Jumat, 21 Maret 2008

Buku Ibu Menkes:


Buku Ibu Menkes Menggugat Neoliberalisme
di Bidang Kesehatan

Oleh:
Nurani Soyomukti,
perawat Komunitas Teman Katakata (KOTEKA) Jawa Timur


Judul Buku: Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung
Penulis: DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)
Penerbit: PT. Sulaksana Watinsa Indonesia Jakarta
Cetakan: I, 2008
Tebal: xii + 206 halaman

Beruntung dan berbahagia sekali mendapatkan buku ini setelah Ibu Menteri mengirim langsung melalui pos. Kebahagiaan saya muncul karena, pertama, buku ini kontroversial dan jarang diperoleh—bahkan ada isu buku ini ditarik dari pasaran karena ada isu Menteri Pertahanan Amerika Seerikat (AS) memaksa presiden Yudoyono untuk menarik peredaran buku ini. Tapi Pak Burhan, adhik Ibu Menteri yang sekaligus staf ahlinya beberapa waktu lalu kirim massage pada saya: “Menhankam AS membantah bahwa dirinya meminta buku Ibu ditarik dari peredaran”. Konon sulit mencari buku ini, meskipun sempat dibedah di beberapa empat—setahu saya yang terakhir di kampus ITB. Dan, yang jelas buku ini terlanjur beredar, bahkan dalam versi bahasa Inggrisnya juga beredar ke luar negeri.

Kedua, buku ini adalah buku berkualitas dengan kisah berani dari seorang Menteri, perempuan lagi! Isinya adalah pemikiran dan kisah tindakan berani yang seakan ikut mengeraskan gema anti-imperialisme yang saat ini tengah dibangun lagi di kawasan Amerika Latin oleh tokoh-tokoh seperti Hugo Chavez, Evo Morales, dll. Dalam konteks Indonesia, buku ini juga menggemakan kembali pemikiran Bung Karno yang anti-neokolim (neo-kolonialisme, anti-penjajahan dalam bentuk baru).

Dan saya harus mengapresiasinya. Saya harus mengabarkannya karena ini adalah peristiwa yang langka. Pejabat atau tokoh menulis (buku) bukan barang langka. Tetapi kalau yang ditulis adalah suatu kisah progresif dan berani, dan bernada perjuangan untuk membela universalisme kamanusiaan... kita harus membantu mengabarkannya, karena ini bukan hanya berita, tetapi soal masa depan!

Meskipun buku ini ingin menggambarkan bahwa berkah selalu muncul akibat bencana (flu burung), tapi membaca buku ini akan kita temukan bukan hanya kata-kata yang mensyukuri musibah flu burung (avian influenza) karena menyingkap adanya musibah yang diakibatkan oleh ketidakadilan dalam mengatur dan membuat prosedur dalam penanganan virus. Lebih jauh, tulisan dalam buku ini mencerminkan pemikiran yang berani (radikal) seorang pejabat negara Indonesia, negeri yang terkenal hanya tunduk patuh pada penindasan global dan selalu menengadahkan tangan untuk menerima bantuan dan meminta bantuan.
Ibu menteri bahkan menggagas kembali semangat anti-imperialisme pada saat, hingga saat ini, masih terjadi eksploitasi antara manusia satu dengan lainnya (exploitation de l’home par l’home). Bacalah pemikirannya berikut ini:

“Betapa tidak bergunanya saya di sini bila saya biarkan ketidakadilan ini mengoyak hak manusia untuk hidup bersama di dunia. Inilah yang isebut Bung Karno sebagai neo-kolonialisme atau exploitation d’l home par l’home. Ataukah neo-kapitalisme? Ataukah imperialisme? Apakah saya harus diamkan saja hal ini berlalu begitu saja? Ataukah saya harus berbuat sesuatu untuk melawannya?... Kita merdeka tapi tidak berdaulat, kita berdaulat tapi belum merdeka” (hlm. 12).

Bermula dari mewabahnya virus flu burung di Indonesia sejak 3 tahun lalu. Sebagai penyakit menular yang baru, virus yang dikenal sebagai H5N1 yang mematikan ini bukan hanya mengancam keselamatan rakyat Indonesia, tetapi juga seluruh umat manusia di dunia. Dalam perkembangannya ternyata virus tersebut juga bukan semata-mata berkaitan dengan masalah kesehatan, tetapi juga masuk dalam wilayah hubungan kepemilikan kapitalistik di mana vaksin virus dimonopoli oleh segelintir orang yang ingin mengomersialisasikannya—pada hal bahan dari vaksin itu seniri berasal dari virus yang berasal dari negara-negara miskin (dalam kasus H5N1 berasal dari Vietnam dan belakangan Indonesia dengan tingkat yang lebih ganas).

Faktanya, 90% perdagangan vaksin di dunia dikuasai oleh 10% penduduk yang tersebar di negara-negara kaya. Komersialisasi demi mengejar laba berkaitan dengan mekanisme yang tidak demokratis di WHO karena para kapitalis vaksin telah mencuri dan mengadakan penelitian yang lalu dijual dengan harga yang mahal pada negara-negara miskin. Negara Vietnam yang mengirim virus H5N1 ke WHO tidak pernah mengerti ke mana virus yang pernah dikirim itu sekarang dan diapakan virus itu kemudian. Tahu-tahu sudah beredar di dunia sebagai vaksin yang diperjualbelikan dengan harga yang tak terjangkau oleh negara-negara yang sedang berkembang. Sementara rakyat Vietnam meninggal akibat Flu Burung, di depan mata para kapitalis Barat itu menawarkan vaksin dengan Vietnam strain. “Alangkah idak adilnya dunia ini!”, kata Ibu Menteri Kesehatan, “bahkan bila rakyat Vietnam membutuhkan vaksin tersebut harus membelinya dengan harga mahal. Ironisnya lagi, kalau tidak mampu mmbeli ya hanya bisa menerima nasib saja” (hlm. 11).

Sebagai kisah tentang catatan perjuangan, baik melalui forum-forum dan sidang diplomasi, penelitian dan upaya kampanye melalui media massa, perjuangan keras seorang perempuan yang menjabat sebagai menteri ditunjukkan dalam buku ini. Ibu Menteri menuding pihak kapitalis AS sebagai biang dari semuanya. Ditemukan bahwa ternyata tidak semuanya dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan di WHO Collaborating Center (WHO CC). Data yang disimpan di WHO CC, entah bagaimana hal itu dilakukan, ternyata malah disimpan di Los Alamos atau Los Alamos National Laboratory di New Mexico Amerika Serikat (AS), dan hanya sedikit ilmuwan yang dapat mengakses ke sana (sekitar 15 grup peneliti di mana 4 dari jumlah ini mewakili WHO dan sisanya tidak jelas dari mana asalnya—keungkinan orang-orang korporasi bisnis). Laboratoratorium Los Alamos tentu saja berada di bawah Kementerian Luar Negeri AS. Di laboratorium inilah dulu dirancang Bom Atom untuk mengebom Hiroshima di tahun 1945, tentunya juga senjata biologis yang pernah digunakan AS dalam Perang Vietnam. Ibu menteri menyebutnya sebagai skandal (hlm. 17-19).

Secara kronologis, buku ini memang merupakan refleksi atau catatan perjalanan. Di hadapan sidang internasional World Health Prganization (WHO) dan WHA (World Health Assembly) tahun 2007, Indonesia di bawah pimpinan Ibu Menteri Kesehatan telah melakukan terobosan dan berhasil mengungkap kejahatan kapitalisme virus. Berlanjut pada pidato beliau di Genewa Swis dalam Inter-Govermental Meeting for Pandemic Influenza Preparedness, 20 November 2007 dan New Delhi International Ministerial Conference on Avian Pandemic Influenze 1-4 Desember 2007 lalu, terobosan pemikiran dan tindakan Ibu Siti Fadilah Supari telah membuka mata dan kesadaran negara-negara miskin dan berkembang lainnya untuk ikut menuntut perombakan sistem kesehatan dunia di bawah WHO agar menjadi adil, transparan dan setara. Bersama India, Kuba, Venezuela, Iran dan beberapa negara lainnya bahkan sempat muncul gagasan membentuk Poros Selatan-Selatan untuk perjuangan di bidang kesehatan ini.

Buku ini merupakan karya yang bersejarah karena menandai adanya keberanian untuk melaan ketidakadilan global. Selama ini jarang pejabat, apalagi seorang menteri, yang memiliki sentimentalitas dan idealisme untuk menyuarakan secara keras pembelaannya pada universalisme kemanusiaan. Buku ini, sekaligus penulisnya (Ibu Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari) adalah aset bangsa, aset masa depan!***


1 komentar:

Rx mengatakan...

Saat membaca buku ini, seseorang mesti mempunyai latarbelakang kedokteran yang baik dan penelitian yang mendukung. Karena, jika hanya bermodalkan nasionalisme, emosi dan logika yang dangkal, kita akan terperangkap dalam dunia paranoia yang sulit dilepaskan meskipun dengan argumen-argumen yang kuat. Perangkap ini rupanya berhasil melilit anda sehingga anda percaya alur logis yang dirangkai bu menkes. Alur bermodalkan "diduga" "ada kemungkinan" "tampaknya" atau "percaya tidak percaya". Karena hanya berdasarkan prasangka, buku ini tidaklah layak untuk dijadikan referensi sebaiknya dimasukkan saja dalam tong sampah. Apalagi anda tidak bakal rugi, kan anda dapatnya gratis ya ?