Sabtu, 23 Februari 2008

Politik Kebudayaan: Pragmatisme


The Story of Pragmatism!!

Oleh: Nurani Soyomukti


“Aku butuh seorang laki-laki tinggi besar, yang bisa melindungiku”, ujar seorang perempuan muda itu saat bercakap dengan teman kosnya.

“Kalau aku jujur saja, aku butuh laki-laki seperti itu untuk memuaskan seksku. Vaginaku sudah gak nyaman lagi dengan penis yang kecil”, ujar perempuan satunya lagi, “Aku ingin bercinta dengan banyak laki-laki yang gagah, tajir, karena belakangan aku sadar bahwa kepuasan seksual adalah yang paling kubutuhkan dalah hidupku”.

*
Moral materialis telah menyeruak dalam kehidupan kita, berkembangbiak dari rahim kapitalisme yang licik, yang menggerogoti jiwa manusia-manusia yang kian pragmatis dan resah jika pemenuhan kebutuhannya tak segera terlampiaskan. Materialisme moral ini memunculkan penilaian segala sesuatu berdasarkan ukuran, bentuk, warna, bau, besar-kecil, tinggi-rendah, cantik/tampan-jelek, kaya-miskin.

Ukuran besarlah yang dikejar karena yang besar identik dengan jumlah yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang banyak, kebutuhan yang tak terpuaskan. Kesederhanaan, ketulusan, kerelaan, kesantaian adalah sesuatu yang dibenci karena orang yang pikirannya digerogoti pragmatisme begitu takut kalau kebutuhannya tak segera terlampiaskan. Pragmatisme ingin memakan segalanya tanpa berpikir, keterburu-buruan, hanya memenuhi hingga tubuh gemuk dan pada akhirnya tak memungkinkan untuk berpikir lagi. Kata Marx Horkheimer, “pragmatisme merefleksikan suatu masyarakat yang tak punya waktu untuk mengenang dan merenung”.[1]

Mengenang, merenung/ber-refleksi, berpikir, akan menghasilkan nilai-nilai baik-buruk yang sejati, keindahan hakiki, sebuah situasi hidup yang keindahannya begitu ultimate, abadi, dan agung (The Greatness of Phylosophy).

“Aku dulu aktifis feminis, berjuang demi kesteraan, mengejar hakekat persamaan. Toh itu semua tak ada gunanya. Percayalah, tak ada yang lebih menggairahkan dalam hidup ini dari pada kesenangan badan dan ‘mencari penghidupan’ (mencari uang) agar kebutuhan-kebutuhan kita terpenuhi. Kita selalu bingung jika tak memenuhi kebutuhan kita, termasuk kebutuhan seks dan kepuasan badan… Itu yang mendesak!”, ujar seorang perempuan yang begitu pragmatis dan mulai mengacaukan antara mempertahankan prinsip dengan petualangan.
Pragmatisme adalah sejenis godaan besar.

“Untuk apa kita berfilsafat, toh ujung-ujungnya kita juga akan kesulitan untuk makan. Untuk apa kita menanggung resiko besar akan kesulitan material, untuk apa ndakik-ndakik bicara kemanusiaan, ternyata, sebagaimana pengalamanku, kita tak akan kuat untuk melampiaskan kepuasan tubuh”.

“Lebih baik kita kerja mencari uang agar tak kebingungan dan merepotkan orang lain. Toh nanti kalau kita dah mapan kita juga bisa berfilsafat”, begitu kata seseorang suatu waktu.

Tapia apa lacur, lagi-lagi, pragmatisme adalah godaan terbesar yang akan terus menghalau idealisme. Setelah merasa nyaman dengan kondisi material yang dicapai, apalagi terus bertambah diiringi dengan pengalaman cinta eksklusif yang penuh nafsu, filsafat kian jauh dari otak dan hatinya. Orang yang secara nyaman secara material memang tak bisa berfilsafat, sebab filsafat memang lahir dari kontradiksi.

Dalam bagian akhir buku “Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas”, saya telah uraikan bahwa kemampuan berfilsafat dimiliki oleh orang yang mampu merasakan kontradiksi. Dan tanpa terlibat lansung dalam kenyataan kontradiktif itu, orang tak akan mampu merasakan. Karena rasa itu lahir dari keterlibatan.

Tak heran jika menjauhkan dari hidup yang kontradiksi dilakukan oleh orang-orang yang ingin menikmati kemapanan dan situasi normal bagi pemenuhan-pemenuhan fisiologisnya. Dalam kasus kehidupan remaja gaul, tak nyaman dengan satu pasangan, pindah ke lain hati: tak memungkinkan untuk mendapatkan pasangan yang menjamin kebutuhan seks dan kegilaan akan belanja, pindah ke pasangan lain yang mapan dan siap menjamin kehidupannya (baca: “Parasite Eve”).

Seakan hidup hanyalah lingkaran kerja mesin nafsu dan kebutuhan mekanis. Manusia-manusia pragmatis yang mirip mesin biologis begitu takut pada kenyataan, begitu miris, dalam keadaan susah sedikit menangis, dalam keadaan lainnya yang lebih menyusahkan bisa ‘kalap’ dan membabi-buta bertindak. Pragmatisme dengan ketakutan-ketakutannya adalah produk masyarakat kapitalis. Dalam “Pendidikan Kapitalisme yang Licik” (dalam Buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi”) aku bertanya:

“Takut pada kemiskinan? Takut menanggung resiko? Takut akan masa depan? Takut, karena beban berat yang harus ditanggung sendiri… takut tak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Takut. Menyerah. Kalah… Melatih diri jadi pengecut dan pecundang”.[2]

Kelicikan, ya. Pragmatisme adalah kelicikan. (Pendidikan) kapitalisme yang licik telah memproduksi manusia-manusia bangkrut secara ide(ologi) dan eksistensi diri. Para pengecut itu berbaris sepanjang sejarah, mereka menghuni kantor-kantor, lembaga politik dan keagamaan, lembaga pendidikan, rumahtangga yang akan melahirkan anak-anak yang bangkrut pula. Mereka menutupi ketakutan, kepengecutan, dan kemunafikan dengan kepemilikan pribadi (yang begitu dibanggakan dan menjelaskan eksistensi), dengan baju-baju, dengan rumah, dengan topeng, kosmetik, dan atribut-atribut lainnya.

Hanya itu yang dibanggakan, selain kepuasan diri dan ketakutan kalau tidak memperolehnya dalam waktu cepat, adalah Kepemilikan Pribadi. Bagi yang sudah memiliki, potensianya akan dimaksimalkan dan berharap mendapatkan keuntungan dari apa yang dimiliki. Modal harus bertambah.

Yang dimiliki harus dimaksimalkan agar tercipta keuntungan. Wajah dibungkus baju agar kelihatan seksi dan menimbulkan sex appeal, dan wajah dipoles, goresan lipstick kian dipertebal, agar banyak yang tertarik dan segera dapat mendapatkan laki-laki yang akan memenuhi kebutuhan seks dan materialnya. Citra diri dibikin agar hakekat sebenarnya tak kelihatan, harus pandai-pandai menampilkan kitch. Semuanya untuk keuntungan pribadi, kemudahan hidup individual, serta kenikmatan tubuh yang dimiliki.

Sejak kelahirannya manusia telah ditakdirkan miskin, tapi murni, tulus, tanpa tuntutan dan tak ternoda apalagi oportunis. Siapa dan apa yang disalahkan kemudian?: Setelah besar mereka berlagak secara vulgar di hadapan dirinya, menyangkal keabsahan dan keotentikannya, menempatkan diri sebagai makhluk hipokrit dan penipu—dan terparah lagi menciptakan jaring-jaring penindasan dan kemunafikan yang dilembagakan: Perbudakan, Feodalisme, Kapitalisme yang membuat manusia dalam perkembangannya menjadi sakit, penakut, angkuh, hipokrit, peragu, dan pengecut.***









[1] Dikutip dalam Hanno Hardt, Critical Communication Studies: Sebuah Pengantar Comprehensif Sejarah Perjumpaan Tradisi Kritis Eropa dan Tradisi Pragmatis Amerika. Yogyakarta: Jalasutra, 2005, hal. 177
[2] Nurani Soyomukti. Pendidikan Berperspektif Globalisasi. Yogyakarta: Arruzzmedia, 2008, hal. 63

Tidak ada komentar: