peneliti dari Amerika Serikat. Artinya, film ini hendak menegaskan bahwa cinta hanya dapat dilakukan dengan pernikahan dan harus dikaitkan dengan ajaran Islam. Dan banyak argumen teologis lainnya yang keluar dari dialog dalam film ini.

Solusi hati atau “manajemen kalbu” dari masalah kehidupan manusia disuguhkan, bersamaan dengan cinta yang mirip mu’jizat illahi dari mereka yang menyerahkan dirinya untuk berbuat baik, pasrah, berdo’a dan kesederhanaan serta kebaikhatian yang (seakan) konsisten ala Fahri akan menarik hati banyak manusia. Kebaikhatian (kedermawanan), kesederhanaan, dan relijiusitas Fahri membuat banyak perempuan jatuh-cinta. (Meskipun karena cinta inilah seorang perempuan begitu tega menjalankan fitnah, artinya perasaan yang dibangun oleh hati sekalipun tak terdiri dari satu sebagaimana kehidupan punya banyak dimensi).

Tetapi, secara ideologis film ini masih gagal—terutama jika kita menginginkan bahwa film adalah media pendidikan yang dimaksudkan untuk ikut membangun humanitas, spiritualitas, dan harmoni sejati dari kehidupan. Sebagaimana film-film romantis-eksklusif, film ini gagal menggambarkan konteks sejarah di mana kisah tokoh-tokoh di dalamnya berada dan bagaimanakan sejarah tersebut dibentuk dan membentuk umat manusia. Kesedihan dan kebahagiaan di dalamnya, sebagaimana kita jumpai di banyak sinetron, adalah milik segelintir kelompok elit. Kisahnya elitis dan eksklusif karena film ini adalah kisah kaum kelas menengah ke atas, kaum miskin dan tertindas tak diangkat.

Menurut saya, film “Mendadak Dangdut” dan “Mengejar Mas Mas” besutan Rudi Sujarwo lebih realis dan adil karena—meskipun mengangkat tokohnya yang berasal dari kalangan menengah ke atas—disajikan kesadaran bagi para tokohnya yang akhirnya melek pada kehidupan yang sebenarnya, yaitu realitas kemiskinan dan suara-suara kesedihan (tangisan dan rintihan) orang-orang miskin: bagaimana TKW yang dianiaya majikan, bagaimana dekadennya pikiran dan tindakan kalangan miskin, bagaimana menderitanya kalangan yang terpinggirkan seperti perempuan pelacur.

Dalam AAC, kisah cinta yang eksklusif di dalamnya juga berakibat pada konflik yang ada, yaitu hanya konflik seputar rebutan cinta dan antar-pasangan yang saling ingin “memiliki”. Tokoh-tokohnya pantas dicontoh
hanya karena kesederhanaannya, tetapi yang harus diingat adalah bahwa mereka adalah para pejuang cinta eksklusif yang sedang kuliah atau meniti karier pribadi dan kebetulan dituntut untuk menikah (memiliki pasangan dengan formalitas-legalitas agama).

Maka kita akan tiba pada kisah tentang legitimasi poligami dalam film ini, kata kunci dari film ini yang tujuan ideologisnya adalah menyangkal gerakan anti poligami yang masih kuat di kalangan gerakan demokrasi. Film ini ingin menampilkan bahwa poligami itu romantis dan lahir dari kesederhanaan, kebaikan, dan keelokan laki-laki—Fahri sebagai laki-laki yang diperebutkan. (Pada hal dalam kenyataannya poligami lahir dari laki-laki yang menginginkan perempuan lainnya lagi karena sudah bosan dengan perempuan pertama).

AAC telah mendapatkan sambutan yang meluas, bahkan para petinggi Negara juga banyak yang menontonnya. Kita harus menyambutnya sebagai sebuah film yang merupakan hasil dari proses kreatifitas para sineas muda, yang tentu saja masih mencari-cari keindahan estetis sebuah karya seni-budaya, serta mencari-cari dan meraba-raba muara ideologis dari pertarungan sejati kemanusiaan yang diangkat dalam sebuah film. Manusia-manusia dengan kisah cinta relijius itu disuguhkan dihadapan kita, kita harus menerimanya tetapi tetap melontarkan catatan-catatan kritis—bukan hanya tentang filmnya tetapi tentang efek sampingnya bagi perkembangan kebudayaan dan kemanusiaan. Wallahu’alam!

Rabu, 26 Maret 2008

Undangan Bedah Buku(ku) PENDIDIKAN BERPERSPEKTIF GLOBALISASI


























Undangan Terbuka:

Mohon Kehadiran Kawan-kawan dalam “Bedah Buku” Saya “PENDIDIKAN BERPERSPEKTIF GLOBALISASI”

Hari/Tanggal: Kamis/27 Maret 2008
Jam: 14.oo
Tempat: Gedung PKM Universitas Jember
Pembicara: Saya, Ahmad Sudiyono (Diknas Jember); Adzkiya (Mahasiswa S2 UGM)

Mohon Kehadirannya untuk memperkaya wacana dan dialektika pemikiran bagi tindakan selanjutnya…
Terimakasih.


Nurani Soyomukti

Minggu, 23 Maret 2008

Puisi Perjalanan:

Desa-desa yang Kulewati

Oleh: Nurani Soyomukti


Desadesa yang kulewati menyimpan lukaluka
Ada lima desa dengan lima luka.

Luka pertama:
Tepat di danaunya ada nanah berlumpur
Dan kumankuman peradaban menikmati malam tanpa bulan
Orang-orang yang dipinggirnya hanya duduk diam
Menahan marah pada kekuasaan.

Luka kedua:
Tepat di kawahnya ada genangan darah
Yang pernah muncrat
Sedikit yang selamat.




Luka ketiga:
Nanah bergetah tepat dilehernya
Pohon-pohon tumbang hilang kepalanya
Seorang laki-laki juga kehilangan kepalanya
Setelah ia lewat di suatu bulak pada suatu malam,
dengan tas berisi uang hasil curian.


Luka keempat:
Tepat di dadanya
Gunung-gunung kehilangan tumbuh-tumbuhan
Kulit-kulitnya sobek, dagingnya rontok menenggelamkan
Rumah-rumah yang di dalamnya penuh jelaga.


Desa kelima:
Desa itu tak kelihatan lukanya
karena air bah
entah kapan mengering.
Musim kemarau belum juga tiba.


*) Pandegiling Surabaya/ Maret 2008

Fiksi Tentang Dunia Masa Depan:

Angkasa Manusia

Oleh:
Nurani Soyomukti*)




DUNIA pernah merengek dalam otaknya.


Semua desa semua kota yang telah dilihatnya termakan usia kabel listrik yang mengikat satu-satunya peradaban yang ditinggalkan, tapi seakan masih berputar-putar di kepalanya. Dia telah meninggalkan satu ruang hampa di angkasa di mana ia telah melihat-lihat secara teliti bumi dan isinya dari kejauhan. Berarti cita-citanya untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang pernah diceritakan kakeknya telah terwujud. Sayapnya menjadi budak keinginnya, beberapa kepakan ia telah bisa meluncur melebihi kecepatan cahaya.

Tahun 9008.

Ia kini telah terbang lagi dan ingin mampir di suatu tempat. Dan ia juga pasti akan pergi ke tempat lain dan pindah ke tempat lain lagi sekedar untuk menuruti peran angina pada sayapnya, yang pada saat mendekati planet bumi udara itu hanya rebut di ketiak pelacur malam yang keringatnya berbau kemenyan.

Ia masih terbang dan bumi telah jauh ditinggalkan. Tapi ingatannya masih lekat pada planet itu karena nenek moyangnya lahir di sana. Di planet itu pula berbagai musim yang mengunyah nama-nama indah yang sekedar mengikuti tuntutan merk-merk celana dalam yang harganya memuncak pada depresi ekonomi manusia bumi pada tahun 3070-an. Kata-kata kakek moyangnya konon tak lagi laku karena manusia penghuni bumi tiba-tiba tak lagi menyukai puisi, setelah sebelumnya banyak telinga yang asyik mendengar jeritan wanita Cina yang diperkosa di Jakarta pada beberapa abad sebelumnya yang gaungnya masih terdengar beberapa abad kemudian.

Ia memang pernah mendekati planet itu pada suatu jarak tertentu. Planet itu memang seperti mati. Tapi ia sadar, barangkali ia tak memperhatikan seluruh permukaannya.
Ia sudah menempuh jarak yang jauh. Kini ia lambatkan kepak sayapnya, suatu anggota badan yang bisa membawanya terbang sesuai kecepatan yang ia inginkan. Anggota badan itu adalah hasil evolusi ribuan tahun, hingga makhluk sejenis ia mampu mewujudkan cita-citanya, menjelajahi jagat yang dulu oleh generasi nenek moyangnya dianggap sebagai utopia.
Pemuda itu jadi teringat cerita kakek buyutnya, bahwa evolusi jagat telah membuat umat manusia tidak hanya tersebar di atas bumi yang pada akhirnya menjadi planet paling membosankan. Bahkan belakangan akhirnya planet itu sepi penghuni. Evolusi itu adalah hasil dari kontradiksi alam, yang pada waktu-waktu panjang setelahnya menghasilkan kualitas baru pada keberadaan materi-materi di jagat ini.

Dan orang-orang sejenis kakek buyutnya harus menghadapi masalah besar. Beberapa ribu tahun setelahnya, orang-orang ditemukan bisa terbang, karena tak mungkin bisa hidup di dalam laut setelah cairan es di kutub utara meleleh akibat pemanasan global. Hanya ada beberapa pulau yang masih bisa ditinggali, tapi orang-orang berebutan untuk menempatinya. Entah masih ada atau tidak pulau itu sekarang.

*
Kini ia telah sampai di angkasa bebas. Planet bumi tak lagi kelihatan. Di sekelilingnya bertebaran batu-batu langit yang indah, dalam berbagai ukuran, beberapa di antaranya mirip dengan wajah manusia, juga ada yang mirip rumah.

“Mungkin para pengembara angkasa telah membentuknya”, gumamnya, “Inikah kemampuan artistic yang bisa dilakukan di mana saja oleh manusia-manusia angkasa. Apakah mereka selalu singgah di batu-batu indah yang mirip rumah untuk menulis puisi, lalu terbang ke lain tempat untuk memberikan puisi itu pada manusia angkasa lainnya?”

“Konon di jaman kakek moyangku puisi-puisi itu bisa dibaca setelah dicetak jadi buku lalu diperjual belikan. Bahkan tak banyak orang yang menulis puisi karena sebagian besar manusia hanya hidup untuk memenuhi perutnya. Hanya manusia-manusia yang tinggal di gedung-gedung mewah dan kalangan tertentu yang sering membuat puisi. Kini manusia-manusia bebas terbang dan bikin keindahan apa saja di mana-mana: mengukir bintang, menulis kata-kata pada kabut angkasa, dan memahat nama kekasihnya di batu-batu yang bertebaran”, gumamnya.

Gumamnya berhenti ketika ia harus memfokuskan pandangannya di sebelah benda berupa bebatuan yang agak jauh di sana. Ada sesuatu yang bergerak ke arahnya. Mendekat, memiliki sayap seperti dirinya. Itu juga pasti manusia, pikirnya. Dan dia juga pasti senang terbang mengembara.

Ia lambaikan sayapnya. Dan makhluk di kejauhan itu mendekat. Seorang gadis cantik berambut pirang, bersayap perak mengkilat, dengan bulu-bulu yang lebih pendek dari miliknya.

“Hai!”, sapanya.
“Hai”, jawab gadis yang bulu-bulunya kelihatan lembut itu.
“Dari mana saja engkau melampiaskan impianmu?”
“Aku sedang mencari sesuatu. Apakah kau memiliki alat pencatat waktu?”
“ Tahun 9008; hari ke 221; pukul 08.45… Oh ya, dari mana saja kau mampir? Dan tempat apa yang membuatmu begitu cantik?”

Gadis itu tersenyum tersipu. Begitu manis. Pemuda itu mendekat, dia menghampirkan hidungnya pada rambut yang terurai itu. Dan gadis itu juga mengenduskan hidunya ke sayap pemuda itu.






“Aku dari suatu bintang yang indah. Aku akan membawamu ke sana kalau kau menginginkannya. Kamu pasti baru mengembara mengitari planet bumi. Lihatlah, nafasmu juga berbau besi”.

“Mari kita bercerita dulu agar segala sesuatu bisa terjadi”.

Keduanya mengepakkan sayap, terbang menuju sebuah pulau batu bercahaya. Namanya adalah Bintang Kejora.

“Tentang pertanyaanmu mengenai bumi… aku tak hinggap di sana. Aku hanya melihat dari suatu jarak. Aku senang, karena dapat membuktikan apa yang sering dikisahkan kakek nenekku dulu. Aku meneliti. Dan hasilnya akan kusebarkan untuk manusia-manusia angkasa seperti kita”, ia memulai ceritanya.

“Kamu belajar sejarah?”

“Ya. Itu pesan kakekku dan aku ingin jadi orang yang pandai bercerita seperti dia. Di angkasa kita jarang berjumpa dengan manusia-manusia yang sama, bukan? Karena kita lebih senang berkeliling dan mengembara merayakan keberadaan galaksi yang begitu luas. Pertemuan yang singkat akan berguna bila menghasilkan banyak cerita, banyak kata-kata tentang riwayat kehidupan.

“Konon dulu bumi begitu penuh sesak. Dan karena itulah ia tak begitu mampu menampung kehidupan, selain karena ada beberapa manusia serakah yang ingin berkuasa sendiri dan mengusir manusia-manusia lain. Ada yang membuat senjata pemusnah massal agar ia berkuasa dengan mesin-mesin mematikan”.
“Oh, apa yang sebenarnya terjadi di bumi?”, Tanya gadis itu penasaran.

Lalu pemuda itu melanjutkan ceritanya:
... Di bumi, berbagai musim itu sebenarnya telah menghafal nama-nama orang besar di sana yang kadang diabadikan di museum, kadang nama-nama nabi dan bahkan para pengacau Negara yang paling terkenal, yang terpahat pada dinding-dindingnya yang pandai memilih ruang. Buyutku sempat mampir ke museum itu beberapa abad yang lalu: Manusia-manusia di sana yang berdesak-desakan tengah asyik melihat tubuh tuhan yang menjadi mumi terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Banyak yang merasa kehilangan atas kematiannya sepuluh abad sebelumnya—sebelum Tuhan sendiri tak sempat melihat wajah-Nya sendiri di layar TV untuk memberi kata sambutan dalam upacara rutin hari-hari manusia yang menerima beribu-ribu peran yang hampir sama tetapi sulit dijelaskan oleh para ilmuwan yang kebanyakan waktu itu hanya bisa menghasilkan obat sakit kepala, sikat gigi, sabun mandi; juga tak mampu dikonseptualisasikan oleh para ideolog-ideolog gila.

Tapi, seperti kakekku, ada sebagian kecil manusia-manusia bumi yang suka mengembara. Ia selalu membawa satu sisa peranan yang dipelajari dari pencarian akan keyakinan hidup saat dunia senantiasa merengek-rengek seperti bayi. Dan buyut perempuanku, bagai seorang ibu yang menciumi bulan kesayangannya pada hari yang telah tiba. Ia yang berparas cantik, mungkin sepertimu, meninggal dunia sebelum kakekku mengenal A-B-C. Ayahnya pergi lebih dahulu lima tahun setelah ibunya melahirkannya, terbunuh dalam perang sengit antara hutan belantara dan gedung bioskop.

Aku, yang baru melihat berjuta-juta perang di atas bumi, merasa bangga memiliki seorang buyut yang menyucikan dirinya dengan cara memasukkan tubuhnya ke layar lebar. Setelah itu, kata kakekku, beliau terbunuh dalam adegan film horor yang pertama pada abad duapuluh—konon sebagian penonton saling memeluk lawan jenisnya, dan mereka tiba-tiba menjadi monyet-monyet yang telah terseleksi sesuai dengan kemampuannya membeli tiket masuk.
Kakekku adalah tipe orang yang menuliskan riwayatnya sendiri, juga tentang dunianya yang dialami. Ia berikan catatan-catatannya pada ayahku, lalu ayahku mewariskannya padaku.
Dalam riwayat itu dikisahkan bahwa kakekku pernah masuk ke gedung bioskop—saat pula yang terlihat di layar lebar hanyalah peran-peran yang pernah ia jalani. Iapun merasa harus segera keluar dan menjalani perannya sendiri. Lalu berjalanlah ia dari waktu ke waktu, menyusuri hutan-hutan, pepohonan, besi dan kawat yang lebat. Setiap kali, yang bernama keinginan dalam aliran darahnya merambat seperti mobil-mobil yang meninggalkan kantor, hotel, dan restoran. Dia belum pernah tersesat dalam aliran darahnya sendiri, kecuali dalam bahasa dan argument-argumen.

“Tunggu dulu”, gadis cantik itu menyela, “Berapa umur kakekmu?”

“Kurang lebih empat ratus tahun”, jawab pemuda itu.

“Oh, ya ampun. Evolusi itu begitu sempurna. Berarti kita akan berumur lebih lama dari itu”.

“Ya, karena kita manusia angkasa. Harapan dan kenyataan kita selalu nyambung. Kita bisa terbang kemana saja, kita tak ada beban-beban psikologis. Zat-zat di angkasa juga membuat tubuh kita awet dan tetap muda”.

“Betapa nelangsanya manusia-manusia bumi”.

“Kakekku setelah masa transisi, awal hilangnya manusia-manusia bumi hingga beranak-pinaknya manusia angkasa seperti kita. Jadi kisahnya agak trajik”.
“Berbahagialah kita manusia angkasa. Tak seperti di sebuah planet yang bernama bumi”, gumam gadis itu. Sayapnya terlipat, dan kepala dengan rambutnya yang terurai disandarkan pada pundak pemuda itu. Lalu dia kembali berucap: “Apalagi yang ditulis oleh kakekmu yang, menurutku, legendaries itu?”

Kakekku bercerita dalam buku riwayat itu, kalau keyakinan yang dipegangnya bisa membimbingnya pada tempat mana saja yang bisa dituju, kebanggaan pada apa yang dijalaninya akan melantunkan lagu-lagu cinta yang mengalir bagai sungai-sungai yang belum tercemar oleh industri kemunafikan.
Ia menuliskan:

… aku menari-nari dan menyanyi saat keluar dari batas kota tempat menjalani ritualitas peran tubuh: melayani listrik, melayani obat sakit ginjal, memberi hormat pada kulkas, memberi makan anjing penjaga pabrik alamat kelamin, menyusuri jalan dalam kabel tilpun, sesekali menyembunyikan diriku yang lelah dalam flasdisk—ataupun menjalani kenyataan bahwa bumi yang merindukan hutan belantara sedang mengandung anak-anak gedung yang terbuat dari kaca.

Diagnosa keyakinanku mengatakan bahwa dugaanku pada masa depan itu telah melampau batas yang ditetapkan oleh malaikat-malaikat dan bidadari-bidadari cantik malam ini. Aku akan terus berjalan sepanjang imajinasiku dapat merealisasikan kebekuan-kebekuan cinta masa lalu. Dan ini adalah kemampuanku bercakap-cakap dengan hawa malam; hanya karena aku telah menyangkal hari-hari yang panjang, keinginan yang menghiburku tentang perjalanan esok hari.

Aku adalah penjual suara-suara melodi Cinta pada alam yang kulewati, musim yang memanggil-manggil sesuatu yang dipuja oleh segala ciptaan Tuhan—manusia yang datang dari lembah-lembah kerisauan.


Pada saat beliau tiba di situ, bukit cinta terletak di sebelah utara desa, tempat kakekku mampir minta belaskasihan pada orang yang menunggu musim hujan. Waktu itu mereka tak me,mberi apa-apa. Mereka sendiri juga kelaparan. Dan kakekku baru tersadar bahwa kemarau panjang telah mengeringkan sungai-sungai kerinduan, membuat kepercayaan pada takdir menjadi dangkal.

Dilanjutkannya perjalanannya melalui berbagai bukit dam lembah yang belum pernah diperkosa besi baja. Diterjangnya kemarau dan hujan. Lalu ia sampai pada sebuah malam. Ia bercakap-cakap dengan udaranya yang dingin—itulah salah satu kemampuannya dengan bagian dari alam.

Kakekku waktu itu bergumam:

Malam apa ini, Tuhanku? Lembah yang luas memiliki malam yang penuh kunang-kunang, meskipun bulan menyembunyikan wajahnya di punggung gunung yang terbaring, seperti menggeliat, bagai tubuh yang terangsang bara kasih cinta alam Tuhan, dan yang berkata: ‘Kemarilah kau bulan!’

Malam yang aneh, Tuhan. Mengapa malaikat yang cantik itu tak mau datang untuk menari-nari bersama melodi cintaku. Kenapa mereka sepertinya meninggalkan tempat ini, bahkan sebelum membuat batas-batas untuk mengukur berapa luas hutan ini? Siapakah yang menjamah hutan ini sebelum diriku datang kemari? Bukankah tiada seorangpun yang berani memasuki hutan kebesaran-Mu tengah malam begini selain aku? Kenapa tak ada yang menyambutku sebelum aku melanjutkan perjalanan, sebelum matahari beringsut membuka wajah paginya?


“Tahukah kau, itulah awal berbagai kejadian aneh di atas bumi sebelum kejadian yang dahsyat itu datang meluluhlantakkan peradaban bumi manusia kala itu!!??”, ungkap pemuda itu pada gadis manis berambut indah bersayap perak yang dari tadi terus menikmati kata-kata yang keluar dari mulut pemuda itu.

“Lalu, evolusi itu terjadi begitu panjang hingga manusia angkasa menjadi spesies yang bertahan hidup, dengan cara membuat sayap, dan dipenuhi dengan impian lebih tinggi… Tapi sayap ini seperti tumbuh begitu saja, seakan sudah ditakdirkan Tuhan”, kata gadis itu.
“Mungkin nenek moyangmu pernah bercinta dengan burung dan turunlah gennnya. Sebab dikau cantik seperti burung merpati”.

“Ah, engkau bisa saja. Kau juga mirip elang”.

“Yang jelas apa yang terjadi di dunia ini adalah sebuah kejadian yang luput di dalam hati. Kukira itulah yang menyebabkan segala sesuatu seakan telah ada tanpa sebabnya”, tukas pemuda itu. Ia diam sebentar, kemudian memandangi gadis itu dan berkata:
“Oya, di manakah tempat indah yang kau maksud tadi? Apakah kau masih punya ayah-ibu dan saudara yang tinggal di sana?”
“Tidak. Aku sendiri. Aku temukan tempat itu, dan aku menghiasnya. Aku namai sendiri bintang itu”.
“Kau hebat..”
“Dan aku ingin seorang menulis kisahnya”.
“Aku mau menulisnya, untukmu!”
“Kita akan kesana sekarang?”
“Kita juga akan bercinta, kan?”
“Membuat anak?”


Dua manusia muda-mudi itu terbang meninggalkan bintang itu. Mereka beriring-iringan. Kini bintang itu sepi. Tapi tidak mencekam seperti bumi.

***

Retype in Jember, 19 Maret 2008

Jumat, 21 Maret 2008

Resensi Bukuku di PenulisLepas.com:

Penantang Baru AS Pasca Castro

Judul : Hugo Chavez Vs Amerika Serikat

Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Garasi - Yogyakarta
Cetakan I : Februari - 2008
Tebal : 132 halaman

Oleh: Ahmad Makki Hasan, Mahasiswa PPs. UIN Malang & Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang.

Jika imperialisme AS berhasil mengonsolidaikan dominasinya,maka umat manusia tidak mempunyai masa depan.Oleh karenya, kita harus menyelamatkan umat manusiadan mengakhiri imperialisme AS” (Hugo Chavez)


Pemimpin Venezuela itu kini gencar-gencarnya membangun kekuatan baru. Setelah Kim II-Sung, Deng Xiaoping, Peron, Nikita Khrushchev dan Broz Tito meninggal serta baru-baru ini pemimpin “diktator” Kuba, Fidel Castro, meletakkan jabatannya, kini dialah yang menjadi satu-satunya yang tengah eksis dan menjadi penentang kekuasaan hegemonik dalam konstelasi perpolitikan dunia. Seakan-akan pemimpin revolusioner itu merupakan penjelmaan Napoleon, Hitler dan Stalin pada abad ini.

Sentimen Hugo Chavez dan barisan pemimpin Amerika Latin lain saat ini tengah dipersatukan oleh mengguritanya tekanan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Dengan menganggap liberalisasi perdagangan dan sistem ekonomi kapitalistik bukannya menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan sebagaimana yang didalihkan AS selama ini. Namun, justru malah memperburuk dan memperparah kehidupan sosial-ekonomi.

Konsekuensi logis dari aksi-aksi hegemonik AS terhadap negara lain itu memantik terbitnya kebencian bersama yang mendalam. Simpati yang kemudian bergeser menjadi antipati. Itulah simpul yang menyatukan presiden Venezuela, Hugo Chavez, berserta sejumlah pemimpin Amerika Latin lainnya. Bahkan presiden Iran, Ahmadinejad, sekarang juga getol menentang keras terhadap segala dominasi negeri Paman Sam di dunia. Lebih-lebih isu nuklir di dalam negerinya dan Timur-Tengah seputar Palestina dan Israel.

Dalam beberapa dekade, hegemoni AS merupakan sekelindan ambisi untuk menjadi penentu politik dunia, polisi dunia dan sekaligus penguasa ekonomi, industri dan perdangan dunia. Hal ini diperkuat dengan rezim-rezim “populis” internasional yang dibentuknya. Sebut saja “rezim” moneter IMF, Bank Dunia, WTO dan lain sebagainya. Keberadannya memperburuk dan memperparah tatanan kehidupan sosial-ekonomi serta gagal menanggulangi disparitas antara si kaya dengan si miskin.

Untuk melawan imperialisme AS dan Barat, Pemimpin progresif itu memiliki beribu cara bahkan cukup unik dan berani. Setelah melakukan nasionalisme perusahaan asing, kini, Caracas membatasi penggunaan bahasa Inggris. ’’Berbahasa Spanyollah dan katakan dengan bangga’’, slogan ini menjadi senjata Presiden Chavez untuk melawan imperialisme AS yang telah merusak kehidupan sosialis, termasuk dalam hal bahasa yang disampaikan secara terbuka baru-baru ini.

Selain masalah bahasa, Chavez, juga memberikan solusi dalam mengatasi dampak buruk imperialisme. Dia berjanji akan membiayai produksi film yang ada di Venezuela untuk menghambat invasi dari film-film Hollywood. Dia juga memaksa stasiun radio untuk lebih banyak memutar lagulagu Venezuela. Presiden berhaluan “kiri” ini sangat membenci AS.
Di mata Chavez, AS merupakan kekuatan yang serakah dan ingin menguasai seluruh dunia secara absolut. Sebagai pemimpin yang setia terhadap sistem sosialis, Chavez merasa berkewajiban untuk melawan hegemoni Negeri Paman Sam. Bahkan, Chavez pernah menyebut Presiden AS George W Bush sebagai setan jahat saat berpidato di markas besar Persatuan Bangsa-Bangsa pada beberapa waktu yang lalu.

Buku yang berjudul “Hugo Chavez Vs Amerika Serikat” ini, memberikan informasi dan aksi yang teramat detail seputar Venezuela dan Amerika Latin. Sebuah semangat yang tidak kenal lelah mempertahankan “nurani bangsa”. Membawa negaranya terbebas dari setiap penindasan dan hegemoni negara asing. Selalu mencoba untuk keluar dari setiap cengkeraman imperalisme dan hegenomi AS berserta sekutunya dalam hal ekonomi, sosial dan politik.

Semangat Revolusi Bolivarian di Venezuela, mengantarkan Chavez untuk memperkenalkan demokrasi partisipatoris dan sosialisme abad 21. Meluncurkan serangkai program ekonomi dan sosial bagi rakyatnya. Mulai dari Mission Robinson (program untuk melakukan kampanye memberikan pelajaran aritmetika, membaca dan menulis kepada para remaja), Mission Guaicaipuro (program untuk memberikan perlindungan kehidupan, agama, tanah, budaya dan hak-hak orang pribumi) hingga Mission Sucre (program bebas pendidikan bagi remaja yang tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasar).

Nurani Soyomukti sebagai penulis buku ini, setidaknya telah memberikan khazanah dalam mengisi wawasan baru bagi kita tentang arti perjuangan melawan penindasan dan tirani hegemonik asing. Memberikan inspirasi bagi kita untuk melakukan perubahan. Terlebih di negara Indonesia yang kian terpuruk. Belajar bagaimana seharusnya kita berpegang dan menemukan teladan agar diri, citra dan bangsa ini tidak selalu dijajah bangsa lain. Baik itu secara ekonomis, ideologis bahkan dari segi humanitas kita sendiri. Semoga!***

Buku Ibu Menkes:


Buku Ibu Menkes Menggugat Neoliberalisme
di Bidang Kesehatan

Oleh:
Nurani Soyomukti,
perawat Komunitas Teman Katakata (KOTEKA) Jawa Timur


Judul Buku: Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung
Penulis: DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)
Penerbit: PT. Sulaksana Watinsa Indonesia Jakarta
Cetakan: I, 2008
Tebal: xii + 206 halaman

Beruntung dan berbahagia sekali mendapatkan buku ini setelah Ibu Menteri mengirim langsung melalui pos. Kebahagiaan saya muncul karena, pertama, buku ini kontroversial dan jarang diperoleh—bahkan ada isu buku ini ditarik dari pasaran karena ada isu Menteri Pertahanan Amerika Seerikat (AS) memaksa presiden Yudoyono untuk menarik peredaran buku ini. Tapi Pak Burhan, adhik Ibu Menteri yang sekaligus staf ahlinya beberapa waktu lalu kirim massage pada saya: “Menhankam AS membantah bahwa dirinya meminta buku Ibu ditarik dari peredaran”. Konon sulit mencari buku ini, meskipun sempat dibedah di beberapa empat—setahu saya yang terakhir di kampus ITB. Dan, yang jelas buku ini terlanjur beredar, bahkan dalam versi bahasa Inggrisnya juga beredar ke luar negeri.

Kedua, buku ini adalah buku berkualitas dengan kisah berani dari seorang Menteri, perempuan lagi! Isinya adalah pemikiran dan kisah tindakan berani yang seakan ikut mengeraskan gema anti-imperialisme yang saat ini tengah dibangun lagi di kawasan Amerika Latin oleh tokoh-tokoh seperti Hugo Chavez, Evo Morales, dll. Dalam konteks Indonesia, buku ini juga menggemakan kembali pemikiran Bung Karno yang anti-neokolim (neo-kolonialisme, anti-penjajahan dalam bentuk baru).

Dan saya harus mengapresiasinya. Saya harus mengabarkannya karena ini adalah peristiwa yang langka. Pejabat atau tokoh menulis (buku) bukan barang langka. Tetapi kalau yang ditulis adalah suatu kisah progresif dan berani, dan bernada perjuangan untuk membela universalisme kamanusiaan... kita harus membantu mengabarkannya, karena ini bukan hanya berita, tetapi soal masa depan!

Meskipun buku ini ingin menggambarkan bahwa berkah selalu muncul akibat bencana (flu burung), tapi membaca buku ini akan kita temukan bukan hanya kata-kata yang mensyukuri musibah flu burung (avian influenza) karena menyingkap adanya musibah yang diakibatkan oleh ketidakadilan dalam mengatur dan membuat prosedur dalam penanganan virus. Lebih jauh, tulisan dalam buku ini mencerminkan pemikiran yang berani (radikal) seorang pejabat negara Indonesia, negeri yang terkenal hanya tunduk patuh pada penindasan global dan selalu menengadahkan tangan untuk menerima bantuan dan meminta bantuan.
Ibu menteri bahkan menggagas kembali semangat anti-imperialisme pada saat, hingga saat ini, masih terjadi eksploitasi antara manusia satu dengan lainnya (exploitation de l’home par l’home). Bacalah pemikirannya berikut ini:

“Betapa tidak bergunanya saya di sini bila saya biarkan ketidakadilan ini mengoyak hak manusia untuk hidup bersama di dunia. Inilah yang isebut Bung Karno sebagai neo-kolonialisme atau exploitation d’l home par l’home. Ataukah neo-kapitalisme? Ataukah imperialisme? Apakah saya harus diamkan saja hal ini berlalu begitu saja? Ataukah saya harus berbuat sesuatu untuk melawannya?... Kita merdeka tapi tidak berdaulat, kita berdaulat tapi belum merdeka” (hlm. 12).

Bermula dari mewabahnya virus flu burung di Indonesia sejak 3 tahun lalu. Sebagai penyakit menular yang baru, virus yang dikenal sebagai H5N1 yang mematikan ini bukan hanya mengancam keselamatan rakyat Indonesia, tetapi juga seluruh umat manusia di dunia. Dalam perkembangannya ternyata virus tersebut juga bukan semata-mata berkaitan dengan masalah kesehatan, tetapi juga masuk dalam wilayah hubungan kepemilikan kapitalistik di mana vaksin virus dimonopoli oleh segelintir orang yang ingin mengomersialisasikannya—pada hal bahan dari vaksin itu seniri berasal dari virus yang berasal dari negara-negara miskin (dalam kasus H5N1 berasal dari Vietnam dan belakangan Indonesia dengan tingkat yang lebih ganas).

Faktanya, 90% perdagangan vaksin di dunia dikuasai oleh 10% penduduk yang tersebar di negara-negara kaya. Komersialisasi demi mengejar laba berkaitan dengan mekanisme yang tidak demokratis di WHO karena para kapitalis vaksin telah mencuri dan mengadakan penelitian yang lalu dijual dengan harga yang mahal pada negara-negara miskin. Negara Vietnam yang mengirim virus H5N1 ke WHO tidak pernah mengerti ke mana virus yang pernah dikirim itu sekarang dan diapakan virus itu kemudian. Tahu-tahu sudah beredar di dunia sebagai vaksin yang diperjualbelikan dengan harga yang tak terjangkau oleh negara-negara yang sedang berkembang. Sementara rakyat Vietnam meninggal akibat Flu Burung, di depan mata para kapitalis Barat itu menawarkan vaksin dengan Vietnam strain. “Alangkah idak adilnya dunia ini!”, kata Ibu Menteri Kesehatan, “bahkan bila rakyat Vietnam membutuhkan vaksin tersebut harus membelinya dengan harga mahal. Ironisnya lagi, kalau tidak mampu mmbeli ya hanya bisa menerima nasib saja” (hlm. 11).

Sebagai kisah tentang catatan perjuangan, baik melalui forum-forum dan sidang diplomasi, penelitian dan upaya kampanye melalui media massa, perjuangan keras seorang perempuan yang menjabat sebagai menteri ditunjukkan dalam buku ini. Ibu Menteri menuding pihak kapitalis AS sebagai biang dari semuanya. Ditemukan bahwa ternyata tidak semuanya dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan di WHO Collaborating Center (WHO CC). Data yang disimpan di WHO CC, entah bagaimana hal itu dilakukan, ternyata malah disimpan di Los Alamos atau Los Alamos National Laboratory di New Mexico Amerika Serikat (AS), dan hanya sedikit ilmuwan yang dapat mengakses ke sana (sekitar 15 grup peneliti di mana 4 dari jumlah ini mewakili WHO dan sisanya tidak jelas dari mana asalnya—keungkinan orang-orang korporasi bisnis). Laboratoratorium Los Alamos tentu saja berada di bawah Kementerian Luar Negeri AS. Di laboratorium inilah dulu dirancang Bom Atom untuk mengebom Hiroshima di tahun 1945, tentunya juga senjata biologis yang pernah digunakan AS dalam Perang Vietnam. Ibu menteri menyebutnya sebagai skandal (hlm. 17-19).

Secara kronologis, buku ini memang merupakan refleksi atau catatan perjalanan. Di hadapan sidang internasional World Health Prganization (WHO) dan WHA (World Health Assembly) tahun 2007, Indonesia di bawah pimpinan Ibu Menteri Kesehatan telah melakukan terobosan dan berhasil mengungkap kejahatan kapitalisme virus. Berlanjut pada pidato beliau di Genewa Swis dalam Inter-Govermental Meeting for Pandemic Influenza Preparedness, 20 November 2007 dan New Delhi International Ministerial Conference on Avian Pandemic Influenze 1-4 Desember 2007 lalu, terobosan pemikiran dan tindakan Ibu Siti Fadilah Supari telah membuka mata dan kesadaran negara-negara miskin dan berkembang lainnya untuk ikut menuntut perombakan sistem kesehatan dunia di bawah WHO agar menjadi adil, transparan dan setara. Bersama India, Kuba, Venezuela, Iran dan beberapa negara lainnya bahkan sempat muncul gagasan membentuk Poros Selatan-Selatan untuk perjuangan di bidang kesehatan ini.

Buku ini merupakan karya yang bersejarah karena menandai adanya keberanian untuk melaan ketidakadilan global. Selama ini jarang pejabat, apalagi seorang menteri, yang memiliki sentimentalitas dan idealisme untuk menyuarakan secara keras pembelaannya pada universalisme kemanusiaan. Buku ini, sekaligus penulisnya (Ibu Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari) adalah aset bangsa, aset masa depan!***


Resensi Bukuku di Koran Pak Oles, 16 Maret-31 Maret 2008:

Pudarnya Pamor Agen Perubahan

Oleh:
Edy Firmansyah, sastrawan dan pengelola Sanggar Bermain Kata Madura



Kaum muda (b
aca: mahasiswa) selalu diperhitungkan keberadaannya dalam lintas sejarah. Sebab mahasiswa merupakan variabel penting yang berperan dalam segala proses perubahan. Dalam babakan sejarah, gerakan kaum muda telah memainkan peranan penting menjadi barisan terdepan yang selalu meneriakkan tuntutan atas berbagai perubahan dan keadilan sosial.
Di Inonesia, hal ini bisa dilihat mulai dari berdirinya Boedi Oetomo, ikrar Sumpah Pemuda 1928, hingga yang masih mengemuka saat ini adalah gerakan mahasiswa menumbangkan rezim Orde Baru pada tahun 1998. Status mahasiswa menjadi kebanggaan tersendiri.


Namun yang terjadi saat ini justru kebalikannya. Mahasiswa Indonesia kini tak lagi bercitra sebagai kaum intelekual, pembela rakyat atau aktivis perubahan (agent of change). Yang ada justru mahasiswa yang berpikiran pragmatis-oportunistik. Dalam benak mereka menjadi mahasiswa berarti sebuah jalan lempang mendapatkan pekerjaan. Titik. Sehingga ketika ditanya tentang bagaimana nasib masyarakat yang diterus didera penderitaan, mulai dari melambungnya harga kebutuhan pokok, pendidikan mahal, kesehatan mahal, hingga fenomena gizi buruk, pengangguran hingga kemiskinan yang meluas? Jawabannya sungguh menyakitkan: “Persetan dengan mereka semua!”

Parahnya lagi, maraknya berita mengenai keterlibatan mahasiswa dengan narkoba, tawuran antar mahasiswa, hingga perilaku seks bebas di kalangan mahasiswa menambah daftar panjang keburukan mahasiswa di negeri ini.

Adalah kekuatan kapitalis yang membuat mahasiswa kehilangan pamornya sebagai agen perubahan. Lewat kisah sinetron, opera sabun dan juga acara reality show, mahasiswa digambarkan tak lebih sebagai kaum muda yang hanya sibuk mengejar uruan cinta dan pergaulan saling berburu pasangan dengan dramaturgi yang berlebihan. Dalam kisah sinetron, misalnya, kampus hanya menjadi aktivitas kisah ‘cinta sempit’ yang bernama ‘pacaran’ dengan gaya hidup yang menonjolkan syahwat.

Dengan kata lain, tugas dan peran berat mahasiswa dalam pusaran sejarah sebuah bangsa mulai dikaburkan dan kemudian digantikan dengan citra sebagai segelintir kaum muda yang eksklusif dengan hidup yang penuh suka ria. Sedangkan kampus tak lebih sebagai menara gading kekuasaan pasar (modal) di mana aktivitas mahasiswa hanya berkutat pada kuliah, makan, belanja, kencan, dan seks.

Kondisi inilah yang menjadi bahasan utama buku karya Nurani Soyomukti ini. Sarjana sospol Universitas Jember ini menilai apa yang menerpa mahasiswa ini sebenarnya mengingkari sejara. Pasalnya sejarah gerakan mahasiswa adalah sejarah pembebasan rakyat, sejarah perubahan bagi terciptanya keadilan sosial (hlm. 24).

Dengan menggunakan analisa Marxian, Nurani mengurai mata rantai kapitalisme yang membuat mahasiswa kehilangan elan vital dan jati dirinya. Siapapun akan menjadi rombongan makhluk ideot. Nah jika hal ini dibiarkan, tentu akan menjadi preseden buruk bagi bangsa ini. Pasalnya mahasiswa masih menjadi ujung tombak bagi masa depan karena di tangan merekalah tongkat estafet bangsa ini disemaikan. [*]

Selasa, 18 Maret 2008

Negarawati Radikal:

Ibu Siti Fadilah Supari
—Bukan Perempuan Tanggung-Tanggung!


Oleh: Nurani Soyomukti*)


Dialah seorang “Ibu”. Dan saya memanggilnya ”Ibu” saat ’sowan’ ke rumah dinasnya beberapa kali. Saya pernah makan bakso bersama suami, anak, dan enam orang tamu yang juga sahabatnya. Dan hingga kini saya hampir tiap hari kontak dengan adhik beliau: Pak Burhan, seorang mantan aktivis tahun 1980-an dari kampus ITB yang pernah ditangkap.

Pak Burhanlah yang sebenarnya lebih banyak bicara di hadapanku karena pada waktu saya bertamu ke rumah dinas Ibu, beliaulah yang banyak ”mewancarai” dan ”menggurui”-ku banyak hal. ”Mewancarai” dalam arti, dialah yang, di ruang tamu itu, pada waktu itu, mengajak saya dan Iwan (kawan saya) bercakap dan berdiskusi. Dan saya akui, pengetahuannya memang lebih banyak dari kami. Dan kami hanya berlaku sebagai seorang murid yang sedang mendengarkan gurunya, sesekali juga disela oleh Bu Menteri yang pada waktu itu sedang menyelesaikan naskahnya di sofa depan ku duduk, di samping Pak Burhan.

Pada waktu itu Ibu sedang menyelesaikan naskah buku yang belakangan memang kontroverial karena harus menjadi buku yang mendapat perhatian pada level internasional. Sesekali Ibu ngomong dan bercerita dengan mulutnya yang ”menjeb-menjeb” (kalau belia ngomong). Kadang dia berhenti dan mengatakan: ”Ngobrol sama Pak Burhan ya, Ibu harus nyelesaikan naskah buku ini... ”.

Waktu itu, di ruang tamu tengah rumah dinas yang luas itu memang ada 6 orang yang duduk: saya dan Iwan yang sedang berhadapan dekat dengan Pak Burhan, ngobrol soal ”bangsa”, Ibu Menteri 3 meter duduk bersama labtop di pangkuannya; Mbak Lilik asiten Ibu yang juga memangku labtop, dan satu orang laki-laki umur sekitar 50-an (saya lupa namanya, yang jelas bukan ’orang dalam’), yang juga memangku benda yang sama—keduanya sedang mengejar editing dan Ibu sedang menambahi bagian kata pengantar. Kamipun cerita tentang buku, beliau memuji saya karena ”masih muda sudah menghasilkan banyak buku”.

Dan beliau menyampaikan alasan kenapa buku itu harus ditulis. Yang membuat saya heran dari apa yang dikatakan dan yang saya dengar dari adhiknya, Pak Burhan, kenapa masih ada pejabat (setingkat menteri lagi!) yang idealisme dan sentimentalitasnya begitu kuat. Apalagi di tengah usia beliau yang tua, dibanding anak-anak muda seperti ’kami’, tentu tak pernah terbayangkan ”hareeee geneeeee” masih ada orang semacam beliau.

Dan tentu saja saya menyimpulkan bahwa saya memang kurang begitu gaul selama ini. Sebagai pendatang baru di Jakarta yang sedikit mengenal orang-orang pemerintahan, tentu keheranan itu wajar. Saya berpikir Ibu bukan orang satu-satunya, tetapi saya juga bertanya: Siapa orang yang berani seperti Ibu, apalagi perempuan (dan berstatus Ibu)?
Suaminya adalah seorang (pensiunan) arsitektur. Dan sang Ibu adalah menteri yang ’radikal’. Meskipun ibu baru akan menerbitkan buku pertamanya, tentu saja buku itu akan lebih populer daripada buku yang saya tulis, karena ibu memiliki jaringan dan beliau adalah seorang menteri.
Waktu itu buku yang
akhirnya mencuat dan kontroversial itu belum dinamai—artinya belum ada judulnya. Belakangan judul buku itu adalah ”TANGAN TUHAN DI BALIK VIRUS FLU BURUNG”. Sudah saya duga, akhirnya buku mencuat. Bukan hanya mencuat, tetapi juga populer karena mengandung kontroversi. Saya sudah menduganya sejak awal karena apa yang dilakukan adalah suatu hal yang jarang, seingat saya tak pernah, dilakukan oleh orang lain, terutama dalam posisinya sebagai pejabat negara (menteri).

Dan, sejak Orde Baru, memang tak pernah muncul satupun seorang menteri—apalagi perempuan, seorang ibu—yang berani mengkritik Amerika Serikat (AS) dan kekuatan korporasi bisnis. Merasa mujurlah saya, meskipun pada akhirnya harus meninggalkan Jakarta (entah akan kembali lagi atau tidak), sempat bertemu beberapa kali dan bertatap muka di rumahnya, bahkan makan bersama keluarga dan orang-orang dekatnya. (Kebanggaan ini terkesan ’ndeso’ atau ’katrok’ memang! Tapi tak apalah, saya telah bertemu dengan tokoh radikal dalam tubuh pemerintahan Indonesia yang secara umum masih pro-imperialis).

Ibu adalah calon pemimpin radikal—kalau saja ia menjadi presiden, bisa jadi ia akan menandingi Hugo Chavez, Evo Morales, atau melebihi Christina Fernandez atau Michele Bachelet. Pengamat kesehatan masyarakat dan sekaligus penulis produktif, Kartono Muhammad, menyebutnya sebagai ”Menteri Kesehatan yang Berani” (Kompas, Sabtu 8/3.2008). Sebenarnya ketenaran Ibu Siti Fadilah Supari sudah mulai kelihatan dua tahun yang lalu. Saat itu, majalah The Economist London (Edisi 10 Agustus 2006) menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit pandemik. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The Econ
omist waktu itu.

Bahagia juga saya mendapatkan waktu di tengah kesibukan akhir-akhir ini, untuk menuliskan apresiasi saya terhadap beliau dan karyanya, bukunya. Saya sudah mendapatkan bukunya, tapi belum melihatnya. Karena saat paketan buku itu tiba di Jember, karena ditujukan ke rumah kontrakan saya, saya sedang berada di sini, lima jam perjalanan kalau naim bus kalau ke sana. Paketan itu datang kemarin.

Aku sms Deny Ardiansyah, seorang kawan penulis Jember: ”Mau meresensi buku ibu Menkes nggak? Aku baru tanggal 27 kesana. Kalau mau, ambil di kontrakanku. Kemungkinan besar dimuat kalau mau ngirim resensinya ke media...! ***

Cultura Letera:

Kangen (Setengah Mati pada) Internet

(Oleh: Nurani Soyomukti)


Sekarang aku sedang di Magetan, besok langsung ke Ponorogo, survey Pilgub Jatim. Dan hari ini di desa terpencil. Kalau ada tulisanku yang masuk, juga tulisanmu tolong kabari—aku rindu pacarku: Internet! Hehe...”.

Begitu saya sms yang kukirim ke seorang kawan beberapa waktu yang lalu. Saya minta pada kawan saya, yang berumur lebih muda dari saya tetapi sudah menjadi penulis yang cukup dipertimbangkan koran—dan punya blog bagus, itu yang penting!—karena ia memang termasuk seorang pemuda produktif. Maksudku adalah minta tolong padanya kalau besoknya ada tulisan kami, atau kawan kami lainya, yang dimuat, tolong dikabari. Karena biasanya kami suka mengoleksi, menginventarisasi, dan mendokumentasikan karya kami yang dimuat.

Kami memang sering berdiskusi soal tulisan, situasi masyarakat, dan masa depan dunia.
”Bagaimanapun ini karya kita, harus kita kliping. Nanti kita tunjukkan pada anak kita bahwa Bapaknya adalah penulis dan penggagas yang diakui redaksi”, kata seorang kawan itu saat kami ngumpul di sebuah warung kopi pada sore hari yang gerimis.
”Wah, narsis lagi, narsis lagi”.


”Bukannya narsis”, dia mengelak, ”Kalau kita dapat menunjukkan kalau kita diakui masyarakat pada anak kita, itu sama saja dengan memotivasi anak kita agar meniru kita”.
”Wah, jangan gitu”, tukasku padanya, ”Wong tahu jadi penulis itu susah kok malah ingin anaknya jadi penulis. Kita semua ingin anak-anak cucu kita jadi orang besar, tapi nggak harus jadi penulis dong. Aku malah menginginkan anakku nggak jadi penulis, tapi jadi ahli teknik—negara kita ketinggalan jauh gara-gara teknologinya, Bro! Kalau semua jadi penulis, apa kita ingin semua orang jadi pengkhayal dan pemalas kayak kita-kita?”


Semua kawanku dan orang yang mendengarkan suaraku di warung itu melongo. Mereka diam, seakan mengunyah apa yang baru kukatakan.
”Benar. Kawan k
ita yang satu ini benar... TENAGA PRODUKTIF, IPTEK. Gitu kan, Bro? Hehehe... kata-kata itu kan yang kau jejalkan dalam bukumu? Kamu makin ngeri saja.. Hehe”, ia memecah keheningan. Tetapi, pada akhirnya obrolanpun berlanjut.

***
Itu terjadi beberapa minggu yang lalu.
Dan Anda tahu kenapa saya mengirim sms tersebut di atas?
Saya ingin bertanya pada Anda: Apa yang Anda lakukan saat Anda kesulitan akses internet? Saya tidak tahu bagaimana yang anda rasakan pada saat seperti itu karena itu tergantung pada Anda. Kalau Anda terbiasa mengaksesnya, mungkin akan agak merasa kehilangan atau kesepian.

Tapi ijinkanlah saya bercerita tentang ’kesepian’ dan jenis kesepian saya pada saat berada di suatu tempat yang jauh dari akses internet. Bagi saya dan beberapa kawan saya yang selalu ingin mengirimkan karyanya, entah puisi, cerpen, esai, koran—atau mengup-date blog—, jauh dari internet kadang mirip siksaan.
Saya mau jujur pada Anda, saat saya masih belum ’broken’ sama kekasih saya, terus terang saya lebih tak bisa jauh dari akses internet daripada jauh daripada kekasih saya. Saya sendiri merasa bahwa saya naga-naganya menderita semacam ’cyber-addiction’—mudah-mudahan istilah ini benar. Saya tak tahu sebabnya dan selama ini juga kurang menyadari bahwa penyakit ini cukup akut.

Tapi sudahlah, lupakan tentang ’kelainan’ yang saya derita itu. Yang ingin saya ceritakan di sini adalah gejala umum yang dimiliki para penulis, saya dan kawan-kawan saya—bahkan sebagian juga kawan-kawan yang belum pernah komunikasi face to face, tetapi hanya lewat chating di yahoo messenger, shoutbox blog atau ”si kotak penyambung lidah rakyat”, email, atau seringnya kontak via cellular handphone (sms dan telfon).

Dan yang ingin saya ’curhat’-kan adalah kengerian saya beberapa waktu yang lalu saat berada di sebuah tempat terpencil, ndeso, katrok, di mana internet berada jauh di kota. Keliling-keliling kabupaten Jawa Timur membutuhkan energi tersendiri, dan yang paling besar adalah energi yang saya keluarkan untuk melawan kesepian karena saya jauh dari akses internet. Beberapa kawan saya—ada beberapa yang menyukai terjun ke desa-desa—tentunya tidak merasakan hal yang sama dengan saya: Apalagi mereka punya hobby merokok dan dengan menikmati nikotin yang dihisap, memuasi asap di depan wajahnya, dan merayakan pula asap di atas kepalanya, dia dapat menurunkan ketegangan dan mengurangi kesepian.

”Aku butuh internet, dimana ya di daerah ini ada internet?” tanyaku.
”Mana ada internet di daerah kayak gini?” jawab seorang temanku.
”Pastilah. Koran saja sulit didapat”, tukasku.
”Ya nulis aja dulu, biar banyak dulu. Nanti kalau dah sampai kota baru dikirim”.
”Kayak nabung aja”.

Kawanku benar. Sebenarnya lebih stressed lagi kalau aku bisa menulis. Seperti dulu, saat aku masih pakai komputer, tak mungkin teknologi sebesar itu bisa aku jinjing ke mana-mana: sehingga, setiap kali keluar kota (Jember) aku harus merelakan diriku menahan nafsu menulis. Buku tulislah yang jadi gantinya, seperti sekolah atau kuliah dulu, mencatat di atas kertas saat ide berseliweran lalu menuliskannya lagi di komputer.

Setelah berhasil mengupayakan sebuah note-book sederhana yang tak begitu canggih, kini kubisa menulis di mana saja. Tetapi untuk mendapatkan internet di mana saja?
Itulah masalahnya.

Mungkin kata kawanku benar. Yang penting menulis, apa saja, ”pasti berguna”—seperti kata Pram. Kalau tidak ada internet, ya menulislah apa saja, isi waktu dengan menulis. Gunakan waktu yang kau habiskan untuk ’ngenet’ dengan menulis.

Ya, ada ratusan judul opini/artikel dalam ’folder’ yang kunamai ”tabungan”. Hanya sebatas judul dan data dari koran yang biasanya sebaris atau dua paragraf. Judul itulah yang harus kulanjutkan agar menjadi satu gugusan gagasan yang layak muat di koran atau sekedar ’nabung’ opini untuk menulis buku.
....
Ya, begitulah ceritanya. Mungkin terlalu membosankan! Seperti bosan saat kesulitan menemukan internet! Bagaimana tak bosan karena kalau tidak mengirim tulisan di media artinya tak ada harapan akan ada tulisan kita yang dimuat. Bukankah, selain NARSIS, penulis itu juga GILA PUBLIKASI? Dua hal itulah syarat menjadi penulis: NARSIS dan GILA PUBLIKASI! Kalau nggak, ya tak akan menulis! Karena menulis itu bagian dari eksistensi diri, entah demi uang, popularitas, atau (menjalankan perang) ideologi! Yang terakhirlah yang harus diprioritaskan! Tapi bagaimana bisa berideologi kalau tidak mengeksis? Wallahu’alam!***

Minggu, 09 Maret 2008

:::::::::: Ekonomi-Politik ::::::::::

Para Pembela Pasar

—Oleh: Nurani Soyomukti—


Buruh?
Para pembela pasar bukanlah buruh-buruh yang bekerja di pabrik, yang menggerakkan tubuh dan anggota badannya menjalankan mesin-mesin dan mengubah bahan mentah menjadi suatu barang yang akhirnya dijual—meskipun dirinya sendiri tak mau membeli barang yang dihasilkannya sendiri. Sungguh, mereka hanyalah kebanyakan dikurung dalam kawasan industri yang membuat mereka tak mengerti bahwa hubungan kerja yang ada (kapitalisme) menyangkal keberadaan mereka sebagai manusia (yang butuh memenuhi kebutuhan lapar dan dahaga, dan kebutuhan lainnya yang membuat mereka layak menjadi makhluk yang bernama manusia.
Sarjana
Para pembela pasar—meskipun tidak semuanya—adalah lulusan kuliah yang dengan begitu bangganya dengan ijazah S1 berkompetisi berebut pasar kerja. Mereka masuk pasar kerja dan mereka menjual dirinya agar laku dalam bursa pasar kerja. Banyak dana yang dikeluarkan untuk mendandani tubuhnya dan mengolah kecerdasan teknis otaknya: mereka harus membaca mantra-mantra atau ayat-ayat jitu tentang efektifitas cara mencari kerja. Mereka adalah para laki-laki dan perempuan muda yang gandrung akan status eskekutif industri atau manajer pemasaran: Mereka adalah duta-duta atau deputi produk-produk industri yang juga menggunakan para perayu agar anak-anak yang mulai belajar berhitung juga begitu fasih menghafal nama-nama produk dan nama-nama bintang yang tampil dalam acara TV yang selalu berganti-ganti dengan penampilan citra produk.
Produk yang dicitrakan dan para artis-selebritis (mulai dari pelawak, pemain drama, penyanyi, presenter, juga sebagian pelacur yang terseleksi dalam industri seks yang berkesempatan tampil di TV).


Artis-Selebritis
Para pembela pasar utama dan yang paling kelihatan di hadapan mata kita memanglah mereka yang tampil di TV dan menyuguhkan berbagai penampilannya agar kita merasa bahwa budaya pasar begitu indah dan seakan melupakan keindahan sejati itu sendiri. ”Belilah produk ini, itu, ini itu, yang ini, yang itu! Tirulah artis ini artis itu! Tirulah rambut ini rambut itu! Belilah produk ini produk itu! Nikmatilah yang ini yang itu!”, begitulah doktrin utama yang dibombardirkan ke kita. Artis-artis alias seniman pendukung budaya pasar—yang lahir, tumbuh, dihidupi (digaji) oleh penguasa industrialis kapitalisme, dan yang mati demi dan atas nama pasar—memanglah para seniman/artis selebritis. Bahkan kadang merekalah yang secara agresif melontarkan gagasan-gagasan, wacana, dan ucapan gampangannya kepada penonton.

”Orang-orang barbar tak lagi mengempur gerbang kota kita, mereka sedang makan malam bersama kita. Nama mereka adalah J. Lo, Ja Rule, dan Paris Hilton”, kata Michael ReGault, seorang pengamat media AS.1 Mereka menjejali media-media hingga tak ada satupun media popular yang berisi keluhan dan tuntutan orang-orang miskin yang susah dan menggugat keadaan: yang ada hanyalah wajah cantik bergincu tebal dan bermake-up yang kadang keterlaluan mirip ’topeng monyet’ atau laki-laki yang kalau tak mancho pasti ’mbanci’.

Berharap pada media untuk membela rakyat miskin akan membuat Anda pesimis. Tak heran jika sosiolog ternama seperti C. Wright Mills mengajukan pandangan yang pesimistik terhadap fungsi media. Dalam bukunya “The Power Elite” (1956), Mills mengutuk fungsi media yang lebih berfungsi sebagai instrument yang memfasilitasi—apa yang ia sebut sebagai—“kebutahurufan psikologis”.2 Mills juga memandang media sebagai pemimpin “dunia palsu” (pseudo-world), yang menyajikan realitas ksternal dan pengalaman internal serta penghancuran privasi dengan cara menghancurkan “peluang untuk pertukaran opini yang masuk akal dan tidak terburu-buru serta manusiawi”.3

Bayangkan, bagaimana tidak tergesa-gesa jika TV, sebagai media, hanya menyuguhkan tayangan-tayangan/acara yang tidak berkualitas semacam sinetron-sinetron cengeng atau reality show. Acara ini dibuat tanpa kedalaman cerita dan estetika yang bermakna, tetapi justru didukung oleh iklan dengan tujuan semata-mata agar tercipta masyarakat—khususnya remaja dan kaum muda—yang hanya bisa membeli dan membeli.

Menurut Alan Middleton, asisten professor marketing dan direktur eksekutif di Schulich Exective Education Center, periklanan merupakan industri yang sangat konservatif. Iklan tidak membuat trend, tetapi hanya mengikutinya. Iklan tidak berusaha mengubah hal-hal yang sudah ada. Dia tidak berusaha meningkatkan tingkat melek huruf atau memperbaki pengetahuan kita terhadap sejarah atau meningkatkan apresiasi terhadap Shakespeare. Ungkapan itu diperkuat dengan argument Curtis White dalam bukunya “Middle Mind”, mengikuti trend bisa berarti memperkuat trend tersebut. White mengamati bagaimana tayangan televise “Antique Road Show” di Amerika telah mengubah seni dan benda-benda antik menjadi “Bentuk komoditas pemujaan yang murahan”. Dalam hal opera sabun dan drama televise, trend tersebut telah memiliki sejarah yang panjang yang dibangun atas tema keserakahan, seks, dan kekerasan.4

Mengerikan!

Ekonom
(Menurut Allan Wood) mereka adalah pula para pembela "kekuatan pasar", kekuatan irasional yang kini telah memenjarakan jutaan orang ke dalam pengangguran. Mereka adalah juga para pengkotbah perekonomian "sisi suplai", yang didefinisikan secara cerdas oleh John Galbraith sebagai teori bahwa kaum miskin memiliki terlalu banyak uang dan kaum kaya memiliki terlalu sedikit. Maka, "moralitas" yang berlaku sekarang ini adalah moralitas pasar, yakni, moralitas rimba. Kemakmuran masyarakat semakin terkumpul di segelintir tangan, yang juga jumlahnya semakin menyusut, sekalipun kita terus mendengar propaganda tak masuk akal tentang "demokrasi kepemilikan" dan "yang kecil itu indah".

Politisi
Para pembela pasar berikutnya adalah politisi. Para politisi yang diuntungkan dengan diterapkannya pasar bebas, entah yang meyakini doktrin pasar dan berusaha minta legitimasi ilmiah ekonomi pasar maupun yang tak mengerti apa-apa, memanfaatkan posisi politiknya untuk mengikuti diktum pasar (neoliberal) dengan mendukung dan membuat kebijakan pro-pasar: memotong subsidi sektor rakyat (kesehatan, pertanian, pendidikan, dll) dan biasanya justru menambah anggaran tentara; melego dan menjual murah perusahaan-perusahaan negara; tidak membatasi modal asing dan perusahaan asing sehingga produk-produk luar disediakan pasar, yang merusak daya saing produk-produk dalam negeri (beras impor, pupuk impor, dan tetek mbengek impor); bahkan mengorbankan buruh, membuat buruh dibayar murah dan mudah diatur agar pemodal asing berbondong-bondong masuk dan mendominasi.

Ya, karena ditentukan oleh para politisi dan penyelenggara negara, pada akhirnya yang mendominasi adalah pasar. Dan pasar bukanlah suatu hal yang abstrak, karena dia adalah Modal dan kekuatan yang hanya berkeinginan satu: menumpuk keuntungan, menambah modal.



Agamawan (Kiai, Ustadz, juru Dakwah)
Para pembela pasar berikutnya adalah agamawan, yang kebanyakan kiai. Sebut saja AA. Gym, Ustadz Jefrrey, dll. Mereka adalah pengkotbah moral-reliji yang dibesarkan media kapitalis, terutama TV. Mereka menjadi bintang iklan dan hanya mengumar ayat-ayat yang melanggengkan tatanan pasar bebas dan menjadikan ayat-ayat cinta palsunya sebagai katub pengaman moral kapitalisme dan kontradiksinya: agar rakyat yang tertindas tak menuntut sistem ekonomi pasar, dihiburlah mereka dengan surga agar mereka merelakan dirinya dimangsa didunia karena telah dijanjikan do akhirat, surga dengan kenikmatan tiada tara—”Sistem kolektifitas hanya ada di surga, di dunia tempatnya sistem pasar, dan saya adalah bintang Iklan”, seru salah seorang pengkhotbah.

Para agamawan pembela pasar melupakan salah satu ucapan penting orang suci Idan tokoh Islam ”Sebaik-baiknya tempat adalah masjid, dan seburuk-buruknya tempat adalam pasar!” Para agamawan itu juga lupa dengan ayat Kitab Suci Al Qur’an bahwa ”Allah akan memberikan karunia pada orang miskin-tertindas, dan akan menjadikan mereka pemimpin dan pewaris”. Dengan menjadi bintang iklan dan idola, para kiai itu lupa diri dan lupa bahwa seharusnya rakyat miskin harus bersuara dan media tak mau mengangkatnya.

Bahkan ketika rakyat miskin mencoba menyampaikan tuntutannya sendiri—entah dimuat media ataupun tidak—, para agamawan ini bahkan kebingungan dan menyuarakan hal yang bertentangan. Mereka dengan mudahnya menuduh kalangan yang menuntut keadilan sebagai ”komunis”, ”provokator”, ”perusuh” (dissident), ”anarkis”. Dan betapa butanya mata para agamawan ini, karena mereka tak mau—atau sengaja menyembunyikan—menyebut ayat-ayat yang jelas-jelas membolehkan orang tertindas menyampaikan kemarahannya; ayat yang berbunyi ”Dilarang kalian mengumpat dan berkata kasar, kecuali kalian adalah orang yang tertindas”. Dalam ayat ini jelas, orang (di)miskin(kan) dan tertindas boleh berkata kasar dan mengumpat, terurutama mengumpat pada para penguasa (mustakhbirin) dan pemerintah tiran (taqhut) demi al adhalah dan al musyawah, keadilan dan egalitarianisme!

Betapa jelas para pembela pasar yang terdiri dari para agamawan ini berpijak dan berpihak. Semua orangpun tahu, betapa bodohnya apa yang ditunjukkan AA. Gym: Ketika rakyat miskin tertindas ramia-ramai menolak kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintahan Yudoyono-Kalla, AA. Gym justru membelanya dan ia menghujat para demonstran. Ketika kebanyakan pemuda-pemudi takut untuk menikah karena mereka tidak siap (karena masih menganggur dan berada dalam miskin), para agamawan sibuk juga meneriakkan ”Ayo POLIGAMI!”

Anda
Dan apakah Anda ada di antara mereka, baik sadar maupun tidak sadar. Saya sering mendengar seorang yang berkata: ”Pasar itu satu-satunya yang harus mengatur kehidupan. Kalau diatur negara malah repot, nggak efisien, nanti malah dikorup!”. Ada lainnya yang berkata—seperti Francis Fukuyama: ”Pasar adalah akhir dari sejarah, tak mungkin ada yang menggantikkannya. Apa kita akan kembali menyerahkan urusan pada negara dan menjadi komunis? Tidak lah Yauuuuw!” Yang lain bilang: ”Enakan pasar, kan kita bisa bebas, dan karena orang bersaing akhirnya kompetisi membuat orang maju. Karena dorongan manusia untuk maju harus diciptakan melalui naluri... dan naluri itu akan tercipta jika ada persaingan dengan Pasar. Hidup pasar! Aku ke pasar dulu ya, belanja baju baru... Hehehe!”
Saya tak tahu apakah Anda pernah mengatakan itu, atau hampir sama dengan itu. Mungkin saya bisa ajukan perrtanyaan ke Anda?

1. Benarkah kemajuan hanya terjadi karena persaingan (kompetisi) individualistik? Tidak bisakah kemajuan justru akan cepat terjadi dengan kerjasama atau sistem kolektif? Kemajuan itu karena persaingan atau karena kerjasama? Anda bisa contoh...
Benarkah sejarah sudah berakhir dan ”pasar” adalah babak akhir dari drama kehidupan manusia? Tidakkah hidup ini berjalan terlalu panjang, jutaan tahun? Bukankah pasar masih berumur 300 tahunan, sebelumnya tatanan kolektif berlangsung ribuan tahun, lalu perbudakan dan feodalisme (kerajaan) beribu-ribu tahun? Apakah sosialisme adalah ”basi” dan bukannya syarat-syarat terjadinya tatanan material-ekonomis bagi sistem lain, selain pasar, memang belum siap?
2. Apakah dulu, tiga ratus tahun yang lalu, orang akan membayangkan kalau tatanan dan hubungan ekonomi akan sekarang? Dan benarkan seribu tahun lagi pasar masih akan bertahan, saat teknologi benar-benar maju, saat ilmu dan teknologi tak dimonopoli oleh sedikit orang (terutama perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan teknologi untuk dimassalkan dengan syarat harus dalam hukum jual beli/komersial) dan pendidikan dapat dinikmati semua orang?

3. Bukankah 350 tahun lalu tak terbayangkan bahwa orang bisa terbang dan sekarang itu bisa? Dan bukankah saat setiap akses terhadap pendidikan dan IPTEK maju dan adil, tak ada lagi yang bisa membodohi? Dan kalau anda percaya bahwa pasar akan tetap bertahan sama artinya anda berharap bahwa masih banyak orang yang bodoh?
Benarkah sejarah berakhir hanya karena anda merasa nyaman saat berbelanja atau mendapatkan kerja yang tak mengagumkan?
Wallahu’alam!

Ngawi, 9 Maret 2008: 22: 23

____________________
1 Michael R. LeGault, Sekarang Bukan Saatnya untuk “Blink” Tetapi Saatnya untuk THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata. Jakarta: PT. Transmedia, 2006
2 C. Wright Mills, The Power Elite, New York: Oxford University Press, 1956, hal. 311
3 Ibid., hal. 314
4 Michael R. LeGault, Sekarang Bukan Saatnya untuk “Blink” Tetapi Saatnya untuk THINK: Keputusan Penting Tidak Bisa Dibuat Hanya dengan Sekejap Mata. Jakarta: PT. Transmedia, 2006, hal. 131

Kamis, 06 Maret 2008

Budaya Politik:

Politik Berbiaya Tinggi
(High-Cost Politics)

Oleh: Nurani Soyomukti*)


Politik berbiaya tinggi adalah fakta yang kita jumpai hari-hari ini. Dari hari ke hari biayanya kian meninggi. Bahkan lebih rendah dari harga diri. Dan ia menggambarkan budaya politik yang bukan lagi parokial, tetapi mendekati politik terkomodifikasi yang mencerminkan semakin canggihnya kapitalisme (pasar bebas) beroperasi.

Dulu politik adalah masalah partisipasi dan ideologi. Setiap kekuatan politik (partai dan organisasi masyarakat) menunjukkan eksistensinya dalam politik dengan tujuan ideologis yang tak diremehkan dengan tujuan pragmatis seperti ua
ng dan jabatan. Di jaman pergerakan, masing-masing tokoh yang mewakili berbagai kekuatan politik berdebat soal cita-cita dan ide-ide untuk menciptakan masyarakat yang dianggapnya baik. Debat dalam PPKI dan BPUPKI seputar kemerdekaan tahun 1945 menunjukkan bahwa masing-masing tokoh sama-sama merasionalisasi pemikiran dan ideologinya.

Demikian juga pada pemilu pertamakali pada tahun 1955. Masing-masing partai politik melibatkan massa bukan dengan sogokan kaos partai, uang, atau barang-barang yang menghalangi orang untuk berpikir dalam berpolitik lainnya. Pemilu 1955 adalah pemilu yang paling demokratis dalam sejarah politik di Indonesia. Partisipasinya benar-benar ’sehat’ dan bahkan bersih dari ’konflik’ yang membahayakan.

Masing-masing partai memiliki massa yang militan dan mereka memilih bukan karena sogokan-sogokan material. Artinya kesadaran yang tercipta bukanlah kesadaran ’cekak’ atau sempit. Terlalu mudah untuk mengajak orang untuk memilih atau nyoblos. Biaya yang dikeluarkan untuk politik juga tak banyak, artinya politik diselenggarakan secara irit.
Hal itu jauh berbeda dengan sekarang. Setiap ada pemilu, isu golput pasti muncul. Belakangan, nampaknya tokoh-tokoh politik dan partai politik juga akan kesulitan untuk mengajak orang untuk milih. Banyak yang apatis dengan politik.

”Politik? Ah, tai kucing!” Politik tak ada kaitannya dengan nasib rakyat. Politik hanyalah ajang bagi para elit untuk berebut kekuasaan dan, nyatanya, kekuasaan itu tak pernah nyambung dengan keinginan rakyat untuk melihat perubahan demi kesejahteraan dirinya.

Pada akhirnya, elit juga tahu bahwa rakyat juga kian malas untuk berpolitik karena politik dianggap tak ada kaitan dengan nasibnya. Apatisme dan keacuhan rakyat terhadap moment-moment politik tersebut tentunya akan merepotkan para elit yang menginginkan basa-basi ritualitas politik tiap lima tahun sekali—entah pemilihan umum tingkat nasional (pemilu) ataupun tingkat daerah (pilkadal). Kalau banyak rakyat tak milih, tak akan ada legitimasi bagi proses pemilihan, artinya tak ada legitimasi bagi proses berebut kekuasaan.

Ibaratnya rakyat sudah bosan dengan politik, mereka akan terus dilibatkan dengan berbagai cara dan upaya, agar rakyat berpartisipasi. Dan makna partisipasi, sayangnya, hanya berupa nyoblos ataupun berkerumun ketika ada kampanye dengan suguhan hiburan musik pop dan dangdut. Partisipasi politik di masa kampanye yang terjadi hanya karena ingin mendapatkan hiburan di depan panggung di mana artis terkenal didatangkan. Partisipasi hanya dengan mencoblos gambar partai atau calon presiden atau kepala daerah.

Dari sinilah asal-muasal terjadinya politik biaya tinggi (high-cost politics): yaitu ketika massa rakyat semakin apatis dan malas berpolitik, maka pada saat itulah para elit yang sedang berebut jabatan/kekuasaan harus mengeluarkan banyak biaya agar mereka mau ikut dalam proyek politik orang-orang elit. Jadi, biaya banyak dikeluarkan untuk membiayai mobilisasi dan partisipasi.

Ibaratnya, meskipun rakyat bersembunyi di lubang semut atau di dalam got-got, para elit akan tetap mencari-cari mereka. Partisipasi politik dirangsang dengan berbagai cara, yang paling efektif adalah dengan memberi imbalan agar mereka terlibat. Hal ini berlaku bukan hanya dalam kasus membayar massa Rp 10 ribu atau 20 ribu agar mau menghadiri calon A atau B, tetapi juga terjadi dalam menyiapkan struktur organisasi atau pembangunan partai.

Ada partai yang didirikan dengan memberikan uang pada siapa saja yang mau menjadi pengurus, dengan dibiayai pula biaya sewa atau beli rumah untuk kantor (sekretariat) partai di tingkat cabang hingga ranting. Ada yang lebih lucu lagi, ada partai politik yang didirikan dengan memberikan jaminan asuransi bagi siapa saja yang mau menjadi pengurusnya.

Membuat kaos partai dan kaos bergambar calon yang akan dipilih dengan jumlah yang besar adalh suatu hal yang sudah biasa. Semakin banyak biaya yang dikeluarkan, semakin banyak pula kaos yang diberikan dan dipakai orang-orang. Tak mungkin kaos itu ditolak oleh kalangan rakyat kecil, karena untuk membeli kaos atau baju mereka kesulitan atau harus mengurangi jatah makan sehari-hari. Makanya, memberi kaos partai atau kaos bergambar calon adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh kekuatan politik yang ingin menang. Semakin uang yang dikeluarkan untuk membeli kaos, bendera, banner dan atribut-atribut, maka partainya akan nampak di mana-mana.
Dalam situasi kesadaran politik Indonesia yang kosong, yang nampak banyaklah yang biasanya akan diikuti karena politik rakyat miskin yang (di)bodoh(i) adalah politik ”manut grubyuk”.

Mendekati pemilu 2009, nampaknya budaya politik yang sama telah, sedang, dan akan terjadi. Apakah Anda akan membiarkan kesadaran rakyat teracuni dengan politik komersialisasi para elit? Ataukah Anda akan mengeluarkan sikap golput dan menyerukannya ke orang lain satu demi satu atau mengorganisir kampanye golput seperti aksi demonstrasi tutup mulut dengan membawa poster bertuliskan ”Ayo Kita Golput!” atau dengan merangkul orang-orang membikin pers release mengajak golput?

Silahkan Anda mengambil tindakan dan taktik untuk merespon situasi politik palsu ini. Tapi saya yakin, Anda akan memilih yang terbaik. Jadi pikirkanlah secara serius tindakan dan kegiatan yang paling efektif, alangkah baik jika didiskusikan bersama untuk menghasilkan keputusan yang baik, bertanggungjawab, dan berguna bagi demokrasi yang berpihak bagi rakyat kita!***